FF Terjemah – Danger In Loving You #1

danger-in-loving-you-req

Danger in Loving You

by Kiddcrazy. Originally posted in Asian Fanfics

Cho Kyuhyun || Lee Naeul (OC) || Choi Siwon

Romance – Crime – Yadong || Rate: Mature!

Translated by. Keiko Sine

Poster By : Kyoung © Story Poster Zone

Attention! FF ini bukanlah milik Sine. Sine di sini hanya membantu menerjemah ke Bahasa Indonesia karena versi asli dari FF ini menggunakan Bahasa Inggris. FF ini milik author @kiddcrazy yang telah terlebih dulu dipublish di Asian fanfics. Jadi tidak ada unsur plagiat. Terima Kasih.

PREVIOUS: [Prolog]

***

Melirik sekilas ke sudut bangunan, ia melesatkan kembali resleting jaketnya dan merapikan kerah bajunya, menyembunyikan pistol yang dipegangnya dalam saku  jaket yang berada di atas dadanya. Dia harus keluar dari sana karena jika ia membuat salah langkah sedikitpun , dia bisa berakhir dengan mendapat lebih banyak masalah daripada yang sudah dia dapatkan sekarang. Ia tidak ahli dalam melakukan hal ini, dia hanya menjadi orang lain pada adegan yang harus ia jalankan. Dan ia beruntung bahwa saat ini adalah malam hari dan ia bisa melarikan dirinya sejauh mungkin tanpa mendapatkan perhatian dari orang lain.

Namun, melarikan diri dari tempat itu dan berjalan menuju jalan yang lebih ramai berarti batang hidungnya juga akan terlihat. Dia berhenti tepat sebelum mengambil jalan di sudut gang melewati toko dan memindahkan tangannya melalui helaian rambutnya yang berantakan menutupi dahi. Dengan cepat membuka resleting jaketnya lagi, ia melepaskan jaketnya dan kemudian mengelap sedikit darah yang menetes dari dahi ke pipinya dengan jaket hitam tersebut. Dengan rambut menutupi dahi dan leher yang ia dongakkan, dia hanya harus menjaga kedoknya tetap aman dan kembali ke apartemennya. Lelaki itu hanya harus melewati melalui kerumunan orang yang berada di rute utama itu dan dia akan aman.

Dia berjalan secepat mungkin melalui kerumunan, berusaha tidak terlihat terlalu terburu-buru tapi tidak terlalu lambat, cukup baik sehingga tidak menimbulkan kecurigaan. Dia tidak tahu mengapa di dunia ini dia bahkan harus melakukan hal semacam ini karena dia tidak melakukan sesuatu yang salah. Hanya saja keberuntungan yang sangat jarang dan hampir tidak pernah berada di pihaknya, karena pada akhirnya dia menabrak seseorang. Untuk lebih tepatnya, ia bukanlah orang yang menabrak mereka, namun mereka yang saling menabrak namun pada akhirnya dia juga kena.

Dan apa lagi sekarang— sekelompok anak muda, jika dilihat dari tampilan warna rok kedua gadis yang mereka kenakan ini, mereka masih duduk di bangku Sekolah Menengah. Bahkan mereka mengenakan mantel untuk menutupi jaket sekolah mereka, rok dan celana mereka juga dapat dikenali karena seragam itu sangat populer musim ini di kalangan toko perlengkapan sekolah Seoul.

“Hey, ajhussi…” salah satu gadis berbicara saat lelaki itu bergerak lebih cepat dan menjauh. Meskipun lelaki itu telah menundukkan kepalanya, setengah enggan untuk mendengarkan celotehan anak-anak muda ini dan dapat meninggalkan tempat ini sesegera mungkin.

“Apakah dia mengabaikan kita?” Salah satu orang lain berbicara, dan sebelum ia tahu itu, anak-anak tersebut telah berpindah posisi menjadi berdiri di sekelilingnya.

Dia tidak dalam mood yang baik untuk meladeni anak-anak itu. Ia baru saja berhasil keluar dari situasi sulit dan dia tidak dalam mood untuk berurusan dengan sekelompok smarty yang berpikir bahwa hanya karena mereka bisa berdiri melingkar di sekeliling seseorang dan merasa dapat mendorong seseorang hingga ke ujung tembok, mereka merasa hebat.

Anak-anak mungkin berpikir mereka semua hebat dan memiliki kekuasaan di dunia tetapi jika mereka terus seperti ini, suatu hari mereka akan menghadapi kekuasaan tersebut dengan kenyataan dunia yang jauh lebih kejam dan sontak mendapatkan banyak masalah.

“Pulanglah.” Si lelaki bergumam pelan terhadap mereka, berencana untuk mengembalikan lirikan tajam ke arah mereka dan kemudian pergi lalu melanjutkan perjalanan.

