The Fallen Angel [Chapter 4]

fallenangel

The Fallen Angel

written by Keiko Sine

Romance, Life, Alternative Universe || NC 17

Lenght: Chapter

Casts: Im Yoona & Lee Donghae

STORYLINE BELONGS TO KEIKO SINE!

DO NOT COPY OR PLAGIARIZE.

<<<>>>

PREVIOUS: [Chapter1][Chapter2][Chapter3]

..

..

..

Pernahkah kau mencintai untuk merelakan?

Karena bagi Donghae, cinta pertamanya tak berlangsung cukup baik dan malah menimbulkan luka perih setiap kali ia mengingatnya.

Perpisahan SMA membawa kenangan buruk baginya dan dua orang lain yang sangat berhubungan erat pada waktu itu. Choi Siwon tahu benar bahwa Lee Donghae memendam rasa pada Yoo Rael. Selama tiga tahun lamanya, Donghae membawa beban berat akan ketidakberdayaannya menyatakan perasaan pada gadis manis kelas 12-B itu.

Namun, Yoo Rael dengan segala prestasi dan keramahannya berubah 180 derajat begitu bertemu dengan Choi Siwon.

“Kau baru datang dari Club lagi?” mata Donghae memanas saat melihat pemandangan di depannya.

Selama hampir empat jam ia berdiri di depan rumah Yoo Rael dengan udara musim salju yang memekakkan pernapasan, tak ia sangka akan menemukan gadis yang ia cari berpenampilan minim berantakan, berbau alkohol, dan tak sadarkan diri di bawah dekapan teman baiknya sendiri, Choi Siwon.

“Aku hanya ingin mengajaknya sedikit bersenang-senang.” Jawab Siwon enteng, tak menyadari betapa hancurnya hati Donghae saat melihat gadis yang ia sayangi ‘dirusak’ oleh temannya sendiri.

Tak ingin amarahnya meledak lebih, Lee Donghae yang saat itu mesih berusia 18 tahun segera pergi dari tempat tersebut. Dengan cepat ia menyalakan motornya dan membawa dirinya melesat membelah dinginnya udara malam.

Butiran salju mengenai wajah, meleleh diantara tetesan air mata yang tak kuasa dibendungnya. Dan untuk yang pertama kalinya, Donghae bersumpah jika Yoo Rael seiring waktu lebih ‘dirusak’ oleh Siwon, ia akan membenci teman baiknya itu sendiri seumur hidup.

..

..

#Blup… Blup…

Apakah dia akan sekarat sebentar lagi?

Apa yang baru saja ia lakukan?

Seluruh tubuhnya benar-benar sedang berada di dalam air. Pikirannya kacau, bahkan Lee Donghae bersumpah ia baru saja melihat bayangan Yoo Rael yang tenggelam di sungai tujuh tahun yang lalu.

Wajah pucatnya, pakaian hitam lusuh yang gadis itu kenakan sehari sebelum ia meninggal.

“Yoo Rael..?”

Donghae bersuara dalam keputus asaan.

 

BYUURRR..!!

 

Dan setelah itu Donghae dengan samar melihat seorang gadis berambut panjang telah menariknya ke atas, keluar dari air.

Dia membuka mata saat tubuhnya terduduk di tepi kolam, menatap bagaimana wajah malaikat yang baru saja menyelamatkan hidupnya. ‘Im Yoona…’ ucapnya dalam hati.

.

.

.

-The Fallen Angel-

.

.

.

 

#Pluk!

Yoona melempar sebuah handuk yang baru untuk Donghae.

“Dingin?” Tanya Yoona, yang diajak bicara hanya mengangguk singkat. Dengan begitu dia langsung mendekatkan bidet, alat penghangat ruangan itu ke arah Donghae yang tengah duduk dengan memeluk lutut, kedinginan di atas sofa.

Saat ini mereka tengah berada di kamar Donghae. Nyonya Lee menyarankan Yoona untuk menemani Donghae hingga lelaki itu merasa baikkan, dan disinilah mereka.

