DEVOTION; Yoona Ver. [Chapter 7]

devotion-yoona2

Devotion by. Keiko Sine

{Yoona Ver.}

Marriage Life – Crime – Romance || NC-19 (lil bit Gore)

Casts:

Im Yoona (SNSD), Lee Donghae (SJ)

Choi Siwon (JS) , Kris Wu, Kim Jinwoo (WINNER), Others.

Poster By: Babythinkgirl @ Poster Channel 

Fiction ini sudah pernah dipublish di FlyingncFF dan Blog pribadi author dengan versi Original Character, juga dengan nama author yang sama yaitu Keiko Sine.

“Sing to me the song of the stars. Of your galaxy dancing and laugh, and laughing again.“

***

[Chapter 7]

Yoona menatap sepiring bimbibab di hadapannya dengan datar. Ia hanya memakannya beberapa sendok lalu memutuskan untuk menyudahi. Wanita itu hanya tak ingin Kris terus memperhatikannya ketika makan, membuat dirinya tak nyaman.

Tali di tangan dan kaki kembali dipasang saat Kris memutuskan untuk meninggalkannya. Siapapun tolong dirinya, Yoona hanya takut kalau ia mati kebosanan di sini mengingat ucapan Kris yang takkan membunuh Yoona jika belum saatnya.

Entah mengapa Yoona mulai tak takut dengan kematian.

Apa yang harus ditakutkan? Bukankah semua orang akan mati? Yang membedakan hanya waktu dan kronologi kematiannya saja, bukan?

Setidaknya seperti itulah pemkiran Yoona.

Pada saat – saat seperti ini Yoona hanya memikirkan keluarganya. Bagaimana nasib orang tua dan Donghae jika dia meninggalkan mereka semua. Akankah lebih baik atau— entahlah, Yoona tak mau melanjutkan pemikirannya sendiri.

Dengan tiba – tiba pintu ruangan dimana ia disekap kembali terbuka, menampilkan sosok bernadan besar berjalan masuk. Namun ia tak melihat Yoona, pria itu mengambil kursi tak terpakai lalu membawanya keluar ruangan.

Belum sampai mencapai pintu, Yoona membuka suara.

“Yak, ajhussi. Tidak bisakah kalian membiarkanku mandi? Tubuhku terasa lengket.”

Pria itu berbalik, menatap Yoona dengan tajam, “Dan haruskah aku mengajakmu ke sauna juga? Mimpi saja kau!”

#BLAM!!

Membanting pintu dengan keras. Yoona menggerutu di baliknya. Tubuhnya benar – benar terasa lengket dan pegal dari ujung kepala sampai kaki. Bahkan mati adalah pilihan yang baik dari pada harus disiksa secara perlahan seperti ini.

.

.

-oOo-

Donghae menghubungi kantor cabang perusahaannya di Jepang untuk meminta bantuan. Dan entah mengapa Donghae merasa lebih ‘bersemangat’ dari biasanya.

Mungkin karena Donghae sudah lama tidak ‘beraksi’.

Ia tersenyum tipis. Akhirnya pekerjaannya sebagai mafia berguna juga. Tak salah ia dibesarkan di dalam keluarga yang keras.

“Kau yakin hal ini akan berhasil?” Siwon bertanya saat ia berhasil mendaratkan tubuhnya di sofa besar di ruangan itu. Ia datang ke apartment Donghae untuk memberi sahabatnya ini ‘semangat’.

“Apakah kau masih meragukanku?” Tanya Donghae kembali.

“Bukan…” Siwon menggaruk belakang tengkuknya, “Hanya saja— kau belum tahu seperti apa Kris dan anak buahnya, bukan?”

“Dan Kris juga belum tahu seperti apa aku dan anak buahku.”

Siwon menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Donghae yang berwibawa dan elegan, yang biasa memakai kemeja dan jas-jas mahal kini telah bertransformasi menjadi si brengsek yang tak kenal takut dengan pakaian serba hitam dan topi NY kesayangannya.

“Kau memberitahu polisi? Maksudku— meminta bantuan aparat…”

“Tidak.”

“Kau gila!” sela Siwon cepat.

