CLEMATICA SHOE; The Begining #1

clematicashoe_keikosine

CLEMATICA SHOE, by. Keiko Sine

Fantasy, Mystery, Sad-Romance || PG 17

Staring: Kim Kai (EXO)

Jung Hana (OC), Jung Heera (OC), Nakamoto Yuta (NCT)

Others.

This story is adapted by Japan manga, under the titled Strawberry Field Walker. Yet, all the new characters, plots, and settings are mine. Therefore, copying and plagiarizing this story are forbidden.

***

[THE BEGINING]

Toko sepatu Clematica, yang menjadi viral namun anehnya tak terlalu populer di kalangan masyarakat. Pada papan yang tergantung di lorong jalan itu tertulis, ‘Bisa membuat sepatu seperti apapun.’ Membuat siapa saja yang membacanya menjadi penasaran.

Toko tersebut diperuntukkan bagi mereka yang membutuhkan sepasang sepatu untuk hari istimewa, dan bagi mereka yang ingin permohonannya terkabul, semuanya, dipersilahkan memasuki toko itu.

#Cring.. Cring…

Seorang gadis berambut sebahu membuka pintu dan terdengar bunyi lonceng selanjutnya. Wajah pucat dan bola mata yang bergerak cepat itu menangkap sesosok lelaki yang berdiri di balik meja kasir, membelakanginya.

“Selamat datang.” Seorang lelaki membalikkan badan. “Anda pelanggan baru, ya?”

Sambil sesekali menggigit bibir bawahnya, gadis itu berkata, “Aku dengar— di sini bisa membuat sepatu seperti apapun juga… Toko ini—

”Benar.” Sela si lelaki. Pahatan wajah tegas dan tatapan mata tajamnya menatap si gadis yang lebih pendek, “Sesuai dengan permintaan anda. Saya adalah pemilik toko dan pembuat sepatu Matica. Dan dia adalah asisten saya, Eren.” Lelaki itu menunjuk seorang anak berusia sepuluh tahun yang kini tengah duduk membaca majalah.

Eren yang tengah dibicarakan pun sontak mengakhiri kegiatan membacanya, dia berjalan menuju keduanya. “Yuta Sensei, noona ini masih muda ya.” Ucap lelaki kecil itu sambil menarik-narik baju lelaki yang lebih tua.

Hush… itu tidak sopan, Eren.” Bisik Yuta seraya sedikit menunduk. Lelaki yang dipanggil ‘guru’ itu menegakkan kembali badannya, kini berjalan mendekat ke arah si gadis. “Saya menjamin kualitas sepatu buatan kami. Juga akan menjaga rahasia anda tentunya, jadi— sepatu seperti apa yang anda inginkan?”

Gadis yang memakai pita penghias rambut itu meneguk ludahnya sendiri sebelum berujar, “Aku ingin…”

.

.

-Clematica Shoe-

.

.

 

#PRAKK!!

“Aku tidak mau makan!”

Suara pecahan keramik dan teriakan terdengar menggema di sebuah rumah mewah dengan dua lantai yang terletak di jantung kota Seoul. Terdapat seorang gadis memakai pita sedang menutup kedua matanya rapat setelah mendengar teriakan tersebut. Sambil menghela napas ia memberanikan diri melangkah maju, “Hana… jangan berkata seperti itu. Demammu tidak akan turun jika kamu tidak makan dengan benar.”

Sedangkan si gadis yang tengah berbaring bersandar headboard tempat tidur itu hanya mendecih pelan. Wajahnya tak menunjukkan ketertarikan sama sekali. “Aku bilang tidak mau!”

#Dug!

Membuang mangkuk di hadapannya dengan sengaja hingga mengenai dahi si gadis lain.

“Akh!” desah si gadis berpita kesakitan sambil memegangi keningnya.

