CLEMATICA SHOE; Shook Confession#3

clematicashoe_keikosine

CLEMATICA SHOE, by. Keiko Sine

Fantasy, Mystery, Sad-Romance || PG 17

Staring: Kim Kai (EXO)

Jung Hana (OC), Jung Heera (OC), Nakamoto Yuta (NCT)

Others.

This story is adapted by Japan manga, under the titled Strawberry Field Walker. Yet, all the new characters, plots, and settings are mine. Therefore, copying and plagiarizing this story are forbidden.

PREVIOUS : [1.The Beginning] – [2.The Legend of Shoes] –

[3.Shook Confession] => opened

***

[SHOOK CONFESSION]

Merapatkan tubuhnya ke kursi, asap keluar dari bibir gadis yang memakai gaun biru tua itu sat dia menghembuskan napasnya pelan. Jemarinya ia tautkan, saling menggenggam dengan erat, dan tatapan matanya terlihat lebih waspada dari sebelumnya. Mengapa rasanya segugup ini?

Tidak. Aku harus tenang.

“Putra keluarga Erall sudah datang.” Suara dari pembantu rumah tangga terdengar dari luar ruangan, sebagai isyarat baginya untuk bersiap.

Sedangkan gadis yang memakai ikat pita itu tersenyum canggung, dia mendekatke arah si gadis nervous, “Akhirnya tiba juga. Tenanglah Hana, tak apa, aku di sini.” Ucap Heera selembut mungkin.

Hana tak merespon, namun bibirnya terlihat terkatup lebih rapat dari yang tadi.

Jika tidak ada masalah… maka semua rencana Hana selama ini akan berjalan lancar.

#Tap… Tap… Tap…

#Cklek!

Pintu terbuka dan terlihat tiga orang memasuki ruangan tersebut termasuk bibi Han. Dua orang lainnya adalah seorang lelaki paruh baya berusia empat puluh tahunan, dan di sebelahnya—

Oh Tidak.

Heera kenal wajah familiar itu. Keberadaan orang di sebelah lelaki paruh baya sontak membuat Heera membelak.

“Heera?”

“Kai?”

Ucap mereka berdua nyaris bersamaan.

Kai melangkah mendekat, sedangkan seorang Manager di sebelahnya menatapnya heran. “Begitu ya… jadi ceritamu selama ini—

Kai tak melanjutkan kalimatnya, membuat Heera harus menebak-nebak apa yang akan di ucapkan lelaki itu selanjutnya.

“Tapi… bukankah penerus keluarga Erall itu seharusnya gendut? Seperti berua— ups…” Heera menutup bibir dengan tangannya sendiri saat menyadari perubahan wajah Kai ketika mendengar ucapannya barusan.

Si Manager dan bibi Han hampir saja meledakkan tawanya sebelum mereka sadar seperti apa seriusnya suasana saat ini. Dan Hana hanya menatap pertunjukan bak teater drama di hadapannya dengan pandangan datar.

“Kakakku meninggal karena penyakit jantung beberapa bulan yang lalu. Jadi aku harus menggantikannya sesuai dengan kehendak ayahku.”

“Mungkin kabarnya tidak sampai kemari,” ucap si Manager pelan sambil menunduk bersalah, “Maafkan saya, saya akan menyelidikinya lebih lanjut.”

Bibi Han mengangguk paham, dia menatap ke arah Heera dan Hana bergantian seolah menilai keduanya. Sedangkan Kai menyadari sesuatu, gadis yang tengah duduk nyaman di kursi, dengan make up tipis dan gaun indah elegan membalut tubuhnya, apakah gadis ini adalah calon tungangan Kai? “Dan kamu adalah…”

“Hana.” Ucap Hana pean.

‘Mata dan rambutmu, warnanya sama persis dengan Heera’. Ucap Kai dalam hati.

“Salam kenal Hana.”

Hana berdiri dari kursinya, menatap seorang lelaki tampan yang berdiri di hadapannya dan mengulurkan tangan. Sontak Hana menarih uluran tangan itu lalu menjabatnya.

