DEVOTION [Chapter 5]

devotion

Devotion by. Keiko Sine

Marriage Life – Crime – Romance || NC17+!

Casts:

Oh Sehun (EXO), Choi Dahye (OC)

Kim Kai, Kris Wu, Kim Jinwoo (Winner), Others.

I OWN THE STORY AND PLOT. COPYING AND PLAGIARIZING THIS STORY ARE FORBIDDEN!

“—and I miss the way you make me feel it’s real. We watched the sunset over the castle on the hill.“

***

[Chapter 5]

Ini adalah ketika hari itu tiba. Sehun berharap – harap cemas dari dalam ruangannya. Menautkan jemari sambil terus menatap ke layar komputer. Ponsel ia letakkan di sebelah kanannya untuk berjaga – jaga, sigap dengan apa yang dikatakan anak buahnya nanti. Karena usaha bisnisnya tergantung pada hari ini.

Rinchkalsen adalah perusahaan yang dinaungi oleh perusahaan yakuza Jepang dan mafia dari Rusia. Dan jika perusahaan Sehun memulai kehancuran, kedua bisnis yang menopangnya akan goyah pula.

Sehun masih membatin siapakah orang brengsek di balik ini semua. Karena yang ia dengar— gugatan bagi para perusahaan besar ini berasal dari sumber yang sama.

Sehun mengangkat telepon putih di hadapannya, berujar pelan, “Nara-ya, masuklah ke ruanganku.” Ujarnya pada sekretaris pribadinya tersebut.

Tak begitu lama kemudian pintu ruangannya terketuk beberapa kali dan seorang wanita berusia sama sepertinya berjalan masuk. Wajahnya sama tegangnya dengan Sehun.

“Sudah ada kabar di pengadilan?”

Nara menggeleng pelan, “Belum, Presdir. Mereka bilang Manager Jung masih harus mengantri, karena perwakilan dari perusahaan lain telah datang lebih dulu dari kita.”

Menganggukkan kepala mengerti, “Baiklah… beri tahu aku kalau sudah ada kabar lebih lanjut.”

“Baik, Presdir.”

Dan dengan kalimat tersebut wanita itu kembali berjalan keluar. Tidakkah kau tahu bahwa saat ini Sehun hampir sekarat karena penasaran. Ini lebih menegangkan dari perasaan pertama kali ia berani menembak seseorang dengan tangannya sendiri.

.

.

-oOo-

Sedangkan di sisi lain Dahye tengah memegang sebuah bolpoin hitam dan menggoreskan tintanya pada permukaan papan tulis putih yang berada di depan ruang kelas. Semua mata tertuju pada dosen muda tersebut yang kini sedang menjelaskan pelajaran tentang Conditional Sentences.

“Conditional Sentences has three formulas. You can see on your text book, and each of it has different meaning and different context.” Ucap Dahye sambari menunjuk pada tulisan yang berada di buku Grammar karangan Rowney tersebut. “For your assignment, please do the exercise 23 and 24. Submit it in our next meeting. Thank you guys, good afternoon.”

Dan dengan begitu Dahye mengakhiri kelasnya hari ini. Wanita itu menenteng tas jinjingnya dan beberapa buku untuk ia masukkan ke dalam locker pribadinya.

Dan saat Dahye di tiba di ruang dosen untuk mengambil power bank yang ia tinggalkan di atas meja, seseorang telah berdiri di belakangnya, “Dahye saem.”

Dahye memutar badannya, tersenyum melihat orang tersebut, “Jinwoo saem.” Ujar Dahye seraya ia menata barang – barangnya ke dalam tas.

“Anda sudah mau pulang?” Tanya Jinwoo, meskipun nyatanya mereka lebih dekatdari sekedar ‘teman kerja’, keduanya harus tetap menjaga wibawa di dalam lingkungan dengan berbicara formal seperti ini misalnya.

“Ya, anda tahu aku tidak punya jam mengajar sore.” Kekeh Dahye, ia menatap lelaki yang telah menjadi sahabatnya ketika masih di bangku sekolah menengah tersebut.

