LOUDER [Chapter 8]

louder

KEIKO SINE presents Louder

(Another Story of Shame [Ficlet Series])
School life, Sad-Romance, Bully || PG-17!

Staring:

Kim Jong In (EXO)

Ahn Jisoo (OC), Kim Myungsoo (Infinite)

Others.

Cr. Poster by @LUXIE

COPYING AND PLAGIARIZING THIS STORY ARE FORBIDDEN!

Terbaring dan mencoba memaksa pikirannya untuk mencari ide-ide lain. Tapi kata-kata ramalan yang dibacanya— tanda yang menamai zodiaknya dengan sesuatu yang hampir tak ia mengerti— semuanya berkonspirasi membuat Kai tetap terjaga.

Bagaimana mungkin, ramalan zodiaknya mengatakan bahwa seseorang yang mengganggu pikiranmu saat ini adalah jodohmu. Kalimat tersebut membuat Kai frustasi.

Dan apakah— karena ia terus memikirkan perjodohan konyol ini— ia akan benar-benar berjodoh dengan Yoon Jira? Gadis manja yang terus mengganggu, anak dari rekan bisnis ayahnya.

Tidak.

Sebisa mungkin Kai harus membatalkan perjodohan ini.

#tok.. tok.. tok..

Kai menoleh saat mendengar pintu kamar terbuka, seorang wanita paruh baya masuk ke dalam, “Kai-ya… kau sudah bersiap?”

“Ya, aku sudah memakai tuxedoku.”

Kai yang diluar sangatlah berbeda dengan Kai yang di dalam. Di luar sana, Kai terkenal dengan sikap arogan dan ingin menang sendiri. Namun Kai yang berada di tengah keluarganya adalah Kai yang baik dan penurut. Melakukannya dengan alasan ‘takut’ pada sang ayah.

“Kau yakin, nak?” suara Eomma Kai terdengar bergetar saat mengajukan pertanyaan. Ia tahu bahwa sebenarnya Kai tidak menerima perjodohan ini, namun keputusan telah ditetapkan oleh masing-masing keluarga.

Keraguan Nyonya Kim menumbuhkan keraguan tersendiri bagi Kai. Keraguan bahwa malam ini semuanya akan berubah. Kai mengangkat bahu, “Entahlah Eomma. Aku tahu aku tidak bisa menolak.”

Saat inilah seharusnya Nyonya Kim berbicara pada suaminya. Kai tidak pernah menuntut banyak selama ini, namun hanya kali ini— biarkan Kai menentukan pilihannya sendiri.

..

..

..

Makan malam tersebut dihadiri enam orang. Kai berhadapan langsung dengan Jira, yang sedari tadi telah menggoda bagian betis dan paha Kai dengan ujung jari kakinya. Kai hanya mendengus samar, ‘dasar gadis murahan.’ Cemohnya dalam hati.

Suasananya memang terkesan hangat dan ceria, namun hal-hal tersebut sama sekali tak ditunjukan oleh si pemilik rumah. Wajah dingin Tuan Kim, aura jangan-ganggu-aku yang dipancarkan Kai pada wajahnya, dan ekspresi lesu Nyonya Kim adalah gambaran yang pas mengenai perang batin yang masih terjadi dalam keluarga tersebut. Dan insiden Kai memberontak dan menghajar habis anak buah Ayahnya adalah sebuah pemicu yang besar dalam hal ini.

“M-maaf, apakah ada masalah?” Tuan Yoon angkat bicara setelah sedari tadi hanya terfokus pada makanannya.

Wajah Tuan Kim berubah lebih senang, namun malah terlihat seperti senyum yang dipaksakan, “Ah, tidak ada. Mari lanjutkan saja makan malamnya.”

Semuanya terkekeh pelan, sedikit mencairkan suasana. Kini Nyonya Yoon berbicara, “Jadi— untuk rencananya, apakah Jira dan Kai akan bertunangan dulu atau langsung menikah?”

Kai mendelik dari tempat duduknya. Mengapa tiba-tiba sekali. Tuan Kim mengangkat gelasnya sambil berbicara, “Sepertinya akan lebih baik jika bertunangan dulu, mereka masih sekolah, Nyonya Yoon.”

