LOUDER [Chapter 4]

louder-morschek961

MORSCHEK96 presents Louder

(Another Story of Shame [Ficlet Series])
[Shame][Ain’t That Bad][Rumor][Night Changed] –  [Unbelievable][Retaliation]

School life, Sad-Romance, Bully || PG-17!

Staring:

Kim Jong In (EXO)

Ahn Jisoo (OC), Kim Myungsoo (Infinite)

Others.

Cr. Poster by @LUXIE

COPYING AND PLAGIARIZING THIS STORY ARE FORBIDDEN!

PREVIOUS: [Prolog][Chapter1][Chapter2][Chapter 3]

“—Husshh baby, speak softly.”

***

Pagi ini gadis itu bangun saat sinar matahari menghantam keras wajahnya. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum ia menemukan pemandangan sebuah ruangan berwarna putih dengan ornament abu-abu dan hitam. Ini jelas bukan kamarnya.

Merasa pening di kepala dan nyeri di tubuh saat gadis itu berusaha untuk duduk bersandar headboard.

“Kau sudah bangun?” Pintu kamar terbuka, Myungsoo berjalan masuk dan duduk di tepi tempat tidur.

Jisoo mengangguk kecil sebagai jawaban.

Myungsoo terkekeh lalu mengangguk pelan, “Aku tidak bisa berpikir jernih semalam ketika kau pingsan, jadi aku langsung membawamu ke apartmentku.”

Yang baru Jisoo sadari adalah kini dirinya sudah bersih dan memakai hoodie kebesaran milik Myungsoo. Pasti lelaki itu yang menggantikannya, namun Jisoo terlalu malu untuk bertanya pastinya.

“Apakah lukamu sudah baikan? Apalagi yang sakit?” ujarnya bertbi-tubi. “Aku akan memanggilkan dokter nanti setelah aku pulang, dansekarang aku akan berangkat dulu.”

“Berangkat? Kemana?” Akhirnya bibir es itu terbuka juga. Membuat Myungsoo lega bahwa Jisoo sudah mau membuka suara.

“Ke sekolah tentu saja.”

Sontak Jisoo melihat baju yang lelaki itu kenakan, benar, itu seragam sekolah.

“A-aku juga harus ke sekolah.” Ujarnya panik lalu menyibak selimut, Jisoo memaksakan untuk berdiri namun sesuatu seolah mencengkeram erat bagian kaki dan pinggangnya, nyeri sekali, “Aww.”

Myungsoo bergerak mendekat, “Apa ku bilang, kau harus istirahat. Tidak perlu ke sekolah hari ini.”

Jisoo mengangguk pelan pertanda mengerti. Tubuhnya terasa remuk, kepalanya pening. Salahkan dirinya yang memang telah membuat gara-gara dengan Kai.

“Aku sudah menyiapkan makanan di meja jika kau ingin sarapan.” Ujar Myungsoo sebelum keluar menyisakan Jisoo kembali terbaring di ranjang.

***

Hal pertama yang ia sadari setelah melihat apartment Myungsoo secara keseluruhan adalah bahwa lelaki ini berasal dari keluarga yang kaya. Apartment yang ditinggali Jisoo jelas tidak ada apa-apanya dibanding tempat ini.

Membasuh wajahnya, Jisoo melihat pantulan wajahnya sendiri di cermin. ‘Ironic.’ Bisiknya lirih.

Bagaimana wajah lebam nan menyedihkan itu tetap memaksakan untuk kuat. atau— berpura-pura kuat. Jisoo menggeleng pelan.

Kapan hal menyedihkan ini akan berakhir?

Berjalan tertatih menuju sofa, ia menyalakan televisie untuk setidaknya mengurangi kebosanan. Ia letakkan tubuh yang terasa remuk itu perlahan. Jangan salahkan jika suatu saat Jisoo bersedia dijadikan masokis oleh Kai, karena ia telah terbiasa disiksa setiap hari.

Melirik ke arah jam dinding yang terpasang, masih kurang setidaknya dua jam lagi bagi Myungsoo untuk pulang. Ponsel Jisoo bergetar ketika ia sedang memindah-mindah channel TV

Dengan cepat ia membuka pesan tersebut.

From: Uri Appa

“Jisoo-ya, presentasi appa telah berhasil. Perusahaan kita selamat, nak. Maka bulan depan sudah bisa dipastikan Appa dan Eomma akan pulang.”

Seketika Jisoo memikirkan tentang hidupnya. Bagaimana jika— orang tuanya mengetahui keadaannya saat ini, bisa-bisa ia dipindahkan untuk sekolah ke luar negeri. Dan itu belum tentu bisa menjamin bagaimana kehidupannya disana.

