LOUDER [Chapter 9]

louder

KEIKO SINE presents Louder

(Another Story of Shame [Ficlet Series])

School life, Sad-Romance, Bully || PG-17!

Staring:

Kim Jong In (EXO)

Ahn Jisoo (OC), Kim Myungsoo (Infinite)

Others.

COPYING AND PLAGIARIZING THIS STORY ARE FORBIDDEN!

Isi perutnya bergolak, Jisoo membeku. Telinganya menegang saat merasakan sensasi tersebut di lehernya.

“Kenapa— kenapa kau melakukan ini padaku?” ujarnya disela isak tangis yang memaska untuk keluar.

“Karena aku menyukaimu—

Jisoo tak kuasa untuk tak membuka mulutnya. Kalimat macam apa itu?

“A-apa?” tanya Jisoo gugup.

Kai menatapnya tajam. Ada kemarahan dan keputusasaan di dalam mata Kai yang membara. “Apa jawabanmu?”

Deg..

            Deg..

Merasa tak ada tanggapan, Kai mulai mengangkat wajahnya. Menempelkan dahi mereka berdua, “Aku kelelahan dan tersiksa, oke? Bisakah kau tetap diam dan menemaniku? Kau budakku, sialan!” teriaknya tepat di depan wajah Jisoo. Ekspresinya mengeras, dan deru napas mereka saling bersahutan satu sama lain.

“Kai— mmpphh..

Kai menempelkan bibirnya lagi. Kini lebih kasar dari sebelumnya. Seolah menumpahkan segela emosi yang selama ini ia pendam disana.

Setidaknya kini bibir Jisoo sudah tidak sedingin beberapa saat yang lalu. Maka Kai berani untuk menelusupkan lidahnya ke dalam. Saling mengajak untuk membelitkan lidah dan bertukar saliva.

“Enghh…”

Erangan pertama keluar dari bibir Jisoo. Bunyi kecipak menghiasi kegiatan panas mereka. Tangan Kai kini mulai bergerilnya disekitar dada Jisoo. Meremas benda sintal itu dengan gemas, sedangkan Jisoo yang nyatanya bagian bawahnya mulai memanas hanya bisa bergerak gelisah di dalam permainan Kai.

Tak lama kemudian Kai melepaskan tautan bibirnya, ia berkata, “Aku tersiksa karena selama ini tidak bisa mengambil perhatianmu, jadi aku selalu mengganggumu. Aku meng-klaim dirimu sebagai budakku agar tak ada lelaki lain yang berani mendekatimu. Tapi— saat anak baru itu datang, memporak-porandakan segalanya— aku tersiksa,” Kai mengacak frustasi kepalanya, matanya memerah memancarkan kekesalan yang selama ini ia pendam, “Ini seperti sebuah pengakuan dosa. Maka dengarkan aku dan jangan tinggalkan aku.”

“Bagaimana bisa— kau…” Jisoo memotong kalimatnya sendiri, tak ingin melanjutkannya. Dasar lelaki tampan yang kurang waras! Melakukan semua ini hanya untuk menarik perhatian Jisoo. Namun luka yang telah lelaki itu torehkan terlalu dalam, terlalu dalam untuk dibendung hanya dengan sebuah pengakuan.“Baiklah, kalau begitu aku akan turun.”

“Tidak.” Kai menahan tangan kanan Jisoo, menutup pintu lalu memakaikan seatbelt pada gadis itu. “Sudah kubilang kau tidak akan kemana-mana.”

Dengan cepat Kai menyalakan mesin mobilnya dan mulai menyetir. Entah kemana saja, yang terpenting adalah Jisoo dapat menemaninya kali ini.

“Apa kau gila? Kai— hentikan mobilnya!”

Seolah tuli, Kai sama sekali tak mengindahkan celotehan Jisoo. Udara di sekitar seolah memanas, air conditioner yang dipasang pada mobil tersebut seakan tak berfungsi. Keduanya marah. Keduanya frustasi. Masalah yang berada dalam diri masing-masing berkumpul menjadi satu, meledak bersama-sama, seperti bom waktu.

Kai merasa suhu tubuhnya naik, kepalanya pening, dan ia tak sadar telah menaikkan kecepatan mobilnya saat berbelok di perempatan. Sedangkan Jisoo bertambah panik, melihat speedometer menunjukan jarum di angka hampir 120km/jam.

