Roman Scandal [Chapter 2]

RomanScandal

Roman Scandal, by Keiko Sine

Genre: Romance – Marriage Life – Riddle || PG-NC

Chaptered

Casts:

Kim Taeyeon, Oh Sehun, Cho Kyuhyun

Others.

DO NOT COPY OR PLAGIARIZE!

STORYLINE AND POSTER BELONG TO KEIKO SINE.

“—people smile with an effort, hiding the truth as if they’re happy.”

***

Suara angin menderu di malam yang dingin. Menampar-nampar kaca jendela hingga menerbangkan dedaunan yang mengering. Suasana yang membuat seorang wanita terjaga, dengan lengan kekar suaminya yang membungkus tubuh kecil itu. Taeyeon melenguh, merasakan nyeri di belakang punggungnya, jadi ia memalingkan badan, bergerak ke kiri.

Masih tak nyaman. Dengan terpaksa ia membuka mata, bergerak ke samping tempat tidur, mengambil kembali piyama tidur yang telah jatuh ke lantai karena kegiatan panas mereka beberapa jam yang lalu. Menyalurkan kepuasan masing-masing, dan Oh Sehun dengan libidonya yang sedang menguap setelah perbincangan singkat mereka, memimpin permainan hebat yang dapat membuat Taeyeon melenguh seksi.

Taeyeon merasa bagian bawahnya telah terkoyak, rasanya nyeri dan perih bukan main. Memakai gaun piyama pendeknya dengan asal, dia bergerak berjalan menuju kamar mandi yang berada di ruangan tersebut. Duduk di sebuah kloset dan—

*bluurr

Cairan sperma Sehun yang tak habis tertanam di rahimnya dengan terpaksa ia keluarkan. Merasakan cairan hangat itu mengalir di bagian tersensitifnya dan paha membuat Taeyeon menggigit bibir bawahnya geli.

Taeyeon berdiri. Di depan wastafel ia melihat pantulan dirinya sendiri, Taeyeon menyentuh bagian leher dan dada, tanda husky itu tercetak dengan jelas disana.

Tidak.

Ini memalukan jika sampai terlihat oleh orang lain.

Dengan nekat, Taeyeon menuju bathup. Mengisinya dengan air hangat dan sebisa mungkin berusaha untuk menghilangkan tanda-tanda sialan ini. Taeyeon mengunci pintu kamar mandi lalu membuka seluruh pakaiannya, sejenak ia merasa kedinginan tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh itu, namun di detik selanjutnya rasa dingin itu berganti dengan kehangatan yang menguap dari air bathup yang telah ia campur dengan sabun beraroma lilly kesukaan suaminya.

Bersandar lalu mendongakkan kepalanya, Taeyeon suka suasana ini. Nyeri di tubuhnya pun berangsur-angsur menghilang. Semacam aroma yang menyenangkan dan ingin selalu ia ingat.

Dan setelah beberapa menit berendam, Taeyeon memutuskan untuk menyudahi kegiatan ini. Ia mengambil handuk, mengeringkan tubuh lalu memakai kembali pakaiannya.

Tubuh kecil itu menggigil dalam handuk wool tebal. Gila memang jika dipikir, siapa orang yang mau mandi pada pukul satu tengah malam. Namun hanya ini yang dapat Taeyeon pikirkan untuk menghilangkan tanda husky ini di tubuhnya.

Dia berjalan ke depan meja rias, duduk di kursi dan melihat pantulan dirinya sendiri di depan cermin. Untuk sesaat dia langsung melihat ke arah kotak transparan itu lagi. Dan tanpa pikir panjang— Taeyeon mengambil dua butir pil biru itu dan menelan keduanya sekaligus.

Diraihnya botol air yang terletak di atas nakas lalu meminumnya guna menyamarkan rasa pahit di lidah.

Meminumnya dengan kasar, hingga tak sengaja tenggorokannya tersedak . Taeyeon terbatuk, dia memegangi dada dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanan berusaha untuk meraih botol air itu kembali. Hingga dengan perlahan… wanita itu berhasil menstabilkan napas lalu meminum kembali air dengan perlahan.

Taeyeon berdiri dari duduknya lalu melangkah menuju tempat tidurnya. Disana telah terbaring Oh Sehun yang tengah tertidur tanpa sehelai benang pun. Melihatnya membuat pipi Taeyeon kembali memerah. Jadi di tariknya selimut itu sampai batas dagu suaminya, berusaha membuat Sehun lebih nyaman.