***

“Jadi— dimana pacarmu yang tengah sakit itu?” seorang lelaki paruh baya memasuki ruangan disusul dengan lelaki yang lebih muda.

“Sudah kukatakan dia bukan pacarku, Dokter Lee.” ujar Myungsoo putus asa, ia tahu bahwa takkan ada gunanya berdebat dengan orang keras kepala seperti Dokter Lee ini.

“Aiishh.. aku ini juga pernah seusiamu, jadi tidak perlu berpura-pura.” Godanya sekali lagi pada anak temannya tersebut.

“Terserah.” Jawab Myungsoo singkat.

“Jadi benar kau membawa pacarmu kemari?” Dokter berusia empat puluh tahunan itu semakin memojokkan Myungsoo, ini memang salah satu hobinya.

Myungsoo membuka kamar dimana ia menempatkan Jisoo, dan benar saja, gadis itu tengah memainkan ponsel sembari bersandar headboard.

“Itu dia disana.”

Sontak Jisoo melihat ke arah pintu. Tatapan teduh Myungsoo adalah hal pertama yang ditangkap pengelihatannya. Jisootersenyum saat menyadari bahwa Myungsoo membawa seseorang lain.

“Ini Dokter Lee, dokter pribadi keluargaku. Beliau akan memeriksamu, oke?” ujar Myungsoo perlahan. Ia sadar jika sedari tadi Jisoo terus memandangnya dan itu membuatnya sedikit salah tingkah.

“Annyeong.” Sapa Dokter Lee saat matanya bertemu pandang dengan Jisoo. “Aigoo… jadi nak, apa pacarmu yang tampan ini tidak menjagamu hingga kau bisa lebam-lebam seperti ini?”

Pertanyaan yang tiba-tiba, terdengar suara hembusan napas kasar Myungsoo. Sedangkan Jisoo sendiri tak tahu seperti apa harus menanggapi pertanyaan tersebut, “T-tidak.” Jawabnya ragu.

“Bagaimana kau ini.” Cela dokter itu sekali lagi pada Myungsoo.

“Sudah kubilang dia bukan kekasihku.” Ujar Myungsoo putus asa.

Setelah mengalami beberapa perdebatan, akhirnya Dokter Lee memasang beberapa perban di kaki juga pinggang Jisoo. Sekuat mungkin Jisoo menahan bibirnya untuk tidak berteriak, namun bukan main, luka ini sangatlah sakit.

“Lukanya tidak terlalu parah. Tapi kalau bisa jangan terlalu memaksakan untuk beraktifitas dulu ya.”

“Ya dokter.” Gumam Jisoo pelan.

***

Malam semakin larut dan diluar hujan sangat deras mengguyur permukaan kota Seoul. Bunyi angin sesekali membentur jendela kaca yang terpasang disana. Sedangkan kedua insan yang berada di apartment mewah itu duduk di ranjang. Saling memandang dan bercerita.

Guntur menggelegar sekali lagi, dan Jisoo dengan reflek memegang pundak Myungsoo.

“Tak apa, aku disini.” Ujar lelaki dihadapannya lirih.

Tatapan teduh, wajah hangat, dan bibir ranum yang tersenyum itu seolah menghipnotis Jisoo. Ia mengedipkan kelopak matanya beberapa kali sambil menstabilkan deru napas.

“Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan siapapun menganggumu. Bahkan Kai dan gerombolannya sekalipun.”

Ya, Jisoo telah menceritakan segalanya pada Myungsoo. Dimulai dari ia yang mengunggah foto di situs sekolah, kai marah dan menghajarnya, hingga kejadian tadi malam. Kecuai di-bagian-yang-Kai-sengaja-menciumnya-kasar.

Tidak.

Ia tidak akan menceritakan bagian itu pada siapapun. Lelaki brengsek yang memilin diri menjadi benih perusak akal sehat.

“Mengapa?”

“Apa?” lelaki itu balik bertanya.

“Mengapa kau membantuku? Sudah jelas-jelas disini memang aku yang salah. Kau tidak—

“Aku yakin kau pasti memiliki alasan tersendiri untuk melakukannya.” Sela Myungsoo cepat. “Aku tidak tahu seperti apa hidupmu sebelumnya, Jisoo-ya. Tapi aku merasa nyaman berada didekatmu.”

Jawaban telak. Bukan ini yang Jisoo harapkan. Sebuah pengakuan yang memuakkan. Semua lelaki itu— sama saja. Salahkan dirinya yang tidak mengetahui apa arti cinta. Salahkan kesialan bodoh yang terus menghantuinya di Sekolah Sekang ini.