“Memang, aku orang gila yang tampan.” Ujarnya bangga. “Siwon-ah… kau belum tahu tentang kehidupanku dulu, aku bahkan pernah mengalami hal yang malah jauh lebih buruk dari ini.”

“Seperti apa?”

“Aku pernah jadi umpan.”

Siwon mengendikkan bahunya tak paham, “Apa itu?”

“Ketika usiaku masih sepuluh tahun, aku diberi tugas oleh appaku, beliau sedang berusaha mencari lokasi bandar narkotika yang sempat menyerang perusahaan keluargaku. Jadi aku sengaja pulang sekolah sendiri dan jalan kaki waktu itu, hal tersebut akan mempermudah bagi musuh appaku untuk menangkapku, bukan? Dan setelah aku ditahan di markas mereka, appaku dan anak buahnya datang dan menyelamatkanku. Juga menghabisi musuhnya. Ini adalah sebuah misi. Appaku bisa datang ke tampat yang benar karena ia telah menaruh chips GPS tersembunyi di bajuku yang dapat menentukan lokasi dimana aku berada”

Dan tanpa sadar Siwon telah membuka mulutnya perlahan, “Woah… kau memang daebak Donghae -ah.”

“Benar ‘kan?”

“Lalu apa rencanamu kali ini?”

“Hanya penyelamatan seperti biasa. Jinwoo, pria itu memberiku sebuah plat nomor dari mobil yang membawa Yoona. Dan anak buah baruku— Taeyong, telah menghack semua data dan CCTV kantor polisi. Aku sudah tahu alamatnya.”

“Hebat juga anak itu.”

Donghae mengangguk pelan tanda setuju, “Dan asal kau tahu, dia masih SMA.” Donghae terkekeh menjelaskan, “Tapi berbahaya juga kalau sudah pandai menjadi hacker.”

“Hmm.” Gumam Siwon pelan.

Ia menatap Donghae yang kini tengah memasang sarung tangan. Tak lama kemudian bell pintu apartmentnya berbunyi.

#ting…

“Baiklah, kurasa anak buahku sudah siap. Aku pergi dulu, Choi.”

“Hm, aku mendoakanmu.”

.

.

-oOo-

Pintu ruangan dimana Yoona disekap terbuka, suara langkah kaki terdengar disusul dengan beberapa orang bertubuh besar memasuki ruangan tersebut. Seorang laki-laki lain diseret masuk, dipaksa, sesekali ditendang.

“Apakah kau mata-mata? Siapa yang menyuruhmu?” Kris bertanya dengan nada tinggi. Gurat kekhawatiran terpancar di wajahnya yang dingin.

Lelaki yang duduk di lantai itu menggeleng pelan, dapat Yoona lihat beberapa tanda lebam menghiasi wajah lelaki itu. “Tidak… a-aku hanya kebetulan lewat.” Ucapnya.

“Kau pikir aku percaya?! Katakan siapa bosmu?” tanya Kris sekali lagi.

“…” lelaki itu kini tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya frustasi.

Kris yang masih belum puas atas reaksi lelaki itu kembali berujar, “Geledah dia.” Ucapnya pada para bodyguard.

Dengan sebuah aba – aba, mereka mendekati si lelaki, menggerayangi tubuhnya dari atas sampai bawah. Memeriksa setiap kantung dan lipatan baju.

Dan sebuah chips kecil berupa GPS pelacak tertemukan di kerah baju lelaki itu. Seorang bodyguard mengambilnya. “Kita menemukan sebuah GPS kecil, Bos.”

Kris menyunggingkan bibirnya, membentuk sebuah smirk yang mengerikan. “Kau lihat, brengsek. Kau membohongiku. Dan cepat katakan siapa yang menyuruhmu selagi aku berbaik hati.!” Desisnya dengan pelan.

Tak menjawab lagi, dan di detik selanjutnya Kris menjentikkan jari. Sontak para anak buahnya mendekati lelekai tersebut. Memukul, menendang, dari kepala sampai kaki. Yoona ingin berteriak, berkata untuk menghentikan kegiatan tersebut, namun ia yakin pasti tak berguna.