Heera tak habis pikir, lelaki yang lebih dulu dikenalnya— ternyata adalah calon tunangan dari adiknya sendiri. Dia mendesah berat, menutup kedua matanya.

Ah, semuanya terasa gelap.

Kegelapan ini menyelimutiku.

Kenapa perasaanku jadi seperti ini…

 

-FLASHBACK-

“Jadi, apakah anda sudah memutuskan pesanan anda?” tanya lelaki berkewarganegaraan Jepang itu dengan sedikit senyum.

“Iya.” Jawab si gadis berpita dengan penuh penekanan. “Aku ingin… sepatu yang bisa membuat adikku menghilang.”

Sontak lelaki itu membelak tak percaya. “Sepatu— yang bisa membat adikmu menghilang?” ulangnya sekali lagi.

Heera mengangguk, tatapan tajamnya terpancar di sela rambut panjang yang menutupi sebagian kening. “Bisakah—

“Saya harus menolaknya. Kami tidak bisa membuat sepatu untuk membunuh atau menghilangkan orang seperti asap.” Ucapnya sambil berpikir-pikir, “Kalau hanya ‘menghilang’ saja, maka pengguna sepatu akan mulai berjalan begitu dia memakai sepatu itu. Terus berjalan sampai ke tempat yang tidak dikenalnya, bagaimana dengan itu?

“Begitu juga boleh.” Jawab Heera antusias, seolah pengharapannya membucah. “Sampai sekarang ini, aku selalu mengikuti keegoisannya. Padahal aku tidak keberatan asalkan bukan dengan orang itu.”

Yuta berjalan ke arah meja kasir, dia mengeluarkan sebuah note kecil dan mulai menulis. “Baiklah saya mengerti pesanan ini. Akan saya kerjakan.”

-FLASHBACK END-

Kembali pada keadaan saat ini. Heera tersenyum canggung lalu berjalan mendekat ke arah Kai. “Anda pasti lelah selama di perjalanan, mari duduk dulu dan letakkan barang-barangnya di sini, akan saya siapkan.”

Heera menarik beberapa koper yang ia tahu bahwa isinya pasti ada sepatu yang dimaksud Kai untuk calon ‘tunangannya’. Jadi dia meletakkan sepatu yang telah dia pesan ke toko Clematika di sebelah sepatu milik Kai.

Bersebelahan. Dan modelnya sangat mirip.

Aku tidak jahat.. Aku hanya ingin kembali ke jalanku saja. Ini adalah takdirku yang sebenarnya.

“Nona Heera, acaranya akan segera di mulai.” Ucap Han ajhumma memecah lamunan Heera.

“Ah baik.”

Mereka berjalan ke ruang utama. Di sana telah terdapat manager keluarga Erall, dan beberapa asisten rumah tangga keluarga Jung yang akan menjadi saksi acara pertunangan Kai dan Hana sebentar lagi.

Duduk di kursi, jemari Heera mengebas saat dia tahu bahwa si Manager berjalan untuk mengambil sepatu.

Memberikan sepasang sepatu kepada Kai yang akan dia pasangkan kepada Hana sebagai simbol pertunangan mereka. “Saya harap kita bisa memulai kehidupan pasangan yang baik di masa mendatang.” Ucap Kai disela memasangkan sepatu di kaki kanan Hana.

Heera seolah memandangnya tanpa berkedip. Ayolah…

Deg..

            Deg…

Kanan… Kiri…

Tak terjadi apa-apa? “Ada apa dengan sepatunya?” sontak Heera menggerutu saat kejadian yang seharusnya ia tunggu-tunggu tak terjadi juga.

Hana menoleh ke arahnya, tatapannya nyalang dan sinis pada waktu yang bersamaan. “Ada apa? Apakah ada yang aneh, kakak?” ucapnya heran.

Heera kalap. Dia tidak bisa menjawab. “Eung… emm tida—

“Sepatu yang bisa mengabulkan permintaan, eh? ‘Sepatu yang bisa membuat adikku menghilang?’” decih Hana dari tempatnya berdiri, mengeluarkan smirk, seolah mengetahui sesuatu. “Percuma saja kamu memakaikannya padaku. Karena aku ini adalah ‘kakakmu’.” Ucap Hana dengan sedikit penekanan pada kata ‘kakak’. “Kamu adalah adikku.”

