Roman Scandal [Chapter 7]

RomanScandal

Roman Scandal, by Keiko Sine

Genre: Romance – Marriage Life – Riddle || PG-NC

Chaptered

Casts:

Kim Taeyeon, Oh Sehun, Cho Kyuhyun

Others.

DO NOT COPY OR PLAGIARIZE!

STORYLINE AND POSTER BELONG TO KEIKO SINE.

PREVIOUS: [Teaser][Chapter1][Chapter 2] –  [Chapter3][Chapter4][Chapter5][Chapter6]

“—I push people away because of my anxiety, and the fact that I’m not good enough.”

***

Dalam sekali pandang semua orang pasti tahu bahwa Taeyeon bukanlah seorang melankolis seperti tokoh Juliette dalam ceritanya. Rambutnya yang hitam panjang, matanya yang kecoklatan, dan caranya berjalan bak sebuah pasukan berbadan tegap mengawal di belakangnya.

Taeyeon memang selalu menyukai segala yang berpendar dalam gelap, tapi mungkin… tidak untuk malam ini. Ia tidak pernah membenci bintang atau bulan di langit, atau cahaya lantern di malam hari. Tapi semua lampu pinggir jalan dan lampu depan toko yang berwarna-warni kali ini benar-benar membuatnya muak. Mungkin saja suasananya yang tidak terlalu sesuai karena keadaan Taeyeon saat ini yang tidak dapat dikatakan baik.

Kabur dari rumah, huh? Apa yang dia harapkan. Sebuah hotel dengan alat penghangat ruangan yang nyaman? Yang benar saja.

Sudah pukul 21.39 KST saat Taeyeon tiba di depan pintu apartment milik Victoria. Wanita itu menggenggam tangannya, menggertakkan gigi, berpikir apa yang harus ia katakan kepada sahabatnya saat ditanyai ini dan itu.

Dan hampir 15 menit rasanya Taeyeon berdiri di depan pintu tanpa ada niatan untuk menekan bell atau sekedar mengetuk pintu. Hingga sesuatu dalam dirinya meminta bertindak lebih berani dan mengutarakan semuanya kepada seseorang yang sangat ia percaya— akhirnya Taeyeon menekan bell apartment tersebut.

#cklek…

 

“Taeng… ada apa malam-malam kesini?” ucap Vic saat berhasil menyembulkan kepalanya keluar.

Taeyeon merapikan anak rambutnya ke belakang telinga, sambil tersenyum ia menjawab, “Bisakah— aku menginap di rumahmu malam ini?”

..

..

..

..

Sedangkan di sisi lain Oh Sehun tengah berdebat dengan dirinya sendiri. Jadi— salah siapa sebenarnya ini? Apakah benar jika sikap ‘selfish’ dan ‘ego’nya yang telah membuat sang istri pergi dari rumah dan meninggalkannya.

“Ini membuatku gila!”

Sehun mengacak rambutnya asal, lalu dengan langkah lebar berjalan menuju kamar. Dia mengambil sebuah smartphone putihnya yang ia letakkan di atas ranjang untuk menelpon Taeyeon. Berharap jika ia membujuknya maka sang istri akan memaafkan dan kembali pulang secepatnya.

Menekan tombol hijau. Dan baru pada deringan kedua— Sehun menyadari sesuatu.

Taeyeon tidak membawa ponselnya.

Nyatanya benda persegi panjang yang berdering di atas nakas itu adalah ponsel milik istrinya.

Sehun membanting ponselnya, lalu membaringkan diri di atas ranjang. Dia memejamkan mata sembari sesekali menatap ke langit-langit.

Memikirkan pertengkara mereka tadi— Sehun bertanya-tanya apakah Taeyeon telah mengetahui ‘beberapa’ tentangnya, namun memendam segalanya seorang diri? Seperti bom waktu, Taeyeon meledak pada saat-saat yang telah pada batasnya. Dan bodohnya Sehun tidak pernah berpikir bahwa Taeyeon tengah ‘kesakitan’ karena sikap acuh dan dan tak perhatiannya.

Sudah lepas pukul sebelas malam, Sehun pun beranjak dari ranjang dan memutuskan untuk menunggu di ruang tamu apartmentnya, berharap akan menemukan sang istri membuka pintu beberapa saat lagi.

Dan hal ini membuatnya frustasi. Di tengah dinginnya malam, dimana Taeyeon akan tinggal?

Ia tak ingin dan tak bisa memejamkan mata. Beberapa jam berlalu dan Sehun tetap menjaga matanya untuk terbuka lebar. Kekhawatiran menguasainya.

