Xing Boarde [Chapter 10]

xingb-morschek96

Xing Boarden by. morschek96

Dark-Crime, Romance, Mystery || NC-19!

Lee Junghwa & Lu Han

Lee Minji, EXO members and etc.

PRE : [prolog] – [1] – [2] – [3] – [4] – [5] – [6] – [7] – [8] – [9] – [password]

“You send shivers down my spine

***

Apa? Sebuah kelompok pemujaan?

Junghwa mencoba untuk meyakinkan Luhan bahwa ada sebuah kelompok pemujaan di tempat ini yang dipimpin oleh seseorang. Bisa jadi anak TA, staff, guru, atau bahkan— kepala sekolah Son Kwanghee sendiri.

Luhan sempat memikirkan apa yang dikerjakan kelompok itu. Apakah semacam inisiasi? Upacara pengorbanan yang mengerikan?

Junghwa tengah berada di kamar asrama Luhan. Ia datang tergopoh dengan membawa berkas-berkas yang ia ambil dari kantor Kwanghee tadi. Sambil membolak-balik halaman yang tidak rusak karena terlahap api, Junghwa mencoba mengumpulkan hal-hal lain yang dianggap penting.

Luhan mendorong kursinya kesamping Junghwa untuk membaca berkas-berkas yang sudah disortir. Senang ada alasan untuk dekat dengannya. Junghwa telah memilah catatan staff pengajar. Sebagian bersifat standar, tidak ada yang mencurigakan. Yakni hanya berisi resume dan referensi, penghargaan dan gelar.

Tapi ada catatan yang ditulis dengan bolpoin merah, mengusik pikiran mereka. Dari halaman yang sebagian terbakar, Luhan jelas mengetahui bahwa masa lalu Kris Wu si petugas kedisiplinan sangat kelam. Ayah Kris adalah seorang mafia besar di China, dan Kris juga pernah masuk penjra karena perdagangan heroin besar-besrannya diketahui kepolisian. Namun dalam berkas-berkas ini, Kris Wu hanya ditulis sebagai anak Mafia, tanpa ada keterangan kriminalnya.

“Mengapa sebagian informasi mereka disembunyikan?” tanya Junghwa.

“Entahlah, kurasa agar image sekolah tidak terlalu buruk— atau… ada maksud lain.” Gumam Luhan.

Saat Junghwa berjalan ke dapur untuk membuat secangkir kopi, lampu mulai berkedip-kedip. Sialan. Hal terakhir yang mengerikan disaat genting seperti ini adalah listrik mati.

“Apa yang terjadi?” teriak Junghwa dari arah dapur. “Sekolah ini memiliki generator cadangan kan?”

“Ya, tunggulah sebentar lagi. Mungkin mereka masih mencoba memperbaikinya.” Luhan berdiri pelan, ia mencoba untuk menyalakan dua buah lilin yang akan ia pasang di dapur dan ruang tamu tempatnya sekarang.

Luhan memandang Junghwa saat wanita itu memegang cangkir kopinya, dan menempelkan bibirnya di pinggiran cangkir. “Mulai sekarang jangan pergi kemana-mana tanpa aku.”

“Jangan sok bersikap manly padaku.”

“Aku serius.”

“Aku tidak percaya pada siapa-siapa.”

“Tidak kecuali aku.” Gumam Luhan dengan percaya diri.

“Kau? Aku bahkan tidak percaya padamu dua kali lipat.” Junghwa mencibir. Ia nyaris mendorong dada Luhan, saat tangannya digenggam erat oleh lelaki itu.

“Benarkah?” Luhan memajukan badannya, matanya mengintimidasi wajah mantan kekasih yang masih dicintainya itu.

“A-apa—“

Secepat kilat lengan Luhan memeluk Junghwa, dan mencium bibir wanita itu. Awalnya Junghwa sempat terkejut, namun akhirnya wanita itu tidak melawan. Junghwa merangkulkan lengannya ke leher Luhan, jari-jarinya membelai rambut Luhan. Mulutnya terbuka untuk Luhan, dan ketika ciuman itu semakin dalam, rasanya kerinduan yang mereka pendam bertahun-tahun itu menguap ke udara.

Junghwa tidak memprotes ketika Luhan mengangkat tubuhnya, membawanya ke dalam kamar lelaki itu.

