GUARDIAN [Chapter 3]

guardian

GUARDIAN by. Keiko Sine

School life || Sad-Romance || Friendship

Teen/Mature – NC 17

Maincast :

Im Yoona & Lee Donghae

Add Cast : Lee Eunhyuk (SJ), Kwon Yuri (SNSD), Ryu Sujin (OC),

and Others.

STORYLINE AND POSTER BELONG TO KEIKO SINE.

DO NOT COPY OR PLAGIARIZE!

***  

Disclaimer: This Fiction is inspired by a Japan Manga under the

titled ‘Heroine Shikkaku’.

<<<>>>

PREVIOUS: [Teaser][Chap1][Chap2]

[Chapter 3]

..

*tuut*

Kenapa tidak diangkat?

Yoona berjalan ke sisi jendela yang ada di kamarnya. Dengan risau gadis itu memencet tombol hijau lagi. Ini sudah panggilannya yang ke enam kali untuk menghubungi sahabatnya, Yuri.

“Yeoboseyo?”

“YAK KWON YURI…!”

Akh… mwo? Kau membuatku sakit telinga.” Ujar Yuri di ujung sana dengan suara kesalnya. “Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku di Café.”

Oh benar, Yuri sudah tiga minggu ini bekerja paruh waktu di Café milik sepupunya. Jadi pantas saja sulit dihubungi.

Yoona memejamkan mata, ini sungguh darurat dan ia pikir harus cepat-cepat memberitahukannya kepada Yuri. “Yuri-ya… apa kau pernah berciuman?” tanyanya dengan nada serius.

“Tentu saja.” Jawab Yuri enteng.

Tapi… sepertinya jawaban Yuri malah membuat Yoona semakin terkejut. “Ap-apa? Apakah Changmin sunbae semesum itu?”

“Yak apa yang kau katakan? Reaksimu itu berlebihan sekali.” Ujarnya tak terima karena kekasihnya barusaja Yoona bilang ‘mesum’.

“K-kapan?” tanya Yoona lagi.

“Sudah sering… kami melakukannya di rumah Changmin, di bioskop, di tempat—

 

*tut tuut*

“Arrggh!” Yoona memutuskan sambungan telepon dengan sepihak. Ini menjengkelkan sekali. Kenapa sahabatnya itu malah curhat tentang hubungan intimnya? Ini menggelikan. Merebahkan tubuhnya di kasur, Yoona bergumam pada dirinya sendiri. “Si bodoh Kwon Yuri… aku baru sadar kalu ia bisa leluasa mencium orang yang disukainya. Sementara aku— yang tidak memiliki siapapun kecuali Donghae— ciumanku dicuri begitu saja oleh orang lain.”

Dan dengan ini… entah kenapa bayangan saat ia dicium di taman tadi sore pun kembali terputar diingatannya.

“Hiihh… ini menggelikan…” ucapnya sambil menyibakkan selimut untuk menutupi seluruh badannya. “Tidaakk… aku sudah ternodai, aku tidak ingin Donghae tahu akan hal ini, HUAA…!”

 

.

.

.

-Guardian-

.

.

.

Keesokan harinya Yoona berjalan di koridor usai keluar dari kamar mandi wanita. Kelasnya terletak di paling ujung lorong dan itu sebabnya ia kini harus melangkah melalui ruang kelas 11 yang lain.

Annyeong Yoona-ya!”

Menoleh ke sumber suara, seorang gadis tinggi dengan rambut diikat kebelakang tersenyum padanya, “Oh, Suzy-ya annyeong..!”

Dan saat Yoona menyadari bahwa yang baru saja menyapanya itu adalah Suzy… berarti… ini juga adalah kelas milik—

“Yak Eunhyuk-ssi!” panggil Yoona pada seorang lelaki yang berjalan berlawanan arah dengannya.

 

Oke, ini adalah kesempatan dimana ia harus bersikap keras pada si murid baru itu agar tidak berbuat seenaknya sendiri padanya.

“Berhenti di sana kau..!” teriaknya sekali lagi sambil berjalan mendekat.

Dan ketika Yoona tengah berjalan berapi-api, lelaki di hadapannya ini pun berlaku kebalikannya. Dengan alis tertekuk, dagu ke atas, dan satu tangan di dalam saku celana— hell, dia sangat keren.

Sempat saja Yoona hendak kembali terperangkap pada pesona lelaki itu, tapi sebisa mungkin ia harus fokus. Ia punya tujuan datang kemari.