Hingga Sehun memutuskan untuk membaringkan diri di atas sofa. Masih berharap pintu itu akan terbuka di pagi hari dan menemukan istrinya yang lari tanpa kabar. Tapi nihil. Nyatanya sampa saat ini pintu apartmentnya masih tertutup rapat dan ruangan besar itu kosong, hanya ada dirinya dan denting jam yang menemani.

..

..

..

..

Vic memperhatikan punggung Taeyeon dalam kegelapan. Kunjungannya kali itu adalah yang teremosional. Seolah, Vic merasa begitu banyak kata-kata bisu yang disampaikan padanya.

“Begitu larut dan kau memutuskan untuk kemari, apa kau punya sesuatu untuk dikatakan padaku, Taeng?”

Seraya mengikat rambutnya ke belakang dan merapikannya lagi, Taeyeon menatap sahabatnya itu dari ujung matanya. “Aku hanya sedang ada masalah, Vic.”

“Tentang apa? Sehun?” dan melihat bagaimana reaksi Taeyeon setelah ia mengucapkan nama suami sahabatnya itupun membuat Vic semakin yakin jika pasangan muda ini tengah bertengkar, “Apa yang terjadi dengan suamimu?”

Taeyeon duduk di atas tempat tidur, sedikit mendongak untuk menatap Victoria yang tengah berdiri, “Mungkin— kecurigaanku selama ini menjadi nyata, tapi aku masih belum bisa menerima.”

Victoria menghembuskan napasnya kasar, menatap lebar ke arah Taeyeon, “Dengan siapa? Apakah dengan wanita yang biasa kau ceritakan itu… Ji—Jira?” ucapnya setelah sedikit mengingat-ingat.

“Bukan.” Taeyeon menggeleng, “Kali ini bukan dengan wanita itu.”

“Dasar Oh Sehun… pria itu…” kehilangan kata-kata, Vic segera berjalan keluar menuju dapur untuk mengambil air dari dalam lemari esnya.

Langkahnya menjadi lebih pelan segera setelah ia menghabiskan satu botol air penuh. Setelah hujan tadi sore, angin yang menerpa terasa sejuk di wajah Vic saat wanita itu memilih untuk berdiri di depan jendela.

“Anggap saja ini rumah sendiri Taeng… dan katakan padaku jika kau perlu bantuan.” Sambung Victoria.

Taeyeon menoleh ke arahnya, tersenyum pada wanita yang lebih tinggi darinya itu, “Terima kasih, Vic… ini lebih dari cukup.”

Hingga hampir pukul 12 tengah malam keduanya memutuskan untuk terlelap. Mereka tidur di satu ranjang king size milik Victoria, berbagi selimut yang sama.

 

.

.

-Roman Scandal-

.

.

Keesokan harinya langit terlihat lebih cerah dari sebelumnya, beberapa burung camar bahkan telah keluar dari tempat persembunyian mereka dan memenuhi tiang lampu pinggir jalan. Suasana yang membuat seorang wanita rela harus beradu dengan sinar UV dan mengorbankan kesehatan kulit wajahnya.

Taeyeon tersenyum sendiri ketika mengingat bahwa ia tak sendirian di dunia ini. Selalu ada bantuan pada siapapun yang layak menerimanya— itu yang ia percaya. Dan kendati bahwa ia tengah bertengkar dengan suaminya— selalu ada teman-temannya yang akan selalu membantunya.

Hingga tak sadar— nyatanya Taeyeon sendiri telah banyak belajar tentang kehidupan. Lembut, seperti bagaimana ia dengan sopan meminta ketika ia butuh sesuatu pada orang lain. Polos, seperti bagaimana ia bertanya penuh ingin tahu tentang apa itu asmara. Sabar, seperti bagaimana ia menanti dalam diam ketika suaminya bertingkah sesuka hati. Dan kejam, seperti ia tengah dihukum lebih awal dan seolah tinggal di dalam neraka.

 

That’s life.

Senyuman merekah di wajah Taeyeon saat mendengar suara tenor dari Victoria memanggilnya dari ruang tengah. Ia pun bergegas mendekat dan bertanya apa yang sahabatnya itu butuhkan.

“Taeng… aku harus menyetorkan uang ke rekening adikku siang ini. Apa kau baik-baik saja jika kutinggal sendirian?” tanya Vic saat wanita itu memasukkan piring dan gelas bekas sarapannya ke dalam bak cuci.

Taeyeon menggeleng pelan, merasa tak keberatan. “Tak apa… lagipula aku nanti karus menemui dokter di klinik.”

“Mengapa?”