“Kai… pelankan mobilnya…”

Kai tak merespon, namun kelopak matanya bergerak naik turun.

“Kai— Kai, berhenti!” teriak Jisoo sekali lagi.

Dan yang terjadi selanjutnya adalah sorotan lampu yang menyilaukan, suara klakson yang memekakkan telinga, dan decitan ban dengan aspal jalan. Kai membanting setir namun terlambat, mobilnya telah terbalik dan terpental jauh.

#BRAKK!

Suara kaca yang pecah, dan sebagian mengenai wajah Jisoo. Ia tak tahu mengapa harus terus ditakdirkan untuk mengalami masa-masa sulit di dunia ini. Yang ia tahu sekarang, darah mengalir di pelipisnya dan kakinya sakit tertindih kursi mobil. Suaranya parau dan lemas memanggil nama Kai yang telah hilang kesadarannya.

“Kai…” ucap Jisoo pelan, nyaris mencicit. Hal terakhir yang Jisoo lihat adalah segerombolan orang berkmumpul dan mencoba menolongnya, semuanya terlihat panik. Dan saat suara sirine terdengar, Jisoo telah menutup mata.

.

.

***

“Dimana ruangan pasien bernama Ahn Jisoo yang mengalami kecelakaan?”

“Disana.” Sang suster menunjuk sebuah ruangan dimana Jisoo dirawat. Melangkah dengan tergopoh, wajah lelaki itu panik dan jantungnya berdegup hebat, “Apakah anda keluarga dari saudari Ahn Jisoo?”

“S-saya… temannya. Keluarga Ahn Jisoo sedang berada di luar kota. Jadi saya mohon pengertian anda dan membiarkan saya yang menggantikan keluarganya.”

Suster muda itu tak dapat menjawab namun mengangguk pelan. Mempimpin jalan dan Myungsoo berada dibelakangnya. “Masuklah dengan tenang, mereka masih butuh istirahat.” Ujarnya.

Mereka?

Tak butuh waktu lama Myungsoo segera memutar kenop pintu dan berjalan masuk. Menyadari bahwa ada dua tempat tidur yang diletakkan diruangan tersebut. Kasur yang berada di dekat pintu masuk adalah tak lain milik Jisoo, dan yang satu lagi— Myungsoo tak terlalu yakin dengan apa yang ia lihat, maka lelaki itu memutuskan untuk berjalan mendekat.

“K-kai?” ucapnya heran.

Mengalihkan pandangannya, ia tak percaya dengan apa yang baru ia sadari. Jisoo mengalami kecelakaan dengan Kai? Ingin sekali Myungsoo mencabut selang infuse yang terpasang di tubuh Kai, lalu menghajarnya sampai puas. Namun Myungsoo segera mengurungkan niatnya saat ia sadar bahwa sedang berada di rumah sakit.

Menatap kedua pasien itu bergantian, apakah Jisoo dan Kai bertemu malam itu? Dan entah pergi kemana, lalu keduanya mengalami kecelakaan. Dan itu membuat Myungsoo marah.

Marah kepada Kai yang selalu mengganggu Jisoo. Dan marah pada dirinya sendiri yang tidak dapat menjaga gadis itu.

“Maafkan aku.” Ucap Myngsoo pelan seraya berjalan mendekati Jisoo. Keadaan gadis itu mengenaskan. Perban menutupi kepala dan kaki, juga luka-luka yang telah mengering menghiasi wajah pucatnya. Myungsoo menarik kursi lalu duduk tepat di samping gadis itu, menggenggam jemarinya yang dingin.

***

May 7

Dua hari berlalu namun tanda-tanda sadar tak dirasakan oleh Jisoo maupun Kai. Dan selama itu pula, Myungsoo rutin mendatangi rumah sakit.

“Apakah luka yang mereka alami cukup parah, dok?” Tanya Myungsoo pada dokter pria yang telah memeriksa Jisoo dan Kai.

“Tidak terlalu parah. Harusnya mereka sudah sadar, tapi— tunggulah sebentar lagi. Saya harap anda bisa sabar dan terus menyemangati teman-teman anda.”