Dan seolah belum puas akan perbuatannya, si gadis yang berada di kasur melirik ke arah kiri, kemudian tersenyum sinis, “Baiklah, aku hanya makan jika dengan buah arbei, jus arbei, dan pie arbei.”

Mendengar penuturan bahwa adiknya mau makan membuat si gadis berpita tersenyum canggung. “Benarkah? A-aku akan segera mendapatkannya.”

Dengan cepat dia berjalan keluar kamar lalu menuruni tangga. “Han ajhumma,” sapanya pada salah satu pembantu rumah tangga, “Hana bilang dia ingin makan buah arbei… aku akan pergi ke pasar.”

Hah?

Sontak wanita paruh baya itu terkejut pada ucapan anak majikannya. Namun detik selanjutnya dia menyadari sesuatu lain pada penampilan si gadis berpita. “Eung… nona Heera, kenapa dahimu?”

Meskipun mereka adalah saudara, dan wajah keduanya bisa dibilang sangat mirip, tapi— kelakuan keduanya sangat bertolak belakang.

“Ah… aku tadi sedikit terbentur.” Ucapnya gugup sambil memegangi bagian dahinya yang ia yakin telah memar. Heera berjalan menuju pintu dan si asisten rumah tangga mengekor di belakangnya.

Wanita bermarga Han itu berkedip dua kali ssbelum kembali mengajukan pertanyaan, “Lagi-lagi karena nona Hana?”

“Sebe— narnya… Ah, tidak apa-apa, aku baik-baik saja.” Ujar Heera sambil memaksakan senyum.

Han ajhumma mendesah, kemudian berkata lagi, “Lalu bagaimana dengan arbeinya? Mana ada buah di musim dingin seperti ini, nona.” Ujarnya dengan sedikit penekanan, jelas terlihat bahwa kini Han ajhumma menjadi sedikit kesal.

Memutar kenop pintu, lalu menariknya, Heera menoleh ke Han ajhumma sebentar, “Jangan marah padanya.” Ucap Heera singkat lalu berjalan pergi.

Sepeninggal gadis itu, Han ajhumma tanpa sadar masih berada di sana. “Ya ampun… adiknya benar-benar sangat egois.” Ujarnya lirih sambil memandang ke halaman kosong.

Anak itu… kasihan sekali nasibnya.

Meskipun Han ajhumma telah bekerja pada keluarga Jung selama hampir dua tahun. Keadaan Heera dan Hana tak pernah berubah, bahkan lebih parah hari demi hari.

Salah satu faktor yang ia tahu adalah karena kedua orang tua mereka yang telah meninggal karena kecelakaan. Dan beruntungnya kakak beradik itu dapat selamat dalam kecelakaan lima tahun silam.

Dalam tulisan buku kuno, bahkan pada kerajaan Sila ramalan itu telah ada. Bergulir dari masa ke masa dan mengatakan bahwa putri kedua dari Jung Bautista harus menikah dengan pewaris kerajaan Erall di negeri tetangga pada usia 18 tahun.

Itu semua yang tertulis dalam perjanjian ini.

Perjanjian yang terjadi dan ada jauh sebelum kakak beradik itu lahir. Keluarga Erall telah membantu keluarga Jung pada saat tersulit mereka. Sepertinya itu yang menjadi alasannya.

Hingga cerita itu tersebar di kalangan penduduk sekitar sini. Juga dalam artian…

“Jadi— nona Hana akan segera menikah, ya?” tanya seorang Ibu muda berusia dua puluh tahunan sambil menggandeng anak balitanya. “Apa itu benar nona Heera?”

Sedangkan si gadis berpita itu tersenyum menanggapinya, “Iya benar. Bulan depan, jadi dia harus makan yang banyak supaya bisa sembuh.” Ucap Heera sambil memilah-milah buah yang akan dia beli.

Tapi kenapa hanya ada buah peach dan mentimun?