“Hah?” tanya Taeyeon balik.

“Kukira kau hanya menjalani terapi pada hari Sabtu… tapi ini masih Senin.” Ujar Vic masih dengan nada penasarannya.

“I-itu— aku hanya harus memeriksa beberapa hal.” Ujar Taeyeon setelah mencari-cari alasan.

Sebenarnya pertanyaan Victoria ada benarnya juga. Mengapa— dia merasa harus pergi kesana? Bukankah ia jadi ‘terlalu sering’ untuk menemui dokter muda itu, tanyanya dalam hati.

Ini seolah terjadi begitu saja. Menjalani terapi pada hari Sabtu seolah berubah menjadi mengunjungi dokter Cho Kyuhyun pada hari Sabtu dan hari-hari berikutnya. Beberapa kali berkunjung kesana dan keduanya telah terikat menjadi teman.

 

“Baiklah jika kau nanti juga memutuskan untuk keluar, tapi jangan terlalu lama, hm? Hubungi aku jika kau akan pulang lebih larut.” Sambung Vic. Mengingat dia belum memberitahu tentang password apartmentnya kepada Taeyeon, jadi jika sahabatnya itu memutuskan untuk pulang terlambat, setidaknya Vic telah berjaga-jaga untuk tidak mengunci pintu agar Taeyeon tidak terkunci di luar.

Araseo.” Taeyeon mengangguk, duduk di atas meja makan sambil mengambil satu lembar roti, “Tapi— menghubungimu dengan apa? Aku tidak membawa ponselku he he he…” tawa sedih keluar dari bibir Taeyeon sesaat setelah ia mengingat masalah terbesarnya. Ponsel.

“Apa? Kau tidak membawa— urgghh— Taeng, kau benar-benar…” gerutu Victoria dari tempatnya berdiri. Ia pun segera mengelap tangannya yang basah lalu berjalan dengan sedikit cepat menuju kamarnya. Membuka sebuah laci dan menyodorkan benda persegi panjang putih ke hadapan Taeyeon. “Ini.” Ujarnya, “pakailah ponsel lamaku. Memang tak terlalu bagus— tapi ini lebih baik daripada tidak punya.”

“Eung… Vic, aku menyayangimu…” ujar Taeyeon dengan nada manja yang terkesan haru, ia pun sedikit berjinjit untuk memeluk sahabatnya tersebut. “Gomawo…”

“Hm… hanya ada nomorku yang tersimpan di ponsel itu, jadi kalau ada apa-apa langsung hubungi nomor itu, oke?”

Ne araseo…”

 

..

..

..

..

Oh Sehun berada di dalam ruangannya lagi, berkas-berkas ia biarkan terbuka dan layar komputer itupun ia biarkan menyala tanpa ada niatan sedikitpun untuk melanjutkan pekerjaannya.

 

Ia merosot turun dan bersandar. Membenamkan wajahnya di dalam tangannya. Ia ingin menggumamkan nama Taeyeon, mengumpulkan keberaniannya, mencarinya dan meninggalkan segudang egonya untuk menjadi rendah hati. Karena jika ia tak berusaha untuk mencari, maka imajinasi terburuknya mungkin akan menjadi nyata.

Tapi kemudian kata-kata dalam kepalanya langsung terngiang. Untuk apa mencari Taeyeon kembali, jika dirimulah yang membuangnya?

 

Sehun menggelengkan kepala. Ia tidak boleh menyerah begitu saja. Dan jika boleh jujur— kalung sialan ini— adalah salah satu objek dan alasan mengapa Taeyeon meninggalkannya malam itu.

Jadi sekarang kotak merah kecil itupun benar-benar membuat Sehun marah.

Digenggamnya benda tersebut dengan penuh hati-hati dan penyesalan, takut jika ia memegangnya dengan penuh leluasa akan menghancurkan barang indah yang ada di dalamnya.

Ia pun keluar dari ruangannya menuju ruangan sekretaris Park. Pria tinggi dengan senyum secerah anak balita itupun menyapanya saat Sehun muncul dari balik pintu. “Park Chanyeol.” Ujarnya ketika memasuki ruangan.

“Presdir Oh, ada yang bisa saya bantu?”

Sontak Sehun mendecih pelan, “Ck, tidak perlu seformal itu, Park. Hanya ada kita berdua di ruangan ini.”

Park Chanyeol, kekasih dari sepupunya itupun tertawa lebar memamerkan gigi rapinya, menyandarkan punggung sambil melipat tangan. “Jadi ada apa kemari?”