Lelaki itu terbatuk, memegangi dada. Dan di detik selanjutnya ia memuntahkan darah dari dalam mulutnya. Darah pekat bercampur dengan lendir, matanya menatap sayu. Ia kesakitan dan semua orang bodoh yamg berada disana tahu itu.

“Hentikan! Kalian menyakitinya!” teriak Yoona dari tempatnya duduk.

Kris menyeringai, ia menatap Yoona dari ekor matanya, “Apakah kau kemari untuk menyelamatkan wanita ini?” tanya Kris seolah mengetahui sesuatu, “Yoona, aku berani bertaruh kalau kau pasti akan merasa bersalah jika lelaki ini meninggal karena menyelamatkanmu.”

Yoona mendelik, tahu kemana arah pembicaraan ini, “Kris… ku mohon, jangan—

#BRAK!

“Aaakkhh!!” lelaki itu berteriak saat merasakan kaki besar Kris menekan bagian perutnya.

Sedangkan sang iblis hanya menatap datar, ia mengambil sesuatu yang kecil dan berkilat dari dalam saku. Membukanya dan hampir saja Yoona kembali berteriak, itu sebuah pisau lipat.

“Kris!!” teriak Yoona frustasi, ia bergerak tak nyaman di kursinya.

Kris berjongkok di hadapan si lelaki yang hampir sekarat, menggoyangkan pisau lipatnya tepat di wajah lelaki itu lalu mendarat di perpotongan lehernya. “Katakan siapa Bosmu, atau ku potong habis tenggorokanmu!” desis Kris dengan penekanan di setiap kata.

Lelaki itu membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu namun ia tahu bahwa tenanganya telah meluap habis. Dengan tertatih ia mencoba menggerakkan lidah, “Lee— Hae…” ucapnya lirih.

Dan seketika tubuh Yoona meremang, apakah Donghae akan kemari? Menyelamatkannya? Tidak. Donghae tidak tahu monster seperti apa yang akan ia hadapi.

Kris tersenyum disela rambut panjangnya yang menutupi kening dan sebagian mata, “Anak baik.” Ucapnya, namun di detik selanjutnya pisau yang ia pegang telah mendarat di leher lelaki itu.

“Aaakkhhh!!”

“Kris!”

Reaksi berbeda ditunjukkan oleh si lelaki itu dan Yoona. Wanita itu melihat darah yang keluar dari leher si pria, juga percikan darah yang muncrat mengenai tangan dan baju Kris.

Kris semakin menekan pisaunya ke dalam. Mata lelaki itu berputar ke atas, mulutnya terbuka lebar. Dan di detik napasnya, terakhir Kris memutar pisau hingga 180 derajat. Membuat lubang di leher yang ditancapi pisau itu melebar, meninggalkan lubang dengan diameter empat senti yang terbuka.

Yoona mengatupkan kedua bibirnya rapat. Takut akan teriakan histeris jika ia membuka mulutnya. Baru kali ini ia melihat bagaimana orang terbunuh di depan wajahnya sendiri. Ini mengerikan.

Kris beralih menatapnya, “Tunggu sampai giliranmu tiba.” Ucapnya sambil membersihkan darah di tangan dengan sebuah kain.

.

.

-oOo-

Di dalam sebuah mobil, Donghae dan ke enam anak buahnya menatap layar dengan pandangan bingung, sedangkan Taeyong si jenius tengah mengotak – atik keyboard dan kursor bergantian. Tanda merah yang menyala itu tak lagi ada, “Chipsnya terlepas.” Ujar Taeyong khawatir.

Donghae mendesah pelan, “Pasti mereka telah menangkap Jackson.”

Dan sontak semuanya mengangguk setuju, wajah mereka mengeras dari sebelumnya. “Lalu— apa yang akan kita lakukan, sunbae?” tanya Yuta, anak buahnya yang berasal dari Jepang.

“Kita lakukan rencana ke dua. Taeyong dan Yugyeom kan masuk ke bangunan tua yang berada di seberang jalan. Kalian naik di lantai tiga bangunan tersebut, membidik dari jendela. jika aku telah memberi intruksi, kalian bisa menembak anak buah Kris— atau Kris sendiri dari jarak jauh.”

Taeyong dan Yungyeom mengangguk paham.