Eh?

“Aku tahu semuanya tentangmu. Heera, kita ini saudara, apa yang kamu harap bisa kamu sembunyikan dariku? Seharusnya kamu mengatakan dengan jujur pada tukang sepatu kalau kamu adalah ‘adik’, tapi kamu selalu ingin jadi kakak.” Sambung Hana dengan pandangan meremeh.

Sedangkan Heera tak dapat menyembunyikan wajah paniknya, dengan perlahan ia berjalan mendekat ke arah Hana. Mengerjap cepat, “H-Hana… apa yang kamu bicarakan? Tidak baik bercerita bohong sepeti itu.”

“Jangan mendekat.” Hana mendorong tubuh Heera yang terpaut beberapa senti dengannya. “Kalian berdua, tangkap gadis itu!” ucap Hana pada Kai dan Managernya, “Ini adalah perintah dari tunangan Tuan kalian..!”

“T-Tidak…”

Hana berjalan mendekat, dia melepaskan sepasang sepatu yang semula dipakainya, “Kalau aku memang berbohong, kita buktikan dengan memakaikan sepatu ini padamu.”

Manager keluarga Erall dibantu dengan salah satu asisten rumah tangga keluarga Jung menahan pergerakan Heera yang mulai meronta. Mereka memegangi masing-masing lengan gadis itu.

“Tidak… Hentikan..” Heera meronta, tangannya mencoba menyingkirkan apapun didekatnya dan kakinya menendang sepatu yang akan dipasangkan bibi Han padanya.

#PRANGG!!!

Sepatu terlempar hingga mengenai meja kaca yang terdapat di ruangan tersebut. Sedangkan Heera diam-diam terisak duduk di atas lantai.

Kai tak ingin tinggal diam. Dia ingin tahu siapa pemula kekacauan ini, yang menyangkut dengan acara pertunagannya. Kai mendekat ke arah Heera, berjongkok tepat di hadapannya. “Heera… kenapa?”

Heera masih menutup rapat bibirnya, dia memandang ragu ke arah Kai. “Karena… karena aku selalu dibilang ‘kasihan’… kakakku yang hanya berbeda setahun denganku, semua orang berkata kalau kita seperti kembar. Kami selalu memakai baju yang sama, model rambut yang sama, sepatu yang sama… Tapi, saat orang-orang mulai membicarakan tentang ramalan itu—

Kasihan sekali.

Hanya karena dia anak ke dua, kasihan sekali dia.

Aku ngeri membayangkan apa yang akan dilakukan Erall itu padanya.

Ini sama saja dengan memasukkannya ke rumah bordil.

“Semuanya berpikir kalau aku tidak mengerti apa-apa karena aku masih anak-anak..!! Tapi aku mengerti… aku tidak mau menikah dengan putra Erall yang mengerikan. Maka pada saat kecelakaan itu terjadi lima tahun lalu— aku memalsukan semuanya.” Sekelebat tatapan mata Heera berubah nyalang.

Kecelakaan lima tahun lalu yang menewaskan kedua orang tuanya. Saat keluarga mereka memutuskan untuk pindah rumah dari Daegu menuju Seoul. Semuanya berubah drastis.

Seorang lelaki berjas putih menulis beberapa kalimatpada buku kecil yang dia bawa, “Sepertinya kedua kakak beradik ini kehilangan sedikit ingatannya karena shock.” Ucap si dokter pada seorang perawat pria.

Seorang gadis kecil bangun di sebuah rumah sakit besar di kota Seoul, dengan rasa sakit yang masih bertumpu di kepala, Heera kecil menguatkan diri untuk membuka mata. Dan di tempat tidur sampingnya terdapat sang kakak –Hana- yang masih belum tersadar dari pingsannya.

“Oh, dokter. Anak ini sudah sadar.” Ucap seorang pria yang memakai setelan baju putih kepada atasannya.

“Benarkah?” si dokter berjalan mendekat, dia mengecek suhu tubuh Heera kecil dengan teliti. “Annyeong adik kecil… siapa namamu?”