Jisoo lelah. Ia tak ingin keterpura-puraan menghiasi hidupnya. Dan untuk saat ini— Jisoo masih ragu apakah Myungsoo benar-benar tertarik padanya atau hanya kasihan melihatnya.

“Kau tahu— aku tidak suka dikasihani.”

Mengalihkan pandangannya, Myungsoo mengakhiri kontak keduanya, “A-aku… tidak—“

“Myungsoo-ya, pastikan bahwa kau tidak akan menyesal untuk menolongku.”

“Tidak akan.”

Menghela napas berat, Jisoo tersenyum lirih, “Aku ingin pulang.” Ucapnya.

“Sekarang? Tapi— “ Myungsoo melihat keluar jendela, “Ini sudah terlalu larut dan hujannya sangat deras. Dan aku juga lelah.” Myungsoo menggerakkan badannya perlahan, membuktikan pada Jisoo bahwa ia sedang kelelahan, “Uhh.. kau lihat? Aku capek. Bisakah kau tinggal dulu untuk malam ini? Dan aku akan mengantarkanmu pulang besok pagi.”

Menimbang-nimbang, Jisoo hanya tak ingin menjadi beban bagi lelaki yang barsaja dikenalnya, namun— melihat keadaan sekarang, ia tak mungkin memaksa Myungsoo untuk mengantarkannya pulang. “Baiklah. Aku akan menginap lagi malam ini.”

“Yeayy… anak pintar.” Myungsoo mengacak rambut Jisoo. Keduanya terkekeh hingga tak sadar jarak mereka hanya terpaut beberapa centi.

Detik-detik waktu terasa melambat, hanya wajah masing-masing yang dapat mereka lihat. Tangan Myungsoo turun kebawah, menjelajahi pahatan wajah Jisoo dengan lembut sedangkan tangan yang lain telah berada di pinggang gadis itu.

Perlahan, Myungsoo mendekatkan wajahnya. Bibir ranum itu mendarat di permukaan bibir Jisoo yang terasa sedingin es. Gadis ini kedinginan, dan Myungsoo menyadari itu. Berusaha menggerakkan bibirnya, menyelurkan kehangatan.

Namun baru beberapa kali bibir itu bergerak, Jisoo telah mendorong dada Myungsoo pertanda ia ingin mengakhiri kegiatan ini.

Napas gadis itu tersengal dan wajahnya merah padam. Namun setelah beberapa detik, Jisoo mulai tersenyum. Sebuah pertanda bahwa ia juga menyukai ciuman tadi.

“Kau manis.” Bisik Myungsoo seduktif di telinganya.

Bukan apa-apa Jisoo mendorong tubuh Myungsoo untuk menjauh. Hanya saja— ini sedikit mengingatkannya pada perlakuan Kai kemarin malam padanya. Bedanya, Kai melakukannya dengan kasar dan menuntut, namun Myungsoo sangat berhati-hati saat menyentuhnya. Seolah Jisoo adalah barang yang rapuh dan mudah hancur.

.

.

***

Ini memang rencananya untuk sedikit menjauh dari gadis itu setelah perlakuan kasarnya beberapa hari yang lalu. Namun— sudah tiga hari Kai tak melihat keberadaan gadis itu disekolahnya.

“Jangan bilang kau merindukannya, Kai.” Ujar si lelaki panda yang sedang melahap rotinya.

“Kau gila.” Cemoh Kai.

“Aku bertanya pada teman sekelasnya dan mereka bilang bahwa memang sudah tiga hari ini Ahn Jisoo tidak masuk sekolah.” Kini Sehun angkat bicara.

“Mungkin kau terlalu kasar menyiksanya.” Timpal Tao sekali lagi.

“Kurasa aku tidak terlalu keras menendangnya.” Gumam Kai pada diri sendiri yang masih dapat didengar oleh kedua temannya.

“Jadi kau juga menendangnya? Oh tidak— bagaimana jika… uri Jisoo meninggal?” ujar Tao, ia memelankan suaranya saat mengucapkan kalimat akhir.

“Tidak akan sampai membuatnya meninggal, bodoh!”

Kai menatap dinding dengan frustasi. Apa yang sudah kulakukan?

.

.

***

Hampir setiap hari setelah pulang sekolah Myungsoo selalu menjenguk Jisoo. Seperti saat ini, apartment yang tadinya sepi dan kosong itu tiba-tiba terhiasi oleh suara tawa keduanya.

Myungsoo membantu Jisoo berjalan ke arah sofa. Kakinya memang sudah tak lagi terasa sakit, namun Myungsoo tetap memaksanya untuk tidak terlalu ‘memaksa’.