“Mingyu akan berjaga di luar. Dan sisanya ikut aku ke dalam. Kalian mengerti?”

Semuanya mengangguk, mata mereka memancarkan gairah membunuh yang sangat tinggi. Ini bagus. Mereka adalah anak – anak yang kuat, pintar, kadek yang pemberani. Dan dengan sebuah anggukan dari Donghae, semuanya memakai topi dan masker. Berjalan keluar dari mobil. Mengambil posisi.

Taeyong dan Yugyeom yang pertama berjalan menjauh. Mereka memasuki sebuah rumah tua bergaya Eropa tahun 80an, mengambil posisi seperti yang diperintahkan. Yakni lantai tiga, menghadap keluar jendela.

Mereka memasang senapan jarak jauh di balik jendela gorden yang hampir tertutup. Mengarahkan moncong pistol ke arah sebuah bangunan dimana Yoona disekap. Yugyeom melirik ke arah Taeyong, seolah mengerti apa yang dimaksud lelaki yang lebih tua, Taeyong membuka laptopnya. Terlihat layar terbagi menjadi enam bagian. Itu adalah suasana bagunan yang CCTVnya telah dihack oleh Taeyong.

“Keadaan ruang tamu aman, hyung.” Ucap Taeyong pada walkie talkie kecil di tangannya.

“Baiklah.”

Itu suara Donghae, berujar serak di seberang sana.

Donghae memimpin tiga anak buahnya yang lain. Meninggalkan Mingyu berjaga di pintu depan.

Donghae melangkah melewati ruang tamu dengan santai, bahkan sesekali pria itu bersiul pelan. Mengabaikan kemungkinan terburuk bahwa anak buah Kris akan menyerang tiba – tiba. Ia memimpin pasukannya berbelok di sebuah lorong, dan saat Donghae mendekatkan diri ke tembok, sebuah suara menginterupsi.

“Siapa kalian?”

Sontak Donghae dan ketiga anak buahnya menoleh ke belakang, pria itu masih mempertahankan wajah datarnya. Dan dengan sebuah gerakan cepat—

#DOR!

Donghae berhasil merebut nyawa pria berbadan besar tersebut. “Aku yakin pasti mereka menyekap Yoona di salah satu ruangan ini. Mengingat Chips milik Jackson juga berhenti berfungsi ketika ia sampai kemari, ‘kan?”

Ketiganya mengangguk menanggapi, kini Yuta memimpin jalan di depan. Matanya menyapu ke seluruh penjutu ruangan dan koridor, “Aman.” Bisiknya.

Namun masih beberapa langkah mereka berjalan, “Bos… ada penyusup!” teriak seorang laki – laki lain dari belakang mereka. Donghae yang akan menangkapnya pun harus mengurungkan diri karena lelaki tadi sudah lebih dulu berlari.

Yang ia yakin, lelaki tadi akan membawanya pada Kris. Dan ini adalah hal yang bagus untuk menghabisi bajingan – bajingan itu sebelum menyelamatkan Yoona.

“Kejar dia.”

Dangan sigap mereka berjalan, berlari mengikuti insting masing – masing. Merapatkan diri ke tembok, dan ketika Donghae menemukan sebuah pintu ganda, ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk bersiap – siap, bahwa ia akan membuka pintu tersebut.

#BRAK!

Donghae mengacungkan pistolnya.

Sebuah tawa menggelegar, seolah menyambut kedatangan mereka. Kris duduk di sebuah kursi dan puluhan lelaki berbadan besar berdiri di sekelilingnya. Bibirnya tersungging samar, membentuk sebuah seringai yang mengerikan.

Dan betapa Donghae ingin menghabisinya juga ketika melihat tak jauh dari Kris berada, terdapat Yoona yang duduk diikat, beberapa memar dan darah kering jelas tercetak di ujung bibirnya.

“Aku sudah menunggu kedatanganmu, Donghae.” Ujar Kris kini mulai berdiri dari tempat duduknya.

“…” Donghae tak menjawab, namun amarahnya lebih terasa mendidih di puncak ubun – ubun.

