Xing Boarden [Chapter 11]

xingb-morschek96

Xing Boarden by. morschek96

Dark-Crime, Romance, Mystery || PG-17

Lee Junghwa & Lu Han

Lee Minji, EXO members and etc.

PRE : [Prolog][1][2][3][4][5][6][7] [8] –  [9] – [10] – [password]

“I slap you without a touch“

***

Pemandangan bersalju yang mengerikan dan tenang. Setelah hari-hari angin melengking di perbukitan, malam ini sangat sunyi. Bulan separuh yang bersinar terang menambah kesan paranoid.

“Aneh,” ujar Luhan, memandangi sekolah. “Generator listrik harusnya hidup, tapi tak ada lampu yang menyala.”

Luhan benar, tidak ada lampu-lampu keamanan di gedung-gedung, lampu gazebo padam, juga lampu jalan. Senter Junghwa dan Luhan adalah satu-satunya penerangan mereka kali ini. Terlalu sunyi. Terlalu tenang.

“Matikan senter,” bisik Luhan tiba-tiba. Seolah ia merasakan ketenangan yang ganjil juga.

“Aku tidak suka ini.” Junghwa merinding ketakutan.

Luhan menarik pistol cadangan dari dalam jaketnya. Dengan cemas, Junghwa mengawasi kegelapan. Tumpukan salju yang seolah bergerak, sudut-sudut gelap saat mereka berjalan dengan susah payah melewati jalan setapak.

Meski angin tidak berhembus kencang, temperature udara terasa sangat dingin. Udara dingin yang berbau terbakar, seolah seseorang barusaja menyiram api unggun.

“Kau mencium itu?” tanya Junghwa. “Apa itu hanya bau asap?”

“Mungkin.” Jawab Luhan pelan.

Istal gelap seperti bangunan-bangunan lain. Namun pintu utama sedikit terbuka.

“Astaga!” bisik Luhan, dan melambai kearah Junghwa agar mendekat kearahnya. “Ada yang terbakar disini.”

Luhan berusaha untuk menyalakan lampu, tapi tidak terjadi apa-apa. Tentu saja, ini sedang mati lampu.

Seekor kuda meringkik dengan keras saat Luhan dan Junghwa masuk ke dalam. Luhan mengarahkan senter kearah kuda besar itu, Junghwa mengikuti. “Tenanglah boy.. ada aku disini.” Ucap Luhan sambil mengelus, menenangkan kuda itu.

Hingga tak sengaja sorotan cahaya senter itu mengenai tubuh Kim Nana. Tubuh yang terbaring dengan genangan darah di tanah yang berdebu itu.

“Ya Tuhan!” Luhan segera berlutut. Ia mengarahkan senternya ke gadis itu. Luhan menyentuh leher Nana dan menggelengkan kepala, “Sialan.”

Tidak bergerak.

“Dia sudah meninggal.” Ujar Junghwa pelan. “ Dibuat seperti dia melakukan bunuh diri.” Ucap Junghwa yakin. Ia tidak langsung kerkecoh saat melihat pisau yang berada di tangan kiri Nana.

Dua noda darah tercoreng… terpisah dari jenazah. Seperti ular, tapi tidak jelas.

Junghwa terbatuk. Bau asap memenuhi udara dan kuda-kuda bergerak tak nyaman dikandang mereka. Ia mengarahkan senternya ke seluruh kandang, dimana tumpukan jerami dan lantai itu yang terkena noda darah. Apa yang terjadi disini? Setan macam apa yang melakukannya.

Luhan dan Junghwa saling berpandangan, yakin dengan pemikiran masing-masing.

Bagaimana kalau pembunuh itu masih disini.

Di dalam istal.

Menunggu.

Junghwa merinding ketakutan. Tangannya menggenggam senter dengan sangat kuat. Apakah pembunuhnya adalah orang yang sama, yang telah membunuh Yuju dan Xiumin beberapa waktu yang lalu?

Oh tidak. Mala petaka tepat dihadapan mereka.

Puas melihat hewan-hewan itu aman, Luhan mengambil ponselnya, “Aku harus menghubungi Sheriff Donghae, dan Deputi Yunho pasti masih berada di pos dekat dermaga.” Ucapnya, lalu menunggu deringan telepon.

Menunggu.

Lalu mengumpat pelan, “Sialan! Badai ini masih menghalangi, tidak tersambung.”

