LOUDER [Chapter 10]

louder

KEIKO SINE presents Louder

(Another Story of Shame [Ficlet Series])

School life, Sad-Romance, Bully || PG-17!

Staring:

Kim Jong In (EXO)

Ahn Jisoo (OC), Kim Myungsoo (Infinite)

Others.

Cr. Poster by @LUXIE

COPYING AND PLAGIARIZING THIS STORY ARE FORBIDDEN!

***

 

Remang-remang cahaya kekuningan menyusup masuk ke dalam mata. Matahari menggantung rendah di ufuk timur. Sedangkan gadis itu duduk di dalam bus seorang diri, tangan menggenggam erat ujung seragam.

Ini adalah hari pertamanya masuk sekolah setelah empat hari harus dirawat di Rumah Sakit Seoul. Menoleh saat merasa seseorang memanggil namanya. Namun suara itu hanya beberapa gadis yang sedang menggosip diujung kursi, mengamatinya dari atas sampai bawah, seolah menguliti Jisoo saat itu juga.

Tak banyak yang berubah dari keadaan sekolahnya setelah kepulangan Jisoo. Hanya saja kini ia lebih jarang melihat Kai dan gerombolannya berlalu-lalang di sekitar koridor kan cafetaria. Mendengus halus, Jisoo masih mempunyai hutang kepada lelaki itu. Sebuah jawaban. Dan penantian yang memuakkan harus dilalui oleh si casanova sekolah.

Mengapa lelaki itu harus mengakui perasaannya tepat pada saat-saat paling sulit yang dilalui keduanya. Ini tak masuk akal. Lelaki yang sudah jelas sangat membencinya dan menyiksanya di sepanjang tahun ini malah dengan tiba-tiba datang dan mengucapkan kata cinta. Sebuah hal tabu bagi gadis itu.

Jisoo menangkap lambaian tangan dari Myungsoo saat ia mulai memasuki ruang kelas. Lelaki itu terlihat cerah dan bersemangat seperti biasa, dengan senyum sehangat senja pagi terarah untuk Jisoo.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Lebih baik.” Jisoo menyunggingkan senyumnya.

Setelah kepulangan Jisoo dari Rumah Sakit, Myungsoo lebih bersikap protective kepada Jisoo. Entah mengapa ada satu sisi dalam dirinya yang mengharuskannya untuk menjaga gadis itu. Membuat gadis itu merasa aman.

“Benarkah? Itu bagus.” Ujar Myungsoo sambil menyamakan jalan dengan Jisoo. Mereka berbelok saat menjumpai ruang kelas.

Mengambil tempat duduk di paling ujung belakang ruangan seperti biasa. Jisoo berujar, “Myungsoo-ah, gomawo.”

“Untuk apa?” tanyanya setelah meletakkan tas di atas meja.

Jisoo kembali mengembangkan senyumnya, menatap dalam mata indah lelaki di hadapannya, “Untuk selalu menolongku.”

Myungsoo tak menjawab namun tersenyum lembut. ‘Apa ini? Ahn Jisoo, apakah aku benar-benar menyukaimu?’ ujarnya dalam hati.

Memori ketika Arin bertanya padanya dengan nada terlampau serius kembali terulang di kepala Myungsoo. Dua hari lalu sepupunya itu menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan serius tentang kedekatannya dengan Jisoo. Seperti— apakah kau menyukai Jisoo unni? Bagaimana hubungan kalian? Atau, kau tidak akan melakukan hal sejauh ini untuk orang yang tak terlalu spesial untukmu, bukan?

‘Tapi— pantaskah jika aku merasakannya? Lalu bagaimana dengan gadis ini? Akankah dia menerima perasaanmu?’

Hal ini membuatnya gila, dan Myungsoo tak berani untuk terlalu berharap.

.

.

***

Jika Jisoo merasa semua ini telah berakhir, itu sangat salah. Ia tahu itu.Memangnya siapa orang bodoh yang pemikirannya se-naif itu di tengah hidup yang serba repot ini.

Ketika satu masalah telah selesai, pasti ada masalah lain yang mengganggunya.

Life changes, right?

Untuk saat ini, biarkan Jisoo melakukan hal yang dianggapnya benar. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa beberapa tahun kedepan ia akan melakukan hal yang sebaliknya.

