LOUDER [Chapter 12]

louder

KEIKO SINE presents Louder

(Another Story of Shame [Ficlet Series])
School life, Sad-Romance, Bully || PG-17

Staring:

Kim Jong In (EXO)

Ahn Jisoo (OC), Kim Myungsoo (Infinite)

Others.

Cr. Poster by @LUXIE

COPYING AND PLAGIARIZING THIS STORY ARE FORBIDDEN

Aneh.

Seperti itulah pemikiran para siswa Sekang saat melihat pemandangan pagi ini. Mereka berbisik, beberapa gadis bahkan menjerit tertahan. Seorang lelaki yang mereka tahu sangat ‘membenci’ seorang gadis, kini malah berjalan beriringan satu sama lain.

“Katakan jika aku tidak bermimpi.”

“Obat macam apa yang telah ditelan Kim Kai pagi ini?”

Jujur saja jika Kai mendengar semua kalimat yang diutarakan padanya. Tapi ia hanya memasang wajah datar dan memutuskan untuk menutup mulut. Sedangkan Jisoo kini tengah memegangi tas sekolahnya dengan erat. Seolah takut jika ia merenggankan genggamannya maka keseimbangannya akan goyah.

Ini bukanlah gaya seorang Ahn Jisoo. Ia tak biasa dipandangi dan menjadi pusat perhatian seperti ini. Bukankah Jisoo yang biasanya adalah hantu sekolah? Mereka tak mau melirik ke arahnya, apa lagi sampai memperhatikannya sampai seperti ini.

“Kai-ah, sepertinya kita harus berpisah di sini.” Ujar Jisoo.

Kai sedikit menoleh, “Kenapa? Kelasmu masih dua lantai dari sini, ‘kan?”
“Maka dari itu… ku rasa aku akan jalan sendiri saja. Annyeong.”

Dan Jisoo langsung melarikan diri setelahnya. Tak pernah gadis itu bayangkan jika menjadi kekasih seorang Kim Kai akan se-merepotkan ini. Ia yakin bahwa dirinya akan menghadapi masalah yang lebih dari disiram air di toilet seperti beberapa hari lalu. Yang benar saja— penggemar Kai sangat banyak dan bertebaran di sekolah ini. Jisoo hanya bisa berharap jika setahun hingga kelulusannya bisa berjalan dengan cukup tenang.

Jisoo menaiki anak tangga yang pegangan besinya sangat dingin hingga menusuk kulit telapak. Dan ujung sepatunya berbunyi konstan dengan benturan lantai marmer. Ia berbelok pada koridor utama dan memasuki ruang kelas.

Ahh… dan benar saja. Keadaan di sini malah semakin parah.

Mereka semua memandang ke arah Jisoo dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Membuat Jisoo diam mematung di seberang pintu.

“Jisoo-ya,” sapa seorang gadis yang ia tahu bernama Bona.

“Hm?” tanya Jisoo.

Anii… aku hanya mau bilang maaf he he he…” ia tertawa canggung, “Tak ku sangka kau tadi berangkat bersama dengan Kai. Ehm— apa kau ada acara sepulang sekolah?”

“Se… sepulang seko—

“Kalau tidak mari keluar bersamaku. Mina dan Hyeri juga akan ikut.” Sambungnya. Dan tak lama dua orang gadis lain melambaikan tangan ke arah Jisoo.

Perlakuan macam apa ini? Mengapa tiba-tiba sekali?

“Ah… aku— entahlah.”

Secara tiba-tiba Bona menarik lengan Jisoo, membuatnya mendekat ke arah dua temannya yang lain. “Aku mewakiki teman-temanku meminta maaf karena sempat berbuat ‘kurang nyaman’ padamu, he he he… tapi— bagaimana kalau mulai sekarang kita berteman? Chingu?

 

Ch—chingu?” ucap Jisoo sedikit gagap. Oh, itu adalah kata paling tabu yang ada di kamus kehidupannya. Dia sama sekali tidak mempunyai teman selama bersekolah di sini… kecuali Myungsoo pastinya.

Tapi— untuk apa mereka tiba-tiba ingin berteman dengannya?

