LOUDER [Chapter 5]

louder-morschek961

KEIKO SINE presents Louder

(Another Story of Shame [Ficlet Series])
[Shame] – [Ain’t That Bad] – [Rumor] –[Night Changed] – [Unbelievable] – [Retaliation]

School life, Sad-Romance, Bully || PG-17!

Staring:

Kim Jong In (EXO)

Ahn Jisoo (OC), Kim Myungsoo (Infinite)

Others.

Cr. Poster by @LUXIE

COPYING AND PLAGIARIZING THIS STORY ARE FORBIDDEN!

PREVIOUS: [Prolog][Chapter1][Chapter2][Chapter 3][Chapter4]

“—because the night right before the dawn is the darkest.”

***

Kemarahan berkilat di dalam mata Kai yang gelap, dan kehangatan di sebuah ruangan itu terasa berkurang sepuluh derajat. “Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak membuntutiku,” ucapnya, giginya terkatup rapat, kemarahan menjalar di wajahnya dan secara tiba-tiba ia berjalan mendekati Dongwoon untuk berbisik, “Katakan pada ayahku kalau aku bisa menjaga diriku dengan baik disini.” desisnya. Menyala-nyala. Tangannya menggenggam pundak lelaki itu semakin erat.

Sekarang pertanyaannya, mengapa Kai melarikan diri dari ayahnya sendiri? Karena dia tidak mau diatur, karena ia telah lelah dengan strktur harafiah keluarga ini, atau— karena ia akan dijodohkan?

Setidaknya seuma itu adalah alasan yang membuat Kai menjadi sosok yang seperti sekarang ini. Angkuh, tidak mau diatur, dan pemberontak.

Kai melepaskan tangannya kasar, melirik ke arah pintu sekilas sebagai isyarat bagi anak buah ayahnya itu untuk pergi. Meninggalkan apartment yang sudah dianggapnya sebagai istana.

Sedikit melirik ke belakang, tentang pertanyaan Tao ‘apakah kau telah membunuh Jisoo?’ terus terngiang di pikirannya sampai Kai melihat dengan mata dan kepalanya sendiri bahwa gadis itu— baik-baik saja. Melihatnya berjalan dengan menunduk di koridor sekolah seperti yang biasa gadis itu lakukan.

Apakah Tao benar-benar berpikir bahwa lelaki ini sanggup membunuh gadis yang menurut sumpahnya sangat menyebalkan? Sosok yang sangat lemah namun terus memutuskan untuk mengangkat dagunya. Kai mendecih pelan.

Setidaknya tidak— tidak untuk saat ini.

Permainan akan segera dimulai.

***

Kim Kai tidak pernah dikenal karena kesabarannya.

Untuk pemikiran cepat, mungkin. Untuk wajah tampannya, tentu saja. Dan kemampuannya untuk keluar dari masalah walaupun ia sebenarnya sedang terjebak tepat di tengah-tengahnya— itu adalah hal pasti.

Tapi tidak untuk kesabaran. Dan sekarang, berdiri memandangi puluhan siswa yang berebut didepan mading sekolah, membuatnya tersenyum puas.

“Benarkah ini Ahn Jisoo? Dia pasti sedang sangat kesusahan hingga rela menjual tubuhnya seperti ini.”

Sebuah gambar menampilkan foto dan nomor telepon Jisoo terpampang disana. Dengan huruf besar bertuliskan, ‘APAPUN GAYAMU, AKU SIAP MELAYANI.’

Membacanya saja sudah membuat beberapa siswi ingin muntah.

Namun tidak untuk siswa lelaki yang jahil ataupun berpikiran mesum; mereka akan dengan cepat mengetik pesan pada nomor tersebut.

***

Jisoo sedikit membelakkan matanya ketika ia menemukan secarik kertas bergambarkan tengkorak berada di lockernya. Ini berarti perang.

Gadis itu tidak dapat memikirkan nama lain yang akan melakukan hal ini padanya kecuali satu— iblis yang sama, yang telah membuat tubuhnya remuk dan kakinya hampir patah. “Kim Kai.” Desisnya pelan nyaris berbisik.

