SKYSCRAPER [Chapter 5]

poster-skycraper-3

SKYSCRAPER, by. Keiko Sine

[Another Story of Haunted Bar]

Genre: Mystery, Thriller, Psychology, Romance || Rating: PG – NC

Casts:

Kim Taeyeon (SNSD), Kwon Jiyong (BB), Oh Sehun (EXO)

Han Sora (OC), Kim Jinwoo (Winner), Im Siwan (ZE:A), Others.

Poster by. Afina23 @ Story Poster Zone

COPYING AND PLAGIARIZING THIS STORY ARE FORBIDDEN!

THIS STORY BELONGS TO ATSIT AND KEIKO SINE.

PRE: [teaser][1][2][3][4]

***

Seorang polisi ber-name tag Lee Donghae melirik melintasi bangku-bangku gereja ke arah gerombolan kecil saksi mata yang berkumpul di dekat bagian belakang kapel. Pastor dan salah satu biarawati berpakaian lengkap terlihat gemetaran di balik kursi.

Suster Jira.

Dengan sebuah pisau di dekat tubuhnya— darah mencecer keluar— lebih terlihat seperti sebuah bunuh diri. Namun, Lee Donghae tahu, ini lebih dari sebuah aksi bunuh diri biasa. Bisa saja orang lain di luar sana yang menyuruh Suster Jira untuk menusuk perutnya sendiri, atau ada seseorang yang dengan cepat menusuk suster itu lalu meninggalkan pisaunya di samping korban dengan sengaja, atau apapun yang lain.

Polisi lain datang, salah satu dari mereka berjongkok, memandang sang korban untuk yang sekali lagi. Di sekeliling leher Suster Jira ada beberapa luka memar dan lebam yang dalam, seakan-akan dicekik dengan tali.

Monster macam apa yang sanggup melakukan hal ini?

Dan seketika seorang reporter mengambil alih, membacakan laporan berita siang ini. “Sekian laporan kami dari lokasi kejadian. Saya Yoon Mirai dari MNC news, pamit.”

Sontak Taeyeon menekan tombol off di remote control dan seketika layar televisie itu berubah gelap. Menegakkan tubuhnya. Taeyeon mengalihkan perhatiannya kembali ke arah jendela yang gordennya telah terbuka lebar.

Di sana, tepatnya di gereja yang letakknya tak jauh dari tempatnya tinggal telah terjadi sebuah pembunuhan. Siapa pelakunya? Mengapa dia menyerang seorang biarawati? Dan berbagai pertanyaan lain menyerang otaknya.

Pastinya ada seseorang, yang berbahaya— seorang pembunuh, dan belum tertangkap, sedang berkeliaran di sekitar sini. Menunggu waktu yang tepat, memata-matai.

Untuk kali ini— semua orang bisa dianggap sebagai tersangka. Dia tidak bisa mempercayai orang lain, tidak siapapun. Taeyeon rasakan darahnya mengalir dua kali lebih cepat saat memikirkan hal-hal itu.

“Bagaimana laporan lanjut dari kecelakaan itu?” terdengar suara familiar saat Taeyeon menyenderkan punggungnya di sofa.

“Bukan, bukan sebuah kecelakaan.” Suara Taeyeon terdengar parau dan kasar. “Suster itu… mungkin dibunuh.”

Atau membunuh dirinya sendiri.

“Taeng…” Jiyong berbisik di telinganya, kemudian ia menarik tubuh Taeyeon mendekat. Memeluknya dari belakang. “Aku tahu apa yang kau pikirkan. Tidak baik memikirkan hal-hal semacam itu.”

“T-tapi— aku bisa merasakannya. Saat tadi malam kau menemukan aku terduduk di koridor dengan kondisi berantakan— aku merasakannya…”

Jiyong semakin mengeratkan pelukannya. Dielusnya rambut panjang Taeyeon dengan maksud untuk menengkan. “Ssstt… aku tahu, aku tahu… Tapi kita di sini untuk berlibur, ingat?”

“Jiyong-ah…”

“Tenanglah…” Sela Jiyong cepat, “Sekarang mari kita ke belakang, yang lain sudah menunggu untuk memulai barbeque.”

Sesuatu di dalam nada bicara Jiyong menembus Taeyeon, melemparkan dirinya keluar dari lipatan penyangkalan yang mengancam akan mencekiknya. Taeyeon melepaskan tangannya dari genggaman Jiyong lalu memilih untuk berjalan terlebih dulu meninggalkan lelaki itu.

Taeyeon merasa tak lagi dipercayai.

Hanya sebuah omong kosong dari wanita aneh penderita indigo.