Jinwoo mengangguk, masih tersenyum memperlihatkan gigi putihnya. “Kau sudah makan?” Jinwoo menarik napas pelan, “Bagaimana kalau kita makan siang bersama?” sambungya dengan ragu.

Jujur ini adalah kali pertama Jinwoo berani mengajaknya keluar sejak Dahye memutuskan untuk menikah empat bulan ini. Dahye tersenyum, “Ide yang bagus.”

“Benarkah? Ehm— maksudku, ayo kita keluar aku ingin memakan jjampong bersama seperti dulu.” Ucap lelaki itu, senyum bahagia tak dapat menghilang dari wajah mungilnya.

“Baiklah ayo.” Dahye berjalan lebih dulu, memimpin jalan di depan.

..

..

..

Dan di sinilah mereka. Mengambil tempat duduk di paling ujung ruangan bersebelahan dengan jendela kaca. Ini seperti sudah lama sekali mereka makan bersama, namun nyatanya baru empat bulan sejak Dahye memutuskan untuk menikah dengan Sehun dan melarangnya melakukan ini itu. Termasuk pergi keluar bersama Jinwoo.

Bukankah itu menyebalkan?

Seorang waiter berjalan ke arah mereka membawa pesanan. Orang yang masih sama sejak bertahun – tahun yang lalu mereka suka menghabiskan waktu disini. Membungkuk ketika akan meninggalkan mereka berdua.

“Eumm… makanan ini tak pernah berubah. Aku menyukainya.” Ujar Dahye setelah menyuapkan makanan berkuah merah tersebut ke dalam mulutnya.

“Ini sudah… berapa kira-kira, empat bulan?” Jinwoo bertanya sambil menghitung, “Yang pasti sejak kau berubah menjadi membosankan.” Sambungnya lalu terkekeh.

“Aku tidak.” Dahye menggeleng serius, kerutan terlihat di keningnya, “Aku hanya sedikit menjadi lebih sibuk setelah menikah.”

“Begitukah?” bibir Jinwoo kembali tertarik tipis membentuk sebuah senyuman, “Aku sedikit terkejut melihat keadaanmu yang bisa dibilang— baik-baik saja setelah menikah. Karena yang ku tahu Oh Sehun bukan orang yang hangat dan mudah tersenyum. Dia terlihat menyeramkan dari luar.”

“Kau benar tentang yang itu.” Kini Dahye yang terkekeh, menampilkan deretan gigi putihnya.

Bukanlah sebuah rahasia lagi bahwa Jinwoo telah lama menyimpan perasaan pada Dahye. Bahkan sejak mereka masih berada di sekolah menengah.

Jinwoo adalah lelaki yang berpendidikan dan baik, Dahye tahu itu. Namun— wanita itu meresa kalau dirinya lah yang tidak pantas untuk disandingkan dengan Jinwoo.

Jinwoo yang dulu adalah seorang casanova sekolah yang populer. Digandrungi banyak gadis dan itu membuatnya sedikit tak percaya diri untuk menerima kenyataan bahwa lelaki ini sempat ‘mengejarnya’.

Dan bahkan sering menunggu Dahye ‘si gadis biasa’ di depan kelas, menemaninya pulang, dan hal – hal tersebut membuatnya sedikit canggung.

“Ngomong – ngomong, bagaimana kabar suamimu?” tanya Jinwoo berbasa – basi. Yang benar saja, memang ia peduli dengan keadaan si albino menjengkelkan itu.

“Baik… tapi yang aku tahu dia sedikit sibuk dengan pekerjaannya sekarang.” Dahye kembali melanjutkan dalam hati, ‘dan pekerjaan gelapnya.’

Jinwoo menganggukkan kepalanya pelan, “Begitukah.”

Jujur jika Jinwoo sempat khawatir ketika Dahye memutuskan untuk menerima lamaran Oh Sehun. Si pebisnis berhati sedingin es dan sekeras batu.

Bukankah semua pebisnis besar seperti itu? Persaingan mengalahkan semuanya. Ini bukan masalah uang dan kekayaan lagi. Namun kekuasaan, memegang kendali.

