Roman Scandal [Chapter 1]

RomanScandal

Roman Scandal, by Keiko Sine

Genre: Romance – Marriage Life – Riddle || PG-NC

Chaptered

Casts:

Kim Taeyeon, Oh Sehun, Cho Kyuhyun

Others.

DO NOT COPY OR PLAGIARIZE!

STORYLINE AND POSTER BELONG TO KEIKO SINE.

“—never trust anyone too much. Remember, the devil was once an angel.”

***

Kali ini dua jam sebelum lonceng tengah malam berbunyi di gereja terdekat, Taeyeon bangun dari tidurnya, merapikan rambut lalu berjalan ke meja rias. Dia berjalan dalam diam, wajahnya pucat seperti biasa dan bibirnya membentuk garis lurus, tanpa ekspresi. Dilihatnya pantulan dirinya sendiri dan sang suami yang telah tertidur pulas dalam cermin yang berkilau akibat pantulan tiang lampu jalan.

Dia mengambil kotak transparan itu lagi, dan untuk yang sekali lagi dalam hidupnya… Taeyeon harus bergantung pada pil biru menjengkelkan ini.

Taeyeon mengambil satu dan menelannya dalam sekali teguk. Rasa pahit menjalar di rongga mulutnya hingga ke pangkal lidah. Tapi setidaknya rasanya sudah tidak seburuk saat pertama kali ia meminum pil ini.

Taeyeon kembali ke tempat tidur, dengan berhati-hati agar tidak menimbulkan suara derit apapun yang dapat membuat suaminya terbangun. Wanita berusia 26 tahun itu memiringkan badannya kesamping guna melihat wajah tampan suaminya dengan lebih detil.

Tulang pipi dan hidung mancungnya, bibir tipis juga dagu lancip itu— sempurna.

Dia jadi ingat pertama kali mereka bertemu. Waktu itu saat ujian masuk perguruan tinggi di Kyunghee University, Taeyeon dengan segala kecerobohannya dengan tak sengaja menempati tempat duduk suaminya ini. Dan saat lelaki tinggi itu menegurnya dengan halus bahwa ia tengah salah menempati kursi, Taeyeon segera mengecek ID numbernya dan menghilang dari tempat itu secepat mungkin. Meskipun sudah lama berlalu, jika diingat seperti ini ia masih akan merasa malu.

Malam semakin larut saat Taeyeon menyingkirkan guling yang memisahkan mereka berdua, menipiskan jarak untuk mendekap suaminya— Oh Sehun.

.

.

-Roman Scandal-

.

.

Telur dadar telah ia tata di dua piring yang berbeda saat Sehun keluar dari kamar dengan membawa tas perusahaan. Pria tinggi itu tersenyum padanya lalu duduk di sebuh kursi. Meneguk air putih sambil memperhatikan Taeyeon dari atas sampai bawah.

“Kau bersiap lebih pagi dari biasanya, Taeng?”

Diletakkannya roti di atas piring kecil, Taeyeon mengangguk sambil berujar, “Hm… aku akan menemui dokter baruku, ingat?”

“Aah… kudengar dokter Lee Donghae telah dipindahkan ke US, benar begitu? Kurasa pria itu memang seorang pekerja keras, tak heran dia mendapat banyak sekali promosi.” Ujar Sehun setelah menelan makanannya. “Jadi— siapa dokter penggantinya?”

“Entahlah… aku belum tahu. Yang kudengar— dia lulusan dari Harvard University.”

“Itu adalah sebuah kemajuan.” Sehun tersenyum, dengan cepat menggenggam tangan Taeyeon. “Kuharap dia dapat bekerja dengan keras untuk membantu istriku ini.”

Taeyeon melihat sedikit cahaya dari dalam iris mata suaminya. Seolah ada harapan dan ketulusan. Namun jika dipikir lagi— bukankah dia yang membuat Taeyeon jadi seperti ini?

Taeyeon menangkupkan bibirnya rapat, ‘Kau hanya berbicara omong kosong, persetan!’ ucapnya dalam hati.

