The Fallen Angel [Chapter 3]

fallenangel

The Fallen Angel

written by Keiko Sine

Romance, Life, Alternative Universe || NC 17

Lenght: Chapter

Casts: Im Yoona & Lee Donghae

STORYLINE BELONGS TO KEIKO SINE!

DO NOT COPY OR PLAGIARIZE.

<<<>>>

PREVIOUS: [Chapter1][Chapter2]

..

Untuk apa ia lakukan semua ini?

Yoona menggeleng lemah dalam ketidakpahaman atas dirinya sendiri.

Mungkin… ini sudah terlalu jauh dimana ia harus bermain-main dalam kehidupan seseorang. Dia memejamkan kedua kelopak matanya rapat, napas memburu dalam udara dingin malam Seoul saat Lee Donghae menginjak pedal gas mobilnya.

Seusai pertemuannya dengan Nyonya Lee, mereka berdua sempat makan malam ‘romantis’ di sebuah restaurant bergaya Prancis rekomendasi dari Eomma Lee Donghae itu. Ia tak dapat menolak, karena itu peraturannya.

#Sret

 

“Anggap saja itu ucapan terima kasihku.”

Yoona melirik sebuah amplop cokelat tebal yang disodorkan Lee Donghae padanya. “N-nde? Gomawo.”

Wah. Ini bayarannya.

Seperti seorang pegawai yang menerima gaji, tapi bedanya dia bekerja untuk menjadi kekasih orang lain. Semacam gadis sewa, untuk bahasa kasarnya.

Yoona menatap nanar uang sejumlah 300ribu Won itu.

Dengan begini, tak sampai sebulan mereka berkencan, ia bisa saja membelikan rumah baru untuk orang tuanya di Chungnam.

“Ini adalah uang muka dariku. Dan jika rencana kita dapat berjalan dengan lancar nanti, aku akan mengirimkan sisanya ke rekeningmu.” Lee Donghae menatap lurus ke depan. Berkonsentrasi dengan jalanan padat Seoul di malam hari.

Aigoo, sajang-nim… apakah ini saja sudah terlalu banyak?” Yoona tersenyum canggung. Merasa bahwa Donghae adalah orang kaya paling dermawan yang pernah ia temui.

Melihat bagaimana ekspresi bahagia dari orang-orang terdekat Donghae seperti senyum tulus Nyonya Lee, suara bahagia Dirut Lee saat di telepon mendengar bahwa anak tunggalnya akan melangsungkan pertunangan membuat bagian dalam hati Yoona terenyuh.

Bagaimana kalau orang-orang itu tahu bahwa hubungan mereka hanyalah pura-pura?

Dia tak sampai memikirkannya hingga sejauh itu. Karena awal dari semua ini adalah Yoona mendapatkan untung, dan Lee Donghae mengejar posisi Direktur tertinggi.

Berbelok ke sebuah tikungan yang ramai dengan kedai malam, mobil Masserati mewah milik Donghae berhenti di sebuah apartment berlantai 20 dimana Yoona tinggal. Gadis itu membua seatbeltnya seraya tersenyum tipis, “Terima kasih sudah mengantarkanku sajangnim…”

Donghae mengangguk pelan, “Panggil saja aku Donghae oppa seperti saat kau memanggilku dihadapan Eomma. Itu akan membantumu agar tidak salah bicara nantinya.”

“Y-ya Donghae oppa.” Hati Yoona berdesir saat mengucapkannya dengan bibirnya sendiri. Entah apa alasannya, tapi harus gadis itu camkan baik-baik, hubungan ini hanyalah masalah bisnis.

 

.

.

.

-The Fallen Angel-

.

.

.

“Yoona-yah… dia menitipkan ini lagi.”

“Lagi?”

Gadis berambut panjang itu menoleh ke arah Sooyoung yang tengah membawa paper bag bewarna putih besar. Dia menatapnya jengah sekaligus bersalah. Mungkin… ini adalah akibat dari ‘memberi harapan’ seorang lelaki terlalu besar.