Dua orang bergumam dan kemudian merencanakan untuk menghentikannya dengan menarik kerah bajunya, tapi kemudian ketika mereka menyadari jejak darah mengalir di sisi pipinya, mengalir di rambutnya dan kemudian menetes di bahunya. Mereka sontak terdiam dan tampak terkejut.

“Hentikan…” seorang gadis lain berbicara sambil meletakkan tangannya di tangan temannya yang menarik kerah, dan mengisyaratkannya untuk melepaskan lelaki asing itu yang tengah berdarah.

“Ini tidak benar, k-kita hanya bertemu orang… kita tidak melukainya, ‘kan?” Gadis berambut pendek setelinga itu berbicara gugup, bersikeras menolak bahwa dialah yang membuat orang itu berdarah.

“Dia mengatakan kepada kita untuk cepat pulang. ” ucap seorang gadis dengan rambut dikuncir.

Tampak seperti si gadis telah memberi isyarat bagi teman-temannya untuk pulang lebih dulu. Dan kendati bahwa dengan tiba-tiba gadis itu menyingkirkan tangan si lelaki dan kemudian menekan tangannya sendiri ke belakang kepala si pria tak dikenal, gadis itu merasakan darah pekat mengalir di telapak tangannya.

“Aku akan pulang lebih dulu. Jangan berkelahi lagi. Annyeong!” Si gadis berkuncir berbicara dengan keras sehingga temannya yang lain bisa mendengar saat ia terus mendorong pria yang terluka itu menjauh dari gerombolan teman-temannya.

Bagi orang awam, mereka hanya tampak seperti siswa SMA yang tengah menggerebek seorang pencopet, terutama jika melihat bagaimana lelaki yang terluka itu terus berusaha untuk menutupi salah satu sisi wajahnya dan terus berjalan membungkuk. Sejenak lelaki itu mengharapkan si gadis yang membawanya ini untuk hanya membiarkan dia sendiri sehingga dia dapat berjalan menjauh, menyeberang jalan dan menuju rumahnya, tapi nyatanya dia tidak dapat melakukan itu.

Begitu mereka sampai di depan sebuah toko dan ada hanya beberapa orang, gadis itu benar-benar mendorong si lelaki di salah satu kursi meja yang ditempatkan di luar ruangan sehingga orang bisa melihat mereka makan ramen.

Lelaki itu tidak bisa menolak tetapi nyatanya kata umpatan sumpah serapah keluar dari bibirnya, ia bertanya-tanya apa yang terjadi di dunia ini dengan generasi anak muda semacam ini. Dia juga pernah menjadi remaja tapi tidak seberani atau sebodoh ini untuk mengajak orang asing memakan ramen bersamanya. Sepertinya hukum alam telah berubah fungsi dan bukan orang dewasa yang berbahaya namun nyatanya sekarang para remajalah yang cukup menakutkan.

Dia bangkit, siap untuk pergi ketika ia merasa seseorang menarik bahunya, kembali duduk di kursi. Kepalanya tersentak, berencana untuk mengarahkan deathglarenya dan menakut-nakuti gadis itu. Namun sebelum dia bisa melakukan itu, rambutnya terasa ditarik lembut sehingga terlihat jelas dahinya yang berdarah.

“Ini cukup parah. Anda mungkin akan mendapatkan infeksi.” Gadis itu berbicara sambil meletakkan botol Soju dan serbet di atas meja.

“Aku akan baik-baik saja.” Gumam si lelaki menolak dan menyingkirkan gadis yang lebih muda, ingin berdiri lagi tapi kali ini si gadis ikut berdiri di depannya dan menabraknya, membuat si lelaki terjatuh kembali di kursi.

“Ini tidak akan membunuh Anda untuk tetap tinggal di sini.”

Sebelum ia bisa mengatakan apa-apa lagi, ia merasa sesuatu telah menyentuh dahinya, menyebar ke kepalanya, menyebabkan sedikit nyeri di kepala. Menoleh ke samping, melihat botol Soju telah dibuka. Dalam pantulan botol itu si lelaki melihat dirinya benar-benar terkejut ketika si gadis memegang dagunya dan memaksa wajahnya kembali mendongak, menghadap ke depan, sehingga si gadis bisa melihat dengan baik lukanya.

“Jangan menyakiti teman-teman saya…” Gadis itu berbicara dengan suara yang lebih lembut, menggunakan serbet untuk membersihkan jejak darah yang mengalir di bawah pipinya.

Hal itu membuatnya tertawa. Dia seharusnya tahu itu adalah alasan mengapa gadis ini tadi begitu kekeh dalam membantu dia keluar dari kerumunan. Dengan fakta bahwa dia berdarah dan fakta bahwa dia lebih tua dari mereka, mungkin dia pikir akan lebih baik untuk menyerang mereka dan menyakiti mereka atau menyeret mereka ke penjara dan membiarkan pihak sekolah mengeluarkan mereka.

