LOUDER [Chapter 13]

louder

KEIKO SINE presents Louder

(Another Story of Shame [Ficlet Series])
School life, Sad-Romance, Bully ||

PG-17+!!

Kim Jong In (EXO)

Ahn Jisoo (OC), Kim Myungsoo (Infinite)

Others.

Cr. Poster by @LUXIE

COPYING AND PLAGIARIZING THIS STORY ARE FORBIDDEN!

“—karena ketika semua orang memandang sinis ke arahnya, hanya Myungsoo yang menawarinya tatapan hangat, juga senyum semanis dan selembut permen kapas di musim semi.“

***

Suara bell terakhir berbunyi dan sontak para siswa memutuskan untuk memasukkan kembali barang-barang ke dalam tas. Beberapa berbisik dan tersenyum pada teman sebelahnya, begitu pula dengn Jisoo. Mengingat keadaan dimana Myungsoo sudah mau kembali ‘menerimanya’ membuat perasaan Jisoo membaik.

Ia sempat memikirkan berbagai kemungkinan konyol bahwa Myungsoo benar-benar membencinya dan menghindarinya. Pemikiran seperti ia takkan lagi melihat senyum hangat dari lelaki ini, takkan lagi ada hari dimana ia merasa begitu ‘berarti’ bagi seseorang, dan sebagainya. Karena kalau boleh jujur, Myungsoolah orang pertama yang membuat Jisoo merasa begitu dibutuhkan.

Karena ketika semua orang memandang sinis ke arahnya, hanya Myungsoo yang menawarinya tatapan hangat, juga senyum semanis dan selembut permen kapas di musim semi.

Myungsoo melirik ke arah Jisoo setelah memasukkan semua bukunya ke dalam tas, “Kau pulang sendiri hari ini?”

“Hm.” Angguk Jisoo mantap.

“Bagaimana kalau… kau ikut denganku? Aku—“ Myungsoo menatap ke arah jendela di luar, “Aku hanya takut kalau sebentar lagi turun hujan dan kau akan berakhir berdiri sendirian di halte bus.” Ucapnya dengan cepat, seolah kalimat tersebut telah sengaja ia hapalkan sebelumnya, “Kau tahu… aku hanya takut jika anak-anak berandalan itu akan mengganggumu lagi.”

Jisoo berkedip dua kali sebelum melemparkan senyum, “Aigoo… aku tahu kalau kau mengkhawatirkanku.” Ucapnya sambil memperhatikan telinga Myungsoo yang memerah karena malu.

“Huh, percaya diri sekali kau,” Ujarnya kalap, “ Tapi— gurae, aku akan berbaik hati dan akan mengantarkanmu lagi hari ini.”

Gadis itu tersenyum menang, “Baiklah.” Ujarnya sambil memimpin jalan di depan.

Melewati koridor kelas dan berjalan beriringan. Sedikit tersirat kelegaan di wajah Myungsoo tatkala tak lagi ada tatapan merendahkan saat ia bersama dengan Jisoo. Well, thanks to Kim Kai for this. Tapi— mengapa sangat sulit bagi Myungsoo untuk menerima hubungan Jisoo dengan lelaki itu?

Benarkah jika Myungsoo sedang ‘cemburu?’

Apakah itu cinta?

Myungsoo pasti merasa ada sesuatu yang sedikit kurang. Ia sedikit pemalu akan cinta. Apakah dia pernah mengatakan ‘aku mencintaimu?’ Apakah gadis itu membalas senyuman yang Myungsoo tujukan padanya?

Dan mengingat keadaan saat ini— sepertinya Myungsoo benar-benar telah dikalahkan oleh lelaki bernama Kim Kai.

Karena Myungsoo tak seberani lelaki itu untuk mengungkapkan perasaannya sendiri pada gadis yang ia sayangi.

“Tunggu aku di depan gerbang, aku akan mengambil mobilku di parkiran dulu, mengerti?”

“Baiklah.” Jisoo membuat tanda ‘Ok’ dengan jarinya.