“Ah Sooyoung-ah, wae..? kenapa kau menerimanya?”

“Bagaimana aku bisa menolak kalau dia mengancam tidak akan pergi dari depan rumahku sebelum aku berjanji akan menyerahkannya padamu?”

“Dia mengancammu begitu?”

“Ya.” Sooyoung mengangguk mantap, dia menyodorkan lagi paper bag itu pada sahabatnya.

“Jika begini terus, aku tidak akan menolak bila suatu saat nanti dia menyatakan perasaannya.” Yoona menerima ‘hadiahnya’ lagi dengan pasrah.

Kali ini adalah sepatu merk ‘H’ terkenal yang berharga jutaan Won.

“Ji Chang Wook memang sesuatu yang lain. Model sekaligus founder dari prodak Tony Tolly itu memang sangat gigih untuk mengejarmu. Kenapa tidak kau terima saja perasaannya?”

“Yak!” Yoona menyenggol bahu Sooyoung agak keras, merasa tak setuju akan ide itu. “Apa kau tidak dengar gosipnya? Dia telah mengencani 20 gadis selama setahun belakangan. Semuanya berasal dari kalangan selebriti, model, dan pengusaha muda yang kaya dan cantik. Dia adalah playboy kelas atas asal kau tahu.”

“Ne.” angguk Sooyoung pelan.

“Dan kau mau aku untuk berkencan dengannya? Yang benar saja, semua fansnya akan langsung membunuhku. Eerrr… aku tak mau itu terjadi.”

“Lalu— akan kau apakan sepatu itu?”

Mola. Haruskah kujual lagi?” ucapnya dengan wajah berbinar.

 

#Tuk!

Sooyoung memkul Yoona dengan pena yang ia pegang. “Bukankah kau sudah menerima banyak uang dari Presdir Lee? Kenapa yang ada di otakmu hanyalah uang hah?”

“Yah… entahlah, hanya itu yang bisa kupikirkan. Eung— kau bisa mengambilnya kalau mau.” Menyerahkan paper bag itu kembali kepada Sooyoung.

“Eh? Benarkah?”

“Ne.”

“Wah, gomawo Yoona-yah… kalau begini koleksi sepatu ‘H’ ku akan bertambah dari 26 menjadi 27 pasang.” Ujar gadis berambut sebahu itu dengan mata berbinar. “Dan, hei— kau tidak lupa ‘kan hari ini hari apa?”

“Hari… hari apa?” Tanya Yoona dengan wajah polosnya.

“Yak kau benar-benar lupa kalau hari ini adalah ulang tahun sahabatmu?”

“U-ulang tahun… Fei???”

..

..

..

..

Ini benar-benar kacau. Tempat karaoke inilah yang dapat mereka pesan karena reservasinya super mendadak.

“Kau tidak lupa sojunya?”

“Sebentar lagi pelayannya akan mengantarkan kemari.” Ujar Yoona dari sisi kanan ruangan, sibuk mendekor beberapa balon dan bunga mawar putih kesukaan Fei.

“Bagaimana dengan kue? Yak— Yoona-yah, kau lupa membawa lilin angkanya?”

“Apa yang kau bicarakan? Aku menaruhnya di goody bag warna merah.”

 

#Ceklek!

 

“Ak— siapa itu?”

“O-oh, Woohyun-ah kau mengagetkanku.” Yoona bernapas hebat dengan memegangi dadanya. Merasa bahwa usahanya akan gagal jika yang membuka pintu tadi adalah Fei dan kekasihnya, Jinwoo. “Sooyoung-ah, apa kau pernah memberitahu pacarmu untuk mengetuk dulu sebelum masuk ke dalam ruangan?” ujar Yoona dengan berapi-api.