Dan di sisi lain tiga orang gadis duduk di salah satu meja yang berada di cafetaria sekolah. Ekspresi wajah mereka memancarkan keseriusan saat salah satu kening gadis itu mengkerut. “Kudengar selama empat hari Kai berada di ruang yang sama dengan Jisoo saat di rumah sakit.”

“Bagaimana bisa?”

“Apakah ini kebetulan?”

Yoonbi, mantan kekasih Kai itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Merasa tak mau terlalu ikut campur pada urusan lelaki yang telah menjadi orang asing baginya, “Entahlah.”

“Kudengar ia juga dijodohkan.”

“Aku malah tidak tahu menahu tentang yang itu.” Sambung Yoonbi kembali sambil terkekeh.

“Bagaimana kau bisa secuek ini?” Sora si gadis berambut sebahu menggeram jengkel kearahnya. Diam-diam selama ini Yoonbi mengetahui bahwa Sora juga menyukai Kai, bahkan saat ia menjadi kekasih lelaki itu.

“Lalu apa yang kau harapkan dariku? Menginterogasi Kai?” Yoonbi menaikkan nada suaranya saat ia merasa pembicaraan ini terlalu memojokkannya.

Nana mengangguk, “Kau tidak asik sekali,” cibirnya lalu melenggang pergi bersama Sora.

Yoonbi mengedipkan matanya dua kali saat ia mulai mengerti apa arti dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, “Jangan ganggu gadis itu…!” teriaknya. Ia tahu apa yang ingin teman-temannya itu lakukan. Menyingkirkan siapapun yang mereka anggap tak pantas untuk Kai.

Kurang kerjaan sekali.

Ucap Yoonbi dalam hati.

.

.

***

Dalam beberapa hari ini, Jisoo tak menyadari bahwa selalu ada sepasang mata yang selalu mengikutinya kemanapun gadis itu berkeliaran di sekolah ini. Seperti saat ini, lelaki tu harus menunggu dan bersandar tembok yang berjarak sepuluh meter dari ruang toilet dimana gadis itu baru saja masuk.

Panggil ia penguntit, Kai akan dengan senang hati mendengarnya.

Tak lama setelah Jisoo masuk ke dalam toilet tersebut, dua orang gadis pun masuk kesana lalu berdiri di depan wastafel, menyalakan keran. Mereka tahu Jisoo disana, di dalam sebuah bilik yang pintunya tertutup. Melihat pantulan diri di cermin, mereka sama-sama melempar senyum.

Hanya dengan sebuah momentum yang pas. Sebuah celah untuk menyerang, dan selanjtnya akan terjadi hal yang menyenangkan.

Berjalan mengendap ke arah bilik yang dipakai Jisoo, keduanya membiarkan keran tetap menyala untuk menambah kesan brisik. Mereka merapatkan diri di tembok, bersiap – siap, dan setelah pintu terbuka,

#kreett

Mereka dengan cepat berjalan masuk dan memojokkan Jisoo di ujung ruangan.

Jisoo membelak, meskipun ia tak terlalu mengenal siswa-siswa di sekolahnya, kedua gadis ini nampak tak asing baginya, “Apa yang kalian lakukan?” ujar Jisoo cepat. Melihat ke wajah keduanya, ahh— tidak salah lagi, mereka adalah orang yang sama yang suka menuangkan Cola ke baju Jisoo dengan sengaja.

Sora menyeringai, menjambak rambut Jisoo. Dan saat gadis itu memberontak, ia mencekik leher Jisoo, membuatnya terbatuk.

“Nana, keran.”

Mengerti apa yang harus dilakukannya, Nana mengambil keran, mengarahkannya ke Jisoo yang mulai beringsut kehabisan napas.

“Baumu busuk sekali, jadi kami berbaik hati untuk memandikanmu.” Ujar Sora disela gelak tawanya.

Tangan Jisoo meraih, menghalangi, namun kedua lawannya tetap lebih kuat dan dominan. Kehabisan tenaga, air yang telah ditelannya dan masuk ke hidung sudah terlalu banyak, dan itu membuat Jisoo pening. Yang benar saja— hari ini awal musim gugur.

