Xing Boarden [Chapter 13/END + Pemberitahuan]

Xing Boarden

Dark-Crime, Romance, Mystery || PG-17

Lee Junghwa & Lu Han

Lee Minji, EXO members and etc.

PRE : [prolog] – [1] – [2] – [3] – [4] – [5] – [6] – [7] – [8] – [9]

– [10] – [11] – [12] – [password]

Warning Plot Twist!

Chapter END + Announcement. Baca sampai akhir.

***

[Last Chapter]

Junghwa menggigil saat berjalan melintasi sekolah yang sunyi, ujung pistol terasa di belakang punggungnya. Tangannya diborgol didepan. Ia mendengarkan mereka berbicara dan tahu bahwa mereka mengharapkan suatu pertukaran, nyawanya, Minji, dan Mei, dengan pemimpin mereka. Siapapun itu orangnya.

Semua cerita yang dikatakan Minji, tentang anak TA, dan kekhawatiran yang disampaikan Minji, ternyata benar. Anak-anak ini lebih dari sekedar bermasalah, mereka adalah kelompok kecil tentara terlatih, fanatik, tak kenal takut, siap untuk mengorbankan nyawa demi sang pemimpin.

Dan keberanian Luhan mulai goyah. Ketika melihat anak-anak itu membawa Junghwa, melihat bagaimana wanita yang dicintainya itu diborgol, pistol dibelakangknya.

Deputi Yunho membuka pintu klinik. “Lihatlah.”

Keluar dari klinik, Luhan mendorong kursi roda yang terdapat pemimpin mereka yang telah diborgol tangannya. Apakah pemimpin mereka tidur? Pingsan? Jawabannya dia tengah dibius.

“Kris?” ucap Junghwa pelan, tak percaya. Kris adalah pemimpin mereka? Guru petugas kedisiplinan itu malah mengajarkan hal maniak pada anak-anak.

“Kami menginginkan Kris.” Tao menggertak dengan angkuh, memasang sikap mengancam saat ia berdiri dibelakang Junghwa. “Dan Chanyeol.” Tambahnya, suara Tao menggelegar di seluruh pemandangan yang terbungkus salju. “Sebagai gantinya, kau mendapatkan dia…” ia mendorong Junghwa, “Dan dua yang lain.”

“Kau sedang membuat kesalahan besar, Tao.” Luhan tidak gentar, ia menganggap Tao sebagai anak penggertak.

“Oh ya?”

“Aku serius.”

“Ya, dan bla bla bla.” Senja mulai naik, cahaya matahari kejinggaan itu menyinari sebagian mata Tao yang menatap Luhan tajam. “Dengar Luhan saem, jika masih bisa kupanggil begitu,” ia tersenyum mencemoh, “Jumlah kalian kecil dan kalian kekurangan senjata. Jadi hentikan basa-basi ini. Tapi karena kau masih bermain-main, kurasa akan kuganti syaratnya.”

“Bagaimana?” tanya Luhan, menyadari situasi memburuk.

“Kau lepaskan Kris dan Chanyeol, dan kau bisa mendapatkan Junghwa.” Ia mendorong Junghwa lagi, “Dan gadis jepang ini, dia hampir kencing di celana. Tapi kami menahan Minji sampai kami aman, lalu kami bebaskan dia.”

“Aku tidak bisa janji.” Ia memandang Kris yang masih terlelap dalam bius yang diberikan suster Dee.

Tao tidak mendengarkan, ia sudah berpikir lebih lanjut. “Kami membutuhkan helikopter dan pesawat amfibi. Itu bagian dari kesepakatan.”

“Dan pergi kemana? Macau? Atau Beijing? Ayolah, kondisi pemimpinmu tidak memungkinkan untuk pergi.” Luhan mencoba meyakinkan, “Menyerahlah Tao. Kondisi Kris sudah terdesak, dan Chanyeol berbicara seperti burung, dia menyebutkan nama-nama, menyerahkan kalian semua.”

“Dimana Chanyeol?”

“Didalam, bersama para deputi. Kau tahu— dia akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Dia punya keluarga kaya dan seorang pengacara. Bagaimanapun, dia akan bertemu dengan jaksa penuntut, meminta kebebasan dan membiarkan kalian semua membusuk di penjara.”

“Luhan bohong!” teriak Jira tak percaya.

