DEVOTION [Chapter 6]

devotion

Devotion by. Keiko Sine

Marriage Life – Crime – Yadong || NC19+! (Lit bit Gore)

Casts:

Oh Sehun (EXO), Choi Dahye (OC)

Kim Kai, Kris Wu, Kim Jinwoo (Winner), Others.

I OWN THE STORY AND PLOT. COPYING AND PLAGIARIZING THIS STORY ARE FORBIDDEN!

“Sing to me the song of the stars. Of your galaxy dancing and laugh, and laughing again.“

***

[Chapter 6]

Dahye menatap sepiring bimbibab di hadapannya dengan datar. Ia hanya memakannya beberapa sendok lalu memutuskan untuk menyudahi. Wanita itu hanya tak ingin Kris terus memperhatikannya ketika makan, membuat dirinya tak nyaman.

Tali di tangan dan kaki kembali dipasang saat Kris memutuskan untuk meninggalkannya. Siapapun tolong dirinya, Dahye hanya takut kalau ia mati kebosanan di sini mengingat ucapan Kris yang takkan membunuh Dahye jika belum saatnya.

Entah mengapa Dahye mulai tak takut dengan kematian.

Apa yang harus ditakutkan? Bukankah semua orang akan mati? Yang membedakan hanya waktu dan kronologi kematiannya saja, bukan?

Setidaknya seperti itulah pemkiran Dahye.

Pada saat – saat seperti ini Dahye hanya memikirkan keluarganya. Bagaimana nasib orang tua dan Sehun jika dia meninggalkan mereka semua. Akankah lebih baik atau— entahlah, dahye tak mau melanjutkan pemikirannya sendiri.

Dengan tiba – tiba pintu ruangan dimana ia disekap kembali terbuka, menampilkan sosok bernadan besar berjalan masuk. Namun ia tak melihat Dahye, pria itu mengambil kursi tak terpakai lalu membawanya keluar ruangan.

Belum sampai mencapai pintu, Dahye membuka suara.

“Yak, ajhussi. Tidak bisakah kalian membiarkanku mandi? Tubuhku terasa lengket.”

Pria itu berbalik, menatap Dahye dengan tajam, “Dan haruskah aku mengajakmu ke sauna juga? Mimpi saja kau!”

#BRAKK!!

Membanting pintu dengan keras. Dahye menggerutu di baliknya. Tubuhnya benar – benar terasa lengket dan pegal dari ujung kepala sampai kaki. Bahkan mati adalah pilihan yang baik dari pada harus disiksa secara perlahan seperti ini.

.

.

-oOo-

Sehun menghubungi kantor cabang perusahaannya di Jepang untuk meminta bantuan. Dan entah mengapa Sehun merasa lebih ‘bersemangat’ dari biasanya.

Mungkin karena Sehun sudah lama tidak ‘beraksi’.

Ia tersenyum tipis. Akhirnya pekerjaannya sebagai mafia berguna juga. Tak salah ia dibesarkan di dalam keluarga yang keras.

“Kau yakin hal ini akan berhasil?” Kai bertanya saat ia berhasil mendaratkan tubuhnya di sofa besar di ruangan itu. Ia datang ke apartment Sehun untuk memberi sahabatnya ini ‘semangat’.

“Apakah kau masih meragukanku?” Tanya Sehun kembali.

“Bukan…” Kai menggaruk belakang tengkuknya, “Hanya saja— kau belum tahu seperti apa Kris dan anak buahnya, bukan?”

“Dan Kris juga belum tahu seperti apa aku dan anak buahku.”

Kai menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Sehun yang berwibawa dan elegan, yang biasa memakai kemeja dan jas-jas mahal kini telah bertransformasi menjadi si brengsek yang tak kenal takut dengan pakaian serba hitam dan topi Izro kesayangannya.

“Kau memberitahu polisi? Maksudku— meminta bantuan aparat…”

“Tidak.”