“Aku tahu kau akan kemari. Apakah kau datang untuk menyetorkan nyawamu padaku, hm? Maka kalian berdua akan mati bersama – sama seperti Romeo dan Juliet.”

“Cukup basa – basimu, Kris.” Sela Donghae cepat, “Apa maumu? Uang? Aku akan membayarmu berapapun asal kau melepaskan Yoona.”

Kris melempar tangannya ke udara, merasa tak tertarik, “Ini bukan masalah uang lagi, Donghae. Tapi lebih berharga dari itu. Membayar nyawa adikku.”

Dan seketika mata Donghae melebar, ia tahu kemana pembicaraan ini akan berujung. “Sudah kukatakan, Kris. Itu adalah murni kecelakaan. Yoona—

“Diam!” teriak Kris, dan entah sejak kapan ia telah mengenggam sebuah pistol di tangannya. “Aku hanya perlu menghabisi istrimu, lalu dirimu setelahnya.”

Dan dengan cepat bodyguard berbadan besar itu menarik pelatuk pistolnya, mengarahkan langsung ke kepala Yoona. Wanita itu menangis, menggigit bibir bawahnya.

#Srett

“Aakkhh”

Bukan Yoona yang berteriak, namun bodyguard yang menodongkan pistol ke arahnya kini mengerang kesakitan. Tangan kanannya berdarah dan pistolnya terjatuh ke lantai.

Kris kalap, ia mengarahkan pandangannya ke kanan dan kiri. Bertanya – tanya siapa yang telah menembak. Yang nyatanya ia tak mendengar suara pistol sejauh tadi.

Sedangkan Donghae dan ketiga anak buahnya tersenyum samar. Ia tahu Taeyong dan Yugyeom sangat bisa diandalkan. Pasti mereka yang telah menembak lelaki tadi.

“Yak! Aku tidak tahu kalau kau telah menyiapkan semua ini.” Meskipun Kris belum tahu apa yang telah terjadi sebenarnya, namun ia yakin kalau hal barusan adalah Donghae yang melakukannya.

“Hebat, bukan?” jawab Donghae menaikkan dagunya.

#Klik

Kris menarik pelatuk, dan dengan cepat ia mengarahkan ke Donghae —

#DOR!

Namun dengan gesit Donghae mengelak. Anak buah Kris yang lain mulai menyerang.

Meskipun jumlah anak buah Donghae bisa dibilang sedikit, nyatanya mereka masih bisa mengimbangi para algojo berbadan besar tersebut. Disisi lain taeyong dan Yugyeom tak mau kalah, mereka terus membidik. Memilih sasaran. Lalu secara diam – diam, dengan tenang mereka menembak bodyguard Kris itu dengan jarak jauh.

Yuta menendang seorang lelaki botak yang menyerangnya dengan sebuah pisau lipat. Lelaki Jepang itu menahan tangan lawannya, memutarnya ke belakang lalu menjatuhkan pisau sialan yang sempat menakutinya.

“Kau bertarung dengan anak SMA menggunkan pisau? Apakah otot besarmu itu masih punya malu?”

#KRAK!

“Aaakkhhh!!”

Yuta semakin memutarnya, bahkan ia yakin kalau lengan lawannya ini sudah patah. Dan kini gilirannya menyerang, Yuta mengeluarkan sebuah jarum panjang pipih, lalu ditekannya di dada pria besar tersebut. Mengenai jantungnya hingga si pria memuntahkan darah dari dalam mulut.

Ten dan Mark yang termuda dari mereka bekerja sama. Melumpuhkan lawan hanya dalam hitungan menit.

Ten menendang seorang bodyguard, hingga tubuhnya terpental dan merobohkan sebuah pintu kayu. Ia berjalan mendekat, hendak menghabisi lelaki itu sebelum matanya menangkap sesuatu yang lain.

“J-Jackson…”

Mayat sahabatnya tergeletak di lantai marmer yang berdebu. Tubuhnya memar dan darah mengalir di lehernya yang berlubang.

Mata Ten memanas, jiwa membunuhnya semakin mendidih. “Apa yang kalian lakukan pada temanku?!!”

#DOR!

Ten menembakkan pistolnya ke kepala bodyguard itu dengan gerakan cepat. Mendengar suara tembakan dari ruang samping, membuat Mark ikut masuk ke dalam.

