SKYSCRAPER [Chapter 4]

poster-skycraper-3

SKYSCRAPER, by. Keiko Sine

[Another Story of Haunted Bar]

Genre: Mystery, Thriller, Psychology, Romance || Rating: PG – NC

Casts:

Kim Taeyeon (SNSD), Kwon Jiyong (BB), Oh Sehun (EXO)

Han Sora (OC), Kim Jinwoo (Winner), Im Siwan (ZE:A), Others.

Poster by. Afina23 @ Story Poster Zone

COPYING AND PLAGIARIZING THIS STORY ARE FORBIDDEN!

THIS STORY BELONGS TO ATSIT AND KEIKO SINE.

PRE: [teaser][1][2][3]

***

[Chapter 4]

Udara saat itu terasa menghangat seiring musim panas yang kian beranjak, keringat melembabkan kulitnya. Dia membuka jendela, membiarkan aroma sejuk dari udara malam mengalir lambat untuk masuk ke dalam. Di kejauhan, suara dengungan lalu lintas bisa terdegar dari arah jalan tol, sebuah keramaian yang bersaing dengan suara lonceng St. Marguerite, sebuah gereja yang terletak tak jauh dari Vila mereka berada.

Tanpa bisa dijelaskan, kulit Taeyeon merinding. Naluri indigonya mengambil alih, dan ia merasa, untuk yang sekali lagi, seakan-akan sedang diawasi. Sepasang mata yang tersembunyi sedang mengintainya.

“Terlalu banyak mimpi buruk, mungkin.” Ucapnya pelan pada diri sendiri.

Taeyeon menarik napas panjang bersamaan dengan lonceng gereja St. Marguerite yang terus berdentang menyedihkan menembus malam. Sontak Taeyeon berjalan ke arah jendela kamarnya, membuka sedikit gorden biru tersebut.

‘Jangan pergi ke sana’

Sebuah bisikan seolah terdengar tepat di belakang tengkuknya.

Ada apa dengan gereja itu?

Taeyeon menggeleng pelan. “Semua akan baik-baik saja.” Katanya keras-keras, walaupun bagian dalam tubuhnya bergetar dengan hebat. Gemetar bersama dengan ketakutan yang ia coba untuk sembunyikan.

Mimpi buruk atau terawangan yang dihasilkan oleh pikirannya sendiri takkan ia izinkan untuk menakutinya. “Demi Tuhan, aku akan baik-baik saja di sini.”

.

.

-oOo-

.

.

Taeyeon rasakan matanya benar-benar terbakar dan berat lantaran baru pukul dua dini hari ia dapat menutup mata untuk tidur. Dia memang tidak pernah bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan baru seperti orang-orang pada umumnya, dan ia benci itu.

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Taeyeon turun ke lantai bawah untuk mendapatkan sarapan. Sora, Siwan, Jinwoo, dan Sehun telah berada di masing-masing kursi saat Taeyeon berjalan mendekat.

“Eung… di mana Jiyong?” ucap wanita bermarga Kim itu.

Hyung tadi bilang ingin berjalan-jalan di sekeliling… olah raga mungkin.” Jawab Sehun seraya memasukkan toast ke dalam mulutnya. Si wanita mengangguk, dia berjalan ke kursi kosong sebelah Sora.

“Bagaimana tidurmu, Taeng?”

“Ah… baik.” Taeyeon menarik sudut bibirnya, berusaha melemparkan senyum palsu andalan. Tapi yang benar saja, apanya yang baik. Dia— masihlah Taeyeon yang sama yang akan selalu merasa tak nyaman di lingkungan baru.

“Eung…Sora-ya, apakah gereja yang di ujung jalan itu masih berfungsi?” tanya Taeyeon to the point. Dia merasa bahwa semakin penasarannya terobati maka semakin baik.

“Ku rasa masih… mereka masih sering mengadakan misa doa bersama, dan masih buka di hari minggu, kenapa?”

“T-tidak… hanya bertanya.”

Tentu saja masih berfungsi. Memangnya lonceng apa yang dia dengar tadi malam, huh?