Junghwa kembali merasa panic. Bagaimana jika—

“Menunduk!” Luhan berteriak pada Junghwa. Membungkukkan badan dan mengarahkan pistolnya ke pintu.

Sosok bertubuh besar membawa lampu baterei melangkah mundur, “Hei.”

Luhan mengarahkan senternya kearah sosok itu, Wang LinGe si petugas peternakan.

“Ada apa ini?” ujar LinGe, senapan berada di punggungnya. “Apa barusaja ada yang terbakar?” ia mengarahkan lampunya keseluruh penjuru ruangan, dan berhenti ketika menemukan tubuh Nana yang membiru, darah menggenang disekitar gadis itu. “Astaga! Apa yang terjadi disini?”

“Kau tidak tahu?” Tanya Luhan.

“Tidak.” LinGe tampak marah. “Kenapa tidak memberitahuku?”

“Kami bahkan baru menemukannya.” Ujar Junghwa lemas.

“LinGe ajhussi, kau tahu kenapa ada kebakaran di kandang Barry?” sela Luhan.

“Apa?” LinGe berjalan kearah kuda besar itu. “Barry tidak terluka?” ia mengelus leher Barry.

“Dia baik-baik saja.”

“Kurasa kita harus memberi tahu Kwanghee Sanjangnim.” Bibir petugas itu terkatup rapat. Takut jika ia dipecat karena tidak becus mengurus peternakan.

“Ya, dan kurasa kita harus menutup istal sampai polisi dan detektif datang.”

“Apakah kau rasa gadis ini bunuh diri?” WanGe melihat miris tubuh Nana.

“Setelah membakar jerami dan menyiramnya dengan air? Kurasa tidak, itu tidak masuk akal.” Luhan menghela napas. “Dia adalah korban disini, pasti ada orang lain yang melakukan hal keji ini.”

Wang LinGe memandang Junghwa dan Luhan bergantian, “Jadi— apa yang kalian berdua lakukan disini?”

“Melihat hewan-hewan saat menyadari listrik padam.” Jawab Luhan enteng.

“Begitukah?” LinGe tampak tak percaya. Ia memutuskan untuk pergi setelah melihat keadaan sudah aman.

“Menurutku semua orang adalah tersangka.” Ujar Junghwa saat melihat LinGe berbelok pergi di pintu masuk. “Termasuk Kepsek Son Kwanghee, apalagi dia yang membuat semua catatan staff dan murid. Sepertinya menyadari bahwa beberapa orang yang diterimanya bekerja mempunyai masalah mental dan emosional, juga masa lalu yang kelam.”

“Itu benar, dan sebaiknya kau kembali ke asrama dan berdiam diri di kamarmu.”

“Apa? Setelah melihat murid—

“Tidak ada penolakan nona Lee. Ini terlalu berbahaya.”

“Tidak. Aku akan tetap ikut denganmu.”

Luhan menggeleng, menggenggam tangan Junghwa, “Kau terlalu cepat mengambil keputusan.”

.

.

***

Minji terjaga malam ini. Tidak seperti Yerin, teman sekamarnya yang saat ini sedang tidur nyenyak, kepalanya terbenam dalam bantalnya. Sebelumnya, Minji mendengar listrik mati, deru perapian menghilang. Sedikit ketakutan.

Minji melihat kearah jendela, semuanya gelap. Malam begitu sunyi dan menegangkan. Hingga tak sengaja Minji menangkap dua sosok manusia dibawah sana.

Saat firasat menghampirinya, Minji dapat melihat dengan lebih jelas bahwa itu adalah Junghwa dan Luhan. Bertanya-tanya apakah sebelumnya Junghwa itu tahu bahwa Luhan adalah guru disini. Dan kalimat ia masuk ke Xing Boarden untuk menyelamatkan Minji hanyalah sebuah alasan, nyatanya untuk kembali dekat dengan Luhan.

Itu gila, bukan?

Meskipun Junghwa bukan termasuk gadis yang cerdas, tapi ia menyayangi Minji. Selalu melindungi adiknya.

Minji kembali ke tempat tidur. Jadi, ia memikirkan langkah selanjutnya. Bagaimana ia bisa keluar dari penjara sialan ini.

Akhirnya, Minji memilih untuk menghadapi kakaknya dengan cara lama, yakni bertatap muka langsung.

Namun— bagaimana dengan bahaya yang mengintai?