Dan seketika bagian tengkuknya meremang melihat pemandangan tak mengenakkan itu dihadapannya. Tak bisa disangkal bahwa lelaki paling muda itu juga tambah terbakar emosi.

Mereka berdua kembali ke ruangan utama. Sebagian besar musuh telah dapat ditaklukkan. Well, terima kasih untuk Taeyong dan Yugyeom juga.

Sedangkan Yuta masih menghadapi pertarungan sengit dengan dua orang lawan. Ten dan Mark memutuskan untuk membantu hyungnya.

Di sisi lain ruangan, Donghae menatap nyalang ke arah Kris. Mata elangnya memancarkan kebencian.

“Kudengar perusahaanmu telah memenangkan tuntutan, huh?”

“…” Donghae tak menjawab, tak ingin terpancing dengan kalimat basa – basi Kris. Tapi— bagaimana lelaki ini bisa mengetahuinya. Kalau tidak dia yang—

Sontak Donghae membelak saat Kris semakin tertawa, “Ternyata aku terlalu meremehkanmu, adik kecil.”

“Siapa yang kau panggil kecil, brengsek?”

Kris semakin tertawa di sisi sana. Ia berjalan mendekat ke arah Donghae, “Sepertinya aku harus memikirkan gugatan yang lebih kuat lain kali. Kau tak semudah itu untuk dikalahkan.”

#BRAK!!

Kris menendang kursi di hadapannya. Kursi kayu itu melayang ke arah Donghae. Namun dengan gesit pria bermarga Lee itu dapat mengelak.

Donghae sempat lengah saat itu, dan tak menyadari saat Kris menerjang ke arahnya. Menendang perut dan dada Donghae. Menghantamnya tepat di wajah. Kris menindihnya, mendaratkan pukulan – pukulan di wajah Donghae. Seolah meluapkan emosi yang telah ia pendam selama bertahun – tahun ini.

Tak tinggal diam, Donghae segera membalikkan badan. Membuat Kris yang sekarang berada di bawahnya. Meninju wajah tampam pria China-Canada yang telah berubah menjadi iblis kejam.

Donghae mencekik leher Kris. Menekan kuku – kukunya mengenai kulit Kris yang putih. Hingga memar kemerahan dengan jelas tercetak disana. Mata Kris berubah merah, tanda ia sangat kesakitan, namun nyatanya bibir itu masih tertutup rapat dan tak sudi untuk merengek ataupun memohon untuk dilepaskan.

Kris menurunkan tangannya, merogoh sesuatu yang telah ia simpan di saku celana. Sebuah pisau lipat— lagi.

#Srett!

“Akkhh!”

Donghae menyingkirkan tubuhnya dari atas Kris saat bahu kirinya terasa perih, seperti disobek, hingga kini darah pekat keluar dari sana. Donghae meringis, sejenak menyentuh lengannya yang berdarah.

Kris berdiri dengan cepat. Mengarahkan pisaunya kepada Yoona yang kini wajahnya telah basah karena air mata. Ini terlalu mengerikan.

“Satu gerakan, brengsek, dan aku akan memenggal habis kepala istrimu.” Desis Kris dengan penuh kebencian.

Donghae tak dapat membantu hanya berdiri tegang disana. Namun tiba-tiba—

#Srett

#Srett

“Aaakkhhh!” Kris mengerang bagai binatang buas.

Dua buah peluru tertancap di kaki kiri dan tangan kanan Kris yang semula memegang pisau. Dan diam – diam Taeyong juga Yugyoem tersenyum senang di tempat persembunyian mereka.

“Menyerahlah, Kris. Dan lupakan kejadian ini. Kau tahu semua anak buahmu telah ku lumpuhkan. Kau tidak punya pilihan lain.” Ujar Donghae sambil berjalan mendekat.

Sontak Kris mengembarakan pandangannya ke seluruh ruangan. Memang benar, semua bodygardnya telah merenggang nyawa masing – masing. Dan hal tersebut membuat Kris marah.

Kris mendecih dari tempat ia duduk, ia bertumpu dengan tangan kiri di lantai, “Lalu apa lagi yang kau tunggu? Cepat bunuh aku!” teriaknya frustasi.