Akhirnya Jisoo berjalan menjauh, ia berdiri tepat di depan pos satpam, menunggu Myungsoo karena lelaki itu bilang akan mengantarkan Jisoo pulang.

Jisoo sempat mengedarkan pandangannya sebelum menangkap sesuatu yang menurutnya familiar. Tinggi badan orang itu, gaya rambutnya, dan caranya mengibaskan tangan di udara— dia pasti Kai.

“Kai-ya?” tanya Jisoo pelan pada dirinya sendiri. Masih menebak-nebak bahwa lelaki yang kini sedang berbicara serius dengan seorang gadis di ujung sana benar-benar kekasihnya.

Tak lama kemudian lelaki itu berbalik, wajah kesalnya benar-benar membuat Jisoo terbelak, benar, itu Kai.

Kai menghembuskan napasnya kasar lalu berjalan menjauh dari gadis yang matanya terlihat berkaca-kaca karena menahan tangis. Gadis itu berteriak, berkali-kali menyebut nama Kai dengan nada frustasi, dan berakhir mengejar Kai dan memeluk lelaki itu dari belakang dengan erat.

Jisoo rasa napasnya sudah benar-benar menguap entah kemana saat menyaksikan pemandangan tersebut.

“Jangan pergi!” teriak gadis itu lagi dengan suara seraknya yang teredam punggung Kai, sedangkan Kai hanya memutar bola matanya tak tertarik.

Kemudian Kai membalikkan tubuhnya, mencoba untuk mengenyahkan tangan si gadis dari tubuhnya. “Bukankah aku sudah bilang jika aku tak mau melanjutkan perjodohan ini lagi? Yoon Jira— kau benar-benar membuatku frustasi.”

“Tapi—

“Apa lagi? Aku sama sekali tak takut dengan ucapanmu yang mengatasnamakan ayahku.” Ujar Kai semanik dingin dari nada suaranya, “Jadi selagi aku masih berbaik hati, pergilah dalam diam dan jangan ganggu aku lagi.”

Jisoo mendengar semuanya, apa ini? Perjodohan? Bahkan Jisoo sama sekali tidak mengetahui tentang perjodohan Kai dengan gadis asing itu.

Apakah salah jika kini Jisoo merasa sangat tak berguna? Ia tak tahu apapun tentang kekasihnya. Bagaimana dirinya bisa disebut dengan’ kekasih’, yang nyatanya Jisoo tak tahu sedikit ataupun berbagai hal yang menyangkut Kai.

Dengan keberanian yang telah ia kumpulkan, akhirnya Jisoo berjalan mendekat ke arah keduanya. “Kai?” ujarnya lirih.

Dan sontak Kai membalikkan tubuhnya, darahnya terasa mengalir lebih cepat saat mendengar suara itu. Tidak. Ini bukan saat yang pas untuk Jisoo datang menemuinya. “J-Jisoo?”

“Kai, siapa itu?” tanya Jisoo, ia melihat gadis yang berada di belakang tubuh Kai.

“Bukan siapa-siapa, hei— kau belum pulang?”

Sial, sial, sial! Rutuk Kai dalam hati.

“Kau yang siapa, sialan! Berani-beraninya mengganggu percakapan kami.” Ujar Jira dengan pandangan nyalang, ia menghapus air mata di wajahnya dengan cepat.

Jisoo mendelik. Menatap ke arah Kai dan Jira bergantian.

Kasar sekali gadis ini.

“Aku adalah tunangan Kai, asal kau tahu!”

Kai mendelik. “Tidak!” selanya cepat. Ia menatap tajam ke arah Jira. “sudah ku katakan aku tak lagi ada urusan denganmu. Pergilah.” Kai menyambar lengan Jisoo, menariknya ke trotoar jalan.

Remasan tangan Kai di lengannya sangat kuat hingga sedikit terasa perih, dan Jisoo yakin tak lama tanda kemerahan akan tercetak jelas di sana. “Kai, lepaskan aku.”