Wanita itu memberikan sebuah lolipop kepada anaknya, lalu kembali berujar, “Tapi kasihan sekali dia, harus menikah dengan putra dari Erall itu.” Ucapnya serius, kemudian tatapan matanya menerawang ke masa lalu, “Aku hanya pernah melihatnya sekali. Dia lelaki yang sangat besar dan mengerikan seperti beruang, raawwrrr…” ucapnya sambil bercanda kepada si anak.

“Hahaha… eomma menyeramkan.” Ujar anaknya tertawa sambil mengibas-ngibaskan lolipop di tangan.

“Padahal gosipnya dia sudah punya banyak simpanan. Tapi mengapa masih harus menikah dengan anak semuda itu? Menakutkan sekali.”

“Yah, walaupun begitu dia berasal dari keluarga Erall.” Seorang pria penjual ikut andil mengobrol dengan tiba-tiba. “Dia pasti sangat kaya.”

“Hm ajhussi… kau itu memikirkan uang saja.”

Ajhumma, kau juga jangan menakuti nona Heera tanpa alasan.”

Heera melihat percekcokan kecil itu sambil berpikir sedikit. Jadi benar, adiknya akan menikah dengan pria mesum yang bahkan usianya lebih tua sepuluh tahun darinya. Juga tanpa mengenal dan merasakan cinta untuk sekalipun.

Makanya, sampai hari itu tiba Heera akan bersikap sebaik pungkin sampai pernikahan adiknya digelar.

Setelah memasukkan sekilo buah peach ke dalam ranjang, Heera memutuskan untuk kembali ke rumah karena Hana pasti sudah menunggu. Dan karena benar tak ada buah arbei di musim dingin seperti ini, dia membeli buah peach sebagai gantinya.

Sambil membawa keranjang pebuh peach itu Heera berjalan di trotoar sambil sesekalibersenandung. “Hu hu uuu~… Ouch!

#Glung… Glung… Glung…

Oh tidak.

Buahnya jatuh bergulingan di jalan.

Dengan panik Heera segera memunguti buah-buah tersebut.

#Grab

Oh?

Seseorang lebih dulu mengambil buah terakhir yang terjatuh. Menatapnya. Tinggi tubuh Heera terpaut beberapa centi dengan lelaki yang kini tengah berada di depannya. Wajah tegas dan mata elangnya, lelaki itu menatapnya seolah tanpa berkedip.

“Ah— terima kasih.” Ujar Heera setelah lelaki itu meletakkan buah ke dalam ranjang.

“Hmm. Belanjaanmu banyak sekali, pasti ada banyak orang di rumahmu, kan?” ucap lelaki itu ramah.

“T-tidak… ini untuk adikku.”

“Oh.” Lelaki itu menganggukkan kepalanya mengerti, “Banyak sekali makan adikmu.”

Hah?

“B-bukan seperti itu juga maksudku, he he he…” Sontak Heera tertawa canggung saat mendengar betapa polosnya penuturan lelaki di hadapannya.

Lelaki berwajah tampan dengan setelan baju mahal itu terus memperhatikan Heera ketika gadis itu tersenyum. Menatapnya seolah dia belum pernah melihat senyum semanis itu dalam hidupnya.

Aku belum pernah melihat wajahnya di sekitar sini… kurasa dia tidak mengenalku.

Ucap lelaki itu dalam hati.

“Kemari, aku bantu. Rumahmu dimana?”

Ucapan tiba-tiba dari lelaki tampan itu sontak membuat Heera terkejut bukan main. Bukankah dia tidak boleh terlalu percaya dengan orang asing? Tapi entah mengapa hal tersebut tak berlaku bagi Heera.

Bagaimana ini? Aku tidak bisa menolaknya. Ucap Heera dalam hati.

Mereka berjalan beriringan menuju tempat tinggal Heera. Sedangkan si laki-laki tak hentinya berkali-kali mencuri pandang ke arahnya.