Jisoo sempat berpikir beberapa saat hingga— satu nama menjadi jawabannya, Kai?

Apakah karena Jisoo sekarang telah menjadi kekasih seorang Kim Kai maka orang-orang ini mulai bersikap baik dengannya? Yang benar saja.

“Maaf, tapi aku sibuk hari ini.” Ujar Jisoo sepelan mungkin menolak ajakan mereka. Dia berjalan menjauh, menuju kursinya.

Sesampainya di sana Jisoo menoleh ke arah samping, tepatnya di meja milik Myungsoo yang masih kosong. Dimana dia? Apakah lelaki itu masih marah dengan keputusanku? Tanya Jisoo dalam hati.

.

.

***

Ini buruk. Myungsoo benar-benar mengabaikannya.

Jisoo mencoba untuk memulai percakapan dengan lelaki itu selama pelajaran Mr. Jang, dan hasilnya ia harus terkena lemparan spidol karena dianggap terlalu berisik. Kini Jisoo tengah mengekori kemana Myungsoo pergi. Ia tak tahu kemana, karena lelaki ini tak mau menjawab satupun pertanyaannya.

“Myungsoo-ya… ada yang ingin ku bicarakan.”

Semakin lama Myungsoo semakin mempercepat langkah kakinya. Membuat kaki Jisoo yang kecil harus berlari untuk menyeimbangi langkah lebar lelaki itu.

“Pergilah.” Ucap Myungsoo dingin.

“Tidak. Kau harus mendengarkanku dulu.”

#Bugg!

Myungsoo menghentikan langkah kakinya mendadak hingga dahi Jisoo harus membentur punggungnya.

Merasa bahwa Myungsoo tak lagi menghindarinya membuat perasaan Jisoo sedikit lega. “Kau mendengarkanku? Myungsoo-ya?”

Myungsoo membalikkan badan, menatap lurus ke arah hazel mata Jisoo. “Ku rasa kau sudah tidak membutuhkanku. Pergilah.” Ucapnya dingin lalu kembali melangkah menjauh.

Bagaikan tertusuk jarum, Jisoo diam tak tahu harus menjawab seperti apa. Mengapa ia harus kehilangan seseorang yang peduli padanya hanya karena mendapatkan kekasih?

Jika tahu seperti ini— maka Jisoo akan berpikir dua kali sebelum menerima pernyataan dari Kai.

Gadis itu menatap nanar punggung Myungsoo yang kian menjauh. ‘Apa yang telah ku lakukan?’ Rasa bersalah memenuhi hati dan pikirannya. Seharusnya ia membalas semua perlakuan baik Myungsoo selama ini padanya, bukan malah membuatnya kecewa.

Tapi— tunggu dulu.

Mengapa dia harus kecewa?

Jika disimpulkan dari awal— karena Myungsoo tidak suka Kai yang mengganggunya, berubah menjadi tak suka karena Kai mendekatinya.

Apakah ‘cemburu’ adalah kata yang pas untuk menggambarkan keadaan Myungsoo saat ini? Jika iya, apa yang harus Jisoo lakukan?

Jisoo membalikkan badan, setidaknya jus apel akan membuat hatinya sedikit membaik. Maka ia berjalan gontai ke arah cafetaria. Ini adalah kali pertama sejak— entahlah… Jisoo tidak ingat kali terakhir ia menginjakkan kaki di cafetaria sekolah.

Namun entah mengapa ia lebih berani hari ini. Ia berjalan di koridor seorang diri dan tak ada makian ataupun cibiran mengiringi langkahnya adalah sesuatu yang baru.

Jisoo memesan satu jus apel, setelah itu ia mengambil tempat duduk di salah satu meja. Dia berkedip beberapa kali.

Tak ada cibiran?

Jisoo mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Bagus. Hari ini sungguh saat-saat yang ia nantikan sepanjang tahun. Hidup seperti pelajar lain pada umumnya.

Annyeong Jisoo-ssi.”

Sontak Jisoo menoleh saat mendengar seseorang memanggil, “Ne?” Oh tidak. Jisoo tahu siapa dua gadis di depannya ini.