“Ah benar.” Nyonya Yoon terkekeh lalu menepuk pelan lengan suaminya.

“Maafkan Eomma ya Aboenim. Eomma memang suka terburu-buru.” Akhirnya Jira angkat bicara, dengan lembut seakan tak ingin menyakiti perasaan siapapun.

Semuannya kembali tertawa, wajah bahagia terpancar dari masing individu kecuali Nyonya Kim dan Kai. Kim Juhyun tahu betul anaknya seperti apa. Dan ekspresi Kai saat ini mengatakan bahwa dirinya tersiksa, anaknya perlu bantuan, seolah mengirim sinyal SOS padanya.

“Apakah Jira setuju dengan perjodohan ini?” Nyonya Kim berujar disela deru napasnya yang kian naik. Giginya gemeretak. Ingin segera mengakhiri semua ini. Ia tahu bahwa anaknya tak menyukai paksaan. Dan memilihkan pasangan untuk hidup Kai kelak adalah hal yang sangat dibenci oleh anaknya tersebut.

“I-iya Eommonim.”

Pandangannya kini terarah pada anaknya, “Dan apakah Kai menyutujui perjodohan ini?” tanyanya dengan tatapan teduh. Sebuah telepati. Seolah mengatakan pada Kai, ‘ayolah, kau tak mengerti arti dari pertanyaan ini? hanya ini satu-satunya kesempatanmu.’

“Tidak.”

Sontak semua orang terdiam. Namun hal yang berbeda ditunjukan oleh Nyonya Kim. Wanita paruh baya itu dapat bernapas kembali setelah beberapa detik menahan. “Dan aku tidak bisa memaksa. Ini untuk kebaikan dan masa depan anakku.” Ujarnya percaya diri.

“Jadi— artinya?” tanya Nyonya Yoon polos.

“Ini terserah pada Jira, apakah kamu tetap mau melanjutkan perjodohan ini?” pandangan Nyonya Kim dan Jira bertemu. Gadis itu menunduk malu. Sebagai wanita, harga dirinya telah terinjak karena ditolak oleh seorang laki-laki didepan keluarganya.

“Mengapa jadi seperti ini?” Tuan Yoon kembali berbicara setelah beberapa menit hanya menyaksikan. Persetan dengan perjanjian ini. Ia merasa marah sekaligus malu. Meletakkan sendok dan sumpit diatas meja, pria paruh baya itu berdiri dan mengangguk kilas lalu berjalan pergi, disusul oleh istri dan anaknya.

Sepeninggal keluarga Yoon, keadaan rumah menjadi sepi dan tercekat. Amarah terasa di dada masing-masing. Tuan Kim mendorong kursinya ke belakang lalu berjalan menuju tangga untuk masuk ke kamar.

Kai hanya berkedip dua kali lalu berjalan keluar dimana mobilnya terparkir. Menyadari kerusuhan yang ditimbulkannya malam ini, Kai mendesah saat membuka pintu mobil Jazznya.

Menyalakan mesin lalu menjalankan mobil tersebut dengan kecepatan rata-rata. Jangan bertanya padanya, jangan mengajaknya bicara untuk saat ini— ia hanya ingin sendiri.

Dalam gemerlap malam kota Seoul, Kai memilih jalanan yang lebih sepi untuk menghindari adanya hal yang tidak diinginkan karena pikirannya tengah kacau. Berbelok ditikungan dan kembali menjalankan mobilnya lurus ke depan. Sejenak Kai berpikir untuk menginap di rumah Sehun atau Tao. Mengganggu mereka dengan permintaan-permintaan aneh khas Kim Kai. Namun entah mengapa ia tidak dalam mood untuk melakukannya malam ini.

Hatinya bergemuruh tak senang. Dan dengan tiba-tiba Kai mengerem pelan mobilnya. Berbagai pikiran tak jelas berputar di kepalanya. Untuk sejenak Kai berpikir apakah dirinya sudah benar-benar tidak waras. Dan sontak Kai mengerjap saat menyadari dimana posisinya sekarang. Merasa tak asing dengan jalan yang tengah ia lewati. Membelak saat menemukan sebuah apartment dengan 23 lantai yang menjulang mewah dihadapannya.