Dengan sebisa mungkin Taeyeon mengangkat sudut bibirnya menjadi sebuah senyuman, memendam kekesalan itu jauh di dalam dadanya. “Eung… bukankah kau ada tamu pagi ini di kantor? Ayoo bergegaslah CEO Oh.” Godanya sambil memainkan kedua tangannya yang masih ada di dalam genggaman suaminya.

“Kau benar… aku berangkat, sayang.”

Mereka berdiri dari kursi masing-masing. Dengan tangan yang masiih tergenggam, Taeyeon mengikuti Sehun sampai depan pintu apartmentnya lalu memberikan morning kiss di bibir suaminya itu dengan gerakan singkat.

“Hati-hati…” ucap Taeyeon sambil melambaikan tangannya.

Pagi ini tak secerah pagi-pagi biasanya. Awan cumulus telah bergantung di atas sana entah sejak kapan. Namun bagi Taeyeon itu tak seberapa… entah mengapa ia sangat menyukai mendung, mungkin hal itu seperti mengingatkannya akan dirinya sendiri.

Dan jika ia ingin bertemu dengan ‘dokter barunya’ tepat waktu, dia harus bersiap mulai dari sekarang.

Ini sudah bulan ke lima sejak kecelakaan itu berlangsung, dan Taeyeon harus rutin ke dokter psikiater seminggu sekali untuk mendapatkan terapi karena— apa yang mereka sebut— trauma.

Datang ke tempat membosankan itu lagi, ditanyai ini dan itu lalu pulang dengan membawa sekotak pil biru untuk jatah satu minggu selanjutnya. Selalu seperti ini hingga membuat Taeyeon jengah.

Dan bosan.

Dan muak.

Taeyeon tak merasa ada sesuatu yang buruk sedang menimpanya, namun pria itu— yang telah bertransformasi menjadi suaminya mengatakan bahwa ia masih perlu ‘konseling’.

Dan yang makin membuatnya curiga adalah… Yoon Jira.

Apakah mungkin bahwa Jira yang menyuruh Sehun untuk membawanya pergi ke psikiater dan dikatai ‘gila’ dan sebagainya?

Sampai mati Taeyeon akan membenci wanita itu karena telah mencoba untuk merebut suaminya.

Setelah beberapa saat membersihkan diri dan memilih pakaian yang cukup formal, Taeyeon menyambar kunci mobilnya yang terletak di atas nakas. Lalu berjalan keluar dan mengunci pintu apartmennya sambil menenteng sebuah tas Hermes keluaran terbaru.

Menjadi seorang istri dari CEO muda Oh Sehun merupakan hal yang menyenangkan, jika boleh berpendapat. Namun— resiko jika suami ‘digoda’ adalah suatu hal menjengkelkan lain yang ada di kehidupan rumah tangganya ini.

Sebenarnya Oh Sehun adalah pria hangat yang penuh perhatian. Dia bahkan melarang Taeyeon mengurusi pekerjaan Akuntannya setelah ‘kejadian’ itu terjadi. Pria itu menyuruhnya tetap berada di rumah dan beristirahat. Bukankah itu adalah hal yang manis? Atau— itu hanya tipu dayanya saja untuk dapat bertemu dengan si jalang di luar sana.

Entahlah.

Dalam balutan coat berwarna coklat Taeyeon menyusuri jalanan kota Seoul yang tengah diguyur hujan dengan derasnya. Wiper kaca bergerak ke kanan dan kiri konstan dengan suara detak jantungnya. Dan payung berwarna-warni terlihat saat dia menginjak pedal rem dan berhenti di depan lampu merah.

Membutuhkan waktu selama lima belas menit untuk sampai di sebuah klinik elite di daerah tersebut. Sebuah cabang yang didirikan oleh Rumah Sakit utama Seoul. Dan pada petunjuk jalan yang dipasang di trotoar itu mengisyaratkan Taeyeon untuk berbelok ke kiri untuk memasuki gerbang klinik.

