Roman Scandal [Chapter 5]

RomanScandal

 

Roman Scandal, by Keiko Sine

Genre: Romance – Marriage Life – Riddle || PG-NC

Chaptered

Casts:

Kim Taeyeon, Oh Sehun, Cho Kyuhyun

Others.

DO NOT COPY OR PLAGIARIZE!

STORYLINE AND POSTER BELONG TO KEIKO SINE.

PREVIOUS: [Teaser][Chapter1][Chapter 2] –  [Chapter3][Chapter4]

 

“She had beautiful eyes. Deep and Dark. Her eyes were like a story. A story of a lake, calm, seamless but— lonely.”

***

Beberapa hari berlalu sejak insiden pengintaiannya dengan dokter muda itu untuk yang pertama kalinya. Taeyeon memilih untuk berdiam diri di rumah meskipun beberapa kali masih mengunjungi kediaman Vic. Bukannya apa-apa… tapi ia rasa perlu untuk— menenangkan diri.

Semuanya memang tak berjalan lancar seperti apa yang diinginkan, tapi… hal baiknya adalah dia jadi mengetahui kegiatan suaminya di luar rumah.

Malam ini ia terjaga lagi, setelah hujan lebat mengguyur kota Seoul beberapa jam yang lalu dan kini meninggalkan rintik gerimis kecil yang membasahi kaca jendela kamarnya. Taeyeon menghadap ke luar. Seolah pergi tidur tak semudah sebelumnya. Ia menyenderkan diri di tembok dan memaksa pikirannya menuju ke jalanan luar yang telah sepi oleh kendaraan.

Pikirannya sedang kacau, dan gerak-gerik Sehun beberapa hari ini membuat perasaan was-wasnya menjadi semakn parah. Seperti dua hari lalu, ia pulang dari kantor hanya dengan mengenakan jas tanpa dalaman kemeja, Taeyeon seperti akan gila pada saat itu juga.

Tapi alasan yang Sehun berikan cukup masuk akal, suaminya itu bilang bahwa kemejanya terkena percikan oli dari mesin fotocopy yang rusak. Entah yang dibilangnya itu jujur atau tidak— tetap saja membuat Taeyeon hampir kehilangan kesabarannya.

Rasa cemburu menggerogoti dadanya, seolah jika Taeyeon menahannya untuk lebih lama lagi ia akan bisa meledak.

Dilihatnya di atas tempat tidur, Oh Sehun tengah tertidur pulas dengan selimut menutupi hingga bagian dagunya. Pria tampan dengan segala kelebihannya, namun— Taeyeon harus sadar satu hal, bahwa tidak mudah untuk menjadi istri dari pria seperti ini.

Dia berdiri, hendak mengambil segelas air putih yang telah ia siapkan di atas meja dekat lemari pakaian, namun saat ia melihat sesuatu yang aneh berwarna merah muda yang berada di dalam saku coat musim dingin milik Sehun, Taeyeon berhenti lalu merogohnya cepat.

Dan betapa terkejutnya Taeyeon setelah menyadari bahwa itu adalah— sebuah kwitansi?

Tapi untuk apa? Apa yang suaminya beli?

Taeyeon segera membukanya— kalung?

Persetan!

Kertas berwarna pink itu adalah sebuah nota pembayaran sebuah perhiasan yang dipesan Sehun, dalam tanggalnya tertulis bahwa barang akan siap pada tanggal 23 September— berarti itu besok.

Tapi yang Taeyeon bingungkan adalah… Dia tidak sedang berulang tahun, dan anniversary pernikahan mereka telah lewat dua bulan yang lalu. Ulang tahun Eomma Sehun dan Eommanya pun masih lama.

Wanita itu mendesah berat dan segera mengembalikan kertas tersebut ke dalam saku coat milik Sehun sebelum melipatnya seperti semula. Jika pemikirannya memang benar— maka— Sehun membeli perhiasan tersebut untuk orang lain.

Merasa kepalanya akan pecah jika terus memikirkan hal ini, Taeyeon menggigit bibir bawahnya saat sekelebat ide muncul di kepalanya, jika dia sedang risau atau tidak bisa tidur, maka jawabannya adalah… pil biru itu lagi.