Woohyun tertawa terpingkal, pasalnya bukan hanya kali ini ia menggoda Yoona dengan sengaja. “Hahaha… Im Young-ah, kau terlihat menggemaskan jika sedang marah. Yak— apa yang bisa ku bantu?”

Oppa, nyalakan lilinnya dan taruh di atas kue itu.” Sooyoung menyerahkan lilin berbentuk angka 22, sesuai dengan usia Fei saat ini.

Yoona menatap sekitar, lampu berkelip warna-warni sudah menyala, musikpun sudah siap, dekorasi balon dan bunga, empat botol soju sudah mendarat, juga kue. Baiklah, ini sudah lebih dari cukup.

 

“Apakah dagingnya akan dibawakan saat Fei sudah datang?” Tanya Woohyun.

“Ya, nanti kita tinggal panggil pelayan yang berjaga di luar ruangan untuk membawakan dagingnya.”

 

#Tok.. Tok.. Tok…

 

“O-oh itu…”

 

#Ceklek!

 

“Surprize…!!”

Ucap mereka berempat serentak saat Fei dan Jinwoo memasuki ruangan.

“Omo!”

 

Yah, seperti yang diharapkan. Fei benar-benar terlihat terkejut dan senang akan semua yang mereka persiapkan. Jadi, tak sia-sia Yoona dan Sooyoung harus berlari dari toko dekorasi, toko kue, lalu dengan cepat melesat menuju tempat karaoke untuk memesan ruangan.

“Selamat ulang tahun chagiyaa…”

“Kami mempersiapkan ini dengan hati yang tulus, benar ‘kan Yoong?”

“Hm.” Angguk Yoona mantap.

Dan setelah itu… Party time!

 

Fei dengan semangat menyanyikan lagu hits Miss-A berjudul ‘Hush’ dengan ditemani Sooyoung. Jinwoo dan Woohyun mengobrol bersama sesame lelaki dengan topik yang sama sekali tak Yoona mengerti. Sedangkan gadis itu menegak soju dan menghabiskan paling banyak daging di ujung ruangan.

Tak ia sangkal kalau tubuh kurusnya ini juga memerlukan asupan.

“Yoona-yah, ayo bernyanyi bersama.” Ajak Fei.

“Ak-aku belum selesai makan, yak—

 

Tak ingin tahu, kedua sahabatnya segera menarik Yoona berdiri dan kembali bernyanyi. Kali ini adalah lagu berjudul I Got A Boy yang secara tak langsung mewakili perasaan Yoona.

 

I got a boy meotjin!

I got a boy chakhan!

I got a boy handsome boy nae mam da kajyeogan
I got a boy meotjin!

got a boy chakhan!

I got a boy awesome boy wahnjeon banhaenna bwah

 

“Yah, itu lagu musim panas yang sangat enak untuk didengar.” Ujar Jinwoo sambil bertepuk tangan kepada ketiga gadis yang berhasil membawakan lagu itu.

“Gomawo, goma—

 

#Drrrttt… Drrttt…

 

“Siapa yang menelpon?”

 

Donghae Lee

 

Yoona langsung berjalan ke luar ruangan agar dapat mendengar lebih baik.

“Omo! Sajang-nim, m-maksudku oppa, yeobboseyo?”

“…”

“Ne, ada perlu apa?”

“…”

“Uh, sekarang?”

“…”

“Oh baiklah, aku ada di tempat Karaoke di daerah Apugujong dekat kampusku. Ming-Bling Karaoke.”

“…”

“Ne oppa baiklah.”

 

Satu lagi panggilan darurat untuk ‘bekerja’.

 

#Ceklek

Yoona kembali memasuki ruangan untuk mengambil barang-barangnya.

Chogi… a-aku mau pamit pulang dulu.”

“Wae?” Tanya Fei.