“Kau gila!” sela Kai cepat.

“Memang, aku orang gila yang tampan.” Ujarnya bangga. “Kai… Kai… kau belum tahu tentang kehidupanku dulu, aku bahkan pernah mengalami hal yang malah jauh lebih buruk dari ini.”

“Seperti apa?”

“Aku pernah jadi umpan.”

Kai mengendikkan bahunya tak paham, “Apa itu?”

“Ketika usiaku masih sepuluh tahun, aku diberi tugas oleh appaku, beliau sedang berusaha mencari lokasi bandar narkotika yang sempat menyerang perusahaan keluargaku. Jadi aku sengaja pulang sekolah sendiri dan jalan kaki waktu, hal tersebut akan mempermudah bagi musuh appaku untuk menangkapku bukan? Dan setelah aku ditahan di markas mereka, appaku dan anak buahnya datang dan menyelamatkanku. Juga menghabisi musuhnya. Ini adalah sebuah misi. Appaku bisa datang ke tampat yang benar karena ia telah menaruh chips tersembunyi di bajuku yang dapat menentukan lokasi dimana aku berada”

Dan tanpa sadar Kai telah membuka mulutnya perlahan, “Woah… kau memang daebak Sehun-ah.”

“Benar ‘kan?”

“Lalu apa rencanamu kali ini?”

“Hanya penyelamatan seperti biasa. Jinwoo, pria itu memberiku sebuah plat nomor dari mobil yang membawa Dahye. Dan anak buah baruku— Taeyong, telah menghack semua data dan CCTV kantor polisi. Aku sudah tahu alamatnya.”

“Hebat juga anak itu.”

Sehun mengangguk pelan tanda setuju, “Dan asal kau tahu, dia masih SMA.” Sehun terkekeh menjelaskan, “Tapi berbahaya juga kalau sudah pandai menjadi hacker.”

“Hmm.” Gumam Kai pelan.

Ia menatap Sehun yang kini tengah memasang sarung tangan. Tak lama kemudian bell pintu apartmentnya berbunyi.

#ting…

“Baiklah, kurasa anak buahku sudah siap. Aku pergi dulu, Kai.”

“Hm, aku mendoakanmu.”

.

.

-oOo-

Pintu ruangan dimana Dahye disekap terbuka, suara langkah kaki terdengar disusul dengan beberapa orang bertubuh besar memasuki ruangan tersebut. Seorang laki-laki lain diseret masuk, dipaksa, sesekali ditendang.

“Apakah kau mata-mata? Siapa yang menyuruhmu?” Kris bertanya dengan nada tinggi. Gurat kekhawatiran terpancar di wajahnya yang dingin.

Lelaki yang duduk di lantai itu menggeleng pelan, dapat Dahye lihat beberapa tanda lebam menghiasi wajah lelaki itu. “Tidak… a-aku hanya kebetulan lewat.” Ucapnya.

“Kau pikir aku percaya?! Katakan siapa bosmu?” tanya Kris sekali lagi.

“…” lelaki itu kini tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya frustasi.

Kris yang masih belum puas atas reaksi lelaki itu kembali berujar, “Geledah dia.” Ucapnya pada para bodyguard.

Dengan sebuah aba – aba, mereka mendekati si lelaki, menggerayangi tubuhnya dari atas sampai bawah. Memeriksa setiap kantung dan lipatan baju.

Dan sebuah chips kecil berupa GPS pelacak tertemukan di kerah baju lelaki itu. Seorang bodyguard mengambilnya. “Kita menemukan sebuah GPS kecil, Bos.”

Kris menyunggingkan bibirnya, membentuk sebuah smirk yang mengerikan. “Kau lihat, brengsek. Kau membohongiku. Dan cepat katakan siapa yang menyuruhmu selagi aku berbaik hati.!” Desisnya dengan pelan.

