Roman Scandal [Chapter 4]

RomanScandal

 

Roman Scandal, by Keiko Sine

Genre: Romance – Marriage Life – Riddle || PG-NC

Chaptered

Casts:

Kim Taeyeon, Oh Sehun, Cho Kyuhyun

Others.

DO NOT COPY OR PLAGIARIZE!

STORYLINE AND POSTER BELONG TO KEIKO SINE.

PREVIOUS: [Teaser][Chapter1][Chapter 2] –  [Chapter3]

“—keep looking at me, don’t leave me.”

***

Dia tahu ketika orang lain berbohong, mereka akan lebih memilih melihat ke arah lain saat berbicara padanya, atau menggerakkan tangannya sebagai penguat opininya. Dia tahu. Ketika Sehun tak lagi sering memujinya karena hal-hal kecil, dan selalu melihatnya bak orang idiot.

Membiarkannya menahan kesedihan karena dianggap gila dan meminum pil biru sialan itu setiap hari. Apakah Taeyeon terkesan terlalu baik untuk membiarkan ini semua terjadi padanya?

Dia mendecih pelan, mengangkat sebelah alis.

Wanita itu kini sedang berada di dalam sebuah mobil dengan dokter pribadinya. Menyusuri jalanan kota Seoul yang tengah diguyur hujan. Suasana canggung menyelimuti, Taeyeon sendiri tidak pernah hanya satu mobil dengan pria lain sejak kecelakan beberapa bulan lalu menimpanya. Dia menarik napas dan menghembuskannya pelan, membuat embun menempel di jendela kaca mobil.

“Apakah ini terlalu membosankan?” ucap Cho Kyuhyun dengan suara baritonenya. Dia melirik Taeyeon dari ekor matanya, kedua tangan tetap berada di atas kemudi.

Taeyeon menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab, “Tidak… aku hanya ingat kejadian masa lalu.”

“Seperti apa?”

“Terlalu banyak hal.” Taeyeon menyandarkan punggungnya, menoleh ke arah Kyuhyun yang tengah fokus mengemudi. “Dokter Cho— mengapa… mengapa anda sampai sejauh ini membantuku?”

Pria bermarga Cho itu tersenyum kilas, menggaruk pelipisnya sebentar, “Karena kau adalah pasienku, dan aku merasa bertanggung jawab atas kesehatan pasienku, ku rasa kau dan aku akan merasa lebih baik setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.” Ucap dokter muda itu berhasil membuat Taeyeon melongo. “Dan bukankah sudah ku bilang bagaimana harus memanggilku di luar tempat kerja?”

Taeyeon terkekeh, dia memandang lurus ke depan lagi, “Baiklah, Kyuhyun-ssi.”

Kekehan kecil Taeyeon membuat Kyuhyun menoleh ke arahnya.

Ini aneh.

Dokter muda itu merasa seolah telah mengenal Taeyeon dengan cukup lama. Seolah wanita itu adalah sesuatu yang hilang dari dirinya dan yang telah ia cari selama berabad.

Untuk sekali lagi, Cho Kyuhyun bukanlah seseorang yang mudah untuk menaruh hatinya pada siapapun. Awalnya hanya… sebuah perasaan ‘tidak tega’ karena seorang wanita harus dipaksa untuk menjalani terapi meskipun telah ia nyatakan ‘baik-baik saja’. Awalnya hanya perasaan ‘iba’ karena seorang wanita harus pergi berobat seorang diri meskipun telah mempunyai seorang suami. Namun— benarkah jika perasaan-perasaan itu telah berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam?

Kyuhyun pasti sudah gila karena jatuh cinta kepada seorang istri dari pria lain. Tapi jika memang benar… apa yang harus ia lakukan?

 

.

.

-Roman Scandal-

.

.