Namun bagaimanapun juga, ia mendapatkan pengobatan gratis dan tidak ada alasan untuk menolak hal itu, sehingga ia mulai dapat menerima perlakuan ini, hanya diam dan membiarkan si gadis menggunakan Soju untuk membersihkan sisa darah.

Ia harus mengakui bahwa ia sedikit kagum pada gadis ini, bagaimana ia tak kenal takut sekalipun. Saat tangan si gadis mencapai dagunya, ia dengan santai membuka ritsleting jaketnya sebagai isyarat untuk si gadis untuk melanjutkan membersihkan, mengambil serbet lain dan membantunya mengelap darah.

Lelaki itu hampir tertawa saat ia melihat gadis itu berhenti sejenak dari pekerjaannya saat dia melihat benda hitam menyembul dari saku jaketnya. Gadis itu mungkin cukup pintar untuk tahu apa artinya, pistol.

Dia menyaksikan bagaimana gadis itu berdehem dengan canggung, mencoba untuk fokus kembali pada apa yang dia lakukan. Mungkin gadis itu tidak sepemberani itu, lantaran dia bisa melirik dan melihat bagaimana matanya goyah sedikit.

“Aku tidak akan menyakiti mereka…” ucap lelaki itu berbicara untuk yang pertama kali.
Gadis itu menoleh, mata mereka terkunci selama beberapa detik. Senyum samar muncul di wajahnya saat ia mendengar kalimat tersebut, dan kemudian dia mengangguk dan kembali untuk mengelap leher. Si gadis merasa ragu-ragu untuk mengangkat kerah kemeja si lelaki tapi karena dia telah memulai sesuatu dan dia merasa seperti harus menyelesaikan, jika dia ingin membuat permintaan maaf yang tepat sampai akhir.

Lelaki itu memegang tangan si gadis yang digunakan untuk menyeka darah, dan kemudian gadis itu tersentak. Pada akhirnya, lelaki itu dasar bahwa gadis itu hanyalah seorang siswa SMA dan dia jauh lebih tua daripada si gadis, jadi wajar saja baginya untuk merasa takut. Bahkan mungkin lebih, kendati bahwa sekarang keadaan jaketnya setengah turun sebatas dada dan kerahnya melorot di bahunya, kulitnya terkekspos, jadi mungkin si gadis bahkan lebih takut karena itu.

Tangan si gadis mulai bergerak turun. Dia rasa sudah cukup acara perminta maafan konyol ini dan kemudian dia bergerak mundur kembali duduk dengan nyaman di kursinya. Gadis itu tersadar dan tampak bingung pada tindakannya sendiri tetapi ia tidak memiliki waktu atau mood untuk berbicara mengutarakan penjelasan yang kompleks.

“Terima kasih.” Itu semua yang bisa si lelaki katakan sambil berdiri, mengatur jaket sehingga bagian dalamnya tidak akan terlihat.

Si gadis tidak punya cara untuk benar-benar menghentikan luka dari pendarahan lagi sehingga mungkin sebentar lagi akan mulai meninggalkan jejak di dahi si lelaki. Dan pria itu harus pulang sehingga ia bisa menjahit lukanya dengan benar dan jika diperlukan ia akan memasang plaster tau kasa di atas lukanya. Dia kembali mengatur ulang rambutnya untuk menutupi dahi dengan baik dan memasang kembali resleting jaketnya, menggosok kedua telapak tangannya untuk menghangatkan kedua tangannya sebelum menempatkannya di dalam saku.

Lelaki itu mendorong kursi ke belakang dan kemudian sedikit membungkuk ke arah si gadis, itu berarti perpisahan. Dia membuat satu langkah menjauh dari meja ketika ia merasa sebuah tangan melingkar di sekitar lengannya sendiri. Lelaki itu sempat terkejut namun setelah ia menyadari bahwa tidak mungkin orang lain yang melakukannya kecuali gadis itu, ia mendesah, tidak kembali melakukan perlawanan dan membiarkan apa yang gadis ini inginkan.
“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih kembali…“ Gadis itu merintih sedikit sambil semakin melingkarkan pergelangan tangannya dan sesekali melirik ke arah lelaki itu, berusaha untuk menjaga image yang cukup rendah hati di depannya.

“Kau tidak harus menyentuh orang tiba-tiba. Aku bilang jangan terlalu percaya padaku, Lee Naeul.” Dia melirik si gadis sekilas sebelum benar-benar dapat kabur dari gadis itu.

Lelaki itu tak melihat ketika wajah si gadis tiba-tiba berubah pucat setelah mendengar namanya disebut.

“Kenapa dia bisa tahu namaku?”

Butuh waktu beberapa detik untuk menyadari bahwa mantelnya sudah dilipat dan bahwa name tag sekolahnya terlihat dengan jelas. Dia tidak tahu siapa yang baru saja dia temui tapi mungkin karena jiwa mudanya, dia berpikir bahwa lelaki itu tampak cukup hot.