“Lu-lu—“

Tak ingin mendengar apapun, Luhan kembali meraup bibir Junghwa. Tangan Luhan meluncur ke bawah sweater Junghwa, menarik baju itu keatas, sementara Junghwa berusaha untuk membuka resleting Luhan.

Luhan membuka dan membuang asal bra milik Junghwa dan membenamkan wajahnya ke belahan payudara Junghwa. Luhan mencium puncaknya, memanaskan hasratnya. Junghwa mengerang kenikmatan, tubuhnya bergerak gelisah saat pria itu menggoda, dan menggigit puttingnya, membuat puncak payudara itu mengeras.

Luhan melepaskan celana Junghwa dan menarik celana dalamnya dengan satu sentakan. “Kau yakin tentang ini?” tanya Luhan saat keadaan mereka berdua telah telanjang.

Junghwa tidak bisa berkata apapun, ia terlalu lemas. Hingga ia mengangguk sebagai jawaban.

“Jung-hwa…” ucap Luhan parau.

“Mmm…” gumam Junghwa.

“Aku akan melakukannya sekarang.”

Junghwa membelitkan kakinya diantara tubuh Luhan saat Luhan mendorng kedalam tubuh Junghwa.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Semakin cepat dan lebih cepat. Hentakan demi hentakan, rasa ngilu berubah menjadi nikmat yang tak terhingga. Aroma seks kuat di udara.

Gelombang pertama dirasakan Luhan. Panas. Hebat. Kejang yang membawanya bersama cairan kental itu meleleh di dalam vagina Junghwa. Keduanya mendesah, terengah-engah.

Biarkan angin malam menderu dan bersiul. Sengatan dinginnya salju memukul-mukul bangunan itu. Namun keduanya ada disini. Saling ada dan melengkapi.

.

.

***

Nana lelah menunggu.

Ia kedinginan didalam istal, dan Barry, kuda itu bertingkah gelisah sejak kedatangan Nana. Merasa terganggu. Nana berusaha meyakinkan dirinya bahwa pesan itu dari Kai. Dan lelaki itu akan datang.

Beri dia waktu. Dia akan datang.

Nana menggoyangkan jari-jari kaki dalam sepatu botnya, berharap mengalirkan darah kesana, karena kakinya mulai sedingin es, apalagi merasakan pisau yang ia simpan dibalik sepatunya itu. Mungkin ia harus sedikit lebih relaks dan berjalan-jalan. Namun— ia takut untuk bergerak.

Merasa melihat hantu dalam kegelapan, seolah pembunuh Yuju sedang bersembunnyi dibalik tumpukan jerami.

Konyol sekali.

Tidak ada maniak haus darah yang akan menyerangnya. Demi Tuhan, ia sekarang layaknya berada dalam film Drag Me to Hell.

Nana berjalan, bergerak ke arah pintu. Melewati tumpukan jerami yang berdesir, ia mendengar sesuatu. Langkah kaki? Atau suara kuda-kuda yang berjalan dikandangnya.

Bulu roma di belakang lehernya berdiri. Nana menyipitkan mata untuk melihat di kegelapan, “K-kai?” bisiknya gugup.

#Klik!

Api muncul didepan matanya. Nana melangkah mundur.

Api biru yang berasal dari sebuah pemantik api, nyaris membakar hidungnya.

“Kai, ini tidak lucu…”

Tapi tidak, sepasang mata yang membara dibalik api bukanlah Kim Kai.

Nana berbisik, “Oh Tuhan, apa yang kau lakukan disini?” jantungnya berdegup kencang, kepanikan menguasainya.

“Tebaklah.” Orang itu mendesis pelan.

Rasa takut membekukan tubuh Nana, ia ingin segera meraih palang pintu itu, namun badannya tak bisa bergerak. Pada saat yang sama, orang itu mendekatkan pemantik apinya ke jerami.

#Wuss!

Jerami terbakar, meretih dan menyala menjadi rangkaian api yang besar.

“Apa yang kau lakukan?” Nana menjerit. “Kau gila? Tempat ini akan terbakar..!” Ia memegang palang pintu, namun sebuah tangan yang lebih kuat menghentikannya. “Hentikan! Biarkan aku keluar!”

Api mendesis. Kuda-kuda berteriak, mengamuk. Orang itu menarik tubuh Nana hingga ia terjatuh. Nana melangkah mundur, tak kuasa meliat sorot tajam mata itu.

Tiba di kandang Barry, kuda itu berteriak dan bergerak tak nyaman. Barry menghentak-hentakkan kakinya pada jerami yang terbakar di tanah.