Ugh! Salah satu kelemahan Yoona adalah mata bulat Fei yang berbinar memohon padanya. “Aku ada urusan mendadak. Jadi aku harus pulang lebih dulu.” Ujarnya sambil menggaruk belakang kepala yang sebenarnya tidak gatal.

Satu-satunya orang yang tahu di sini adalah Sooyoung, gadis yang lebih tinggi dari Yoona itu mengangguk singkat lalu beralih ke arah Fei. “Yoona sedang mempersiapkan kepindahan orang tuanya ke rumah baru. Jaaa~ kita lanjutkan saja.”

 

Yoona benar-benar harus berterima kasih kepada Sooyoung karena telah menyelamatkannya kali ini. Dan tanpa basa-basi lagi Yoona langsung melesat keluar, karena Lee Donghae akan tiba tak kurang dari lima menit lagi.

.

.

.

-The Fallen Angel-

.

.

.

Setelah berganti baju, mengenakan gaun pendek merah maroon di atas lutut dan sepatu hills tinggi 8cm yang disiapkan Lee Donghae untuknya, Yoona segera keluar dari dalam mobil untuk menggandeng lengan Donghae.

Oppa, apakah rambutku terlihat berantakan? Aku hanya menyisirnya dengan terburu-buru.”

“Tidak, penampilanmu cantik seperti biasa.”

Oh, apakah setiap hari dia harus selalu melakukan ini? Membuang uang Donghae untuk membeli gaun dan sepatu mahal, datang ke acara converence maupun acara perusahaan yang sama sekali tak Yoona mengerti.

Dan… apakah Lee Donghae barusaja memujinya cantik?

Lelaki super perfeksionis yang mencintai dirinya sendiri itu sangat jarang untuk menyerukan sesuatu yang manis seperti hal ini tadi.

Tapi— untuk penampilan mengagumkan Yoona, lelaki bermarga Lee itu bisa memberi pengecualian.

 

Oppa, apakah ini rumahmu?”

“Bukan. Ini rumah orang tuaku.”

“Dan acara apa ini?”

“Penyambutan Kepala Dirut yang barusaja tiba dari Jepang, berhasil membuka cabang perusahaan di sana, Appaku.” Ucap Donghae tak bisa menyembunyikan senyum bangganya.

 

Bagi Donghae, ayahnya adalah sosok pemimpin, kepala keluarga, dan role model yang sangat berharga dalam hidupnya. Dan dia akan melakukan apapun untuk mebuat perusahaan keluarga yang dibanyun ayahnya dari Nol tetap dalam genggaman kelarga Lee.

Saat mereka berdua memasuki dalam rumah, sontak semua pasang mata tertuju pada keduanya.

“Jangan grogi, genggam saja tanganku.” Bisik Donghae pada Yoona sepelan mungkin.

Mereka mulai melangkah masuk, tak jarang banyak dari kolega perusahaan dan orang-orang penting lainnya saling berbisik.

“Donghae-ah, kemarilah Presdir Choi dari Hotel Rinchkalsen ingin bertemu denganmu.” Ujar Nyonya Lee sembari menarik lengan Donghae.

“Presdir Choi Hyunwoo, perkenalkan ini adalah putera kami dan calon tunangannya.” Yoona tersenyum singkat saat Nyonya Lee berbaik hati mengenalkannya.

Namun hal lain terjadi dengan Donghae. Saat mendengar marga Choi, pemilik Hotel Rinchkalsen, dia mendadak terpaku.

Ini sudah— kurang lebih tujuh tahun baginya untuk menghindari orang itu. Orang yang ia tahu adalah anak dari Presdir Choi Hyunwoo, pewaris keluarga besar Choi. Choi Siwon.

“Aku sudah banyak mendengar tentangmu. Sepertinya kau seumuran dengan anakku. Siwon-ah…” panggil Presdir Choi, namun orang yang dimaksud tak segera muncul dihadapannya. “Siwon-ah, dimana anak itu?”

