Be With You [Chapter 8/END]

be-with-you

Keiko Sine presents Be With You

Romance, Life, Little Bit Sad || General / Teen

Im Yoona, Lu Han

Cho Kyuhyun, Oh Sehun, Jung Sena (OC), and Others

Cr. poster by Kryzelnut  @CafePoster

PRE : [chp1][chp2][chp3][chp4][chp5][chp6][chp7]

***

Ruangan bercat putih dan terasa dingin. Suara kertas dilipat dan jari mengetik pada keyboard komputer menghiasi kegiatan Yoona di hari pertamanya bekerja di kantor Hotel bintang lima ini.

Berbekal pelajaran kuliah yang telah ia pelajari selama empat tahun itu, kini Yoona telah berada di masa-masa pencapaiannya. Wanita itu tak dapat menyembunyikan senyum sejak ia memasuki ruangan itu.

Tiga teman yang masuk di hari yang sama dengannya juga bersikap baik. Sungguh, tak ada yang lebih baik dari semua ini.

“Yoona-ssi, aku akan ke bawah untuk mengambilkan minum tamu kita. Kau mau kubawakan kopi juga?” tanya Sooyeon, wanita manja itu ternyata sangat perhatian dengan temannya yang lain. Mempunyai seorang kakak yang menjadi seniornya tak membuat Sooyeon menjadi angkuh, namun ia malah bersikap baik kepada semua temannya.

“Ah bolehkah?” tanya Yoona senang, Sooyeon mengangguk menjawabnya. “Kalau begitu bawakan aku Capuccino saja, ne?”

Sooyeon tersenyum lalu mengangguk pelan.

Waktu istirahat makan siang masih satu jam lagi, tapi— begitulah santainya Sooyeon untuk membawa keluar masuk makanan di kantor padahal belum waktunya mereka untuk makan.

Kembali berkutat pada layar komputernya. Beberapa jadwal seperti rapat antar pimpinan direksi dan acara lain menjadi tanggung jawab Yoona untuk mengaturnya. Sedangkan atasannya Manager Jung Yunho itu hanya perlu mempersiapkan diri saja.

Ternyata pekerjaan ini lebih mudah dari yang Yoona bayangkan. Tapi— ia belum sampai pada hal yang tunggu-saja-nantinya.

Yoona menekan tanda close di layar computer lalu menyandarkan punggungnya di kursi. Otot-otot pundak, lengan, dan jari itu layaknya mesin tanpa oli, rasanya sangat kaku jika digerakkan. Jadi ia memutuskan ntuk beristirahat sebentar dan member napas bagi tubuhnya.

Tak beberapa lama kemdian Sooyeon datang sambil membawa dua cup kopi. “Ini untukmu.”

Yoona membalikkan badan lalu mengambil cup styrofoam itu dari tangan Sooyeon, “Gomawo.”

Namun melihat Sooyeon tak langsung pergi saat memberikan kopi itu membuat Yoona bertanya-tanya, “Yak, ada apa denganmu?”

Sooyeon mengedipkan matanya dua kali sebelum menjawab, “Kurasa aku baru saja melihaat seorang pangeran.” Ucapnya dengan pandangan kosong. Membuat Yoona harus menahan tawa.

“Apa yang kau bicarakan?” ujar Yoona sambil meletakkan tangan didepan bibirnya. Siap menahan ledakan tawa yang bisa keluar kapan saja.

“Salah satu investor Hotel kita— dia ugh… bagaimana aku harus mendiskripsikannya? Tampan, tapi disisi lain juga terlihat feminine. Tapi— aku harus cepat menelan ludah saat melihatnya berjalan sambil bergandengan dengan wanita lain.” Sambungnya sambil menekuk wajah.

Yoona terkekeh, mengelus rambut Sooyeon yang tergerai sebahu, “Jadi— kau baru saja patah hati, huh?”

“Yak, jangan bilang begitu.” Sooyeon menyingkirkan tangan Yoona, “Aku yakin kau juga akan bersikap sama jika melihat lelaki tadi.”

“Ah benarkah? Aku jadi penasaran.”

#tuuttt tuuuttt

Sebuah telepon kantor berwarna putih itu berbunyi dan secepat mungkin Yoona berdehem sebentar lalu mengangkatnya.

“Yeobosseyo.” Ucapnya setelah meletakkan telepon di telinga kanan. Sedangkan Sooyeon telah kembali ke meja kerjanya saat Yoona mengangkat telepon.

“Yoona-ssi, bawakan map berwarna kuning untuk prosentase Hotel kita bulan ini. Aku ada di ruangan rapat.”

“Baik Manager Jung.”

Yoona bergegas mengambil map yang dimaksud atasannya itu lalu berjalan ke ruang rapat. Ia berbalik di sebuah koridor lalu berhenti di depan ruangan bertuliskan ‘Meeting Room’.

Yoona mengetuk pintu lalu membukanya, berjalan masuk dan sontak semua pasang mata yang berada di ruangan itu tertuju padanya.

