DEVOTION; Yoona Ver. [Chapter 3]

devotion-yoona2

Devotion by. Keiko Sine

{Yoona Ver.}

Marriage Life – Crime – Romance || NC-17+!!

Casts:

Im Yoona (SNSD), Lee Donghae (SJ)

Choi Siwon, Kris Wu, Huang Zi Tao, Others.

Poster By: Babythinkgirl @ Poster Channel 

Fiction ini sudah pernah dipublish di FlyingncFF dan Blog pribadi author dengan versi Original Character, juga dengan nama author yang sama yaitu Keiko Sine.

In this harsh world. You are the Goddess.“

***

[Chapter 3]

Suara angin menderu di malam yang dingin. Menampar-nampar kaca jendela hingga menerbangkan dedaunan yang mengering. Suasana yang membuat seorang wanita terjaga, dengan lengan kekar suaminya yang membungkus tubuh kecil itu. Yoona melenguh, merasakan nyeri di belakang punggungnya, jadi ia memalingkan badan, bergerak ke kiri.

Masih tak nyaman. Dengan terpaksa ia membuka mata, bergerak ke samping tempat tidur, mengambil kembali piyama tidur yang telah jatuh ke lantai karena kegiatan panas mereka beberapa jam yang lalu. Menyalurkan kepuasan masing-masing, dan Lee Donghae dengan libidonya yang menguap setelah pertengkaran kecil mereka, memimpin permainan hebat yang dapat membuat Yoona melenguh seksi.

Yoona merasa bagian bawahnya telah terkoyak, rasanya nyeri dan perih bukan main. Memakai gaun piyama pendeknya dengan asal, Yoona bergerak berjalan menuju kamar mandi yang berada di ruangan tersebut. Duduk di sebuah kloset dan—

*bluurr

Cairan sperma Donghae yang tak habis tertanam di rahimnya dengan terpaksa ia keluarkan. Merasakan cairan hangat itu mengalir di bagian tersensitifnya dan paha membuat Yoona menggigit bibir bawahnya geli.

Yoona berdiri. Di depan wastafel ia melihat pantulan dirinya sendiri, Yoona menyentuh bagian leher dan dada, tanda husky itu tercetak dengan jelas disana. “Sialan!” desisnya. Bagaimana bisa ia pergi ke kampus dengan keadaan seperti ini? Bisa – bisa semua mahasiswa menertawakan dirinya.

Tidak.

Dengan nekat, Yoona menuju bathup. Mengisinya dengan air hangat dan sebisa mungkin berusaha untuk menghilangkan tanda-tanda sialan ini. Yoona mengunci pintu kamar mandi lalu membuka seluruh pakaiannya, sejenak ia merasa kedinginan tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh itu, namun di detik selanjutnya rasa dingin itu berganti dengan kehangatan yang menguap dari air bathup yang telah ia campur dengan sabun beraroma lilly kesukaan suaminya.

Bersandar lalu mendongakkan kepalanya, Yoona suka suasana ini. Nyeri di tubuhnya pun berangsur-angsur menghilang. Semacam aroma yang menyenangkan dan ingin selalu ia ingat.

Dan setelah beberapa menit berendam, Yoona memutuskan untuk menyudahi kegiatan ini. Ia mengambil handuk, mengeringkan tubuh lalu memakai kembali pakaiannya. Yoona membuka pintu kamar mandi sebelum—

Achoo…

Yoona mengusap bagian hidungnya yang gatal. Melangkah lagi—

Achoo…

Apa? Ia sakit?

.

.

-oOo-

“Yoong kau kelihatan sakit.” Ucap Donghae saat ia duduk di kursi meja makan. Memperhatikan istrinya yang kini masih menggunakan baju rumah dengan masker hijau menutupi bibir dan hidung membuat Donghae sedikit heran.

“Aku hanya… masuk angin. Hehehe.” Kekehnya pada diri sendiri. Mengambil tempat duduk di depan Donghae, Yoona membuka penutup masker, hendak memasukkan panecake itu kedalam mulutnya sebelum Sehun kembali menginterupsi.