 

Hingga keesokan harinya…

.

.

Ruangan itu benar-benar tertutup sehingga Taeyeon tidak mendengar suara apapun— suara kendaraan atau apapun yang sedang berada di luar sana. Hanya tarikan dan hembusan napas Sehun. Merasa nyaman dengan prianya, sampai ia tak yakin apakah napas Sehun atau napasnya sendiri yang berhembus konstan dengan gerakan pinggul suaminya tersebut.

Mata Sehun menatapnya saat ia terengah dalam cahaya remang-remang. Mereka tidak dapat berpikir dengan jernih, kabur diantara kenikmatan dunia yang mereka ciptakan sendiri.

Sehun mengecupi bagian punggungnya dengan kedua tangan lelaki itu yang tak hentinya meremas, mengguncang, dan mencubiti bagian nipple Taeyeon.

Enghhh…

Sehun menaikkan tempo gerakan pinggulnya saat ia mendengar Taeyeon mendesah dan mengejar kenikmatan saat ia melakukan orgasme.

“S-sebentar lagi, sayang… aakkhh…”

Sehun mencium bibir Taeyeon saat menyemburkan cairan spermanya di dalam tubuh wanita itu. Menyalurkan perasaan hangat dan berdebar saat melakukannya dengan istrinya sendiri. Beberapa cairan yang tidak muat tertanam di vagina Taeyeon bahkan keluar membasahi seprei mereka.

Setidaknya, jatah pagi mereka kali ini tak berlangsung terlalu lama dan hanya memerlukan satu ronde untuk dapat membuat Oh Sehun turun dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi.

Sedangkan Taeyeon merasa dirinya benar-benar remuk. Insomnia, kelelahan, dan tekanan batin seolah membunuhnya dari hari ke hari. Diraihnya selimut putih yang telah tak berbentuk itu untuk menutupi tubuh polosnya. Lalu ia mengambil beberapa tissue di atas nakas untuk mengelap cairan Sehun yang tercecer di pahanya dan di sprei tempat tidur.

Sesaat Taeyeon berpikir tentang kehidupan, apakah… tugasnya menjadi seorang istri hanya untuk memuaskan hasrat suaminya saja? Jika boleh dibilang— Taeyeon telah kehilangan karirnya setelah kecelakaan lima bulan lalu itu terjadi. Setiap hari ia hanya melakukan hal-hal kecil yang ia suka tanpa memberikan impact bagi keluarga ini.

Mengapa?

Apakah Sehun benar-benar mencintainya? Mencintainya dan melarangnya melakukan pekerjaan yang ia sukai? Mencintainya namun membeli sebuah perhiasan yang tidak ada kaitannya dengan Taeyeon, begitu?

Taeyeon bergerak gelisah, dan dengan berhati-hati dia menegakkan punggungnya untuk bersandar headboard. Kekhawatiran jelas menguasai dirinya. Dia mulai menggeleng-gelengkan kepalanya dan bergumam sendiri. Menolak imajinasi terliarnya menjadi nyata.

Dan saat ia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka— Taeyeon segera mengarahkan pandangan kepada Sehun dan begitu pula dengan suaminya tersebut.

Sehun berjalan mendekat sambil bertanya-tanya mengapa Taeyeon menatapnya sambil mendelik seperti itu, “Ada apa, sayang?” tanya si pria.

Sontak Taeyeon menggelengkan kepalanya kaku, “T-tidak… hanya saja, Dokter Cho memajukan jam terapinya hari ini. Bukan pukul empat sore, tapi pukul satu siang ini.”

“Begitukah?” tanya Sehun kembali, “Pekerjaan dokter memang sangat padat dan jadwalnya tak terlalu pasti. Pasien rumah sakit selalu bertambah dan dengan kesulitan mereka masing-masing, menjadi seorang dokter pasti sangat sibuk. Kita harus memahaminya.” Sehun memelankan suaranya pada pengucapan kalimat akhir sambil mengusap puncak kepala Taeyeon.

