LOUDER [ Chapter 6]

louder-morschek961

KEIKO SINE presents Louder

(Another Story of Shame [Ficlet Series])

School life, Sad-Romance, Bully || PG-17!

Staring:

Kim Jong In (EXO)

Ahn Jisoo (OC), Kim Myungsoo (Infinite)

Others.

Cr. Poster by @LUXIE

COPYING AND PLAGIARIZING THIS STORY ARE FORBIDDEN!

PREVIOUS: [Prolog][Chapter1][Chapter2][Chater 3][Chapter4][Chapter5]

“Apakah ada seseorang yang pernah mengatakan kau terlalu mencemaskan sesuatu?”

“Hanya kau.”

***

Kai memandang ke dalam kegelapan. Roda dari mobil Jazz berdesis bergesekan dengan aspal yang licin, dan wipernya bekerja keras untuk melawan hujan deras saat berkendara melintasi jalan raya menuju Club tujuannya. Menyalakan radio dan secara kebetulan lagu lama milik Jonny Cash terputar di tengah malam ini.

“Tidak malam ini.” Kai berkata diantara tarikan napasnya. Entah mengapa hatinya berkecamuk saat memutuskan untuk kembali ke tempat laknat tersebut. Tidak biasanya Kai bersikap seperti ini. Seperti bukan dirinya, Kai tak dapat mengendalikan perasaannya sendiri.

Kai membiarkan untuk semua pikirannya berlalu saat ia memutar balikkan mobil. Masih terus melanjutkan perlawanannya. Hingga panggilan itu berdering tak lama setelah Kai memutuskan untuk berbalik pulang, “Apa lagi sekarang?” suaranya teredam derasnya hujan.

“Kai, kau telat lima belas menit, kau tidak jadi datang?” suara Tao terdengar serak pada sambungan telepon yang buruk.

Kai mematikan radio, lalu membelokkan mobilnya melewati arah panah menuju jalan Apegujoung. “Aku? Kau tahu— aku sedang tak enak badan,” ucapnya sambil melemparkan sedikit kekehan pada kalimatnya, tapi guyonannya terasa hambar. Tak ada diantara mereka berdua yang tersenyum ikhlas.

“Baiklah.”

#Pip

Membanting ponselnya ke tempat duduk samping ketika menyadari Tao telah mematikan sambungan secara sepihak. Kai mendesah pelan, apa yang sebenarnya diinginkan hatinya?

.

.

***

Di dalam perpustakaan yang sepi, keduanya hanyut dalam pemikiran masing-masing. Suara kertas yang dilipat dan klik pada bolpoin menghiasi kegiatan mereka.

“Kurasa aku sudah menemukan refrensi yang tepat dengan pelajaran kita,” ujar Myungsoo disela kegiatannya membaca buku terjemahan tebal karya L. Klinton.

“Benarkah?” Jisoo menarik kursinya mendekat Myungsoo, “Wah, foto kopikan aku juga.” Ujarnya bersemangat. Wajahnya berseri dan kelopak matanya lebih bersih dari hari-hari biasanya.

Memandangnya seolah dapat membuat Myungsoo melihat semburat awan jingga di sore hari. Sangat indah.

“Baiklah… Tapi berkencanlah dulu denganku.”

Debaran jantung, desir darahnya, Jisoo merasa bahwa napasnya tercekat, “Apa?” tanyanya spontan.

Myungsoo terkekeh menampilkan gigi rapinya. “Ku jemput pukul tujuh malam ini, oke?”

“Myungsoo-ya?!” Jisoo menaikkan nada suaranya.

Sontak si lelaki menempelkan ujung jari di depan bibirnya, ber-hush ria, “Bukankah kita perlu hiburan disela semua tugas dan ujian yang akan datang ini, hm?” Myungsoo menutup bukunya, beberapa buku lain yang tidak masuk dalam referensinya ia kembalikan ke rak semula. Sedangkan Jisoo hanya bisa berjalan mengekor di belakang lelaki tampan tersebut.

“Malam ini?” ulang Jisoo sekali lagi, memastikan bahwa dirinya tak memiliki gangguan telinga.

“Yes. So dress nicely.”

Sebuah kencan? Kata tabu yang tak pernah terdaftar dalam kamus kehidupannya. Jisoo menghentikan langkahnya di depan sebuah rak yang berisikan buku-buku tebal Prancis. Ia merasakan wajahnya memanas dan pasti pipinya sudah semerah tomat. Oh, haruskah?

