DEVOTION; Yoona Ver. [Chapter 6]

devotion-yoona2

Devotion by. Keiko Sine

{Yoona Ver.}

Marriage Life – Crime – Romance || NC-17

Casts:

Im Yoona (SNSD), Lee Donghae (SJ)

Choi Siwon (JS) , Kris Wu, Kim Jinwoo (WINNER), Others.

Poster By: Babythinkgirl @ Poster Channel 

Fiction ini sudah pernah dipublish di FlyingncFF dan Blog pribadi author dengan versi Original Character, juga dengan nama author yang sama yaitu Keiko S*** ine.

“—and this chapter, special flashback.“

PREVIOUS

“Hae— kau harus— Yoona… ada yang menyulik Yoona.”

Dan ketika nama istrinya disebut, ekspresi wajah Donghae sontak berubah lebih dingin, “Apa yang kau bicarakan?” nada suaranya meninggi.

“Yoona diculik. Sebentar, aku akan memutuskan sambungan telepon dan mengirimkan plat nomor mobilnya lewat pesan.”

“Apa? Aku tidak mengerti. Aku—

#bip

Jinwoo memutuskan telepon dengan sepihak.

Membuat Donghae harus bertanya – tanya dengan penuh kekhawatiran. Ada apa? Apa yang terjadi dengan istrinya?

.

.

-oOo-

[Chapter 6]

Yoona menunduk, dan saat ia berusaha untuk menaikkan kepalanya, belakang tengkuknya terasa tercekat, seperti telah terhantam beban berat. Bagian belakang pundaknya juga terasa nyeri, sedikit mengumpulkan kesadaran. Ingin sedikit menggerakkan tangannya guna menjangkau kepala yang terasa limbung, namun terasa tertahan oleh sesuatu. Badan Yoona terasa kaku.

Hal pertama yang dapat Yoona lihat ketika membuka mata adalah sebuah dinding putih yang kosong. Sebuah ruangan yang kira-kira berukuran 6 x 9 meter. Ditemani cahaya lampu temaram dan udara berdebu.

Dan ketika ia telah tersadar sepenuhnya, dapat ia lihat dengan jelas sebuah tali yang diikat dengan kencang pada kedua tangannya bagian atas badan, dan kedua kaki. Yoona duduk di sebuah kursi kayu, sedikit mengembarakan pandangan di ruangan tersebut.

Dan saat Yoona mempertajam pengelihatannya, sepasang mata yang membara itu menatap ke arahnya. Sebelum orang itu berjalan mendekat. Yoona memekik, ingin berteriak, namun hal lain yang baru ia sadari adalah sebuah perekat terpasang menutupi bibirnya.

Pria tinggi dengan mata elang itu berdiri di depan Yoona, lalu berjongkok, menyamakan tinggi keduanya. Pria itu mengulurkan tangannya, dengan cepat ia menarik paksa dan kasar perekat yang berada di bibir Yoona.

“Akhh…” Yoona tersentak. Seolah kulitnya juga baru saja ikut terkelupas dengan perekat berwarna hitam tadi. “K-Kris…”

Kris tersenyum saat mendengar ucapan serak dan putus asa yang keluar dari bibir Yoona. “Apa kabar, Yoona.” Ujarnya santai.

“Kris… ku mohon…”

“Apa hm?” ujar Kris menyela, “Kau jangan terlalu banyak bergerak dan mengeluarkan tenaga, aku tak ingin kau mati sebelum waktunya.” Sambungnya sambil memainkan rambut panjang Yoona.

Membuat Yoona lebih takut dari sebelumnya, alisnya berkerut dan bibirnya bergetar. Ia menatap Kris dengan pandangan memohon.

Namun seertinya hal tersebut tak berefek sama sekali pada pria di hadapannya. Yoona tak habis pikir bahwa Kris masih menyimpan dendam yang begitu besar padanya.

“Ini akan lebih menarik jika aku menghabisimu dan suami tampanmu itu sekaligus.”

“Tidak!” teriak Yoona, mata besarnya telah berkaca-kaca dan memohon, “Kris, kau tahu apa yang kau lakukan ini salah. Aku—

#PLAKK!!

“Sshhh.” Kris menempelkan jari telunjuknya di depan bibir Yoona sesaat setelah ia menampar pipi kanan wanita itu. “Ku bilang jangan terlalu banyak bergerak. Asal kau tahu, aku tak akan membiarkan suamimu yang angkuh itu tetap hidup dengan nyaman di dunia ini. Karena si brengsek itu juga berada di sana saat kau membunuh adikku. Tapi ia malah bersikap acuh dan tetap membelamu, sialan!” Kris menahan dagu Yoona, membuatnya mendongak dengan paksa, “Lihat aku!” teriaknya, menatap wajah Yoona dengan nyalang, “Kau telah berubah, Yoona. Menjadi wanita dewasa yang sangat menggoda. Aku juga yakin kalau Donghae sudah sering ‘memakaimu’.”