Jisoo mulai menggerakkan tungkainya menuju ruang kelas, dan entah mengapa semakin ia melangkah semakin ia merasa tengah diikuti. Membuntutinya. Bersiap untuk menyerang. Dan Jisoo berharap ini hanya paranoidnya saja.

Berbelok ketika menemukan kelasnya, Jisoo datang dan sontak semua pasang mata tertuju padanya. Biasanya Jisoo akan tahan dan mengabaikan mereka semua, namun ia tak dapat menahan helaan napasnya ketika menyadari bahwa bangkunya menghilang.

Jisoo mengedarkan pandangannya, menatap satu per satu wajah yang tengah mencemohnya dengan tak berdosa itu.

Semuanya meliriknya sinis, beberapa berbisik, dan beberapa tertawa melihatnya.

“Kami telah memindahkan bangkumu ke tempat yang lebih baik, tengah lapangan.” Tunjuk seorang gadis ke luar jendela, dimana bangkunya berada dan itu memang di tengah lapangan.

Tak ada yang bisa ia perbuat selain mengambilnya langsung karena pelajaran akan dimulai beberapa menit lagi.

..

..

..

Mengelap keringatnya, Jisoo dengan sekuat tenaga menyeret meja dan kursi itu bersamaan. Ia tahu bahwa dirinya telah telat memasuki ruang kelas karena bell telah berbunyi saat ia sampai di lapangan tadi.

#tok..tok..tokk..

Membuka pintu, lalu menyembulkan kepalanya. Jisoo telah disambut oleh wajah tak mengenakkan milik Jang Songsaenim.

“Annyeong, saem. Maaf saya terlambat.” Ucapnya sambil menunduk.

“Ahn Jisoo, tidak biasanya kamu terlambat,” ucap guru itu singkat sambil kembali membuka bukunya., ‘ya sudah duduklah.”

Jisoo menata kursinya di belakang ruangan. Nampaknya ia baru menyadari bahwa meja Myungsoo sedang kosong. Apakah lelaki ini tidak masuk?

“Baiklah, untuk ujian semester bulan depan yang akan datang, kalian bisa mempelajari bab enam sampai sembilan. Jika ada kesulitan kalian bisa bertanya langsung kepada bapak ataupun meminta bantuan kepada teman kalian.”

Dan sepertinya akhir dari masa-masa kelas dua di SMA Sekang akan segera berakhir. Jisoo hanya perlu fokus untuk tahun akhir sekolah, mengikuti ujian akhir, dan memasuki perguruan tinggi. Mudah bukan?

Setidaknya itu akan menjadi hal yang menyenangkan bagi remaja seuisanya, namun entah mengapa Jisoo tak menyukai kehidupannya sendiri.

Yang telah berantakan dan porak poranda hanya karena satu orang.

.

.

***

“Jisoo-ssi, kau dipanggil Heera saem.” Lelaki tinggi berkaca mata yakni ketua kelasnya berbicara dengan nada ramah yang dipaksakan. Sesekali lelaki itu melirik kearah belakang, beberapa temannya yang tengah menunggu dan menyemangatinya melakukan ‘sesuatu’ yang berbahaya. Yakni berbicara dengan Jisoo.

Jisoo mengangguk pelan lalu menggerakkan tungkainya menjauh. Ia masih tak mengerti dengan sikap anak-anak hari ini kepadanya. Apakah ini sudah termasuk bagian dari ‘perang’ yang dimaksudkan?

Memutar kenop pintu dan menghela napas. Jisoo sendiri bertanya-tanya mengapa harus ditakdirkan mengikuti garis genre kehidupan yang seperti ini.

“Nona Ahn, duduklah.” Sapa guru muda tersebut.

Jisoo memaksakan senyum lalu mengambil tempat duduk berhadapan dengan Shin Heera.

“Jisoo-ssi, apa kabarmu, nak?” Pertanyaan basa-basi seperti ini sedikit membuat Jisoo bosan. Tidak bisakah semua orang mengerti dirinya dan mengatakan secara langsung apa yang ingin mereka katakana.

“Baik saem.” Jawabnya singkat.

