CLEMATICA SHOE; Legend of Shoes #2

clematicashoe_keikosine

CLEMATICA SHOE, by. Keiko Sine

Fantasy, Mystery, Sad-Romance || PG 17

Staring: Kim Kai (EXO)

Jung Hana (OC), Jung Heera (OC), Nakamoto Yuta (NCT)

Others.

This story is adapted by Japan manga, under the titled Strawberry Field Walker. Yet, all the new characters, plots, and settings are mine. Therefore, copying and plagiarizing this story are forbidden.

***

[THE LEGEND OF SHOES]

Sabtu kelabu membayangi seluruh penjuru kota Seoul. Sedangkan seorang lelaki mengaduk cangkir berisi tehnya sedangkan saluran berita yang lelaki itu tonton harus bekerja keras melawan suara guyuran hujan di luar sana.

“Hebat sekali penjahat itu bisa melarikan diri dari kejaran polisi.” Ucapnya lalu menyeruput teh dengan asap putih yang sedikit mengepul. “Atau lebih tepatnya… hebat sekali sepatu itu.” Sambungnya sambil menyeringai.

Seorang anak lelaki duduk di sofa sebelahnya, seolah ikut andil dalam berita yang sama sekali tak ia mengerti. Namun saat melihat gambar seorang buronan di layar televisi, ia berkata dengan sedikit ragu. “Sensei, bukankah itu orang yang memesan sepatu minggu lalu?”

 

Sepatu untuk dapat kabur dalam suasana apapun, eh?

Yuta mengangguk pelan, kembali mengaduk tehnya. “Ternyata memang pelanggan yang waktu itu. Aku sudah merasa aneh karena ada dua orang berurutan yang memesan sepatu yang sama. he he he…” kekehnya.

Merasa tak ada yang lucu, Eren mendengus. “Yak, Sensei. Ini bukan saatnya untuk tertawa.”

Jadi sepatu itu benar-benar berfungsi, eh?

.

.

-Clematica Shoe-

.

.

#Srett.. Srett…

Suara sisir bergesekan dengan rambut cokelat tua itu menumbuhkan bunyi yang khas. Dengan gadis berpita berdiri dan menyisir rambut gadis yang duduk di depan meja rias.

“Kakak…” Hana menarik napas sebelum melanjutkan kalimatnya. “Dari tadi kamu menyisir di tempat yang sama, dasar!”

Membelak, Heera tak sengaja menjatuhkan sisirnya karena terlalu terkejut. “Ah, maaf.” Ujarnya sambil memungut kembali sisir yang tergeletak di lantai.

“Kenapa kau melamun?”

“T-tidak, aku tidak melamun.”

Memutar bola matanya jengah, Hana berdiri lalu berjalan menuju tempat tidurnya.

#Brukk

“Kakiku lelah. Aku ingin dipijat.” Ujarnya setelah membaringkan diri di kasur berukurang king size tersebut.

“Iya baiklah.” Jawab Heera.

“Lalu buatkan teh untukku. Susunya yang banyak!”

Heera mengangguk lagi, “Ya aku mengerti.”

Dan setelah semua permintaannya mulai dari pijat kaki dan meminta segelas teh yang harus Heera ganti hingga empat kali, akhirnya Hana dapat beristirahat. Sedangkan Heera tersenyum miris saat mendengar dengkuran halus yang keluar dari bibir adiknya pertanda Hana telah benar-benar tertidur.

“Aku harus kuat.” Ujar Heera pelan pada dirinya sendiri. “Sekarang ini saat yang terpenting. Ini bukan saatnya bagiku untuk memikirkan hal yang macam-macam.”

Setelah semua ini berakhir, lalu bagaimana?

Heera memutuskan untuk tak terlalu berpikir keras, kemudian ia berjalan pergi meninggalkan kamar Hana. Makan malam menunggu dan dia tak seharusnya bermalas-malasan tanpa membuat sesuatu yang memuaskan bagi adiknya.

Setelah membawa uang dan tas, Heera berjalan menuju pasar biasa yang letaknya dua blok dari tempat ia tinggal. Meskipun mereka punya tiga orang pembantu di rumah ini, entah mengapa Hana tak menyukai hasil kerja keras para pembantunya.

Hana akan makan dari masakan Heera. Juga mau meminum obat jika Heera yang membuatkan teh untuknya.