Oh Sehun menaruh berkas-berkasnya dalam sebuah map sebelum berakhir mengusap layar ponselnya untuk mengecek waktu. Sudah pukul 12.10 dan jam makan siang akan berakhir kurang dari 20 menit lagi. Pria dengan setelan baju bitu tua itu berdiri, keluar dari ruangannya dan berhenti di sebuah meja sebelum melenggang ke cafetaria.

“Sohee-ya, mari ke cafetaria… menu hari ini adalah bimbab kesukaanku.” Ucapnya akrab pada asisten pribadinya tersebut.

Yang diajak bicara segera membungkukkan dirinya singkat. “Tentu, Presdir, saya akan menyusul setelah meminta tanda tangan Manager Jung.” Wanita bermarga Jeon itu menjawab dengan sedikit kaku. Memang bukan yang kali ini saja atasannya itu mengajaknya makan siang bersama, tapi— yang membuatnya canggung adalah tatapan-tatapan dari pegawai yang lain.

Mereka semua akan melihatnya dari atas ke bawah. Menilainya, seolah ingin mengulitinya pada saat itu juga karena dikira ‘menggoda’ sang CEO.

“Baiklah, ku tunggu di meja yang sama dengan tim kita yang lain.” Dengan itu Oh Sehun segera berjalan menaiki lift untuk sampai di cafetaria lantai satu. Kaki jenjang dengan setelan baju dan sepatu elegan itu pasti dapat menarik perhatian siapa saja. Dan orang yang memakainya… itu bukanlah definisi dari orang-orang terbaik versi hallyu star, tapi dia adalah puncaknya hallyu star.

‘Presdir kita sangat tampan.’

‘Dia berjalan bak seorang model.’

 

Kira-kira seperti itulah bisikan-bisikan yang dapat Sehun dengar dari para laryawan wanitanya.

Sehun memasuki cafetaria dengan sedikit melihat ke sekitar, mencari dimana timnya yang lain sedang berkumpul. Dan saat Song Mino si kepala badan keuangan melambaikan tangan kepadanya sebagai sebuah isyarat, Sehun segera berjalan ke arah mereka.

Rekan timnya mengambil tempat duduk di meja sisi kanan ruangan bersebelahan dengan jendela kaca besar yang terpasang di sana. Pilihan sekretaris Park, memilihnya dengan alasan bahwa tempat duduk itu juga sangat dekat dengan AC. Dia orang yang tidak terlalu suka dengan hawa panas ngomong-ngomong.

 

“Presdir Oh.” Ucap mereka berempat serentak sambil membungkuk singkat.

Mengambil tempat duduk di sebuah kursi kosong, Sehun tersenyum sebelum berujar, “Duduklah… lanjutkan makan siang kalian. Senang rasanya melihat karyawanku bahagia di tempat kerja.”

“Presdir juga terlihat bahagia, anda tak lagi terlihat lesu saat di kantor.” Jawab sekretaris Park Chanyeol sambil menyenggol dua rekannya yang lain, sedangkan Song Mino hanya mengangguk setuju.

Sehun menyandarkan punggungnya, lalu menatap orang-orang yang berada di sana satu per satu. “Kehidupanku sudah lebih membaik akhir-akhir ini…” dia menyimpan ponselnya dalam saku celana sebelum melanjutkan, “…hanya itu.”

“Eng… Presdir, anda tidak makan?” Pertanyaan dari sekretaris Park sontak membuat Sehun menghentikan senyum bodohnya, dia melihat ke sekeliling sebelum mengiyakan.

“Benar juga… aku belum mengambil—

“Ini untuk anda, Presdir.” Dengan secara tiba-tiba semangkuk bimbab sudah berada dihadapannya lengkap dengan sepasang sumpit. Sehun mengarahkan pandangannya ke belakang untuk melihat siapa orang yang telah membawakan makanannya.

Wajah wanita itu tersenyum saat Sehun mendongak ke arahnya, “Oh— terima kasih Sohee-ya.” Sehun mengambil mangkuk miliknya dari tangan Sohee, meletakkan bimbabnya di atas meja.

