SKYSCRAPER [Chapter 7]

poster-skycraper-3

SKYSCRAPER, by. Keiko Sine

[Another Story of Haunted Bar]

Genre: Mystery, Thriller, Psychology, Romance || Rating: PG 17

Casts:

Kim Taeyeon (SNSD), Kwon Jiyong (BB), Oh Sehun (EXO)

Han Sora (OC), Kim Jinwoo (Winner), Im Siwan (ZE:A), Others.

Poster by. Afina23 @ Story Poster Zone

COPYING AND PLAGIARIZING THIS STORY ARE FORBIDDEN!

THIS STORY BELONGS TO ATSIT AND KEIKO SINE.

PRE: [Teaser][1][2][3][4][5][6][PASSWORD]

***

[Chapter 7]

Botol-botol berkilauan seperti permata di dalam cahaya yang remang-remang, dan bola-bola biliar saling beradu saat beberapa orang pria dengan celana jins dan kaus T-shirt memainkan permainan Bola Sambilan di salah satu meja yang tersedia.

Sang bartender sedang membersihkan meja bar, menampakkan tato di lengan kirinya saat Taeyeon melewati bangunan dengan nama Pub Jane itu dengan sebuah lirikan kecil.

Sebuah televisi yang terpasang tinggi di sudut ruangan menayangkan berita dari stasiun televisi lokal. Berita pukul lima sore ini menampilkan judul berita dengan tulisan besar; PEMBUNUHAN SEORANG BIARAWATI DI ST. MARGUERITE.

Oh sialan.

Semua otot dalam diri Taeyeon menegang, ia memutuskan untuk mengambil duduk di salah satu bangku yang di sediakan di luar Pub. Meletakkan barang-barang belanjaan tepat di sebelahnya mengingat Sehun belum kembali dari kedai permen kapas yang ia dambakan itu.

Volume televisi dipasang terlalu rendah untuk didengarkan di antara suara keramaian bar, tapi Taeyeon masih bisa menangkap maksudnya. Sebuah gambar close up dari tempat kejadian perkara yang mengelilingi pintu St. Marguerite dilanjutkan dengan penayangan foto Suster Jira.

Taeyeon semakin melebarkan matanya saat layar televisi itu berubah menjadi deretan foto-foto biarawati saat sang reporter menyajikan sejarah singkat St. Marguerite.

Barternder wanita itu melihat Taeyeon memperhatikan layar televisinya.
“Hal yang mengerikan,” kata barteder itu, sambil menyendok es batu ke dalam tiga buah gelas kosong, balok-balok mungilnya saling berdenting dalam gelas. “Orang waras mana yang sanggup membunuh seorang biarawati?” Ia kemudian menambahkan Vodka segar ke dalam gelas-gelas berisi es tadi. “Maksudku, yang benar saja—

“Tidak ada orang waras yang terlibat.” Seorang pria berbadan besar menyela, di tangannya terdapat stick biliar yang mengayun seiring dengan langkah kakinya.

Taeyeon mendengar semuanya, tapi dia tak mengucapkan apapun dan tetap memperhatikan layar televisi.

Sang reporter kembali mengambil alih, “—dan hal yang baru kita tahu kebenarannya, bahwa suster Jira tengah hamil saat kejadian pembunuhan itu berlangsung.”

Sontak semua yang ada di dalam bar itu terdiam, termasuk Taeyeon.

Apa?

Seorang biarawati tidak diizinkan untuk menikah… apa lagi untuk mengandung seorang anak.

Taeyeon mendelik dan hampir kehabisan napas jika saja Sehun tidak segera datang untuk menyadarkan Taeyeon dari lamunannya.

Noona, aku sudah selesai ayo pulang.”

.

.

-oOo-

.

.

“Apakah ada masalah dengan Jiyong?” Jinwoo melirik kilas ke arah Taeyeon. Mereka berjalan beriringan ke beberapa balok ke arah sungai yang tak jauh dari Vila, berjalan dengan tanpa tujuan.

“Aku tidak beranggapan seperti itu.” Kekhawatiran jelas tercetak di wajah Taeyeon yang kini memerah.

“Ku rasa juga bukan… tadi aku bertanya padanya dan dia mengatakan kalau kau sedang ‘malu’.”