Tersenyum sendiri, Minji mengenakan jaket tebalnya. Meletakkan sarung tangannya ke dalam saku, ia sudah siap.

Tanpa suara, Minji keluar kamar dan menyusuri koridor. Ia sudah tidak peduli dengan perangkat pengamanan, sejauh ini, mereka belum pernah menangkapnya datang dan pergi. Ia tahu bahwa tidak ada kamera disetiap kamar, dan untuk koridor, ia mengambil resiko jika ketahuan.

Menuruni tangga, Minji berhenti didepan sebuah jendela. Ia membuka jendela itu dan melompat keluar. Saat berada diluar, Minji merasa hidup lagi. Udara malam yang segar dan menyegarkan, salju membentuk selimut putih tebal. Dan udara rapuh terbakar dalam paru-paru disertai dengan bau asap.

Perasaan ada yang mendesak, mendorongnya. Minji bergegas maju, menyebrangi halaman, dan memutari sudut gedung administrasi. Ia mengamati daerah itu, berharap menghindari kutu bodoh yang sedang berpatroli. Ia menghembuskan napas dan maju dua langkah.

#Krak!

Astaga! Minji membeku. Apakah itu suara langkah kaki? Dimana?

Perlahan, tanpa suara, ia berbalik, matanya menyapu pemandangan salju putih yang tenang. Semuanya tenang, damai yang mengerikan, angin berhembus menjerit disekelilingnya.

Sepi.

Tidak ada orang berkeliaran? Benarkah.

Namun, sarafnya tegang, merasa paranoid. Ia merasa ada yang mengawasinya. Mata-mata tak terlihat memperhatikan setiap gerakannya.

Berenti menjadi paranoid! Temui kakakmu sekarang!

Minji mulai bergerak maju lagi.

#Krak!

Itu sudah pasti langkah kaki.

Sialan!

Secara naruliah, Minji berbalik, salju berjatuhan dibelakangnya saat ia menundukkan wajah. Jika perlu, ia akan menyerang maniak itu.

Minji melihat sekilas seseorang didekat asrama.

Bulu kuduknya berdiri.

Ini saatnya!

Orang itu memandang ke arah Minji.

Adachi Mei?

Gadis Jepang bodoh itu berdiri sendirian, menggigil bersandar tembok.

Benarkah?

“Minji..?” kata Mei, memandang Minji. Perasaan lega terpancar di wajahnya. Gigi gadis itu menggemeretak dengan keras, napasnya mengeluarkan asap.

“Sshhh..” desis Minji.

“Kau bisa menolongku?” Tanya Mei, gadis yang cukup berhubungan baik dengan Minji itu bergerak mendekat.

“Apa?”

“Aku terkunci diluar.” Ujar Mei, mata besarnya memohon.

Bagus! “Apa yang kau lakukan diluar?” Minji marah saat ia berdiri dan maju satu langkah mendekat gadis itu. “Apakah kau tidak tahu berbahaya berada diluar? Karena itu mereka melakukan patroli.”

“Aku tahu, aku tahu..” kata Mei, menggosok lengannya dan tampak ketakutan seperti kelinci yang terperangkap. “Itu sangat membuatku ketakutan. A- aku tidak tahan lagi. Aku mencoba orang-orang untuk mengeluarkanku. Bahkan konselor dan eommanku… A-aku hanya ingin pergi dari sini dan pulang.”

“Yeah… aku mengerti.” Minji menghembuskan napasnya. Ia juga ingin keluar dari sini, tapi ia tidak punya waktu untuk mengurusi sikap konyol Mei. “Dengar, apa yang kau pikkirkan? Kabur dan berlari menembus badai salju?”

“Sekarang tidak sedang turun salju.” Kata Mei, mengeratkan tangannya sendiri. “Menurutmu, mungkin aku bisa mencuri salah satu mobil Jeep dan mengendarainya keluar dari sini? Aku tahu dimana letak kuncinya.”

Mobil Jeep?

“Benarkah?” tiba-tiba Minji tertarik. Dan itu adalah jawaban atas doanya. Satu cara melewati perbukitan salju dan melarikan diri. “Dimana kunci-kuncinya?”

“Ini.” Mei mengangkat tangannya, menunjukkan dua buah kunci berjuntai. “Aku mencabut sepasang.”