“Bibi Jung dan Bibi Park juga adalah pengurus di gereja itu. Kalau kau mau, kau bisa ajak salah satu dari mereka untuk menemanimu.” Sambung Sora.

“Pembantu di Vila ini?”

“Yap.” Angguk Sora mantap. Dia menyuapkan telur gulung terakhir ke dalam mulutnya lalu meminum segelas air.

“Ah baiklah.” Taeyeon tak ingin ambil pusing. Dia baru satu hari berada di sini, jadi apa yang ia harapkan? Bertindak sewajarnya saja, dan jangan buat masalah.

“Aku juga lapaarr…” teriak seorang lelaki yang berjalan dengan kaos putih polosnya yang telah basah oleh keringat.

Sehun menoleh ke sumber suara, “Hyung, kau sudah melihat-lihat daerah sini?” tanya si maknae saat Jiyong mengambil tempat duduk di sebelahnya. “Aku juga ingin ikut.”

Daebak.” Jiyong meletakkan gelas airnya, “Ku rasa aku akan sangat betah berada di sini.”

“Kudengar jika di sini ada wisata yang memiliki cable car seperti yang di Namsan, benarkah?” ucap Siwan sambil menyenggol lengan Jinwoo pelan.

“Ku dengar juga begitu.” Timpal si lelaki bergigi kelinci, Jinwoo.

“Apakah itu adalah sebuah ‘kode’ yang meminta agar aku mengajak kalian ke sana?” Sora memutar bola matanya, disusul dengan tawa mereka semua. “Baiklah… baiklah… aku akan meminta Kang ajhussi untuk memesankan tiket kita berenam.”

“Yeaayyy… Sora noona jjang!” Sehun mengangkat jempolnya, lalu menyuapkan kembali telur dadar ke dalam mulut.

Setelah mengenyangkan perut dan sedikit bincang-bincang, Taeyeon adalah orang pertama yang berdiri dan meninggalkan ruang makan. Tak ada waktu lain, dia mengenal dirinya sendiri dengan sangat baik. Maka disaat Kim Taeyeon benar-benar sedang tak nyaman akan sesuatu, maka ia harus mencari jalan keluar.

Wanita itu berjalan dengan langkah lebar menuju pekarangan Vila yang bisa dibilang sangat luas. Dilihatnya Bibi Park dan Kang ajhussi tengah berbincang seraya memotongi dedaunan tumbuhan bonsai.

“Permisi, Bibi Park…” ucap Taeyeon sepelan mungkin. Dan ketika keduanya menoleh, ia melanjutkan. “Euh… begini, kata Sora— Bibi adalah pengurus di gereja yang di ujung jalan itu.”

“Iya noona Taeyeon-ssi, ada yang bisa saya bantu?”

“Saya ingin— Bibi menemani saya.”

..

..

..

Mereka berjalan menuju katedral. Sebuah bangunan besar dengan menara-menara, menara lonceng, dan jendela-jendela patri yang memantulkan cahaya lampu putih dan kuning milik tiang lampu jalan yang menyala saat malam hari.

Taeyeon berhenti sejenak di depan pintu ganda yang terbuka lebar, melirik kilas ke arah Bibi Park yang masih semangat menceritakan masa-masa lalunya.

“Dulu suasana gereja tak sesunyi ini. Orang-orang keluar dan bersuka cita pada waktu natal. Aku masih sangat ingat ketika pada sore hari menghias tempat ini dengan Yujin, putriku.” Ucap wanita paruh baya itu.

“Anda punya seorang putri, Bibi?”

“Ahh— dia sudah meninggal.”

Sontak Taeyeon berkedip dua kali, “A-aigoo… maafkan saya.” Ucapnya sambil membungkuk canggung.

“T-tidak apa-apa noona. Yujinku… pasti sedang berada di tempat yang lebih baik di sana.” Bibi Park melangkah maju memimpin jalan di depan lalu mengambil tempat duduk di tengah bangku panjang. “Tapi… beginilah keadaan gereja ini sekarang, hanya sesekali mengadakan acara dan tetap buka di hari minggu.”