Hingga Taeyeon memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di samping suaminya, mengaitkan tangannya di lengan kekar itu dan kembali mencoba untuk tidur.

 

.

.

-Roman Scandal-

.

.

Sehun keluar dari kamar dan menutup pintu dengan tergesa, diraihnya tas kerja dari tangan sang istri lalu mencium kedua sisi pipi dan bibir Taeyeon dengan cepat.

“Aku berangkat, sayang.”

“Ne… hati-hati, annyeong..!”

Meraih kenop pintu, Sehun menariknya perlahan sebelum menyadari sesuatu, “Taeng… jangan lupa untuk datang ke klinik hari ini.”

Sontak Taeyeon mendongakkan kepalanya, berkedip beberapa kali sebelum mengangguk menanggapi. “Hm.” Gumamnya.

Sehun tersenyum lalu keluar dan menghilang dibalik pintu apartment.

Sejenak Taeyeon berpikir, dia— pria itu tak pernah lupa untuk menyuruhnya pergi ke klinik dan melakukan terapi. Mengapa? Apakah itu benar-benar tindakan ‘perhatian’ seorang suami kepada istri? Atau— ada sesuatu yang lain… yang menjadi alasan mengapa Taeyeon selalu terbangun dari tidur malamnya.

Dia mendesah, melemparkan tangan di atas udara.

Ini masih satu setengah jam sebelum klinik buka untuk beroperasi, dan jadwal terapinya adalah hari ini pada jam 4 sore nanti. Jadi tak ada salahnya jika Taeyeon memutuskan untuk mengunjungi Victoria sekarang.

Setelah membersihkan peralatan makan dan mengganti baju, Taeyeon mengaplikasikan make up dan menyisir rambut panjangnya. Dengan celana jeans dan kemeja berwarna cream wanita itu terlihat sangat anggun. Diraihnya sebuah tas berwarna hitam lalu menyambar kunci mobil yang berada di atas meja rias.

Pagi ini bisa dikatakan cukup cerah, angin musim semi menyambutnya saat ia keluar dari pintu apartment dan berjalan menuju dimana mobilnya terparkir.

Mengenai sahabatnya, Victoria, dia adalah wanita hangat yang sangat bersemangat. Jujur dan malah terkesan blak-blakan, namun Taeyeon menyukainya, karena bagi mereka persahabatan adalah tentang ‘kau-dan-aku’, juga ‘mari-saling-terbuka’. Itu adalah moto yang mereka pegang selama ini.

Dan— takoyaki.

Benar.

Victoria sangat menyukai makanan asal Jepang tersebut. Jadi Taeyeon memutuskan untuk mampir ke restaurant Jepang langganannya guna membawa sedikit bawaan ke tempat sahabatnya.

‘Yakiniku Resto’

Begitu nama restaurant yang terpasang dengan tulisan besar di papan besar yang dipasang di depannya. Taeyeon masuk ke dalam dan memesan dua porsi takoyaki untuk dibawa pulang.

Sembari menunggu, ia duduk di sebuah meja yang terletak di samping jendela kaca yang menghadap keluar. Jika dipikir lagi… Taeyeon ingat tempat ini. Di seberang sana, terdapat sebuah halte yang biasa ia gunakan untuk menunggu bus bersama Victoria setelah makan di restaurant ini.

Sedikit mengulas memori, Taeyeon rasa seolah melihat dirinya sendiri dan Victoria empat tahun lalu saat mereka masih di bangku kuliah. Dengan menggunakan jaket dan syal musim dingin duduk berdampingan di kursi halte, satu earphone mereka gunakan bersama, terpasang di masing-masing telinga kanan dan kiri.

Tertawa saat membicarakan hal-hal yang lucu juga konyol. Namun— tawa itu sontak menghilang setelah Taeyeon seolah melihat seseorang sedang duduk di kursi itu. Membuyarkan lamunannya.

Bukankah itu…?

“Yoon Jira?” desis Taeyeon pelan.

Apakah ini benar-benar nyata? Taeyeon mengedipkan matanya beberapa kali. Dan saat konsentrasinya buyar, sebuah bus melintas di depan halte itu, dan saat busnya tak lagi menghalangi pandangannya— wanita sialan itu menghilang.