“…”Donghae tak menjawab. Memang benar ia juga akan membunuh Kris, tapi keadaan ini akan membuatnya seperti pengecut yang membunuh musuh pada saat terlemah.

“Aku sudah tak punya siapa – siapa lagi di dunia ini. Cepat bunuh aku agar aku bisa bertemu dengan orang tua dan adikku!!” teriaknya lagi. Kini air matanya tak dapat ia tahan lagi, dengan perlahan merembes keluar. Jemarinya terasa bergetar saat Kris memaksakan untuk tetap bertumpu padanya.

“Tidak bisakah kau lupakan masa lalu dan mulai dengan kehidupan baru untuk saat ini?” Donghae mendekat ke arah Yoona, melepaskan tali yang mengikat istrinya saat ia merasa Kris sudah benar – benar tak berdaya.

Ketiga anak buah Donghae mengamati mereka di samping pintu masuk. Tak ingin untuk ikut campur pada masalah mereka.

“Tidak—

“Maka cobalah.” Sela Donghae cepat.

Diam – diam Kris menyipitkan matanya saat ia melihat sebuah pistol yang terjatuh di lantai. Ia mengambilnya dengan gerakan cepat dan tanpa suara, menyembunyikan di balik jaket yang ia kenakan.

“Bagaimana kau bisa berkata dengan sangat tenang? Kau pernah melakukannya sendiri??” desis Kris dengan masih mempertahankan actingnya.

Pria itu hanya perlu menunggu. Sebuah cela dan waktu yang tepat, dan ia akan menembakkan pelurunya tepat di jantung Lee Donghae.

“Setidaknya aku tidak seburuk kau.” Ucap Donghae acuh lalu menggendong Yoona ala bridal di pelukannya.

Donghae berbalik, meninggalkan Kris yang masih terduduk kesakitan di lantai. Donghae berjalan menuju pintu, hingga tanpa aba-aba—

#DORR!!

Ketiga anak buahnya membalikkan badan.

“Akkhh!”

.

.

-TBC-

Author Note:

Hello chap 7 is up! Dan kayaknya chap 8 besok udah end alias selesai deh ini FF. Dannn…berhubung chapter depan udah end (kalo jadi), misal author mau bikin sequel dari FF ini, kalian pengen ditambahin karakter siapa? Kyuhyun mungkin? atau Eunhyuk?… vote yak vote yak karena aku lagi proses nulis FF baru yoonhae

 

DAANNN….. NEXT CHAPTER JUGA DI PROTECT! KENAPA?? Karena aku menghindari SIDERS lagi hahahaha.. jadi seperti biasa yg ingin tau passwordnya tinggal meluncur ke sini ::

[PASSWORD]

wkwkwk 😀 Mau happy ending atau sad ending nih?? haha

Jangan lupa tinggalkan like & comment setelah membaca.

Regard.

-Keiko Sine https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

39 pemikiran pada “DEVOTION; Yoona Ver. [Chapter 7]

  1. deer yun

    Aduh jackson meninggal kris memang iblis dia membunuh jackson dengan keji semoga ajja hae gk knp2…thor Q udh follow ig nya author dan inbok gk di bls nma ig Q yuni__96 jaga2 buat minta pw..
    Chapter 1 Q comen di blog imyoona dan untuk kedua dan sampai chpter 7 ini coment di blog author sendri .thor nanti Q minta pw nya ya chapter 8 author bsa cek klw gk percaya mksih😊

    Suka

  2. Waktu baca adegan actionx aku ngerasa lagi di tempat itu thor.. ikut deg-deg.. seperti biasa, lee donghae selalu dpt diandalkan. Tapi TBC’nya pas banget .. pas karna disitu memang moment yg paling bikin jantungan.. next tinggal bc chapter akhir, moga sesuai harapanku..😊

    Suka

  3. kayaknya q dah ninggalin jejak deeeh…
    tp ga tau jg…
    haha
    suka thoor…
    sukses slalu buaymu…
    semoga sequelnya yoona ama kyu… haha
    jauh sih… cuma berharap gt aja…
    keepting thoor

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s