“Ah— aku… aku sedikit bingung harus berkata seperti apa. Ugh

Ucapannya tercekat saat Sora, teman di sebelahnya menyikut pelan perutnya. “K-kami mau minta maaf Jisoo-ssi.” Ia melirik ke arah yang satunya, “Kami sangat sering mengerjaimu. J-jadi kami—

“K-kami mau minta maaf. Apa kau—

“Sudah cukup, pergilah.” Suara baritone pria tiba-tiba terdengar dan sontak ketiganya menoleh untuk mencari si sumber suara.

Nana dan Sora bergerak gelisah dan dengan cepat mereka berjalan menjauh dengan canggung.

Jisoo yang masih menebak-nebak apa yang terjadi hanya bisa memandang datar ke arah Kai. “A-apa yang mereka maksud?”

“Apanya?” Kai balik bertanya dan mengambil tempat duduk di seberang Jisoo.

“Mereka… meminta maaf padaku,” Jisoo menunjuk dirinya sendiri dengan ujung jari, “apakah kau yang menyuruh mereka?”

“Ya. Tapi— bukankah memang sudah waktunya mereka sadar?”

Jisoo berdiri saat seorang wanita di balik meja kasir memberi isyarat bahwa pesananya sudah siap. Dia berjalan mengambil jus apelnya lalu kembali duduk berhadapan dengan Kai lagi.

“Dan semua anak di sekolah ini? Apakah kau juga yang menyuruh mereka untuk tidak menggangguku?”

Kai mengendikkan bahunya, “Tidak.”

“Benarkah?”

“Hmm. Namun ku rasa mereka sudah tahu bagaimana harus bersikap kepada kekasih si Casanova tanpa harus diberi tahu.” Ujarnya membanggakan diri.

“Haishh…” Jisoo mendengus setelah meminum jus apelnya hingga setengah gelas.

“Kau tahu apa lagi yang lebih baik dari ini? Ayo ikuti aku.” Kai berdiri, ia melirik Jisoo kilas memberi isyarat untuk mengikutinya.

Jisoo berdiri, lalu berjalan dengan sedikit berlari untuk menyeimbangkan langkahnya dengan Kai. “Kemana?”

“Ke markasku.”

Gadis itu hampir tertawa saat mendengar kata ‘markas’ diucapkan oleh seseorang di lingkungan sekolah ini. Mana ada yang namanya markas sampai—

“Oh daebak.”

“Meet my friends.”

Jisoo membuka lebar matanya saat melihat ruang penyimpanan alat olah raga yang telah lama tak terpakai ini telah mereka sulap menjadi ruang yang hangat dan nyaman.

“Tao-ya… aku membawa kekasihku seperti janjiku kemarin, ‘kan?” teriak Kai seraya masuk ke dalam ruangan.

Dan orang yang dipanggil sontak menyembuklan kepalanya dari balik komik yang ia baca. “Woah… uri Jisoo di sini.” Ujarnya sambil berlari ke arah Jisoo.

Memang sejak dulu Taolah satu-satunya yang bisa bersikap lebih manusiawi kepada Jisoo. Karena dulu Kai masih pada mode ‘mencari perhatiannya’ yang salah, dan Sehun— oh jangan tanya tentang lelaki itu. Bukankah dia memang bersikap dingin kepada siapapun.

Tao merangkul pundak Jisoo, menyuruhnya masuk ke dalam dengan cara yang sangat manja. “Jisoo-ya, kau mau bobki?”

Bobki?” ulang Jisoo. Tao mengangguk dan tak lama Tao mengambil sebuah kotak yang di dalamnya penuh dengan permen gula tersebut.

“Aku dan Kris hyung yang membuatnya, cobalah.”

Tak ada penolakan dari Jisoo, dan entah mengapa segala bentuk kecurigaan negative terhadap orang-orang di sekitarnya juga semakin menurun. “Baiklah.” Ujarnya lalu mengambil satu.