“Eunhyuk-ssi…” ucap Yoona tegas, “A-aku…” tapi apa yang salah dengan dirinya? Saat melihat wajah Eunhyuk dari dekat membuat jantungnya berdebar. Yoona masih sangat kalut dalam ciuman kemarin.

“Ada apa?” tanya si lelaki keheranan.

“S-soal kejadian yang kemarin… itu, jadi rahasia kita saja ya. Hehehe…” ucapnya secara terbata-bata.

Eunhyuk menghembuskan napas, “Hoh, kau kemari hanya untuk menutup mulutku?” tanyanya tak percaya, ia terkekeh sembari melanjutkan. “Mana mungkin hal itu akan ku beberkan. Tak akan ku katakan pada orang lain… kau percaya padaku, ‘kan?”

“Ah Jinjja?” mendengarnya membuat Yoona lega seketika.

Eoh…” Eunhyuk mengangguk, “Tapi, sebagai gantinya—“ dia memberikan jeda atas kalimatnya, membuat Yoona semakin penasaran saat lelaki itu mulai berjalan mendekat ke arahnya, “…aku juga boleh minta sesuatu, ‘kan?” sambungnya.

Lelaki itu semakin berjalan mendekat, memojokkan Yoona di dinding.

“Ap-apa?” tanya Yoona terbata-bata. Dia berjalan ke sisi kiri tembok untuk keluar dari himpitan Eunhyuk, tapi di detik berikutnya, lelaki itu dapat dengan mudah menangkapnya kembali.

 

‘Tunggu dulu, akulah yang diciumnya. Dan aku kemari ingin minta ‘kompensasi’, tapi kenapa malah dia yang jadi diuntungkan?’

Gerutu Yoona dalam hati.

“K-kau terlalu dekaatt…” suara Yoona mencicit saat Eunhyuk lebih menipiskan jarak di antara keduanya, bahkan dada mereka pun sudah saling bersentuhan pada saat ini.

 

“Hei…

 

Eh?

Suara itu— Yoona mengenalinya.

“…gadis itu, dia tak suka perlakuanmu.” Sambungnya kembali.

“Donghae-ya..!” Yoona tersentak senang. Jadi— sejak kapan ‘pangerannya’ itu memperhatikannya dengan si murid baru yang mesum ini? Dan jangan lupa, bahwa kehadiran Donghae adalah kehadiran Ryu Sujin juga.

 

Eunhyuk mendecih pelan, dan di detik berikutnya bibirnya tersungging samar. Bahkan itu tak pantas untuk disebut dengan senyuman. “Benarkah?” tanyanya seolah menantang. “Yoona-ya, kau mau main sepulang sekolah ini? Kau bisa ajak pengawalmu juga.”

Nde?” tanya Yoona tak paham, siapa yang ia maksud dengan pengawal.

“Aku akan ikut.” Ucap Donghae yakin.

..

..

..

..

 

Lee Eunhyuk… pria sialan itu..!

Bagaimana bisa dia mengajak Donghae dan Sujin untuk hang out bersama? Apa dia pikir ini adalah double date atau semacamnya? Menjengkelkan sekali.

Untuk biaya tutup mulut akan insiden kemarin— lelaki sinting itu menginginkan bermain di Studio Bowling? Yang benar saja.

 

*‘You Lose’*

Mesin Bowling bergulir dan menata kembali 10 pin dengan otomatis.

“Arrgh! Kenapa susah sekali…” gerutu Yoona, ini adalah kekalahannya yang ke enam hari ini.

“Hahaha… Im Yoona kau sangat payah.” Ejek Eunhyuk dengan tawa menjengkelkannya, sedangkan dari tadi Donghae dan Sujin hanya sama-sama duduk di kursi dan diam membisu. Sibuk dengan Ice Late di tangannya. Eunhyuk mengambil satu bola bowling lagi, berjalan ke arah Yoona untuk memberikannya kepada gadis itu. “Sudah kubilang kau terlalu terikat kepadanya,” bisik Eunhyuk pelan saat Yoona menerima bola darinya, “Lee Donghae ini sangat mudah sekali dibaca. Memperhatikan kita seperti itu—” Sambung lelaki itu.

“Eh? Donghae kah?” dengan reflek Yoona langsung menoleh ke arah Donghae, dan benar saja apa kata Eunhyuk barusan, bahwa Lee Donghae tertangkap basah sedang memperhatikannya dengan Eunhyuk. Mungkin, lelaki itu heran bagaimana bisa Yoona sedekat ini dengan murid baru yang bahkan di kelas yang berbeda dengan mereka.