“Permisi…”

Suara pelayan menginterupsi kegiatan Taeyeon, dengan cepat wanita itu berdiri dan tersenyum canggung. Diambilnya paper bag berisi takoyaki pesanannya dari tangan pelayan itu. Taeyeon berjalan keluar sambil menggerutu memaki dirinya sendiri. Sejak kapan pelayan tadi berdiri di sana dan mengawasinya melamun bagai orang idiot? Itu pasti sangat memalukan.

Perlu setidaknya sepuluh menit berkendara untuk sampai ke tempat tujuan. Taeyeon membelokkan mobilnya di sebuah perempatan dan melajukan mobilnya ke basement parking area apartment Victoria.

Keluar dari mobil lalu berjalan menuju lift untuk sampai di lantai 10 dimana rumah sahabatnya itu berada. Taeyeon menenteng tas di tangan kiri dan paper bag takoyakinya berada di tangan kanan. Dan dengan susah payah ditekannya bell apartment itu tiga kali.

“Sebentar…”

#cklek

“Oh Taeng…” ujar Vic setelah membukakan pintu.

“Pesan antar…” goda Taeyeon sambil mengangkat paper bag berisi takoyakinya.

Vic tersenyum diantara helaian rambut panjangnya yang tergerai, baju wanita itu tertutup oleh sebuah apron hello kitty warna pink, pertanda bahwa Vic sedang memasak.

“Kubawakan takoyaki kegemaranmu.” Ucap Taeyeon saat mereka memasuki apartment besar itu. Tinggal di Los Angles selama bertahun-tahun pasti menjadi sebuah halangan sendiri bagi Victoria seperti memakan makanan lokal contohnya.

“Benarkah? Aku juga sedang memasak, Taeng.”

“Apa yang kau masak?”

“Spaghetti.” Ucapnya sambil menaruh saus tomat yang telah ia masak di atas pasta itu.

Taeyeon menata takoyaki di atas dua buah piring, lalu berujar pelan, “Tidak baik makan makanan seperti itu setiap hari, Vic…” dia mengambil satu bola takoyaki lalu melahapnya sekaligus, “Ini makanlah dengan takoyaki.”

“Hm… baiklah, kau seperti itu tiri.” Guraunya, “Setidaknya ibu tiri akan cuek saja dan tak secerewet ini. Haha.”

Victoria mengambil tempat duduk berseberangan dengan Taeyeon, ikut memakan sarapannya.

“Sebenarnya, aku sangat merindukan makanan seperti ini. Karena kau tahu— sangat sulit untuk menemukannya di tempatku.”

Taeyeon mengangguk menanggapi, “Kau benar… jadi, makanlah selagi bisa.”

“Hm. Gomawo.” Vic menyendokkan satu bola takoyaki lalu melahapnya bersamaan dengan spaghetti, rasanya seperti surga.” Eum… ini enak sekali.”

Taeyeon tersenyum, melihat sahabatnya makan dengan baik membuat moodnya kembali naik setelah kejadian tak mengenakkan di restaurant beberapa waktu lalu.

“Jadi— selama aku di luar negeri, apa saja yang telah aku lewatkan?”

Taeyeon meletakkan gelas berisi air di samping piringnya, mengendikkan bahu, “Aku juga tak tahu banyak… hanya saja kurasa teman-teman seangkatan kita telah menjalani kehidupan mereka masing-masing dengan baik. Changmin sudah tak lagi mabuk dan membuat onar, bahkan dia sekarang telah bekerja di perusahaan kakeknya.”

“Yaishh… anak kaya manja pembuat masalah itu.” Sela Victoria.

“Lalu… Yujin meneruskan usaha salon Ibunya, dan masih banyak lagi.”

“Aah… syukurlah.” Sambungnya, Vic mengecek ponsel saat benda itu bergetar. Menampilkan sebuah memo pengingat di sana.

`Ulang tahun Bibi Mei`

 

Benar. Ini adalah ulang tahun bibinya.

“Eum… Taeng, apakah kau ada acara setelah ini?”

“Setelah ini tidak ada, tapi… Aku— aku harus ke klinik nanti sore.”

Victoria menggeleng, “Sore masih lama, ini masih mau menjelang siang.” Ucapnya cepat, “Bisakah kau menemaniku ke mall? Aku harus membelikan sesuatu ke pesta ulang tahun Bibi Mei nanti malam.”

“Jika tidak terlalu lama— aku bisa.”

“Benarkah? Yeay!” Vic berteriak senang, bahkan wanita berambut pirang itu sampai bertepuk tangan sendiri. “T-tapi— tunggu dulu… untuk apa kau ke klinik? Siapa yang sakit?”