Dan—

Maafkan, aku berbohong lagi.’ Seperti itulah ucapan hati Taeyeon saat merasakan tangan besar suaminya mengusap bagian atas kepalanya.

I can’t help, but my pretend keep torturing myself.

Ruangan kembali sunyi. Taeyeon tak tahu berapa lama mereka duduk dalam keheningan seperti ini. Jadi ia mulai melirik ke sekitar, mencari-cari objek yang setidaknya bisa ia buat bahan pembicaraan.

“”O-oh— Hun-ah… sudah hampir pukul tujuh dan aku belum membuatkanmu sarapan. Bersiaplah sayang, aku akan ke dapur dulu.” Taeyeon memunguti pakaiannya yang tergeletak di ranjang dan beberapa di lantai, sebagai isyarat bagi Sehun untuk meninggalkan ruangan tersebut selagi dirinya ‘membersihkan diri’.

.

.

-Roman Scandal-

.

.

Taeyeon segera bergegas mengganti baju dan mengambil coat tebalnya yang tergantung di samping lemari saat dokter pribadinya memutuskan sambungan telepon. Tak ia sangka Cho Kyuhyun akan sebaik ini padanya— padahal, mereka baru beberapa minggu saling mengenal, itupun tak terlalu dekat. Ataukah… mereka sudah sedekat itu sekarang?

#Plak!

Bodoh. Taeyeon segera menampar pipi kanannya sendiri saat pemikiran tolol itu dengan leluasanya muncul di kepala.

Dan untuk hari ini… ia harus memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada sang suami. Kelakuan Oh Sehun beberapa hari ini bisa dikatakan sangat tidak wajar membuat Taeyeon selalu berpikiran negative dan was-was setiap kali ia tidur di samping pria tersebut.

Pukul satu siang ini, persis seperti yang ia katakan kepada Sehun tadi— ia akan ke klinik dan meminta ‘bantuan’ kepada dokter pribadinya.

Segera Taeyeon mengambil kunci dan menyambar pintu apartmentnya. Memasuki lift untuk sampai di lantai dasar dan mengambil mobilnya. Setidaknya perlu 15 menit untuk sampai di klinik pada siang hari ini karena beberapa titik di kota Seoul pasti sangat padat untuk dilewati.

Angin musim gugur menyapa saat Taeyeon membuka kaca jendela mobilnya ketika ia berhenti di depan lampu merah. Hembusan anginnya meriakkan permukaan air di atas sungai yang terletak tak jauh dari samping jalan tersebut.

Dan jika perkiraannya benar, musim salju akan datang kurang dari dua bulan lagi. Taeyeon menyukai musim dingin. Suasana yang dingin dan putih salju yang terkesan monoton, pendiangan di ruang keluarga yang menghangatkan suasana— alih-alih ia berharap akan menemukan kehangatan itu di musim salju tahun ini juga. Karena mengingat keadaan hubungannya dengan Sehun yang tidak bisa dibilang ‘baik-baik saja’ beberapa waktu ini.

Dia berbelok memasuki halaman klinik saat dilihatnya dokter Cho juga barusaja keluar dari klinik tersebut sambil mengenakan coat musim dinginnya yang berwarna abu-abu.

Taeyeon menurunkan kaca mobilnya saat Cho Kyuhyun mengetuknya dari luar.

“Naik mobilku saja, aku takut kalau suamimu akan mengenali mobil istrinya saat kita membuntutinya nanti.”

Sontak Taeyeon mengangguk setuju. Ia tidak dapat mengambil resiko untuk dicurigai dan memperburuk suasana.

Di dalam mobil suasana menjadi sangat tenang sesaat setelah Taeyeon menceritakan tentang insiden kwitansi kalung yang ditemukannya tadi malam. Kyuhyun pun tak dapat menahan ekspresi wajah kesalnya mendengar wanita yang beberapa minggu ini mencuri perhatiannya tengah bersedih.

Wow.

Lihat apa yang ‘cinta’ dapat lakukan untuk memporak-porandakan perasaan seseorang. Salah satu alasan mengapa sampai sekarang dokter muda itu masih saja menyendiri adalah— karena ia tidak terlalu percaya dengan orang lain.

