THE QUEEN [Oneshot]

queen-keiko

 

The Queen

Romance – Slice of Life – Yadong  || || NC 21

ONESHOT

 

Im Yoona, Lee Donghae, Choi Siwon

STORY AND ART BELONG TO KEIKO SINE.

DO NOT COPY OR PLAGIARIZE!

 

 

***

SIDERS GO AWAY!!! >.<

-oOo-

[30 Februari]

Apa yang lebih gila dari menyetir di tengah hujan badai hanya karena sebuah perasaan bernama rindu, yang membuncah di hati?

Saat kau sadar betapa kau sangat menginginkannya. Tak peduli jarak, rintangan, bahkan status sekalipun, yang kau tahu hanya bagaimana caranya secepat mungkin menemui sosok itu.

Mencintai istri orang lain.

Ya—

lebih dari gila, tepatnya.

Aiden Lee, Lee Donghae, atau siapa pun nama panggilannya. Dia tidak pernah menyangka jika pertemuan tak sengaja 3 bulan yang lalu ketika dirinya memenuhi undangan pesta pernikahan relasi bisnisnya, membawa dampak buruk bagi hatinya.

Dia tidak bersiap diri jika akan dipertemukan dengan sosok indah nan cantik yang menjadi pendamping relasi kerjanya itu. Dan dia tidak begitu ingat nama orang itu, maupun wajahnya ketika menerima undangan dari sekretarisnya.

Donghae tahu jika dirinya tidak waras, setelah 1 minggu pesta pernikahan itu berlalu.

Salahkan Tuhan, Dewa, atau siapa pun yang membuat hatinya tak tenang. Karena sejak pesta itu, entah kenapa takdir memperlakukannya dengan sangat kejam.

Sosok indah itu sering kali ditemuinya diberbagai tempat, waktu dan kesempatan. Seperti dia bisa berada di mana saja, kapan pun. Bahkan ketika sosok itu menyambangi dirinya di mimpi untuk yang pertama kali.

Donghae benar-benar tersiksa.

Hingga saat itu datang.

Laki-laki bernama Siwon Choiㅡnama relasi bisnisnya yang akhirnya dia ingatdatang bersama sosok indah yang sudah merebut hatinya bahkan sejak pandangan pertama.

Pasangan itu datang untuk sekedar sopan santun dalam berbinis. Kau tahu, semacam membangun hubungan yang lebih baik saat 2 perusahaan menjalin kerja sama.

Dan Donghae tidak pernah bisa memalingkan pandanganya sedikit pun.

“Anda beruntung memiliki mate seperti Im Yoona, Siwon-ssi

Apa kau percaya jika waktu itu Donghae mengatakannya dengan senyum dipaksakan yang sangat kaku?

Mencoba untuk ramah, tentu saja.

Sialnya laki-laki bernama Choi Siwon itu benar-benar pria paling beruntung di Korea yang bisa memiliki Im Yoona.

Dan… Kenapa Donghae bisa jatuh cinta? Apa yang spesial?

Jika kau menyadari keagungan bintang, kau akan mengerti seperti apa dirinya.

Surainya terlihat lembut berwarna hitam legam, sepasang mata sayu yang bisa menatapmu sangat tajam, hidung tinggi yang serasi dengan bentuk rahangnya yang feminin, serta bibir terbelah berbentuk layaknya milik seekor kucing.

Suaranya halus, dia memakai collar transparan yang sama sekali tidak membantu menyembunyikan leher indahnya dari terkaman mata seorang alpha seperti Lee Donghae.

Pernah sekali, Donghae tanpa sengaja menyentuh tangan Yoona. Saat dirinya mengunjungi Siwon yang sakit ㅡdia kesana tidak benar-benar menjenguk tentu saja dan Yoona lah yang menemaninya mengobrol.

Yoona, omega yang cerdas, memiliki banyak kelebihan dan yang paling menonjol, dia sangat indah.

Donghae merekamnya dengan sangat jelas diingatannya, tingkah lakunya, suaranya, dan gerak tubuhnya.

Rambut dan iris matanya menggambarkan langit malam yang tak terhingga. Lebih berbahaya dari sebuah Black Hole. Penuh misteri.

Tapi rupa dan bibirnya sangatlah indah. Seperti Dewi yang menjelma menjadi manusia untuk turun ke Bumi.

Seharusnya sosok seindah itu menjadi miliknya. Seorang Lee Donghae yang banyak dipuja karena ketampanan dan keberhasilannya dalam berbinis.

“Donghae?”

Saat mengangkat wajah, sosok Yoona sudah berdiri di hadapannya. Mengenakkan baju tidur berwarna biru muda, tanpa collar yang selalu menghiasi lehernya, dan kerutan bingung di dahi.

Wanita itu kebingungan melihat kedatangan teman relasi bisnis suaminya di kediaman mereka di tengah kondisi hujan lebat.

“Tidak mempersilahkanku masuk?” dia kedinginan, tapi begitu hebat mengendalikan sikap.

“A-ah iya, maafkan aku, masuklah. Tapi kenapa kau bisa ada di sini?”

Yoona menggeser tubuhnya agar pria Lee itu memasuki rumahnya, masih bingung sembari menutup pintu. Dan Donghae menatapnya dengan begitu dalam.

“Menemuimu tentu saja, tidak boleh?”

“B-bukan begitu. Di luar hujan lebat”

“Karena itu aku singgah. Sekaligus untuk melihatmu”

Yoona berjalan melewatinya, Donghae tersenyum kecil. Mengikuti langkah si pemilik rumah, memasuki ruang tamu yang hangat karena perapian modern yang dibiarkan menyala. Dan ia duduk di sofa berwarna biru ㅡwarna favorit Yoona sementara si pemilik rumah berdiri tak jauh darinya.

“Aku akan ambilkan pakaian untuk mengganti bajumu yabg basah, kau tunggu di sini” kata Yoona, hendak beranjak jika saja Donghae tidak memanggilnya kembali.

“Kenapa aku tidak ikut saja denganmu? Aku bisa langsung mengganti pakaianku” ujarnya.

Bertatapan, hingga Yoona mengangguk menyetujui ide tersebut.

Rumah itu berlantai 2, dengan gaya klasik modern, bernunsa soft dengan warna-warna natural. Donghae mulai terbiasa dengan suasana rumah ini, karena dia cukup sering datang.

“Sudah berapa hari suamimu pergi?” Donghae bertanya, mengamati punggung Yoona yang hanya berbalut piyama satin berkilau.

Wanita manis itu menoleh, membiarkan Donghae kini berjalan di sampingnya.

“Tiga hari, ku rasa kau tahu soal itu.”

“Rumah ini sepi sekali.”

“Kau tidak tahu jam berapa ini? Lain kali jangan bertamu saat larut malam.”

“Kau tahu aku sengaja.”

Donghae cukup sering berkunjung di kediaman Siwon dan Yoonaㅡuntuk seseorang yang hanya memiliki hubungan binis.

Dan Donghae juga cukup sering datang untuk menemui Yoona dikala suami si manis itu tidak ada di rumah. Cukup sering hingga mereka menjadi dekat, Yoona tidak keberatan. Entahlah, pribadi Donghae memang berbeda dengan Siwon.