“Kau dengar pembicaraanku tadi?” tanya Kai to the point.

Jisoo mengangguk cepat.

“Sejak kapan?”

Jisoo meletakkan tangan di dagu, sedikit mengingat-ingat, “Sejak… sejak dia memelukmu.” Ucapnya polos.

“Haiishh… seharusnya kau datang lebih awal, jadi aku bisa lebih cepat mengusirnya.”

“Gadis itu… benar-benar tunanganmu?” tanya Jisoo pelan, ia merasa sesuatu sedikit merenguh hatinya saat mengucapkan kalimat tersebut.

“Tidak.”

“Yang benar?”

“Tidak. Sudah ku katakan dari tadi.”

Merasa bahwa kai sedang tidak dalam mode terbaiknya membuat Jisoo mengurungkan niat untuk menggoda lelaki ini. Yang bisa ia malah kenah amukan Kai. “Baiklah.” Ucapnya pasrah.

#Brrrmmm

#BLAM

Myungsoo keluar dari mobilnya lalu menghampiri Jisoo. “Ayo pulang.” Ucap Myungsoo pada Jisoo. Meskipun Kai juga berada di sana, Myungsoo tak sedetikpun melirik ke arahnya.

“Ah, Myungsoo… ya. Aku pulang dulu, Kai.” Ucap Jisoo pada Kai.

“Eitss… tunggu.” Myungsoo menahan lengan Jisoo saat gadis itu hendak berlalu di hadapannya. “Apa yang terjadi dengan lenganmu?” tanya Myungsoo penuh selidik, dan untuk kali pertamanya Myungsoo melirik ke arah Kai. “Tidak ada seseorang yang mengganggumu lagi, ‘kan?” tanya Myungsoo berusaha menyindir.

“Tidak.” Jawab Jisoo polos, masih belum mengerti kemana arah pertanyaan Myungsoo.

“Benarkah?” Myungsoo mengambil langkah ke depan, bergerak mendekati tempat Kai berdiri, “Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan, bung? Ekspresimu kelihatan terganggu.”

Kai menyeringai samar, “Minggir.” Ujarnya penuh penekanan.

Suasana ini membuat Jisoo tersadar, jadi ia berjalan mendekat. “T-tidak… Myungsoo-ya, Kai tidak menggangguku. Jadi kita pulang saja. He he he.” Ia tertawa canggung setelahnya.

Kai masih menatap Myungsoo tajam, lalu kembali berujar. “Ingat siapa kekasih gadis yang akan pulang bersamamu saat ini. Bersyukurlah aku tak merengek dan mengancam Jisoo seperti apa yang telah kau lakukan padanya, karena dia memutuskan untuk menjadi kekasihku, hm?”

Jisoo mendesah dari tempatnya.

Oh tidak. Ini buruk.

Gadis itu memicingkan mata, mendelik ke arah Kai seolah mengatakan, ‘mengapa kau mengatakan itu padanya?’ Sedangkan Kai malah tersenyum penuh kemenangan ketika melihat Myungsoo tak lagi melakukan perlawanan.

“B-baiklah… ku rasa sudah cukup untuk hari ini. Myungsoo, ayo pulang. Hehe… annyeong Kai.” Jisoo menarik Myungsoo dengan cepat untuk masuk ke dalam mobil. Takut jika berlama-lama di sana ia akan menjadi seorang wasit untuk pertarungan kedua lelaki tampan itu.

Annyeong chagi… I love you~” ucapnya manja sambil membuat tanda hati dengan kedua tangannya. Kai berbalik saat melihat mobil yang ditumpangi Jisoo dan Myungsoo telah pergi menjauh.

.

.

***

Ruang keluarga yang super besar dan megah itu malah terasa dingin bagi siapapun yang berada di sana. Bukan karena mesin penghangat yang tak lagi berfungsi, bukan. Melainkan atmosfer menggila yang dikeluarkan masing-masing individu.