Disana. Tepatnya di lantai delapan apartment ini, adalah dimana seorang gadis tinggal. Kai selalu mengamati jendela kamarnya dari bawah seperti ini, bersandar mobilnya. Secara diam-diam. Setidaknya— Kai dapat menjadi dirinya sendiri saat melihat gadis itu dari jarak seperti ini.

Kai membuka pintu mobilnya, berjalan keluar dan melihat mendongak ke jendela itu lagi. Menyandarkan badannya pada mobil, tangan terlipat di depan dada. Memperhatikan ruangan dimana ‘gadisnya’ tinggal.

Dan entah kebetulan apa yang sedang menghinggapi, saat Kai membalikkan badan, gadis itu ada disana. Berjalan menunduk memperhatikan ujung sepatu. Hanya menggunakan celana jeans dan sweater tipis tanpa jaket. Apakah ia tak kedinginan?

Kai sempat kaget saat melihatnya, apakah gadis ini sudah menyadari keberadaannya sejak tadi? Dan setelah menyetabilkan deru napasnya Kai pun mulai membuka suara,“Dimana jaketmu?” Kai bertanya pada Jisoo yang terpaut jarak empat meter darinya.

“K-kai?” ujar Jisoo mulai gugup, “Apa yang kau lakukan disini?”

“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Kai berjalan mendekat, menggenggam tangan Jisoo dan sontak gadis itu menariknya lagi. “Kau kedinginan, bodoh.”

Stupid! His stupid fucking slave!

Jisoo menatap Kai, menemukan sesuatu hal yang lain di mata Kai, dan itu bukan amarah. Lelaki ini tersiksa. Bagaimana bibir pucat, wajah lesu yang ditekuk, dan mata bergetar seakan ingin menumpahkan air mata.

“Ikut aku.” Kai menarik paksa pergelangan tangan Jisoo, meremasnya hingga dapat Jisoo lihat lengannya telah berubah kemerahan.

“Kai— sakit.”

Kai mendorongnya untuk masuk ke dalam mobil. Kemudian berjalan memutar, Kai duduk di balik kemudi lalu mengunci pintu. Napasnya memburu. Kai tak tahu apa yang hatinya inginkan. Namun yang baru saja ia sadari— melihat Jisoo membuatnya desikit lega, tapi— sikap kasarnya barusan membuat Kai sendiri lebih tersiksa.

Jisoo menatap Kai heran. Obat apa yang telah ditelan lelaki itu hingga perbuatannya semakin gila hari demi hari. Jujur jika sekarang Jisoo ingin memakinya, meminta penjelasan tentang insiden USB tadi siang. Iya yakin bahwa itu adalah perbuatan Kai dan gerombolannya. Namun yang keluar dari bibirnya berbeda, “Kau tak apa?”

Kai menunduk, bertumpu pada setir mobil. “Hanya tetaplah disini dan temani aku hingga keadaanku membaik.”

Detik detik yang berlalu terasa seperti sebuah penyiksaan bagi Jisoo. Mereka hanya saling diam dalam beberapa menit, dan itu membosankan sekaligus menjengkelkan. Embun menempel di kaca mobil saat Jisoo menghembskan napas, “Kurasa kau ingin sendiri, maka aku akan masuk ke—

#mmmpphh              

Tak sampai menyelesaikan kalimatnya, Kai telah lebih dulu menutup bibir Jisoo agar gadis itu tak berlari meninggalkannya. Kai menutup mantanya dan membiarkan insting yang bekerja. Tak ada paksaan, dan Jisoo pun tak menolak. Mungkin gadis itu masih berpikir apa yang terjadi.

Merapatkan tubuh, Kai memeluk tubuh Jisoo yang ia tahu sedang kedinginan, Kai bergerak lebih mendekat, menindih tubuh Jisoo yang lebih kecil, merapatkan tubuhnya di kursi mobil. Debaran jantungnya, dan deru napas mereka menyatu. Menjadi melodi indah tersendiri bagi Kai. Biarkan segala bentuk gengsi dan egonya menguap, untuk malam ini, Kai hanya ingin menjadi— Kai.