Tak menjawab lagi, dan di detik selanjutnya Kris menjentikkan jari. Sontak para anak buahnya mendekati lelekai tersebut. Memukul, menendang, dari kepala sampai kaki. Dahye ingin berteriak, berkata untuk menghentikan kegiatan tersebut, namun ia yakin pasti takberguna.

Lelaki itu terbatuk, memegangi dada. Dan di detik selanjutnya ia memuntahkan darah dari dalam mulutnya. Darah pekat bercampur dengan lendir, matanya menatap sayu. Ia kesakitan dan semua orang bodoh yamg berada disana tahu itu.

“Hentikan! Kalian menyakitinya!” teriak Dahye dari tempatnya duduk.

Kris menyeringai, ia menatap Dahye dari ekor matanya, “Apakah kau kemari untuk menyelamatkan wanita ini?” tanya Kris seolah mengetahui sesuatu, “Dahye, aku berani bertaruh kalau kau pasti akan merasa bersalah jika lelaki ini meninggal karena menyelamatkanmu.”

Dahye mendelik, tahu kemana arah pembicaraan ini, “Kris… ku mohon, jangan—

#BRAK!

“Aaakkhh!!” lelaki itu berteriak saat merasakan kaki besar Kris menekan bagian perutnya.

Sedangkan sang iblis hanya menatap datar, ia mengambil sesuatu yang kecil dan berkilat dari dalam saku. Membukanya dan hampir saja Dahye kembali berteriak, itu sebuah pisau lipat.

“Kris!” teriak Dahye frustasi, ia bergerak tak nyaman di kursinya.

Kris berjongkok di hadapan si lelaki yang hampir sekarat, menggoyangkan pisau lipatnya tepat di wajah lelaki itu lalu mendarat di perpotongan lehernya. “Katakan siapa Bosmu, atau ku potong habis tenggorokanmu!” desis Kris dengan penekanan di setiap kata.

Lelaki itu membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu namun ia tahu bahwa tenanganya telah meluap habis. Dengan tertatih ia mencoba menggerakkan lidah, “Oh Se-hun…” ucapnya lirih.

Dan seketika tubuh Dahye meremang, apakah Sehun akan kemari? Menyelamatkannya? Tidak. Sehun tidak tahu monster seperti apa yang akan ia hadapi.

Kris tersenyum disela rambut panjangnya yang menutupi kening dan sebagian mata, “Anak baik.” Ucapnya, namun di detik selanjutnya pisau yang ia pegang telah mendarat di leher lelaki itu.

“Aaakkhhh!!”

“Kris!”

Reaksi berbeda ditunjukkan oleh si lelaki itu dan Dahye. Wanita itu melihat darah yang keluar dari leher si pria, juga percikan darah yang muncrat mengenai tangan dan baju Kris.

Kris semakin menekan pisaunya ke dalam. Mata lelaki itu berputar ke atas, mulutnya terbuka lebar. Dan di detik napasnya, terakhir Kris memutar pisau hingga 180 derajat. Membuat lubang di leher yang ditancapi pisau itu melebar, meninggalkan lubang dengan diameter empat senti yang terbuka.

Dahye mengatupkan kedua bibirnya rapat. Takut akan teriakan histeris jika ia membuka mulutnya. Baru kali ini ia melihat bagaimana orang terbunuh di depan wajahnya sendiri. Ini mengerikan.

Kris beralih menatapnya, “Tunggu sampai giliranmu tiba.” Ucapnya sambil membersihkan darah di tangan dengan sebuah kain.

.

.

-oOo-

Di dalam sebuah mobil, Sehun dan ke enam anak buahnya menatap layar dengan pandangan bingung, sedangkan Taeyong si jenius tengah mengotak – atik keyboard dan kursor bergantian. Tanda merah yang menyala itu tak lagi ada, “Chipsnya terlepas.” Ujar Taeyong khawatir.

Sehun mendesah pelan, “Pasti mereka telah menangkap Jackson.”