“Apa kau gila?” teriak Nana. Asap semakin tebal dan menghalanginya untuk melihat juga bernapas. “Mundur!” Nana mencoba untuk memanjat jendela, namun orang itu mengayunkan pemantik apinya di wajah Nana. Rasa panas dan perih menjalari kulit kepala Nana yang terkena api, “Apa yang kau lakukan..!”

Nana menjerit saat orang itu menyeret tubuhnya, Nana terjatuh dan orang itu menyeret kakinya. “Kau gila? Biarkan aku keluar dari sini!”

Barry, si kuda besar itu malah terlihat gelisah. Ia menendang-nendang dan menghentak-hentakkan kakinya mengenai punggung dan kaki Nana. Sepatu kuda yang terbuat dari baja itu menghantam tepat di tulang-tulang tubuhnya.

Mengapa ini semua terjadi?

“Aakhh.. tolong aku.. Biarkan aku keluar..” jeritnya.

Barry mengangkat kaki depannya lagi, dan menghajar semua yang ada dihadapannya termasuk tubuh Nana. Berteriak diantara asap. Api yang meretih bagaikan tawa setan.

“Kumohon.. kumohon.. Tuhan… tolong aku..”

Tapi orang itu hanya tersenyum.

Kuda yang panik berputar-putar, mencoba untuk melarikan diri. Dan menerjang kedepan, sepatu baja yang lain mengenai lutut Nana. Rasa sakit itu… sangat menyiksa. Pandangan Nana mulai menghitam. “Kau harus menolongku, kumohon..”

Orang itu berjalan mendekat, “Kenapa tidak?”

Palang pintu dilepaskan dan pintu terbuka. Apa orang yang menyiksanya ini berubah pikiran?

Barry tidak menjerit lagi, kuda itu melesat menuju pintu yang terbuka. Nana menguatkan dirinya, ia mengikuti instingnya, mencoba berdiri.

Tapi— tidak terjadi apa-apa.

Kakinya tidak bergerak, sedikitpun.

Lumpuh? Aku lumpuh?

Nana mencoba untuk melihat orang itu, namun matanya telah terbanjiri air mata. Ia merasa tubuhnya diangkat, ia merintih, ia tidak bisa merasakan bagian bawah kakinya. “Panggil seseorang.” Ujar Nana, pikirannya tidak jelas. “Panggil ambulans!”

“Diam!” suara itu parau, orang itu menyeret tubuh Nana melewati kandang kuda.

Nana memandang dengan tatapan tersiksa, ia diseret menjauh dari kandang kuda yang terbakar menuju sisi yang aman. Dimana alat penyembur air? Kenapa tidak menyala? Dan alat pendeteksi asap, kenapa tidak berbunyi?

Tidak berfungsi.

Dan orang itu mengetahuinya.

Sesaat setelah Nana mengira bahwa ia akan diselamatkan, orang itu melempar tubuhnya. Pisau yang berada didalam sepatu Nana pun terlempat keluar. Orang itu menyadari hal itu.

Pisau itu… oh tidak.

“Kau kidal kan?”

Nana tidak menjawab, ia hanya memandang orang itu saat pisau digunakan untuk menyayat kedua pergelangan tangannya. Jantungnya berpacu,rasa sakit disekujur tubuhnya saat darah mengalir, perlahan-lahan dari urat nadinya yang robek.

Kakinya lumpuh, bahunya memar, dan sebentar lagi— ia akan kehilangan banyak darah dan mati. Pisau itu diletakkan di tangan kiri Nana.

“Kau tahu Nana, Kai tidaklah berharga.” Ucap orang itu lalu melenggang pergi.

Nana terisak, tak tertolong. Kepalanya terasa ringan, Nana merasakan tubuhnya remuk. Hanya bayangan pembunuh itu yang kabur, berjalan keluar melewati pintu. Dan gelap. Napasnya perlahan menghilang.

.

.

***

Junghwa tidak bisa melihat itu lebih lama lagi. Ada sesuatu diudara malam ini. Ia menggigil, seolah hantu baru saja menembus jiwanya. “Aku harus melihat keadaan Minji,” ujarnya merasa frustasi. Ia juga tidak bisa menghubungi adiknya karena ponselnya hilang.

“Minji aman. Dia berada di asrama dengan teman sekamar dan petugas keamanan.” Ujar Luhan sambil memakai kembali pakaiannya.