Taeyeon mengangguk, tapi di sisi lain ia masih bingung. Apa sebenarnya yang sedang ia cari hingga meminta untuk ditemani ke tempat ini?

Nyatanya dia sendiripun bingung.

Hanya tunggulah, hingga beberapa petunjuk yang menyertai kecurigaannya akan tempat ini muncul.

Setelahnya mereka berdua memutuskan untuk kembali ke Vila saat dirasa sudah tak ada keperluan lain di St. Marguerite. Taeyeon dan Bibi Park berjalan beriringan membelah udara yang semakin dingin lantaran matahari telah beranjak turun.

Mereka berbelok di tikungan saat menemukan sebuah toko grocery yang lampu depannya menyala. Melihat beberapa orang tengah duduk dan memakan ramyeon hangat di kursi-kursi depan toko tersebut membuat Taeyeon mendadak lapar. Sebaiknya ia juga membuat satu setelah sampai di Vila.

.

.

-oOo-

.

.

Psstt!

Sebuah bisikan melintas di otak Taeyeon.

Matanya terbuka di dalam kegelapan lorong Vila menuju kamarnya. Kulitnya merinding, dan dengan seketika ia mengecap rasa pahit di dalam mulutnya.

Psstt!

Sekali lagi bisikan itu terdengar, sebuah pertanda akan sesuatu yang akan terjadi. Kakinya teerasa melemas dan Taeyeon sontak berlutut, tangan kiri menggenggam piyama tidurnya saat secara naluriah dia meraih sebuah rosario yang berada di atas nakas lampu kuning yang memancarkan cahaya temaram.

Dalam diam ia membuat tanda salib di atas dada, “Atas nama Bapa… aku percaya—“

Psstt!

Sengatan menyakitkan menyayat saat ia berdoa di kegelapan.

Taeyeon menarik napas dalam-dalam dan menjatuhkan rosarionya, doanya sekali lagi terpotong. Ia bangkit berdiri, berjalan melintasi lantai marmer. Di setiap langkahnya seolah Taeyeon melihat sebuah bayangan aneh.

Sebuah wajah di kejauhan. Gaun berwarna kekuningan. Jubah hitam yang berkibar. Bibir menekuk yang mematikan. Sebuah pintu berat yang mengunci tertutup. Sebuah salib berlumuran darah— darah menetes dari luka-luka Kristus yang suci.

Seketika Taeyeon kehilangan keseimbangan dan terjatuh di lantai dengan suara debaman yang keras.

“Taeng… itu kau?” Suara Jiyong yang penuh dengan kekhawatiran terdengar saat sebuah pintu kamar terbuka, lelaki itu berjalan dengan sedikit cepat. “Apa yang terjadi? Ada apa denganmu?”

“Ku rasa… aku telah melihat sesuatu.”

“Pengelihatan alam bawah sadar lagi, hm?” tanya Jiyong pelan. Secara naluriah dia bergerak untuk mendekap Taeyeon, ikut duduk di lantai marmer super dingin itu.

“Benar kata Sehun saat di mobil… kita— kita tak seharusnya ada di sini.”

“Taeng, tenanglah.”

“Aku tidak bisa! Aku bersumpah— aku telah melihat sesuatu— aku— hmmpphh…

Dengan cepat Jiyong membungkam bibir Taeyeon dengan bibirnya sendiri. Tak ingin mendengar racauan yang akan mengakibatkan dia tak bisa tidur untuk semalaman penuh.

Jiyong semakin memperdalam lumatannya saat ia menahan tengkuk Taeyeon. Melumatnya atas dan bawah. Setiap detik menjadi semakin hangat dan liar.

“J-Jiyong-ah…”

“Tidurlah… aku akan mengantarmu ke kamar.”

.

.

-oOo-

.

.

Sora mendengus saat dia mematikan televisienya. Dan melihat para petugas dengan mobil aparat dengan sirine yang mengeluarkan bunyi memekakkan telinga itu membuat penderitaannya hari ini menjadi tambah parah saja.