Bukankah ini aneh mengingat perlakuan Hana kepada Heera yang selalu kasar? Atau— Heera yang terlalu memanjakannya?

Heera tahu bahwa dia kelelahan ketika keringat itu semakin deras keluar dari pelipisnya. Dia belum makan apa-apa dari pagi ini karena terus mengurusi Hana.

“Ugh…”

#Grep

“Bahaya.”

Sontak Heera membelak. Suara itu… mungkinkah?

“Kai?”

“Apakah kau sakit? Kau terlihat pucat.” Ucapnya lalu memperhatikan Heera dari ujung kepala sampai kaki.

Menggeleng pelan, dia berujar, “Tidak… mungkin hanya lelah.”

“Kemarilah.” Kai memberi Heera isyarat untuk mengikutinya dengan gerakan dagu. Mereka berjalan menepi, lalu mengambil tempat duduk di bangku yang terletak di depan sebuah toko roti.

“Eung… aku tidak bisa terlalu lama, aku—

“Mengapa? Hmm… duduklah sebentar.”

Heera sedikit menimbang-nimbang sebelum berakhir mengalah dan mengikuti permintaan Kai untuk duduk sebentar. “Aku harus menyiapkan hal-hal untuk pernikahan adikku.”

“Oh begitu… apa kau bilang tadi pernikahan adikmu?” ulang Kai.

“Iya, aku kurang tidur karena sibuk sekali.”

“Apakah tidak ada pembantu di rumahmu?”

“Ada tapi—“ sontak Heera memotong kalimatnya sendiri, “A-aku punya alasan sendiri, he he he..” kekehnya di akhir kalimat.

“Oh, bagitu.” Kai mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum kembali membuka suara, “Lalu bagaimana dengan pernikahanmu sendiri?”

“Eh?” Heera melebarkan kedua kelopak matanya terkejut, “I-itu… aku belum. Aku baru bisa memikirkannya setelah pernikahan adikku.” Ucapnya pelan namun masih bisa didengar oleh Kai.

“Oh…” jawab si lelaki dengan ber-ooh ria.

Kai melirik ke arah Heera ragu, bukankah Heera terlihat seperti orang baik dari keluarga terpandang yang mempunyai kredibilitas tinggi? Dan akankah aman jika Kai menceritakan kisah keluarganya sendiri kepada gadis itu?

Is it okay?

Kai mengangguk, lalu berkata, “Ada tradisi di keluargaku untuk mengirimkan sepatu pada orang yang akan dinikahi.”

“Se-sepatu?” ulang Heera memastikan.

“Ya. Aku akan datang menjemput calon pengantinku ke rumahnya sambil membawa sepatu.” Kai mengeluarkan selembar kertas bergambarkan sepatu berwarna biru tua dengan desain elegan itu dari dalam jaketnya, “Dulu leluhurku menikah berkat sepasang sepatu. Makanya tradisi ini dilakukan turun-temurun. Hal itu juga melambangkan agar bisa melangkah ke masa depan yang lebih bahagia. Lalu aku mendengar kalau di kota ini ada toko yang bisa membuat sepatu yang dapat mengabulkan permohonan.”

Secara tiba-tiba mata Heera berkedip cepat. “Oh itu… aku pernah mendengar tentang toko itu.” Ucapnya setelah sedikit mengingat.

“Aku ingin memesan sepatu di sana setelah mendengar referensi dari orang-orang yang kukenal.” Sambung Kai, dia kembali menatap secarik kertas si tangannya.

Dalam hati Heera bertanya – tanya, apakah Kai… dia ke toko itu untuk memesan sepatu bagi tunangannya?

“Lihat. Ini adalah gambar rancangan sepatu yang keluargaku turunkan dari generasi ke generasi.” Kai meletakkan kertas tersebut di atas bangku, meminta Heera untuk member sedikit perhatian bagi gambar tersebut.

“Wah… cantik sekali, ups—

“Oh?”

Dengan tak sengaja tangan mereka bersentuhan. Seolah sesuatu yang bergetar dan hangat mengalir dari ujung jari mereka yang barusaja saling menempel hingga menelusup ke dalam dada. Seperti sesuatu yang selalu ingin kau ingat, terasa hangat dan menyenangkan.

 

Jari kami yang bersentuhan.

Dan rasa sakit nan mendebarkan di dada.