Dan sontak semuanya mengangguk setuju, wajah mereka mengeras dari sebelumnya. “Lalu— apa yang akan kita lakukan, sunbae?” tanya Yuta, anak buahnya yang berasal dari Jepang.

“Kita lakukan rencana ke dua. Taeyong dan Yugyeom kan masuk ke bangunan tua yang berada di seberang jalan. Kalian naik di lantai tiga bangunan tersebut, membidik dari jendela. jika aku telah memberi intruksi, kalian bisa menembak anak buah Kris— atau Kris sendiri dari jarak jauh.”

Taeyong dan Yungyeom mengangguk paham.

“Mingyu akan berjaga di luar. Dan sisanya ikut aku ke dalam. Kalian mengerti?”

Semuanya mengangguk, mata mereka memancarkan gairah membunuh yang sangat tinggi. Ini bagus. Mereka adalah anak – anak yang kuat, pintar, kadek yang pemberani. Dan dengan sebuah anggukan dari Sehun, semuanya memakai topi dan masker. Berjalan keluar dari mobil. Mengambil posisi.

Taeyong dan Yugyeom yang pertama berjalan menjauh. Mereka memasuki sebuah rumah tua bergaya Eropa tahun 80an, mengambil posisi seperti yang diperintahkan. Yakni lantai tiga, menghadap keluar jendela.

Mereka memasang senapan jarak jauh di balik jendela gorden yang hampir tertutup. Mengarahkan moncong pistol ke arah sebuah bangunan dimana Dahye disekap. Yugyeom melirik ke arah Taeyong, seolah mengerti apa yang dimaksud lelaki yang lebih tua, Taeyong membuka laptopnya. Terlihat layar terbagi menjadi enam bagian. Itu adalah suasana bagunan yang CCTVnya telah dihack oleh Taeyong.

“Keadaan ruang tamu aman, hyung.” Ucap Taeyong pada walkie talkie kecil di tangannya.

“Baiklah.”

Itu suara Sehun, berujar serak di seberang sana.

Sehun memimpin tiga anak buahnya yang lain. Meninggalkan Mingyu berjaga di pintu depan.

Sehun melangkah melewati ruang tamu dengan santai, bahkan sesekali pria itu bersiul pelan. Mengabaikan kemungkinan terburuk bahwa anak buah Kris akan menyerang tiba – tiba. Ia memimpin pasukannya berbelok di sebuah lorong, dan saat Sehun mendekatkan diri ke tembok, sebuah suara menginterupsi.

“Siapa kalian?”

Sontak Sehun dan ketiga anak buahnya menoleh ke belakang, pria itu masih mempertahankan wajah datarnya. Dan dengan sebuah gerakan cepat—

#DOR!

Sehun berhasil merebut nyawa pria berbadan besar tersebut. “Aku yakin pasti mereka menyekap Dahye di salah satu tuangan ini. Mengingat Chips milik Jackson juga berhenti berfungsi ketika ia sampai kemari, ‘kan?”

Ketiganya mengangguk menanggapi, kini Yuta memimpin jalan di depan. Matanya menyapu ke seluruh penjutu ruangan dan koridor, “Aman.” Bisiknya.

Namun masih beberapa langkah mereka berjalan, “Bos… ada penyusup!” teriak seorang laki – laki lain dari belakang mereka. Sehun yang akan menangkapnya pun harus mengurungkan diri karena lelaki tadi sudah lebih dulu berlari.

Yang ia yakin, lelaki tadi akan membawanya pada Kris. Dan ini adalah hal yang bagus untuk menghabisi bajingan – bajingan itu sebelum menyelamatkan Dahye.

“Kejar dia.”

Dangan sigap mereka berjalan, berlari mengikuti insting masing – masing. Merapatkan diri ke tembok, dan ketika Sehun menemukan sebuah pintu ganda, ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk bersiap – siap, bahwa ia akan membuka pintu tersebut.

#BRAK!

Sehun mengacungkan pistolnya.