Senyum tipis terukir di wajah Myungsoo yang terlihat kelelahan. Setidaknya harapan itu masih ada, ia hanya perlu menunggu dan menunggu.

***

May 8

Siang ini cukup cerah, Myungsoo membuka wadah berwarna merah itu lalu terlihat asap yang mengepul keluar. Setidaknya tadi ada wanita paruh baya yang mengaku sebagai Ibu Kai datang menjenguk dan memberikannya makanan.

“Tolong jaga Kai, nak. Dia tersisksa.”

Kalimat itu terasa berputar-putar di kepalanya, membuat Myungsoo pening. Ia tak pernah mengenal siapa Kai sebelumnya. Namun melihat kelakuannya di sekolah, dan sikapnya yang selalu ingin menang sendiri, membuat Myungsoo beranggapan bahwa Kai berasal dari keluarga kaya yang selalu memanjakannya.

Namun setelah kedatangan Nyonya Kim beberapa waktu yang lalu, Myungsoo memiliki penilaian yang lain. Bahwa Kai si lelaki yang menjengkelkan pun mempunyai masalah.

Dia berjalan mendekat ke arah tempat tidur Jisoo, menatap wajah pucat yang tak kunjung membuka mata itu. “Apa yang harus aku lakukan?” ucapnya lirih.

Myungsoo tahu pasti ada suatu hal yang menyebabkan Jisoo dan Kai bertemu malam itu. Entah apapun itu. Yang pasti hal itu sesuatu yang penting yang mengharuskan Jisoo harus menemui Kai dan mengikuti lelaki itu.

***

May 9

Perban di kaki dan kepala Jisoo telah dilepaskan. Dokter bilang gadis itu baik-baik saja, hanya tunggulah ia untuk sadar dan kau bisa membawanya pulang. Dan Kai— lelaki itu, sebenarnya Myungsoo tak ngin membahasnya namun, lelaki itu telah sadar sejak tadi pagi tapi ia masih enggan untuk membuka mulut.

Bahkan saat dokter memeriksanya, Kai hanya akan menjawab dengan anggukan dan gelengan. Dan Myungsoo berpikir bahwa lelaki itu benar-benar sudah gila.

Myungsoo mengamati Kai yang kini duduk bersandar headboard sambil melihat keluar jendela. Makanan yang berada di atas nakas pun menganggur sia-sia karena Kai hanya menyuapkan dua sendok bubur ke mulutnya.

Kai memandang keluar, memperhatikan jalan. Pandangannya kosong terlempar jauh ke depan, seolah tak ada kehidupan yang mengisi tubuh tegapnya. Memandang Jisoo sekilas, lalu melempar wajah lagi. Ia hanya tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ditambah dengan kehadiran Myungsoo yang duduk di samping gadis itu, mendiaminya, menambah kesan canggung.

***

May 10

Sehari setelah Kai sadar, Myungsoo hampir melompat dari kusrinya saat menyadari mata Jisoo bergerak. Tersenyum, tangannya terjulur untuk menggenggam jemari gadis itu.

“J-jisoo…” ucapannya tercekat diujung lidah, namun mata Myungsoo bersinar memancarkan kelegaan.

Mengerjapkan mata, Jisoo melihat sekitar, “Hmm…”

“Kau sudah sadar? Akan kupanggilkan dokter dulu.”

Jisoo memegangi kepalanya saat pintu tertutup. Pandangannya masih lelah dan kabur, juga badannya yang terasa kaku. Jarum jam menunjukkan pukul 4.17 KST yang berarti ini sudah sore saat Jisoo membuka mata.

Adalah sebuah paranoidnya saja atau memang benar jika Jisoo sekarang tengah diawasi. Ia merasa sepasang mata telah memperhatikannya sejak ia mulai membuka mata.

“Eng…” Rasanya jantungnya telah tertohok dengan keras ketika ia menyadari bahwa seseorang yang lain tengah berbaring di ranjang sebelah.

Mereka tak berbicara, namun Kai sama sekali tak melepas pandangannya dari Jisoo. Dan itu membuatnya sedikit canggung.

Mengapa… Kai berada di sini?