 

Dan dengan canggung Donghae segera berlagak menatap ke arah lain saat Yoona menoleh ke arahnya.

Eunhyuk tersenyum remeh, melihat Donghae seperti itu membuatnya terhibur. “Yoona-ya, lemparkan bolanya secara melengkung di garis tiga paling belakang itu.” Ucapnya pada Yoona memberi saran.

Yoona mengangguk, gadis itu membawaa sebuah bola lagi kembudian berancang-ancang.

Dan…

*glung… glung…*

 

*’STAIGHT’*

 

“Yeeay… aku menang..!”

“Yah Im Yoona, daebak!”

Dan dengan reflek mereka melakukan high five.

Tos yang mereka lakukan tepat di hadapan seorang Lee Donghae yang kini air mukanya sudah terlihat tak enak.

 

Yoona ikut duduk di kursi yang berhadapan dengan Donghae dan Sujin setelah meraih kemenagannya yang pertama.

E-ehm, Yoona-ya bagaimana keadaan Mikku dan Andrei?” dan akhirnya, setelah satu jam lebih mereka bersama, Donghae mulai membuka suara.

“Mereka baik.” Jawab Yoona.

“Siapa itu Mikku dan Andrei?” Tanya Eunhyuk saat ia sampai di kursi itu dan mengambil tempat duduk di samping Yoona.

Yoona menjawab, “Mereka anjing-anjingku.”

“Itu… kita dulu yang menamainya, ‘kan?” Tanya Donghae lagi. Seolah ingin memamerkan kedekatannya dengan Yoona pada Eunhyuk. “Rumahmu tak jauh dari sini ‘kan? Bagaimana kalau nanti aku mampir sebentar.”

“Eh, ya boleh—

“Yoona-ya, lihat ini puddleku namanya Haru.” Ujar Eunhyuk cepat dengan menyodorkan ponselnya dengan wallpaper seekor anjing puddle putih.

Yoona menoleh, “Wah benarkah? Kiyowo…” ujarnya bersemangat.

 

Dan melihat dirinya diabaikan, Donghae segera meletakkan Ice Latenya lalu berdiri. “Toilet.” Ucapnya singkat.

“Huh?” Yoona mendongak. Melihat Donghae yang sudah berjalan menjauh.

“Em… pffttt… dia mudah sekali dibaca. Hahaha…” tawa Eunhyuk kembali menggelegarl saat ia rasa misinya benar-benar sukses. Karena menurutnya, Donghae juga memiliki perasaan yang sama dengan Yoona, hanya saja lelaki itu terlalu kaku hingga tak menyadari perasaannya sendiri.

 

‘Hmm… mudah dibaca atau apapun, dia adalah Donghae yang ku kenal. 15 Mei adalah peringatan untuk rasa cemburu yang ia tunjukkan.’

Ucap Yoona dalam hati.

Karena diam-diam dia sangat berterima kasih pada Eunhyuk untuk mengajaknya dan juga Donghae hari ini.

“Em… anu— mungkin itu adalah kesalahpahamanku.” Ucap Ryu Sujin pelan.

Nde?” Tanya Yoona, ia tak mengerti akan maksud dari ‘kesalahpahaman’ yang gadis ini bicarakan.

 

“Saat aku mendengar soal perasaanmu padanya, saat di toilet… aku merasa— tertekan.” Jawab Sujin. Dan kalau boleh jujur, ini adalah kalimat terpanjangnya yang dapat Yoona dengar selama ini. “Kau yang selalu terus terang memikirkan Lee Donghae, bagiku itu sisi unik dirimu.”

Yoona mengatupkan kedua bibirnya pelan, semakin lama gadis di depannya ini berbicara dengan seenaknya sendiri.

“Aku dengan egois menganggap kau sebagai temanku… tsk. Kenapa kau memaksakan diri… untuk menerima, jika kau tak bisa menemukan orang lain untuk dicintai? Karena— menyakiti Donghae seperti yang tadi ini… bukanlah hal yang sepantasnya.” Sambung Sujin.

Apa yang dia bilang tadi? Egois?

Kalimat Sujin menembus Yoona hingga ulu hatinya. Bahkan mulutnya telah terkatup rapat untuk menghindari suara isakan yang memaksa untuk keluar.

 

Kenapa… kenapa kau menyalahkanku? Itu terdengar seperti kau menginginkan Donghae untuk dirimu sendiri.