Menonton film dengan pangsit dan teh hangat. Sama-sama berselimut dan berkerudung handuk. Dan untuk Yoona— karena dia tak membawa satupun baju ganti, dia harus memakai kemeja longgar Donghae yang hanya menutupi sampai bagian pahanya.

“Wae? Kenapa kau menatapku begitu?”

“Aku hanya lelah…” ucap Donghae pasrah. Kejadian dua jam yang lalu begitu membawa emosi dan menguras tenaga. Bahkan lelaki itu menyenderkan kepalanya di bahu kecil Yoona.

“Oppa, apa yang kau lakukan? Beraattt…

“Sebentar…”

“Mwo?”

“Hanya sebentar saja, kumohon…”

Tatapan mata keduanya kembali bertemu. Kali ini ada yang beda dengan hazel mata Donghae. Tak ada api membara di setiap inch bola matanya, terlihat lebih sayu dari biasanya. Membuat Yoona tak tega dan membiarkan lelaki itu tidur di sisi kanan bahunya.

Tak sadar Yoona tak lagi merasakan canggung saat berdekatan dengan Donghae. Mungkin ini faktor bahwa ia sudah terlalu sering berada di sekitar Lee Donghae.

Napas Donghae terdengar pelan, dengan begitu Yoona yakin bahwa pria itu sudah tidur. Tanpa ragu Yoona mengangkat tangannya, mengelus rambut Donghae yang masih basah terkena air.

Entah ada masalah apa, namun tatapan sayu Lee Donghae beberapa menit yang lalu telah menjelaskan beban berat yang pria itu pikul. Yoona mengelus bagian kepala Donghae dengan ritme yang teratur, hingga gadis itu tak sadar bahwa Donghae telah kembali membuka kedua matanya.

#Srett

“Eh?”

Kejut Yoona saat secara tiba-tiba Donghae menahan tangan kanannya yang ia gunakan untuk mengelus kepala pria itu.

Yoona menatap mata Donghae yang lebih merah dari sepuluh menit yang lalu. Dalam hati gadis itu bertanya, ‘apa yang salah dengan pria ini?’

Op-oppa… apakah aku membangunkanmu?” tanya Yoona dengan sangat berhati-hati.

“…”

Tak ada jawaban yang berarti dari Lee Donghae, namun yang jelas pria itu menegakkan tubuhnya dan menatap hazel mata Yoona dalam.

“Oppa aku hmphh—

Engh…”

Dengan cepat Donghae membungkam bibir ranum Yoona dengan bibirnya. Entah apa tujuan dari ciuman ini. Tapi— bagi Donghae yang pikiran dan perasaannya tengah kacau, cara untuk mengembalikan akal sehatnya adalah dengan menyalurkan emosinya dengan sentuhan seperti ini.

“oppah…

Yoona berusaha untuk mendorong dada Donghae menjauh, namun apa daya kekuatannya tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan pria yang tengah mencumbunya dari samping.

Tangan kanan Donghae mengunci kedua pergelangan tangan Yoona ke atas sehingga memudahkannya untuk mencium gadis itu. Rasa manis dari bibir Yoona tak salah lagi telah meningkatkan libido dalam tubuhnya.

Sebagai seorang lelaki, jelas akan sulit untuk menolak seorang gadis cantik dengan tubuh seindah Yoona. Apalagi bagian paha gadis itu terlihat jelas karena tak sepenuhnya tertutup oleh kemeja yang ia kenakan.

“Tak bisakah… untuk malam ini kau bersikap seperti kekasihku yang sesungguhnya?”

“A-apa?” tanya Yoona masih berusaha membaca pikiran lelaki yang kini menindih tubunya.

Hmmphh…

Donghae kembali mencumbu bibirnya. Bahkan pria itu lebih memberanikan diri untuk mengangkat tubuh Yoona dari sofa menuju tempat tidur king size miliknya.