Dan, Yoona juga mulai terbiasa memanggil Donghae dengan namanya, tanpa sufix tambahan –ssi-.

Yoona mendengarnya, tapi memilih untuk tidak menanggapi. Dia menyuruh Donghae untuk menunggu di depan pintu kamar utama yang dibiarkan terbuka, selagi dirinya mengambil 2 potong pakaian baru, dari lemari ㅡmilik suaminya untuk Donghae.

 

Menarik kemeja hitam dan sepotong celana bahan berwarna senada dari tumpukan pakaian, Yoona menutup lemari pakaian itu, saat dia membalikkan badan, ia dikejutkan dengan kehadiran Lee Donghae di kamar itu. Tepat di belakangnya.

“Aku sudah memintamu untuk menunggu di luar” mendekap pakaian yang masih wangi di dada, Yoona tidak bisa menyebunyikan rasa gugupnya.

Donghae mengulurkan tangannya, memberi isyarat melalui gerakan dagunya yang menunjuk pakaian yang didekap Yoona, si manis itu mengerti, dan memberikan pakaian suaminya kepada Donghae.

Tapi bukannya mengambil pakaian itu, Donghae menarik Yoona ke dalam pelukannya, dan mengabaikan pakaian yang terjatuh ke lantai.

Yoona mengambil jarak, meletakkan kedua tangannya di dada yang bidang, dan menghindari terkaman iris hazel yang mengintainya.

“Donghae-ah, lepas.”

Semakin mengeratkan pelukannya di pinggang sempit Yoona, Donghae mencium aroma laki-laki cantik itu di perpotongan lehernya.

Memabukkan.

Aroma Yoona sanggup menghilangkan akal sehatnya.

“Haeㅡ”

“Kau tahu jika aku akan datang, karena itu kau tidak memakai collar, sayang?”

Suara Donghae yang rendah dan dalam. Yoona memejamkan mata, meremas pakaian wanita itu di bagian dada, menggeliat saat nafas Donghae yang panas menyapu di sepanjang perpotongan lehernya.

“T-tidak, bukan. A-aku tidak memakainya karena…” Sialnya. Yoona tidak menemukan kata-kata yang tepat.

“Merindukan sentuhanku?” Donghae menggoda wanita cantik di pelukannya. Meniupkan nafas di telinganya yang sensitif, dan Yoona mengerang kecil.

Sangat mudah memancing gairah Yoona.

Donghae sudah menguasi kelemahan si manis itu. Di bagian mana yang bisa membuat Yoona terus meminta darinya.

Bukan yang pertama kali.

“Suamimu sedang tidak bersama mu, Yoong. Untuk berapa lama? Kau merindukan sentuhannya atau sentuhanku?”

Tangan kanan pria itu bergerilya, menjalar bagai laba-laba yang sedang menenun benang. Bergerak lembut mengusap kulit, bermain-main di sana, menyentuh titik sensitifnya yang membuat Yoona melenguh di luar kendali.

Menjilat tiap inchi kulit madu yang beraroma manis, Donghae menggesek bagian bawah tubuhnya di tubuh Yoona yang menegang karena ulahnya.

“Terakhir kali kita melakukannya saat kau dan suamimu berkunjung ke kantorku, ingat? Suami mu terpaksa harus kembali ke kantornya karena kedatangan tamu penting, sedangkan kau tetap tinggal karena makan siang kita belum selesai.”

Mendesis seperti ular. Penuh racun berbisa, Yoona tidak tahu apakah dirinya sanggup melawan racun itu, atau seperti biasa dia membiarkan racun itu merasuki tubuh dan darahnya.

Aahhh! Donghae-hhh… ” Yoona mengejang di dalam pelukan. Tangan besar yang hangat bersarang di bulatan pantatnya. Merasakan dorongan kejantanan milik pria Lee yang tak henti menusuk-nusuk miliknya sendiri yang mulai terbangun.

Aaahhh...”

Yoona merasakannya, sangat agresif dan berbahaya. Lee Donghae adalah alpha dengan pengaruh yang sama kuatnya seperti Siwon. Aromanya menghanyutkan, bercampur dengan wangi manis tubuhnya yang semakin menjadi karena Donghae tak henti memancing hasratnya.

“Kau masih mengingatnya?” berbisik saat bibir tebal itu mengecup sudut bibir persik yang terbuka.

Yoona hanya mampu mengangguk samar. Tubuhnya lemas, dia sudah tidak memiliki tenaga.

“Ingat saat aku menyetubuhimu di atas meja tepat setelah kita menyelesaikan makan siang?”

Satu anggukan didapatnya.

“Ingat saat kau sangat bergairah memintaku untuk tidak berhenti menyodok lubangmu yang kelaparan?”

Aahhh…b-berhentihhh…Donghae, aashh!”

Omega nakal. Kau tidak puas hanya dengan suamimu, hm?”

Berusaha mengggali akal sehatnya yang terkubur oleh gairah, Yoona meraih pipi tirus Dnghae, menatap mata hazel yang begitu membara. Ia berkata yang lebih mirip dengan untaian desahan menggoda.

“Dan kauhhh…mencintai kuhhh…Donghae ah-hhh…”

Tidak membantah. Bibir Donghae tersenyum miring, sebelum menyambut ciuman dari bibir persik yang manis, membiarkan sepasang lengan mengalung di lehernya. Sangat pas.

Bukan salahya. Karena Yoona juga menyambut tanpa keraguan. Omega cantik yang sudah bersuami itu tak pernah melarangnya. Mereka menikmatinya bersama. Yang Donghae ketahui, jika Yoona juga menyukai apa yang sedang dilakukannya.

Saling mengejar, menciptakan nyala api yang semakin membara. Bertukar nafas saat lidah saling mencecap, berlomba menggali lebih dalam dan merasakan manis yang memabukkan.

“Katakan… ” berucap saat ciuman terputus untuk beberapa detik, sebelum kembali bertarung sengit. “Dimana…aku harus melakukannya denganmu. Kau tidak mau aku melakukannya di sini, kan?”

Yoona mengangguk lagi, kepayahan memberi jawaban karena nafas yang tersengal setelah ciuman hebat. Memeluk kepala Donghae yang berada di lehernya, hasratnya sudah membumbung tinggi.

“Kamar tamu…setubuhi aku di sana, Hae-hhh…”

 

.

.

.

-The Queen-

.

.

.

 

Sudah pasti Siwon bukanlah cinta pertama Yoona. Pernikahan mereka terjadi karena kedua keluarga yang saling mengenal, dan kenapa tidak untuk saling menjalin hubungan? Daripada harus mencari yang tak pasti di luar sana.

Meski keluarga Lim bukanlah keluarga terpandang seperti Lee atau Choi. Mereka cukup berada, kedua orangtua Yoona yang berprofesi sebagai tenaga pengajar dan pemilik Lim Foundation, membuat keluarga Lim dikenal cerdas. Dan Yoona memang mewarisi kecerdasan Ayah dan Ibunya.