 

“Dan bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu.” Sahut Eunhyuk, berdiri untuk menata bola bowling yang berserakan baru keluar dari mesin. “Kau dasar perempuan menjengkelkan.”

Sujin terkisap, dia mengibas-ngibaskan tangannya seolah tak bermaksud untuk bersikap kasar. “B-bukan seperti itu… aku hanya ingin bilang kalau aku ingin menghargai perasaan Yoona dan Donghae jadi—

“Maka, putuslah dengannya.” Timpal Eunhyuk kembali.

Dan lihatlah bagaimana wajah tercengang Ryu Sujin saat mendengar pernyataan tersebut. “A-apa?”

Tsk… lihatlah, pada akhirnya itu hanya ucapan manis di mulut.” Eunhyuk berjalan kembali untuk menenangkan Yoona yang ia lihat sudah berkaca-kaca. “Kau tahu apa namanya? Bermulut manis, tapi kelakanmu membuatku kesal.” Sambungnya lalu dengan cepat menarik Yoona untuk berdiri dan meninggalkan tempat tersebut.

 

Dan si lelaki mesum ini, menyelamatkanku lagi?

 

.

.

.

-Guardian-

.

.

.

 

Yoona keluar dari bus yang ditumpanginya lalu berdiri di depan halte. Berjalan menuju jembatan layang di sana untuk sampai ke seberang jalan dan memasuki kompleks rumahnya.

Hari ini sangat melelahkan. Pukul 10 tepat saat ia melangkahkan kaki di tiap anak tangga jembatan layang itu dengan masih menggunakan seragam sekolah.

Dia menghembuskan napas berat,

‘Hah… bahkan jika aku mengulurkan tanganku, dia masih sangat jauh dari jangkauan.’

‘Aku dan Donghae yang sudah bersama selama 10 tahun, terasa seolah Ryu Sujin menutupinya hanya dalam sesaat.’

 

“Yoona-ya…”

Gadis itu segera menghentikan langkah di tangga terakhir saat mendengar suara familiar memanggilnya.

“Donghae?”

Lelaki itu— apa yang sedang ia lakukan di atas jembatan ini?

Yoona takut, akankah Donghae marah setelah ia dan Eunhyuk meninggalkannya di studio tadi? Dengan langkah pelan Yoona berjalan mendekat.

 

3-yoonhae-jembatan

“Kemana kau tadi? Kau tiba-tiba menghilang.”

Eh? Apakah Sujin tidak mengadukan kejadian yang tadi padanya?

Yoona menelan ludahnya, “A-aku… Eunhyuk mengajakku untuk keluar lebih dulu,” ucapnya berbohong. “Apa kau mengkhawatirkanku?”

“Soal itu… ya.”

Yoona memaksakan bibirnya untuk tersenyum, “Hmm… bagaimana dengan Ryu Sujin?”

“Pulang ke rumah.” Jawabnya datar.

Yoona menggeleng, sebenarnya bukan itu yang dia maksudkan. “Apa yang kau sukai dari Ryu Sujin?” dapat ia lihat dari ekor matanya Donghae sedikit terkejut atas pertanyaan ini. “Ayolah katakan, ini hanya antar kita berdua saja, ‘kan? Hahaha…” tawanya dengan suara sumbang yang samar. Karena sebenarnya— keadaannya ini sangat tak memungkinkan baginya buat tertawa. Apakah berpura-pura memang sesakit ini?

Sial! Semakin lama di sini semakin sulit pula untuk menjaga air mukanya tetap tenang. Karena jujur saja, melihat wajah Donghae membuat Yoona mengingat kedekatan lelaki itu dengan Sujin yang membuat hatinya terasa diremat.

 

“Impiannya.” Jawab Donghae pada akhirnya.

“Huh?”

“Mimpi yang dia miliki… dia ingin menjadi Jurnalis, dan dia ingin mengatakan sesuatu demi dirinya sendiri pada dunia.” Sambung Donghae sambil menatap lurus ke depan. “Hebat, ‘kan? Untuk orang seperti itu— dia menggenggam banyak hal. Seperti kepercayaan dan tekat. Sekarang ini, semua hal yang tak ku miliki ada pada diri Ryu Sujin.” Donghae menutup kalimatnya dengan sebuah senyuman.

Udara dingin berhembus menerpa tubuh Yoona saat untuk yang sekali lagi gadis itu memaksakan bibirnya untuk tersenyum.

#Puk!

“Ah Donghae kau melankolis sekali.” Ujarnya seraya memukul bahu Donghae agak keras.