Didalam ruangan yang tak terlalu besar dan sebagian banyak berwarna putih ini membuat Jisoo tak nyaman, bahkan di kali keberapanya menginjakkan kaki disini.

“Tidak… Ibu hanya berpikir bahwa kau sedang ada masalah, jika kau butuh konselor atau teman curhat, Ibu siap mendengarkanmu, nak.”

Tidak!

Tidak ada yang bisa membantuku bahkan kau seorang pendeta sekalipun.

“Eungg… saya baik-baik saja, saem.”

“Ah benarkah? Lalu jika kau merasa tertekan karena poster-poster di mading itu, jangan ragu untuk memberitahhu guru BK entah siapapun itu, ya.”

“Poster?” ulang Jisoo.

“Ya— jadi seperti ini… aku bingung harus mulai dari mana, hehe..” kekehan wanita dewasa itu semakin membuat Jisoo tak sabar ingin mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. “Kepala Sekolah memintaku untuk memanggilmu, mengatakan bahwa beliau tidak nyaman melihat poster-poster tidak senonoh yang mengatasnamakan dirimu.”

“S-saya bahkan tidak mengetahui masalah poster ini, saem.” Ujar Jisoo mulai panik, “Saya—

“Baiklah, baiklah. Tapi berjanjilah kau akan segera membereskan masalah ini, mengerti? Singkirkan semua poster yang telah membuat para siswa dan staff heboh membicarakanmu.”

Jisoo terdiam, masih sibuk mencerna sederet pernyataan tersebut. Tatapan matanya terlihat nanar, “B-baik.”

***

Ini keterlaluan. Jisoo mati-matian menahan umpatan dan sumpah serapah yang memaksa keluar dari bibirnya. Tapi ini masih di lingkungan sekolah, ingat. Poster bergambarkan dirinya dan nomor telepon, kata-kata murahan.

Persetan dengan semua ini!

Jisoo menstabilkan deru napasnya. Akan percuma jika ia marah dan menangis disini, yang ada hanya akan membuat anak-anak lebih mencemoh dirinya.

Setidaknya ada tiga puluh poster yang terpasang di mading dan tembok sekolah. Telah Jisoo robek dan buang ke tempat sampah. Namun membuang hal-hal menjijikkan itu takkan membuatnya puas, lalu ia meminjam sebuah pemantik api dari seorang tukang kebun yang berada di halaman belakang sekolah.

Satu per satu lembar Jisoo masukkan ke dalam api. Ini menjengkelkan. Dan akan lebih menarik jika ia juga memasukkan wajah Kai yang sok tampan itu ke dalam api pula.

“Setelah menjalanji prostitusi, apakah menjadi tukang kebun adalah pekerjaan terbarumu?” sebuah suara menjengkelkan terdengar dari belakang tubuhnya. Sontak Jisoo berbalik memperhatikan iblis yang sesungguhnya.

“Apa maumu?” desis Jisoo dari tempatnya berdiri.

“Menyiksamu tentu saja.” Jawab Kai enteng. “Dimana pengawalmu itu?” ia melihat ke kanan dan kiri, “Kurasa ia telah bosan padamu lalu meninggalkanmu.”

Myungsoo?

Tanya Jisoo dalam hati.

“Anak baru payah, namun yang aku heran, dia sekarang sama populernya denganku, padahal wajahnya tidak setampan itu.” Sambungnya, masih dengan menyombongkan diri.

“Setidaknya Myungsoo tidak berhati busuk dan bersikap licik sepertimu.”

Bibir sialan. Jisoo mengutuk ucapannya sendiri.

Sontak Kai berjalan mendekat, memegang erat tangan dan pundak Jisoo, lalu mendorongnya ke belakang. Aneh, bagian belakang punggungnya terasa panas.

Api.

Tidak.

Lelaki sialan.

“Lepaskan aku!” terak Jisoo panik, ia melihat ke belakang dan hanya terpaut beberapa senti, rambutnya akan terbakar api.

“Kau yakin ingin ku lepaskan? Maka tubuhmu akan jatuh menimpa api yang kau buat sendiri.” Ujarnya menakuti Jisoo. Kai semakin menuurunkan tubuh Jisoo hingga bagian punggung gadis itu semakin merasakan panas. “Bilang ‘Kai, maafkan aku’ dan aku akan menarikmu.”