Sebelum terikat dengan Siwon, hampir di sekolah, dan di kampus, mereka mengetahui pesona seorang Yoona yang entah bagaimana caranya, selalu bisa memikat banyak orang.

Diantara kebingungan dan iri hati. Di sisi lain mengakui jika sosoknya memanglah indah.

Banyak alpha ㅡsebelum Siwon berebut klaim atas dirinya, berlomba memenangkan hati sang gadis Lim yang cukup sulit disentuh, sebenarnya. Pastinya mereka mengalami patah hati yang cukup hebat ketika kabar pernikahan Siwon dan Yoona terdengar.

Tidak ada kabar bahwasanya mereka menjalin hubungan. Sangat tiba-tiba. Wajar bagi seorang alpha berusia 28 tahun seperti Siwon untuk memulai kehidupan baru, entah bersama dengan orang yang dicintainya, atau tidak.

Menganggap wajar kabar yang mengejutkan itu. Meski bukan dari keluarga terpandang atau pun kaya raya, Lim layak mendapatkan Siwon. Alpha yang berkualitas haruslah berpasangan dengan omega yang berkualitas pula.

Siwon laki-laki baik, pengertian, humoris dan hangat.

Meski sayangnya, Siwon nyatanya tak bisa membuka hati seorang Yoona.

Bahkan setelah 4 bulan usia pernikahan mereka.

Yoona masih mencari. Memerankan perannya sebagai istri dengan sangat baik. Tidak, dia bukan sedang berpura-pura, hanya melakukan apa yang seharusnya dia lakukan meski hatinya tidak dimiliki siapa pun.

Apa yang bisa dilakukannya ketika seorang Lee Donghae, anak pertama dari keluarga terhormat Lee menunjukkan ketertarikan dan menawarkan hatinya untuk ditempati?

Demi Tuhan. Dia sudah memiliki suami.

Tapi kenapa kehangatan itu sangat menenangkan?

Siwon dan Donghae membawa kenyamanan yang berbeda. Keduanya dominan, alpha yang memiliki sejuta pesona, tapi kenapa seorang saja tidak bisa membendung kebingungan hatinya?

Tentu, tanpa tanda klaim yang belum menempati belakang lehernya. Yoona masih mencari apa yang diinginkan hatinya.

Siwon tampan, berwibawa dan hangat.

Sementara Donghae, dia juga tampan, selalu menunjukkan bahwa dirinya yang mendominasi, dan memiliki mata tajam yang mengikat.

 

“Apa kegiatanmu hari ini? Kau akan ke yayasan?” sarapan baru saja usai, Siwon menikmati kopi paginya sambil memperhatikan Yoona yang sibuk menyimpan sisa makanan di lemari pendingin.

Wanita cantik dengan tinggi semampai, rambutnya yang legam dibiarkan jatuh, poni yang menutupi sebagian dahinya membuat kesan manis yang tak bosan dipandang mata.

“Sepertinya tidak, Eomma memintaku untuk tidak terlalu sering datang. Katanya mereka sudah mendapatkan orang baru untuk mengurus yayasan.” meletakkan wadah terakhir, Yoona menutup pintu lemari es. Kemudian duduk di samping suaminya.

“Kenapa Eomma melarangmu datang?” Siwon mengusap pipi Yoona lembut.

“Eomma tidak mau jika aku sampai menelantarkan kewajiban ku. Dan yang paling penting…”

“Paling penting..?”

Mengarahkan pandangannya pada iris coklat sang suami, Yoona melanjutkan kalimatnya dengan rona merah muda menghiasi pipinya.

“Eomma dan Appa ingin segera menimang cucu.”

Siwon terkekeh kecil, mengusak helai kelam istrinya kemudian. Dia senang melihat reaksi malu-malu Yoona jika mereka sedang membicarakan hal yang ‘sensitif’. Istrinya memang bukan seseorang yang polos, tapi sifatnya yang manis itulah, yang membuatnya setuju jika harus menikahi Lim Yoona.

“Kita baru 4 bulan menikah, dan aku masih ingin berduaan denganmu.” senyum Siwon masih bermain di bibirnya, jemarinya mengusap bibir persik Yoona yang terbelah ㅡsensual.

Si manis mengangguk, lalu mengangkat wajahnya saat tangan suaminya yang besar mengangkat rahangnya. Membalas senyum Siwon, dan perlahan menutup matanya saat laki-laki tampan itu mendekatkan wajahnya.

Meraup bibir mungilnya dan saling memagut.

Setidaknya Yoona tidak akan takut jika kemesraan ini akan dipergoki oleh asisten rumah tangga yang bekerja. Tapi untungnya hari ini mereka sedang mengerjakan hal lain di luar, jadi tidak akan ada yang menginterupsi.

Tangan kanan Siwon mengarah pada leher Yoona yang terpasang collar berwarna hitam, mengusapnya.

“Siwon-ah…” memutus kontak bibir yang sudah memerah. Menatap sang suami dengan nafas agak terengah. “Kau bisa terlambat bekerja” ucapnya.

Memberi kecupan di dahi, Siwon kemudian mengangguk. Dia bangkit berdiri sembari meraih jas yang berada di kursi kosong di sisi kirinya, Yoona mengikutinya sambil membawakan postman bag milik sang suami.

Bergandengan menuju pintu utama, di mana sebuah sedan hitam sudah menunggu dengan mesin menyala.

Yoona kembali mendapat ciuman di bibir, sebelum Siwon pergi bersama mobilnya.

Dan suasana kembali sepi. Memasuki rumah dengan rasa sedikit cemas, Yoona naik ke lantai 2 dengan beberapa pikiran berjubel di kepalanya. Kaki panjangnya membawanya memasuki kamar utama.

Sedikit bingung dengan rasa cemas di hatinya. Dia tidak tahu kenapa.

Rasanya ada yang mengganjal.

 

Yoona meraih ponsel miliknya yang tergeletak di atas bantal, hanya menatap benda persegi itu setelah layarnya dinyalakan.

Dia menghela nafas.

Yoona benci perasaan aneh tak menentu semacam ini.

Menimbang-nimbang sejenak, ia memutuskan untuk menghubungi sahabatnya. Mungkin dirinya bisa menghabiskan waktu di luar bersama-sama, daripada mati bosan di rumah.

Karena sejak pernikahannya dengan Siwon, pria itu meminta agar dirinya tidak terlalu sibuk, beruntung karena pekerjaannya sebagai editor novel tidak terlalu padat akhir-akhir ini. Penulis asuhannya sangat tepat waktu dan tidak membuatnya harus bekerja lebih keras.

Toh, Eommanya juga bilang jika dia tidak perlu sering datang ke yayasan. Karena selain sebagai editor novel, Yoona juga bertugas menjadi pengajar di yayasan milik sang Eomma.

Ponselnya berbunyi lagi, sebuah pesan balasan dari temannya. Yoona tersenyum setelah membaca isi pesan itu, dan segera melesat ke kamar mandi untuk bersiap-siap.

 

From: Jung Solbin

‘Kita bertemu di tempat biasanya. Aku sudah tidak sabar untuk mendengar ceritamu tentang suamimu yang tampan itu, hahaha…’

Yoona membuka lemari pakaian, sedikit bingung ketika harus memilih baju yang ingin dikenakannya hari ini. Musim juga mulai dingin, jadi dia harus memilih pakaian yang hangat namun tetap eye catching.