“Kenapa bisa masuk angin?” masih dengan nada dinginnya, Donghae bergerak mendekati istrinya. Mendaratkan punggung tangannya di dahi Yoona. “Kau panas,” Donghae menjauhkan tangannya, menatap lekat ke mata Yoona yang kini terlihat sayu, “Aku tidak jadi pergi ke kantor, aku akan mengantarmu ke dokter.”

“Tidak perlu…” Yoona mulai bergelayut manja pada lengan Donghae, “Belikan saja aku obat di apotek seperti biasanya. Pekerjaanmu menunggu, Tuan Lee.”

“Tapi—

No but!” Yoona menggembungkan pipi, membuat Donghae gemas lalu mencubitnya.

“Baiklah, tapi kau tidak perlu mengajar hari ini, mengerti?”

Yoona mengangguk, dan secepat kilat Donghae mendaratkan ciuman di bibir ranumnya. “Yak! Sayang, nanti kau ketularan.”

“Tidak akan. Penyakit itu tidak akan berani menyerangku.” Ujar Donghae sedikit terkekeh lalu memajukan wajahnya kembali, “Morning kiss?” ucapnya dengan suara rendah. Membuat Yoona tak tahan untuk meladeni keinginan pria mesumnya ini.

Satu kecupan dan Yoona harus memastikan bahwa Donghae akan berangkat sebentar lagi dan tak terlambat ke kantor. Menyeret tubuh tinggi suaminya dan mengantar lelaki itu sampai ke luar rumah. Yoona tersenyum pelan, namun ketika Donghae menghilang dari balik lorong—

“Achoo…” Yoona benar – benar sedang sakit.

Kembali mengunci pintu dan berjalan ke dalam rumah, Yoona berdiri di depan lemari besar. Di ujung locker terdapat beberapa obat yang sekiranya dapat membantu mengatasi bersin – bersin ini.

..

..

..

Sedangkan di sisi lainnya Donghae sedang membaca lusinan artikel yang menjelaskan tentang beberapa perusahaan koleganya yang mendadak mendapat surat panggilan dari jaksa dengan tuduhan penundaan pembayaran pajak. Bukankah itu lucu? Dimana semua perusahaan – perusahaan ini adalah yang terkenal baik citranya dan berkompeten pada pekerjaan masing –masing.

Lalu, bagaimana dengan perusahaannya yang bekerja sama dengan mafia Jepang dan Rusia? Apakah jika penggeledahan ini sampai ke perusahaannya, maka bisnis Sehun akan ditutup, begitu?

Ada yang janggal dengan semua ini. Mata – mata tak terlihat, yang juga bisa menyerangnya kapan saja. Jika tuduhan itu juga dilayangkan pada perusahaan Donghae, lalu apa gunanya ia membayar uang 20 juta Won setiap tahunnya untuk pajak bangunan dan lain-lain? Ini gila.

Donghae hendak mengambil ponselnya sebelum benda persegi panjang itu lebih dulu bergetar. Mengusap layar kunci, Donghae melihat nama yang tertera di ponsel tersebut.

“Ada apa Choi?” ucap Donghae setelah meletakkan ponselnya di telinga kanan.

“Hae-ya— ini gila. Perusahaan ayahku terancam disita karena alasan tak membayar pajak. Bukankah ini lucu, hm?” suara Siwon terdengar serak dan putus asa di ujung telepon.

Memijat pelipisnya, Donghae bergumam pelan, “Aku baru saja membaca berita ini. Jadi perusahaan ayahmu juga terkena, huh.?”

“Aku yakin pasti ada dalang tersembunyi.”

“Kau punya nama untuk disebutkan?” Donghae terlihat tertarik. Namun ketika Siwon tak langsung menjawab pertanyaannya, keyakinan Donghae seketika menurun.

“T-tidak sih…”

“Kalau begitu akan ku tutup dulu teleponnya. Aku sedang sibuk.”

“Apakah kau ini memang sejahat itu? Yak—

#bip

Sesegera Donghae memutuskan telepon, seorang sekretarisnya mengetuk pintu lalu menyembulkan wajahnya. “Tuan Lee, saya ada berita.”

“Masuklah.” Ujar pria itu dengan dingin. Jujur saja ia tak ingin mendengar berita apapun untuk saat ini.