Dan sialnya di lelaki berwajah datar itu juga telah mengalahkan Jinwoo. Dia berhasil merebut hati Dahye meskipun harus melewati berbagai rintangan yang menyulitkan, dan Jinwoo sendiri tahu itu.

Ia sempat marah kepada dirinya sendiri. Dia tak seberani Oh Sehun untuk terus mengejar apa yang ia cintai. Akhirnya Jinwoo memilih untuk mengalah dan membiarkan wanita yang disayanginya ini pergi dengan lelaki lain.

Setelah beberapa bincang – bincang dan menghabiskan makanan, mereka memutuskan untuk mengakhiri pertemuan kali ini.

“Aku senang kau masih Dahye yang ku kenal dulu.”

“Hm… terima kasih.” Dahye mendorong kursinya ke belakang, berderit di antara gesekan lantai marmer. Keduanya berjalan menuju mobil masing – masing yang berada di depan restaurant.

Jinwoo telah berada di dalam mobilnya terlebih dahulu. Meletakkan tas di sampingnya dan memakai kaca mata hitam yang ia letakkan di atas dashboard. Dan ketika Jinwoo menyalakan mesin mobilnya, sebuah pekikan dan teriakan terdengar dari arah Dahye berdiri.

“Toloonngg… Jinwo-ya.. aaakkhh!”

Dua orang lelaki berbadan besar membawa Dahye paksa. Meskipun wanita itu melawan dengan seluruh tenanganya, kedua pria memakai setelan hitam itu tentu lebih dominan.

Mengunci pergerakan Dahye, membungkam mulutnya dengan sebuah kain lalu memasukkan tubuh Dahye dengan paksa ke dalam mobil yang berhenti di tepi jalan.

Jinwoo sempat hanya diam melongo dan mematung untuk beberapa detik, namun saat ia sadar dan berlari keluar untuk menyelamatkan Dahye, mobil tersebut telah melesat jauh.

“Dahyee..” teriaknya.

Beruntung Jinwoo masih sempat melihat plat nomor mobil tersebut walaupun hanya sekilas. Ia kalap. Tak habis pikir, kejadian tersebut berlangsung dengan sangat cepat.

Dan dengan perasaan gugup, ia mengambil ponsel dari dalam saku celana. Jinwoo ingat ia masih menyimpan nomor Sehun. Dan dengan cepat menekan tombol warna hijau. Ia tahu bahwa Sehunlah yang dapat menyelamatkan Dahye.

.

.

-oOo-

Bukankah tidak ada kesenangan yang dapat melampaui hal ini. Perusahaannya memenangkan gugatan. Yunho pulang dengan senyum yang mengembang di bibirnya begitu pula dengan pegawai Sehun yang lain.

Jadi tak salah ia membuat kerja sama dengan bandar-bandar mafia itu. Mereka cepat, orang – orang kadek yang berani dan sigap. Membantu Sehun yang sedang dalam masa-masa sulit di bisnisnya. Menguntungkan.

Tak henti lelaki itu terus memperhatikan layar komputer dimana beberapa perusahaan yang sempat ingin membatalkan kerja sama dengannya, sekarang kembali menaruh investasi pada perusahaannya. Prosentase menaik. Ia tersenyum di antara wajah dinginnya.

Dan saat Sehun akan mengetikkan sesuatu, ponselnya tiba – tiba bergetar, menampilkan nama Kim Jinwoo dengan huruf besar.

1 Panggilan Masuk

Kim Jinwoo

Sehun memutar bola matanya lalu menekan tombol hijau. “Yeobosseo.” Ujar Sehun malas setelah meletakkan ponselnya di samping telinga kanan.

“Yeob— ah Sehun…” suara Jinwoo terdengar serak dan putus – putus dari ujung sambungan.

“Ada apa?”

“Sehun— kau harus— Dahye… ada yang menyulik Dahye.”

Dan ketika nama istrinya disebut, ekspresi wajah Sehun sontak berubah lebih dingin, “Apa yang kau bicarakan?” nada suaranya meninggi.

“Dahye diculik. Sebentar, aku akan memutuskan sambungan telepon dan mengirimkan plat nomor mobilnya lewat pesan.”