Taeyeon semakin menunduk mengingat apa yang telah mereka lakukan kemarin malam. Sebisa mungkin menahan tawa dan tetap memasang ekspresi datar andalannya. “T-tidak— kemarin kami hanya… sedang dalam masa sulit.” Ada berbagai alasan untuk menjawab tidak, tapi nyatanya Jinwoo tidak menghiraukan semuanya. Dia dan Jiyong tidur bersama setelah pertengkaran ‘kecil’ mereka dan itu akan sangat memalukan untuk dibicarakan.

Ia hampir tidak memperhatikan orang-orang yang berjalan berlawanan dengannya, sekelompok anak remaja, semuanya mendengarkan iPod atau berbicara di telepon genggam; seorang pelari, yang berkeringat dan berniat untuk menyelesaikan olah raganya sebelum matahari terbenam, dua orang gelandangan dengan janggut dan tas ransel, dan penutup kepala, meminta uang receh. Semuawarna lokal hilang di sekitarnya; pikiran Taeyeon sedang tidak berada di tempatnya.

“Begitukah…” Jinwoo menggantungkan kalimatnya saat mereka berjalan di tangga menuju atas tanggul, “Aku mengenal Jiyong terlebih dulu— dan aku tidak pernah melihatnya senyaman ini bersama wanita. Bahkan— dia dulu dikenal dengan lelaki yang suka mematahkan hati perempuan karena di sekolah dia sangat populer dan banyak wanita yang ingin dekat… tapi dia selalu menolak.”

Mereka berhenti sejenak untuk memperhatikan kapal-kapal dan perahu kecil yang mondar-mandir di sepanjang sungai. Matahari berdantung rendah di langit barat, berjanji untuk tenggelam di bawah cakrawala dalam waktu beberapa jam lagi.

Taeyeon menyunggingkan bibirnya, menatap ke arah Jinwoo dengan beberapa anak rambutnya yang berkibar. “Aku… tidak tahu tentang yang itu.” Senyum Taeyeon melembut, lalu ia melanjutkan, “Jadi— kurang berapa lama lagi waktu kita menghabiskan liburan di tempat ini?”

Jinwoo mendongak, matanya menerawang ke langit lepas. “Tidak lama… tak kurang dari dua minggu.”

“Ah… tak terasa sudah seminggu lebih kita berada di sini.” Taeyeon merapikan surainya yang beterbangan ke belakang telinga, sambil melanjutkan dalam hati, ‘urusanku di sini masih belum terselesaikan’.

Bayangan-bayangan mulai memanjang, tapi kehangatan hari itu masih tertinggal, seperti menguar dari dalam tanah saat mereka berjalan ke dermaga.

Mereka berdiri di pagar pembatas dermaga yang tingginya hanya sebatas pinggang orang dewasa. Dan saat Jinwoo hendak bersiap untuk membuka mulut— suara lain menginterupsi kegiatan mereka.

Noona… Hyung… kembalilah ke Vila. S-Sora noona, dia di rumah sakit…!”

MWO?”

Reaksi yang sama ditunjukan baik Taeyeon maupun Jinwoo.

Sehun berlari mendekat dengan napas tersengal. “Hahh… ku ceritakan nanti. Sekarang kita harus ke Rumah Sakit.”

Dengan sebuah intruksi, mereka bergegas kembali ke Vila. Langkah tergopoh sambil sesekali tersandung tak mereka hiraukan.

Mobil Alphard berwarna putih terparkir di depan pagar baja siap untuk mengantar mereka. Sehun yang pertama masuk ke dalam di susul dengan Jinwoo lalu Taeyeon.

Di kursi bagian belakang telah ada Siwan dan Kang ajhussi yang duduk dalam diam.

“Jadi— di mana Jiyong?” Tanya taeyeon saat ia tak melihat kekasihnya berada dalam mobil itu.

“Jiyong hyung telah lebih dulu menemani Sora noona ke Rumah Sakit.”

Sesuatu dalam bagian dada Taeyeon serasa di remat lagi. Haruskah dia kembali merasakan ‘cemburu’ dan berakhir dengan ‘bertengkar’ lagi dengan kekasihnya?

Untuk kali ini— Taeyeon tak mau ambil pusing dan sebisa mungkin tetap berpikiran positif tentang hubungannya.

Hujan turus dengan deras saat mobil yang mereka tumpangi berbelok di sebuah tikungan, menambah kesan paranoidnya saja.