Wanita itu berjalan mendekat dengan sepatu high heelsnya. Membawa sebuah amplop berwarna coklat di tangan, “Sajang-nim, peusahaan kita kedatangan surat panggilan. Disini tertulis bahwa kita tidak membayar pajak selama dua tahun berturut-turut.”

“Ini gila.” Desis Donghae dari tempatnya duduk. “Lalu apa yang jaksa inginkan?”

“Kita harus menghadiri penyelidikan tiga hari lagi dengan membawa bukti-bukti penyangkalan.”

Donghae berpikir sejenak, lelaki itu menunduk, “Urusi hal ini dengan manager Jung Yunho. Aku memberi perintah.”

“Baik, Tuan.”

Semua ini tak masuk akal dan membuatnya frustasi. Siapa orang brengsek yang mengendalikan permainan kotor ini? Jika Donghae telah menemukan pelakunya, ia takkan segam menggunakan tangannya sendiri untuk menghabisi orang tersebut.

Mengapa orang itu harus menyerang perusahaan? Apakah orang ini adalah pendatang baru di dunia bisnis? Atau sebaliknya— seorang legend yang akan memporak-porandakan ekonomi Korea Selatan?

Berbagai pertanyaan mulai muncul di kepala Donghae. Apa yang orang ini inginkan? Usaha perusahaan besar-besar bangkrut? Mengurangi persaingan? Atau— sebuah permainan memuakkan yang tak berarti.

Dengan perasaan gusar, Donghae melangkahkan kakinya keluar ruangan. Langkah lebar itu ia tujukan ke sebuah ruangan kecil di sebelah koridor, “Manager Jung.” Ucapnya setelah membuka pintu.

“Oh Sajangnim.” Pria yang beberapa tahun lebih tua dari Donghae itu terlihat gugup mendapati atasannya berada di ruang kerja miliknya. Dia berdiri, membungkukkan tubuh, “Silahkan duduk, Presdir.”

“Tidak perlu.” Donghae tersenyum samar di antara wajah dinginnya, “Kau sudah menyiapkan perlengkapan perusahaan kita untuk penyelidikan besok lusa?”

“Tentu, Presdir. Saya sudah membawa bukti berupa kwitansi asli dan stempel kantor pajak. Dan Sekretaris Yura sedang mencarikan pengacara untuk membela perusahaan kita.”

“Bagus.” Donghae mengangguk – anggukkan kepalanya. “Apakah para kolega yang lain sudah mengetahui siapa dan apa motif dari serangan ini?”

“Belum, Presdir. Para kolega juga masih kesulitan dan berupaya layaknya apa yang kita lakukan sekarang. Namun saya akan langsung memberitahukan kepada anda jika kami sudah mengetahui pelakunya.”

“Baiklah… terima kasih Manager Jung.”

Semuanya tersusun begitu baik, begitu rapi. Seolah orang yang melakukan semua ini telah merencanakannya sejak awal. Haruskah sekarang Donghae bersikap paranoid? Semua orang yang terlihat polos bisa saja menjadi dalang, bukan?

***

Sebuah televisie terpaku pada siaran berita, jam dinding menunjukkan angka dua siang ini.. Snack tercecer di meja terdekat, namun Yoona tak ada niatan sedikitpun untuk memakannya, ia bosan. Tidak bisakah waktu bergerak dua kali lebih cepat dari biasanya?

Setelah tidur siang, Yoona merasa lebih baikan meskipun pusing di kepala itu masih ada. Namun bukankah keadaan ini lebih baik dari tadi pagi yang ia selalu bersin setiap lima detik.

Yoona melangkahkan kaki ke tempat refrigerator berada, namun kosong. Merasa terlalu malas memasak, maka Yoona memutuskan untuk mengambil jaketnya dan membeli di luar. Bukankah apartmentnya sangat dekat dengan restaurant yang menjual berbagai macam waffle dan curros. Setidaknya makanan itu akan sedikit mengganjal perutnya.

Hal ini juga bisa ia lakukan sebagai pengisi waktu luang karena Donghae masih akan pulang dua jam lagi dari sekarang. Menyambar jaket dan kucni mobil, Yoona keluar dari apartmentnya menuju basement dimana mobilnya terparkir.