“Apa? Aku tidak mengerti. Aku—

#bip

Jinwoo memutuskan telepon dengan sepihak.

Membuat Sehun harus bertanya – tanya dengan penuh kekhawatiran. Ada apa? Apa yang terjadi dengan istrinya?

.

.

-oOo-

Dahye menunduk, dan saat ia berusaha untuk menaikkan kepalanya, kepalanya terasa tercekat, seperti telah terhantam beban berat. Bagian belakang tengkuknya juga terasa nyeri, sedikit mengumpulkan kesadaran. Ingin sedikit menggerakkan tangannya guna menjangkau kepala yang terasa limbung, namun terasa tertahan oleh sesuatu. Badan Dahye terasa kaku.

Hal pertama yang dapat Dahye lihat ketika membuka mata adalah sebuah dinding putih yang kosong. Sebuah ruangan yang kira-kira berukuran 6 x 9 meter. Ditemani cahaya lampu temaram dan udara berdebu.

Dan ketika ia telah tersadar sepenuhnya, dapat ia lihat dengan jelas sebuah tali yang diikat dengan kencang pada kedua tangannya bagian atas badan, dan kedua kaki. Dahye duduk di sebuah kursi kayu, sedikit mengembarakan pandangan di ruangan tersebut.

Dan saat Dahye mempertajam pengelihatannya, sepasang mata yang membara itu menatap ke arahnya. Sebelum orang itu berjalan mendekat. Dahye memekik, ingin berteriak, namun hal lain yang baru ia sadari adalah sebuah perekat terpasang menutupi bibir.

Pria tinggi dengan mata elang itu berdiri di depan Dahye, lalu berjongkok, menyamakan tinggi keduanya. Pria itu mengulurkan tangannya, dengan cepat ia menarik paksa dan kasar perekat yang berada di bibir Dahye.

“Akhh…” Dahye tersentak. Seolah kulitnya juga baru saja ikut terkelupas dengan perekat berwarna hitam tadi. “K-Kris…”

Kris tersenyum saat mendengar ucapan serak dan putus asa yang keluar dari bibir Dahye. “Apa kabar, Dahye.” Ujarnya santai.

“Kris… ku mohon…”

“Apa hm?” ujar Kris menyela, “Kau jangan terlalu banyak bergerak dan mengeluarkan tenaga, aku tak ingin kau mati sebelum waktunya.” Sambungnya sambil memainkan rambut panjang Dahye.

Membuat Dahye lebih takut dari sebelumnya, alisnya mengekrut dan bibirnya bergetar. Ia menatap Kris dengan pandangan memohon.

Namun seertinya hal tersebut tak berefek sama sekali pada pria di hadapannya. Dahye tak habis pikir bahwa Kris masih menyimpan dendam yang begitu besar padanya.

“Ini akan lebih menarik jika aku menghabisimu dan suami tampanmu itu sekaligus.”

“Tidak!” teriak Dahye, mata besarnya telah berkaca-kaca dan memohon, “Kris, kau tahu apa yang kau lakukan ini salah. Aku—

#PLAKK!!

“Sshhh.” Kris menempelkan jari telunjuknya di depan bibir Dahye sesaat setelah ia menampar pipi kanan wanita itu. “Ku bilang jangan terlalu banyak bergerak. Asal kau tahu, aku tak akan membiarkan suamimu yang angkuh itu tetap hidup dengan nyaman di sunia ini. Karena si brengsek itu juga berada di sana saat kau membunuh adikku. Tapi ia malah bersikap acuh dan tetap membelamu, sialan!” Kris menahan dagu Dahye, membuatnya mendongak dengan paksa, “Lihat aku!” teriaknya, menatap wajah Dahye dengan nyalang, “Kau telah berubah, Dahye. Menjadi wanita dewasa yang sangat menggoda. Aku juga yakin kalau Sehun sudah sering ‘memakaimu’.”

“Emmpphhh…”

Dahye mengerang tertahan saat Kris dengan cepat meraup bibirnya. Mencium, melumatnya dengan kasar, sesekali menggigit bibir bawahnya. Kris menekan tengkuk Dahye mendekat, memperdalam ciumannya saat ia berhasil meloloskan lidahnya masuk mengeksploitasi mulut hangat Dahye.