“Aku tahu.” Ucap Tao, takkan memakan gertakan.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Lay, memandang Tao dengan cemas. Kegelisahan di wajahnya, “Chanyeol— anak itu akan membelot.”

“Jangan biarkan pecundang ini membingungkan kalian.” Ujar Tao. Dengan ini, mereka akan mencari momentum. “Jadi— kita mengalami jalan buntu ya?” Tao menarik pelatuk pistolnya, mengarahkan langsung ke kepala Luhan.

#Doorr!

Tapi sebelum itu terjadi, Yunho lebih dulu menembak kepala Tao. Darah memancar, semburan merah di permukaan putih salju. Tao berputar, menjatuhkan senjatanya. Lelaki itu terkulai ke salju.

“Apa? Tidak!” Jira menjerit, matanya membelak. “Tao! Tidak…”

Deputi Yunho berdiri di dekat pohon oak, memindahkan bidikannya dari arah kepala Tao. Sedangkan Mei ketakutan.

“Tidak.. oh Tuhan.. tidak.” Jira sangat panik melihat jasad Tao yang tergeletak di tanah.

Melihat itu, Jira dan Lay kalap. Dan Minji mengambil kesempatan, ia berputar, kaki menendang mengenai kaki Jira dan membuat pistol gadis itu terjatuh. Minji mengambilnya, masih dengan keadaan tangannya yang diborgol didepan. Mengarahkan pistol ke kepala Jira.

Para polisi yang telah mengepung wilayah itu langsung menahan Lay. Lelaki itu terjatuh, terjembab di lentai. Mengambil senjata mereka. Yunho bergerak maju, menahan Jira.

“Tidak…” Jira mulai panik melihat sekeliling, melihat Lay yang terengah-engah dan Tao sudah benar-benar tewas. “Oh Tuhan… seharusnya semua ini tidak begini.”

“Sayang sekali… pembunuh harus mendapatkan hukuman.”

“Pembunuh apa? Aku tidak tahu— kami benar-benar tidak tahu dengan rentetan pembunuhan itu!” Jira mulai menangis, ia melihat kearah teman-temannya lagi. “Kalian salah… kami hanya mafia, kami menjual wanita, narkoba dan senjata ke luar negeri. Kami benar-benar tidak tahu dengan pembunuhan itu..!”

“Katakan itu jika sampai di kantor polisi.” Ucap Yunho.

Anggota pasukan Kris yang lain datang, Kai, Kyungsoo, Niel, Key, Amber, dan Baekhyun menatap para polisi dihadapan mereka dan tubuh Tao yang tergeletak di salju. Satu per satu dari mereka menjatuhkan senjata dan mengangkat tangan.

“Jangan tembak!” teriak Kai. “Kumohon.. kumohon jangan tembak.”

Melihat keadaan yang mulai aman, Minji mengambil kunci borgol dari dalam saku Jira, membebaskan Mei dan kakaknya.

.

.

***

Berjam-jam kemudian, Junghwa sudah sedikit lebih tenang. Ia dan Luhan duduk di cafetaria sekolah sambil terus mencoba memahami beberapa hal yang belum masuk akal.

“Jadi, Kris pelakunya?”

“Ya. Terlalu banyak bukti.” Ucap Luhan sambil meminum secangkir kopi.

“Aku sempat menuduh Kepsek Kwanghee sebagai tersangka, namun untung saja tidak. Reputasi sekolah ini masih bisa diselamatkan.”

Minji bersama Mei, telah dibawa ke klinik untuk diperiksa suster Dee. Setelah itu mereka menemui konselor untuk membantu mereka mengatasi emosi dan trauma karena disandera.

Seorang anak lelaki berjalan menuju tempat Luhan dan Junghwa duduk. Memakai sweater kebesaran dan celana jeans gelap. Ia memandang Luhan lekat, “Luhan saem?”

“Oh, Sehun-ah.” Ucap Luhan sedikit terkejut.

“Anda tidak apa-apa?” tanya Sehun, matanya memancarkan kesedihan. “Aku sempat khawatir.” Dengan cepat Sehun duduk disebelah Luhan dan memeluk Luhan erat.

Junghwa tak kuasa untuk membuka mulutnya. Apa-apaan ini? Tanyanya dalam hati.

“Aku tidak apa-apa Sehun-ah…” Luhan terkekeh, menepuk-nepuk punggung Sehun pelan.