Menjatuhkan pilihan pada sweater rajut berkerah round neck dan over sleeve, dan sebuah mantel berwarna kuning mustard yang baru saja dibelinya minggu kemarin.

Yoona sudah siap, hendak menutup lemari pakaiannya kembali sebelum kedua pupil matanya menangkap sepotong kemeja berwarna biru pudar. Dia terdiam.

Rasa cemas itu kembali datang menyengat.

Kemeja milik Lee Donghae, ia jadi ingat saat alpha itu datang di tengah hujan lebat. Sambil menerawang ke masa itu Yoona mengambilnya perlahan, tidak ingin tumpukan baju di atas kusut atau berantakan.

Dia memandangi kemeja berlengan panjang itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

Terhitung 2 minggu sudah sejak hujan lebat di malam itu.

Selama itu pula Yoona tidak pernah bertemu dengan Donghae lagi. Padahal biasanya pria itu sering mendatanginya ketika dirinya berada di luar rumah, atau saat Siwon tidak berada di sisinya.

Kehangatan malam itu masih berbekas, masih dapat ia ingat. Dan sekarang pria itu menghilang begitu saja, seperti malam panas mereka hanyalah hidangan penutup semata.

 

.

.

.

-The Queen-

.

.

.

Begitu pesawat yang dinaikinya mendarat, Donghae tidak membiarkan tubuhnya istirahat meski hanya untuk semenit. Selesai dengan pekerjaannya di Beijing, dia segera kembali ke Korea. Dan sepanjang kaki melangkah menuju lobi bandara, Hwang Jisub ㅡsekretarisnya tak henti mengatakan rincian jadwalnya untuk hari ini.

Beruntung langit tidak kelabu siang ini, setidaknya perjalanannya menuju sebuah restauran untuk makan siang bersama rekan kerjanya akan berlangsung lebih nyaman. Tidak ada jejak titik air di suitnya saat keluar dari mobil nanti.

“Nyonya Lee meminta anda untuk menjemput Rourou di Pet Shave nanti sore, Tuan.”

Donghae sedang berkutat dengan ponsel pintarnya saat Jisub menyampaikan pesan itu. Dahinya berkerut, seketika mengalihkan tatapannya pada sang sekretaris, yang kini berpura-pura memeriksa agenda di tabletnya ㅡmenghindari tatapan tajam milik Tuan Lee.

“Apa kau pikir aku harus melakukannya?” tanyanya.

Jisub hanya mengangguk kecil. “Beliau bisa marah kepada anda dan juga kepada saya jika anda tidak melaksanakannya, Tuan.”

Donghae menggumam kesal. Tak habis pikir dengan sifat Ibunya yang suka sekali memerintah dirinya. Kenapa harus dia? Hal kecil seperti menjemput anjing peliharaan, kenapa tidak menyuruh orang lain saja?

“Kita sudah sampai Tuan.” mobil berhenti tepat di depan sebuah restauran Italia.

Donghae turun tanpa mengatakan apapun, memperhatikan sekeliling restauran, Jisub tak mengikutinya kali ini. Dan kegiatan membosankan bersama relasi kerjanya akan berlangsung setidaknya selama 30 menit, itupun kalau mereka tidak saling melempar pujian seperti seorang idiot.

Menggeser pandangan matanya, Donghae menemukan seseorang yang berada di sebuah cafe, tepat disebrang restauran dirinya berada saat ini. Sebelah alisnya terangkat naik.

Sesuatu menarik perhatiannya.

Dia melihat Yoona tersenyum dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada seorang pelayan yang datang mengantar pesanannya. Sepiring cheese cake dan strawberry smoothie with oreo.

Sambil berbalas pesan dengan Siwon, karena beberapa menit yang lalu suaminya memberi kabar jika dia akan pulang telat hari ini. Jadilah Yoona memutuskan untuk singgah di sebuah cafe yang belakangan ini menjadi bahan perbincangan karena kue-kuenya yang terkenal lezat.

Siwon bilang jika Yoona harus sudah berada di rumah sebelum pukul 5 sore. Meski seharusnya dia sudah berada di rumah sejak 30 menit yang lalu, setelah menghabiskan waktu bersama Solbin sahabatnya.

Hal yang disukainya dari sang suami, Siwon tidak pernah membatasi ruang geraknya, memberinya kebebasan yang sama, bahkan meski kini dirinya memiliki tanggung jawab utama yang harus dilakukan.

Apa dia harus membawa untuk Siwon nanti?

Suami tampannya itu tidak pernah menolak semua pemberiannya. Bahkan saat dihari pertama mereka berumah tangga dan masakannya hangus. Siwon mencegah dirinya untuk membuang makanan itu, hanya omelet, dan Yoona terkejut saat suaminya itu meletakkan omelet hangus buatannya di atas piring dan memakannya. Sore harinya Siwon mengeluh sakit perut.

Jika mengingat hal itu Yoona sering kali tertawa sendiri, dan pastinya selalu menjadi bahan bercanda mereka ketika senggang menghabiskan waktu berdua.

Memikirkan sosok suaminya membuat hatinya menghangat.

Ponselnya sudah tak lagi berbunyi, Yoona menikmati cheese cake yang lumer di mulut dengan rona bahagia, sesekali mengaduk smoothie strawberry nya dan mendesah senang saat lelehan ice cream memenuhi mulutnya.

Wanita itu mengambil ponselnya lagi.

 

To: Siwon chu~

‘Aku sedang berada di cafe yang tempo hari ku ceritakan. Mau ku bawakan sesuatu?’

 

Yoona menuliskan pesan singkat pada suaminya.

Beberapa menit berlalu, Siwon belum membalas pesannya. Yoona pun berinisiatif untuk membungkus beberapa kue untuk dibawa pulang. Dan dia keluar dari cafe itu dengan senyum di bibir persiknya.

Pukul 15.40 KST, dan perjalanannya butuh waktu sekitar 20 menit dengan bus. Tapi sayangnya kedua kaki jenjangnya tidak sempat melangkah karena pemandangan di depan mata.

“Terima kasih sudah datang berkunjung, Tuan Lee.”

Oh… siapa yang berdiri di sana, di depan sebuah salon hewan dengan seekor poodle berwarna coklat tua di gendongan. Dia terlihat gagah dengan suit berwarna biru gelap dan celana berwarna hitam.

Donghae menyukai anjing?

Yoona tidak menyadarinya, jika bibir persik merah mudanya kini tengah tersenyum. Melihat Donghae yang berjalan menuruni tangga sambil mengelus-elus bulu anjing kecil itu. Dan saat Donghae mengangkat kepalanya, mereka bertatapan.

Sang pria melihat dirinya di sebrang jalan sana.

Bahkan jalan yang tidak sepi bukanlah sebuah halangan. Mata mereka bertautan. Yoona merasakan rasa cemas itu datang lagi, namun kini bersamaan dengan percikan senang yang membuatnya segera tersadar.

Apa yang sedang dia lakukan?