Mungkin hal ini ada hubungannya dengan generasi muda yang menjadi menjadi orang mesum tapi dia tidak bisa menahan namun hanya tetap berpikir bahwa perjalanan kembali ke rumah malam ini menjadi lebih menarik dari yang ia bayangkan.

Sibuk dengan belajar, sibuk dengan ujian SAT mendatang, hari-harinya tampak cukup padat terlepas dari yang orang-orang berada di sekelilingnya. Dia pikir hari ini akan menjadi perjalanan pulang sederhana ketika dia dan teman-temannya berbicara tentang hal-hal lama yang sama setiap harinya. Tetapi kendati bahwa dia ditemui seorang pria dengan luka di dahinya, berdarah, dan bahkan membawa pistol di dalam bopeng jaketnya. Pria tadi tidak terlihat seperti seorang gangster atau terlihat sebagaimana orang-orang yang dengan kepribadian buruk tampak di TV dengan segala kekasaran dan pakaian kotor mereka. Dia tidak terlihat seperti itu.

Dan ini menarik.

..

..

..

Sepanjang perjalanan kembali ke rumah Naeul tidak bisa menahandan tetap berpikir tentang lelaki itu, bibir plump merah muda dan mata gelap. Juga terasa ada sesuatu dengan tatapannya, cara lelaki itu memandang dirinya yang membuatnya merinding, sedikit. Mungkin cara itu yang biasa lelaki gunakan untuk memandang bahwa tertarik pada lawan jenisnya.

Lelaki tadi tidak terlihat seperti gelandangan atau seperti seorang gangster namun ia memiliki luka di dahinya yang telah meneteskan darah di sisi pipinya. Bajunya tidak berdebu atau terlihat tua dan terlihat cukup normal dan sebenarnya cukup modis. Meskipun begitu, lelaki tadi memiliki aura cukup gelap meskipun tidak terlihat jahat. Lelaki tadi hanya tampak agak sedih mungkin, menyerah pada kehidupan atau sesuatu yang lain. Entahlah.

Pada akhirnya, bahkan setelah Naeul  berada di rumah, mandi dan berbaring di tempat tidur, pikirannya masih kembali ke orang yang dia temui di jalan tadi. Mencoba untuk mengalihkan pikirannya, karena Naeul yakin hal itu tidak mungkin menyebabkan sesuatu yang baik akan terjadi.

Dia menyalakan TV dan berbaring di tempat tidur, bersiap untuk pergi ke alam mimpi. Mengalihkan saluran untuk mengurangi kebosanan, hingga dia mendarat di saluran berita. Seorang reporter menjelaskan berita tampak seperti satu orang telah ditembak dan dibunuh.

“Ap…apa?” Naeul sontak berdiri dari posisihnya dan memandang ke arah layar dengan mata terbuka lebar.

Tempat pembunuhan itu hanya berjarak beberapa menit jika ditempuh dari tempat dia dan teman-temannya menabrak pria tadi. Orang mati ini telah ditembak, sebuah pistol ditemukan di dekat tubuhnya. Pada layar CCTV terlihat bagaimana si pelaku berjalan dengan bahu merosot dan berusaha menyembunyikan dirinya dari orang-orang, oh tidak— Naeul merasa telah menyadari sesuatu, dan itu hanya bisa berarti satu hal. Lelaki itu— telah melakukannya. Pria yang lebih tua dengan wajah tampan dengan dan bibir yang indah, pria yang ia temui tadi telah membunuh seseorang.

Naeul tidak bisa berpikir jernih dan ia merinding. Itu berarti ia telah sendirian dengan seorang pembunuh dan pembunuh itu tahu namanya. Oh tidak.

Tapi bukankah lelaki tadi telah berjanji untuk tidak menyakitinya dan teman-temannya, bukan? Apakah dia benar-benar akan memenuhi janjinya?

Naeul tidak bisa tidur lagi. Sepanjang malam ia hanya terus melihat langit-langit kamarnya, dengan selimut yang terangkat sampai ke leher, satu tangan hampir kaku di atas yang lain. Itu terasa sangat aneh. Dia tahu bahwa lelaki tadi punya pistol dan telah melihat sebuah luka tercetak jelas di dahinya dan sementara ia memang tampak sedikit menakutkan— tapi ini gila… Naeul tadi hanya tidak bisa memikirkan kenyataan bahwa dia adalah seorang pembunuh. Dari luar dia tidak terlihat seperti seorang yang seperti itu.

Mungkin ini memanglah kesalahan, kecelakaan, itu bisa saja terjadi seperti itu. Mungkin lelaki tadi telah diserang dan dia tidak punya pilihan selain untuk membela diri. Dan pula, pada saat jam-nya berdering, alarm mulai terdengar nyaring, Naeul hanya mendapat beberapa jam tidur. Bangun dan bergerak menuju kamar mandi, dia tersentak saat melihat kantong mata sendiri yang tambah menghitam. Dan dengan ini, ia harus menggunakan beberapa krim dan concealer untuk menyingkirkan kantung mata itu.