“Ini tentang acara pertunangan asistenku, Jeon Sohee. Apa kau bisa memberikannya hadiahku ini pada pestanya hari Sabtu nanti? Karena ku rasa aku tidak akan pergi kesana.”

“Kenapa? Kau punya acara lain? Atau urusan mendadak?”

“Hm. Urusan mendadak. Aku harus me—“ tidak, tidak. Ini adalah masalah keluarganya, Sehun tidak boleh membicarakan tentang urusan rumah tangganya pada orang lain. “Eum… ya— aku ada acara lain.”

Chanyeol memutar bola matanya jengah, pria mischevious itupun segera menyodorkan tangannya, “Mana?”

Dan dengan begitu Sehun memberikan kotak merah tersebut kepada Chanyeol.

Ini lebih baik dari ‘dimusuhi’ oleh istrinya sendiri. Karena kesalahpahaman sepele seperti ini tidak baik jika dibiarkan berlarut-larut.

 

.

.

-Roman Scandal-

.

.

Kapan itu terjadi?

Apakah itu ketika pertama kalinya Kyuhyun tersenyum padanya?

Apakah itu ketika mereka mengalami kemajuan dalam berinteraksi dan percakapan bisa mengalir begitu lancar?

Kapan tepatnya ia mulai membiarkan Kyuhyun menempati tempat khusus di hatinya?  Dan tidakkah itu salah?

Pertanyaan-pertanyaan ini berputar-putar di benaknya saat Taeyeon melihat perawat Lee mengubah infus peralatan lelaki di seberang ruangan itu.

Kapan?

Mengapa?

Bagaimana?

Sebenarnya, pertanyaan tentang bagaimana hal itu terjadi dapat dengan mudah dijawab Taeyeon. Bagaimana bisa dia tidak marah ketika Kyuhyun mencibirnya dengan ucapan-ucapan sarkasme? Bagaimana bisa dia tidak menertawakan setiap hal kecil yang keluar dari mulut lelaki itu? Bagaimana bisa dia tidak jatuh untuk kepribadian yang hangat dan suka membantunya?

Sangat mudah sebenarnya untuk dijawab, tetapi apa yang terjadi sekarang?

Kepalanya mulai terasa berat saat pikirannya berteriak tidak, tidak, dan tidak.

 
Apa yang terjadi sekarang?

Apakah benar jika keduanya telah memiliki perasaan atara satu dengan yang lain?

“T-tidak boleh.” Bisik Taeyeon pada dirinya sendiri saat Kyuhyun berbalik untuk memberikannya resep obat yang tak sempat ia berikan pada kunjungan Taeyeon di hari Sabtu lalu.

Kyuhyun memberikan secarik kertas itu padanya, dan sambil tersenyum ia bertanya, “Apa kau masih rutin meminum obat ini?”

“Hm.” Taeyeon mengangguk, “Meskipun aku sudah tidak lagi merasa sakit di kepala, aku masih suka meminum obat ini ketika insomnia atau terjadi mimpi buruk.”

Kyuhyun berjalan mendekat, berjongkok untuk menyamakan posisi dengan Taeyeon yang tengah duduk di atas kursi. “Itu wajar, Taeyeon-ah. Orang biasa juga sering mengalami hal-hal itu, apalagi kau yang mempunyai riwayat kecelakaan. Jadi sebaiknya kau minum saja obat ini sebelum tidur.”

Araseo, dokter Cho…”

Dan lihatlah, semburat merah di pipi Kyuhyun saat mendengar nama marganya terucap dari bibir pasien tetapnya itu. Hingga tanpa sadar ditariknya kursi itu mendekat, debaran dada Kyuhyun pun semakin cepat tatkala wajah mereka kini hanya terpaut beberapa centi.

Jemari Kyuhyun meraih lengan Taeyeon secara natural. Ditepis oleh emosi yang membara, Taeyeon pun tak sadar dengan apa yang ia lakukan. Wanita itu segera menarik tubuhnya ke belakang, diikuti oleh Kyuhyun yang malah bergerak ke depan. Dan ketika punggung Taeyeon bertemu dengan sandaran kursi ia pun terhenti, kedua mata mereka saling bertatapan.

Kyuhyun menatap mata hazel Taeyeon, sedikit memiringkan wajahnya berniat untuk memberi bibir wanita itu kecupan. Dan ketika jarak mereka hanya terpaut beberapa milimeter, Taeyeon dengan natural memejamkan kedua matanya, tak lama kemudian disambut oleh bibir hangat Kyuhyun menempel manis di atas bibir ranumnya, berlama-lama di sana. Tapi ketika dia merasakan si pria menggerakkan bibirnya berniat untuk mengulum dan memperdalam ciuman mereka, Taeyeon segera menarik wajahnya menjauh. Berpikir jika bercumbu dengan pria lain yang bukan suaminya adalah hal yang salah.
“M-maaf— aku—“

“Kyuhyun-ah… tidak perlu minta maaf. Mungkin k-kita hanya terlalu terbawa suasana.” Ucap Taeyeon dengan gagap, matanya bergerak gelisah dan napasnya pun terasa putus-putus.