BRAK

Donghae melempar tubuh Yoona agak keras, membuka tiga kancing kemeja teratasnya lalu kembali mencium Yoona dan menindih tubuh gadis itu.

Tangan Yoona yang menganggur tak sadar telah berada di leher dan tengkuk Donghae, lebih menekannya mendekat, seolah gadis itu juga menikmati ciuman ini dan meminta lebih.

Keduanya berciuman dengan penuh gairah. Dan bagi Yoona— ini adalah yang pertama kali baginya untuk bersentuhan begitu intim dengan seorang pria.

Hhh… clkp…”

Donghae menjilat saliva keduanya yang meleleh dari bagian sudut bibir Yoona dan dengan begitulah mereka mengakhiri permainan malam itu.

Jam telah menunjukkan pukul 12 malam dan tanpa ada niatan untuk merelakan Yoona pergi, Donghae terlelap masih dengan memeluk gadis itu di sisinya. Seolah dirinya tak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya.

..

..

..

..

Pagi harinya.

 

‘Aku benar-benar sudah gila..!’

Rutuk Yoona pada dirinya sendiri seraya mondar-mandir di kamar milik Lee Donghae.

Apa-apaan ini. Dia telah lupa seratus persen bahwa semalam telah tidur bersama kekasih pura-puranya. Yoona menggaruk kepalanya kasar.

“I-ini pasti cobaan!” gerutunya lagi. Dia memberanikan diri untuk melirik ke arah kanannya, dimana si tampan Lee Donghae masih tertidur pulas memeluk guling seperti bayi.

Tak ingin berada di sana terlalu lama, Yoona segera meraih pakaian dan celana jeansnya mengingat dia sekarang masih mengenakan kemeja milik Donghae. Memakainya dengan cepat lalu bergegas keluar sambil menenteng tas.

 

#Klek

Dia berhasil menutup pintu.

Yang harus gadis itu lakukan sekarang adalah berjalan keluar, menyegat taksi, lalu kembali ke apartmentnya dan bersiap berangkat kuliah.

Omo Yoona-ya—

Nde?” sial, apa dia ketahuan? “Eommonim…” Yoona tersenyum paksa ke arah Ibunda dari Lee Donghae itu.

Nyonya Lee berjalan mendekat ke arahnya, “Aigoo… kau sudah bangun rupanya. Eomma barusaja akan ke kamar Donghae untuk membangunkan kalian lalu kita akan sarapan bersama.”

“T-tidak, Eommonim tidak perlu, hehee…” Yoona tertawa dengan canggung, tidak mungkin ia harus sarapan dengan keluarga Lee dan menatap wajah Lee Donghae lagi. Itu hanya akan mengingatkannya pada kejadian tadi malam yang— errr… dia tak ingin melanjutkannya. “Hehee… Saya buru-buru harus berangkat kuliah Eommonim.”

“Eh? Benarkah? Kalau begitu akan Eomma minta Tuan Kang untuk mengantarmu, sayang.”

Aigoo, jinjayo? Terima kasih Eommonim…”

Dan dengan begitu, Yoona dapat sampai ke apartment dengan lebih cepat dan bersiap untuk pergi kuliah.

.

.

.

-The Fallen Angel-

.

.

.

 

“Jadi benar yang diceritakan semua orang? Pestanya gagal?”

“Bukannya gagal, tapi— akh aku tak tahu harus berkata apa.” Yoona memasukkan buku terakhir ke dalam tasnya. “Kau tahu, anak dari Choi Hyunwoo…

“Choi Hyunwoo pemilik hotel bintang lima itu?”

Nde. Dia mempunyai seorang anak yang sangat kasar dan benar-benar tidak tahu sopan santun.”

“Hah benarkah? Kukira anaknya tinggal di luar negeri.” Timpal Sooyoung mencoba mengingat. Yoona mengendikkan bahu tak tahu. “Yang pernah ku degar, anak dari Choi Hyunwoo sangat tampan, tapi dia memiliki kepribadian yang buruk, oleh karena itu orang tuanya mengirimnya ke luar negeri.”