..

..

..

Musim semi di kota Seoul, dan Han-gang adalah tujuan mereka. Semilir angin berdesir, menerbangkan beberapa surai cokelat Jisoo, dan dengan cepat ia menyelipkan ke belakang telinga.

Mereka berhenti di depan jalan setapak, menautkan jemari yang menggigil indah. Desiran darah dan hembusan napas. Jisoo menyukainya.

“Ikut aku, aku tahu tempat yang bagus untuk melihat pertunjukan kembang api nanti.” Memimpin jalan, Myungsoo berada beberapa langkah dari Jisoo namun gadis itu berhasil mengimbanginya.

“Apakah kita harus naik kesana?” Menunjuk sebuah rooftop yang berada di sebuah bangunan tua.

Kekehan kecil berasal dari bibir Myungsoo terdengar menggelitik telinga Jisoo, “Bingo!” ujar lelaki itu semangat.

Jisoo mengencangkan jacketnya saat Myungsoo memutar kenop, membuka pintu ganda yang terpasang di bangunan tersebut. Ia mulai bertanya-tanya apakah Myungsoo sama waras dengannya, namun lelaki itu seolah mengetahui sesuatu yang lain, yang tak diketahui oleh Jisoo— dan itu indah.

Menaiki tangga yang telah usang dan kayunya terlihat rapuh, namun tak ada niatan sedikitpun bagi Jisoo untuk berbalik meninggalkan tempat tersebut.

“Jangan takut.” Suaranya merdu seperti nyanyian malaikat untuknya. Jisoo mengangguk pelan namun masih bisa dirasakan oleh Myungsoo.

Dan didepan, sebuah pintu berpalang menjadi tujuan akhir mereka menaiki bangunan dengan empat lantai tersebut. Myungsoo meletakan palang kayu yang digunakan untuk menutup pintu tersebut ke arah samping.

#Darr

Kerlipan cahaya dari kembang api menghiasi langit malam tanpa bintang yang tersuguh di hadapannya. Jisoo hanya bisa menghembuskan napasnya pelan, ini terlalu indah untuk dilewatkan, maka Jisoo memutuskan untuk tak mengedipkan kelopak matanya barang sedetikpun.

Berjalan ke arah pagar pembatas, Jisoo meletakkan tangannya di pagar besi yang telah berdebu. Gadis itu mendongak dengan senyum tipis menghiasi bibirnya.

“Kau sudah mengucapkan pengharapan?”

Jisoo menoleh ke arah Myungsoo yang masih mendongak ke atas, “Kau kira sedang ada bintang jatuh?” cemoh Jisoo pada kalimatnya.

“Ini hari terakhir di musim semi, bodoh.” Myungsoo menyenggol lengan kanan Jisoo lalu melanjutkan, “Ucapkanlah harapanmu di hari pertama musim panas ini.” Myungsoo melirik ke arah jam tangan yang ia pakai. Pukul 12.02 KST, menjadi hari pertama untuk musim panas. Dan ia disini— dengan seorang gadis lemah nan misterius disaat yang bersamaan… yang telah merebut hatinya.

“Bagaimana kau bisa mengetahui tempat seperti ini?” tanya Jisoo, matanya merewang lurus ke depan. Melihat orang-orang yang telah berkumpul di tepi sungai Han untuk melihat pertunjukan kembang api.

“Aku sudah terbiasa kemari.” Jawab Myungsoo enteng.

“Benarkah?”

“Hm.”

.

.

***

Kai tak tahu apa yang salah pada dirinya, namun yang ia sadari— melihat alat bully-annya sedang bercengkerama dengan orang lain membuatnya semakin murka. Membanting setir saat berbelok di perempatan, Kai melajukan mobilnya lebih cepat dari yang tadi.

Tak salah lagi— Ahn Jisoo, berada di mobil yang sama dengan anak baru sialan yang sok tampan itu. Bagaimana ia bisa lengah? Bagaimana ia bisa membiarkan hal ini terjadi? Jisoo adalah budaknya, his fucking slave.

Tepat. Setelah Kai mematikan mesin, kedua orang yang diincarnya sedang turun dari dalam mobil putih Myungsoo.