“Kurasa dia sedang mengambilkan minum untukku.” Choi Rora menimpali, tak ingin amarah suaminya meledak di saat-saat penting bagi kelangsungan perusahaan mereka, dan di depan semua orang.

“Anak itu memang seenaknya sendiri. Pastikan dia tidak pulang sebelum acaranya selesai.” Gerutu tuan Choi lagi, bahkan terlalu keras jika didengar dari tempat Yoona berdiri saat ini.

 

“O-oh, Donghae-ya coba sambut tamu yang di sebelah sana.” Nyonya Lee memberi isyarat dengan jarinya, lalu menarik Yoona ke gerombolan para wanita yang duduk di sebelah meja minuman.

Eomonim, apakah sebentar lagi Dirut akan tiba?”

“Ne, oleh karena itu kau harus selalu di dekatku agar aku bisa langsung memperkenalkannya padamu.” Nyonya Lee merapikan anak rambut Yoona yang sedikit beterbangan. “Aigoo, kau terlihat sangat cantik malam ini.” Tersenyum dengan mata kucingnya, Yoona jadi ingat bagaimana tulusnya wanita paruh baya ini saat pertama kali bertemu dengannya.

“Terima kasih Eomonim…”

“Oh, Nyonya Jung. Apa kabar..?” mulai lagi, Yoona begitu senang saat mendengar sapaan khas ala Sosialita saat Nyonya Lee mengucapkannya.

“Baik, Nyonya. Oh, apakah ini calon menantumu itu?”

“Ne, perkenalkan dia Im Yoona.”

“Annyeonghasseyo, saya Im Yoona.”

“Oh, saya Jung Jaejoong.”

Mereka berdua bersalaman kilat.

 

“Yoona-ya, ini adalah istri dari Jung Yunho CEO stasiun televise JTBN yang teerkenal itu.” Ucap Nyonya Lee memberi informasi.

“J-JTBN??” Ucapnya terbata-bata. Stasiun TV kabel yang ratingnya tak kalah dari TV nasional itu adalah milik suami dari wanita tinggi ini? Wah… Yoona memperhatikan Nyonya Jung dari atas sampai bawah, dia terlihat sangat cantik, putih, dan tinggi. Pantas saja, Jung Yunho memiliki selera yang baik.

 

Sementara Yoona bersama Nyonya Lee berbincang dengan para Sosialita wanita, Donghae sibuk dengan para pemimpin perusahaan yang datang ke acaranya. Dia harus sestabil dan sewibawa mungkin untuk membawa peran Pemimpin yang akan dia dapat nanti.

“Saya dengar omzet perusahaan Anda terus naik 2 persen setiap bulannya, Presdir Lee. Oleh karena itu, saya dan dua rekan saya juga ingin menanamkan saham di perusahaan Anda.” Ucap CEO Perusahaan Migas yang menaungi seluruh Seoul dan hampir seluruh kota di Korea Selatan itu.

“Perusahaan kami hanya akan melakukan yang terbaik, terima kasih atas kepercayaannya, Presdir Min.” ucap Donghae dengan seutas senyum di bibirnya.

“Permisi Presdir Lee, tuan besar akan segera tiba.” Ucap asisten Kang yang berdiri di sebelahnya.

“Baiklah, saya rasa Direktur akan segera tiba. Saya mohon kesediaan para kolega untuk menyambut Beliau.”

“Oh, tentu saja.” Jawab Presdir Min.

“Baiklah.” Ucap para rekan lain.

 

Dan tak lama kemudian pintu ganda di rumah mewah itu terbuka, menampilkan seorang lelaki gagah yang memiliki wajah tak banyak berbeda dengan Lee Donghae pun keluar dari mobil Limo putih dikawal beberapa penjaga.

“Sangat elegan dan berkelas.” Suasana penyambutan pun berlangsung sangat meriah, menjadikan Yoona berpikir bahwa dirinya hanyalah remahan biskuit diatas semua yang berkilau saat ini.