Melilitkan lidah, saling bertukar saliva, Kris melakukannya dengan kasar. Hingga ketika air liur itu keluar menetes dari sudut bibir Dahye, Kris dengan sigap menjilatnya.

Rasanya sangat aneh melakukan hal ini dengan Kris. Dahye ingin menolak namun apa daya tubuhnya tak dapat bergerak karena tali sialan ini. Dan saat mengetahui jika Dahye kehabisan napas, Kris memundurkan wajahnya. Menarik lidahnya keluar dari mulut Dahye meninggalkan benang saliva yang menguar dari masing – masing ujung lidah.

“Kau hebat, Dahye.” Ujar Kris dengan seduktif tepat di telinga Dahye.

Tak lama kemudian pria tinggi tersebut berjalan menjauh, membuka pintu dan menghilang dari baliknya. Meninggalkan Dahye sendirian di ruangan tersebut.

Dia menangis, isakannya memberat saat ingatan masa lalu itu berputar di kepalanya. Seperti film lama, kembali muncul dan menghantui Dahye. Sebuah kejadian yang mengakibatkan semua ini terjadi paadanya.

-FLASHBACK-

Malam itu adalah hari musin panas terakhir. Dahye dan Meili tengah berada di dalam mobil, perjalanan pulang dari acara pesta kembang api yang berasa di Sungai Han.

Meili tengah fokus menyetir sedangkan Dahye mengarahkan pandangannya keluar jendela kaca. Jalanan malam ini bisa dibilang sangat sepi karena hampir pukul satu malam mereka memutuskan untuk kembali pulang.

Mei mengerem pelan saat mobilnya berada di depan lampu merah. Sambil menyenderkan punggung ia berkata, “Dahye-ah aku ingin bertanya.”

“Hmm?” jawab Dahye dengan sebuah gumaman. Jujur ia sangat pegal saat ini mengingat ia tak hentinya berjalan kemari saat berada di Sungai Han.

“Apakah ini perasaanku saja atau memang Kim Jinwoo anak kelas 11-A itu menyukaimu?”

“Apa?” Dahye mengalihkan pandangannya kepada Meili, “Kurasa tidak… Jinwoo adalah pangeran sekolah, kurasa aku bukan typenya.”

“Begitukah?” Meili menginjak pedal gasnya lagi saat lampu berubah warna menjadi hijau, “Tapi— kenapa dia sering sekali menuggumu di luar kelas dan mengajak pulang bersama?” sambungnya. Kondisi jalanan Seoul malam ini bisa dibilang lumayan senggang, maka dari itu Meili memilih untuk mengenudikan mobilnya dengan kecepatan yang sedikit cepat.

“Itu karena rumah kita satu arah.” Jawab Dahye enteng.

“Hanya itu?”

“Hmm… memangnya apa lagi. Jinwoo adalah siswa pandai dan populer di sekolah kita. Ku rasa aku tidak punya harapan. Haha.” Dahye membuang tangan di udara, terkekeh akan ucapannya sendiri disusul gelak tawa Meili.

“Bukan begitu… kurasa kau tidak terlalu percaya diri. Kau—

 

#BRAKK!!

Apa yang patah.?

Dahye melihat ke arah belakang. Nyatanya ada sebuah mobil hitam yang menghantam bagian belakang mobil mereka dengan brutal. Meili mengelak, ia membanting setirnya ke kiri, namun mobil itu terus mengejarnya.

#BRAKK!!

Lagi.

“APA YANG DILAKUKAN MOBIL BRENGSEK ITU!” teriak Meili dengan masih berusaha untuk menyeimbangkan mobilnya.

#Ckiiitttt

Meili berteriak, lalu menginjak pedal remnya dengan mendadak. Membuat mobilnya berputar beberapa kali. Suara deritan ban dan aspal jalan yang bergesekan memekakkan telinga. Dan—

#BRAKK!

Mobil yang dikendarai Dahye dan Meili membentur trotoar jalan.