Sial! Sebenarnya disini siapa yang sedang bersalah.

“Cepat katakan.” Ancam Kai sekali lagi.

“Baiklah, baiklah…” Jisoo sedikit menimbang-nimbang namun tetap menyerah, “Kai, maafkan aku.” Ujarnya dengan penuh penekanan.

Sontak Kai menarik tubuh Jisoo setelah puas mendengar kalimat tersebut. “Gadis penurut.” Ucap Kai lalu melenggang pergi.

Jisoo memegangi bagian punggungnya dan mengecek jika ada bagian rambutnya yang terlahap api. Namun beruntung, ia baik baik saja. Jisoo menggeleng, ia tak dapat memikirkan perumpamaan lain untuk mendiskripsikan sosok Kai selain Iblis dalam bentuk manusia.

.

.

***

Sebenarnya ini adalah kejutan. Jisoo tidak mengatakan pada Myungsoo jika ia akan datang ke apartmentnya. Berhenti pada ruangan nomor 712 lalu memencet bell.

Jisoo sedikit melirik paper bag yang ia bawa. Jjajangmyeon dan hoteok yang ia bawa pasti akan membuat Myungsoo senang, karena makanan tersebut adalah kesukaannya.

Tak beberapa lama kemudian pintu terbuka, menampulkan sosok Myungsoo dengan baju ala rumah dan wajah pucat. “O-oh Jisoo-ya, kau kemari?” ujarnya terkejut sekaligus senang.

“Ya, maaf jika aku tidak memberitahumu sebelumnya.”

“Tidak apa, ayo masuk.”

“Oppa, siapa yang datang?” terdengar suara perempuan dari arah dapur. Sontak Jisoo membelak, ada gadis lain ditempat ini?

“Siapa itu?” Tanya Jisoo setelah ia meletakkan barang bawaannya di meja depan televisie.

“Ah… itu Arin, sepupuku.” Jawab Myungsoo lalu membuka paper bag milik Jisoo, “Apakah ini untukku?” tanyanya dengan wajah bersinar.

“Ya, itu untukmu.” Apakah salah jika nama itu tidak terlalu asing bagi Jisoo? Arin? Meskipun ada jutaan Arin di dunia ini, tapi seperti pernah mendengarnya.

Myungsoo berjalan ke arah dapur untuk mengambil beberapa sendok dan sumpit, lalu kembali dengan si sepupu berjalan di belakangnya.

“Annyeong.” Sapa seorang gadis yang Jisoo yakin bernama Arin.

“Annyeong Arin-ssi.” Sapa Jisoo kembali. Ia memperhatikan Arin dari atas sampai bawah— namun entah mengapa masih sulit untuk mengingat gadis ini.

“Ah, Jisoo unni tidak perlu terlalu formal denganku. Myungsoo oppa sudah sering membicarakanmu.”

“B-benarkah?” Jisoo melihat Arin dan Myungsoo yang tengah salah tingkah bergaintian.

“Ya, dan hari ini dia sedang sakit jadi aku sedikit merawatnya untuk makan dan minum obat.”

“Aku tidak sakit… jangan dengarkan gadis ini,” elak Myungsoo sambil memakan tteokboki. “Hanya masuk angin biasa, setelah makan semua ini aku akan sehat kembali.”

Jisoo hanya mengangguk paham, melihat wajah pucat Myungsoo yang masih dipaksakan untuk tersenyum membuatnya terenyah. Setidaknya bukan hanya Jisoo sendiri yang melakukan hal itu.

“Jisoo unni, aku dengar dari Myungsoo oppa kalau kakimu sedang sakit, benarkah?”

“Iya, tapi sekarang sudah tidak apa-apa.” Secara reflek Jisoo memegangi kakinya.

“Kudengar, Kai oppa yang membuatmu sakit—

“Tunggu, kau kenal Kai?” sela Jisoo cepat. Mendengar Arin memanggil Kai tanpa embel-embel ‘sunbae’ dan memilih untuk memanggil ‘oppa’ sedikit membuatnya penasaran.