Taeyeon hanya bisa tersenyum canggung menanggapi pertanyan bertubi-tubi yang diberikan Victoria. Dia terkekeh pelan sebelum menjawab, “Aku.”

“Kau? Omo!” Vic sontak berdiri, lalu mengecek tubuh Taeyeon dengan tangannya sendiri, bergerak gelisah. “Apa yang salah? Kau sakit apa, Taeng? Jadi benar… aku telah melewatkan banyak hal.”

“Tidak perlu panik… aku hanya akan menjalani terapi.”

“Terapi? Tapi— untuk apa?”

Taeyeon menghembuskan napasnya, sedikit menyunggingkan bibir sembari menjawab, “Untuk banyak hal… beberapa waktu yang lalu aku telah mengalami kecelakaan. Dan Sehun memintaku untuk terus menjalani terapi karena menurutnya aku masih ‘shock’.” Taeyeon memberikan sedikit penekanan pada kata terakhirnya.

“M-masih shock?” ulang Vic bak burung beo. “Tapi ku rasa tidak ada yang salah padamu… apa yang telah dipikirkan lelaki tolol itu?!” tak sadar Vic telah menaikkan nada suaranya.

Taeyeon hanya bisa menggeleng, memaklumi bagaimana reaksi Victoria yang ia sendiri merasa sudah terlalu banyak melewatkan hal di sini, bagai keledai bodoh yang tersenyum ke arah Taeyeon tanpa mengetahui masalah apa yang telah dilewati sahabatnya itu.

“Mengapa kau tidak berkata kepada Sehun bahwa kau sudah baik-baik saja?” sambung Vic.

“Sudah… aku sudah mengatakannya, tapi suamiku tidak berpikiran demikian.”

 

.

.

-Roman Scandal-

.

.

Toko perhiasan di Myeongdong menjadi tujuan mereka. Victoria sedang berbincang dengan salah satu penjual di sana sedangkan Taeyeon tengah melihat-lihat kalung yang terpajang indah di salah satu etalase.

“Bagaimana yang ini, Taeng?” suara Victoria bertanya padanya, sahabatnya itu mengangkat sebuah kalung dengan liontin berbentuk bulan separuh.

“Bagus, tapi… bukankah itu terlalu simpel?”

Dan hal lucunya adalah, Vic selalu menuruti apa kata yang keluar dari bibir Taeyeon. Seperti saat ini, Vic langsung meletakkan kalung pilihannya dan meminta si penjaga toko untuk memilihkannya model yang lain.

“Kalau ini, Taeng?”

Vic kembali berujar padanya, kali ini dia membawakan sebuah kalung dengan liontin berbentuk pohon dengan mata-mata berlian menjadi dedaunannya.

“Indah… yang ini bagus.”

Mendengar pernyataan Taeyeon membuat senyum Victoria merekah semakin lebar. “Baiklah kalau begitu… chogiyo… aku ambil yang ini.” Ujarnya sambil sedikit berlari ke meja kasir.

Tak lama kemudian Vic kembali dengan sebuah kotak berwarna merah untuk tempat kalung dan sebuah nota sekaligus surat kepemilikan perhiasannya.

Mereka keluar dari toko tersebut dan mengambil jalan kiri. Beberapa pedestrian lain juga melakukan hal yang sama dngan mereka. Beberapa duduk di kursi depan toko, dan yang lain berjalan dengan sebuah headphone di telinga mereka.

“Taeng, aku haus. Kau mau es krim? Aku yang traktir.” Ujar Vic sambil mengangkat tas kedua jarinya membentuk ‘V’.

Dan tanpa pikir panjang lagi Taeyeon segera mengangguk menyetujui. “Hm, baiklah.”

Mereka berbelok di sebuah café, lalu mengambil tempat duduk di paling ujung ruangan menghadap ke jendela. “Kau tunggu di sini, biar aku yang pesankan.”

Taeyeon tersenyum, “Baiklah.”

Dia menghadap ke jendela luar. Jika dipikir lagi… Taeyeon jadi ingat masa mudanya. Ia akan kemari dengan teman-temannya setelah pulang sekolah ataupun saat weekend. Duduk di sebuah café sambil memesan macchiato kesukaannya dan membicarakan hal-hal yang keren juga menyenangkan bersama teman-temannya.

