LOUDER [Chapter 7]

louder

KEIKO SINE presents Louder

(Another Story of Shame [Ficlet Series])

School life, Sad-Romance, Bully || PG-17!

Staring: Kim Jong In (EXO)

Ahn Jisoo (OC), Kim Myungsoo (Infinite)

Others.

Cr. Poster by @LUXIE

COPYING AND PLAGIARIZING THIS STORY ARE FORBIDDEN!

***

Dengan sebuah bunyi, pintu terbuka dan Kai menarik sebuah kenop. Berderit seakan-akan memprotes, pintu itu mengayun terbuka untuk menunjukkannya sebuah ruangan berdominasi warna putih. Kai melangkah dan menemukan sebuah lemari besar yang dimaksud si pemilik.

Baju-baju yang masih terbngkus plastik, dan tuxedo elegan. Kai mengambil satu, meletakkannya didepan dada, lalu melihat pantulannya sendiri pada cermin. Ia sempurna.

“Acara makan malam hari ini di Hotel Yupiter, Kai. Jangan sampai terlambat.”

Suara sang ayah terngiang kembali, mengingatkan dirinya dengan seribu pemikiran agar dapat meloloskan diri dari sebuah perjodohan tak jelas yang melibatkannya.

***

Seperti saat-saat tentang sebelum badai beberapa minggu ini, untuk beberapa hari selanjutnya, segalanya berubah tenang. Terlalu tenang, begitu pikir Myungsoo saat ia menyadarai Jisoo tak lagi diganggu oleh Kai dan gerombolannya. Lelaki itu berlari melintasi jalanan di hari minggu pagi. Jarak lima kilometer yang biasa ia tempuh hari ini terasa lebih panjang, napasnya menjadi lebih sulit, walaupun Arin berlari di sisinya dengan mudah.

“Kau jadi lebih lambat, oppa,” Goda Arin. Walaupun gadis itu yakin Myungsoo adalah lelaki manly dan tak takut pada apapun, melihatnya seperti ini membuat Arin sedikit— khawatir. Pasti ada yang mengganggu pikiran sepupunya tersebut, namun Arin tak mau memaksakan untuk bertanya. Ia tahu sebuah nama yang sanggup membuat Myungsoo menjadi seperti ini.

“Tidak juga, coba kejar aku kalau bisa,” menjulurkan lidahnya. Mungsoo berlari di jalan setapak yang berjajar dengan tepian sungai dan mengambil napas dalam-dalam di tengah udara yang pekat dengan aroma embun pagi.

Sekawanan burung camar terbang menghindar saat keduanya berlari melewati mereka, dan Arin, walaupun tampak tak tertarik dengan tantangan sepupunya, sama sekali tidak menjauh dari sisi Myungsoo.

Oppa, apakah Jisoo unni masih terus diganggu Kai dan kawan-kawannya?”

“Ya,” jawab Myungsoo cepat.

“Haishh… kenapa kau tidak membantunya?” Arin menepuk lengan Myungsoo pelan, mendecih kearah lelaki yang lebih tua.

“Aku sudah,” timpal Myungsoo tak terima, “Kau tahu… semalam aku kena tendang lelaki sialan itu karena melindungi Jisoo.”

“Benarkah?”

“Hm. Dan aku takut Sehun juga akan sekasar itu bila bersamamu.”

“Sehun oppa beda,” sangkal Arin cepat. Mereka memang berteman, tapi meskipun begitu, sikap mereka tidak akan sama persis, kan? Setidaknya begitulah pemikiran Arin. Seorang gadis berusia enam belas tahun yang masih labil dan terkesan naif. “Tapi— mengapa Jisoo unni tidak lapor kepada kantor BK sekolah saja? Atau— lapor polisi, dan diliput wartawan. Pasti Kai akan jera.”

Myungsoo mendorong kepala Arin, “Orang waras mana yang bersedia membicarakan masalah memalukan paling pribadi sementara semua orang di Seoul bahkan Korea Selatan akan mendengarkan, hm?”

Oke.

Alasan yang bagus.

Sementara Arin tak sampai memikirkan hal tersebut. Namun ini keterlaluan. Kai bersikap seolah dirinya adalah pemilik mutlak Ahn Jisoo. Siapapun yang membantu Jisoo disaat menjalankan kesusahan yang dibuatnya akan berurusan langsung dengan Kai. Seperti yang dialami Myungsoo saat ini.

.

.

***

Betapa kacaunya! Kai meminum sodanya lalu berjalan menyebrangi ruangan tempat gerombolannya berkumpul. Duduk di atas meja, ia merenggangkan kakinya.