Yoona menyatukan alisnya sembari berpikir, “Entahlah… saat itu malam hari jadi aku tidak melihat dengan jelas. Dan aku langsung terjun ke kolam untuk menyelamatkan Presdir Lee, kau tahu?”

“Yah… yokshi Im Yoona memang hebat.” Menepuk bahu sahabatnya berkali-kali, Sooyoung lalu mengambil ponselnya dan—

 

#Klik

Satu foto selca dirinya dan Yoona berhasil ia ambil.

“Yak— kenapa kau mengambil foto tanpa bilang dulu?”

“Karena aku tahu kau akan menolak, bweeek~” Sooyoung menjulurkan lidahnya lalu berlari menjauh, mengerti jika tangan Yoona akan menampolnya dalam jarak sedekat apapun.

“Yahh… berhenti..!”

“Tidak… akan kusebar pada halaman facebook Pencari Jodoh!”

“Choi Sooyoung apa kau gila!”

“Aahahaha…” gadis tinggi itu tertawa lebar karena berhasil mengerjai sahabatnya.

“Berhenti!”

*Drrrtt… Drrttt…*

Eh?

Ponsel Yoona bergetar.

 

#Deg!

Lee Donghae?

“Y-yeobosseyo… oppa?”

“Apa kau ada waktu jam dua nanti?”

“Aku— aku harus menemui dosen wali setelah jam makan siang nanti. H-harus datang, dan tidak boleh diwakilkan.”

“Oh, baiklah… kalau begitu besok saja.”

“Nde.”

“Annyeong.”

*Bip*

 

Gadis itu bahkan tidak mengucapkan salam balik kepada Donghae.

Fyuuh…” Yoona membuang napas berat. Sepertinya dia mulai bisa menjadi pembohong yang ulung berkat status ‘kekasih pura-puranya’ dengan Donghae. Apakah itu adalah hal yang baik? Entahlah.

Dan yang benar saja… ini baru awal semester, untuk apa dia menemui dosen pembimbing? Semua itu adalah bohong. Dia hanya— tidak ingin menatap wajah Lee Donghae untuk sementara waktu ini.

Kejadian tadi malam sangat membuatnya malu hingga ubun-ubunnya merasa sakit ketika ingatan kejadian di ranjang itu terulang kembali.

“Sial, sial, sial…!”

 

#Puk!

Eh? Siapa yang memukulnya?

“Yak— kau tidak akan kabur lagi, ‘kan?”

Suara itu, “Fei… kabur? Apa maksudmu?”

“Aku sudah memesan tiga porsi Samgyupsal di resto biasa… jika kau pergi lagi, aku dan Sooyoung harus memakan jatahmu. Aku tidak mau— bisa-bisa berat badanku naik lagi.” Fei mengerucutkan bibirnya, salah satu kelemahan Yoona.

“Yah, aku tidak ada acara siang ini. Kajja…” Yoona merangkul pundak Fei untuk berjalan beriringan.

Ne, dan sebaiknya kita cepat karena Sooyoung sudah menunggu di sana.”

Mwo? Sooyoung sudah di sana? Dia meninggalkanku untuk lebih cepat ke resto, huh, akan kujadikan Dendeng anak itu..!”

.

.

.

-The Fallen Angel-

.

.

.

“Im Yoona ‘kan bodoh, dia takkan paham dengan memberi atau menerima ‘kode’ dari lawan jenis.” Ujar Sooyoung lalu melahap daging dari sumpitnya.

“Siapa yang kau panggil bodoh, bodoh?” timpal Yoona tak mau kalah.

“Jika tidak, kenapa kau masih saja menjomblo sejak SMA?”

“A-aku…” sial. Dia kalah telak dengan Sooyoung. Tapi— saat ini ‘kan Yoona menjadi ‘pacar pura-pura’ Lee Donghae, apa itu tidak termasuk dalam hitungan?