Make-up tidak diizinkan di sekolah, setidaknya tidak berlebihan sehingga dia menggunakan make up tipis yang terkesan alami dan dapat menyembunyikan kantung matanya.
“Naeul …” Orang tuanya menghentikannya saat dia hendak meninggalkan dapur, berpikir untuk sesegera mungkin berlari ke pintu dan kemudian ke stasiun bus.

“Ya?” Naeul berhenti dan berjalan ke arah orang tuanya, memberikan mereka masing-masing pelukan, berpikir bahwa ini adalah alasan mengapa mereka menghentikannya. Namun melihat bagaimana orang tuanya menyuruhnya untuk duduk, jelas bukan itu.

“Naeul-ya, kau memiliki sekitar 3 minggu lagi sampai liburan musim semi tiba, kan?” Ibunya bertanya sambil meletakkan kotak makan di atas meja.

“Iya. Aku berpikir sekolah mungkin akan memperpanjang liburan sampai setelah peringataan Hari Kemerdekaan. Kenapa?” Tanyanya bingung saat ia menatap orang tuanya.

“Kami memenangkan perjalanan ke Spanyol dan kami akan berangkat pada akhir minggu ini.” Ibunya menjelaskan saat ia melihat ke arah suaminya.

“Apa?! Tapi aku harus sekolah!” Naul cemberut dan berjalan sedikit memelas, merasa sangat gembira dan sedih pada waktu yang bersamaan.

Appa tahu. Appa akan berbicara dengan Bibi Jung dan mungkin dia bisa datang dan tinggal bersama denganmu jika kau takut sendirian.”Ayahnya yang berbicara berikutnya, menepuk putrinya di belakang punggung dan memberinya pelukan.

“Tidak apa-apa.” Naeul mendesah dan kemudian menjatuhkan diri di kursi. “Aku punya beberapa les setelah kelas. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Appa.” Naeul menoleh untuk melihat ayahnya. “Tapi Bibi hanya akan menggangguku saja.” Dia menggoda sambil menyeringai, meletakkan kepalanya di pundak sang ayah.

“Kita akan menemukan waktu dan pergi bersama-sama denganmu nanti. Siapa tahu kami akan memenangkan hadiah lagi? Kami akan senang untuk pergi bersama-sama suatu hari nanti, tapi Eomma yakin kau mengerti jika akan sangat sayang menyia-nyiakan tiket ini.” Ibunya menangkup wajahnya dan mencium dahinya.

“Tidak adil.” Naul cemberut lagi dan kemudian bangun, mengambil kotak makan siangnya dan membiarkan satu helaan napas keluar.

“Maafkan aku, Sayang.” Ibunya mencoba menciumnya lagi.

“Baiklah baiklah… aku mengerti. Jadi Appa dan Eommaakan meninggalkanku… 2 hari lagi?”Serunya.

“Kami akan berangkat Sabtu pagi.” Ibunya berbicara lebih keras saat Naeul semakin dekat ke pintu dan siap untuk pergi.

Naeul hanya bisa menghela napas. Dia mencintai orang tuanya dan ia tahu mereka layak mendapatkan waktu off tapi begitu juga dia.

Dia telah pergi ke sekolah tingkat primer dan sekunder di Inggris sehingga ia telah lebih dari terkejut ketika ia masuk sekolah di Korea Selatan dan kelasnya berlangsung selama 12 jam total, dari Senin sampai Sabtu.

Pada tahun pertama, Naeul bahkan harus mengambil kelas tambahan setelah pelajaran usai sehingga dia bisa sampai ke tingkat yang sama seperti siswa yang lain. Dia hampir tidak tidur di malam hari selama tahun pertama itu. Hanya belajar dan belajar. Pada tahun kedua, untungnya, orang tuanya telah menyebutkan bahwa dia hanya harus melewati tes dan itu akan lebih dari cukup, membiarkan dia tahu urutan peringkatnya dan kendati bahwa dia mendapatkan peringkat yang bagus membuat orang tuanya lega.

Tahun lalu SMA sangat berantakan. Semua orang tampaknya sangat peduli tentang ujian SAT sialan itu, seolah-olah hal itu akan mendikte kehidupan mereka selanjutnya dan tampaknya banyak orang yang percaya akan hal itu.

Naeul telah merenungkan dan berbicara dengan orang tuanya bahwa dia lebih suka memilih belajar kembali di Inggris. Jika sekolah SMA di Korea Selatan berlangsung selama 12 jam, maka ia takut untuk kuliah di sini juga karena mungkin dapat mengubah dirinya menjadi zombie.