Donghae menyebrangi jalan, Yoona ragu. Haruskah dia tetap diam atau pergi dari sana?

Sudah 2 minggu dia tidak melihat Donghae.

Apa dia harus menyapa pria itu?

Keindahan mutlak di depan matanya mengalahkan kebisingan suasana di sekitarnya. Yoona berdiri di sebrang jalan, ujung coat kuning mustard yang dikenkannya melambai tertiup angin. Wajah cantik yang dirindukannya.

Satu minggu dirinya tidak melihat sosok itu. Kenapa dia semakin indah dan mempesona?

“Tidak ku sangka kita bisa bertemu di sini.” Donghae sudah berdiri di hadapan Yoona. Menyadarkan si manis yang sibuk berpikir, dan suaranya mengejutkan Yoona.

Berkedip. Menatap iris hazel yang indah di hadapannya. Dan Yoona enggan untuk mengakui jika dirinya merindukan pria itu.

“Apa ini anjingmu?” tanyanya, memutuskan kontak mata.

“Bukan, milik Eommaku.” Donghae memperhatikan Rourou yang sangat pendiam di gendongannya.

Yoona mengelus bulu keriting Rourou, tersenyum melihat wajahnya yang lucu dan juga sorot mata coklat gelap yang sangat polos, juga sedang menatapnya.

“Siapa namanya?”

“Rourou. Kau sendirian?”

Yoona berhenti mengelus bulu halus Rourou, mengangkat wajahnya kemudian mengangguk. “Seperti yang kau lihat.”

“Dimana suamimu?” memperhatikan sekitar, Donghae tidak menemukan pria lain yang memiliki tinggi lebih dari dirinya.

“Sudah ku bilang aku sendirian. Tadi aku jalan dengan sahabatku, Solbin. Kau sendiri?”

“Hanya menjemput anjing peliharaan Ibuku. Kau mau pulang?”

Yoona mengangguk, “Ya, aku harus pulang sebelum jam 5 sore.”

“Kalau begitu ku antar.”

Yoona terkejut. Bukan karena ajakan Donghae, tapi lebih karena dia tidak mau jika Siwon sampai melihat mereka.

“Tidak perlu, aku pulang sendiri saja.” tolaknya cepat.

Donghae tersenyum miring. “Kau takut suami mu mencurigai kita?”

 

Yoona tidak sempat memprotes karena Donghae lebih dulu berjalan menyebrang, menuju ke sebuah audi hitam yang terpakir. Seorang pria bertubuh tegap keluar dari sisi kanan mobil, hendak membukakan pintu belakang, tapi Donghae lebih dulu mengangkat satu tangannya sebagai isyarat jika dia akan melakukannya sendiri.

“Aku akan membawa mobil ini sendiri, kau bisa naik bus ‘kan, Kang ajhussi?” ujarnya.

“Tentu Tuan, ini kuncinya.” menyerahkan kunci mobil pada Donghae, pria yang dipanggil Kang ajhussi itu menggeser tubuhnya dari depan mobil, memperhatikan sang atasan, lalu beralih pada seorang wanita cantik berambut hitam yang sempat membungkukkan badannya sekilas ㅡmemberi salam sebelum masuk ke mobil.

Donghae melajukan mobilnya setelah memastikan Yoona memakai sabuk pengaman dan duduk dengan nyaman. Rourou menempati kursi belakang, anjing kecil itu menekuk tubuhnya seperti bola.

“Seharusnya Siwon tidak membiarkanmu keluar seorang diri, Yoong.” Donghae berujar memecah sunyi diantara mereka.

Yoona memejamkan mata. Suara itu sangat nyata, dalam dan rendah. Panggilan yang manis. Siwon bahkan tidak pernah memanggilnya dengan sebutan khusus selama ini.

“Kenapa tidak?” membuka kelopak mata, Yoona menoleh.

“Seorang omega yang sudah menikah memiliki aura lain di tubuhnya. Terlebih jika kau menjadi semakin cantik dari hari ke hari. Jika aku menjadi suamimu, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi seorang diri.”

Bagaimana Donghae bisa mengatakannya dengan sangat tenang, sementara di sisi lain jantung Yoona sudah berdegup lebih kencang?

Yoona memang menyukai kebebasan yang diberikan Siwon, tapi keposesifan Donghae sanggup membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

“Kemana saja kau selama dua minggu ini?” Yoona bertanya. Berusaha meredakan jantungnya yang berdetak riang.

Donghae menyetir tenang, sejenak menoleh ke arahnya. “Mencari ku?”

Yoona memalingkan wajahnya, melempar pandangan ke luar jendela.

“Aku merindukanmu, bagaimana denganmu?” Tanpa beban Donghae mengatakannya.

Dan Yoona merasakan perutnya seperti diaduk. Rasa cemas yang sejak beberapa hari yang lalu dirasakannya berubah menjadi sebuah keinginan yang meletup-letup.

Laju mobil berhenti, antrian kendaraan terlihat cukup panjang di depan sana.

Macet.

Donghae mengarahkan pandangannya pada sosok cantik yang duduk di sampingnya, menunggu hingga kepala dengan mahkota hitam legam menoleh dan menatapnya.

“Kau memilih jalan yang salah, Hae.”

“Aku tahu. Hanya ingin mengulur waktu agar aku bisa lebih lama bersamamu.”

Donghae tidak bodoh untuk menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja. Dia tahu jika jalan yang diambilnya ini adalah kawasan padat yang selalu macet jika sore hari.

Mengulurkan tangan kanannya menyentuh bibir persik Yoona yang terlihat seksi, mengusap permukaannya yang lembab, dan memainkan ibu jarinya di sana.

“Apa kau merasa kehilangan karena dua minggu aku tidak menemuimu?”

Donghae menatapnya sangat dalam, seperti dirinya adalah sebuah Bintang jatuh yang dalam satu kedipan mata akan menghilang. Yoona tidak tahan, hatinya meraung, kehangatan di ujung jari itu membawa pergi akal sehatnya.

“Aku bertanya-tanya, menghilang kemana kau selama satu minggu?” akhirnya pertanyaan itu terucap.

“Aku terbang ke Beijing.”

“Seharusnya kau lebih lama berada di sana.”

Bukan itu yang ingin diucapkannya. Yoona tahu apa yang dia butuhkan. Ketika tangan besar yang hangat itu bergerak mengusap wajahnya dan seketika memercikan api, dalam keadaan sadar dia melompat ke pangkuan Donghae dan menabrakkan bibir mereka yang saling merindukan satu sama lain.

Tergesa-gesa, dekapan Yoona di kepala Donghae sangat erat, bibir mungilnya meraup sebanyak yang di bisa. Donghae menariknya mendekat, mengubah posisi menjadi Yoona duduk di atas pria dengan libido yang tengah naik itu. Menyamankan bokong besarnya di pangkuan Donghae, kedua tangan pria itu kini memeluk pinggangnya tak kalah erat.

Saling mengejar, suara decapan lidah dan saliva yang berbaur mendominasi mobil. Udara di dalam seolah semakin menipis, saling membelit, tidak puas, ciuman panas itu harus lebih dalam dan buas. Berantakan.