“Ayo Yoona-yah, setelah penyambutan ini Eomma akan memperkenalkanmu pada Abonim.”

Abonim?

Dirut Lee adalah calon mertuanya?

Yah— kan memang ini tujuan dari kontraknya dengan Lee Donghae.

 

Setelah semua sambutan dan bincang-bincang, Dirut Lee pun turun dari podium untuk menemui Lee Donghae dan beberapa rekan yang berada di meja yang sama. Kelelahan dari perjalanan panjang Osaka menuju Seoul pun tak terelakkan Nampak di wajah pria paruh baya itu. Namun demi menjaga profesionalitas, Dirut Lee Jonghyun masih menjamu para tamu meski hanya sebatas bersalaman dan melempar senyum.

Yeobbo… kemarilah.” Panggil Nyonya Lee.

Dan seperti dugaannya, pria berkedudukan paling tinggi dalam keluarga Lee itupun sempat terheran akan kehadiran Yoona di sisi istrinya. “Ada apa?”

“Apakah kau langsung ke atas untuk beristirahat tanpa menyapa calon menantumu? Aigoo…” Nyonya Lee menyenggol lengan suaminya, lalu mengedipkan sebelah mata.

“Menantuku?” ulangnya.

 

Sontak Yoona pun membungkuk singkat lalu tersenyum tipis. “Annyeonghasseyo, Im Yoona imdina.”

“Bukankah putera kita memiliki selera yang bagus?” goda Nyonya Lee lagi.

“Oh, senang bertemu denganmu.” Dirut Lee menawarkan tangannya lalu disambut dengan hangat oleh Yoona untuk bersalaman. “Kau sangat cantik, nak… kuharap bisa berbincang denganmu lebih banyak nanti. Tapi— sayang, dimana Donghae?”

“Eh? Dimana? Bukankah dia tadi bersamamu yeobbo?”

“Hm… tak bisa kupercaya aku kehilangan anakku setelah dua menit bersama dengannya.” Ujar Dirut Lee pasrah, membuat Yoona terkekeh pelan.

“Akan ku antar ke atas, Yoona-ya, tolong carikan Donghae sebelum para tamu undangan ini pulang.” Sepasang suami istri itupun berlalu menaiki tangga untuk beristirahat. Meninggalkan Yoona yang masih bertanya-tanya dimana ia bisa menemukan Lee Donghae di rumah besar bak istana ini.

..

..

..

..

Di sisi lain, Donghae menemukan seseorang.

Di halaman belakang rumahnya, berdiri seorang lelaki yang telah berusaha ia jauhi selama kurang lebih 7 tahun terakhir. Dengan tiba-tiba muncul di hadapannya, berada di dalam kawasan rumahnya. Udara malam yang dingin menembus kain suit hitam yang ia kenakan, desir angin membelai lembut rambutnya.

Juga suara gemercik air yang jatuh dari sisi kolam renang out door.

“Seingatku menghadiri undangan bisnis semacam ini bukanlah gayamu.” Desis Donghae memelankan suaranya. “Ataukah… club malam dan pesta bebas sudah membuatmu trauma?”

“Ini bukan urusanmu, pergilah!” jawab lelaki itu tak kalah sinis.

“Oh… aku baru ingat kalau seorang Presdir barusaja kebingungan mencari kemana peliharaannya pergi, bukankah kau anjing yang dicari itu?”

“Demi Tuhan, Lee Donghae aku sedang tidak bersemangat untuk berdebat denganmu.”

Wae?” desak Donghae lagi. “Kau merasa bersalah? Kalau begitu, pergilah.”

Lelaki yang memiliki tinggi badan lebih itu tersenyum remeh, “Kau mengusirku?”

“Ya, berada di dekatmu dan menghirup udara yang sama dengan orang sepertimu membuatku muak.”