Percaya lalu dibohongi dan percaya lalu dihianati adalah pengalaman masa lalu kelamnya dengan seorang gadis SMA yang juga merupakan cinta pertamanya. Tapi seperti kata orang— cinta pertama tidak akan pernah berhasil.

Kyuhyun ditinggalkan dengan lelaki lain di sekolahnya dulu yang merupakan murid lebih popular dikalangan siswa-siswa sekolah. Dan siapa sangka, patah hatinya berlanjut hingga saat ini.

Hanya wanita ini—

Yang seolah dapat membuat hatinya melemas hanya karena melihat senyumannya, tatapan matanya, ataupun mendengar suara tawa khasnya. Namun kendati wanita yang disukainya telah menjadi istri pria lain yang ‘menyiakannya’— jujur saja Kyuhyun merasa sedikit tidak rela.

“Ini masih jam makan siang kantor ‘kan?”

Taeyeon melirik ponselnya guna mengecek jam, “Benar.” Dia mengangguk mengiyakan.

“Jika kita beruntung lagi— kita akan dapat melihat suamimu di meja cafetaria seperti beberapa hari yang lalu.” Ujar Kyuhyun lalu mematikan mesin mobilnya saat mereka berada tak jauh di seberang jalan depan cafetaria milik perusahaan Sehun. Jendela mereka biarkan tertutup dan sepasang kaca mata hitam bertengger di hidung dokter muda itu.

Namun… sudah lebih dari sepuluh menit mereka berada di sana, mereka tak melihat Sehun bersama gerombolan yang biasa makan siang bersamanya.

“Apa kau yakin bahwa suamimu masuk kantor hari ini?”

Taeyeon menggigit bibir bawahnya, perasaan tidak enak jelas tercetak di wajah wanita itu “Tadi— dia bilang dia pergi ke kantor.” Ucapnya pelan.

Oh bagaimana kalau kali ini Taeyeon juga ‘dibohongi’ oleh suaminya sendiri? Jika Oh Sehun tidak pergi ke kantor hari ini— lalu kemana? Terlihat saat ini Taeyeon tengah meremas ujung kain coatnya dengan sangat erat, mencoba untuk menyalurkan emosi.

Sedangkan Kyuhyun tak melewatkan sedetikpun pandangannya untuk melihat ke bagian cafetaria dan gerbang masuk gedung tersebut.

Hingga—

“I-itu… mobil Sehun.” Ucap Taeyeon secara tiba-tiba.

“Kau yakin?” tanya Kyuhyun.

“Iya, benar. Itu—“ sambung Taeyeon sambil menunjuk sebuah mobil yang barusaja keluar dari pintu gerbang, “Aku sangat hapal nomor plat mobil suamiku.”

Dan dengan kalimat tersebut, Kyuhyun segera menyalakan mesin mobilnya, melajukan dengan kecepatan sedang untuk mengejar mobil hitam milik suami dari pasiennya.

Kyuhyun mengemudikan mobilnya dengan sangat berhati-hati agar Oh Sehun tidak merasa bahwa dirinya tengah diikuti. Tak lebih dari lima meter jarak mereka. Kyuhyun menghela napas pelan, “Bukankah suamimu terkesan banyak menyembunyikan rahasia?”

Taeyeon tersenyum diantara helaian rambutnya yang terurai menutupi sebagian wajah, “Kurasa juga begitu.” Jawabnya singkat.

Ada banyak pertanyaan yang tersimpan di kepala Kyuhyun, seperti—

‘Mengapa kau biarkan suamimu bertindak sesukanya?’

‘Mengapa dia tak terlalu mengurus atau memperhatikanmu?’

‘Mengapa suamimu seolah tak menganggapmu sebagai istrinya?’

Dan…

‘Apakah sakit memendam itu semua?’

Namun Kyuhyun takut jika pertanyaannya malah akan membebani wanita itu.

 

Kyuhyun memelankan kecepatan mobilnya saat melihat mobil milik Oh Sehun hendak berbelok di sebuah tempat— Mall?