Sebuah tawa menggelegar, seolah menyambut kedatangan mereka. Kris duduk di sebuah kursi dan puluhan lelaki berbadan besar berdiri di sekelilingnya. Bibirnya tersungging samar, membentuk sebuah seringai yang mengerikan.

Dan betapa Sehun ingin menghabisinya juga ketika melihat tak jauh dari Kris berada, terdapat Dahye yang duduk diikat, beberapa memar dan darah kering jelas tercetak di ujung bibirnya.

“Aku sudah menunggu kedatanganmu, Sehun.” Ujar Kris kini mulai berdiri dari tempat duduknya.

“…” Sehun tak menjawab, namun amarahnya lebih terasa mendidih di puncak ubun – ubun.

“Aku tahu kau akan kemari. Apakah kau datang untuk menyetorkan nyawamu padaku, hm? Maka kalian berdua akan mati bersama – sama seperti Romeo dan Juliet.”

“Cukup basa – basimu, Kris.” Sela Sehun cepat, “Apa maumu? Uang? Aku akan membayarmu berapapun asal kau melepaskan Dahye.”

Kris melempar tangannya ke udara, merasa tak tertarik, “Ini bukan masalah uang lagi, Sehun. Tapi lebih berharga dari itu. Membayar nyawa adikku.”

Dan seketika mata Sehun melebar, ia tahu kemana pembicaraan ini akan berujung. “Sudah kukatakan, Kris. Itu adalah murni kecelakaan. Dahye—

“Diam!” teriak Kris, dan entah sejak kapan ia telah mengenggam sebuah pistol di tangannya. “Aku hanya perlu menghabisi istrimu, lalu dirimu setelahnya.”

Dan dengan cepat bodyguard berbadan besar itu menarik pelatuk pistolnya, mengarahkan langsung ke kepala Dahye. Wanita itu menangis, menggigit bibir bawahnya.

#Srett

“Aakkhh”

Bukan Dahye yang berteriak, namun bodyguard yang menodongkan pistol ke arahnya kini mengerang kesakitan. Tangan kanannya berdarah dan pistolnya terjatuh ke lantai.

Kris kalap, ia mengarahkan pandangannya ke kanan dan kiri. Bertanya – tanya siapa yang telah menembak. Yang nyatanya ia tak mendengar suara pistol sejauh tadi.

Sedangkan Sehun dan ketiga anak buahnya tersenyum samar. Ia tahu Taeyong dan Yugyeom sangat bisa diandalkan. Pasti mereka yang telah menembak lelaki tadi.

“Yak! Aku tidak tahu kalau kau telah menyiapkan semua ini.” Meskipun Kris belum tahu apa yang telah terjadi sebenarnya, namun ia yakin kalau hal barusan adalah Sehun yang melakukannya.

“Hebat, bukan?” jawab Sehun menaikkan dagunya.

#Klik

Kris menarik pelatuk, dan dengan cepat ia mengarahkan ke Sehun—

#DOR!

Namun dengan gesit Sehun mengelak. Anak buah Kris yang lain mulai menyerang.

Meskipun jumlah anak buah Sehun bisa dibilang sedikit, nyatanya mereka masih bisa mengimbangi para algojo berbadan besar tersebut. Disisi lain taeyong dan Yugyeom tak mau kalah, mereka terus membidik. Memilih sasaran. Lalu secara diam – diam, dengan tenang mereka menembak bodyguard Kris itu dengan jarak jauh.

Yuta menendang seorang lelaki botak yang menyerangnya dengan sebuah pisau lipat. Lelaki Jepang itu menahan tangan lawannya, memutarnya ke belakang lalu menjatuhkan pisau sialan yang sempat menakutinya.

“Kau bertarung dengan anak SMA menggunkan pisau? Apakah otot besarmu itu masih punya malu?”

#KRAK!

“Aaakkhhh!!”