Dan kini seperti biasa, yang menjadi penengah diantara keduanya hanyalah Fei. “Jika kau merasa aman dan hangat di dalam dada saat berdekatan dengan orang lain, maka itu adalah tanda cinta Yoona-yah.”

“Apa kau selalu merasa seperti itu jika bersama Jinwoo?”

“Ya, kurang lebih seperti itu… kami sudah empat tahun berpacaran jadi tak terlalu terasa lagi, hahaha…” Fei tertawa tak ketinggalan dua teman lainnya.

Yoona jadi berpikir, apakah itu memang cinta jika bisa diukur seperti itu? Apakah semakin lama orang berhubungan, perasaan itu jadi lebih tak terasa? Seperti perlahan menghilang? Bosan?

“Apa kau mau kukenalkan teman Jinwoo oppa, Yoona-ya?”

“Fei-ya, kenapa kau hanya menawari Yoona… aku?”

“Kau ‘kan sudah punya pacar, pabo!” timpal Yoona kali ini. “Ehm… Fei-ya, yang ganteng oke?”

Mereka semua terkekeh mendengar kalimat Yoona.

“Jinwoo oppa kemarin bilang padaku kalau ada teman lamanya baru datang.” Fei mencoba mengingat, “Kau tahu Hotel Rinchkalsen itu… dia pewaris utamanya Choi Siwon.”

“UHUK!!!!”

“Bruuushh.”

Yoona tersedak dan Sooyoung tak sengaja menyemburkan air yang ia minum.

Apa gadis ini tadi bilang?

Choi Siwon?

Yoona dan Sooyoung saling berpandangan canggung, itu kan lelaki brengsek yang barusaja mereka bicarakan tadi siang.

“A-ada apa dengan kalian?”

“Apakah kita sedang membicarakan Choi Siwon yang sama?” tanya Sooyoung.

“Yah, Fei-ya darimana pacarmu mengenal si Siwon itu?” timpal Yoona.

“Kata Jinwoo oppa, itu teman masa kecilnya… memang sudah lama tidak bertemu, tapi mereka tetap berhubungan baik.”

Sooyoung dan Yoona secara spontan langsung bertatapan. Si gadis jangkung menggelengkan kepalanya, “Yoona-yah, sepertinya tak ada pilihan selain Ji Chang Wook.”

“Kau bercanda? Si psycho playboy yang mengejarku itu… ah tidak mau.”

“Yah, sebentar lagi aku harus bersiap berangkat kerja. Ayo kita pulang.” Ajak Sooyoung.

“Hei, kalian belum memberitahu tentang si chaebol Siwon itu… ada apa dengannya?” protes Fei.

Sooyoung sudah berada di ambang pintu, berhenti sejenak, “Akan kuceritakan besok.”

“Hmm…” Fei menghela napas sejenak, “Ini seperti akan hujan, lihat awannya.” Memang benar, keadaan sore kota Seoul menjadi lebih gelap dari biasanya. “Apa kau mau kuantar? Sebentar lagi Jinwoo oppa datang menjemputku.”

“Kurasa tidak… apartmentku berbeda arah dengan rumahmu. Itu akan terlalu jauh.” Tolak Yoona dengan halus, sebenarnya juga ia tak enak karena selalu menumpang pada mobil pasangan kekasih ini. “Aku naik bus saja.”

“Baiklah kalau begitu, annyeong Yoong..!”

Yoona melambaikan tangannya pada Fei lalu berjalan ke halte bus yang tepat berada di depan kampusnya.

Gadis itu berdiri tepat di tanda ‘bus stop’. Dia mengetatkan coat berbahan rajut yang ia kenakan, menahan angin dingin yang merembes masuk. Di halte ini hanya ada dirinya dan seorang kakek yang duduk di ujung kursi, sama-sama membisu dalam pikiran masing-masing.