“Ku rasa kita tidak bisa menaiki cable car hari ini.”

Waee?” Sehun adalah orang pertama yang menanggapi, alisnya telah tertekuk pertanda ia takkan menyukai alasan selanjutnya.

“Tadi malam— mungkin dini hari telah terjadi sebuah pembunuhan. Seorang biarawati di gereja tak jauh dari sini ditemukan tewas di dalam katedral.”

Sontak Taeyeon membeku, apakah katedral tempat ia dan Bibi Park berkunjung kemarin?

“Polisi sedang melakukan pemeriksaan, semua orang yang dianggap terkait akan diwawancarai dan— sementara beberapa tempat wisata juga ditutup. Aahh… eottokae?” sambung Sora.

Eottokae??? Cable car…” Sehun sama gilanya dengan wahana cable car yang ia dambakan itu. Bahkan lelaki itu masih sempat untuk memeluk Sora disaat seperti ini.

Sekarang yang jadi pertanyaannya, mengapa seseorang ingin membunuh seorang biarawati? Bukankah mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Tuhan? Setidaknya seperti itulah pemikiran Taeyeon saat pertama kali mendengar berita ini.

“Ku rasa ini adalah sebuah pertanda bahwa kita harus mencari wahana wisata yang lain.” Ucap Jinwoo mencoba untuk menyingkirkan ketegangan. “Bagaimana kalau kita ke pantai… diving?”

Diving di awal musim gugur? Brrr…. Yang benar saja.” Timpal Siwan.

“Kalau begitu kita ambil yang lebih simple, barbeque… bagaimana?”

“Call.”

Semua sontak setuju mendengar tawaran terakhir Jinwoo.

Dan di saat yang lain sedang mencoba mempersiapkan barbequenya, Taeyeon dengan diam menggertakkan gigi. Dia berani bersumpah bahwa ada yang sedang tidak beres di sini.

.

.

-TBC-

Author Note:

Akhirnyaa chapter 4nya udah di update. Yah, setelah ada masalah sama reader ‘nyinyir’ yang kmrn akhirya aku memutuskan utk melanjutkan FF ini lagi. Karena aku ngerasa pasti gk adil kalo aku gk ngelanjutin FF ini cuma gegara satu orang gk penting itu doang…

Dan yah akhirnya aku mencoba utk ngelanjutin FF ini meskipun bisa dibilang masih pendek. Ya maap. Jangan bully. Coba utk menghargai sesama yaa..^^

Dan utk SIDER, tolong yah baca ini pelan-pelan. Pahami.

Pasti ada beberapa chapter depan nanti yg bakal aku PROTECT. Karena alasan Rating ataupun sesuatu penting yg ada di FF ini. Dan pastinya aku HANYA memberikan password kepada readers yg sudah setia komen di chapter-chapter sebelumnya. Alias tidak untuk sider.

Jadii… sebelum hari itu tiba mending tobat deh ya.. yukk kirim komentar kamu. Satu ataupun dua kata gk masalah kok asalkan kata-katanya sopan dan membangun. Thanks.

Regard.

-Keiko Sine https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

27 pemikiran pada “SKYSCRAPER [Chapter 4]

  1. Seems like not only Taeyeon who’s confused, me too ahahaha. Anyway, hey! I’m back to your story again hihi. Sehun is such a cutie I can’t stand him help. Still, the one who already felt the oddness is Taeyeon while the others are still clueless I think? Thank you for your update and selalu semangat!

    Suka

  2. Wiiihhhh makin banyak misteri, jadi serem…. :v buat Author-nim “sabar ya boss”… tenang aja, satu Reader yg nyinyir mah harusnya gak masalah, yg penting kan banyak yg dukung supaya ff ini lanjut 😀 fightaeng eaps!

    Suka

  3. Ping-balik: SKYSCRAPER [Chapter 7] – KEIKO SINE

  4. Ping-balik: SKYSCRAPER [Chapter 7] – Keiko Sine | All The Stories Is Taeyeon's

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s