“Sungguh?” saat itu juga, pengharapan Minji pada Mei membesar. Bagus sekali. Tapi— benarkah? Mei yang pemalu mencuri sesuatu, sudah pasti mengejutkan. “Biar ku lihat.” Minji masih mencoba memahami rencana Mei. “Jadi kau akan pergi di suhu di bawah nol tanpa jaket?” Mei lupa bahwa Minji gadis yang cerdas.

Tunggu dulu.

Itu tidak masuk akal!

Oh, sialan! Mungkinkah Mei bagian dari semacam kelompok…?

Minji merasa napas hangat dibelakang lehernya. Oh Tuhan! Tidak! Rasa takut mengalir deras dalam aliran darahnya. Secara naluriah, Minji mulai berlari.

Namun lengan kuat, kasar mengapit tubuhnya, menjatuhkannya.

Kepanikan menyerang otaknya. Minji mulai berteriak, mencoba mengalahkan maniak besar yang menahannya. Terlambat! Satu lengan berotot menekan pundak Minji, sarung tangan menutup mulutnya.

Ketika mersakan logam dingin menyentuh pelipisnya, Minji berhenti bergerak. Itu sebuah pistol.

“Satu gerakan, aku bersumpah, brengsek, akan menembak kepalamu.” Gertak pria itu di telinga Minji.

.

.

TBC

Author note :

Another short update! Chap 11 is up…^^ gak kerasa yah

Let the party begin guys.. abis ini siap-siapin mental kalian ya wkwkwk..

Jangan lupa leave komen kalau chap akhir gak mau di protect.

INSTAGRAM: lovanita dan morschek96 (ada dua wkwkwk)

TWITTER: @lovanita_

WATTPAD: morschek96

 

Regard.

-morschek96

https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

15 pemikiran pada “Xing Boarden [Chapter 11]

  1. Orange

    Kecurigaan ku terhadap Luhan semakin menjadi-jadi. #cekik aku #cekik aku 😂😂😂
    Itu yg pegang pistol Luhan kan…yakan…yakan…
    Makin penasaran kak. Ditunggu next nya… Tak semangatin,,biar apdetnya cepet. 😄😄😄😄
    Happy New Year kak… 😍😍😍

    Suka

    1. morschek96

      Whaatt?? Luhan?? 😄😄
      Wkwkwk makasih loh krn msh aja ngikutin FF ini meskipun ngaret updatenya.
      Happy new year too, dear.. 🎉🎉🎊

      Suka

      1. Orange

        Kk mau hapus wp ini? Wae ?? 😭😭😭
        Baru kenal wp ini kenapa udah mau di hapus. Aku salah apaaaaa ??? Bilang ke aku..Jangan diem aja,, #kumatdehalaynya
        . Yaweslah kak, apapun keputusannya nanti aku terima dengan lapang dada dan akan mengambil hikmahnya.
        (Kau harus bisa..bisa berlapang dada. Kau harus bisa, bisa ambil hikmahnya. 🎤🎵)
        Pokok nyaaa Semangaaaaaat kak!!! Hwaiting!!!!!
        Ingat kami para readers setia mu. We love you 😍😍😍😍😍😍

        Suka

      2. morschek96

        Hmm sebenernya berat juga yah ngambil keputusan ini.. Aku jg mikirin readersku.
        Tapi kalo gk gt aku mau ganti akun ajah, dg nama & tampilan yg baru.. 😰 love you guys~

        Suka

    1. morschek96

      Haloo.. Lihat kedepannya ajah ya, krn jujur sekarang aku lg down.
      Keputusan ini udah bulat untuk menghapus akun morschek96 ini, tp aku masih mempertimbangkan utk bikin akun lagi (tapi kemungkinannya kecil)

      Disukai oleh 1 orang

  2. Okay aku ga baca semua ff di blog ini.. tapi haruskah? Haruskah dihapus? Kalo hiatus mah ga pa2 ada kok yg hiatus tahunan.. tapi masih kutungguin.. tapi dihapus..

    Aku ga tau apa alasannya dan ga mau tau alasannya.. kecuali author sendiri yg bilang.. tapi walaupun kecewa sama keputusan author.. aku tetep dukung kok.. yah semoga kita nanti bisa ketemu lagi..

    Suka

    1. morschek96

      Aku masih mempertimbangkan utk memiliki akun lagi, ataupun akun yg ini nanti aku rombak semuanya.
      Mulai dr pename, url, tampilan, dll. Tunggu saja ya… Aku tahu ini berat 🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s