Seperti kilasan film lama. Kejadian di malam dimana ia kecelakaan kembali terulang, terasa layaknya video rusak. Sekelebat Jisoo melihat dirinya sendiri berteriak kepada lelaki tan itu. Dan di detik selanjutnya suara desisan ban dan cahaya lampu jalan menyilaukan berputar di kepalanya.

Ia ingat sekarang, mengapa ia bisa berada disini— dengan lelaki itu. Jisoo marah padanya, Jisoo kecewa. Luka yang ditorehkan lelaki itu dalam-dalam seolah takkan bisa mengering. Jisoo menghembuskan napas, merasa lega saat melihat pintu utama terbuka dan Myungsoo beserta beberapa perawat masuk ke dalam.

“Tekanan darah dan suhu tubuhnya stabil. Tapi mungkin cidera di kaki nona Ahn masih sedikit sakit, jadi saya harap untuk berhati-hati.” Ucap seorang dokter pria setelah memeriksa keadaan Jisoo.

“Jadi— nona Jisoo sudah dierbolehkan untuk pulang, dokter?” tanya Myungsoo masih dengan ekspresi senangnya.

“Setidaknya biarkan dulu nona Ahn beristirahat di rumah sakit untuk malam ini. Besok ia baru boleh pulang.”

Myungsoo mengangguk, lalu membungkuk mengucapkan terima kasih berulang kali. Dan Jisoo tak dapat berbuat apa-apa hanya menyunggingkan bibirnya. Ia merasa beruntung telah mengenal lelaki itu.

..

..

..

Kai turun dari tempat tidurnya dan mulai berjalan menuju kamar mandi yang berada di ruangan tersebut. Ia melihat sekilas bayangan dirinya di cermindan mengernyit saat melihat rambutnya yang kusut dan matanya merah. Bibirnya sama sekali tidak berwarna.

Dibanding berdiam diri di kasur untuk menyaksikan kedua lovey dovey itu saling bercengkerama, Kai lebih memilih mengunci diri di kamar mandi dan merutuk dirinya sendiri karena belum berani berbicara dengan Jisoo.

Lelaki pengecut!

Sebuah suara menggema di belakang kepalanya. Kai menunduk, berbisik lirih, “Aku tahu itu.”

Di ruang utama, Jisoo tengah melahap makanan yang disuapkan Myungsoo untuknya. Jisoo menghargai setiap kebaikan dan pengorbanan yang Myungsoo lakukan untuknya, namun yang dilakukan lelaki itu hanya mengurus Jisoo tanpa memperhatikan keadaannya sendiri.

“Myungsoo-ah, pulanglah.”

Myungsoo menyendokkan bubur lagi, “Kenapa tiba-tiba mengusirku?”

Saat Jisoo mengambil sebuah cangkir berisi teh hangat, ia melihat Myungsoo yang menatapnya dengan ekspresi lesu. “Lebih baik kau istirahat, dan besok kau boleh kemari untuk mengantarku pulang.”

Myungsoo diam selama beberapa detik. Matanya terpaku pada mata hazel gadis yang telah empat hari ini ia rindukan untuk terbuka. Berpikir, haruskah dia— “Baiklah.”

Jisoo melebarkan senyumnya.

“Beristirahatlah malam ini. Karena besok pagi sekali aku akan mengurus administrasi untuk check out dan kau bisa pulang.”

“Hm… gomawo.” Ujarnya.

***

Sepeninggal Myungsoo, Jisoo terus berbaring di tempat tidurnya sambil memejamkan mata meskipun ia tak mengantuk. Ia telah tertidur untuk empat hari berturut-turut, jadi bagaimana bisa ia memutuskan untuk mengantuk.

Suara pintu kamar mandi terbuka lalu tertutup lagi. Jisoo tahu bahwa lelaki itu sudah keluar dari tempat persembunyiannya. Namun ia masih enggan untuk memulai pembicaraan. Persetan! Dia pikir hanya dirinya yang mempunyai gengsi di dunia ini?

Tempat tidur Jisoo berderit, sedikit bergoyang, dan sontak gadis itu membuka mata. Jisoo semakin membelakkan matanya ketika menyadari Kai sedang duduk di tepi tempat tidur. Mata memperhatikan dirinya.

Debaran jantung Jisoo terpompa lebih cepat saat kedua irisnya bertemu dengan milik Kai. Dan dengan alasan yang kurang jelas pula, Jisoo terenguh. Ia tahu hanya dengan menatap mata hazel lelaki itu bahwa Kai juga sama tersiksa seperti dirinya.