“Dan… ada apa sebenarnya? Mengapa Sora tiba-tiba berada di Rumah Sakit? Apakah sakitnya semakin parah?”

“Bukan.” Itu suara Siwan. “Aku— aku tidak tahu bagaimana awalnya, tapi… dia ditemukan menyebrangi jalan saat lampu masih hijau dan—“

Siwan menahan kalimatnya, tapi semua orang tahu apa yang akan dikatakan lelaki itu selanjutnya.

Dia tertabrak, eh?

“Tapi bukankah dia sedang sakit? Bagaimana bisa kalian membiarkan orang sakit keluar sendiri tanpa penjagaan?” Jinwoo melihat ke arah Siwan dan Kang ajhussi bergantian, mengingat mereka yang berada di Vila sejak dia dan Taeyeon keluar sore tadi.

Dan merasa terlalu disudutkan, Kang ajhussi membuang wajahnya ke samping, memperhatikan guyuran air hujan yang mengalir tak berarti di kaca mobil.

Taeyeon menyipitkan mata, apakah salah jika sekarang ia merasa sedikit paranoid kepada Butler ini? Ayolah… setidaknya tunjukan sedikit reaksi apapun agar Taeyeon dapat menilaimu— Kang ajhussi.

Setelah sampai di Rumah Sakit, mereka bergegas ke ruang rawat inap. Suara gesekan sepatu dengan lantai marmer menemani perjalanan mereka. Wajah panik tak terkendali— juga, perasaan waspada yang lebih sensitive dari biasanya.

Mereka berhenti di depan ruangan bernomor 109, persis seperti yang suster tadi katakan. Jinwoo membuka pintu dengan sangat hati-hati, nyaris tanpa suara, hingga pemandangan di ujung sana menyambut kedatangan mereka.

Jiyong dengan seorang pria memakai setelan putih tengah berbincang dalam percakapan yang serius, hingga tak menyadari kedatangan mereka di ambang pintu.

“Ku rasa— ada tamu lagi.” Ucap seorang dokter paruh baya itu saat hendak ke luar.

“Mereka adalah saudara dan teman-teman dari pasien Han, dokter.” Ucap Jiyong menjelaskan.

Si dokter membungkuk kilas lalu menghilang di balik pintu.

Sontak mereka semua memasuki ruangan di mana Sora dirawat. Wanita itu terlihat sangat pucat dan menyedihkan dengan selang infuse dan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya.

Jiyong tersenyum, menyambut kedatangan mereka semua. Dia memeluk satu per satu orang yang ada di sana, hingga menyadari sesuatu—

“Apakah Kang ajhussi tidak ikut kemari?” ujarnya setelah selesai memeluk Taeyeon.

“Uh?” sontak Taeyeon melihat ke sekeliling, benar tak ada Kang ajhussi di sana. “Tapi dia tadi ikut dengan kami…” mendengar penuturan Taeyeon, mereka semua menjadi terdiam, suasana canggung mulai menyelimuti, “…mungin— Kang ajhussi ingin berjaga di luar.” Sambungnya.

Jinwoo dan Siwan mengambil tempat duduk di sebuah sofa kecil yang terletak di ujung ruangan, merebahkan punggung sambil mendongak ke atas memperhatikan langit-langit.

“Jadi— coba ceritakan lagi, mengapa Sora bisa berjalan keluar dan mengalami kecelakaan?” Tanya Jinwoo memecah keheningan.

Mata Siwan bergerak gelisah, dia menautkan jari-jarinya sebelum menjawab, “Aku tidak tahu persisnya… tapi— yang kami tahu, dia sudah keluar dari Vila tanpa menggunakan jaket dan alas kaki, telepon di ruang tengah berbunyi dan Jiyong yang langsung berlari menuju jalan raya saat mendengar Sora telah tertabrak… hanya itu.”

Taeyeon mengulurkan tangannya berusaha untuk mengelus tengkuk dan punggung Jiyong pelan dengan maksud untuk menenangkannya.

“A-aku tidak dapat berpikir jernih waktu itu… jadi aku langsung ke tempat kecelakaan saat aku mendengarnya.” Ucap Jiyong sambil menunduk.