“Kau tahu— yang tadi itu nyaris saja,” ujar Kai dengan penuh penekanan pada setiap kata-katanya.

Lelaki yang berada di tengah-tengah ruangan hanya menundukkan kepalanya. Misinya delam menjalankan tugas dari Kai untuk menyelipkan sebuah USB kecil di tas Jisoo memang bisa dibilang berhasil. Namun lelaki tersebut nyaris saja ketahuan karena ada seorang siswa lain yang memasuki ruang kelas ditengah misi yang ia jalankan.

Mendesah berat, Kai berkata, “Haruskah aku memberikan imbalanmu? Tapi kau hampir gagal tadi— dan kemungkinan besar kau juga akan menyeret namaku jika ketahuan.”

“T-tidak Kai… aku tidak akan membawa-bawa namamu.”

“Ah… kau ini sangat loyal, aku tersentuh.” Ujar Kai dengan nada manja, membuat Sehun yang duduk diatas kursi harus memutar bola matanya jengah.

Menggunakan tangannya untuk membuat gerakan mengipas diri, seakan tiba-tiba tubuhnya terasa panas. Kai turun dari atas meja, merogoh sakunya, “Ini imbalanmu,” ujarnya sambil menyodorkan sebuah smartphone ternama dengan versi terbaru.

Lelaki satunya tak dapat menyembunyikan kesenangan namun hanya tersenyum tipis. Meskipun Kai adalah lelaki kotor dan menjengkelkan, ia akan tetap menepaati janji.

Suara pintu tertutup, meninggalkan Kai dan Sehun berada di ruangan. Sehun menoleh, matanya menatap lurus pada lelaki tan didepannya, “Apa yang barusaja kau lakukan? Hampir gagal— apa?”

Kai hanya tersenyum menjawab pertanyaan yang dilemparkan Sehun bertubi-tubi, “Aku menyuruhnya menyelipkan USB di dalam tas Ahn Jisoo.”

“Astaga.” Sehun membelak tak percaya, “Gadis itu lagi? Aku bertanya-tanya apa kau mulai tertarik padanya?”

“Tidak.” Sebuah penyangkalan yang cepat, “Aku hanya memberinya pelajaran.”

“Apa isi USB itu?”

“Sebuah dokumen— tentang soal ujian akhir kita.”

Dan kini Sehun benar-benar yakin bahwa temannya ini memang sudah tak waras. “Kau gila!” cemoh Sehun dari tempat duduknya. “Kau mencari masalah?”

“Kau pikir dengan mencemohku akan merubah keputusanku?!”

Suasana memanas. Satu hal yang Sehun ketahi adalah— bahwa Kai tidak suka dibantah. Maka yang dapat ia lakukan adalah diam.

..

..

..

Jisoo malu merasakan air matanya yang menggenang. Ini bukan air mata kesedihan, namun air mata frustasi. Ia mengerjap cepat, menghirup udara dan mencoba menenangkan diri.

“Baiklah,” ujar Shin Heera, guru BK tersebut menatap Jisoo tak percaya, “Kita hanya perlu menyimpan kepingan informasi, itu saja.”

“Heera saem, ini tidak bisa dibiarkan— anda lihat… USB itu berada di dalam tasnya, dan apakah hal tersebut terjadi kebetulan saat saya baru mengajar di kelasnya?” guru muda itu mendesah, terlihat urat di pelipisnya saat mengucapkan kalimat tersebut.

“Yixing saem—

“Apakah ini yang anak-anak lakukan pada guru baru? Mengerjai mereka?” Zhang Yixing memotong cepat tanggapan Heera, membuat guru konseling itu mendesah pelan.

“Yixing saem, saya akan berusaha berbicara dengan Jisoo sebentar. Anda boleh keluar.” Sindiran yang kuat, namun dapat membuat guru Zhang bungkam lalu meninggalkan ruangan tersebut.

Berada di ruangan ini lagi, sudah setidaknya dua kali dalam minggu ini. Jisoo tetap diam menunduk setelah kepergian guru baru tersebut, tak ada niatan sedikitpun untuk mengangkat wajah. Karena yang ia takutkan, air mata akan merembes keluar dan ia tak hal ingin itu terjadi.

“Jisoo-ssi,” guru Shin membuka percakapan, “Dengar nak, aku tak akan basa-basi lagi kali ini. Apakah ada yang mengganggu pikiranmu? Berceritalah, luapkan emosimu, memberontaklah jika itu memang diperlukan. Apakah ada yang memaksamu untuk mencuri soal ujian tersebut?”