 

.

.

-Roman Scandal-

.

.

“Perkenalkan, saya Cho Kyuhyun. Jadi— anda adalah Oh Taeyeon, pasien tetap dokter Lee dulu, benar begitu?”

Taeyeon menatap dokter baru di depannya ini dengan pandangan datar, meskipun tak dapat ia sangkal bahwa ia sempat terpana akan paras rupawan dokter muda ini. “Benar, dokter. Jadi mulai sekarang saya adalah pasien anda. Mohon bimbingannya.” Ujar Taeyeon sambil sedikit membungkukkan kepalanya.

“Tentu saja Taeyeon-ssi.” Kyuhyun mengambil sebuah map kuning di hadapannya, lalu mulai mencoba membaca dan memahami situasi. “Anda melakukan terapi setiap minggu, mendapatkan obat, karena— trauma. Apakah saya benar?”

Sontak Taeyeon memejamkan matanya rapat. Demi Tuhan. Ia tidaklah trauma sama sekali. Orang-orang itu saja yang kurang waras dan mengatainya demikian.

“Dokter…” ucap Taeyeon dengan penuh penekanan. “Saya— sebenarnya saya sudah baik-baik saja, dok. Tapi—

“Tapi di dokumen ini tertulis bahwa wali anda yang merekomendasikan untuk tetap merawat anda di klinik ini.” Sela dokter muda itu cepat. Dia telah bertahun-tahun menekuni pekerjaan ini, dan menghadapi seorang ‘pasien pemberontak’ bukanlah hal baru baginya.

Seorang pasien seperti itu biasanya akan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak membutuhkan pertolongan. Namun ketika telah menjalani terapi dan hasilnya baik, mereka akan mengucapkan kata terima kasih berulang-ulang. Selalu seperti itu.

“Saya sarankan anda untuk tetap menjalani terapi ini sampai wali anda sendiri yang mengatakan untuk berhenti, Taeyeon-ssi. Karena saya juga adalah pekerja baru di sini, dan belum pernah menangani anda sebelumnya.” Sambungnya.

Taeyeon rasa itu adalah sebuah penolakan kuat atas pernyataannya. Jadi dia diam, menunduk memperhatikan jemarinya yang saling menggenggam. “Baiklah.”

“Dan— saya ingin meminta adanya perubahan jadwal dengan anda. Karena pada hari senin hingga jumat saya harus bertugas di Rumah Sakit Utama Seoul, maka hari anda terapi akan saya jadwalkan pada hari sabtu sore, bagaimana?”

“Hm.” Jawab Taeyeon pasrah. Toh perubahan hari juga takkan berdampak apa-apa.

Kyuhyun tersenyum menampilkan eyes smilenya, “Apakah nona Taeyeon-ssi bersama wali anda?”

“Tidak, dokter.” Jawabnya sambil menggeleng singkat.

Kyuhyun memajukan badannya, penasaran. “Anda sendirian kemari?” tanya doker muda itu lagi.

“Ya, begitulah.”

Mata bening yang menatapnya dengan sayu itu terlihat sangat jujur. Kyuhyun tidak dapat memikirkan apa-apa selain menggelengkan kepalanya pelan. Bukankah wanita ini sedang ‘sakit’ dan perlu penjagaan? Atau—

“Apakah anda sudah menikah, Taeyeon-ssi— eung— maksudku dimana wali anda?” ujarnya dengan sekikit bingung.

“Suamiku sedang berada di kantor.”

Jawabannya membuat Kyuhyun lebih bingung dari sebelumnya. “M-maaf… Taeyeon-ssi, apakah anda benar-benar perlu untuk diterapi?”

Diam-diam Taeyeon mendecih dalam hati. Pertanyaan macam apa itu. Bukankah tadi dokter keras kepala ini yang bersikeras untuk tetap membuatnya terapi, namun… sekarang… dia malah bertanya seperti itu dengan wajah bodohnya.