“Aku… namaku…” Heera sedikit berpikir sebelum mengeluarkan pernyataan yang jauh dari kenyataan. “Namaku Heera, dan dia adikku, Hana.”

“Aku juga ingin bahagia… Aku tidak tahu kalau kakakmu di keluarga Erall akan meninggal, dan kau yang akan menggantikannya.”

Huh? Ucapannya picik sekali. Ujar Hana dalam hati.

Dia melirik ke kekacauan. Meja kaca yang berantakan. Vas bunga pecah, dan sepatunya—

“Wah… sepatunya jadi tercampur jadi satu.” Ucap Hana seraya memunguti dua pasang sepatu. Sepatu milik Kai dan sepatu kutukan milik Heera yang diberikan padanya. Dia tidak tahu mana yang aman. Hana tersenyum sinis di antara langkah kakinya, “Ini. Kau boleh memilihnya sendiri.” Ucapnya tegas sambil menyodorkan kedua pasang sepatu kepada Heera.

“Eh?” sontak Heera mendelik dari tempatnya duduk.

Hana membungkukkan badan ke arah adiknya, “Kamu bisa menikah dengan orang ini dan berbahagia, atau— juga bisa terus berjalan sampai sol sepatu ini terlepas.” Hana tersenyum menang, “Kira-kira nasib seperti apa yang akan kamu alami.”

Heera mulai bergetar, matanya memohon dan tak sadar air mata frustasi keluar mengalir di wajahnya.

“Ayo cepat pilihlah, Heera!” desak Hana sekali lagi.

Dengan menimbang-nimbang, Heera memilih sepatu yang berada di sebelah kanannya. Dia memakainya dalam diam dan—

“Oh Tidak!”

Sepatu itu mulai bergerak tak beraturan, seolah meyeret Heera pergi keluar, ke tempat yang entah seperti apa dia akan berakhir.

.

.

-Clematica Shoe-

.

.

“Kau ketinggalan pertunjukannya, Yuta.” Ucap Hana saat melihat seorang lelaki membuka pintu ganda rumahnya.

“Dia sudah pergi… adikmu itu?”

“Semua sudah beres. Semua persiapannya itu—

“Kau pandai sekali berbohong.” Ucap si lelaki bergigi rapi saat dia mengambil tempat duduk di sebelah Hana.

“Ini hanya masalah acting sederhana. Itu bagus saat dia tak mengenalimu, dan kau yang dengan cepat memberi tahu pesanan Heera padaku tepat waktu.”

“Yeah… aku juga heran mengapa dia sama sekali tak mengenaliku pada waktu itu. Dan— aku hanya merasa tak enak padamu karena kukira sesuatu yang berbahaya akan menimpa teman kecilku ini.” Yuta mengelus rambut Hana pelan. “Hei, bagaimana kalau kau juga memesan sepatu yang bisa mengabulkan permintaan?”

Hana terkekeh, “Permohonanku sudah terkabul.” Ujarnya pelan. “Heera, adikku yang manis. Aku menyadari kalau Heera telah mengambil posisiku sebagai kakak begitu aku siuman karena kecelakaan itu. Tapi aku membiarkannya karena aku menikmati semua yang dia lakukan untukku. Aku jadi bisa menyuruhnya semauku, ha ha ha…”

Yuta menganggukkan kepalanya mengerti, “Hebat sekali… kamu begitu bisa mengambil kesempatan bahkan di situasi yang sebenarnya sangat merugikanmu. Dan bagaimana dengan calon tunagan adikmu itu? Akankah mereka—

“Entahlah.” Sela Hana cepat. “Tapi aku tidak peduli dengan pertunangan ini, bukankah memang seharusnya Heera yang akan menikah dengan Erall itu? Bukan aku. Dan yang terpenting— bukankah manusia lebih mudah mengingat hal yang menyakitkan daripada yang menyenangkan? Aku sangat ingat wajah ketakutan itu. Dia pasti tidak akan pernah bisa melupakan perpisahan ini, aku akan selalu tinggal dalam hati anak itu, untuk selamanya.”