Kai menyeringai licik, dengan cepat ia menghidupkan mesin mobilnya kembali dan menjalankannya ke arah Jisoo dan Myungsoo berada. Lampu sorotnya berhadapan lurus dengan kedua manusia yang sedang menutupi matanya masing-masing karena silau.

Myungsoo mengerang palan, menebak-nebak bajingan mana yang dengan berani mengarahkan lampu sorot padanya. Berjalan mendekat, Myungsoo menggedor kaca mobil Kai dengan kencang dan tak sabaran.

Dengan perlahan Kai menurunkan kaca mobilnya, seringai puas terukir di wajah tampan lelaki itu. “Hai… kau anak baru, ‘kan?” sapanya sok akrab.

Tak ingin kalah, Myungsoo juga mengeluarkan seringainya, “Oh… dan kau si lelaki pengganggu itu, ‘kan?”

Jawaban Myungsoo jelas membuat amarah Kai semakin berkecamuk. Dengan cepat Kai membuka pintu mobilnya lalu menendang perut Myungsoo dengan keras.

Suara debaman dan pekikan membuyarkan lamunan Jisoo. Gadis itu berlari menuju samping mobil merah yang ia ketahui dan sangat hapal bahwa itu adalah milik Kai.

“Myungsoo—

“Brengsek! Apa maumu?” ujar Myungsoo disela napasnya yang putus-putus. Matanya memancarkan kemarahan. Ia sama sekali tidak takut pada Kai. Lelaki manja yang sombong.

“Aku?” ujarnya sambil tertawa remeh, “Aku hanya ingin datang dan mengucapkan selamat malam pada slave-ku. Aku ingin berkata selamat bertemu di sekolah besok pagi, dan kau menghalangi jalanku.” Sambung Kai lalu mengerling genit pada Jisoo yang tengah membantu Myungsoo berdiri.

Dan tanpa sepatah katapun, Kai meninggalkan keduanya di tengah jalan yang sepi. Rasanya takkan ada kenyamanan dan keindahan di dunia ini jika Kai masih hidup dan mengganggu mereka.

Namun Jisoo menyadari sesatu— hanya sekelibat mata. Tatapan Kai, tak seperti lelaki itu biasanya. Bukan hanya kemarahan dan kelicikan yang terpancar disana— juga kekecewaan.

Wajahnya terlihat putus asa namun masih ia paksakan untuk berteriak dan tersenyum licik. Dan entah mengapa— hal tersebut sedikit mengganggu pikiran Jisoo.

.

.

-TBC-

Author Note:

Annyeong.. haii chpter 6 udah terbit nih wkwkw pendek yah? Maapkan. *sungkem* Jangan bully gw. Soalnya bingung ini mau memutar balikkan perasaan Kainya kayak gimana wkwkwk.. \kebanyakan ketawa si author/ \biarin :P/

Oh ya ada yang tau gk nanti akhirnya Jisoo bakal milih siapa antara Myungsoo & Kai? Kai & Myungsoo? Gw masih bingung siih nentuin endingnya.

Coba kalian vote yak 😀 hueheh

Jangan lupa comment & like. jadilah reader yg baik, ok? NO SIDERS!

Regard.

KEIKO SINE https://keikosine.wordpress.com

Iklan

28 thoughts on “LOUDER [ Chapter 6]

  1. Yeah.. Akhirnya update juga. 🎊🎉🎋🎆🎆🎇
    Udaaah. Sama myungsoo aja kak. Biar kai menyesal untuk yang ke dua kali nya. Kalau gak sama chanyeol ajaaa…
    😂😂😂😂😂
    Maafin aku kak, kadang aku emang suka begok 😂😂😂
    #jandanyasehun

    Suka

  2. Yeaaaah…. Update sudah.. 🎆🎆🎆🎊🎉🎋🎇
    Jisoo sama myungsoo aja kak. Biar bang Kai nya nyesel (lagi) 😂😂😂
    Kalau ga sama chanyeol aja. Kejutan gitu, jodoh siapa tau. #eeeh
    Maafin aim, aim emang kadang vego 😂😂😂
    Semangat kak. Jangan biarkan semangat mu berkarya luntur gara” siders. Fighting.
    #jandanyasehun

    Suka

  3. Ping-balik: LOUDER [Chapter 14/END] – KEIKO SINE

  4. Ping-balik: LOUDER [Chapter 12] – KAI FanFiction Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s