Mendengar penjelasan dari Siwan, seolah Taeyeon mendapatkan sesuatu. “Jadi— dia keluar dan membawa handphone, tapi tidak menggunakan jaket ataupun alas kaki? Aneh…”

Siwan mengendikkan bahu, lalu merebahkan kembali punggungnya ke sofa. Jinwoo menyenggol bahunya, bermaksud untuk diberikan sedikit ruang untuk merebahkan tubuh dan kepalanya, merasa jika ia terus berpikir akan membuat isi kepalanya meledak.

 

Sehun mengambil kursi yang terletak di samping tempat tidur Sora, matanya memperhatikan wajah noona barunya itu dengan sangat lekat. Sedangkan Taeyeon dan Jiyong hanya bisa saling menghela napas. Apa yang telah terjadi dengan mereka?

Sebenarnya ada satu cara di kepala Taeyeon untuk mengungkap apa yang sedang terjadi, yakni bertanya langsung kepada Sora tentang apa yang telah menimpanya hingga mengalami kecelakaan. Namun dia akan lebih dianggap sinting jika ingin menanyakan sesuatu kepada orang yang tengah sekarat.

“Aku akan keluar sebentar dan membawakan beberapa minuman untuk kalian.” Taeyeon bangkit dari duduknya, sedikit merapikan coat yang ia pakai lalu berjalan menuju pintu.

“Aku akan ikut denganmu, Tae.”

..

..

..

Denting kaleng bergulir pada mesin penjual otomatis dan Taeyeon memasukkan tiga Cola terakhir ke dalam plastiknya. Jiyong membuka kaleng pepsi berwarna biru lalu meneguk pelan minuman berkarbonasi itu.

Desisannya seolah menggema di ruangan itu karena jam mengunjungi akan berakhir kurang dari tiga puluh menit lagi. Suasana Rumah Sakit malam berubah menjadi semakin sepi.

Gwenchana?”

Jiyong melirik Taeyeon dengan sudut bibirnya yang terangkat. “Pertanyaan macam apa itu? Seharusnya kau memelukku dan mengatakan semua akan baik-baik saja.” Ucapnya dengan pandangan mata genit.

“Yak— ajhussi, seharusnya kau tahu perasaanku yang tiba-tiba ditinggal kekasihnya dan bertemu di Rumah Sakit.”

Jiyong semakin melebarkan senyumnya karena Taeyeon baru saja memanggilnya ‘paman’.

Dirangkulnya pundak sempit itu dengan gemas lalu ia mencubit pipi kekasihnya yang telah memerah. Taeyeon membalas pelukan Jiyong dan memberanikan diri untuk berjinjit dan mengecup bibir prianya singkat.

Rasanya manis dan menenangkan. Seperti sesuatu yang selalu ingin Jiyong ingat.

Hingga tak mengherankan jika sekarang Jiyong menariknya ke sudut tembok di belakang mesin minuman, menaikkan dagunya hingga dapat membuatnya mendongak dan mencium bibir ranum itu telak.

Taeyeon tak melawan dan malah menggantungkan tangannya di perpotongan leher Jiyong saat Jiyong mengecup bibir atas dan bawahnya. Melumatnya dengan napsu yang telah sampai di dada dan tangannya bergerak gelisah di antara perut dan pinggang Taeyeon.

Jiyong mulai menggigit bibir bawah Taeyeon, meminta akses untuk melesatkan lidahnya, namun dengan cepat Taeyeon mendorong dada kekasihnya. “B—ah—bagaimana jika ada yang melihat?”

“Biarkan saja.” Jawab Jiyong enteng.

Taeyeon mendengus lalu berjalan lebih dulu untuk kembali ke ruangan Sora. “Dasar Jiyong mesuum…” ucap Taeyeon sedikit kencang, sontak Jiyong menggeleng dari tempatnya berdiri lalu sedikit berlari untuk mengejar kekasihnya.

Mereka berjalan beriringan dengan lengan Jiyong yang melingkar di pundak Taeyeon. Saling tertawa hingga dengan tak sengaja Taeyeon seperti telah melihat sesuatu.

“Kau duluanlah… aku— ingin ke kamar mandi sebentar.” Ucapnya member alasan.

“Baiklah.” Jiyong mengambil alih kantung plastik putih berisikan minuman dan beberapa kue. Setelah melihat Jiyong benar-benar pergi dan menghilang di balik tembok, akhirnya Taeyeon mengambil langkah membalik.

Dia berjalan dengan sedikit cepat menuju pintu keluar dan menemukan seorang lelaki berpakaian serba hitam yang dengan tiba-tiba menghilang saat mereka sampai di Rumah Sakit ini.