Mereka sama-sama hancur dan terluka. Jisoo kembali mengingat penuturan Kai di dalam mobil saat malam mereka akan mengalami kecelakaan. Lelaki itu berteriak padanya untuk diam, tetap tinggal dan menemani dirinya. Sebuah permohonan yang menuntut. Lelaki itu takut jika Jisoo menolak maka ia ‘sedikit memaksa’.

“Kai…” ujarnya lirih. Entah mengapa hanya dengan menyebut nama lelaki itu, membuat dada Jisoo menghangat.

“Hmm…” jawab Kai hanya dengan sebuah gumaman.

“Kau tak apa?”

“…”

Tak menjawab dan itu membuat Jisoo salah tingkah, maka ia mencoba bangun dan duduk bersandar headboard, “Kai kau sudah bai—

“Kau tahu aku terluka.”

“…”

Jisoo tak kuat. Pembicaraan ini terlalu emosional ditengah keadaannya sekarang. Ia ingin marah, ingin mencaci lelaki itu. Tapi sesuatu dalam dirinya mengatakan jangan.

“Kai aku—

“Aku kemari untuk mendengar jawabanmu.”

Membelak, “Kau serius?” tanya Jisoo ditengah deru napasnya yang memburu. “Yang kau katakan di… maksudku— aku…” Kai menatapnya lurus, mengharap sebuah jawaban yang memuaskan, “Kita berdua tahu ini sulit.” Ujar Jisoo setelahnya.

“…” Kai tak menjawab namun menaikkan sebelah alisnya.

“Kau sudah menghinaku, mencaci dan berbuat kasar padaku, mempermalukanku di depan semua orang,” bibir Jisoo terlihat bergetar saat mengucapkan kalimat tersebut, “Kau tahu sudah berapa luka yang kau torehkan padaku selama ini?” pandangannya mengabur, air mata telah membanjiri kelopak mata Jisoo dan mendesak untuk keluar.

Menunduk, lelaki itu tak kuasa untuk mengangkat dagunya. Membiarkan sisi arogan Kai menguap entah kemana, “Tersenyumlah dan beri aku harapan.”

“Permintaan yang sia-sia. Aku—

Jisoo menghentikan kalimatnya saat Kai mengangkat wajah dan menatap ke arahnya. Kai sekarang adalah pemuda yang putus asa. Mengharapkan sebuah jawaban atas cintanya. Dan itu menyakitkan.

.

.

-TBC-

Author Note:

Ya ampun jujur yah chapter ini tuh rencananya mau aku bikin chapter akhir alias END. Dan entah kenapa gak tega aja kalo harus ngasih sad ending lagi wkwkwk. \nanti banyak yg protes egein/

Dan doakanlah ide di kepala ini bisa keluar nantinya dan aku bakal nulis ini lebih di chapter-chapter selanjutnya.. love you all~ chu :-*

See you next chap.. mind to review? 😀

Regard.

KEIKO SINE https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

35 pemikiran pada “LOUDER [Chapter 9]

  1. Orange

    tapi kak tapi kak. kenapa engkau membuatku baper tingkat dewa.. 😭😭😭😭
    dan kenapa ketika perasaan ku sudah hampir jatuh ke dasar laut terdalam tiba-tiba di tbc.
    wahai author maha membolak balikkan hati pembaca.
    keren banget kak. aaah ini masih berlanjut. ditunggu kak.

    Suka

  2. RisqiSanti

    dijawab “iya” klo jongen udh bisa paling engga ngeyakinin sm sembuhin luka lahir batin jisoo. kesian.. caper gitu amat jong dan endingnya malahan elu sakitin lg kan jonh :’v

    Suka

  3. Ping-balik: LOUDER [Chapter 14/END] – KEIKO SINE

  4. Ping-balik: LOUDER [Chapter 12] – KAI FanFiction Indonesia

  5. veeee

    waa udah lama gak baca ni ff. ya walopun sempet lupa tp tetep di lanjut. Btw kasihan si kai yang ngarepin balasan cinta dr jisoo. klo jadi jisoo sih masih pikir² juga mungkin . hehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s