Dia punya masih kerabat di Inggris dan ia tahu ia akan lebih menarik jika belajar di sana.

-oOo-

.

.

Hari ini menjadi lebih buruk ketika sebelum pelajaran terakhir, Guru Han memutuskan untuk memberi mereka tes. Naeul tidak menyukai soal tes tapi setidaknya dia cukup pandai untuk mendapatkan nilai minimum 75.

“Kau tampak berantakan.” Salah satu teman-temannya bercanda saat mereka bergerak keluar dari halaman sekolah.

“Aku merasa mabuk. Aku terjebak di sekolah sedangkan orang tuaku akan liburan ke Spanyol.” Naeul cemberut lagi, menutup kerah mantel sekolahnya sedikit karena hari itu juga agak dingin.

Hal lain yang dia benci tapi tidak berani menyebutkan adalah fakta bahwa dia harus memakai rok terlepas dari musim seperti ini. Satu-satunya pilihan adalah menggunakan rok bersama-sama dengan celana training  yang akan tampak aneh seperti neraka.  Setidaknya mantel dan celana training itu cukup hangat dan cukup untuk tidak membuatnya membeku.

“Apa kesepakatan dengan pria kemarin?” Tanya temannya yang lain yang memiliki rambut cepak.

“Ya… yang kami lihat kau hanya mengajaknya dia pergi.” Yang lain ikut bergumam saat mereka berjalan menuju halte.

“Apakah kau kenal dengan lelaki yang tadi malam?”

Pertanyaanpun datang satu demi satu. Mengatakan bahwa lelaki kemarin bukan orang yang dia kenal dan beberapa kali menggeleng dan menganggukkan kepalanya, sebagian jawabannya adalah bohong.

Naeul tidak tahu siapa namanya, pekerjaannya atau apapun tentang lelaki itu, tapi entah mengapa Naeul menganggap bahwa lelaki itu adalah orang yang sama yang berada di berita tadi malam.

Teman-temannya naik bus lebih dulu karena mereka menuju arah yang berbeda. Setidaknya hal yang sangat mengagumkan tentang sekolah di Korea Selatan adalah sistem transportasinya. Di sekitar sekolah itu tenang, damai, banyak bus akan ke segala arah.

Naeul juga menyukai rumahnya. Dia tinggal di lingkungan yang damai, dengan dinding bata sekitarnya, lantai dasar dan lantai pertama dan cukup ruang bagi mereka untuk main-main ketika keponakan datang berkunjung.

Gadis itu hendak naik bus sendiri ketika dia melihat seseorang berjalan mendekat ke arahnya. Mengambil satu langkah mundur, Naeul bertanya-tanya apakah orang itu akan mengejarnya. Dan saat mata mereka bertemu dan orang itu mulai bergerak lebih cepat ke arahnya, Naeul secara naluriah bergerak menjauh dan sontak berlari.

Naeul mulai berlari, sesekali melirik belakang untuk melihat orang itu. Mungkin berbelok di salah satu sudut gang akan membantu jadi Naeul hanya memutuskan untuk bersembunyi di gang belakang toko.
Instingnya menyuruhnya berteriak namun saat ia ingin mengeluarkan suara, ucapannya tercekat, sesuatu membungkus lengannya , dan menarik pinggangnya, ranselnya jatuh ke samping saat ia berbalik dan secara cepat mulutnya telah dibekap.

“Ssstt…Aku tidak akan menyakitimu.” Suara itu berbisik sambil melirik ke samping.

Naeul hanya bisa bergumam karena tangan lelaki itu menekan erat-erat mulutnya. Dia tahu orang itu dan ia takut padanya.

“Aku serius.” Lelaki itu berbicara sambil menariknya sedikit lebih erat, berbisik ke telinganya. “Aku hanya datang untuk memberitahumu bahwa aku tidak melakukannya.” Dia melanjutkan. “Jika kau berjanji untuk tidak berteriak, aku akan…” ia berbicara dan kemudian perlahan-lahan menyingkirkan tangannya dari mulut si gadis, bahkan melepaskannya dari genggamannya.

Naeul jelas panik, potensi dibunuh tepat berada di depannya. Tubuhnya ditekan di dinding, sontak Naeul mengambil ranselnya dan menempatkannya di depan dada seolah hanya itu hal yang dia bisa gunakan untuk melindungi diri.

“Aku serius. Kau mungkin mendengar berita itu… itu bukan aku.” Dia berbicara sambil mengangkat tangannya di udara, bergerak sedikit menjauh untuk menunjukkan bahwa leleki itu tidak berniat menyakitinya.

Dia bahkan membuka jaketnya untuk menunjukkan tidak membawa pistol atau apa pun yang berbahaya. Naeul diam memperhatikan, tubuhnya perlahan tak lagi gemetar setelah melihat lelaki itu tidak membawa apa-apa. Dia tahu, bodoh untuk hanya berasumsi bahwa lelaki itu tidak lagi berbahaya— tetapi jika ia akan dibunuh, ia harus berjuang kendati dia memang memiliki sabuk hitam taekwondo. Setidaknya Naeul bisa melakukan perlawanan jika diperlukan.