“Haishh…” Yuta menyenggol lengan kanan Hana pelan, “Kau memang sudah tumbuh dewasa sepertinya.”

Hana tersenyum lalu dengan cepat ia berdiri, mengibas-ngibaskan gaunnya pelan. “Tapi lihatlah, gaun ini indah bukan? Sangat pas di tubuhku.”

“Ya, kau cantik.”

“Ini adalah gaun rancangan Heera, kurasa hanya ini yang bisa kusimpan untuk mengingatnya.”

#cklek

#Blam!

 

“Fiyuuhh… Sensei, noona.”

“Eren annyeong…” pekik Hana pada sosok mungil yang baru saja tiba di rumahnya.

Noona, aku sudah lama tidak kemari, sedikit kesulitan menemukan rumahmu.”

Aigoo…lucunya, kemarilah Eren.” Hana menepuk tempat duduk di samppingnya, “Maafkan noona juga karena selama ini jarang mengunjungimu, kau sudah besar rupanya.”

Demi melakukan misi ini, Hana harus berpura-pura menjadi gadis lemas dan jarang keluar, hingga dia tidak bisa leluasa mengunjungi teman kecilnya –Yuta- dan keponakan Yuta.

Sensei.” Panggil Eren pada Yuta.

“Ada apa, Eren?”

“Aku sama sekali tidak mengerti, mengapa orang menyangka bisa bahagia dengan cara seperti itu?”

Dengan ragu Yuta melirik ke arah Hana, lalu berujar pelan, “Walaupun bagi orang lain terlihat seperti jalan semak yang penuh duri, tapi bagi seseorang itu adalah taman bunga yang sangat indah.”

“Eren masih kecil jadi belum mengerti.” Celetuk Hana.

“Yak… aku kan bukan anak-anak lagi.”

.

.

-Clematica Shoe-

.

.

Toko sepatu yang bisa membuat sepatu yang dapat mengabulkan permohonan macam apapun.

Toko sepatu Clematica.

Terlepas dari berbagai kabar yang beredar, bagi orang yang memiliki permohonan yang dapat dikatakan pada orang lain, maupun tidak.

#Cring… Cring…

Hari ini pun sepertinya pintu toko itu terbuka.

Seorang lelaki di balik meja kasir menoleh ke arah ambang pintu, “Selamat datang, sepatu apa yang anda inginkan?”

.

.

-END-

Author Note:

Haloo… FF ini udah resmi end yah. Aku gak tahu harus nyebut FF ini chapter apa series. Kalau chapter sih kependekan karena cuma nyampe 3 part, jadi aku nyebutnya series aja yah… 😀

Jadi di sini itu sikap ‘gak mau kalah’nya Heera yang memulai kisah rumit ini. Dia gak mau jadi adik, dia gak mau jadi yang terkecil, dan yang pasti, dia gak mau dijodohkan dg putra keluarga Erall yang terkenal jelek, berbadan besar, dan jahat. Tapi disini diceritakan orang yg mau dijodohkan dengannya itu meninggal, lalu digantikan adiknya, yaitu Kai. Mereka belum tahu itu.

Saat kecelakaan, dokter ngira kalau Hana & Heera mengalami gangguan ingatan sedikit karena shock, tapi sebenarnya mah nggak. Disitu Heera ngambil kesempatan, bilang kalau dialah kakak, sedangkan Hana adiknya. Hana juga tahu itu dari dulu, tapi dia sengaja diam utk ngerjain Heera. Hana jadi nyuruh-nyuruh Heera semaunya gitu, dan keliatannya dia yg jahat. Padahal mah nggak.

Dan seperti inilah ending ceritanya… hehehe… ada yg masih bingung? Tanya aja, pasti aku jawab.

Regard.

-KEIKO SINE https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

3 thoughts on “CLEMATICA SHOE; Shook Confession#3

  1. Daebak kak, plot twistnya juga kereen 😍. Karena setiap a/n kakak selalu ngomongin tentang plot twist, aku udah mulai curiga sama tokoh yg keliatan paling baik di cerita ini (Heera), dan aku malah ngiranya si Yuta yang putra keluarga Erall #plakk.. Authornim jjang 👍👍

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s