“Ya, igae mwoya?!” Suara Minji mengagetkan mereka semua. Gadis itu melihat Luhan dan Sehun bergantian.

“Ssshhh… Minji-ya.” Junghwa menegur pelan adiknya.

Sehun mengakhiri pelukannya, ia duduk bersandar kursi. Memperhatikan Minji lekat dari bawah ke atas. Menilai penampilan Minji. “Kau…” Sehun menyipitkan matanya, kemudian membelak.

Luhan dan kedua gadis itu menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari bibir Sehun.

“…kau berpura-pura.” Sambung Sehun.

“Apa yang kau bicarakan? Dasar lelaki aneh!” cemoh Minji.

Sehun memutar bola matanya dan meninggalkan tempat itu setelah dikatai ‘aneh’.

Junghwa tak mengindahkan percekcokan kecil itu. Ia juga mengira bahwa Sehun ini sedikit aneh. Dia lelaki pendiam yang tak punya teman, tapi sangat manja ketika didekat Luhan. “Kukira kau sedang konsultasi?” tanya Junghwa saat adiknya duduk dihadapannya.

“Aku sudah selesai. Dan menurut mereka… aku telah mengalami banyak hal dan mereka telah mengizinkanku pulang.” Minji tersenyum, akhirnya setelah sekian lama, Junghwa dapat melihat senyum itu dari wajah adiknya.

“Benarkah? Kurasa para konselor memahamimu, itu bagus.” Ucap Junghwa. Melihat itu semua, Bapa Chen dan Kim Suho mengambil tempat duduk didekat mereka sambil memakan sarapannya. “Kalau begitu aku akan menemuimu di kamarmu sebentar lagi, dan kita akan pulang.”

“Baiklah, aku sudah tak sabar keluar dari sini.” Kata Minji, lalu mengambil sekotak susu dan berjalan pergi.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Aneh.

Tapi itulah Minji. Tidak bisa ditebak.

“Apakah itu legal menurutmu? Sepertinya terlalu mudah.” Junghwa memandang Bapa Chen.

Bapa Chen berkata, “Memang agak cepat, tapi sebenarnya kita tidak berada diwaktu yang benar saat semua ini terjadi.”

Suho si guru Matematika menambahkan, “Semua staf tahu banyak murid yang akan pergi segera setelah kantor sherif mengizinkan. Kurasa akan ada eksodus besar-besaran karena pembunuhan itu.” Mata lelaki itu sendu, “Terlalu traumatis jika tetap dipaksakan tinggal disini.”

.

.

***

Junghwa mengetuk kamar Minji, “Hei, kau sudah siap?” tidak dikunci, pintu terbuka dan Junghwa masuk ke dalam.

“Astaga! Eonni kau mengagetkanku..” Minji menoleh kearah pintu masuk. “Aku akan menelponmu lagi Jackson.” Kata Minji pada ponselnya.

“Telpon dari Jackson? Sebaiknya kau menghindarinya.” Ucap Junghwa pada adiknya.

“Ya… kurasa.” Ucap Minji malas. Ia menggantungkan handuk, perlahan-lahan, ia berputar berbalik badan, kakinya membentuk gerakan seperti huruf S.

Sangat alami.

Seolah sudah sering dilakukannya.

Junghwa berdiri di dekat jendela, memandang kaki Minji. Gerakan memutar— huruf S. pernah dilihatnya. Gelap. Darah.

Jantung Junghwa nyaris berhenti berdetak.

“Oh Tuhan.” Bisik Junghwa. Dalam mata batinnya, dalam potongan bergerigi, ia melihat sepintas ayahnya, pisau di kakinya.

Ingatan itu, selama ini buram, sekarang jernih seketika.

Gerakan yang dibuat Minji sangat alami dan identik dengan gerakan dalam mata batin Junghwa.

Tidak mungkin! Junghwa pasti berkhayal! Kepalanya mulai berdenyut saat melihat noda darah S didekat tubuh Xiumin.

Kilasan memori lagi, noda darah kecil didekat Nana. Lagi-lagi, licin, gerakan kaki memutar. Bentuk seperti ular.