Junghwa menggeleng, “Itu tidak cukup. Keamanan di sekitar sini tidak sebaik yang kukira. Anak-anak datang dan pergi sesuka mereka— beberapa melarikan diri… tidak heran ada pembunuh yang bebas.”

“Kau ingin memastikan keadaan adikmu? Telepon saja pihak asrama.”

“Tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Ponselku hilang.”

“Ada yang mencuri ponselmu?”

“Kurasa mungkin anak TA kebersihan bernama Niel, dia yang bertugas membersihkan asrama dihari ponselku dicuri. Atau— kepala TA perempuan Kang Jira? Dia punya akses.”

“Kau yakin mereka pelakunya?”

“Entahlah… tapi, jika memang mereka yang mengambil ponselku, mereka akan menyadari bahwa ada kaitan antara aku dengan Minji. Beberapa pesan dan panggilan masuk belum kuhapus.”

“Kau memasang kode pengamannya?”

“Tentu, tapi itu tidak akan sulit untuk dibuka. Anak-anak nakal itu cerdas, sama seperti adikku.”

“Sialan!”

Diluar angin masih memukul-mukul bangunan Xing Boarden. Sementara di istal, api meretih dan bangunan itu hangus terbakar.

..

..

..

Tuhan sedang mengujinya.

Akhirnya sang pemimpin mengerti bahwa Tuhan memberinya tantangan dan sabar untuk mengamati, menyaksikan dan akirnya— dia akan menang.

Lampu pijar memancarkan sinar putih saat ia turun menuju ruangan yang dulunya sebuah bangunan yang tak terpakai ditengah hutan. Di dalam sebuah ruangan, terdapat lemari yang terkunci. Sebuah lemari senjata dimana senapan, pistol, dan walkie-talkie disimpan.

Ponsel masih bisa berfungsi, tapi tidak semua bisa diandalkan. Ia menginvestaris amunisi, kacamata malam, dan pisau, bersama dengan topeng, rompi antipeluru, dan jaket ekstra.

Ia sudah siap.

Pemegang agama yang fanatik, ia berdoa kepada Tuhan akan dedikasi terhormatnya. Ia juga memikirkan Jung Eunji, gadis perayu yang cantik. Bagaimana gadis itu mengecoh dan kabur lebih cepat dari dugaannya, berlari ke sungai.

Ada alasan mengapa tubuh Eunji tidak pernah ditemukan. Tidak akan pernah. Sambil berdiri ia mengeluarkan benda kecil dari sakunya, sang pemimpin membuang flashdisk itu kelantai dan menghancurkannya. Dimana flashdisk itu menyimpan data-data tentang dirinya, tentang misinya dan dokumen-dokumen rapi yang telah dicuri gadis itu.

Untuk sekarang.

Ia tidak bisa melakukan kesalahan.

Dan Junghwa, wanita yang sedang diincarnya. Pasti akan bertindak seperti Eunji dan meninggalkannya.

Langkah kaki menyadarkan lamunan sang pemimpin. Para bawahannya sudah datang. Mereka semua tak bersuara tapi mengambil posisi, bersemangat dan penuh antusias, semangat anak muda yang terpancar di mata mereka. Mereka fanatik, kader yang pintar, prajurit yang berbakat, dan siap untuk bertindak.

.

.

-TBC-

Author note :

Annyeong! Wkwkwk semoga kalian blm bosen ya sama cerita ini yg belum keungkap pelakunya.. haha emang aku pengennya begini 😀

Sebentar lagi juga mau klimaks, jadi aku haraappp bgt buat reader semua untuk meninggalkan jejak setelah membaca yaa.. komen satu atau dua kata aja udah cukup kok buat aku. Yang penting kalian udah nyemangatin author buat lanjutin cerita ini.^^

See you.. leave komen kalau chap depan gk mau di protect lagi.

INSTAGRAM: lovanita

TWITTER: @lovanita_

WATTPAD: morschek96

 

Regard.

-morschek96

https://thekeikosine.wordpress.com

 

Iklan

6 pemikiran pada “Xing Boarde [Chapter 10]

  1. Orange

    Aku sudah baca di blog sebelah kak. Dan baca lagi disini. Seruuu kak. Gaada bosennya 😂😂😂😂
    Ditunggu lanjutnya kak. Mangatseeee!!! Jangan lupa makan 😄😄😄

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s