Menjalankan mobilnya masih dengan sedikit pusing di kepala, maka Yoona memutuskan untuk membeli di restaurant terdekat. Ia hanya tak ingin terjadi kecelakaan jika ia mengemudi terlalu lama. Hingga sebuah tempat bernama Orenji Restaurant menjadi tujuan Yoona. Wanita itu turun dari mobilnya dan segera memesan beberapa makanan untuk ia bawa pulang. Yoona juga memesan satu gelas milkshake untuk ia minum selagi menunggu pesanannya selesai.

Pandangannya menyapu ke seluruh ruangan, hingga Yoona menemukan sesuatu di luar dugaannya. Sebuah televisie di ujung ruangan menyiarkan acara berita.

“Pebisnis besar Kris Wu kembali melebarkan sayapnya setelah resmi dibebaskan beberapa hari yang lalu…

Dalam sebuah tayangan menampilkan bagaimana Kris tersenyum kepada para wartawan dan kamera yang tengah meliputnya adalah sebuah keganjalan bagi Yoona. Lelaki itu tak pernah bersungguh-sungguh ketika ia tersenyum. Senyum plastik yang ia lemparkan begitu terlihat klise di mata Yoona.

“Dalam kesempatan pers pagi ini, pria berdarah China-Canada itu menyatakan bahwa ia akan membuka bisnis resortnya di pulau Jejju…”

Dan ketika Yoona terlalu larut dalam tayangan tersebut, seorang waiter berjalan ke arahnya sambil membawa paper bag berisi pesanan Yoona.

Yoona tersenyum kikuk lalu mengambil belanjaannya. Di dalam mobil, Yoona menyalakan mesin dalam diam. Ia memandang lurus ke depan namun pikirannya masih terbayang pada siaran berita beberapa waktu lalu. Mendesah pelan, Yoona tak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya, namun— perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak.

Memundurkan mobilnya untuk berbalik arah, Yoona tak sempat melihat spion mobil sebelum—

#BRAKK!

“Apa yang patah?” Tanya Yoona dari balik kemudi. Matanya melebar dan tubuhnya seolah membeku, ia merasa telah menabrak sesuatu.

Dengan gusar Yoona keluar dari mobilnya, melihat bagian belakang mobilnya terdaat seorang anak kecil yang terjatuh, darah berada di pelipis dan siku anak itu. Yoona memekik, “Astaga! Kau tidak apa-apa, nak?”

“Hiks… ajhumma.” Mata besar anak itu mulai berkaca-kaca, detik berikutnya ia telah menangis di pangkuan Yoona.

“Shh… Shh… jangan menangis, ajhumma akan membawamu ke Rumah Sakit dulu, ne?” bujuk Yoona dengan suara lembut dan gemetarnya.

Melihat ke sekeliling, kompleks ini sepi. Tak ada orang berlalu-lalang yang setidaknya dapat dimintai tolong. Namun ini darurat, Yoona harus membawa anak ini sendiri ke Rumah Sakit.

Di dalam mobil hanya ada keheningan yang menemani mereka. Anak yang ditabrak Yoona tak lagi menangis namun dari ekspresi wajahnya terlihat jelas jika ia sedang kesakitan. Sedari tadi ia juga terus memegangi bagian perutnya, membuat Yoona bertanya-tanya apakah perut anak ini terkoyak karena tabrakannya.

Gwenchana? Apa lagi yang sakit?” Tanya Yoona ketika ia berhenti di depan lampu merah.

Dengan perlahan anak itu menggeleng, menjawab pertanyaan Yoona hanya dengan sebuah gesture.

“Siapa namamu adik kecil?”

“Park Ara.” Ujarnya singkat.

Yoona menelan ludah, ternyata anak ini lebih dingin dari suaminya. Setidaknya Donghae akan memberikan sedikit ekspresi pada kalimat yang diutarakannya. “Ara-ssi, berapa umurmu?”

Ara terlihat sedang menhitung dengan tangannya yang bersimbah darah, “Tujuh tahun.” Sambungnya.

“Jadi— ajhumma ingin minta maaf karena telah menabrakmu. Sekarang kita akan ke Rumah Sakit dan ajhumma akan membayar semua biayanya, oke?” Yoona tersenyum melihat anak itu mengangguk padanya. Dan yang baru Yoona sadari adalah— anak itu tidak sedang kesakitan di perut, tapi ia lapar. Yoona ingat makanan yang telah ia beli.