 

Ada kesedihan dan kasih sayang yang terpancar dari mata wanita itu… dan untuk yang pertama kali dalam hidupnya— Kyuhyun merasa benar-benar ‘tertarik’ akan pemilik mata hazel yang bersinar di hadapannya.

Hanya saja… mengapa rasa ‘tertarik’ ini datang kepada seorang wanita yang telah mempunyai seorang suami? Tidakkah kau mengerti bahwa cinta mengalahkan segalanya? Terutama rasa takut. Tapi— apakah benar jika dirinya telah jatuh hati pada istri pria lain?

Dan apakah salah bagi Kyuhyun untuk memanfaatkan kesempatan ini? Melihat fakta bahwa Taeyeon tengah bertengkar dengan suaminya dan pergi dari rumah seperti yang wanita itu tadi bilang. Sebuah tindakan pengecut yang mengambil milik orang lain ketika hubungan antara ‘orang lain’ itu tengah retak.

‘Kau tahu aku juga terluka… mengapa waktu kita selalu salah?’

.

.

.

-To be continued-

Author Note:

Hayooo… siapa yg kebakaran jenggot baca momen Kyu-Tae lebih banyak dari Hun-Tae? Hahaha sabar sabar… namanya juga lagi masa-masa konflik. 😀 atau ada yg malah senyum-senyum gaje baca momen Kyu-Tae nya? LOL bgt deh

Pokoknya aku pengen ngasih konflik tuh yg gereget bangeettt gitu lohhh buat para readers sekalian. Tapi kalo masih kurang ngefeel yah tolong dimaapkan. (v) namanya juga masih belajar.

Mau lihat momen Hun-Tae yg lebih banyak? Dan penasaran kayak apa lanjutannya? Cusss tinggalin komentar biar author juga lebih semangat buat updatenya.^^

Regard.

-Keiko Sine https://thekeikosine.wordpress.com <= jangan lupa mampir ke blog pribadi Sine untuk membaca koleksi FF yg lain.. 😀

 

Iklan

31 thoughts on “Roman Scandal [Chapter 7]

  1. Sehun gak ada niat nyari TY 😦 perang terus ama batin die :v mempertahankan ego dia yg nyebelin :v waaahhhh sebenarnya siapa yg selingkuh disini :v omo…omo TY mulai nakal… Masa kissing :v hati aku potek author-nim :v

    Suka

  2. Yah kann jangan sampe ty nya juga suka sama si kyuhyun ,plis kyu jgn hadi pho apalagi ini mrka udh nikah ….btw tolong banyakin lagi moment huntae nya thorr
    Jangan lama lama yha thor update nya hihihi..greget..semangat

    Ditunggu thor lanjutannya
    Fightaeng^^

    Disukai oleh 1 orang

  3. Yah kann jangan sampe ty nya juga suka sama si kyuhyun ,plis kyu jgn hadi pho apalagi ini mrka udh nikah ….btw tolong banyakin lagi moment huntae nya thorr
    Jangan lama lama yha thor update nya hihihi..greget..semangat

    Ditunggu thor lanjutannya
    Fightaeng^^

    Suka

  4. Ahhhh parahhhhhh!!!!!!
    Sumpah gue yang gila, ini mah si tae bisa-bisa yang selingkuh.
    Hunnnnn lu dimana? Hun istri lo ciumana ralat nempel bibir sama kyu. Gak terima, Vic ingetin kek sahabat lo… atau lo malah seneng” aja. Jahara…. authornya jahara… greget asal jangan parah,,, kiss hug, salah paham, tinggal bareng, bolehlah tapi jangan lebih dari itu… sampai ada… ada… ada… ada…. ada itunya. Getok Kak Keiko dah..

    Suka

  5. Ping-balik: Roman Scandal [Chapter 9/END] – KEIKO SINE

  6. Ping-balik: Roman Scandal [Hidden Story] – KEIKO SINE

  7. Kok aku malah kasihan sama sehun ya dan kayaknya di sini sebenarnya taeyeon yang salah.
    Aduuuh author-nim yoon jiranya kok belun muncul-muncul ?
    Penasaran sama chapter selanjutnya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s