Ia berusaha fokus lagi, mengingat kejadian itu, tatapannya terpaku pada kaki Minji. Oh Tuhan! Tidak mungkin. Ia mendongak, melihat wajah adiknya, “Demi Tuhan, Minji.” Suara Junghwa bergetar, “Apa yang sudah kau lakukan?”

Tidak mungkin! Tidak mungkin Minji! Adiknya bukan seorang pembunuh. Seketika badannya melemas, tapi ia harus mendengar langsung dari Minji. “Kau membunuh mereka?” tidak! Tolong bilang tidak! “Yuju? Xiumin? Nana? Kau bunuh mereka?” Tanya Junghwa lagi, berharap ia salah.

Minji mendesah, “Bagaimana lagi kau akan mengeluarkanku dari sini jika aku tidak melakukan itu?”

“Tidak.. tidak mungkin! Minji! Tidak mungkin kau melakukan itu.” Junghwa menggelengkan kepalanya, menolak mempercayai Minji sebagai monster haus darah yang telah melakukan pembunuhan itu.

“Apakah kau terlalu bodoh untuk menyadari bahwa kau tidak akan pernah mengeluarkanku dari sini kecuali ada bahaya yang mengancam hidupku?!!”

“Tidak… Minji-ya.”

“Itu semua satu-satunya cara! Jadi seseorang harus mati. Yuju dan Nana adalah awal yang bagus, dan Xiumin hanya menghalangi.”

“Tunggu sebentar… jangan bohong.” Ujar Junghwa dengan putus asa ingin percaya. “Kau tidak akan membunuh mereka! Kau tak mungkin bisa!” teriak Junghwa pada adiknya. “Jung Eunji telah menghilang lama bahkan sebelum kau datang.” Itu dia, Junghwa pasti tidak salah, adiknya tidak mungkin melakukan itu semua.

Tapi Minji tidak mengedipkan matanya sedikitpun. Junghwa merasakan darahnya berdesir, mengharapkan penjelasan yang masuk akal. “Kau benar-benar naïf ya? Astaga, Junghwa, aku benci kalau aku jadi dirimu.” Kini sifat buruk Minji keluar, ia tidak memanggil kakaknya dengan ‘eonni’. “Tentu saja aku tidak membunuh Eunji! Menurutku pelakunya Kris atau kelompoknya. Mungkin itu hanya sebuah kecelakaan, tapi aku tahu hal itu akan sangat menguntungkanku, benar kan?”

Junghwa melihat kebencian di raut wajah Minji, “Dan appa?”

“Appa? Orang cabul itu? Kau bercanda? Tentu saja aku membunuhnya! Aku melakukan itu untuk kita berdua.” Ucap Minji kasar. “Kau tahu bagaimana appa memandangku? Memandangmu?”

“Tidak…”

“Appa tidak menginginkanku, dia sama sekali tidak tertarik kepadaku. Tapi dia menginginkanmu— mencintaimu. Menginginkan tubuhmu!”

“Apa?” Junghwa tidak bisa percaya pendengarannya.

“Selalu memelukmu! Mendengarkan kata-katamu, bersikap seolah kau sangat istimewa.”

“Dia ayahku.”

“Dia menginginkan hal lain.” Minji melotot. “Well, aku takut jika ia akan melakukan hal yang sama padaku.”

“Kau gila!” ucap Junghwa. Tak bisa dipercaya. “Jadi kau membunuhnya?”

“Oh ayolah, apa yang kau pikirkan… tentu saja.”

“Tapi kenapa?”

“Sudah kubilang, dia membuatku takut!”

Monster macam apa adiknya ini.

“Tapi kau masih sangat muda… oh Tuhan, kenapa kau lakukan itu?” Tanya Junghwa, mencoba memahami kegilaan adiknya.

“Apa kau masih tidak mengerti? Aku sudah bilang, aku menyelamatkan kita berdua.” Minji mendecih, smirk kejam di bibirnya. “Kau tak pernah percaya sifat buruk siapapun. Tapi aku beruntung mengetahui tentang Kris Wu dan kelompok mafianya.”

Jadi itu bohong. Selama ini— yang dituduhkan adiknya tentang Kris adalah bohong? Tak salah lagi, Jira mengatakan hal yang benar tadi pagi. Bahwa mereka tidak mengetahui apa-apa tentang pembunuhan itu, mereka hanya— mafia.

Minji berbohong.

Selama ini— hanya berpra-pura.