Hal terakhir yang Dahye sadari adalah kepala yang terasa pening, darah keluar dari pelipisnya, dan kaki yang terasa mati rasa tak dapat digerakkan karena tercepit dashboard mobil. Ia melihat ke samping. Dimana Meili telah hilang kesadarannya.

Darah keluar dari hidung gadis berdarah China-Canada itu.

Yang Dahye takutkan adalah, ketika Meili kehilangan banyak darah— apa lagi keluar dari hidung— maka sahabatnya itu akan mengalami gagar otak. Dahye mengarahkan tangannya untuk menjangkau Leili, menggoyangkan pundak sahabatnya itu. Namun Meili tak bergerak.

Semakin kalap.

Dahye ingin berteriak. Menjerit sekencang yang ia bisa. Namun yang dapat keluar dari bibir itu hanya udara kosong yang tak berarti. Sekali lagi tarikan napas dan Dahye sudah benar – benar kehilangan kesadaran, kegelapan telah merenggut dirinya.

***

Hingga keesoka harinya pada televisie dan surat kabar telah ramai tertuliskan berita dengan tulisan besar.

SEORANG LELAKI MABUK MENYEBABKAN KECELAKAAN DI DAERAH APEGUJOUNG. SEORANG GADIS TEWAS DI TEMPAT DAN SATU LAGI MENGALAMI LUKA KRITIS.

Di sebuah ruangan serba putih itu Dahye menatap lurus ke arah tembok. Sehun, sang kekasih yang kini menemaninya tengah mengupas buah apel untuknya itu bekerja dalam diam. Meskipun gadis itu telah sadar sejak pagi kemarin, pikiran dan raganya masih kacau.

Dahye telah mengetahui segalanya. Bahwa Meili sang sahabat telah tewas di tempat perkara, dan menyisakan luka yang menggores hati Dahye dengan dalam. Andai saja, waktu itu ia tak mengajak Meili untuk keluar. Tidak mengajaknya pulang larut malam. Dan andai saja— Dahye lah orang yang menyetir mobil pada malam itu. Maka semua ini tak akan terjadi.

Namun sekarang, entah mengapa Dahye jadi membenci kata ‘andai’.

“Makanlah.” Ujar Sehun seraya memberikan potongan apel pada Dahye. Namun si gadis menggeleng pelan, menolak untuk membuka mulutnya.

Sehun mengerti. Ia tak ingin memaksa dimana keadaan kekasihnya masih bisa dibilang belum terlalu baik. Maka ia menarik tangannya lagi.

#BRAKK!!

Dengan tiba – tiba pintu ruangan dimana Dahye dirawat terbuka dengan kasar. Seorang lelaki bertubuh tinggi dengan pakaian formal seba hitam itu berdiri di hadapannya, menatap Dahye dengan nyalang. Lelaki itu— baru saja menghadiri pemakaman Meili.

“Kau! Brengsek! Mengapa kau masih hidup?!” racaunya, lelaki itu bergerak gusar guna meraih tubuh Dahye yang masih terbaring di ranjang dengan selang oksigen. Namun dengan cepat Sehun berdiri dan menahan pergerakannya. “Kau membunuh adikku, harusnya kau mati saja..!”

Bagaikan bilah pisau menusuk dadanya, Dahye mengedipkan mata beberapa kali sebelum membuka mulut, “K-Kris oppa…”

“Jangan pernah kau berani memanggilku seperti itu lagi, kau sialan!” suara Kris terdengar bergetar saat mengucapkan kalimat barusan. Mengusap wajahnya kasar, lelaki itu mendesah disela deru napasnya yang memburu, “Bagaimana— bagaimana kau bisa membiarkannya meninggal… apakah kau memang seegois itu, hah?!”

“…” Dahye tak menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya.

Rasa sesak memenuhi dadanya meskipun selang oksigen yang terpasang di hidungnya ini masih berfungsi. Pandangannya mengabur saat merasakan air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Ia memandang Kris dengan sayu.

“Asal kau tahu— hanya kaulah sahabat yang dimiliki adikku. Saat ia malas untuk pergi ke sekolah hanya kaulah alasan yang membuatnya semangat. Dahye— aku…” Kris menahan ucapannya untuk beberapa detik, “Harusnya kau mati saat itu juga… hingga adikku takkan merasa kesepian diatas sana.”