Membuka pintu halaman belakang dengan sedikit sentakan dan Taeyeon melihat keceriaan di dalam suasana barbeque yang hangat. Mereka memanggang daging dan jagung dengan sesekali tertawa. Sehun terlihat yang paling senang dan bersemangat diantara semuanya, bahkan lelaki jangkung itu menyuapkan tiga potong daging sekaligus ke dalam mulutnya.

Jinwoo dan Siwan yang bertugas menata piring dan mocktail, sedangkan Sora— masih tetap asik berbincang dengan satu-satunya butler pria di Vila ini, Kang ajhussi.

Taeyeon mendekati Sehun yang tengah memanggang daging, melemparkan senyum ke arah lelaki yang telah ia anggap sebagai adiknya sendiri itu lalu membuka mulut dengan gelagat ingin disuapi.

Sontak Sehun mengambil sepotong daging dari panggangan di atas arang dan menyuapkan satu ke dalam mulut Taeyeon. “Bagaimana?”

Mashitta…”

Sehun tertawa senang. “Harus ku akui selain tampan dan pintar aku ini juga sangat pandai memasak. Ku rasa bakat Martha Steward telah diturunkan padaku.”

“Tapi Martha Steward adalah perempuan, mengapa tidak cari contoh yang pria saja?”

“Terserahku.” Ucapnya sambil menjulurkan lidah. Dia berkonsentrasi lagi mengambil daging yang masih mentah lalu menaruhnya di atas panggangan.

Taeyeon mengeleng pelan lalu berjalan menuju Jinwoo dan sepupunya, Siwan, yang tengah asik mempersiapkan soda dan buah. “Kelihatannya enak.”

“Mau mencicipi segelas?” tawar Jinwoo.

“Ah… tidak, tunggu yang lain saja.” Tolak Taeyeon dengan halus. Dia mengambil tempat duduk di sebelah Siwan yang tengah memotongi buah Semangka, mengarahkan pandangannya lurus ke depan saat jingga dengan perlahan bergerak turun.

Untuk sekali lagi Taeyeon manatap ke arah Sora dan Kang ajhussi. Butler pria dengan setelan baju berwarna hitam dan aura misterius itu menarik perhatiannya. Dengan wajah datar dan tatapan mata tajam yang seolah dapat menguliti siapa saja ketika melihatnya.

Tapi di sisi lain Taeyeon melihat Sora sangat senang berada di sekitar Kang ajhussi. Mungkin mereka mempunyai masa lalu yang baik atau semacamnya sehingga dapat sedekat ini, Taeyeon tak terlalu mengerti.

Dengan perlahan dilihatnya Sora mengulurkan tangan ke arah Kang ajhussi, seolah meminta sesuatu. Dan Kang ajhussi dengan segera membuka kancing jubah hitamnya, mengeluarkan sebuah ponsel yang ia simpan di dalam saku dalam jubah, memberikannya kepada Sora. Namun sepertinya Taeyeon telah melihat sesuatu yang lain— logam hitam yang mengkilap karena pantulan dari cahaya lampu taman, dan itu bukanlah sesuatu yang biasa.

Pistol?

Apakah itu pistol?

Mengapa seorang pelayan Vila membawa sebuah pistol di dalam saku jubahnya? Dan apa gunanya benda itu bagi Kang ajhussi?

Taeyeon mengedipkan matanya cepat lalu membuang muka, tak ingin berpikir lebih. Curiga hanya akan membuat hari-harinya rumit untuk yang sekali lagi.

Pasti akan dia tanyakan kepada Sora tentang hal ini, hanya tunggu waktu yang tepat.

.

.

-oOo-

.

.

Kedamaian dan kamanan suasana Vila ini tidak akan pernah sama lagi. Taeyeon merasakan keganjalan yang besar jauh di dalam tulang-tulangnya saat ia berjalan cepat menyusuri ruang tengah yang sepi menuju halaman belakang tempat mereka mengadakan barbeque.

Taeyeon memegangi ujung kaosnya, mencoba untuk menyingkirkan rasa khawatir yang menggerogoti dalam jiwanya saat ia mendengar terjadi sebuah pembunuhan di tempat yang telah ia kunjungi satu hari sebelumnya. Tapi perasaan itu masih bertahan, tidak terpengaruh oleh tiang-tiang cahaya yang bermain melalui kaca jendela yang cahayanya menembus hingga ke dalam Vila besar itu.

Suara desisan Cola dan Soju terdengar bergantian, gemercik menembus malam. Taeyeon melihat keceriaan itu dengan canggung. Jujur saja, masalahnya dengan Jiyong tadi siang masih belum dapat terselesaikan.

Mungkin memang egois untuk bersikap kekanakan seperti ini. Namun Taeyon hanya ingin dihargai dan dipercaya.

Dia bukan wanita aneh penderita schizophrenia yang mengucapkan hal-hal konyol dan omong kosong. Karena pada dasarnya kalimat-kalimat penuh dengan aura gelap itu memang nyata. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres di daerah ini dan malam selanjutnya terdapat sebuah pembunuhan di Gereja.