Yoona melihat pada jadwal digital yang dipasang di bagian atas halte, bus yang mengarah ke apartmentnya akan datang 15 menit lagi. Dan dia hanya berharap bahwa jangan turun hujan sebelum busnya datang.

Tapi harapannya seketika luntur saat guntur dan kilat datang menyambut guyuran hujan pertama di awal musim gugur ini. Yoona mendesah pelan, dia jadi menyesal karena menolak tawaran Fei tadi.

Dia melangkah mundur untuk menghindari percikan hujan yang jatuh dari atap halte, menggosokkan tangannya berulang-ulang untuk mengurangi rasa dingin sesekali meniupkan udara hangat dari mulutnya.

 

#Ckiitt

Sreettt…

“Eh?” Kejut Yoona saat ada mobil yang mendadak berhenti di depannya, menyebabkan cipratan air hujan di jalan mengenai sebagian celana dan kakinya. “Nuguseyo?” ucapnya pelan, bahkan sama sekali tak terdengar karena teredam suara deras hujan saat ini.

Dilihatnya kaca jendela mobil hitam itu perlahan turun.

“Mau kuantar nona?” ucap pria itu sedikit keras dari dalam mobil.

Pria itu berbadan tegap dan memakai kaca mata hitam, sedikit sulit bagi Yoona untuk mengenalinya. Tak berselang beberapa lama kemudian pria itu membuka pintu mobilnya, merasakan tetesan hujan pada saat yang sama pula. Dengan cepat ia berjalan ke halte dan mengambil tempat di sebelah gadis yang masih melongo itu.

“Ch—choi Siwon-ssi?” ucapnya dengan terbata-bata.

Yang disebut namanya tersenyum tipis. “Kau mengenaliku ternyata— tunangan Donghae…”

M-mwo? Sebenarnya kami belum resmi tunangan jadi—

“Jadi kau mengelak? Apakah menjadi tunangan Donghae membuatmu merasa buruk?”

Yoona menatap pria di hadapannya dengan tak percaya, kenapa seorang lelaki bisa bermulut sangat pedas, hm? “Jossonghaeyo— aku tidak merasa seperti itu dan berhentilah bermain-main tuan… apa yang membuatmu kemari?” dengan tegas namun ketakutan Yoona menyuarakan perasaannya.

Choi Siwon kembali menampakkan senyum menjengkelkan miliknya, dengan perlahan ia bergerak maju, “Aku—

“Yoona-ya..!” sebuah suara familiar terdengar dari belakang.

Sontak Yoona membalikkan badan dan menemukan sosok Donghae berdiri di samping mobilnya dengan mesin yang masih menyala. Prianya itu berjalan mendekat, dengan tajam menatap Siwon tak suka. “Ayo pulang, aku ingin mengatakan sesuatu.” Dengan begitu Donghae menarik Yoona ke sisinya, berjalan menjauhi Siwon tanpa menatap teman masa lalunya itu lalu masuk ke mobil.

Susana dingin kota Seoul saat hujan mempengaruhi dingin dalam mobil itu. Keheningan mencekat mereka. Tanpa berbicara lebih Donghae mengemudikan mobilnya lalu berbelok di persimpangan jalan untuk masuk ke halaman rumahnya yang mewah di kawasan Apgujong.

Yoona mengekeor di belakangnya, masih tak mengeluarkan sepatah katapun. Dia masih dihantui kejadian kemarin malam, dan ditambah momen tidak mengenakkan di halte tadi. Lengkap sudah penderitaannya.

Donghae memasuki dapur untuk mengambil sebotol air begitu pula dengan Yoona. Dia sudah kemari beberapa kali dan telah menganggap ‘nyaman’ rumah dari keluarga Lee itu.

“Apakah Eommonim sedang keluar?” Yoona berusaha memecah keheningan.

Tak lama kemudian dilihatnya Lee Donghae mengangguk pelan. “Yoona-ya…

Nde oppa?”