“Untuk apa Sehun pergi ke mall?” entah itu pertanyaan ditujukan untuk siapa, namun jujur saja Taeyeon sempat terheran ketika melihat suaminya pergi ke sebuah mall di kawasan Apegujong padahal saat ini masih memasuki jam kerja.

Mereka mengawasi dengan sangat hati-hati, tak ingin segalanya terbongkar hanya karena sebuah langkah konyol.

Saat berada di dalam mall, Taeyeon sebisa mungkin berjalan di belakang Kyuhyun, melihat dari balik bahu pria tersebut. “Dia naik.” Bisik Kyuhyun pada Taeyeon.

Mereka menaiki elevator untuk menyusul Sehun yang telah berada di lantai dua. Dan Taeyeon harus sedikit menajamkan pengelihatannya guna mencari keberadaan sang suami karena keadaan mall saat ini bisa dikatakan cukup ramai.

“Itu Sehun.” Bisik Taeyeon saat melihat wajah Sehun dari samping. Dengan cepat ia menarik Kyuhyun untuk duduk di salah satu kursi yang tersedia di depan toko kue, seolah menjadi detektif yang menyamar di kebanyakan film action yang biasa ia tonton.

Taeyeon melihat dari ekor matanya, Sehun berhenti di sebuah— toko perhiasan?

Sesaat Taeyeon ingat bahwa tadi malam telah menemukan sebuah nota pembayaran kalung dari dalam saku pakaian suaminya. Dan apakah Sehun kemari untuk mengambil kalung pesanannya?

“Kyu— dia masuk ke dalam toko itu.” Ucap Taeyeon sambil menunjuk sebuah toko perhiasan yang terlihat dari luar, transparan karena bagian luar dan pemisah antar toko hanya menggunakan sebuah kaca tembus pandang.

“Ceritamu yang tadi… jadi benar.” Kyuhyun membuka kaca mata hitamnya, menatap Taeyeon dengan lekat, “Apa tak sebaiknya jika kau pulang nanti— tanyakan saja— tanyakan semua pada suamimu.” Sambungnya dengan terbata-bata. Dilihatnya wajah Taeyeon telah memerah pertanda bahwa wanita itu tengah memendam amarahnya.

Kyuhyun mengulurkan tangan, dengan tanpa aba-aba menarik tubuh Taeyeon mendekat dan mendekap wanita itu dalam dadanya. Mencoba menenangkan semampu pria itu dapat lakukan.

Untuk sesaat— Kyuhyun jadi lupa antara posisi Dokter dan pasien yang mereka bawa. Karena melihat Taeyeon kesakitan adalah merupakan haknya untuk menenangkan.

“Stay strong, Taeyeon-ah.” Bisiknya tepat di telinga Taeyeon dengan lembut.

.

.

-Roman Scandal-

.

.

“Mengapa bicaramu jadi seperti ini, Taeng?” Sehun menaikkan sedikit nada suaranya saat merasa Taeyeon hanya bermain-main dengan kalimatnya sedari tadi.

Taeyeon mengangkat sudut bibirnya menjadi sebuah smirk, “Kenapa ya? Aku juga tidak tahu, emm… apa kau bisa membantuku bagaimana berbicara yang benar menurut ‘standarmu’?”

“Cukup Taeyeon!!”

Teriakan Sehun menggema di seluruh penjuru apartment tersebut.

Hingga ada keheningan saat ini, bahkan suara jam di ruang tengah pun berdetak dengan sangat menakutkan.

Si pria mendesah, diraihnya pundak sang istri untuk menatapnya lekat, “Kau lelah, Taeng… apa kau sudah minum obatmu hari ini?”

Deg…

            Deg…

Kalimat itu lagi.

‘Apakah Sehun menganggapku segila itu?’ ucap Taeyeon dalam hati.

“Aku—“ ujar Taeyeon seraya menunjuk dirinya sendiri, “aku pergi ke mall tadi siang, dan— kau tahu apa yang kutemukan? Aku menemukan CEO Oh Sehun tengah berada di dalam toko perhiasan dan membeli sebuah kalung. Jika aku boleh tahu… untuk siapa kalung tersebut, tuan?”

Sontak Sehun melepaskan genggaman tangannya, melangkah mundur. “Kau melihatku?” tanyanya.