Yoona mengerang, meremas surai hitam Donghae yang berantakan karena ulahnya. Bibirnya dihisap sangat kuat, dan dia melakukan hal yang sama.

“Merindukanku?” Donghae belum menyerah. Seuntai saliva menyatukan bibir mereka, Yoona meraup nafas, menatapnya sayu, yang kemudian menganggukkan kepalanya.

“Sentuh aku.” mengusap wajah tampan tak tercela di hadapannya. Yoona bisa merasakan nafas hangat Donghae di wajahnya.

Suka rela ia mendongakkan kepala, membuka akses lehernya lebih lebar saat Donghae mengendus lehernya yang terlindungi collar berwarna hitam. Memejamkan mata khidmat kala benda basah dan hangat menjalar di sepanjang kulit lehernya.

Coat ini sangat menganggu, sayang.” Donghae mengerutkan dahi tak suka. Menarik coat milik Yoona dan dibantu si pemilik untuk melepasnya.

Melemparkannya di kursi samping yang kosong. Yoona mendesah kala kedua tangan Donghae yang hangat mendesak menyelinap di balik sweater yang dikenakannya. Menggulung ke atas hingga sebatas dada, dan dia memekik nikmat saat kedua titik sensitif di dadanya diserang secara bersamaan.

Ngghhh… hisap lebih dalam-hhhh… Hae-aahhh…” Sensasi memabukkan yang membutakan. Dekapan Yoona pada kepala Donghae semakin erat, meminta pria seksi itu untuk lebih dalam memagut puting dadanya.

Dan Donghae melakukannya dengan rakus, menciptakan melodi-melodi indah dari belah persik yang terbuka. Memberinya kenikmatan bertubi-tubi selagi satu tangannya sudah menyusup di balik celana yang Yoona kenakan.

Belahan bulat yang empuk, hangat dan kini basah… Donghae selalu dibuat gemas karenanya. Dan bulatan kecil yang tersembunyi di bagian tengahnya sudah bereaksi di atas permukaan jarinya.

Yoona mengerang, nafasnya tersengal makin keras, jemari-jemari lentiknya meremas kemeja hitam Donghae tak sabaran dan dia berkali-kali berbisik kalimat yang sama. Merasakan tangan besar Donghae di bibir vaginanya sangat menyiksa.

“Aku merindukan mu-hhhh… Donghae…sentuh aku-hhh…” sudah dibutakan oleh gairah. Yoona tidak ingin apa-apa lagi selain bersetubuh dengan alpha posesif yang memangkunya saat ini.

Melepas mainannya yang lucu berwarna merah karena terlalu lama digigit dan dikulum, Donghae melepaskan kepalanya dari dekapan Yoona, menikmati wajah pasrah yang sarat akan gairah menguasi si cantik itu.

“Di mana aku harus menyentuhmu?” tanya Donghae menyelami irisnya yang gelap.

Yoona mengecup bibirnya bertubi-tubi dan kedua tangan yang tak bisa diam kini berada di bahunya. “Dimana pun, aahhh…masuki aku Hae-hhh… aku merindukan penismu, sayang.”

“Aku tidak bisa bergerak, sayang.” mengusap lubang kecil yang telah becek dengan cairan wanita itu sendiri, Donghae sangat menikmati ekspresi Yoona saat mengerang, merespon gerakan jarinya di bawah sana.

“I can ride you, ahhh… ”

Do it, babe.

 

Melahap bibir mungil yang kini berwarna merah karena ulahnya. Yoona selalu agresif seperti ini ketika mereka sedang melakukannya, dan Donghae menyukainya. Dia sengaja.

Jemari panjang pria itu begitu terampil membuka celananya, dalam ciuman yang masih bertaut, Donghae meraih satu tangan Yoona dan diletakkannya di kejantanannya yang sudah tegak berdiri.

Ngghhh…mmhhh…”

Yoona menyukainya. Donghae tahu itu.

Yoona lah yang pertama mengakhiri ciuman itu dengan saliva membasahi bibirnya, menggerakkan tangannya di bawah sana sembari mengarahkan bibirnya pada leher Donghae. Pria itu membantu membuka celana untuknya.

Tangannya yang lain tergesa membuka kancing kemeja Donghae, tapi dia tidak begitu ahli membukanya dengan satu tangan. Terpaksa melepaskan penis di genggamannya, agar kancing-kancing sialan itu segera terlepas dari tempatnya.

Tubuh Donghae memang tidak sebesar Siwon, tapi laki-laki itu sama-sama menggairahkan. Bibirnya kembali diserang saat pupil matanya menikmati dada Donghae yang bidang dan satu tangannya kembali bekerja memainkan kejantanan di bawah sana.

Baik Yoona dan Donghae sama-sama sudah tidak sabar untuk memulai. Ciuman itu terlepas kesekian kalinya dengan tergesa. Yoona mengangkat tubuhnya, menunduk untuk menempatkan kejantanan besar dan panjang itu tepat di bawah lubang vaginanya, dan Donghae membantunya.

Memegangi pingganya yang sempit, memberi usapan di sana saat pandangan mereka bertemu. Yoona melakukannya dengan sangat baik, satu hentakan dan benda berurat itu masuk dengan tepat.

Aaahh! Hae-ah-hhh…s-sakit…Aahhh!

Cengkraman di bahu menguat, Yoona mengernyit merasakan rasa sakit mengoyak lubangnya.

“Tentu saja, Yoong. Kau tidak melumasinya dulu tadi. Dan, biasakan panggil aku OPPA, sayang.” mengusap wajah si cantik yang berkeringat, tangannya yang lain membantu mendorong pinggang Yoona agar penisnya bisa masuk lebih dalam.

Yoona menggelengkan kepalanya, dia tidak punya banyak waktu. Disela-sela rasa sakit yang menyengat, dia berusaha mendorong tubuhnya untuk memasukkan semua yang tersisa. Donghae merasakan nikmat teramat sangat dibuatnya.

“Oppaahh…” ucapnya dengan desahan sensual. “Ngghhhh…ini lebih-hhh...nikmat dari milik-hhh…Siwon…ahhhh!”

Donghae membuka matanya, tentu tertarik dengan apa yang baru saja dikatakan Yoona.

“Benarkah?”

Si cantik hanya bisa mengangguk di sela-sela gerakannya naik-turun. Pijatan vagina Yoona memang luar biasa, tapi Donghae masih tidak puas dengan apa yang keluar dari mulut kecil itu.

Yoona bergerak indah di atas pangkuannya, mencari kenikmatan hingga ia memekik keras dan tubuhnya bergetar.

Ngghh… ahh… Kalian sering melakukannya?” disela-sela desahan, Donghae mengendalikan dirinya dengan baik.

Hanya anggukan yang didapat, bibir itu terlalu sibuk mendengungkan kata nikmat akibat ulahnya sendiri.

“Apa dia melakukannya dengan lembut?”

“Y-ya, aaahh! Ooohhh, Donghae-ahh!”

“Kau menyukainya?”

Anggukkan lagi. Yoona terlalu sibuk menumbuk titik nikmatnya dengan kejantanan Donghae yang bersarang di lubang ketat miliknya.