Jisoo menggigit bibir bawahnya lalu menggeleng, ia bertanya-tanya apakah dirinya harus menceritakan hal-hal menyedihkan yang ia alami selama ini. Namun ketika memikirkan kemungkinan terburuknya, Jisoo memutuskan untuk tetap diam dan hanya terus mencoba meredam kesedihan.

“Lalu mengapa USB tersebut bisa berada di dalam tasmu, hm?”

“S-saya dijebak, saem.” Bibirnya bergetar saat mengucapkan kalimat tersebut.

“Apakah kau punya bukti bila kau memang dijebak?”

Jisoo mengerjapkan matanya lalu menggeleng pelan.

“Jisoo-ssi, peraturan adalah peraturan. Saat ini para guru konseling dan kepala sekolah sedang berunding akan masalah serius ini. Berdoalah jika kepuusan akhir nanti tak sampai mengeluarkanmu dari sekolah ini.”

Jisoo mendongak menatapnya, “Apa?”

“Sekarang kau boleh kembali ke kelas.”

Dengan perlahan Jisoo bergiri, membungkukkan tubuhnya kilas lalu berjalan keluar. Setidaknya air mata sialan ini tidak sampai memaksa untuk keluar. Kalau sampai hal itu terjadi— Jisoo tidak dapat memikirkan hal lain selain comooh dan sindiran dari anak-anak di kelasnya nanti.

Dan ada satu alasan mengapa Jisoo berani mengatakan bahwa ia dijebak.

Hal ini berkaitan dengan satu orang. Jisoo tak dapat memikirkan nama lain selain lelaki itu. Orang yang sama yang selalu mengganggu hari harinya.

.

.

***

Menolak untuk pulang bersama Myungsoo. Ia hanya ingin sendiri. Keluar kelas saat keadaan benar-benar telah sepi. Jisoo hanya tak ingin berpapasan dengan siswa lain, kemudian mengolok dan mencacinya karena masaah USB.

Sudah cukup celotehan anak kelasnya, Jisoo hanya tak ingin mendengar dari siswa kelas lain. Itu terlalu menyakiti hati dan harga dirinya.

Ia melangkahkan kaki di trotoar jalan dengan menunduk dan tangan memegangi ujung tas. Apakah semua anak SMA memiliki masalah sekomplek ini? Ia bertanya dalam hati saat memutuskan untuk berhenti saat melewati sungai Han.

Setibanya di tepi sungai, Jisoo mengangkat tangannya ke udara, untuk sesaat ia hanya ingin merasakan hembusan angin sore. Berjalan ke depan, Jisoo berdiri sedekat mungkin di tepian sungai.

Jisoo melihat ke arah jam tangan yang dipakainya. Ini sudah tak berfungsi. Mendesah lalu mengeluarkan ponselnya, mengecek waktu yang tertera di layar, 15.24.

Duduk di tepi sungai sebentar untuk berpikir, ia tak tahu sistematika kehidupan yang benar itu seperti apa. Yang ia tahu, hidupnya telah kacau dan berantakan.”Aku memang menyedihkan,” ujarnya lirih pada diri sendiri.

Dan tak jauh dari tempat Jisoo duduk, seorang lelaki menatap sendu kearahnya. Salahkan pikiran bodoh dan sikap egois itu. Melihat gadis itu menderita dari hari ke hari kian merengkuh kuat hatinya. Memberontak. Seolah ingin mendekap gadis itu dan mengucapkan kata-kata maaf berulang kali.

Namun Kai, yang telah terjebak dalam permainan yang telah ia buat sendiri— merasa terlalu terlambat untuk melakukan semua hal tersebut.

Awalnya Kai hanya ingin mendapatkan perhatiannya. Mengganggunya dan mengklaim Ahn Jisoo sebagai budaknya, agar tak ada lelaki lain yang mendekati gadis itu. Namun Kai salah. Ia tahu ia salah. Dan ia tak bisa melakukan apa-apa.

Karena ketika Kim Myungsoo datang dan menyelamatkan gadis itu seolah dirinya adalah pangeran berkuda putih— Kai yakin dirinya telah kalah.

Dan perjodohan konyol itu— tuan Kim tidak main-main dengan ucapannya.

Dongwoon pasti telah mengadu pada ayahnya. Anak buah sialan itu— haish… Kai hampir meledak dari tempatnya berdiri. Besok malam adalah acara makan malam dimana kedua belah pihak keluarga bertemu dan membicarakan pertunangannya.