Jeon Sohee mengambil tempat duduk berseberangan dengan Sehun. Dia tersenyum kepada atasannya yang lain lalu mulai menyendok makanannya.

“Ya— Sohee-ssi, apakah persiapanmu sudah matang?” Sekretaris Kim Jongdae mengambil gelas air miliknya, melihat ke arah Sohee sambil menunggu jawaban wanita yang lebih muda darinya itu.

Sedangkan wanita yang tengah mengunyah telur gulung itu tersenyum simpul sebelum menjawab, “Tentu sudah, Sekretaris Kim.”

“Persiapan apa?” Tanya Mino.

“Aigoo… para bawahanku baru saja mengatakan kalau Jeon Sohee akan mengadakan pesta pertunangan minggu depan.”

“Benarkah? Wah… selamat Sohee-ssi.” Ujar Mino. “he, he, he… apakah hanya aku saja yang baru tahu tentang kabar ini?” Melihat rekan-rekannya yang lain hanya diam dan menatap bosan kepadanya menjelaskan bahwa pertanyaannya barusan memang benar. “Hanya aku yang tidak tahu? Benarkah? Presdir Oh juga?”

Sehun tertawa remeh, “Tentu saja aku tahu, eeyy… Sohee kan asisten pribadiku.”

Mereka semua tertawa, menganggap kejadian ‘kurang update’ Mino adalah hal lucu yang pernah mereka temui.

“Tidak perlu seperti itu, Mino sajang-nim… ini bukanlah hal yang besar.” Ucap Sohee berusaha untuk memperbaiki suasana.

..

..

..

 

Sedangkan di sisi lain— dalam sebuah mobil, Kyuhyun dan Taeyeon sedang memperhatikan suasana cafetaria yang terlihat dari jendela kaca itu sejak satu jam yang lalu. Meskipun mereka tidak dapat mendengar apa yang orang-orang itu bicarakan— tapi dengan melihat gerak-gerik orang-orang itu… membuat Taeyeon menggertakkan giginya. Apalagi melihat ada satu wanita yang membawakan makan siang Sehun dan duduk tepat berseberangan dengan suaminya tersebut.

“Apakah wanita itu yang bernama Yoon Jira?” tanya Kyuhyun setelah beberapa saat hanya diam mengamati.

“Bukan.” Jawab Taeyeon pelan, meskipun wajahnya sedatar lapisan es di musim salju, bagian dalam dadanya seolah tengah dibakar dengan batu bara. “Mungkin dia hanya salah satu pegawai di kantor suamiku.”

“Tapi ku rasa mereka cukup dekat.”

Kalimat Kyuhyun seolah membawa Taeyeon ke dalam fantasi terliarnya. ‘Benarkah?’ tanya wanita itu dalam hati.

 

Dan— apakah terlalu kejam bagi Kyuhyun untuk setidaknya ‘memanfaatkan’ kejadian ini? Taeyeon deserves better than this. Menurutnya, Oh Sehun adalah pria yang paling tidak tahu diuntung di dunia ini. Dia memiliki harta, posisi, dan istri sebaik Taeyeon… tapi— pria itu… sudahlah, Kyuhyun tak ingin memikirkannya lebih jauh.

Karena wanita di sampingnya ini lebih membutuhkan perhatiannya untuk saat ini. “Apakah kau baik-baik saja, Taeyeon?”

“Dokter Cho… ku rasa kita kembali saja, cukup untuk hari ini. Lagipula kita tidak akan melihat Yoon Jira di kantor suamiku, wanita itu tidak akan berani keluar dihadapan publik dengan mudah.”

Nada suara Taeyeon menggetarkan bagian dalam Kyuhyun. Meskipun dia bukanlah seorang wanita, namun melihat Taeyeon seperti ini seolah membuatnya ikut merasakan apa yang wanita itu rasakan. “Baiklah… kita kembali.” Gumam Kyuhyun pelan.