Menerawang masa lalu, Taeyeon seolah dapat melihat dirinya sendiri memakai seragam sekolah Sekang High School bersama ketiga temannya. Berjalan beriringan sambil sesekali tertawa di jalan Myeongdong ini. Mereka menertawakan setiap kejadian lucu yang terlintas di depan mereka ataupun hanya sekedar membicarakan gossip murahan sekolah. Hingga tawa mereka mendadak terhenti saat melihat—

Gadis itu… mengapa ada di sini?

Taeyeon melihat dirinya sendiri tengah kebingungan saat teman-temannya yang lain berjalan mendekati gadis itu sambil menenteng tas sekolah masing-masing. Mereka semua tersenyum remeh ke arahnya, mendorong pundak, hingga meludah ke arahnya.

Dan pada saat itu yang dapat Taeyeon lakukan hanyalah diam.

Dia tak tahu mengapa anak-anak di sekolahnya membenci seorang gadis hingga seperti itu. Dan ia tak tahu mengapa pada saat itu ia hanya diam… tak memihak siapapun, bahkan teman-temannya sendiri.

“Yoon Jira adalah seorang anak pelacur, bukan begitu?”

“Dia kaya karena Eommanya menjual tubuhnya pada para lelaki hidung belang.”

 

Kalimat-kalimat itu… bergema di kepala Taeyeon saat ia lebih mencoba untuk mengingat kejadian masa lalu.

“Yoon Jira?” bisik Taeyeon pada dirinya sendiri.

Benar.

Si cupu di sekolahnya dulu.

Si anak pelacur.

Kini telah bertransformasi menjadi seorang ‘wanita’, dan telah mencoba untuk merebut suaminya sendiri.

Bajingan itu…

 

“Taeng, apa yang salah denganmu?” suara Vic membuyarkan lamunannya. Victoria menaruh nampan berisi dua mangkuk es krim dan satu posri waffle.

“T-tidak… aku hanya seperti melihat seseorang.” Ucapnya sedikit kebingungan.

“Hmm… siapa?”

“Hanya, seorang teman SMA. Tapi ku rasa aku tadi salah lihat.”

Vic mengangguk menanggapi. Dia dan Taeyeon mengenal saat mereka duduk di bangku kuliah, jadi teman SMA Taeyeon bukanlah temannya dan Vic pastinya takkan mengenal mereka.

 

Keadaan berubah menjadi sedikit canggung. Bahkan mereka makan dalam diam. Wajah pucat Taeyeon seolah memberi signal bagi Vic bahwa dirinya tidak sedang dalam keadaan yang baik.

Setelah menghabiskan makanan, mereka memutuskan untuk berpisah. Vic akan pulang ke rumah dan Taeyeon akan langsung pergi ke klinik.

 

.

.

-Roman Scandal-

.

.

“Apa yang anda lihat, Taeyeon-ssi?”

“Mobil, ledakan api.” Ucap Taeyeon dari posisinya yang tengah terpejam dan bebaring di sebuah matres putih yang terletak di ruangan tersebut.

Dokter muda itu mencatat semua yang Taeyeon katakan dari bibirnya. Matanya tak henti memperhatikan secarik kertas dan bolpoin yang dipegangnya.

“Dan apa yang anda rasakan pada saat itu?”

“Aku— aku takut.”

Cho Kyuhyun menegakkan kepalanya, menatap ke arah Taeyeon sambil membenarkan kacamata. “Apakah anda melihat orang lain pada saat kecelakaan itu?”

Bibir Taeyeon bergetar, matanya yang terpejam namun bergerak gelisah, ingin menumpahkan air mata. Dahinya berkerut, seolah berpikir keras. “Tidak ada.”

.

.

.

-To be continued-

Author note:

Annyeong..! Sine balik lagi 😀

Hehe apa ada yg masih nungguin lanjutan FF ini? Penasaran tentang apa yang sebenarnya tengah menimpa Taeyeon? Ssttt… jawabannya ada di chapter depan.

So, mau dilanjut atau gk? Leave your comment.

Regard.

-Keiko Sine https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

18 thoughts on “Roman Scandal [Chapter 2]

  1. Yang ku takut kan adalah sehun sebenarnya udah mati. Dan sehun ternyata hanya bayangan dari pikiran si taeng.
    Apa sehun mati karna kecelakaan bareng taeng. ???
    Atau malah sehun dalang di balik kecelakaan nya si taeng.
    Eta terangkanlaaaaaaah 🌞🌞

    Suka

  2. Ping-balik: Roman Scandal [Hidden Story] – KEIKO SINE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s