‘kau— berpura-pura.’ Seperti ucapan Sehun tadi siang.

Lelaki aneh.

Lelaki aneh yang firasatnya tidak pernah salah.

“Kau masih tidak mengerti?” Tanya Minji.

“Tidak.” Ucap Junghwa pelan, mencoba memahami keadaan.

“Dan kau tidak akan pernah mengerti.” Dalam sekejap, mata Minji menjadi kosong, tidak ada emosi di sana. Semua potongan kejadian itu— membuat Junghwa merinding ketakutan.

“Saatnya kita pergi.” Kata Junghwa tegas, memandang pintu.

“Pergi kemana? Menurutmu aku masih percaya kau ingin menolongku setelah mengetahui semua itu? Tidak mau.”

“Minji-ya…

Terlambat.

Minji menendang wajah Junghwa dengan sepatu botnya.

“Minji… hentikan.” Ucap Junghwa kesakitan. Darah mengalir di bibirnya.

“Tidak!” Minji bersiap menendang lagi.

Junghwa berteriak. Berlari kearah pintu. Ia harus keluar.

Minji menarik lengan Junghwa. Junghwa meronta, ingin melawan Minji, tapi adiknya lebih lihai dalam urusan berkelahi. Mereka terjatuh dilantai. Minji menangkap setiap pergerakan Junghwa.

Minji menarik rambut Junghwa kebelakang, dengan tangannya yang bebas ia mencekik leher Junghwa.

Tidak! Ia tidak boleh kalah dari adiknya sendiri.

Suara langkah kaki di koridor. Tepat.

“Tolong!” teriak Junghwa. Minji menampar pipinya.

Junghwa lemas, terbatuk.

“Kau tahu? Keadaan akan berbalik sekarang. Aku mendapatkan munci mobil Jeep yang diceritakan Mei dari saku Kang Jira saat memborgolnya tadi. Aku akan kabur dari sini.!” Kuku-kuku jari Minji menekan kuat leher Junghwa, meninggalkan luka, darah keluar dari kulit yang tersayat kuku.

Suara langkah kaki berderap mendekat.

“Tolong…” suara Junghwa memelan. Ia benar-benar tidak kuat lagi.

“Diam disana!” perintah seorang pria.

Luhan memegang pistol, terarah langsung ke Minji. “Lepaskan dia!”

Luhan bergerak mendekat dan menekan pistol ke kepala Minji.

“Dasar bajingan!” teriak Minji.

Luhan menarik tangan Minji kebelakang dan memborgolnya. Membawanya. Junghwa memandang adiknya menghilang melalui pintu.

.

.

-END-

Author note :

Annyeong! ada yang nyangka gak kalau pelakunya selama ini adalah Minji? 😀 orang terdekat Junghwa sendiri.

Petunjuknya adalah potongan mimpi-mimpi yg selalu menghantui Junghwa. Pembunuh ayahnya adalah adiknya sendiri. Dan menemukan korban-korban yg dibunuh jg mengingatkan Junghwa sm ayahnya. Udah aku tulis juga, tapi mungkin sebagian besar reader gk sadar. Fokusnya sama sosok ‘si pemimpin’ itu. Wkwkwk 😀

Gerakan kaki S juga udah pernah aku singgung beberapa kali. ^^ ah sudahlah, mungkin aku yg udah kelewat ngerjain ‘fokus’nya readers.

Dan— aku mau menyampaikan sesuatu kalau di FF ini adalah kali terakhir aku memakai pename MORSCHEK96. Sempat aku mau memutuskan untuk menghapus blog ini, tapi kalau dipikir-pikir yah sayang juga.

Aku mau ngelunasin utang juga sih biar gk pada penasaran sm FF ini. Aku berterima kasih banget pada readers yg masih mendukung aku sampe sekarang ini. Love u all.

Mulai saat ini aku memutuskan akan merombak blog ini. Oke? Pename akan kuganti menjadi KEIKO SINE. Dan URL blog ini juga akan menjadi https://keikosine.wordpress.com

Jadi kalau nanti ada muncul FF dengan pename itu, maka itu adalah karya morschek96 yg udah ganti nama jadi KEIKO SINE. Oke?^^

Deep love to all readers.

Regard,

KEIKO SINE.

Iklan

6 pemikiran pada “Xing Boarden [Chapter 13/END + Pemberitahuan]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s