Emmpphhh…”

Yoona mengerang tertahan saat Kris dengan cepat meraup bibirnya. Mencium, melumatnya dengan kasar, sesekali menggigit bibir bawahnya. Kris menekan tengkuk Yoona mendekat, memperdalam ciumannya saat ia berhasil meloloskan lidahnya masuk mengeksploitasi mulut hangat Yoona.

Melilitkan lidah, saling bertukar saliva, Kris melakukannya dengan kasar. Hingga ketika air liur itu keluar menetes dari sudut bibir Yoona, Kris dengan sigap menjilatnya.

Rasanya sangat aneh melakukan hal ini dengan Kris. Yoona ingin menolak namun apa daya tubuhnya tak dapat bergerak karena tali sialan ini. Dan saat mengetahui jika Yoona kehabisan napas, Kris memundurkan wajahnya. Menarik lidahnya keluar dari mulut Yoona meninggalkan benang saliva yang menguar dari masing – masing ujung lidah.

“Kau hebat, Yoona.” Ujar Kris dengan seduktif tepat di telinga Yoona.

Tak lama kemudian pria tinggi tersebut berjalan menjauh, membuka pintu dan menghilang dari baliknya. Meninggalkan Yoona sendirian di ruangan tersebut.

Dia menangis, isakannya memberat saat ingatan masa lalu itu berputar di kepalanya. Seperti film lama, kembali muncul dan menghantui Yoona. Sebuah kejadian yang mengakibatkan semua ini terjadi paadanya.

-FLASHBACK-

30 September 2011

Malam itu adalah hari musin panas terakhir. Yoona dan Meili tengah berada di dalam mobil, perjalanan pulang dari acara pesta kembang api yang berasa di Sungai Han.

Meili tengah fokus menyetir sedangkan Yoona mengarahkan pandangannya keluar jendela kaca. Jalanan malam ini bisa dibilang sangat sepi karena hampir pukul satu malam mereka memutuskan untuk kembali pulang.

Mei mengerem pelan saat mobilnya berada di depan lampu merah. Sambil menyenderkan punggung ia berkata, “Yoong, aku ingin bertanya.”

“Hmm?” jawab Yoona dengan sebuah gumaman. Jujur ia sangat pegal saat ini mengingat ia tak hentinya berjalan ke sana kemari saat berada di Sungai Han.

“Apakah ini perasaanku saja atau memang Kim Jinwoo anak kelas 11-A itu menyukaimu?”

“Apa?” Yoona mengalihkan pandangannya kepada Meili, “Kurasa tidak… Jinwoo adalah pangeran sekolah, kurasa aku bukan typenya.”

“Begitukah?” Meili menginjak pedal gasnya lagi saat lampu berubah warna menjadi hijau, “Tapi— kenapa dia sering sekali menuggumu di luar kelas dan mengajak pulang bersama?” sambungnya. Kondisi jalanan Seoul malam ini bisa dibilang lumayan senggang, maka dari itu Meili memilih untuk mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sedikit diatas rata-rata.

“Itu karena rumah kita satu arah.” Jawab Yoona enteng.

“Hanya itu?”

“Hmm… memangnya apa lagi. Jinwoo adalah siswa pandai dan populer di sekolah kita. Ku rasa aku tidak punya harapan. Haha…” Yoona membuang tangan di udara, terkekeh akan ucapannya sendiri disusul gelak tawa Meili.

“Bukan begitu… kurasa kau tidak terlalu percaya diri. Kau—

 

#BRAKK!!

Apa yang patah.?

Sontak Yoona melihat ke arah belakang. Nyatanya ada sebuah mobil hitam yang menghantam bagian belakang mobil mereka dengan brutal. Meili mengelak, ia membanting setirnya ke kiri, namun mobil itu terus mengejarnya.

#BRAKK!!

Lagi.

“APA YANG DILAKUKAN MOBIL BRENGSEK ITU!” teriak Meili dengan masih berusaha untuk menyeimbangkan mobilnya.

“Aaakh..!”

#Ckiiitttt

Meili berteriak, lalu menginjak pedal remnya dengan mendadak. Membuat mobilnya berputar beberapa kali. Suara deritan ban dan aspal jalan yang bergesekan memekakkan telinga. Dan—

#BRAKK!