“Permisi.” Dia mendekati Manager Yunho yang duduk di seberang meja kemudian memberikan mapnya.

Saat Yoona berbalik, ia yakin bahwa napasnya hilang sejenak.

Sosok yang duduk di sana. Dengan setelan abu-abu yang elegan—

Tidak mungkin, ‘kan?

Yoona berkedip beberapa kali sambil menstabilkan deru napasnya. Pupil matanya membesar saat ia melihat lebih dalam ke sosok itu. Benarkah itu— Luhan?

Yoona menghembuskan napasnya kasar setelah sampai di luar ruangan. Dia menepuk pipinya beberapa kali untuk mengembalikan kesadaran. Yoona tidak mimpi, ‘kan? Benarkan yang tadi itu Luhan?

Tapi— lelaki itu sama sekali tidak menoleh ataupun melirik padanya. Apakah Luhan tidak mengenalinya? Atau apakah yang tadi itu hanyalah orang yang mirip dengan Luhan?

Yoona tidak berani bersumpah kalau pria tadi itu adalah Luhan. Lelaki yang telah menjanjikannya perpisahan selama setahun, namun tak pernah muncul lagi hingga dua tahun.

Tapi… Benarkah?

Dengan perasaan campur aduk, Yoona kembali ke meja kerjanya. Beberapa temannya yang melihat ekspresi kosong Yoona juga mulai bertanya-tanya, namun mereka masih enggan untuk berbicara langsung dengannya.

Dia duduk di kursi lalu menenggelamkan wajahnya di kedua tangan. Bukankah ini menyedihkan? Mengapa semua ini harus terjadi di hari pertamanya bekerja?

.

.

***

Hampir pukul empat sore, belum terlalu larut tapi keadaan langit sudah gelap karena tertutup awan mendung. Pekerjaannya untuk menyalin jadwal pada mesin Excel ini pun belum selesai. Yoona mendengus samar saat melihat rekan kerjanya telah menata tas masing-masing dan bersiap untuk pulang.

“Yoong,” Yoona berbalik saat mendengar suara Sooyeon memanggil namanya, “Kau tidak pulang?”

Sebisa mungkin Yoona terlihat tenang dan memaksakan senyum, “Ah pekerjaanku belum selesai, kau duluan saja.”

Sooyeon menganggukkan kepalanya paham, “Baiklah kalau begitu. Aku duluan, eh Yoon jangan terlalu larut, kurasa sebentar lagi akan turun hujan.”

Yoona melemparkan pandangannya ke luar jendela, “Hm… gomawo.”

Sepeninggal Sooyeon, hanya Yoonalah satu-satunya orang yang ada di ruangan ini. Dia sendiri, dengan sudut-sudut sepi— menambah kesan paranoid saja.

Yoona melirik ke arah jam dinding lagi. Oh tidak, ini sudah jam empat lewat. Dan sudah bias dipastikan kalau ia ketinggalan bus. Sedangkan bus yang sama akan kembali lewat dua jam dari sekarang.

Jadi tidak ada cara lain selain beralan kaki.

Pukul 16.17 KST saat Yoona keluar dari kantor Hotel. Dan benar saja, ini sudah mulai gerimis walaupun tidak terlalu deras. Jadi Yoona putuskan untuk berjalan kaki saja.

Tapi—

Setiap ia melangkah ia juga merasakan guyuran air yang turun semakin deras pula. Beberapa orang berlarian membawa payung, ada pula yang berteduh di depan sebuah toko. Yoona yang kini berjalan di trotoar jalan pun harus berlari lurus hingga sampai di halte bus.

Yoona menggosokkan tangan ke badannya sendiri. Sebagian bajunya telah basah dan angin yang berhembus kencang ini semakin membuatnya kedinginan saja. Hujan yang deras membuat jalanan menjadi semakin sepi, juga hanya ada dirinya sendiri di halte ini.

Oh ayolah. Yoona sudah ketinggalan bus, dan haruskah ia menunggu dua jam lagi karena tidak bisa berjalan kaki pulang karena hujan? Dia mendengus, kesialan macam apa ini.

Hingga Yoona memutuskan untuk pulang naik Taxi saja, tapi— sudah hampir tiga puluh menit ia berdiri di sini dan menunggu, tak ada satu Taxi pun yang lewat. Dan setelah tia puluh menit itu pula, hujan berangsur berhenti. Tapi masih ada gerimis kecil yang masih setia menemani.

Akhirnya Yoona memberanikan diri untuk menerobos hujan. Bukan hujan namanya kalau seperti ini, tapi hanya gerimis yang turun secara cepat. Begitulah. Langit telah benar-benar gelap saat Yoona memutuskan untuk berjalan kaki pulang.

Lampu taman dan beberapa kedai mulai dnyalakan saat senja kembali berpulang. Yoona menunduk memperhatikan ujung sepatunya yang bergesekan dengan aspal dingin. Hembusan napasnya juga mengeluarkan napas.

Dan saat Yoona akan menyebrang di depan lampu merah, sebuah mobil berhenti di sampingnya. Sontak Yoona menoleh untuk melihat si pemilik mobil.