Dia dan Taeyeon tidak berbicara dalam perjalanan melewati Hongdae. Dalam kebisuan, ia menyetir sambil menatap ke arah langit, warna biru dan putih yang sambung menyambung tak ada habisnya. Seolah dia bisa melihat lengkung langit dan bertanya-tanya bagaimana orang bisa punya pemikiran bahwa bumi itu datar saat melihat lengkung kaki langit yang seperti ini.

Kyuhyun sebisa mungkin tidak memikirkan Taeyeon dan kemarahannya yang tersembunyi sehingga akan membuat keadaan menjadi lebih buruk. Dia tahu bagaimana disakiti, bahkan lebih dari ‘tahu’. Jadi ia diam…

“Maafkan aku, Kyuhyun-ssi.” Ucap Taeyeon pelan dengan wajah melihat ke samping luar mobil, tak ingin menatap langsung ke arah Kyuhyun.

“Maaf untuk apa?”

“Untuk membawamu masuk ke dalam urusan masalahku… aku hanya—

“Tidak perlu meminta maaf Taeyeon-ssi.” Kyuhyun menginjak pedal rem saat mereka berhenti di depan lampu merah, “Sudah kukatakan kalau kau adalah pasienku. Dan… beri tahu aku jika aku sudah terlalu jauh ikut campur dalam masalahmu.”

Kyuhyun menginjak pedal gas saat lampu berubah hijau, masih tak bisa mengalihkan matanya dari langit atas. Tak disangka… mereka duduk berdampingan dalam sebuah mobil, namun serasa jarak mereka sangat jauh. Jika boleh jujur, Kyuhyun mempunyai banyak pertanyaan untuk Taeyeon, tapi yang ia prediksikan— ia sudah tahu seperti apa jawabannya.

 

.

.

-Roman Scandal-

.

.

Senja telah berganti dengan warna gelap saat Taeyeon memutuskan untuk pulang ke rumah. Cahaya toko menyala saat malam bergerak semakin larut begitu pula dengan lampu-lampu jalan. Wajahnya berubah serius dan mataya meredup. “Apakah ini adalah hal wajar yang dilakukan oleh sepasang suami istri dalam kurun waktu pernikahan enam bulan?”

Sesuatu dalam dirinya menjawab, tidak.

Taeyeon menggigit bibir, kemarahannya kembali muncul saat perasaan cemburu itu melanda dirinya. Tapi jika dibiarkan terus seperti ini… ia akan sama saja dengan anak kecil yang benci melihat eommanya memuji anak lain.

Idiot.

Sangat kekanakan.

Bagaimana bisa seorang wanita murahan membuatnya kalang kabut seperti ini? Membayangkannya saja sudah membuat Taeyeon naik pitan. Apalagi harus menyebut namanya.

Dia mengangkat tangan, mengemudi hanya dengan tangan kanannya saja. Sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk mengelus pelipis mencoba menenangkan diri.

Taeyeon membelokkan mobilnya menuju parkiran apartment. Lalu berjalan dengan langkah gontai menuju rumahnya yang berada di lantai 10 apartment ini. Berjalan seolah menyeret kedua kakinya sendiri.

Dia sudah tak terkejut lagi menemukan sepasang sepatu kerja suaminya yang telah tersusun di rak bagian atas. Juga suara televisi yang menyala di ruang tengah. Pasti Sehun telah pulang dari pukul lima sore tadi, dan Taeyeon harus siap memberikan jawaban atas pertanyaan Sehun karena pulang lebih larut darinya.

“Taeng… kau baru pulang?”

Bingo.

Dugaan Taeyeon menjadi kenyataan. Dilihatnya sang suami tengah membawa secangkir teh dalam balutan celana jeans pendek dan kaus putih polosnya. Taeyeon membalikkan badan menghadapnya, sebisa mungkin menarik ujung bibir menjadi sebuah senyuman. “Iya— aku barusaja dari tempat Victoria.” Ujarnya berbohong.