“Jadi kau tidak menyukai permainan kasarku, Yoong?” Donghae meraih klitoris berwarna pink Yoona yang terabaikan, memijatnya dan memainkan ujungnya membuat Yoona memekik karena hal itu.

“T-tidak….aaahhh Hae oppah-hhh…a-aku suka, aku suka keduanya— AAAHHHhhh!”

Yoona mencapai titik klimaksnya, cairan bening keluar merembes di antara lubangnya yang masih penuh dengan junior besar milik Donghae.

Tapi sebaliknya, Donghae belum menunjukkan tanda-tanda apapun. Membiarkan omega cantik milik Siwon ini bekerja mengejar kenikmatan untuk mereka berdua, selagi dirinya harus menginjak pedal gas perlahan karena suasana jalan yang cukup padat.

Yoona sudah sangat panas, kenikmatan tanpa akhir itu membuatnya gila. Rasanya sedikit berbeda saat dia melakukannya dengan Siwon. Karena suaminya memperlakukannya sangat lembut, dia suka. Tapi Donghae membuat sisi lain dirinya bangkit meraung-raung.

Liar, agresif dan nakal. Yoona tidak tahu jika dirinya bisa bersikap seperti itu saat bersenggama dengan Lee Donghae, dan dia juga menyukainya.

Mobil kembali terhenti, namun Yoona masih bergerak naik turun dengan sensual menunggangi kejantanan besar yang disukainya.

Menahan hasrat bukanlah hal yang mudah, Donghae masih mengendalikan diri, melampiaskannya dengan cengkraman kuat di kemudi mobilnya. Pijatan itu luar biasa menyerang akal sehatnya, membuat nafasnya terengah, sayangnya gerakan Yoona sedikit melambat karena kelelahan.

Shit!” Donghae mengumpat.

Yoona memekik terkejut saat tiba-tiba tubuhnya terangkat dan terdorong kembali ke kursi yang kosong. Punggungnya menyentuh sisi pintu yang terkunci, tubuhnya tertekuk seolah dia adalah lipatas kertas, kedua tungkainya menghadap ke atas dan nyaris menyentuh langit-langit mobil.

Donghae memenjarakan tubuh Yoona diantara kedua lengannya, pria itu dengan cepat dan tiba-tiba sudah menerobos masukkan penis besarnya yang masih ereksi ke dalam lubang berkedut Yoona, dan membuat si wanita menjerit meneriakkan kenikmatan. Bergerak mencari kepuasan atas gairah yang membabi buta.

“AAAHHH…. OPPAA… APA YANG KAU LAK—KHUKAN… AAAAHHH….” dia hanya bisa meraung-raung sambil berpegangan pada kedua lengan Donghae, karena pergerakkannya yang cepat.

“Aku iri-hhhh…pada Siwonn yang-” suaranya terpotong, pinggulnya menghentak keras untuk yang kesekian kali, dan Yoona sudah meneteskan saliva yang meluncur dari belah bibirnya yang tak pernah tertutup. “…bisa-hhh…memasukimu setiap-hhhh…hari, Yoong…”

Nafasnya sangat panas, berbisik di telinga yang berdampak seperti kembang api di antara euforia seks.

Masa bodoh dengan punggungnya yang cukup sakit karena membentur pintu mobil, setiap gerakan yang diciptakan Donghae, kenikmatan itu lebih nyata, mengusir segalanya. Hujaman pada lubangnya lebih memabukkan. Mebumbuk titik g-spotnya dengan keras dan Yoona sangat menikmatinya.

Ngghh aannhhh…” Donghae mengeram di bahunya, pria itu hampir sampai, penisnya terasa berkedut hebat di dalam lubang vagina Yoona dan wanita agak panik. Ia mencakar punggung halus sang alpha, yang dihadiahi ciuman panas di bibirnya.

“Oppaahh… aakhh– nikmat sekaliiihhh… AAAHHHH..!!!” Yoona kewalahan mengerang di antara ciuman mereka. Sodokan di bawah sana membuatnya kacau balau, tak berdaya diserang dari dua arah.

Saat ciuman terputus, dia meraup rakus oksigen yang ada.

Nafas Donghae semakin memberat.  Napasnya tersengal saat ia berujar, “Katakan di mana kau menginginkannya keluar…” menggerakkan pinggulnya lebih cepat.

 

“Keluarkan di dalam saja, sayang! Aahhh…oohhh!”

Batang keras yang berkedut-kedut ditarik dan dihentakkan paksa dari sangkarnya oleh si pemilik, Yoona berhenti bergerak, siap untuk menerima tembakan sperma dalam lubang manisnya. Hingga–

*Croottt*

Ngghhhh… AAAAAHHHH…!!!!” Donghae melenguh panjang, memegangi pinggang Yoona di bawah tubuhnya. Kenikmatan itu pecah hingga membuat kepalanya terasa pening, lubang sempit Yoona semakin mempertipis jarak dan sedotan pada batangnya semakin kuat.

AAAAKKHHH— aaahh… aahh… aah…” Tak kalah merasa nikmat. Yoona memejamkan kedua matanya, berpegangan pada paha Donghae, tak ingin melewati satu tetes pun cairan yang deras menyembur, merasakan pinggulnya yang didorong semakin dekat, wajahnya memerah karena cairan Donghae benar-benar muncrat di titik g-spotnya, serta ujung kepala penis yang menyentuh benda manis di dalam tubuhnya itu.

Bunyi klakson mobil yang bersahutan membuat Donghae segera memisahkan diri dari Yoona, duduk ke kursinya dengan sisa nafas yang panas dia kembali menginjak pedal gas. Tangannya bergerak membenahi letak celananya dengan tatapan ke depan, dia tidak mau jika sampai mengggores mobil di depannya karena ulahnya.

Dan Yoona masih mengatur nafasnya di posisi awal, kedua kakinya berada di atas pangkuan Donghae, sisa cairan putih kental menghiasi lubang vaginanya dan meleleh keluar.

“Kau ingin aku singgah di tempat pengisian bahan bakar? Kau bisa memakai toilet umum di sana.” menoleh pada si cantik yang masih kepayahan, Donghae mengelus paha dalam Yoona yang basah dan becek karena keringat dan cairan cinta mereka berdua.

Omega cantik itu mengangguk samar, kedua matanya masih terpejam. “Ya, tolong. Tubuhku pasti bau keringat dan cairanmu, Hae.”

Bibir tebal itu tersenyum, mengendarai mobilnya santai saat kepadatan lalu lintas telah berkurang dan menjadikan perjalanan lebih nyaman.

.

.

.

-The Queen-

.

.

.

 

Siwon menatap keluar jendela saat melihat sosok Yoona yang turun dari mobil itu dan membungkuk pada seseorang di dalam mobil. Siwon kembali menyimpan ponselnya di saku celana sembari bergerak ke pintu utama, membukanya cepat dan memanggil sang istri.

“Yoona!”

Suaranya membuat si cantik itu menoleh, melempar senyum untuknya. Yoona beranjak dari sisi mobil, terlihat jika sisi pintu mobil lainnya terbuka dari dalam, dan sosok seorang pria yang muncul dari sana membuat beberapa pertanyaan di kepalanya lenyap.