“Apakah Ara lapar?”

Gadis kecil itu sontak mendelik setelah mendengar pertanyaan Yoona, dan dengan ragu, ia menganggukkan kepala. Membuat Yoona tersenyum lalu berujar pelan, “Ini, ajhumma baru saja membeli beberapa makanan. Ara makanlah apa yang kamu suka.” Yoona menyerahkan paper bagnya kepada Ara. Dan jujur saja, Yoona juga kelaparan saat ini. Namun— akan terlihat lebih kurang ajar jika Yoona juga ikut memakan makanan itu.

“Terima kasih, ajhumma.”

Perjalanan mereka lebih terasa hangat karena Ara tak lagi memamerkan wajah dinginnya saat menyantap makanan yang diberikan Yoona. Dan membuat wanita berusia 25 tahun itu tersenyum samar di balik kemudi.

..

..

..

Yoona menunggu di sebelah Ara saat dokter memasang perban dan gips di lengan anak itu. Suasana UGD yang bisa dibilang sepi membuat Yoona lebih nyaman untuk berada di tempat ini. Wanita itu memperhatikan bagaimana Ara hanya diam tak menolak ketika para suster mengobati lukanya yang Yoona tahu betul itu akan terasa sakit dan perih. Namun anak ini hebat, ia tak menangis ataupun meringis sedikitpun.

Setelah sedikit berbicara kepada para suster, dokter paruh baya yang menangani Ara membuka penutup maskernya dan berjalan ke arah Yoona, “Lengan Ara tidak apa-apa, hanya sedikit keseleo dan kami sudah memberikan gips. Pesannya Ara tidak diperkenankan untuk mengangkat benda berat dan terlalu banyak tingkah untuk membantunya cepat sembuh.”

“Baiklah dokter.”

“Resep obatnya akan dibawakan suster Lee sebentar lagi.”

Mengangguk lagi, “Ne dokter, terima kasih.” Sambung Yoona.

#ddrrtt…ddrrtt..

Sepeninggal dokter tersebut, dengan cepat ponsel yang berada di saku jaket Yoona beregtar. Nama Donghae terpampang jelas di dana.

Sontak Yoona melihat sekitar. Sialan! Ini sudah hampir jam setengah lima sore. Donghae pasti sudah pulang setengah jam yang lalu. Dan mendapati Yoona lagi-lagi pulang terlambat— pasti suaminya itu akan marah.

“Halo…”

“Yoona —

Menjauhkan ponselnya saat suara sang suami terdengar menggelegar di ujung telepon, “Ya, sayang?” Yoona memelankan suaranya saat mengucapkan kata terakhir.

“Kau dimana? Kenapa tak ada di rumah? Bukankah kau sedang sakit?” Tanya pria itu bertubi-tubi.

Yoona mendesah pelan, “Aku sedang berada di Rumah Sakit Seoul.”

“Apa? Apakah sakitmu parah? Di ruang mana?”

“Aku di UGD, Hae-ah aku—

“Tunggu di sana, aku akan menjemputmu.”

#bip

Lagi-lagi Donghae memutus sambungan telepon tanpa persetujuan Yoona. Dan— apa reaksi lelaki itu jika tahu yang sakit bukanlah istrinya? Yoona sudah tidak sabar mendengar kicauannya.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Yoona telah kembali dari apotek untuk menebus obat Ara. Gadis kecil itu masih terbaring di kasur pasien dengan mata besarnya saat Yoona berjalan mendekat.

“Dimana rumah Ara? Ajhumma yang akan mengantar.”

“Rumah di belakang gang restaurant tadi, ajhumma.” Ujar Ara sambil menerawang lekat tempat tinggalnya.

“Baiklah, jadi rumah Ara juga dekat dengan rumah ajhumma kalau seperti itu.”

“Benarkah?”

“Hm.”

Menurunkan tubuh Ara yang lebih kecil dari atas ranjang, Yoona menggandeng anak itu menyusuri koridor. Yoona hampir berbelok di tikungan saat suara sseorang menginterupsinya.

“Yoong.”

Sontak Yoona membeku di tempat, ia mengenali suara ini.