Dan dengan satu tamparan—

#Plakk!!

Jisoo terbanting ke kiri, kepalanya terasa pening dan tenaganya sudah meluap entah kemana, dengan perlahan Jisoo menutup mata. Membiarkan tubuh tak berdaya Jisoo tergeletak di salah satu bilik, Sora dan Nana berjalan keluar setelah mematikan keran dan wastafel. Tertawa senang. Seolah mereka baru saja membasmi serangga paling mengganggu di dunia ini.

Dan lelaki itu masih disana. Memandang ke arah kamar mandi wanita sambil bersandar tembok. Sepeninggal dua gadis tadi ia sama sekali tak melihat Jisoo keluar. Membatin, berbagai pikiran negatif muncul dalam kepalanya.

Bell masuk akan tersengar sebentar lagi dan Kai tak punya pilihan.

Haruskah dia—

#BRAK!

Persetan dengan semua ini! Kai benar-benar membuka paksa satu bilik kamar mandi. Matanya menyapu ke seluruh penjuru ruangan. Ia berjalan ke salah satu bilik, membuka pintu, dan Jisoo tidak ada di dalamnya.

#BRAK!

Lagi. Masih tidak ada.

Ia sempat menggeram kesal sebemum—

#BRAK!

“Jisoo…” ucapannya menggantung. Amarah di dadanya memuncak saat melihat betapa berantakannya keadaan gadis itu.

Kai mendekat, mengalungkan tangan Jisoo di perputaran lehernya, mengangkat gadis itu. Wajah Jisoo pucat, bibirnya membiru, dan basah. Kai menggendongnya ala bridal menuju ruang kesehatan.

Layaknya déjà vu. Ini adalah kali kedua Kai menggendong Jisoo dengan posisi seperti ini setelah insiden kolam renang beberapa waktu yang lalu, namun kali ini ia berjanji takkan meninggalkan gadis itu sesampainya di ruang kesehatan.

Karena Kai telah menyesal meninggalkannya beberapa saat lalu dan mengharuskan Jisoo untuk mengenal Myungsoo setelah ia pergi dari ruangan itu. Sebuah kesalahan klasik, dan Kai tak mau mengulanginya.

Pandangan anak-anak itu, bisikan serta cacian, Kai seolah tuli dan terus menghiraukan mereka semua. Mereka semua tak tahu akan dirinya, semua kesulitan ini membuatnya sadar, Jisoolah yang hatinya cari dan risaukan selama ini.

Berbelok ketika sampai di ruang kesehatan. Kai Meletakkan tubuh Jisoo dengan hati-hati di salah satu tempat tidur, Kai melepaskan sepatu Jisoo saat Do Kyungsoo si ketua ekstra palang merah itu berdiri dari kursinya. “Ada apa ini? Kenapa kalian berdua basah?” tanya lelaki bermata bulat itu polos.

Baju seragam Kai juga basah terkena pakaian Jisoo saat menggendong gadis itu. Ia tak menjawab dan malah melempar pertanyaan, “Kau punya baju ganti?”

Kyungsoo mengangguk setelah beberapa detik berpikir, “Seragam olah raga bisa?”

“Apa saja, yang penting ia harus mengganti baju yang telah basah ini.”

..

..

..

Setelah mengganti baju Jisoo yang dibantu oleh teman Kyungsoo bernama Seulgi, Kai kembali berjalan masuk dan duduk di samping tempat tidur. Ia memperhatikan wajah putus asa nan pucat gadis itu. Ini salahnya. Membuat Jisoo sebagai alat bully anak-anak sekolah Sekang. Dan sekarang lelaki itu hanya bisa menyesali perbuatannya sendiri.

“Apakah badannya panas?” Tanya Kyungsoo yang tak tahan dengan suasana haning ini, “Jika sakitnya parah kau boleh membawanya pulang. Aku akan memintakan surat izin ke BK.” Sambungnya.

“Bolehkah?”

“Tentu.” Sahut si lelaki mungil lalu berjalan keluar menuju ruang BK.

Mungkin suasananya yang begitu sesuai, Kai juga berpikir untuk membolos satu hari ini. Membawa ‘gadisnya’ ke apartment. Hanya duduk dan menatap wajah Jisoo sampai gadis itu terbangun.