 

“Banyak yang ingin kutanyakan tentang sikapmu seharian ini tapi aku tidak sedang dalam mood yang baik,” ujar Donghae sembari duduk di kursi ruang tengah. Gadis itu menatapnya seolah mengerti, bertemu dengan rival sendiri pasti sangat tidak mengenakkan. “Aku hanya ingin memberi tahu kalau aku akan melakukan perjaanan bisnis ke Macau selama dua minggu.”

“Hm?” Yoona mengangkat kepalanya menatap Donghae seolah berkata, ‘kenapa lama sekali’.

“Jadi aku ingin kau tetap berhubungan dengan Eomma selama aku tidak ada.” Donghae tersenyum disela kelimatnya. “Kurasa dia sudah menyukaimu. Dan yang terpenting… jangan rindukan aku.”

.

.

-TBC-

Author Note:

Yaaakkkk maap lama update… pendek lagi. >.< bnr2 maaf ya Sine barusan lagi banyak kerjaan, lagi sensitif, kena writer block juga. Jadi baru bisa nulis lagi sekarang huaaa. 😥

Tapi berita baiknya, kayaknya si donghae udah mulai agak posesip gitu sama Yoong. Konfliknya juga bakalan muncul sebentar lagi. Sooo, keep stay tune! Love you guys~

Regard.

Keiko Sine https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

68 thoughts on “The Fallen Angel [Chapter 4]

  1. Donghae sebenernya suka sma Yoona tidak???
    Tp aku setuju aja sma Sooyuong dari ke 3 kandidat mending pilih Ji Chang Wook, msh penasaran sma karakternya heheheh…..

    Nextt Thor ……

    Suka

  2. Jadi….Donghae pernah mencintai seseorang selama 3 tahun dan itu cinta pertamanya.Gadis itu berubah setelah bertemu dengan Siwon sahabat Donghae.
    Yoonhae melakukan sesuatu kah selain berciuman dikamar Donghae??😀😁😄😉.
    Apa Yoona ketahuan berbohong..,saat Donghae menghubunginya,Yoona mengatakan akan bimbingan dengan dosen hingga kedatangan tiba tiba Donghae dihalte disaat Yoona didatangi Siwon.Dan Donghae bersikap seolah Yoona benar benar tunangannya…😀😀.Lagipula apa tujuan Siwon mendekati Yoona??adakah kemungkinan ia juga tertarik dengan Yoona??
    Ditunggu kelanjutannya…😊😉

    Suka

  3. Finally yg ditunggu di post juga…
    Konflik dimulai… Dari mana donghae tau kalo yoona ada di halte itu? Apa donghae mengikuti yoona atu hanya kebetulan saja?
    Next author-nim…

    Suka

  4. Jadi choi siwon sendiri yg membuat hubungan donghae dan dirinya memburuk??
    Dan donghae kurasa kau mulai posesif terhadap yoona yah?? Aku rasa donghae sedikit trauma tentang kejadian yg menimpa yoo reol !!!🤔🤔
    Aku harap konflik yg terjadi tdk terlalu berat dan complicated..

    Good storyyy 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻

    Suka

  5. So sweet,kpn donghae jatuh cinta ma yoona,semoga ceritanya lanjut sampe mereka nikah,
    Chapter 4 ceritanya bagus,dn ad moment sweetnyaa…
    Di tunggu selanjutnya..

    Suka

  6. gimana sih kaliaaannn.. kan authornya udah bilang kalo ini short update dan kemarin kena writer block, kenapa maassiiiihhhhh ada aja yg ngomel2 KEPENDEKAN???
    kalian bisa menghargai usaha orang nggak sih??
    heran. -__-

    maaf ya thor aku ngomel2 disini, abisnya geregetaannn..
    fightinh author! 🙂

    Suka

  7. Ping-balik: The Fallen Angel [Chapter 5] | KEIKO SINE

  8. Ping-balik: The Fallen Angel [Chapter 6] | KEIKO SINE

  9. Ping-balik: The Fallen Angel [Chapter 7] | KEIKO SINE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s