“Begitukah… eung, kau sudah makan malam? Aku tadi mampir ke restaurant Prancis favoritmu untuk membeli Beef barbeque.”

Dengan cepat Taeyeon menggeleng, “O-oh, maaf sayang… aku sudah makan dengan Vic tadi.” Sesuatu dalam dadanya berteriak kesakitan karena harus terus berbohong kepada suaminya. Tapi apa boleh buat… bukankah akan lebih parah jadinya jika Taeyeon mengatakan telah makan malam bersama dokter pribadinya?

It’s driving me insane!

Teriak Taeyeon dalam hati.

Dan Sehun seolah merasa ada sesuatu yang aneh dengan istrinya. Ditatapnya wanita itu dari atas sampai bawah, seolah menilai. “Apakah kau sedang sakit, Taeng? Kau terlihat pucat.” Sehun meletakkan cangkirnya di atas nakas lalu berjalan mendekati Taeyeon. Menempatkan tangannya di bahu dan dahi sang istri.

“Tidak…” Taeyeon terkekeh tak bersemangat, “mungkin aku hanya kelelahan… aku melakukan beberapa hal bersama Vic tadi.”

Sehun mengangguk menanggapi. Ditariknya sang istri mendekat lalu memeluknya dengan erat. Sesekali diusapnya punggung dan puncak kepala Taeyeon, seolah disanalah tempat ternyaman baginya.

Namun terasa seperti sesuatu yang aneh. Taeyeon merasakan tak seperti biasanya, seolah ada sesuatu yang hilang diantara mereka. Jadi ia menarik diri, mengakhiri kontak fisik diantara mereka.

“Ku rasa— aku benar-benar butuh istirahat.” Ucapnya sambil melepaskan tangan Sehun dari pundaknya. “aku akan tidur lebih dulu.”

Taeyeon berjalan ke kamar mereka seraya membuka jaket. Ditutupnya pintu kamar dengan pelan lalu berjalan ke meja riasnya, menatap pantulan dirinya sendiri, dan ia merasa kasihan.

Kotak transparan yang tergeletak di atas nakas itupun menarik perhatiannya, dibukanya tutup kotak tersebut, dan untuk yang sekali lagi— ia meminum dua butir pil bitu itu sekaligus.

.

.

.

-To be continued-

Author Note:

Sudah mau menuju ke konflik.. yeayy!^^ dilanjut atau gak? Kalian yg menentukan.

Dan tolong ya bagi yg merasa dirinya SIDER, tolong dipikir sekali lagi untuk meninggalkan komentar setelah kalian membaca FF saya. Karena di bagian akhir chapter nanti pasti akan saya PROTECT dan password hanya akan saya bagikan kepada readers yg sudah setia comment di chapter-chapter sebelumnya saja.

Jadi jangan ada yg ngotot minta password, padahal dirinya SIDER. Hal ini udah pernah terjadi berulang-ulang, dan saya gk mau ini terjadi lagi untuk yang ke 1000000000 kali. 😀 LOL

So pls don’t forget to RCL. Read. Comment. Like.

See you~

Regard.

-Keiko Sine https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

19 thoughts on “Roman Scandal [Chapter 4]

  1. Aku kalau baca ff nya kk emg suka bikin kesimpulan sendiri. Jadi si taeng kan udah males bat liat obat nya, dia bilang dia jg muak sma obatnya. Tapi knpa diminum juga. Apa si taeng ini punya penyakit jiwa masokis ? Atau apa lah itu. Suka menyakiti diri sendiri??? 😥😥😥
    Praduga tak berdasar 😅😅😅

    Suka

  2. Ping-balik: Roman Scandal [Chapter 9/END] – KEIKO SINE

  3. Ping-balik: Roman Scandal [Hidden Story] – KEIKO SINE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s