Sedangkan Taeyeon mengangguk disela deru napasnya yang kian menggebu.

“Tidak seharusnya kau marah hanya karena ini, Taeng… Kalung itu adalah hadiah untuk pegawaiku—

“Pegawaimu?” sela Taeyeon cepat.

“Iya pegawaiku.” Jawab Sehun mengiyakan.

“Pecat dia.”

“Apa?” Sehun mendelik, urat-urat jelas tercetak di leher dan pelipis pria itu.

“Tidak mau, ‘kan? Kau yakin kalian hanya sebatas atasan dan bawahan?”

“Taeyeon… cukup.!” Ujar Sehun kembali. “Masuklah ke kamarmu.”

Benar ketika Taeyeon masuk ke kamar seolah menuruti ucapan suaminya, namun siapa sangka beberapa detik selanjutnya wanita itu kembali keluar dengan membawa coat dan kunci mobilnya.

#BLAMM!

Taeyeon menutup pintu apartmentnya dengan kencang, tak menghiraukan teriakan Sehun dari ruang tengah yang berniat untuk menghentikannya.

“Taeyeon!”

Oh haruskah? Haruskah Sehun kejar istrinya itu?

Saat Sehun keluar dari kamar setelah memakai coat musim dingin dan menyambar kunci mobil miliknya— Taeyeon sudah tak terlihat dimanapun. Dengan kata lain… ia telah kehilangan jejak istrinya.

 

Sedangkan di sisi lain Taeyeon tengah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tak dapat memikirkan tujuan lain selain apartment milik Victoria.

Taeyeon hendak mengambil ponselnya untuk mengabari sahabatnya itu bahwa dia akan menginap malam ini, tapi Taeyeon baru sadar satu hal— dia meninggalkan ponselnya di atas nakas.

.

.

-To be continued-

Author Note:

Annyeong! Chapter 5 is up!

Oh ya kalian ngerasa kalo di chapter ini alurnya kecepetan gk sih? Apa aku aja ya yg nganggep gitu? Hmm overall, thanks buat readers sekalian yg masih setia nungguin dan baca FF ini. LOL 😀

Aku gak ada apa-apa tanpa kalian semua. Dan untuk SILENT READERS bertaubatlah! Karena hidup itu pasti ada give and take. Saya buat cerita, kalian kasih feedback di kolom komentar. Adil kan..^^

Jangan lupa juga vote FF ini dengan cara comment, like, bagikan ke Facebook, Twitter, atau yg lain. 😀 Rekomendasikan juga FF ini ke teman-teman kalian yg sekiranya suka dengan pairing Hun-Tae.. 😀

Regard.

-Keiko Sine https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

21 thoughts on “Roman Scandal [Chapter 5]

  1. Tau tuh, kalung buat hadiah pernikahan. Baik banget si bos.
    Disini yang aneh di posisi tae dia gak normal (imajinasi dan kekhawatirannya sangat tinggi hingga cenderung dia berfikiran negatif). Tae emang belum sembuh dari traumanya.

    Suka

  2. Mkin pnasarn, pil biru it obat ap? Sehun slingkuh apa gak?? Trus taeyeon skt ap?? Endingnya sehun sma taeyeon ap kyuhyun thor. Gak sbr nunggu chapter slnjutny.
    Smngt thorr.

    Suka

  3. Kok makin lama sehunnya makin mencurigakan sihh 😦 …jd bingung sebenernya sehun bnrn selingkuh atau engga.. , btw mulai bermunculan nih konflik nyaa
    Next thor..ditunggu chapt selanjutnya~
    Fighting ^^

    Suka

  4. Ping-balik: Roman Scandal [Chapter 9/END] – KEIKO SINE

  5. Ping-balik: Roman Scandal [Hidden Story] – KEIKO SINE

  6. Itu kalung bknx buat asistenx yg mw tunangan klo g salah, makin ribet masalahx ..salah si sehun tllu cuek sih makax taeyeon marah n salah paham kaan .. ntr direbut kyuhyun si taex baru nyesel loh..
    Keren author bkin konflikx pgn baca trs😁😁

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s