Dan dengan itu semua kehidupan Dahye mulai berubah. Tak ada sahabat dan kakak dari sahabatnya yang menemani hari – hari kosongnya.

Kris berubah menjadi lelaki pemarahdan sangat membenci sosok Dahye mulai dari hari itu. Selalu mengganggunya dan tak jarang Dahye sesekali melihat adanya anak buah Kris yang mengikutinya.

Bukan ia tak tahu— namun, Dahye akan membiarkannya jika hal tersebut tak terlalu membahayakan dirinya.

Pada saat itu Dahye berpikir bahwa Kris sedang menderita. Ia perlu mengekspresikan kekesalannya dengan mengganggu Dahye.

Beruntung saat itu ia telah menjadi kekasih seorang Oh Sehun. Seorang anak yang terlahir di keluarga mafia dan tentunya memegang kekuasaan. Dahye seolah mendapat jaminan keselamatan dari sana. Sehun yang selalu bersikap waspada dan over protective padanya, seolah hal tersebut memang ditakdirkan untuk menjaga Dahye.

Hingga hari berganti hari, minggu berganti bulan, hingga tahun, dengan perlahan, Dahye tak lagi mendengar kabar tentang lelaki yang bernama Kris. Yang ia tahu bahwa lelaki itu telah mendapatkan pekerjaan di luar negeri dan sejenak Dahye dapat bernapas lega. Setidaknya lelaki itu mendapatkan pekerjaan yang dapat menyibukkannya.

Dengan perlahan Dahye menata kehidupannya yang goyah kembali. Sehun dan Jinwoo selalu berada di sisinya pada saat apapun. Membantu Dahye untuk tetap tersenyum dan selalu menjalani hidup dengan positif.

Namun hal itu hanya terjadi sesaat. Ya, karena dua tahun kemudian skandal menerpa lelaki itu. Ia telah tercantum sebagai list Warga Negara Asing ilegal di Filipina. Kemudian Kris dipulangkan ke Korea dan mendapatkan hukuman tahanan.

Dahye tak tahu apa yang telah menimpa lelaki itu ketika kia berada di luar negeri. Yang jelas, Kris lebih jahat dan menyeramkan dari sebelumnya. Hingga pada saat kebebasannya dari penjara pun, rasa dendam itu masih berada di dalam hatinya. Menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan Dahye. Dan hari itu telah tiba.

 

-FLASHBACK END-

Dahye mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali saat air matanya terasa perih. Ia ingin keluar dari masalah ini secepat mungkin tapi ia tahu, ia tak bisa.

Takkan ada gunanya melarikan diri dan kabur dari sini. Yang ada kesalahpahaman antara Kris dan dirinya tak akan selesai pula.

Jadi sebisa mungkin Dahye menerima semua ini. Ia yakin bahwa selama ini Krislah yang paling terluka diantara mereka semua. Menyimpan kehancuran dan dendam itu seorang diri. Menggerogoti hatinya.

Ini memang salah Dahye yang tak dapat berbuat apa – apa saat kecelakaan itu terjadi, dan tak menghadiri upacara pemakaman sahabatnya karena ia masih belum diizinkan pulang oleh pihak Rumah Sakit. Teman macam apa dia ini.

Isakan di bibirnya semakin kuat dan kencang. Untuk kali ini— Dahye membiarkan rasa bersalah menyiksa tubuhnya. Seakan menikmati kesedihan yang ia pendam selama ini.

.

.

-TBC-

Author Note:

Oke aku gk mau cuap-cuap banyak deh di chap ini. Karena jujur skript yg pertama aku buat di chap 4 ini tuh kehapus, jadi aku ngulang ngetik lagi dari awal. Agak gk ngefeel kan? Karena feelnya udah aku tuang di yg kehapus tadi 😥

Jadi hasilnya kayak gini deh -__- maapkanlah kalo jelek. *sungkem* Jangan lupa leave comment ya.

Regard.

-KEIKO SINE https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

2 thoughts on “DEVOTION [Chapter 5]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s