Tao tersenyum saat mengetahui Jisoo menyukai makanannya. Dia menatap Jisoo dengan pandangan berbinar hingga tak disangka kaleng soda tiba-tiba mendarat di kepalanya. “Appo…” ujar Tao mengaduh sambil memegangi dahinya.

“Jangan terlalu lama memandangnya.” Geram Kai dari tempat duduknya. Kemudian ia berkata kepada Jisoo, “Apakah tak apa kalau kau pulang sendiri sore ini? Aku ada urusan mendadak.”

Sontak Jisoo menggelengkan kepalanya, “Tidak apa-apa. Aku sudah biasa pulang sendiri hehehe… gwenchana.”

Ucapan Jisoo membuat Kai bergerak mendekat, mengusap rambut panjangnya pelan lalu mendaratkan sebuah kecupan kilas di keningnya.

“Bagaimana kalau pulang bersamaku?” celetuk Tao.

“Tidak.” Sela Kai cepat. “Aku akan menghabisimu jika kau berani lebih dekat dengan milikku.”

Sedangkan Jisoo hanya bisa tersenyum mendengarkan percekcokan kecil mereka.

Terlepas dari perlakuan buruk yang diterimanya karena ‘alasan tertentu’ di sepanjang tahun ini, Jisoo yakin bahwa para lelaki ini memiliki pribadi yang baik. Dan itu bukan sebuah kenaifan.

 

.

.

***

Hujan di hari pertama musim gugur? Yang benar saja.

Jisoo mengusapkan tangannya ke lengan dan telinganya berkali-kali karena merasa udara terasa kian menusuk permukaan kulitnya. Angin berhembus lagi, berbisik menembus udara di sekeliling, menganai wajah cantiknya. Tetesan air menjadi kecil, butir-butir air yang jatuh bersamaan dengan gugurnya bunga sakura di tepi jalan menemani keheningan sore itu.

Setidaknya bus yang menuju ke apartmentnya akan tiba kurang dari lima belas menit lagi. Jadi yang harus ia lakukan hanya menunggu.

Tak ada siapapun yang menemaninya di halte itu. Mengharuskan Jisoo harus lebih waspada dari biasanya, karena ketika ada seseorang yang tiba-tiba mengganggunya seperti ini—

“Hei, agasshi. Kau sendirian?” suara lelaki itu teredam oleh suara guyuran air hujan namun masih bisa Jisoo dengar dengan jelas.

Merasa tak terlalu penting, Jisoo hanya bisa mendengus tak menanggapi.

Dua orang lelaki berada dalam satu mobil yang sama tengah menggoda Jisoo. Gadis itu tak mengenal keduanya, karena yang dapat Jisoo lihat, mereka memakai seragam yang berbeda darinya.

“Kau cantik juga. Bagaimana kalau ke Pub Jane petang ini, hm?” sambung satu dari mereka yang memiliki potongan rambut cepak.

Dalam hati Jisoo bendengus. Perlakuan murahan. Batinnya.

Gadis itu ketakutan, ia memegang tiang halte dengan erat sebagai pelampiasan, “Pergilah.” Ucap Jisoo tegas meskipun nada bicaranya sedikit bergetar saat mengucapkan kata barusan. Ia bukan seseorang yang dalam tanda kutip ‘tajam’. Dia hanya seorang Ahn Jisoo, asal kau tahu. Jadi apa yang kau harapkan.

Lelaki yang berada di balik kemudi mendecih pelan, lalu memasang smirk yang menurut Jisoo sangat menjengkelkan. “Kau yakin? Ini sedang hujan honey…”

Temannya yang satu lagi menyenggol lengan kiri si lelaki cepak, lalu berujar. “Kau tahu, biasanya seorang gadis harus sedikit dipaksa dulu agar menurut.”

Mereka berdua tertawa, membuat Jisoo berspekulasi bahwa keduanya ini benar-benar sudah gila. Dan betapa Jisoo tambah membelak saat keduanya turun dari mobil yang mereka tumpangi dan berjalan mendekat ke arahnya.

“Ini takkan lama.”

“Ya, kita hanya akan bersenang-senang lalu pulang.”