“Dokter Cho… saya,” ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri, “saya benar-benar baik-baik saja.” Taeyeon meletakkan kedua tangannya yang tergenggam di atas meja. “Saya berbiara dengan benar, membuat makanan sendiri, menyetir mobil sendiri, tidakkah anda lihat?”

Kyuhyun terdiam. Merasa benar akan semua pernyataan itu. “Memang… memang benar yang anda katakan itu. Tapi— pasti ada alasan mengapa wali anda masih belum menyudahi kontrak terapi ini.” Dia memberikan sedikit jeda akan kalimatnya, berkedip dua kali sebelum melanjutkan, “Apakah anda pernah berhalusinasi? Berteriak tanpa sebab? Atau yang lebih sering— mimpi buruk?”

“Mimpi buruk.” Jawab Taeyeon cepat. “Tapi yang seperti anda katakan barusan, hal itu adalah yang paling sering terjadi menimpa manusia. Bahkan orang normal pun pernah mengalami mimpi buruk, bukan begitu?”

“Hm… anda benar.”

Jadi— sebab mengapa Oh Taeyeon masih menjadi pasien di klinik ini masihlah sebuah teka-teki. Entah apapun alasannya, menyuruh seseorang untuk diterapi dan secara tak langsung mengatainya ‘gila’ adalah suatu tindakan yang buruk.

“Mungkin cukup dulu pertemuan kita hari ini, karena saya harus ke Rumah Sakit Seoul untuk mengurus pemindahan dan lain lain.”

“Baiklah, dokter.”

“Sampai bertemu hari sabtu, Taeyeon-ssi.”

Taeyeon tersenyum singkat lalu mendorong kursinya ke belakang. Dia berdiri lalu membuka pintu ruangan serba putih itu.

Dia mendesah.

Ternyata dokter barunya ini lebih cerewet dari dokter lamanya, Lee Donghae. Jika bisa dibilang dokter Cho Kyuhyun mempunyai tingkat penasaran yang tinggi dan tak segan menanyainya tentang ini dan itu.

Merasakan sesuatu bergetar, Taeyeon membuka tasnya. Mengambil benda persegi panjang warna putih itu lalu mengusap layar.

1 pesan masuk.

Begitu tulisan yang terpampang di bagian atas layar.

From: Vicc

“Taeyeon-ah… aku baru saja sampai di Seoul malam tadi. Sekarang aku kebosanan di apartment, kau mau menemani sahabat lamamu ini?”

 

Oh, dan betapa wajah Taeyeon berubah 180 derajat menjadi bersemangat hanya karena mendapatkan pesan ini. Benarkah— sahabatnya waktu kuliah Victoria telah pulang dari Los Angles.

Dan dengan cepat Taeyeon mengetikkan balasan.

From: Taeng

“Will be there soon, dear.”

 

Kalau dihitung, ini sudah… dua tahun sejak kelulusan mereka dari kampus yang sama. Pada saat itu Victoria harus pergi ke Negara asalnya untuk mengurus sebuah boutique milik Ibunya di LA.

Dan setelah dua tahun itu… Taeyeon penasaran seperti apa sahabatnya itu jika dilihat dengan langsung.

Taeyeon masih mengingat alamat Victoria. Mereka dulu pernah menghabiskan waktu bersama di apartment wanita itu. Dan setelah sekian lama dia kembali menyusuri jalanan ini, membuat dia memikirkan masa lalunya saja.

Wanita itu memarkirkan mobilnya di basement apartment. Lalu manaiki lift untuk sampai di apartment Victoria di lantai 10.

Taeyeon mengecek setiap pintu, karena meskipun dia dulu sangat sering kemari, namun waktu dua tahun tidaklah sebentar untuk menghapus memorinya tentang letak apartment.

Jika tidak salah… apartment milik Victoria bernomor— 1012?

Benar kan..?

Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya Taeyeon memberanikan diri untuk menekan bell apartment tersebut.

“Ne…?”