“Yak—

3-yoona-lari

Yoona segera berlari pergi setelah mendapatkan jawaban atas pertanyaan konyolnya. Namun secara tiba-tiba ia merasa tak enak untuk melarikan diri yang kedua kali, jadi gadis itu memutuskan untuk menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan. “Donghae-ah…” Dia menatap Lee Donghae di kejauhan, air mata turun dengan bebas saat lelaki itu balik menatapnya. “Kapan-kapan kita berkunjung ke Café tempat Yuri, ne..? Teraktir aku juice…” ucapnya dengan sedikit berteriak karena jarak mereka.

“H-hei…!” ucapan Donghae terhenti di ujung lidah saat menyadari betapa bergetarnya suara Yoona barusan.

Dan tanpa lagi mendapat jawaban dari Donghae, gadis itu segera melanjutkan langkah kakinya. Berlari menuruni tangga jembatan itu dan memasuki gang kompleks rumahnya.

Dia berlari secepat yang ia bisa hingga tangannya terasa kebas karena dinginnya hembusan angin malam. Tapi— hal itu sama sekali tak menyakitkan apabila dibandingkan dengan perihnya hati Yoona saat ini.

 

‘Apa itu?’

‘Aku tak bisa menang melawannya..!’

‘Mana mungkin aku memiliki impian luar biasa seperti yang dia miliki… karena hingga saat ini, yang kulakukan hanyalah melihat Donghae.’

‘Aku menyerah…’

.

.

.

-To be continued-

AUTHOR NOTE:

Aduuh duh duhh… kok gw geregetan sendiri sih nulisnya… >.< aakkk maapkanlah aku hingga Donghae jadi punya karakter gak peka plus nyebelin kayak gini.. dan Yoonanya yg malah berjuang mati-matian. Wkwkwk 😀

Feel free to read and leave comment!

Berikan semangat untuk author dengan memberikan review di setiap chapter yang kalian baca ya… Karena nulis FF itu tidaklah gampang, perlu tenaga dan waktu. Jadi hargailah dengan meninggalkan review.^^

Regard.

-Keiko Sine https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

37 thoughts on “GUARDIAN [Chapter 3]

  1. Eunhyuk tahu jika sebenarnya Donghae menyukai Yoona…😟,perasaan yang sama seperti milik Yoona.Apa ia sengaja mengajak Donghae yang Eunhyuk maksud sebagai pengawal Yoona untuk menunjukkan pada Yoona jika Donghae juga memperhatikannya??
    Dari pertanyaan Yoona tentang apa yang disukai dari Sujin,Donghae menyukai impian Ryu…,hanya itu sajakah??
    Apa yang Donghae tangkap dari suara Yoona yang bergetar saat Yoona memintanya mentraktir juice dicafe tempat Yuri kapan2??tidakkah Donghae menyadari jika Yoona menangis yang mungkin setelah mendengar alasan Donghae tentang Sujin??
    Benarkah Yoona akan menyerah setelah merasa optimis jika ia sudah kalah??
    Ditunggu kelanjutannya…😊😉

    Suka

  2. Jadian
    Jadian
    jadian

    Hehehe
    Yaaa kali nih dengan mancing memancing kaya mancing mania, bisa membuka sedikit demi sedikit rasa ketidakpekaan si laki

    Dah ngarep bangettt tuh si cewe, yo olohhh hahhaaa

    Hwaitinggggggg dearrr buat idenyaaq xoxo

    Suka

  3. Chapter sebelumnya udah kelihatan banget lah kelaukuan Sujun.. aku makin ga suka sama Sujin.. emang dia itu jahat sebenernya cuma mulutnya aja yang pura-pura baik(?)..
    Jangan sampe Yoona menyerah buat dapetin Donghae, dan malah lari ke Kunyuk 😂😂 dan buat lu Bang Hae, cobalah untuk peka 😂 next chapter semangat 😁😁

    Suka

  4. Aku pikir disini eunhyuk adalah guardiannya ???
    Lalu donghae kenapa ia lebih memilih sujin ?? Hanya karna impian?? Atau ada yg lain?
    Ah aku harap akan ada akhir yg bahagia untuk mereka
    Good storyy 👍🏻👍🏻👍🏻

    Suka

  5. Kenapa selalu kesedihan yang yoona rasakan. Kasian sekali yoona. Apa eunhyuk deketin yoona biar donghae peka akan perasaannya??
    Lalu apa sujin suka sama donghae?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s