Aku tidak akan meminta maaf lebih dulu kali ini.

Ucap taeyeon pada dirinya sendiri.

Noona… kemarilah…” Sehun melambaikan tangannya sebagai isyarat kepada Taeyeon untuk mendekat.

“Sehun-ah… kau belum boleh meminum Soju, mengerti?” ucap Taeyeon berlagak seperti seorang ‘eomma’ bagi Sehun.

Arasseo…”

Taeyeon tersenyum, namun seketika berganti dengan sebuah seringaian saat ia mleihat sesuatu di ujung meja. Tepatnya saat Sora berbisik kea rah Jiyong.

Taeyeon juga bukanlah wanita bodoh yang tidak mengetahui bahwa Sora selama ini menyukai kekasihnya. Dia tahu bahwa perasaan Sora bagi Jiyong bukanlah sekedar ‘teman kerja’. Namun Taeyeon masih menghargai hubungan mereka karena sampai saat ini mereka masih blum sampai ‘keluar batas’.

Dengan wajah yang sedikit tertekuk, akhirnya Taeyeon berjalan menuju Jinwoo dan Siwan yang tengah bernyanyi sambil memainkan gitar. Tak terasa mereka dapat tergabung dalam sebuah melodi hangat pengantar malam.

 

That may be all I need
In darkness she is all I see


Come and rest your bones with me
Driving slow on Sunday morning


And I never want to leave…

 

Dan begitulah lagu Sunday Morning dari Maroon5 dinyanyikan oleh suara lembut dari Jinwoo dan Taeyeon.

Taeyeon bertepuk tangan ketika berhasil menyelesaikan lagu tersebut. “Jinwoo-ya… aku tidak tahu kalau kau bernyanyi dengan baik.”

“Kau lebih baik Taeng…”

Haiishh…” Taeyeon melambaikan tangannya di udara dengan gelagat merendahkan hati. “Aniyaa.”

Hyuung….” Itu suara Sehun. “Ponselmu dari tadi berdering, ada yang menelpon.” Ucapnya sedikit berteriak sambil mengangkat sebuah ponsel warna hitam milik Jiyong.

Dan dengan segera lelaki bermarga Kwon itu berdiri dari kursinya lalu berjalan menuju Sehun.

Baiklah.

Ini kesempatanmu Tae. Sora sedang sendiri dan inilah kesempatanmu untuk mencari lebih banyak informasi darinya.

Untuk sejenak, lupakan soal persaingan cinta dengan Jiyong atau apapun itu. Karena sesuatu yang mengganggumu dan tidur malammu lebih penting untuk saat ini.

Menelan ludah, lalu wanita itu berdiri dan dengan langkah kecil namun pasti mendekat ke arah target. Dapat dilihatnya bahwa wajah Sora kali ini lebih berwarna kemerahan dan matanya tertutup sedikit sayu.

Apakah dia mabuk?

Itu bagus. Ternyata Dewi Fortuna sedang berpihak pada Taeyeon malam ini.

“Sora-ya…” ujar Taeyeon saat berhasil menempatkan dirinya duduk tepat di sebelah Sora.

“Hmm?” jawab Sora dengan sebuah gumaman. “Taeng, apa ini kau?” tangannya terulur untuk menyentuh wajah Taeyeon.

“I-iya ini aku.”

Eum… hehe— wae?”

Benar. Dia mabuk. Nyatanya Sora sudah sedikit meracau saat ini.

Sesuatu di dalam dada Taeyeon terasa sedikit melonggar karenanya, dia dapat bersikap lebih tenang. “Anii… hanya saja— kau terlihat sangat senang di Gangwon-do, apakah kau sudah pernah tinggal di sini untuk waktu yang lama sebelumnya?”

“Eum… sebentar… coba ku ingat-ingat…” Sora mengangkat tangannya lalu menghitung jari. “Tiga tahun— hm, aku sudah pernah tinggal di sini selama tiga tahun saat sekolah dasar.” Sambungnya lalu wanita itu meletakkan kepalanya di atas meja, merasa terlalu berat untuk mengangkat leher.

“A-apakah pada saat itu Kang ajhussi sudah bekerja pada keluargamu?”

“Tentu saja sudah… Kang ajhussi dipekerjakan ayahku saat ia masih berusia 16 tahun, ajhussi hampir tidak memiliki masa depan yang baik pada saat itu karena berasal dari panti asuhan… makanya dia langsung menerima pekerjaan ini.”

“Apakah kau sangat dekat dengannya?” Tanya Taeyeon sekali lagi. Ayolah… ayolah sedikit lagi hingga dia mendapatkan jawaban yang ia cari.