“Kau benar-benar—

BUAKK!

 

Sepertinya Lee Donghae benar-benar berhasil membuat lelaki di hadapannya itu mendidih dalam waktu tak kurang dari lima menit.

Hahaha…” Donghae tertawa dengan darah yang mulai keluar dari sudut bibirnya. “Bukankah harusnya pukulan ini adalah jatahmu?”

“Diamlah, atau kubunuh kau.”

“O-oh… aku hampir lupa kalau bukan hanya kali ini kau membunuh seseorang… Choi Siwon?”

“…”

Hening.

Terlalu hening bahkan untuk angin malam dan riukan air mancur dari sebelah sisi kolam renang.

“KAU BENAR-BENAR…!!!”

BUAKK

BUAAKK

PRAK

 

Siwon tak dapat menahan lagi. Setiap ciutan yang keluar dari mulut Lee Donghae benar-benar membuat dirinya marah.

Bahkan kejadian yang selama bertahun-tahun ia coba lupakan, kini kembali terulang di kepalanya, bagaikan potongan film lama. Menggerogoti hati dan pikirannya, membuat dia gila.

Kedua pemuda itu saling melempar pukulan, bogem mentah didapat Donghae di bagian kanan sudut bibirnya dan luka memar di bagian sisi mata Choi Siwon yang berdarah tak menyurutkan keinginan keduanya untuk saling melukai.

BUAKK

BUAKK


BYUUURRRR…

 

Choi Siwon berkedip dua kali untuk menyadari apa yang barusaja dia perbuat.

“Oh tidak…”

Bunyi kecipak air dan teriakan putus asa Donghae. Apakah dia barusaja mendorong Lee Donghae ke dalam kolam? Karena yang ia tahu… Donghae tidak bisa berenang.

“Toloong… ahhkk—

Siwon tak dapat menggerakan tubuhnya, kakinya terasa bagaikan lumpuh untuk melangkah. Bagaikan déjà vu, ini bukanlah yang pertama kali baginya melihat orang tenggelam secara langsung.

“Donghae oppa…!!” teriak Yoona panik.

Tak ia sangka, dirinya akan menemukan Donghae di saat dan dalam keadaan seperti ini. Dan persetan dengan lelaki yang terduduk di tepi kolam itu. Dia hanya melihat Donghae tenggelam tanpa melakukan apapun.

 

BYURR

 

Yoona segera masuk ke dalam kolam. Dia tak mempedulikan gaun minimnya jika akan basah terkena air nanti. Karena Lee Donghae sedang sekarat dan butuh diselamatkan.

#Blupp… Blupp

 

Srett

Tekanan air membuat tubuh Donghae lebih ringan dari kenyataannya.

“Satu, dua tiga…”

Tekan.

“Satu, dua, tiga…”

 

Yoona sedang memberikan CPR kepada Donghae untuk mengeluarkan air yang sempat tertelan dari dalam paru-parunya. Hingga—

“Uhuk— uhuk!!”

Oppa… hah… selamat, gwencana, kau selamat…”

 

.

.

.

-The Fallen Angel-

.

.

.

#Pluk!

Yoona melempar sebuah handuk yang baru untuk Donghae.

Dia benar-benar tak habis pikir dengan semua kekacauan yang barusaja ia alami. Acara berlangsung lebih cepat karena Donghae benar-benar pingsan dan kedua orang tuanya panik.

Tuan Choi dan isterinya yang memaki-maki seorang lelaki tadi di tepi kolam renang, yang Yoona yakin dia adalah puteranya.

Dan fakta bahwa— Lee Donghae tidak bisa berenang?

Itu menggelikan.

“Dingin?” Tanya Yoona, yang diajak bicara hanya mengangguk singkat. Dengan begitu dia langsung mendekatkan bidet, alat penghangat ruangan ituke arah Donghae yang tengah duduk dengan memeluk lutut, kedinginan di atas sofa.