Jisoo semakin kalap ketika salah satu dari mereka sudah berani memegang lengannya. “Bersenang-senang, nenekmu! Yak— lepaskan aku.” Jisoo meronta, ia ingin berteriak namun entah mengapa tak ada nada suarapun yang keluar dari bibirnya. Kakinya mulai menendang, tangannya bergerak gelisah ingin melepaskan diri. Namun tentunya kedua lelaki itu takkan tinggal diam.

Mereka mengunci pergerakan tangan Jisoo, meletakkannya di balik punggung gadis itu. Senyum menyebalkan terpatri di wajah si lelaki rambut cepak. “Kau tahu, sayang. Aku tidak suka penolak— AAKH!!”

Jisoo menoleh saat melihat lelaki tadi telah tersungkur di lantai.

Lelaki satunya sontak melepaskan tangan Jisoo, ia berlari untuk membantu kawannya untuk berdiri. “Wonho, gwenchana? Yak apa yang kau lakukan dasar brengsek?” teriak lelaki itu, menyala-nyala.

“Pergilah selagi aku masih bersikap baik.”

Oh tidak.

Jisoo kenal suara itu.

“Myungsoo?” Jisoo menoleh ke sebelah kanannya saat kedua lelaki tadi memutuskan untuk segera melarikan diri. Dan betapa lega perasaannya saat kembali melihat lelaki yang telah beberapa hari ini ia rindukan. “Myungsoo-ya?” ulang Jisoo.

Sedangkan Myungsoo segera membalikkan badan saat mendengar panggilan Jisoo yang kedua. Ia berjalan dengan cepat menuju mobil Maseratti hitamnya yang ia parkir tak jauh dari sana.

“Myungsoo!” Teriak Jisoo lagi.

“…”

“Yak! Kim Myungsoo..!” Jisoo berjalan mengejar Myungsoo, membiarkan tubuhnya basah oleh guyuran hujan dan tak mempedulikan seragam sekolahnya yang akan sepenuhnya basah.

 

“…”

Masih tak ada jawaban.

“Myungsoo… jangan abaikan aku, kau sialan…!” Itu adalah teriakannya yang terakhir sebelum air matanya memaksa untuk keluar. Jisoo benar-benar tak tahan dengan suasana ini.

Sontak Myungsoo menghentikan langkah kakinya. Ia diam selama beberapa detik sebelum menoleh ke arah Jisoo yang tengah berdiri menunduk, memperhatikan ujung sepatunya.

Jisoo hanya takut jika Myungsoo melihat wajah menyedihkan itu saat ia mengangkat wajahnya. “Berhenti di sana.” Ujar gadis itu sedikit bergetar dalam redaman suara hujan.

Wae?” Tanya Myungsoo saat ia berbalik menatap Jisoo.

“J-jangan acuhkan aku…” ucap Jisoo pelan nyaris mencicit namun masih bisa Myungsoo dengar dari tempatnya berdiri. “K-kau bilang aku sudah tidak membutuhkanmu lagi, tapi— tapi kau salah. Kau lihat tadi? Kau menolongku, kau mengusir dua lelaki tadi. Aku— aku membutuhkanmu Myungsoo-ya… hks…”

Isakan Jisoo terdengar jelas oleh Myungsoo, dan sontak lelaki itu membelak. Tangannya mengepal dan jarinya mengebas merasakan keegoisan dan udara dingin menyelimuti dirinya. Dia ingin menarik gadis itu dalam pelukannya dan mengatakan ia tak marah dan semuanya akan baik-baik saja. Tapi entah mengapa kakinya terasa diikat oleh sesuatu dan tak memungkinkannya untuk beranjak mendekat.

“Kau dengar aku, Myungsoo-ya?” Jisoo mengangkat wajahnya yang telah basah oleh air mata, “Aku… masih membutuhkanmu dan akan terus membutuhkanmu.” Dia berjalan terseok ke arah Myungsoo, mendekati lelaki yang masih mempertahankan wajah dinginnya dalam tetesan air hujan.

 

“…” Myungsoo tak menjawab namun terus menatapnya.