“S-sayang…”

“Yoona apakah kau sakit?” Donghae memperhatikan tubuh istrinya dari atas sampai bawah. Hingga tak sengaja pria ini menemukan pemanangan lain selain dirinya dan Yoona, “Siapa anak ini?”

“Hae—“ sebenarnya Yoona ingin sekali berbohong, tapi, dia bukan seorang pembohong yang baik, “Dia anak yang baru saja ku tabrak.”

Perlu tiga detik bagi Donghae untuk mencerna kalimat dari istriya. “Apa?” Donghae menatap Yoona dan Ara bergantian, “Yoona pulang.” Menyeret lengan istrinya dengan kasar.

“Tidak bisa… Hae, aku harus mengantar anak ini pulang.”

“Aku akan meminta Kang ajhussi untuk mengantarnya. Sekarang pulang.” Tak mengindahkan penolakan Yoona. Pria itu benar-benar marah sekarang.

.

.

-oOo-

Di dalam ruangan bercat putih, hanya lampu dapur yang menyala. Suasana remang – remang yang mencekam. Membuat Yoona harus menundukkan wajah di antara surai hitamnya. Tak ingin menatap mata Donghae yang sedang memandang nyalang.

“Yoong— haruskah aku benar-benar menyewa bodyguard untuk menjagamu?” desis Donghae dari tempatnya berdiri.

“Tidak… Sayang, maafkan aku. Aku hanya kurang memperhatikan jalan tadi.”

“Kau membuatku marah, Yoona.”

“Maafkan aku.” Ulang Yoona.

“Maka berhentilah membuatku khawatir padamu..!” bentak Donghae, kini urat-urat tercetak di leher putihnya.

Yoona tersentak akan teriakan Donghae padanya. Tak terasa air mata telah memaksa untuk keluar, dengan perlahan Yoona menjawab, “Donghae-ya— aku… “ membuang napasnya kasar, Yoona melanjutkan, “Bukankah kau terlalu possesif kepadaku, tidak bisakah aku hidup seperti orang lain pada umumnya?”

“Kau tahu aku tidak bisa melakukannya. Kau istriku. Istri dari anggota kelopmkok mafia, bahaya mengancammu dimana-mana. Yoona -ah, dengarkan kata-kataku. Bodyguard atau tak keluar tanpa diriku?”

Pilihan yang bodoh. Yoona mendecih dari tempatnya.

“Aku takkan memilih.” Jujur sekarang Yoona sedang kelaparan dan tak ingin bertengkar dengan Donghae. Ia berjalan keluar dengan langkah lebar, menutup pintu apartment dengan debaman keras.

#Blam

Membuat Donghae harus mendelik atas perlakuan istrinya tersebut.

Yoona meninggalkan rumah dengan nekat. Udara semakin terasa dingin karena matahari telah beranjak turun. Beberapa lampu toko diujung jalan menyala saat menyaksikan malam kian datang. Dan bodohnya Yoona, ia tak sempat membawa kunci mobil jadi sekarang ia tengah berjalan di trotoar dengan tangan berada di saku jaket.

Hari yang sial. Dan ia kelaparan.

Dan— salahkah Yoona bila ia sekarang seperti melihat sebuah mobil yang tak asing? Sebuah Masserati hitam, dan— ketika melihat ke sisi yang lain, seorang pria sedang mencumbui dua orang wanita sekalugus. Di pinggir jalan, dengan pakaian wanita-wanita itu yang sangat minim.

Tadinya Yoona ingin diam saja, namun setelah melihat salah satu tangan wanita itu menggerayangi celana seorang pria dan berniat untuk mengambil dompetnya, Yoona segera berjalan mendekat, “Yak, apa yang kau lakukan?!”

Terlihat kedua wanita itu terkejut atas kedatangannya, “Siapa kau? Carilah pria lain, kau mengganggu kami.” Ujar satu yang memakai gaun ungu.

Yoona memperhatikan sosok pria yang ia kenal, pria itu hanya diam tak menanggapi— mabuk? Dasar lelaki idiot. Yoona diam-diam mengumpat dalam hati, “A-apa kau bilang? Aku ini kekasihnya.” Jawab Yoona spontan. “Dan berikan dompet kekasihku yang kau coba ambil.” Yoona menyodorkan tangan kanannya, dan tak lama sebuah dompet telah berada di genggaman wanita itu.