Nyonya Kim sedang mengaduk cangkir berisi teh hijau China yang ia dapat dari rekan kerjanya. Sedangkan Tuan Kim tengah membaca koran terbitan hari ini dengan sebuah kaca mata hitam bertengger di hidungnya.

Kai bergerak gelisah dari tempat ia duduk. Sepuluh menit berlalu sejak asisten rumah tangganya mengatakan bahwa sang ayah memanggil untuk mengatakan sesuatu, tapi hingga kini— sepatah katapun tak keluar dari bibir pria paruh baya tersebut.

Aboeji, memanggilku?” tanya Kai ragu-ragu.

“Hmm.” Jawab Tuan Kim dengan sebuah gumaman.

“Ada hal apa?”

Tuan Kim melipat koran, lalu meletakkannya di atas meja. “Tuan Yoon baru saja memberi tahuku tentang putrinya. Jira mengatakan bahwa ia masih ingin melanjutkan rencana perjodohan kemarin.”

Sontak Nyonya Kim mendelik saat mendengar kalimat tersebut. Untuk apa lagi membahas perjodohan itu?

“Appa—“ Kai sontak memprotes meskipun ia belum mendengar kalimat ayahnya hingga akhir.

“Dengarkan aku duku, anak nakal…” Tuan Kim mendesah disela tarikan napasnya, “Aku tentu takkan membuat keputusan yang akan membuat anakku pergi dari rumah lagi.” Ujarnya sambil menatap Kai dengan lekat, “Cukup malam itu kau kabur dari rumah lalu mengalami kecelakaan. Kau pikir ayah seperti apa aku ini, hm?”

Kai tersenyum saat mendengar kalimat tersebut dari bibir ayahnya. Bukankah ini adalah hal yang ia nantikan selama masa remajanya? Sebuah kekhawatiran dari sosok ayah yang ia banggakan.

“Jadi beri tahu aku alasan seperti apa yang harus ku katakan kepada Tuan Yoon? Hal ini membuatku gila, jujur saja.”

Kai masih tersenyum layaknya orang bodoh sebelum menjawab, “Katakan jika aku sudah mempunyai pendamping.”

“Kau— apa?”

“Hm.” Senyum Kai semakin mengembang, “Aku— sudah mempunyai kekasih, aboeji.

“Benarkah?” kini Nyonya Kim yang bertanya.

“Iya eomma.”

Aigoo… dasar anak nakal. Kenapa kau tidak bercerita sama sekali kepada eomma, huh?”
Kai mengambil tempat duduk di ssebelah Ibunya, memeluk manja, “Aku berpikir jika eomma sangat sibuk akhir-akhir ini. Jadi aku merasa belum ada waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini.”

“Jadi— sekarang dimana gadismu itu?” sela Tuan Kim dengan masih mempertahankan wajah tegasnya.

Kai sontak berdiri, “Aku akan kembali saat berhasil membujuknya untuk datang.” Ujarnya lalu berjalan pergi.

“Apa maksudnya?” tanya Nyonya Kim tak paham.

Tuan Kim kembali mengambil koran di depannya, “Maksudnya, anak nakal itu akan kabur lagi untuk membawa gadisnya kemari.”

..

..

..

Jisoo berjalan menuju pintu saat mendengar bell apartmentnya berbunyi tiga kali. Dia memutar kenop lalu menarik pintu, dan betapa terkejutnya Jisoo tatkala yang berada di hadapannya saat ini adalah sang kekasih.

“Kai?” tanya Jisoo tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

Surprise…” ujarnya senang lalu melenggang masuk bahkan sebelum si pemilik apartment mempersilahkan.

“Kai, apa yang membawamu kemari?” tanya Jisoo sambil mengekori Kai menuju sofa. Lelaki itu mendudukkan dirinya dengan nyaman lalu menyambar keripik kentang yang berada di atas nakas.

“Aku? Haha… aku akan menculikmu.” Ujarnya.

“Tapi kau tidak terlihat seperti akan menculikku.”

“Tentu saja. Aku akan menculikmu besok pagi.”