Mobil yang dikendarai Yoona dan Meili membentur trotoar jalan.

Hal terakhir yang Yoona sadari adalah kepala yang terasa pening, darah keluar dari pelipisnya, dan kaki yang terasa mati rasa tak dapat digerakkan karena tercepit dashboard mobil. Ia melihat ke samping. Dimana Meili telah hilang kesadarannya.

Darah keluar dari hidung gadis berdarah China-Canada itu.

Yang Yoona takutkan adalah, ketika Meili kehilangan banyak darah— apa lagi keluar dari hidung— maka sahabatnya itu akan mengalami gagar otak. Yoona mengarahkan tangannya untuk menjangkau Meili, menggoyangkan pundak sahabatnya itu. Namun Meili tak bergerak.

Semakin kalap.

Yoona ingin berteriak. Menjerit sekencang yang ia bisa. Namun yang dapat keluar dari bibir itu hanya udara kosong yang tak berarti. Sekali lagi tarikan napas dan Yoona sudah benar – benar kehilangan kesadaran, kegelapan telah merenggut dirinya.

***

Hingga keesoka harinya pada televisi dan surat kabar telah ramai tertuliskan berita dengan tulisan besar.

SEORANG LELAKI MABUK MENYEBABKAN KECELAKAAN DI DAERAH APEGUJOUNG. SEORANG GADIS TEWAS DI TEMPAT DAN SATU LAGI MENGALAMI LUKA KRITIS.

Di sebuah ruangan serba putih itu Yoona menatap lurus ke arah tembok. Sedangkan Donghae, sang kekasih yang kini menemaninya tengah mengupas buah apel untuknya, dia bekerja dalam diam.

Meskipun gadis itu telah sadar sejak pagi kemarin, pikiran dan raganya masih kacau.

Yoona telah mengetahui segalanya. Bahwa Meili sang sahabat telah tewas di tempat perkara, dan menyisakan luka yang menggores hati Yoona dengan dalam. Andai saja, waktu itu ia tak mengajak Meili untuk keluar. Tidak mengajaknya pulang larut malam. Dan andai saja— Yoona lah orang yang menyetir mobil pada malam itu. Maka semua ini tak akan terjadi.

Namun sekarang, entah mengapa Yoona jadi membenci kata ‘andai’.

“Makanlah.” Ujar Donghae seraya memberikan potongan apel pada Yoona. Namun si gadis menggeleng pelan, menolak untuk membuka mulutnya.

Donghae mengerti. Ia tak ingin memaksa dimana keadaan kekasihnya masih bisa dibilang belum terlalu baik. Maka ia menarik tangannya lagi.

#BRAKK!!

Dengan tiba – tiba pintu ruangan dimana Yoona dirawat terbuka dengan kasar. Seorang lelaki bertubuh tinggi dengan pakaian formal seba hitam itu berdiri di hadapannya, menatap Yoona dengan nyalang. Lelaki itu— baru saja menghadiri pemakaman Meili.

“Kau! Brengsek! Mengapa kau masih hidup?!” racaunya, lelaki itu bergerak gusar guna meraih tubuh Yoona yang masih terbaring di ranjang dengan selang oksigen. Namun dengan cepat Donghae berdiri dan menahan pergerakannya. “Kau membunuh adikku, harusnya kau mati saja..!”

Bagaikan bilah pisau menusuk dadanya, Yoona mengedipkan mata beberapa kali sebelum membuka mulut, “K-Kris oppa…”

“Jangan pernah kau berani memanggilku seperti itu lagi, kau sialan!” suara Kris terdengar bergetar saat mengucapkan kalimat barusan. Mengusap wajahnya kasar, lelaki itu mendesah disela deru napasnya yang memburu, “Bagaimana— bagaimana kau bisa membiarkannya meninggal… apakah kau memang seegois itu, hah?!”

“…”Yoona tak menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya.

Rasa sesak memenuhi dadanya meskipun selang oksigen yang terpasang di hidungnya ini masih berfungsi. Pandangannya mengabur saat merasakan air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Ia memandang Kris dengan sayu.

“Asal kau tahu— hanya kaulah sahabat yang dimiliki adikku. Saat ia malas untuk pergi ke sekolah hanya kaulah alasan yang membuatnya semangat. Yoona — aku…” Kris menahan ucapannya untuk beberapa detik, “Harusnya kau mati saat itu juga… hingga adikku takkan merasa kesepian diatas sana.”

Dan dengan itu semua kehidupan Yoona mulai berubah. Tak ada sahabat dan kakak dari sahabatnya yang menemani hari – hari kosongnya.