“Maaf aku baru pulang.” kata Yoona, menyambut pelukan Siwon yang terbuka untuknya.

“Kenapa tidak menghubungiku? Aku bisa menjemputmu.” berbisik di rambutnya, dia mempererat pelukan di tubuh semampai sang istri.

“Selamat sore Siwon-ssi, maaf jika membuat Anda terkejut”

Pria Choi itu mengangkat wajahnya, sontak melepas pelukannya pada Yoona dan tersenyum ramah.

“Tadi saya sedang menjemput anjing peliharaan Ibu saya, dan melihat Yoona –ssi berada di halte bus, jadi saya menawari tumpangan, jika Anda tidak keberatan”

“Tidak, tentu saja tidak Donghae-ssi” Siwon berkata cepat. “Sebaliknya saya minta maaf sudah merepotkan Anda”

Donghae mengangguk kecil, ekspresinya datar tak terbaca. “Tidak perlu minta maaf, dan saya harap Anda tidak salah paham”

“Oh tidak, saya sungguh berterima kasih, anda sudah mengantar Yoona pulang, pasti anda sibuk”

“Tidak terlalu. Baiklah kalau begitu, saya permisi, selamat sore”

“Terima kasih sudah mengantar saya, Donghae-ssi” ucap Yoona saat Lee Donghae sudah menjauh beberapa langkah.

Pria Lee itu menoleh dan sekali lagi mengatakan ‘bukan masalah’, kemudian keluar dari pagar, dan berlalu bersama mobilnya.

Yoona memeluk pinggang Siwon, mengalihkan atensi pria itu dari jalanan kepadanya.

“Apa aku telat?” Yoona menumpukan dagunya di bahu sang suami. Siwon menggelengkan kepala.

“Tidak, ini belum jam 5 sore” memberi kecupan sayang di dahi istrinya, Siwon mempererat pelukan di lengan Yoona.

“Ayo masuk, aku ingin mandi bersama”

Yoona tertawa kecil, tak urung menganggukkan kepala, mereka masuk ke dalam rumah diselingi obrolan ringan. Diantaranya kenapa Siwon tidak membalas pesan darinya siang tadi.

“Sayang”

“Hm?”

“Apa kau tidak takut semobil dengan Tuan Lee?”

“Kenapa aku harus takut?”

“Kau tidak lihat wajahnya? Apa dia marah karena mengantar mu pulang?”

“Bukankah wajahnya memang seperti itu? Dan omong-omong, wajahmu juga seperti itu saat di kantor.”

“Benarkah?”

“Di kamar mandi ada cermin, kau bisa bercermin di sana nanti.”

“Ku rasa tidak. Aku tidak akan memiliki waktu untuk bercermin, karena aku akan sibuk denganmu.”

Ah, beberapa saat Yoona juga berpikir apakah ia pantas untuk mendapatkan semua ini? Mengapa kehidupan seperti berlaku sangat baik padanya? Dia mendapatkan cinta dari dua pria baik dan tampan. Oh… bukankah dia memang ‘Ratu’nya?

 

.

.

-END-

Review jusseyo~~ 😀

SIDERS GO AWAY!!! >.<

Iklan

95 thoughts on “THE QUEEN [Oneshot]

  1. Wowww….Donghae mencintai Yoona istri Siwon…,entah bagaimana perasaan Yoona untuk Donghae,yang jelas Yoonhae menikmati setiap ksli mereka bercinta,meski Yoona juga menyukai sentuhan lembut Siwon suaminya.😊😊.Bagaimana jika Yoona hamil???
    Beruntungnya Yoona dicintai 2 pria tampan dan baik yang salah satunya adalah suaminya sendiri.
    Rasanya menakutkan jika Siwon sampai mengetahui hubungan yang terjadi antara Yoona Donghae…😦😦

    Suka

  2. Aku suka banget ide cerita yang kaya gini!!!!!! Suka suka suka!!!! Kesannya jadi lebih seksi elegan gtuuuu. More more more! We want more!!!

    Suka

  3. daebakkkkkk!!!!!! very hot story…
    yoona beruntungggg coyyy bisa dapetin siwon n donghae..
    tapi msh penasaran sm kalnjutan kisahnya itu si yoona bakalan sm siapa? suaminya atau donghae #YOONHAE DONG #MAKSA
    pengennn bgt ada sequelnya authornim ^^
    semangat trs i like your story!!

    Suka

  4. Wah Lee Donghae sama Yoona gila memang. Wkwkw. Tapi seksi parah. Haha btw kok ada nama Kris yah aku jadi bingung. Ada sequelnya dg Thor. Buat YoonHae bersatu dg Thor. Keren sekali ceritannya. Hehehe. ditunggu yah sequelnya

    Suka

  5. keren ceritanya, walaupun gk rela karena yoona juga berhubungan intim sama siwon. semoga yoonhae bisa bersati dan happy ending. semangat ya author.

    Suka

  6. Salam kenal thor, ijin baca yaa..
    Bagus ceritanya, meskipun sedikit rumit hubungan mereka.
    Semoga endingnya sm donghae, kalo bisa yoonanya hamil..
    Sequel please 🙂 Thank u

    Suka

  7. Wow yoona beruntung bgt, dicintaa sm 2 pria yg jd idaman wanita
    Tp kasian jg siwon, pengennya mereka cerai aja, biar yoona bisa sm donghae 😂
    Penasaran, akankah yoona hamil anak donghae?

    Ditunggu sequelnya

    Suka

  8. Wow yoona mendapatkan cinta dari dua orang pria yg mengagumkan…
    Need sequel author-nim… Berharap nantinya yoona akan memilih salah satu antara siwon sama donghae…

    Suka

  9. Wahh… Yoona maruk jugaa yahh
    Jdi penasaran, sp yg Akhirnya bener2 sama Yoona,. The Queen must Choose the King
    Hehehe
    D tunggu sequelnya yahh

    Suka

  10. what? haeppa jd org k3,,,ahh wae thor??
    tp gpp kyknya yoong sukanya ma haeppa deh,,
    gk ad sequel kah thor dan brhrap yoong bkal cerai ma siwon dan nikah ma haeppa 😁😍

    Suka

  11. Wowww..
    kli ini ffnya dgn sudut pandang donghae sbgai pemeran utama..
    klo bisa.. buat side storynya dgn yoona sbgai pemeran utamanyaa ;))
    dan btw di ff ini msh ad sdikit typoo
    spt : ‘yabg’ , ‘mengggali’

    Suka

  12. Wahg gila kakk yoona nya binal gini mana kuat wkwk 😂😂berat deh jadi Donghae 😦 yoonanya juga labil bnget ya kasian hae 😥 aku kira endingnya bakalan ada keputusan yoona milih hae atau siwon wkwk but endingnya gini juga udah Puas kok. Semangat terus kak ray ><

    Suka

  13. aku ga tau harus ngomong apa…cuma bisa minta sequelnya lagi dan lagi… Keren banget nih ffnya…
    Q ingin baca lebih hihihihi

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s