Oh benar. Itu adalah suara Victoria yang terdengar di dalam.

Pintu terbuka, menampilkan seorang wanita dengan postur badan tinggi dan rambut pirang.

“Vic… ini aku.” Ujar Taeyeon sesaat setelah Victoria membuka pintu.

“Aigoo… uri Taeng.”

Mereka berdua menjerit dalam kebahagiaan dan kerinduan, berpelukan selayaknya saudara yang telah lama dipisahkan.

“Masuklah, Taeng… tapi barang-barangku masih banyak yang berserakan, he he he…”

Taeyeon menggeleng, “Gwenchana, aku bisa mengerti karena kau baru datang kemarin malam.”

Mereka duduk di sofa ruang tengah, koper dan kardus-kardus masih berada di sudut-sudut ruangan saat mereka mamutuskan untuk mengobrol dan mengingat, membicarakan masa lalu.

Victoria meneritakan pengalamannya mengurus boutique dan seorang lelaki yang kini telah bertunangan dengannya bernama Mark dengan sangat semangat. Begitu pula dengan Taeyeon, dia menceritakan kehidupannya di Seoul dan teman-teman seangkatan mereka yang telah memulai kehidupan masing-masing kepada Victoria.

“Oh benarkah… bukankah Kim Yura dulu adalah gadis yang selalu duduk di belakang… si nerd itu kan? Aigoo… bagaimana ceritanya dia sekarang bisa menjadi ‘wanita panggilan.’ Eww… menjijikkan sekali.” Ucap Vic lalu meminum sodanya.

“Entahlah, aku juga tak habis pikir… Sunny yang memberitahuku saat kita tak sengaja bertemu beberapa waktu yang lalu.” Taeyeon menggeleng pelan, menjulurkan tangan untuk mengambil snack di atas meja.

“Eung… Taeng. Ngomong-gomong, aku sangat menyesal karena tidak menghadiri acara pernikahanmu beberapa bulan yang lalu. Waktu itu aku benar-benar sedang ada urusan dan Eommaku meminta untuk tidak membatalkan janji karena itu adalah hal yang penting untuk kelangsungan boutique keluarga kami.

“Vic… gwenchana.”

“B-benarkah… Taeng…” Victoria menggantungkan kalimatnya, dengan perlahan bergerak untuk memeluk sahabatnya itu, “Kau tidak pernah berubah… kau tetaplah sahabatku.”

Nada suara Vic sedikit mengganggu Taeyeon. Karena— sejak kapan sahabatnya yang modis dan cerewet ini berubah menjadi ‘melankolis’?

“Sudahlah… aku tak mempermasalahkan hal itu.”

“Hmm… apakah… apakah Oh Sehun memperlakukanmu dengan baik? Albino tinggi itu, huh? Apakah kalian bahagia?”

Taeyeon mengedipkan kelopak matanya dua kali, menata sudut bibir untuk tersenyum, “Pernikahanku… baik-baik saja.”

.

.

.

-To be continued-

Author Note:

Annyeong…! Author Sine balik lagi setelah beberapa bulan hiatus gak bilang-bilang heheh.. maapkan. (v) dan utk FF Skyscrapernya dipending dulu yaa, soalnya aku lagi buntu ide utk nulis endingnya.

Okehh balik lagi… ini dia chapter pertama utk FF Roman Scandal. 😀 Sine harap para reader sekalian suka sama FFnya, meskipun konfliknya belum ada (lol) yaiyalah kan baru chapter pertama.

So, mau dilanjut atau gak? Kirim komentar kalian yaa… karena FEEDBACK akan mempengaruhi apakah FF ini dilanjutnya cepet atau gak, dan apakah FF ini akan berhenti di tengah jalan.

Therefore, don’t forget to RCL (read, comment, like)

Regard.

-Keiko Sine https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

15 pemikiran pada “Roman Scandal [Chapter 1]

  1. Ping-balik: Roman Scandal [Hidden Story] – KEIKO SINE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s