“Dan kau datang jauh-jauh ke sini hanya untuk mengatakan itu?” Tanyanya sambil memperhatikanlelaki itu dari kepala sampai kaki.

“Polisi meminta informasi, pada siapa saja, yang mengetahui tentang kejadian kemarin. Itu bukan aku… Tapi jika kau didatangi mereka dan memberitahu jika itu aku…”dia berbicara sambil berjalan mendekati Naeul.

“Jadi benar kau ada di sana!” Seru Naeul sambil menunjuk ke arahnya.

“Itu aku tapi …”

Dia mendesah dan kemudian mengacak-acak rambutnya, memutuskan untuk hanya menenangkan dirinya dan duduk di salah satu batu bata semen dari ambang pintu masuk toko yang kosong.

“Jadi kau ada di sana, punya pistol, kau terluka, aku mengobatimu, tapi kau mengatakan tidak membunuhnya?” Tanya Naeul sambil melotot ke arahnya, masih tidak percaya.

“Dengar … Aku hanya ingin memberitahumu itu bukan aku dan memintamu untuk tidak memberitahu apa-apa pada polisi. Kau tidak perlu tahu apa-apa lagi.”Dia berbicara sambil melirik ke arah Naeul sebelum mendesah.

“Dan mengapa saya harus percaya itu, Tuan?” Tanya Naeul sambil bergerak ke samping, berencana untuk menghindarinya dan bergerak menuju pintu keluar lain dari gang.

“Yah … aku disini dengan hormat memintamu dengan sopan dan setidaknya– aku tak sampai menempatkan pistol ke kepalamu.” Dia tersenyum kecil saat ia mengangkat bahu dan memandang ke arah Naeul.

Naeul segera menelan ludahnya, melirik ke arah kanan dan memutuskan untuk segera berlari jika lelaki ini membuat satu gerakan tiba-tiba. Dengan cepat Naeul bergerak mundur, namun sialnya pada langkah kedua dia menabrak sebuah meja kayu tua hingga ia terjatuh dan lututnya berdarah.

“Akhh…”

“Ingin minum Soju lagi?” Ucap si lelaki sambil membantunya berdiri.
“Tidak…” gumam Naeul, namun tak menolak bantuan si lelaki. Tangan lelaki itu bahkan secara alami bergerak di belakang punggung Naeul dan turun ke pinggulnya, sementara Naeul memegang dinding dengan tangannya yang lain.

“Kita harus mengobati ini …” ujarnya.

“Kita akan ke mana?” Naeul bertanya saat mereka sampai di jalan raya.
“Rumah Sakit, jika kau percaya padaku. Atau rumahmu jika aku hanya memiliki sedikit kepercayaan padaku.” Dia berbicara sambil membantu Naeul masuk ke dalam mobil.

“Rumahmu…” ujar Naeul. “Tapi bukan karena aku percaya padamu, ajhussi.” Dia menambahkan cepat, menunggu si lelaki untuk pindah ke sisi lain dan masuk ke dalam mobil.

“Lalu kenapa?” Tanyanya sambil masuk ke dalam juga, menekan tombol untuk menghidupkan mesin.

“Rumah Sakit terlalu banyak mengajukan pertanyaan. Begitu pula jika kita pergi ke rumahku. Jujur ajhussi, aku tidak percaya padamu, tetapi aku juga akan merasa sulit jika harus menjelaskan kepada orang tuaku bagaimana aku mengenal seorang pria yang lebih tua dariku dan bagaimana lututku terluka saat sampai di rumah nanti.”ujar Naeul cepat.

“Dan bagaimana kau akan menjelaskannya setelah ikut denganku?” Tanyanya sambil mulai mengemudi menuju rumahnya.

“Aku akan bilang jika tadi aku kehilangan keseimbangan dan jatuh dari tangga.” Naeul menjawab, tangannya memegang erat ke sabuk pengaman karena dia tidak bisa menyingkirkan perasaan gelisahnya.

Naeul terus melirik ke luar jendela, mencoba untuk mencari tahu kemana mereka akan pergi. Mungkin dia bodoh untuk masuk ke dalam mobil dengan seorang yang diduga pembunuh tapi Naeul bersedia mengadakan pengecualian karena lelaki ini memang tidak mengeluarkan pistol sedari tadi.