Mengakhiri ciuman mereka, lalu memalingkan wajah. Yang tadi itu adalah ciuman paling singkat namun sangat mendebarkan yang pernah Kai alami. Tak ada paksaan dan gerakan menuntut. Dan hal itu membuat Kai sedikit— salah tingkah.

Mengganti ekspresi wajahnya dengan poker face andalannya. “Aku reflek.” Ujarnya singkat. Kai bergerak untuk kembali duduk dibelakang kemudi seperti semula.

“Y-ya.”

“Kau— tidak dikeluarkan, ‘kan?”

“Huh?”

“Huh apanya?”

“Bagaimana kau tahu?” tanya Jisoo penuh selidik.

“Semua anak di Sekang membicarakannya. Bagaimana bisa aku tidak tahu.”

“Aku dijebak.” Ujar Jisoo pelan, pandangannya ia torehkan keluar.

“Aku tahu.”

Sontak Jisoo berbalik menatap Kai, “Bagaimana—

“Aku yang menyuruh seseorang untuk meletakkan USB itu di tasmu.” Jawab Kai dengan tenang. Pandangannya lurus ke depan.

“Kau— dasar brengsek!” Jisoo memukul lengan dan perut Kai dengan kasar “Aku takkan memaafkanmu!”

Ancaman yang bagus. Kini Kai hanya dapat diam dan membuka mulutnya dari tempatnya duduk.

#Plakk!

Satu tamparan telak mendarat di pipi kiri Kai kerena lelaki tersebut lengah. Namun bukan Kai namanya kalau tak cepat tersulut emosi.

Kai mengunci kedua pergelangan tangan Jisoo hanya dengan satu tangannya. Tersenyum licik, menampilkan smirk andalannya. “Malam ini aku tidak sedang ingin mengadakan keributan.”

Kembali memajukan tubuhnya, kini bagian leher Jisoo adalah sasaran Kai.

“Kai!” Jisoo memekik saat merasakan gigi-gigi Kai tengah bermain di permukaan lehernya. Mencumbunya kasar.

Jisoo ingin memberontak namun sia-sia. Pergelangan tangannya masih digenggam kuat lelaki tersebut. Kini beberapa tanda kemerahan tercetak jelas di leher Jisoo. Ia ingin marah, namun tak bisa melakukan apa-apa.

“Kenapa— kenapa kau melakukan ini padaku?” ujarnya disela isak tangis yang memaska untuk keluar.

“Karena aku menyukaimu—

Jisoo tak kuasa untuk tak membuka mulutnya. Kalimat macam apa itu?

“A-apa?” tanya Jisoo gugup.

Kai menatapnya tajam. Ada kemarahan dan keputusasaan di dalam mata Kai yang membara. “Apa jawabanmu?”

.

.

-TBC-

Author Note:

Halooo.. balik lagi sama author hehe maaplah kalo chapter akhir-akhir malah gaje gini. Wkwkwk. Soalnya banyak yg mau happy ending sih. Jadi muter plotnya harus tajem gini deh wkwkwk…^^

See you soon.

Next chap fix mau di protect!

Regard.

-KEIKO SINE https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

36 pemikiran pada “LOUDER [Chapter 8]

  1. Qka

    Sedih buat kai, sedih juga buat jisoo.. Tapiiiiii aku seneng bangeeet bacanya.. Karena mereka bisa berduaan hahaha. Sukaaa ihh.. Part depan emangnya ending??

    Suka

  2. baeksena

    Ya ampun si kai nggak ngerti” sih sama perasaanya sendiri#pukulkepalakai…selama ini yang ada di pikiran kamu tuh si jisoo jadi dia itu jodoh kamu!! Beneran next chap di protek kak? jangan susah” ya cara dapetin pw nya!! semangat kak!!

    Suka

  3. Ping-balik: LOUDER [Chapter 14/END] – KEIKO SINE

  4. Ping-balik: LOUDER [Chapter 12] – KAI FanFiction Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s