“Besok pagi? Tapi kenapa kau sudah berada di sini?” Jisoo benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Kai.

“Haiish… jangan banyak bertanya. Kau lihat episode Attack on The Titan yang terbaru?” ujarnya sambil memindah-mindah channel TV. “Aku tak percaya jika Mikasa menjalin hubungan dengan atasannya sendiri. Aku penasaran bagaimana perasaan Eren.”

Sontak Jisoo tersenyum mendengar penuturan Kai tentang anime kesukaannya itu.

“Kai?”

“Hm?”

“Kau suka anime?”

“Iya.”

Jisoo menarik napas sebelum kembali bertanya, “Lalu apa lagi yang kau suka?” dan tak sadar Jisoo juga mulai ikut menyimak episode Attack on The Titan yang sedang tayang di saluran Channel TV Jepang.

Kai menoleh saat mendengar nada bicara Jisoo yang terkesan serius. “Aku— suka…

“M-maksudku, aku merasa sangat malu dan— entahlah… mengingat aku sama sekali tak tahu tentang dirimu. Hubungan ini terasa sangat tiba-tiba, kau tahu?”

Menatap wajah kekasihnya dengan pandangan hangat, Kai berkata, “Baiklah… dari mana aku harus memulai? Oh, ya. Aku sangat menyukai anjing, bahkan aku mempunyai tiga, Monggu, Janggu, dan Janggah. Aku menyukai ayam goreng, bahkan teman-temanku menyebutku sebagai ‘chicken mania’. Dan— kau pasti akan kaget jika mendengar yang satu ini, aku pernah belajar menari balet.” Ucap Kai dengan sedikit memelankan suaranya pada kalimat akhir.

Dan hal tersebut tentu membuat Jisoo membelak tak percaya, “Ap-apa? Balet? Hahaha.”

“Hm… tapi itu dulu. Kai yang sekarang adalah aku yang sekarang.” Ujarnya sambil mengelus rambut panjang Jisoo yang tergerai. Ia mendesah pelan, “Kau akan lebih mengenalku bersamaan dengan berjalannya waktu, Jisoo.”

“Tapi tetap saja… apakah aku harus bertanya kepada Tao tentang dirimu?”

“Tao? Haishh… anak panda itu pasti akan lebih banyak menggodamu dari pada memberimu informasi, percayalah padaku.”

Jisoo tertawa lagi, menampilkan deretan giginya saat mendengarkan gerutuan Kai tentang Tao.

“Apakah hanya perasaanku saja atau kau memang lebih ceria hari ini, hm?” tanya Kai. Dia menarik Jisoo dalam pelukannya.

Menyesap aroma maskulin kekasihnya, Jisoo masih tersenyum sebelum menjawab, “Ya. Aku sangat senang hari ini.”

“Karena apa?”

“Karena banyak hal, salah satunya karena kau, dan yang lainnya karena setelah ujian kenaikan kelas nanti, orang tuaku akan pulang ke Seoul untuk menghabiskan liburan.”

“Orang tuamu pulang dari Jejju? Hm… bagaimana kalau kita menjemput mereka di bandara nanti?”

Sontak Jisoo memundurkan tubuhnya, menatap Kai heran, “Ide bagus, tapi—Bagaimana kau tahu?”

Kai tersenyum bangga, “Tentu saja. Aku tahu semua tentang dirimu, aku ini Kim Kai, ingat?” ujarnya kembali menyombongkan diri.

Dan tak terasa Jisoo kembali pada mode sendunya, “Lihat? Ini tidak adil ketika kau tahu segala tentangku, tapi aku tak tahu apa-apa tentangmu.”

Aigoo… sudahlah.” Kai kembali menarik tubuh Jisoo untuk memeluknya erat. Kecupan bertubi-tubi Kai hadiahkan di puncak kepala Jisoo. Dan yang terakhir Kai menarik dagu Jisoo, membuatnya mendongak lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir ranum Jisoo yang kini telah menjadi sebuah candu untuknya.