“Ini sangat berat, kau tahu? Dan kau membawanya seorang diri? Yang benar saja.” Ucapnya pada Heera.

Heera menoleh, memperhatikan si lelaki tampan dari arah samping, “Sebenarnya aku hanya ingin membuah arbei. Tapi karena tidak ada aku membeli buah peach yang ukurannya lebih besar dan tentunya berat, heheh…”

“Arbei? Pada musim seperti ini?” tanya si lelaki dengan heran. Orang bodoh mana yang akan mencari buah segar beri di musim dingin.

Dan Heera tahu ia telah salah, akhirnya dia menunduk, tersenyum canggung. “Yah… adikku sangat ingin memakannya.”

“Adikmu masih kecil dan egois, ya?”

“T-tidak. Dia hanya satu tahun di bawahku.”

Dengan tiba-tiba si lelaki menghentikan langkahnya untuk menatap Heera tajam, “Beda setahun?” ulangnya. “Itu… mungkin kamu terlalu memanjakannya.”

Sontak Heera membelak. Ada apa dengan lelaki ini? Seorang sosok yang sangat terus terang, padahal baru saja bertemu.

Heera kembali melangkah lalu disusul lelaki satunya, menyamakan jalan. “Aku… sangat menyayangi adikku. Badannya sudah lemah sejak kecil.” Ujarnya sendu. “Kami hanya berdua saja setelah orang tua kami meninggalkarena kecelakaan lima tahun lalu. Jadi aku harus melindunginya.”

Si lelaki mengangkat tangan, dan tanpa aba-aba menyentuh bagian dahi Heera yang memerah karena memar. “Tapi paling tidak, kamu harus menjaga dirimu sendiri.”

Heera membeku di tempat. Tangan lelaki ini terasa sangat dingin saat mendarat di dahinya. Dia berkedip dua kali sebelum melanjutkan perjalanan.

Mereka berbelok di tikungan, hingga tak terasa enam meter ke depan telah sampai di rumah keluarga Jung yang megah.

“Ini rumahku. T-terima kasih.” Ucap Heera seraya mengambil alih keranjang buahnya.

“Tapi… tanganku terasa pegal setelah membawa buah-buah itu. Mana bayaranku?”

“Huh? Ba-ba—

“Hahhaha…” sontak lelaki itu tertawa ketika melihat wajah panik Heera yang terkesan lucu, “Aku hanya bercanda. Untuk imbalanku, berjanjilah kita akan bertemu lagi, hm?”

“Oh…” Heera tersenyum samar si antara helaian rambutnya yang menutupi sebagian dahi dan mata. “B-baiklah.”

Si lelaki membalas senyum lalu melangkah mundur, “Hei… dengan apa aku harus memanggilmu?”

“H-Heera… Jung Heera.” Ucap Heera dengan sedikit berteriak karena lelaki itu terus melangkah mundur setiap detiknya.

“Heera… namaku Kai.”

Kai.” ulang Heera pelan dengan sedikit tersenyum.

.

.

-TBC-

Author Note:

Di chapter 1 ini aku belum mau cuap-cuap banyak. Yang penting aku mau bilang hati-hati PLOT TWIST!

Karena aku mau bikin cerita yg kayak kayak FF mysteryk dulu… tapi pasti ada bedanya lah.. apa bedanya? Coba cari tahu sendiri 😛 hahaha… DAN AKU JUGA MENGGAET SI MANIS DARI NCT, ALIAS YUTAA..!! 🙂 gak tahu kenapa aku jadi kesem-sem nih sama visual Yuta & Taeyong. #krik.. krikk.. sama Jaehyun juga sih #tambah krik.. Sudahlah

Mind to review?

Regard.

-KEIKO SINE https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

4 thoughts on “CLEMATICA SHOE; The Begining #1

  1. Ping-balik: CLEMATICA SHOE; Shook Confession #3 END – KAI FanFiction Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s