Alih-alih tersenyum, Kai hanya mengerutkan dahi membayangkannya. Bagaimana kalau gadis itu memberontak? Meminta pulang dan memakinya agar tidak mendekat. Sontak Kai mengusap wajahnya kasar, ini sangatlah sulit.

Juga mengenai penuturannya malam lalu, bahwa dia mencintai Jisoo, dan mengharapkan sebuah jawaban dari gadis itu. Demi Tuhan, Kai belum siap untuk patah hati.

Tak beberapa lama kemudian Kyungsoo masuk ke dalam dengan membawa secarik kertas di tangannya. Dan saat Kai berdiri untuk meraih kertas tersebut, sebuah suara membuat keduanya menoleh.

“Dimana aku?” ujar Jisoo lemah.

“Kau baru saja pingsan, dan Kai akan mengantarmu pulang.” Kyungsoo menunjuk Kai menggunakan dagunya.

Sedangkan si pemilik nama hanya diam tak menjawab. Ia terlalu gugup.

“Pulang? Apa jam pelajaran telah berakhir?” Tanya Jisoo sekali lagi, gadis itu bangun lalu duduk bersandar headboard.

“Belum. Tapi kurasa kau masih lemas, jadi aku meminta surat izin ini—“ Kyungsoo mengangkat suratnya, “Kai akan mengantarmu.”

“Tidak!” sebuah suara lain terdengar saat sosoknya berjalan masuk, “Aku yang akan mengantar Jisoo.”

“Myungsoo-ya…”

Kyungsoo mulai mengernyit. Merasa tak punya urusan dengan orang-orang ini, sontak Kyungsoo berjalan keluar meninggalkan mereka bertiga di ruangan itu.

“Aku tidak akan membiarkan orang tak waras sepertimu membawa Jisoo dalam keadaan sakit.” Ujarnya sinis pada Kai, “Aku sudah muak padamu… Haiishh… kali ini pasti ulahmu lagi, ‘kan?” ujar Myungsoo sambil menatap Kai frustasi.

Kai balas menatapnya dengan datar, lelaki sok tahu! Cibirnya dalam hati. “Kau tidak tahu kejadian sesungguhnya. Kau hanya bisa menebak, dan itu salah.” Jawab Kai mulai geram.

Myungsoo kalap. Ia tak menjawab dan langsung berjalan ke arah Jisoo, membantunya bangun, “Myungsoo-ah kau tidak masuk kelas?” tanya Jisoo pelan.

“Hmm.”

“Kenapa? Kau membolos?”

Haiish… aku khawatir padamu, aku hampir gila mencarimu mulai dari jam istirahat.” Ujar lelaki itu frustasi. Kali ini ia kalah dari Kai, lelaki itu lebih cepat darinya. Entah apa yang telah terjadi dengan Jisoo, nyatanya ia telah kalah.

“Sudah berapa lama aku di sini?”

“Entahlah, yang jelas kau telah menghilang sebelum istirahat.”

Oh, ya.

Jisoo ingat sekarang. Kejadian di toilet dengan dua siswi pengganggu itu yang menyebabkannya berakhir di ruang kesehatan ini. Tapi— bagaimana dengan Kai? Bagaimana bisa ialah orang pertama yang berada di samping Jisoo saat dirinya terbangun?

Apakah—

Tidak.

Tidak mungkin Kai yang menolongnya, iya ‘kan?

Saat Myungsoo membantu Jisoo bangun, Kai tak dapat menahan lebih lama dan langsung mengalihkan pandangannya. Kemana saja asal tidak memperhatikan kedua orang itu.

Keduanya menghilang di balik pintu, Kai menunduk frustasi. Rasa sesak memenuhi dadanya. Membuatnya tersiksa.

.

.

***

Tiba di apartment Jisoo tinggal, keduanya duduk diatas sofa yang berhadapan dengan televisie. Jisoo menyalakan dan memilih channel random karena ia tahu bahwa mereka takkan serius memperhatikan berda persegi panjang tersebut.

Mengambil sebuah cangkir berisikan teh hangat, Jisoo berbicara pelan, “Myungsoo-ah, bukan Kai yang melakukan hal tadi padaku.”