Ajhussi.” Panggilnya.

Yang dipanggil menoleh, wajah datarnya menyambut Taeyeon seperti sebagaimana pria itu biasanya. “Ya, noona.”

“Mengapa Anda tidak ke dalam, ajhussi? Tidak ingin bertemu dengan Sora?”

“…”

Kang ajhussi tidak menjawab, dia menatap lurus ke dapan lagi sehingga Taeyeon harus melangkah ke depan dan mensejajarkan tubuhnya untuk melihat bagaimana ekspresi Butler itu.

Gerak-gerik yang ditunjukan oleh Kang ajhussi membuat spekulasi Taeyeon semakin kuat saja. Apakah semua ini adalah ulah dari Butler pria yang sangat dipercayai Sora dan keluarganya?

Tapi— apa motifnya?

Mengambil alih kepemilikan Vila? Mendapatkan keuntungan jika menjualnya ataupun memperalat Sora yang tengah sekarat?

Entahlah… Taeyeon sendiri tak terlalu yakin.

Taeyeon mengedipkan matanya dua kali, hendak membuka suara sebelum Kang ajhussi terlebih dulu menyela. “Eung… ajhussi

 

“Anda wanita yang sangat menarik, noona Taeyeon-ssi. Tapi percayalah, aku tidak ada hubungannya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan ini.”

Sontak Taeyeon melebarkan matanya, “Tunggu— bagaimana Anda tahu maksudku?”

Pria itu menarik ujung bibirnya menjadi sebuah smirk, “Anda mengatakannya jelas di wajah Anda.”

.

.

.

-TBC-

Author Note:

Okeh aku gak bisa cuap2 banyak di chapter ini… wkwkwk.. dan beruntunglah kalian yg masih bisa baca kelanjutannya karena jujur aku nih lagi sibuk-sibuknya kuliah, mau ujian semesteran pulakk.. >.<

Jadi kalo ada yg nuntut buat UPDATE CEPET, aku gk bisa janji yah.. karena Sine juga punya urusan lain di real life.

Jangan lupa Like & Comment :-*

Regard.

-Keiko Sine https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

19 thoughts on “SKYSCRAPER [Chapter 7]

  1. Sebenernya sora kenape? TY harusnya gak usah terlalu penasaran, nikmati dan fokus aja bermesraan sama Jiyong.. Hahaha

    tapi penasaran juga sama Jiyong, kenapa Jiyong care bgt ke Sora :v udah cem Malaikat pelindung aje :v author-nim aku sangat sangat sangat penasaran sama mereka :v

    Suka

  2. Omooo. Moment gtaenyaa manis skli thor. Snyum2 sndri sayaa dbuatnyaa thor… sipaa dalang dri keelakaan soraa thor??? Apakah benar2 kang ajjushi?? Penasaraan sayaa thor. Dtnggu nextnyaa thor. Fighting😀😀

    Suka

  3. Ternyata dugaan Taeyeon salah tentang kang Ajhussi.. Masih penasaran sama ini cerita. ditunggu Gtae moment yang lebih banyak. suka senyun2 sendiri ngeliat Gtae moment kekekek

    FIGHTING Atuhor-nin!!!!

    Suka

  4. Kwon Jiyong, is something wrong with him and Sora? Why I smell something fishy about him kekekekeke. And sister Jira, gosh she’s really pregnant and was the man that got her pregnant that the killer? Did Sora and Jira have connection? Why Kang ahjusi is solo weird yet he said he didn’t have thing with all of this? I have so many thing in my mind while reading this chapter. Thank you for updating and good luck with your examination!

    Suka

  5. Ahhhhh… nga bisa ngeliat chapter 6’a itu gmna? Aku nga bisa akses.. 😥 😥 jadi bablas ke chapter 7.. tpi Penasaran sma kisah cinta Taeyeon dan jiyong’a..

    Waiting admin

    Suka

  6. Spichlesss 😌 Gw gk bisa berkata lgi 😶
    KARNA INI CERITANYA KEREEEN BGTTT
    jdi makin penasaran ,Btw gw rada” curiga am Jiyong soalnya dia Care bgt ama Soraa
    Jngn ampe my Babyragon gw ama sora,cukup GTae Aj #Marukk 😛
    Untuk autornyaaa semangat buat Update lgiii😁
    I’m Waiting Admin 😊

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s