“Hm.” Sora menangguk mantap di antara helaian rambutnya yang menutupi wajah. “Kami dulu biasa bermain berlima.” Ucapnya sambil membuka tangan kanannya. “Lima.” Ulangnya sekali lagi.

“Siapa saja?”

“Aku…” Sora menunjuk dirinya sendiri, “Appa, Kang ajhussi, Woobin oppa, dan Yujin eonni.”

Yujin?

Seperti bukan nama yang asing. Taeyeon merasa sudah pernah mendengar nama itu sebelumnya.

“Siapa… Yujin?”

“Hm… anak dari Bibi Park. Namanya Park-Yujin.” Makin ke sini suara Sora terdengar semakin pelan karena pengaruh alcohol yang diminumnya telah sebagian besar mengambil alih kesadarannya.

Taeyeon menggoyangkan pundak Sora berusaha untuk tetap membuatnya terjaga. “T-tunggu dulu… lalu siapa Woobin oppa?”

EungOppa-ku yang sekarang mengurus perusahaan keluarga di Jepang… wae?”

“Jadi kau punya kakak?”

“…”

Tak terjawab. Nyatanya Sora telah benar-benar menutup mata.

Taeyeon mendesah. Dan jika perasaannya memang benar— maka ada kaitan dari masa lalu Sora dengan keganjalan yang ada di Vila ini.

Dan Kang ajhussi adalah sosok yang menarik juga misterius. Jika di telisik balik dari background pria berkepala tiga itu, maka mungkin Taeyeon akan mendapatkan informasi lebih.

“Sial… padahal tinggal sedikit lagi.” Taeyeon menutup matanya untuk beberapa saat, dan hembusan angin malam bermain-main dengan helaian rambut yang terjatuh dari belakang bahunya.

.

.

-TBC-

Author Note:

Annyeong! Eotte? Bagaimana chapter 5nya? Heheh.. hope you guys like it. 😀

Sekedar pemberitahuan bahwa chapter depan akan di protect. Kenapa? Karena ada adegan FULL NC dan juga CLUE besar tentang misteri di FF ini.

Jadi kalau kalian mau dapetin passwordnya jangan lupa tinggalkan komentar di setiap FF sebelumnya (yakni dari teaser, chapter 1, 2, 3, 4, dan 5 ini.) Karena saya sangat tidak menyukai SIDER dan tidak akan memberikan password kepada SIDER. Thanks.^^

Regard.

-Keiko Sine https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

29 thoughts on “SKYSCRAPER [Chapter 5]

  1. Author-nim, Apa gak ada yg sadar kecuali TY gitu klo tuh tempat misterius :v seenggaknya TY ada temen nya gitu pas Nanti nyelidikin sesuatu.. Hihi bener2 penasaran sama pembunuhnya dan apa hubungannya sama villa deket gereja :v ahh… Penasaran pisan duh.. Kekekek~

    Suka

  2. ahhh saya benar2 penasaraaan bgt thor…..ap nnti adegan nc tuuh trjdi antara jiyong dan taeyeon thor??? brharapnyaa iyaaaaaa>,< otak mesum sayaaa kambuh lagi thor. ouh ya thor. knpaa jiyong jdi ndak prcaya dgn taeyeon thor? pdhl apa yg dikatakan taeyeon itu masuk akal kok thor… smpaah pensaran saya malah bertambh thor. dtnggu thor nextnyaa. fighting

    Suka

  3. Di ATSIT Author udah closed komen di chap 1&2, saya hanya bisa komen di chap 3&4.. gimana dong thor??
    Huwaaa sedih kalo gak dpt pw next chapternya,, Saya telat dan baru baca ff ini soalnya

    Suka

  4. Nice ff thor
    Gtae moment disini agak kuranh, jujur disini rada gak suka kalo jiyong mulai gak percaya sama taeyeon, padahal jiyong sendiri dari awal tau kalo taeyeon indigo, but overall i like it
    Untuk nextnya semangat author

    Suka

  5. I didn’t know you’ve updated this story and I just read it like now. Woooooww it’s getting more and more deeper also soooo mysterious! Even though it’s still confusing for me but it’s getting there right? Kekekeke. Good luck always for you. Fighting!

    Suka

  6. Ping-balik: SKYSCRAPER [Chapter 7] – KEIKO SINE

  7. Ping-balik: SKYSCRAPER [Chapter 7] – Keiko Sine | All The Stories Is Taeyeon's

  8. aaaaa tambah seruuu, tapi kayaknya pelakunya orang terdekat taeyeon deh menurut gw, au ah terserah author-nim nya saja, semangat terus nulisnya thorr

    Suka

  9. ngeliat taeyon jadi marah sama jiyong gara2 ,dia ngerasa jiyong gak percaya sama dia itu bikin cenat cenut atuh, tapi tak tik taeyon dapat informasi saat sora mabuk itu bagus , good job ! 👍

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s