Lelaki itu terus melirik ke arahnya juga, bertanya-tanya bagaimana dirinya bisa berada dalam situasi seperti ini. Lelaki itu berpikir hanya akan berbicara dengan Naeul secara singkat dan tegas, tetapi khawatir jika akan membuat Naeul lebih takut.
Berpikir tentang hal itu lagi, gadis itu cukup tenang untuk anak seusianya yang seharusnya lebih bersikap dramatis dan hiperaktif. Gadis itu jelas tidak terlalu ketakutan , namun juga tak terlalu santai. Tangannya sedikit gemetar saat memegang erat sabuk pengaman.
Dan mereka tiba di rumah lelaki itu… seperti versi motel rumah pada umumnya. Sebuah lingkungan kecil, banyak tangga dan beberapa retakan pada tembok bangunan.
“Kau cukup berani.” Ujar si lelaki saat ia membantunya duduk di sofa ruang tamu.

“Aku tidak yakin tentang itu.”

“Dengar …” ia duduk di depannya, tangannya bergerak lebih dekat dengan Naeul untuk menyentuh lututnya dan memeriksa luka. “Aku akan memberitahumu namaku. Aku tidak akan melakukan itu jika aku memang penjahatnya, kan?”Tanyanya sambil memandang ke arah Naeul.
“Kurasa begitu. Ajhussi juga sudah tahu namaku.”
“Namaku Kyuhyun. Cho Kyuhyun.” Ujarnya sambil memandang lutut dan kemudian mengelapkan handuk untuk membersihkan darah.

“Kyuhyun. Baiklah.” Naeul mengangguk. “Akh—“ Pekiknya saat Kyuhyun menekan luka lututnya dengan sedikit kencang.

“Aku tak sengaja.” Ujar Kyuhyun santai.
Diam-diam dia tersenyum. Kyuhyun bisa saja menodongkan pistol, membunuhnya dan kemudian membuangnya hingga tidak ada yang akan tahu karena gadis ini telah setuju untuk mampir ke rumahnya. Tapi dia tak melakukan itu.
“Kau tahu aku tidak tahu cara memakaikan benda ini.” Dia berbicara sambil menunjuk ke arah perban. “Jatuh dari tangga… ingat?” Kyuhyun benar-benar tertawa sedikit saat melihat wajah bingung Naeul.

“Benar.” Naeul mengangguk setuju dan kemudian ditempatkan perban di atas meja.
Naeul tahu dia hanya dibutuhkan untuk mendapatkan kepercayaannya. Dia terus menatap Kyuhyun, bertanya-tanya mengapa orang setampan dia ssampai diduga untuk membunuh seseorang.

“Kau tidak akan membunuhku … ‘kan?” Tanyanya Naeul pelan. “Ini akan lebih mudah untuk membunuhku ketika petang saat aku berjalan pulang.” Racau Naeul lagi, dia melihat bagaimana Kyuhyun tersenyum atas ucapannya barusan.
“Aku tidak pernah merencanakan untuk membunuhmu.”
“Jadi apa yang terjadi?” Tanya Naeulsambil meletakkan tangannya di permukaan sofa.
“Bukan apa-apa yang harus anak-anak sepertimu ketahui.” Kyuhyun bangkit dan kemudian berjalan ke meja, melempar handuk ke dalam wastafel dapur dan kemudian menekan keran untuk mencuci tangan.

“Saya pikir saya punya hak untuk tahu… Ahjusshi …” Naeul kembali memanggilnya ‘paman’ karena Kyuhyun barusaja menyebutnya ‘anak-anak’. “Karena kau mengejarku setelah sekolah dan bahkan melukaiku.” Sambung Naeul kemudian mencoba bangkit dari sofa, merasa sulit untuk berjalan.

“Jika aku memberitahumu apa yang sebenarnya terjadi … Kau akan mendapatkan lebih dari cedera lutut.” Kyuhyun berbicara ketika mata mereka bertemu. “Kau akan lebih baik jika tak mengetahui ini lebih dalam.” Tambahnya dengan desahan kecil.

Kyuhyun memiliki beberapa catatan kriminal, seorang pria menjijikkan mencoba untuk memerasnya dan risiko mendapatkan musuh adalah kehidupannya. Kyuhyun tidak ingin menambah daftar seorang gadis SMA diperkosa atau dibunuh karena mengetahui sesuatu yang tak seharusnya ia ketahui.

Semakin sedikit ia tahu, lebih aman. Dan Kyuhyun akan bertanggung jawab bahkan hanya untuk memperingatkan gadis ini karena dia tahu dia mampu untuk melindungi mereka berdua.

.

.

To be continued…

Author Note:

Halo ini Chapter pertama dari FF DILY yang Sine terjemahkan yaa..^^ happy reading dan jangan lupa tinggalkan komen atau like setelah membaca. Karena review kalian menentukan apakah FF ini akan dilanjut dalam waktu dekat atau lama. Dan apakah FF ini dilanjut sampai akhir atau hanya di Chapter 1 ini saja. Thanks.

-Keiko Sine https://thekeikosine.wordpress.com

 

Iklan

4 thoughts on “FF Terjemah – Danger In Loving You #1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s