“Dia menipumu.” Entah mengapa mendengar Jisoo terus membela Kai membuat moodnya memburuk.

“Tidak— Sora dan Nana yang menyerangku. Mereka sudah sering mengerjaiku dengan menumpahkan black soda drink ke arahku.”

“Kai yang menyuruh mereka untuk mencelakaimu, seperti biasa.” Elak Myungsoo sekali lagi.

Kedua lelaki itu terasa abu-abu. Jisoo tak mengerti harus percaya pada siapa, namun— Myungsoo yang selama ini telah bersikap baik padanya takkan mencelakainya, ‘kan? Maka Jisoo memilih untuk mempercayai Myungsoo.

“Apakah kau marah?”

“Tidak.” Jawab Myungsoo cepat. Matanya tertuju lurus pada layar televisie namun ia tak menangkap satu point pun yang dibacakan reporter muda tersebut.

“Benarkah?”

“Berhenti membuatku jengkel nona Ahn”

“Baiklah…” Jisoo menyerah, ia diam-diam terkekeh dibalik rambut panjangnya yang terurai.

“Hmm…” Myungsoo menghembuskan napas kasar, “Aku hanya khawatir oke? Khawatir. Dan berhentilah membuat diriku cemas, Jisoo-ya.”

“Baiklah.” Kini giliran Jisoo yang menjawab dengan singkat. Keduanya terkekeh.

Dan haruskah?

Haruskah Jisoo menjaga jarak dengan Kai seperti apa yang Myungsoo katakan? Huh, katakanlah Jisoo bodoh, tapi— ia tidak bisa berhenti untuk memikirkan Kai semenjak lelaki itu mengakui perasaannya pada Jisoo.

Apa nama perasaan ini?

Cinta?

Meskipun Jisoo tahu bahwa Kai selalu menganggunya dan berbuat kasar padanya, namun selama ini yang ia tahu Kai juga menyimpan rasa padanya.

.

.

-TBC-

CHAPTER DEPAN DI PROTECT! KENAPA?

 

Author Note:

Aiihhh… Kai udah mulai menunjukan tanda-tanda (?) wkwkwk.. dan maapkan kalau romance-fluffnya gagal. \hikss/ sebenernya aku nih nggak jago bikin FF yg lovey dovey gituu..

Kan kalian tahu aku biasanya nulis FF yg serem-serem kayak The Soul dulu, dan Xing Boarden. Yang genrenya mystery, psycho, bunuh-bunuhan gitu aku jago.. tapi kalau yg romantic gitu mah agak keteteran wkkwkw.. jadi maklumin aja yah kalau kurang gereget atau apa.

See you next chap! Dan chapter depan udah positif mau aku protect. Kenapa? Karena ada bagian NCnya guys wkwkwk. Untuk yang mau tahu passwordnya, baca disini yaa..

[PASSWORD]

[PASSWORD]

Regard.

KEIKO SINE https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

36 thoughts on “LOUDER [Chapter 10]

  1. Kai mulai berani nunjukin sikap ke jisoo meski agak malu” gitu. Kenapa myungsoo mesti muncul pas kai dan jisoo di ruang kesehatan,aku kan maunya ada yg agak” sweet moment gitu antara kai dan jisoo. Kyaknya jisoo juga mulai suka mikirin kai gitu?!.

    Suka

  2. main kesini yg udh sampe chapt 10 :’v ntar nunggu di kaiff gasabar :’3
    lahh kok ada NC nya?? jan bikin jisoo kecewa lahhh dah cukup lu mainin dia jan sampe lu jg hancurin dia :3

    Suka

  3. Jisoo uda mulai mikiran kai… Asiiiiiikkk..
    Kasian myungsoo sih, tapi aku kai-jisoo haahahaha..
    Ini passssss bgt chinguu, ga keromantisan, apalagi awal cerita mereka yg begituuuu..

    Suka

  4. Ahhh gasuka. Myungso biar sama yang lain aja. Biarin kai sama jisoo. Kalo dr yang aku tangkep sih jisoo jg suka kai kan ya kannn 😢😢😢😢

    Suka

  5. Ping-balik: LOUDER [Chapter 14/END] – KEIKO SINE

  6. Ping-balik: LOUDER [Chapter 12] – KAI FanFiction Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s