Apakah ini semua terjadi karena aku baru pertama kali dekat dengan pria?

 

“Apakah cantik?” tanya Kai bermonolog pada dirinya sendiri, namun di detik berikutnya dia menatap ke hazel mata Heera dalam. “Seandainya saja calon tunanganku juga berpikir begitu. Mungkin aku juga akan menganggapnya sebagai sesuatu yang cantik.”

Sedangkan gadis satunya tak menjawab. Ia juga tak dapat bergerak dan berbuat apa-apa saat Kai dengan perlahan memajukan wajahnya untuk mencium bibir ranumnya.

Sebuah kecupan singkat dan terasa manis.

.

.

-Clematica Shoe-

.

.

“Biar aku saja yang membawakannya, nona.”

“Tidak, ajhumma.” Heera mengambil kembali sebuah nampan berisi makanan yang akan dia bawakan untuk Hana. “Kau tahu kalau Hana tidak mendengarkan siapapun kecuali aku.” Ucapnya sambil tersenyum.

Entah mengapa kejadian tadi siang masih bisa membuatnya merasa sebahagia ini. Sentuhan dan rasa mendebarkan itu seolah masih bersarang di tubunya. Dan Heera menyukai sensasi ini.

Merasa tak ingin dibantah, Han ajhumma mengangguk lalu membiarkan Heera berjalan menyusuri tangga untuk sampai ke lantai dua dimana kamar Hana berada.

Heera mengetuk pintu tiga kali sebelum memasuki kamar Hana. Dan di sana, tepatnya di atas ranjang super empuk itu adiknya tengah membaca majalah dengan damai, dan terlalu damai untuk harus diganggu oleh wajah membosankan milik Heera.

“Apa lagi kali ini?” Ucapnya dengan datar namun penuh dengan penekanan.

“T-tidak, aku hanya membawakan makan malam.” Heera tersenyum, berjalan mendekat lalu meletakkan nampan berisi makanan dan teh kesukaan Hana di atas nakas samping tempat tidurnya.

“Apakah hanya perasaanku saja atau kau memang sedang sangat senang hari ini?”

Sontak Heera menghentikan aksi terneyumnya, dia merasa telah dimata-matai oleh adiknya sendiri. “Tidak, aku hanya—

 

“APA INI?!”

Belum selesai menjawab pertanyaannya, kini Heera harus dikagetkan oleh teriakan Hana kembali. Hana memandang mangkuk di sebelahnya dengan pandangan nyalang.

“Aku bilang kepiting, kenapa malah sup udang yang kau berikan padaku? Yak— apakah keluarga kita sekarang sudah semiskin itu?!” ujarnya menyala-nyala.

“T-tidak… Hana-ya, para pedagang kehabisan kepiting. Hanya ada udang dan lobster di tempat seafood. Tolong bisakah kau memakan yang sudah berada di hadapanmu?”

“Tidak.”

“Hana—“ Heera berujar frustasi dari tempatnya berdiri, “Tapi kau harus makan agar tidak sakit. Kau ingat besok adalah hari pertunanganmu sebelum menikah bulan depan.”

“Aku tidak peduli.” Hana berdiri, berjalan menuju pintu. “Aku ingin makan roti saja.”

Dan untuk sekali lagi, Heera harus memejamkan matanya rapat dan mendesah berat karena kelakuan adiknya.

.

.

-TBC-

Author Note:

Jangan ada yang bilang kalau pendek. Yeah… aku tahu.

Karena chap depan adalah end. Maka mau aku ungkap disana sekalian. Dan kalo ada yg tanya ‘kok cuma nyampe chap 3?’

Jawabannya, iya, karena short chapter. Konfliknya cuma satu. Setelah konfilnya kelar, yaudah ending. Dan ingat, aku bukan author yang terkenal baik kalo masalah FF bergenre Mystery. Inget yg waktu di zaman FF Xing Boarden dulu? Makanya, jadilah pembaca yg jelih biar gk ngerasa terlalu ‘dibodohi’ oleh tulisanku yang mendayuh-dayuh hahahah… *ketawa jahat*

Selalu ada Plot Twist!

Mind to review?

Regard.

-KEIKO SINE https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

2 pemikiran pada “CLEMATICA SHOE; Legend of Shoes #2

  1. Ping-balik: CLEMATICA SHOE; Shook Confession #3 END – KAI FanFiction Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s