“Kau kedinginan?” ucap orang itu.

Sontak Yoona membelakkan matanya. Darahnya terasa mendidih dan pikirannya berpacu kesana kemari. Ia kalap, Yoona membuka mulut hendak mengucakan sesuatu namun yang dapat keluar hanyalah udara kosong yang tak berarti.

“Lama tak bertemu.”

Dan ketika sosok itu membuka pintu mobilnya untuk bergerak mendekat, secara naluriah Yoona melangkah ke belakang.

“Jangan dekati aku.” Ucapnya dengan nada panik. “Apakah ini mimpi? Tidak, ‘kan?” ucapnya pada diri sendiri namun masih bisa didengar oleh si pria di depannya.

Pria itu semakin berjalan mendekat, kini mendaratkan tangannya di bahu Yoona, “Kau tidak sedang bermimpi, ini aku.” Ucapnya lagi.

Yoona memperhatikan lelaki yang berdiri di depannya. Wajah itu, setelan tuxedonya, dan mobil Alpard putih— jadi selama ini, benarkah?

“Luhan?” ucap Yoona pelan nyaris mencicit. Dia ingat setelan baju abu-abu itu diruang rapat siang lalu. Dan mobil mewah yang melintas di hadapannya beberapa hari yang lalu— jadi benar itu adalah Luhan.

Luhan tersenyum lalu mengangguk, “Ya, ini aku.” Ujarnya lalu membawa Yoona ke dalam pelukannya. Wanita yang telah dua tahun ini ia rindukan. Membawa tubuh yang meringkih kedinginan itu ke dalam pelukan seorang Xiao Luhan.

“Yak, sebentar.” Namun secara sepihak Yoona melepas pelukan keduanya. Matanya terlihat memerah dibalik rintik hujan yang tak kunjung berhenti. “Jadi kau benar Luhan? Lelaki di ruang rapat itu benar kau?” dia bertanya penuh selidik.

Sedangkan Luhan tak menjawab hanya menganggukkan kepalanya pelan.

“Kenapa kau tidak memanggilku? Ku kira kau melupakanku. Ku kira itu bukan kau.” Yoona mengusap wajahnya frustasi, “Yak, bagaimana kau bisa sesantai itu bilang ‘lama tidak bertemu’ setelah meninggalkanku selama dua tahun, huh? Aku marah. Ak marah padamu Lu— kau bilang hanya untuk setahun. Tapi—

Yoona tersengal, ia tak mampu melanjutkan kalimatnya sendiri. Wajahnya telah berubah pucat pasi. Bibirnya bergetar disela deru napasnya yang memburu.

“Maafkan aku karena pergi lebih lama dari yang ku janjikan. Aku juga merindukanmu, merindukan Sehun… tapi— kau lihat? Aku sekarang sudah pulang. Jadi bisakah kau lupakan masa lalu dan hanya lihatlah aku untuk saat ini?” ujarnya penuh permohonan.

Jujur saja Yoona juga tidak bisa menahan raut wajah senangnya. Ia merasa lega. Setidaknya— selama penantian ini, ia mendapatkan lagi apa yang memang menjadi miliknya.

Yoona menarik lengan Luhan lalu dengan cepat mendaratkan tubuhnya di dada Luhan. “Aku benar-benar merindukanmu, bodoh.” Ucapnya samar karena teredam dada Luhan.

Sedangkan Luhan tersenyum dibalik puncak kepala Yoona. Ia menciumnya sebentar lalu menegakkan tubuh Yoona. “Mau kuantar pulang?”

“Hm.” Yoona mengangguk mantap.

Jadi— seperti inilah pertemuan mereka. Semula Yoona merasakan takut luar biasa jika sosok yang berada di hadapannya ini akan benar-benar meninggalkannya. Tapi sebuah tangan hangat yang ia rindukan tiba-tiba meraih tangannya, meyakinkan untuk menemani.

Yang bisa Yoona lakukan hanyalah bergerak ke masa depan. Bayangan gelap tak berbentuk sedang menanti. Mengharapkan cara untuk mengisi lembaran-lembaran kosong dan kunci hidup yang tersisa.

.

.

-END-

Author Note:

Okehh jadi beginilah akhirnya wkwkwk.. 😀 soalnya aku bingung mau digimanain lagi ini FF.

Dan bagi kalian yg gak begitu suka sama pair LuYoon, tenang aja, aku udah nyiapin FF terbaru kok, judulnya Devotion. Pairingnya Yoona-Donghae. 😀 hahah buat shipper-shipper di luar sana, tungguin yah. Genrenya Marriage-life, agak ada sedikit kriminal-kriminal gitu deh.. doain aja nggk gaje yah ceritanya wkwkwk.

Ok see you in my other FFs. Love u all~ :-*

Regard.

KEIKO SINE https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

5 thoughts on “Be With You [Chapter 8/END]

  1. Ping-balik: Be With You [Chapter 8/END | Im Yoona Fiction

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s