Yuta semakin memutarnya, bahkan ia yakin kalau lengan lawannya ini sudah patah. Dan kini gilirannya menyerang, Yuta mengeluarkan sebuah jarum panjang pipih, lalu ditekannya di dada pria besar tersebut. Mengenai jantungnya hingga si pria memuntahkan darah dari dalam mulut.

Ten dan Mark yang termuda dari mereka bekerja sama. Melumpuhkan lawan hanya dalam hitungan menit.

Ten menendang seorang bodyguard, hingga tubuhnya terpental dan merobohkan sebuah pintu kayu. Ia berjalan mendekat, hendak menghabisi lelaki itu sebelum matanya menangkap sesuatu yang lain.

“J-Jackson…”

Mayat sahabatnya tergeletak di lantai marmer yang berdebu. Tubuhnya memar dan darah mengalir di lehernya yang berlubang.

Mata Ten memanas, jiwa membunuhnya semakin mendidih. “Apa yang kalian lakukan pada temanku?!!”

#DOR!

Ten menembakkan pistolnya ke kepala bodyguard itu dengan gerakan cepat. Mendengar suara tembakan dari ruang samping, membuat Mark ikut masuk ke dalam.

Dan seketika bagian tengkuknya meremang melihat pemandangan tak mengenakkan itu dihadapannya. Tak bisa disangkal bahwa lelaki paling muda itu juga tambah terbakar emosi.

Mereka berdua kembali ke ruangan utama. Sebagian besar musuh telah dapat ditaklukkan. Well, terima kasih untuk Taeyong dan Yugyeom juga.

Sedangkan Yuta masih menghadapi pertarungan sengit dengan dua orang lawan. Ten dan Mark memutuskan untuk membantu hyungnya.

Di sisi lain ruangan, Sehun menatap nyalang ke arah Kris. Mata elangnya memancarkan kebencian.

“Kudengar perusahaanmu telah memenangkan tuntutan, huh?”

“…” Sehun tak menjawab, tak ingin terpancing dengan kalimat basa – basi Kris. Tapi— bagaimana lelaki ini bisa mengetahuinya. Kalau tidak dia yang—

Sontak Sehun membelak saat Kris semakin tertawa, “Ternyata aku terlalu meremehkanmu, adik kecil.”

“Siapa yang kau panggil kecil, brengsek?”

Kris semakin tertawa di sisi sana. Ia berjalan mendekat ke arah Sehun, “Sepertinya aku harus memikirkan gugatan yang lebih kuat lain kali. Kau tak semudah itu untuk dikalahkan.”

#BRAK!!

Kris menendang kursi di hadapannya. Kursi kayu itu melayang ke arah Sehun. Namun dengan gesit pria bermarga Oh itu dapat mengelak.

Sehun sempat lengah saat itu, dan tak menyadari saat Kris menerjang ke arahnya. Menendang perut dan dada Sehun. Menghantamnya tepat di wajah. Kris menindihnya, mendaratkan pukulan – pukulan di wajah Sehun. Seolah meluapkan emosi yang telah ia pendam selama bertahun – tahun ini.

Tak tinggal diam, Sehun segera membalikkan badan. Membuat Kris yang sekarang berada di bawahnya. Meninju wajah tampam pria China-Canada yang telah berubah menjadi iblis kejam.

Sehun mencekik leher Kris. Menekan kuku – kukunya mengenai kulit Kris yang putih. Hingga memar kemerahan dengan jelas tercetak disana. Mata Kris berubah merah, tanda ia sangat kesakitan, namun nyatanya bibir itu masih tertutup rapat dan tak sudi untuk merengek ataupun memohon untuk dilepaskan.

Kris menurunkan tangannya, merogoh sesuatu yang telah ia simpan di saku celana. Sebuah pisau lipat— lagi.

#Srett!

“Akkhh!”

Sehun menyingkirkan tubuhnya dari atas Kris saat bahu kirinya terasa perih, seperti disobek, hingga kini darah pekat keluar dari sana. Sehun meringis, sejenak menyentuh lengannya yang berdarah.