Setelah melihat kedua wanita itu berjalan menjauh, Yoona memperhatikan sesosok pria yang tengah duduk dengan mata setengah terpejam. Ia takkan sampai hati melihat orang yang dikenalnya ini di pinggir jalan dengan keadaan mabuk.

“Merepotkan saja.” Yoona menghembuskan napas lalu terlihat asap yang mengepul keluar, dengan hati-hati Yoona membopong tubuh pria itu untuk masuk ke dalam mobilnya. Mendudukkannya di kusri penumpang, dan Yoona mengemudi ke apartment pria tersebut.

..

..

..

“Kau – sangat – merepotkan – tahu?” ujar Yoona disela langkahnya yang terasa berat karena membopong tubuh pria ini ke dalam apartmentnya. Menempatkan tubuh pria itu di atas sofa.

Yoona meletakkan kunci di atas meja terdekat dan hendak mencari letak dapur untuk mengambil minum dan sebuah makanan untuknya sebelum lengannya di cengkeram dengan kuat. “Eum… nuguya?” racaunya, kelopak mata pria itu bergerak naik turun saat menatap Yoona.

“Kau masih mabuk, tidurlah…” Yoona mendorong kepala pria itu menjauh hingga kembali tertidur di sofa. Wanita itu hendak kembali melangkah sebelum sepasang lengan kuat mengapit tubuhnya dari belakang. Yoona bergerak tak nyaman, “Yak—

“Tenang saja. Aku akan membayarmu penuh…” ucap pria itu dengan suara serak.

“Hentikan… dasar—“ Yoona masih berusaha untuk melepaskan diri, namun maniak yang merangkul tubuhnya jelas lebih kuat. “Aahh.” Yoona terjatuh di atas lantai, napasnya memburu berbenturan dengan milik pria yang kini menindihnya.

Pria itu mulai mencium bibirnya kasar. Dapat Yoona rasakan bau alcohol memenuhi rongga pria itu. Yoona menggeliat tak nyaman. “Yak… ku bilang berhenti.” Mendorong dada pria itu. Yoona semakin ingin berteriak namun tenaganya telah menguap entah kemana, dan ketika dada sintalnya diremas dengan gemas, Yoona mendesah berat.

.

.

-TBC-

CHAPTER DEPAN DI PROTECT! KENAPA??

Author Note:

Haii.. chapter 3 is up! Okehh.. *buang napas* di chap ini udah panjang kan yaa.. wkwkwk. 3200kata lebih loh… 19 halaman. -_-

Ada yang bisa nebak gak siapa pria itu… hehehe. Dan siapa orang dibalik celakanya perusahaan Donghae. Oke, tungguin chap 4nya. Dan sekedar pemberi tahuan bahwa chapter 4 depan akan di protect. Kenapa? Karena ada part NCnya wkwkwkw *ketawa jahat*

Jadi gimana kalau mau dapetin passwordnya? Gampang, tinggal baca disini:[PASSWORD]

Dan ingat, aku tidak akan memberikan password kepada SIDER!

Review jusseyo..^^

-KEIKO SINE https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

116 pemikiran pada “DEVOTION; Yoona Ver. [Chapter 3]

  1. ari tri

    Apa Kris terlibat untuk menjatuhkan perusahaan Donghae??apa ada kemungkinan dikarenakan ia ingin balas dendam.Mmmmm…….Sehun..??????Siapa pria yang ditolong Yoona dan sedang mabuk??Apa mungkin itu Kris rival Donghae suaminya??bagaimana jika Donghae melihat Yoona dan pria mabuk itu seperti sedang……bahkan sampai Yoona melenguh.

    Suka

  2. bacaku pindah2..
    jàrang liat email sii…
    suka thoor…
    keepting…
    chap 4 q uda baca tp lupa dimana…
    itu siwon kan…
    tapi kok ini q iseng cari lagi jadi di protec ya
    gapapa ding…
    suka semua ceritamu thoor
    keepti!!!

    Suka

  3. laylee18

    kyaknya dalang dibalik semua masalah yg terjadi di perusahaan besar termasuk perusahaan donghae sma siwon itu gra2 ulah kris ya? masih belum jelas permasalahan antara kris sma donghae.. keren kak 👍

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s