“Kau tahu— Arin berpacaran dengan teman Kai, siapa namanya, aku lupa… eung…”

“Sehun oppa.” Jawab Arin bangga.

“Nah itu dia, kau lihat… Jisoo telah dibuat celaka oleh Kai, apakah kau tidak takut berpacaran dengan salah satu gerombolannya?” Myungsoo melebarkan matanya saat mengucapkan kalimat tersebut. Ia memang tak menyetujui hubungan Arin dengan Sehun sejak lama, namun sepupunya itu selalu tak mau mendengarkan.

“Tapi Sehun oppa tidak jahat.” Bela Arin sekali lagi.

“Huhh… tunggu saja sampai lelaki albino itu mencampakkanmu.” Tambah Myungsoo sekali lagi.

Dan semua gambar itu kini terliat jelas bagi Jisoo. Arin adalah anak baru yang berpelukan dengan Sehun tempo hari.

“Jisoo-ya, apa kau punya salinan materi dari Jang saem hari ini?”

“Ada.” Membuka tasnya, Jisoo mendesah berat. Apa lagi ini?

Buku pelajarannya robek menjadi dua bagian. Saat mengeluarkannya, Myungsoo dan Arin juga membelak tak percaya.

“Pekerjaan siapa ini?” Myungsoo menaikkan nada suaranya reflek.

“Anak-anak sekelas, mereka biasanya melakukanhal ini agar siswa yang lain tidak dapat belajar untuk ujian. Jadi nilai mereka akan menjadi yang tertinggi.” Jisoo menjelaskan, ia yakin dirinya bukan satu-satunya korban di kelas mereka.

“Jadi— apa aku masih bisa membacanya jika seperti ini?” Myungsoo mengangkat buku yang telah terkoyak tersebut, ia menggeleng, “Mau ke perpustakaan?”

Jisoo tersenyum menanggapi.

.

.

-TBC-

Author Note:

Hai hai… maaf ya kalau lama updatenya. Sekedar pemberitahuan kalau author morschek96 telah berganti nama pena menjadi Keiko Sine. Semoga ini menjadi awal yg baik buatku.

Maaf juga kalau chapter ini gk sesuai sm ekspetasi kalian. Kurang gereget apa kurang gimana (?) gitu huehehe.. dan jujur nih aku seneng banget karena di chapter 4 kemarin ada lumayan banyak readers yg mulai komen. Ada yg reader baru ada juga yg sekian lama ngilang, kembali muncul di chap 4 kmrn huehehe..

Tetep pertahanin keinginan kalian utk meninggalkan review ya.. segala kritik & saran aku terima kok asalkan masih dalam batas sopan.

Thanks deh kalo ada yg bisa ngertiin.

See you next chap. Semakin banyak review semakin cepet updatenya.

Regard.

KEIKO SINE https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

28 pemikiran pada “LOUDER [Chapter 5]

  1. baeksena

    Kirain Myungsoo kemana,kok nggak nolongin Jisoo,nggak taunya sakit( gws myungsoo-ah. Kenapa sikap Kai nggak berubah- ubah?.Makasih kak blognya nggak jadi di hapus. Ganti pen name ya kak,bagus kak. sukses buat kakak.

    Suka

  2. Orange

    Aku kmren waktu buka blog morschek96 dia nya bilang udah di hapus sama author. Duh, aku langsung sedih. Eh , tadi liat di kaiff ternyata kk ganti pen name, dan tau blog yg udah dirombag ini. Terobati sudah rasa kecewaku. #ceileeeh 😂😂
    Okai kak. Ditunggu lagi yang terbaru 😄😄😄😄

    Suka

  3. Ping-balik: LOUDER [ Chapter 6] – KEIKO SINE

  4. Ping-balik: LOUDER [ Chapter 6] – KAI FanFiction Indonesia

  5. Ping-balik: LOUDER [Chapter 7] – KAI FanFiction Indonesia

  6. Ping-balik: LOUDER [Chapter 14/END] – KEIKO SINE

  7. Ping-balik: LOUDER [Chapter 12] – KAI FanFiction Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s