Di malam yang dingin, angin menampar-nampar jendela apartment dengan suara yang khas. Sedangkan sepasang individu saling memadu kasih dengan cara mereka untuk saling menghangatkan diri.

Kai lebih memberanikan diri, dia melumat bibir atas dan bawah Jisoo bergantian, mengecup dan mengulumnya dengan gerakan sensual. Suara kecipak dari mulut keduanya menjadi melodi tersendiri di ruangan yang hanya ada mereka berdua di situ. Sedangkan Jisoo kini mulai mengalungkan tangannya di leher sang kekasih. Beberapa kali meremas rambut Kai saat lelaki itu menggigit kuat bibir bawahnya.

Aahh…”

Desah Jisoo saat Kai menelusupkan lidahnya ke dalam mulutnya. Mengajaknya saling berperang lidah, dan tak jarang mengabsen deretan gigi Jisoo dan menjilat langit-langit mulutnya. Saliva keduanya bercampur, sebagian meleleh dari sudut bibir si gadis, namun keduanya masih tak ada niatan untuk mengakhiri kegiatan panas tersebut.

Dengan sebuah kecupan yang dalam, Kai memundurkan wajahnya untuk melihat bagaimana wajah sang kekasih yang telah memerah karena ciumannya. Dia tersenyum lalu berkata, “Aku akan menculikmu besok, tapi izinkan aku untuk menginap di sini malam ini.”

“Apa?”

Jisoo terlambat untuk menahan Kai. Hingga sekarang lelaki itu telah merebahkan tubuhnya di tempat tidur milik Jisoo. “Selamat malam chagi…” ucap Kai lalu dengan gelagat menutup mata.

“B-bagaimana bisa? Yak! Lalu aku tidur dimana?”

Kai membuka sebelah mata lalu menepuk tempat kosong di sebelahnya, “Di sini?” ujarnya dengan pandangan genit.

.

.

-TBC-

Author Note:

Skippp —

Hehe.. mereka cuma tidur bareng kok nggak lebih (kalo lebih ya rejeki mereka) loh?

Entahlah… kayaknya aku lagi kobam mau ngasih happy ending deh. J tunggu ajah next chap yak. Soalnya aku juga masih bingung gimana mau bikin Myungsoo buat nerima hubungan Jisoo-Kai gitu loh… hmm

Mind to review?

-KEIKO SINE https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

30 pemikiran pada “LOUDER [Chapter 13]

  1. baeksena

    Si Kai ternyata manis juga. Jadi iri ke Jisoo. Sebelum janur kuning melengkung si Kai tetep milik umum kan?(koment orang soplak ini kak,jangan di gubris,wkwkwk)

    Suka

  2. aisah1994

    Jiiaaahhh… Akhirnya pasangan ini ada lovey dovey jg… Bapaknya Kai ga kolot yh,,, si Kai dikasih kebebasan buat memilih pendamping hidupnya… Yeessß…. Happy ending deh

    Suka

  3. RisqiSanti

    wahhh akhirnya update 😂😂 dan gue penasaran kak emg mikasa jadian sm siapa? atasannya yg mana?? mas iya levi?? apa si om erwin?? :’v kudet lama ga nonton :’v #oot 😂😂

    Suka

  4. Qka

    Aku kok seneng ya, gimana gitu waktu appa nya kai nyebut kai dengan anak nakal.. Berasa mengandung rasa sayang yg besar banget.. Penasaran jisoo ketemu org tuanya kai jadinya.. Kai juga pengertian banget ya ternyata, dia ga secemburu yg aku kira kalo jisoo jalan sm myungsoo..sukaaaa.

    Suka

  5. Orange

    Jadi… Aku telat update ?? 😂😂
    Ooooh… 😔😔
    Yeaaay.. Mereka makin manis.
    Kakak myung sini sama adk aja sini. Daripada disia”in sama jisoo. Adk selo kok.
    Ini udah mau end ya kak? Huhuhu

    Suka

  6. Ping-balik: LOUDER [Chapter 14/END] – KEIKO SINE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s