Kris berubah menjadi lelaki pemarahdan sangat membenci sosok Yoona mulai dari hari itu. Selalu mengganggunya dan tak jarang Yoona sesekali melihat adanya anak buah Kris yang mengikutinya.

Bukan ia tak tahu— namun, Yoona akan membiarkannya jika hal tersebut tak terlalu membahayakan dirinya.

Pada saat itu Yoona berpikir bahwa Kris sedang menderita. Ia perlu mengekspresikan kekesalannya dengan mengganggu Yoona.

Beruntung saat itu ia telah menjadi kekasih seorang Lee Donghae. Seorang anak yang terlahir di keluarga mafia dan tentunya memegang kekuasaan. Yoona seolah mendapat jaminan keselamatan dari sana. Donghae yang selalu bersikap waspada dan over protective padanya, seolah hal tersebut memang ditakdirkan untuk menjaga Yoona.

Hingga hari berganti hari, minggu berganti bulan, hingga tahun, dengan perlahan, Yoona tak lagi mendengar kabar tentang lelaki yang bernama Kris. Yang ia tahu bahwa lelaki itu telah mendapatkan pekerjaan di luar negeri dan sejenak Yoona dapat bernapas lega. Setidaknya lelaki itu mendapatkan pekerjaan yang dapat menyibukkannya.

Dengan perlahan Yoona menata kehidupannya yang goyah kembali. Donghae dan Jinwoo selalu berada di sisinya pada saat apapun. Membantu Yoona untuk tetap tersenyum dan selalu menjalani hidup dengan positif.

Namun hal itu hanya terjadi sesaat. Ya, karena dua tahun kemudian skandal menerpa lelaki itu. Ia telah tercantum sebagai list Warga Negara Asing ilegal di Filipina. Kemudian Kris dipulangkan ke Korea dan mendapatkan hukuman tahanan.

Yoona tak tahu apa yang telah menimpa lelaki itu ketika ia berada di luar negeri. Yang jelas, Kris lebih jahat dan menyeramkan dari sebelumnya. Hingga pada saat kebebasannya dari penjara pun, rasa dendam itu masih berada di dalam hatinya. Menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan Yoona. Dan hari itu telah tiba.

 

-FLASHBACK END-

Yoona mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali saat air matanya terasa perih. Ia ingin keluar dari masalah ini secepat mungkin tapi ia tahu, ia tak bisa.

Takkan ada gunanya melarikan diri dan kabur dari sini. Yang ada kesalahpahaman antara Kris dan dirinya tak akan selesai pula.

Jadi sebisa mungkin Yoona menerima semua ini. Ia yakin bahwa selama ini Krislah yang paling terluka diantara mereka semua. Menyimpan kehancuran dan dendam itu seorang diri. Menggerogoti hatinya.

Ini memang salah Yoona yang tak dapat berbuat apa – apa saat kecelakaan itu terjadi, dan tak menghadiri upacara pemakaman sahabatnya karena ia masih belum diizinkan pulang oleh pihak Rumah Sakit. Teman macam apa dia ini.

Isakan di bibirnya semakin kuat dan kencang. Untuk kali ini— Yoona membiarkan rasa bersalah menyiksa tubuhnya. Seakan menikmati kesedihan yang ia pendam selama ini.

.

.

-TBC-

Author Note:

Oke aku gk mau cuap-cuap banyak deh di chap ini. Karena jujur skript  pertama yg aku tulis buat  chap 6 ini tuh kehapus, jadi aku ngulang ngetik lagi dari awal. Agak gk ngefeel kan? Karena feelnya udah aku tuang di yg kehapus tadi 😥

Jadi hasilnya kayak gini deh -__- maapkanlah kalo jelek. *sungkem* Jangan lupa leave comment ya.

Regard.

-KEIKO SINE https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

25 pemikiran pada “DEVOTION; Yoona Ver. [Chapter 6]

  1. deer yun

    Bnr kan yg nyulik yoona kris sbenci itu kah kris pada yoona padahal kan itu bkn hanya kesalahan yoona mngkin takdir dan berharap kris sadar ajja kasian yoona

    Suka

  2. aaah… suka deh…
    semangat ya thoor…
    love yu so mac…
    q berharap kris aslinya suka àma yoona… n smua yg dilakukan aslinya cuma buat lindungi yoona dari donghae…
    itu si donghae ngapain aja ga bisa nemuin yoona…
    keepting thoor!!!

    Suka

  3. laylee18

    oh jdi masalah utamanya itu kris yg ngerasa yoona yg jadi penyebab kematian adiknya itu, donghae harus cepet2 nyelametin yoona sebelum knp2 tuh

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s