Kris berdiri dengan cepat. Mengarahkan pisaunya kepada Dahye yang kini wajahnya telah basah karena air mata. Ini terlalu mengerikan.

“Satu gerakan, brengsek, dan aku akan memenggal habis kepala istrimu.” Desis Kris dengan penuh kebencian.

Sehun tak dapat membantu hanya berdiri tegang disana. Namun tiba-tiba—

#Srett

#Srett

“Aaakkhhh!” Kris mengerang bagai binatang buas.

Dua buah peluru tertancap di kaki kiri dan tangan kanan Kris yang semula memegang pisau. Dan diam – diam Taeyong juga Yugyoem tersenyum senang di tempat persembunyian mereka.

“Menyerahlah, Kris. Dan lupakan kejadian ini. Kau tahu semua anak buahmu telah ku lumpuhkan. Kau tidak punya pilihan lain.” Ujar Sehun sambil berjalan mendekat.

Sontak Kris mengembarakan pandangannya ke seluruh ruangan. Memang benar, semua bodygardnya telah merenggang nyawa masing – masing. Dan hal tersebut membuat Kris marah.

Kris mendecih dari tempat ia duduk, ia bertumpu dengan tangan kiri di lantai, “Lalu apa lagi yang kau tunggu? Cepat bunuh aku!” teriaknya frustasi.

“…” Sehun tak menjawab. Memang benar ia juga akan membunuh Kris, tapi keadaan ini akan membuatnya seperti pengecut yang membunuh musuh pada saat terlemah.

“Aku sudah tak punya siapa – siapa lagi di dunia ini. Cepat bunuh aku agar aku bisa bertemu dengan orang tua dan adikku!!” teriaknya lagi. Kini air matanya tak dapat ia tahan lagi, dengan perlahan merembes keluar. Jemarinya terasa bergetar saat Kris memaksakan untuk tetap bertumpu padanya.

“Tidak bisakah kau lupakan masa lalu dan mulai dengan kehidupan baru untuk saat ini?” Sehun mendekat ke arah Dahye, melepaskan tali yang mengikat istrinya saat ia merasa Kris sudah benar – benar tak berdaya.

Ketiga anak buah Sehun mengamati mereka di samping pintu masuk. Tak ingin untuk ikut campur pada masalah mereka.

“Tidak—

“Maka cobalah.” Sela Sehun cepat.

Diam – diam Kris menyipitkan matanya saat ia melihat sebuah pistol yang terjatuh di lantai. Ia mengambilnya dengan gerakan cepat dan tanpa suara, menyembunyikan di balik jaket yang ia kenakan.

“Bagaimana kau bisa berkata dengan sangat tenang? Kau pernah melakukannya sendiri??” desis Kris dengan masih mempertahankan actingnya.

Pria itu hanya perlu menunggu. Sebuah cela dan waktu yang tepat, dan ia akan menembakkan pelurunya tepat di jantung Oh Sehun.

“Setidaknya aku tidak seburuk kau.” Ucap Sehun acuh lalu menggendong Dahye ala bridal di pelukannya.

Sehun berbalik, meninggalkan Kris yang masih terduduk kesakitan di lantai. Berjalan menuju pintu, hingga tanpa aba-aba—

#DORR!!

Ketiga anak buahnya membalikkan badan.

.

.

-TBC-

Author Note:

Hello chap 6 is up! Dan kayaknya chap 7 besok udah end alias selesai deh ini FF. Dannn…Aku gak bisa ngomong banyak di chap ini.. wkwkwk

Jangan lupa tinggalkan like & comment setelah membaca. dan karena bulan puasa, chap end ada NCnya aku protect ya… kalian bacanya pas malem aja *waks* tenang… ini ngetiknya pas sebelum ramadhan kok. ^^

Regard.

-Keiko Sine https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

3 thoughts on “DEVOTION [Chapter 6]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s