Yoon Jira, gadis manja yang selalu mengikutinya kemanapun ia pergi.

Kai sedikit berpikir, bahkan kekasih Sehun yang masih kelas satu SMA pun masih bisa bersikap lebih dewasa dari gadis yang dijodohkan dengannya itu. Sebenarnya apa yang telah dipikirkan tuan Kim sendiri?

Setidaknya Kai bisa menebak. Apakah itu karena perjanjian bisnis? Seolah investasi besar bagi kedua belah pihak? Dan jawabannya adalah iya.

.

.

-TBC-

Author Note:

Another short update.. maafkan kalau ceritanya tambah gaje hueee 😥 😥

Dan kayaknya FF ini gak lama bakal tamat deh.. kalau gak ada halangan 2 chapter lagi bakalan END. Jadii… buat kalian yang merasa dirinya masih jadi SIDER alias silent reader, mending kalian berpikir dua kali untuk meninggalkan jejak berupa like / comment. Kalau gk mau chapter akhir nanti aku protect.

\galak ye?/ \biarin./ \biar karya gw dihargain/

Tapi apa kamu reader baru? Gak punya akun wordpress? Gak tau caranya komen? Tenang, gak punya akun wordpress pun masih bisa kirim komentar kok.. gak percaya? Yuukk baca disini

[How to Comment]

[How to Comment]

Oke see you~ 😀

Regard.

-KEIKO SINE https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

34 pemikiran pada “LOUDER [Chapter 7]

  1. aisah1994

    Ternyata Kai berbuat kayak gitu karena caper ke Jisoo??? Ga kayak gitu jg kali kalo mo caper buat ngedapetin Jisoo… klo dah kek gini ya susah malah buat Jisoo suka sama Kai… apalagi udah ada MyungSoo

    Suka

  2. baeksena

    Huhuhu…kemarin nggak ada kolom koment nya kak, padahal aku kan pengen jadi first comment?!?! wkwkwk…Si Kai nggak bisa mengekspresikan rasa suka nya ke Jisoo, dia mengekspresikannya debgan cara yang salah. Semoga si Kai cepet bisa merubah cara nya buat cari perhatian ke Jisoo!!

    Suka

  3. Orange

    Ooo..ooo..ooo #nadalagulotto
    2 chapter lagi end kak? Maygat.. 😂😂😂
    Ini kai sama jisoo belum ada manis”nya gitu. Kok udah mau end aja.
    Aaah. Jodohin aja kai sama jisoo bukan sama yoon jira. #ehkokmalahaku yang ngatur
    Aaah molla..manut authornim aja. #apalahdayaku
    Ditunggu next chapter kak.

    Suka

      1. Orange

        Kaya kmren blog nya di passw ya kak?
        #aduh sedih hayati. Hayati tidak bisa masuk kemaren 😭😭😭
        Eeeh..ini iseng” coba masuk lagi ternyata bisa. 😂😂

        Suka

      2. Orange

        Kalau sudah seperti itu aku hanya bisa mendoakan semoga kak nita diberikan kesabaran untuk menghadapi para kaum readers (sepertiku) dengan lapang dada. *play so7-lapang dada* #maafkan kami yang banyak maunya 😭😭😭
        #pelukerat #pukpuk
        Dari komentar di bawah aku jg langsung refleksi diri aja. Lebih hati-hati lagi kalau mau komentar, supaya ga nyakitin hati penulis. Oke, sebagai pembelajaran supaya kedepannya lebih berhati” lagi dalam berlisan dan bertulis. 😄😄
        Semangat kak. Jangan patah semangat.
        G double O D J O B … Good joooooob good job… Good joooob good job. #sedikit menggila

        Suka

  4. Qka

    Aduh kai..kai.. Ternyata dari awalnya kai uda suka sama jisoo.. Kai-nya gengsi gitu kalo nyatain lgsg?? Hahahaha.. Kan kasian jisoo nyaaa.. Traumanya yg jisoo dapetin dr perlakuannya kai kan dampaknya??? Ya ampun.. Apalagi 1 sekolah ngejelekin jisoo.. Kai nih ih..

    Suka

  5. leli

    Kenapa sih kai gengsi banget. Suka ya suka aja. Bilang kek. Jangan malah nge bully2 gitu.
    Eh tapi kalo gak ada bumbu2 bully nya gaada cerita ya kan kak wkwkwk

    Suka

  6. Ping-balik: LOUDER [Chapter 14/END] – KEIKO SINE

  7. Ping-balik: LOUDER [Chapter 12] – KAI FanFiction Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s