Saat ini mereka tengah berada di kamar Donghae. Nyonya Lee menyarankan Yoona untuk menemani Donghae hingga lelaki itu merasa baikkan, dan disinilah mereka.

Menonton film dengan pangsit dan teh hangat. Sama-sama berselimut dan berkerudung handuk. Dan untuk Yoona— karena dia tak membawa satupun baju ganti, dia harus memakai kemeja longgar Donghae yang hanya menutupi sampai bagian pahanya.

“Wae? Kenapa kau menatapku begitu?”

“Aku hanya lelah…” ucap Donghae pasrah. Kejadian dua jam yang lalu begitu membawa emosi dan menguras tenaga. Bahkan lelaki itu menyenderkan kepalanya di bahu kecil Yoona.

“Oppa, apa yang kau lakukan? Beraattt…

“Sebentar…”

“Mwo?”

“Hanya sebentar saja, kumohon…”

Tatapan mata keduanya kembali bertemu. Kali ini ada yang beda dengan hazel mata Donghae. Tak ada api membara di setiap inch bola matanya, terlihat lebih sayu dari biasanya. Membuat Yoona tak tega dan membiarkan lelaki itu tidur di sisi kanan bahunya.

.

.

-TBC-

Author note:

Sorry lamaaaa… Sine abis ke luar kota sayang-sayangkuu… jadi kemarin sempet bingung mau posting apa, dari pada timeline kosong gitu kaannn, akhirnya ngepost FF baru yang sebenernya udah aku tulis lebih dulu.

Maapkan kalo ada yg nyariin.

Love you~

Manis-manisnya YoonHae ada di chepter besok yaa.. tungguin teruss..

See ya!

Iklan

92 thoughts on “The Fallen Angel [Chapter 3]

  1. Sebenarnya ada cerita masalalu apa antara siwon dan donghae… Dan siapa orang yg pernah siwon bunuh 😱
    Ditunggu sweet momentnya yoonhae ..
    Next thor makin seru ceritanya, makin syukaaaa…. 😃

    Suka

  2. Konfliknya makin seru, banyak teka-teki,
    Penasaran masa lalu antara Donghae dgn Siwon???
    Ji Chang Wook jatuh hati sma Yoona???
    Yoona tinggal pilih yg mana hehehee

    Next thor,, ,

    Suka

  3. Ternyata Yoona juga didekati Ji Chang Wook,yang selalu memberikan hadiah bermerk padanya (Yoona).
    Donghae memuji Yoona cantik…😍😍😍,apa pujian itu benar benar berasal dari hati Donghae??
    Kenapa Donghae menjauhi Siwon hingga 7 tahun lamanya??apa sebelumnya mereka pernah berteman??
    Kenyataan yang Yoona lihat bahwa Donghae tidak bisa berenang dan Yoona sendiri yang menolong Donghae saat pria itu tenggelam hingga cpr yang Yoona lakukan untuk Donghae…😀😁😀😁
    Ditunggu kelanjutannya….😊😉

    Suka

  4. Wow…ada rahasia besar di antara donghae sama siwon
    Terus yoona juga kenal sama siwon
    Jangan-jangan bakal ada cknta segitiga 😂😂
    Tak tunggu aja lah kelanjutannya gimana 😁

    Suka

  5. Waaww.. Cepet update thoor
    Hehehe..
    Seru juga yaa liat Donghae kepribadiannya kebalik sama Yoona
    Kekekeke..
    D tunggu next partnya yaa
    Fighting

    Suka

  6. Ping-balik: The Fallen Angel [Chapter 4] | KEIKO SINE

  7. Ping-balik: The Fallen Angel [Chapter 5] | KEIKO SINE

  8. Ping-balik: The Fallen Angel [Chapter 6] | KEIKO SINE

  9. Ping-balik: The Fallen Angel [Chapter 7] | KEIKO SINE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s