“Aku— membutuhkanmu, hks…” Jisoo meraih pundak Myungsoo, mendekapnya dan menyenderkan kepalanya pada dada bidang Myungsoo, terisak pilu disana.

Dan secara naluriah Myungsoo mengangkat tangannya, mendaratkan tangannya di punggung dan kepala Jisoo. Mendekapnya dalam sebuah rangkulan canggung. Dalam diam Myungsoo merasa sangat bersalah karena telah mengabaikan gadis ini. Jisoo hanya ingin mengikuti kata hatinya, ia tahu itu.

Myungsoo juga tahu bahwa tak seharusnya ia marah karena Jisoo telah menentukan apa yang membuat gadis itu bahagia.

“Maafkan aku.” Ucap Myungsoo pelan dibalik puncak kepala Jisoo yang menutupi sebagian dagunya.

 

***

Dan inilah alasan mengapa Kai memutuskan untuk tidak pulang bersama Jisoo. Lelaki itu berada dalam sebuah café, duduk di meja sebelah jendela yang telah buram karena embun hujan dan seorang gadis lain yang duduk berseberangan dengannya.

“Aku tidak punya banyak waktu. Apa maumu?”

Yoon Jira, gadis yang sempat akan dijodohkan dengan Kai itu menunduk dalam. Masih enggan untuk berujar sebelum ia memutuskan bahwa Kai adalah mutlak miliknya. “Aku masih ingin melanjutkan perjodohan.”

Mendengar ucapan Jira sungguh membuat Kai ingin tertawa, “Yak. Apa maksudmu?”

Gadis itu terlihat sedikit ragu sebelum melanjutkan, “Aku tahu kau tidak mau dijodohkan denganku karena alasan investasi perusahaan. Jadi di sini aku ingin berkata bahwa— aku mencintaimu Kai,” Jira menarik napas panjang, “Mari kita lanjutkan perjodohan ini karena aku benar-benar mencintaimu. Tak ada investasi, tak ada keuntungan perusahaan, tak ada background lain. Mari kita lanjutkan hubungan ini. Kau mau, ‘kan?”

Kai sama sekali tak berkedip saat mendegarkan rentetan kalimat tersebut yang menunjukkan bahwa dirinya sama sekali tak tertarik dengan topik tersebut. “Ottokaji?” ia meletakkan jari di depan bibir, “Yoon Jira-ssi, maafkan aku. Tapi aku benar-benar telah membatalkan perjodohan ini. Aku—

“Aku akan berbicara langsung pada Presdir Kim.”

Mendengar nama ayahnya disebut membuat Kai mendelik, “A-apa?”

“Kau lihat saja nanti.”

.

.

-TBC-

Author Note:

Okey, aku gak bisa cuap-cuap banyak di chapter ini. 😀 #senyum gaje

Oh ya dan kalau kalian ngerasa aku update FF ini lama, aku minta maaf. Karena menurut aku waktu seminggu buat ngepost 1 chapter itu nggak lama loh. Ada author lain malah yg FFnya baru dilanjut dalam 2 bulan bahkan lebih. Ye kan?

Jadi dalam seminggu tuh aku pasti usahain buat ngepublish 1 FF. Jadi tungguin aja yah per minggunya..^^

See you~

-KEIKO SINE https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

23 pemikiran pada “LOUDER [Chapter 12]

  1. Orange

    Semakin complicated, kak .hoho
    Aku kira setelah mereka bersatu trus tamat. 😂😂😂
    Myungsoo semangat rebut jisoo dari kai yaaa 😂😂😂😂

    Suka

  2. Qka

    Buset pengaruhnya kai disekolah serem juga ya berarti!! Casanova apa preman hehehe.. Aduh chingu kok aku malah degdegan sama perasaannya jisoo.. Dia beneran milih kai kan!!

    Suka

  3. aisah1994

    Tuh kan beneran… Pasti Jira ga mau perjodohan batal dan pasti bawa2 namanya Tn Kim… Semoga tuh Kai ga liat Jisoo lg ngapain sama Myungsoo..

    Suka

  4. Ping-balik: LOUDER [Chapter 14/END] – KEIKO SINE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s