Sambil menonton televisie mereka memakan tteokbokki yang sempat Myungsoo beli saat perjalanan ke apartment Jisoo.

“Jadi tuan— apa kau masih tidak mengizinkanku untuk datang ke sekolah? Ini sudah hari ketiga aku tidak hadir.”

“Eung… tapi berjanjilah untuk bisa menjaga dirimu.” Myungsoo hanya khawatir. Bagaimana jika— Kai. Tidak, tidak. Lelaki itu memang sangat berkuasa di sekolah. Apa yang bisa dilakukan anak baru sepertinya.

Dan untuk alasan ini pula— Myungsoo tak menyetujui hubungan sepupunya dengan salah satu teman Kai. Mereka semua berandalan. Anak orang kaya yang manja.

“Hm.” Jisoo mengangguk mantap. Dan dihari-hari ini, entah mengapa ia bisa menjadi lebih dekat dengan Myungsoo.

.

.

-TBC-

Author Note:

Twitter: @lovanita_

Instagram: lovanita

Makasih ya buat readers sekalian yg udah mengirimkan review dimanapun aku mempublish FF ini. Setidaknya sekarang FF ini sudah aku publish di 3 tempat. Yaitu KAIFFI, EKF, dan tentunya blog pribadi aku sendiri. (https://thekeikosine.wordpress.com)

Thanks buat semua yg udah nyemangatin aku. Dan buat para SIDERS— ayolah tunjukin eksistensi kalian. Kirim tanggapan kalian di kolom komentar, yuk kita kenalan. Bukankah itu menyenangkan? (alah bahasa gue) wkwkwk 😀

Gak pernah bosen utk ngingetin kalian memberikan sedikit review. Karena hal tsb memberikan dampak yg besar buat author untuk ngelanjutin FF apa gak, dan chapter selanjutnya bakal di protect apa gak. Huehehe.

See you all~

-morschek96 https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

46 pemikiran pada “LOUDER [Chapter 4]

  1. baeksena

    Kayak nya chapter ini spesial jisoo dan myungsoo deh. Nggak tahu gimana reaksi Kai kalo liat kedekatan jisoo dan myungsoo. Semangat kak buat chapter selanjutnya

    Suka

    1. morschek96

      Hihii iya wkwkwk.. Kalinya dikit ya dsni hehe maapkeun.. Karena pertemanan Jisoo & Myungsoo jg kan brtahap, jd aku banyakin mrk.. ☺
      Thx for review ~

      Suka

  2. exocietal

    halo kakk aku sering ngikuting cerita kakak di kaiff dulu aku ngeliat makin kesini ceritanya makin rapiii makin seru jugaaa , aku gak mau menggurui sih kak cuma mau kasih tanggapan aja, aku sempet cari cari web pribadi kakak lo terus baru ketemu pas di kaiff yg gak sengaja aku buka lagii

    sukses terus nulisnya kakk

    Suka

  3. Orange

    Yeaaah. Akhir nya update juga 😄😄😍😍
    Sekian lamaaaa aku menungguu.. 😂😂
    #nyanyi dlu
    Makin lama makin keren kak. Aku suka gaya bhasa nya jg. Ringan tapi ngena. #ceileeh.
    Semangat kak. Ditunggu lanjutannya. 😘😘

    Suka

    1. morschek96

      Haloo.. Maaf ya kalo updatenya lama wkwkwk, soalny ini jg lg musim liburan.. 😊😀
      Syukur deh kalo pada suka sm ceritanya.. ^^
      Thanks for review ~😉

      Suka

  4. baeksena

    Maaf kak aku koment di sini tentang pengumuman kakak yang mau hapus blog ini( semoga nggak jadi). Kenapa di hapus kak? Terus gimana dengan ff berchapter punya kakak? Makasih kak..

    Suka

    1. morschek96

      Hai, aku tahu ini pasti berat utk ninggalin semua ini. Dan aku msh mempertimbangkan utk memiliki akun wp baru. Atau, akun ini yg nnti akan aku rombak, semuanya. Mulai dr pename, url, tampilan blog, dll. Makasih ya krn masih mau peduli 🙂 aku gk ada apa2nya tanpa kalian semua

      Suka

  5. Ping-balik: LOUDER [Chapter 5] – KEIKO SINE

  6. Sumpaaahhh gila ini sampek kayak gitu disiksa kai. Kalo aku jadi jisoo udah aku lapora ke polisi atau ke HAM sekalian. Jahat banget dia. Untung ada myungsoo kalo enggak udah deh mending mati bunuh diri.

    Suka

  7. Ping-balik: LOUDER [ Chapter 6] – KEIKO SINE

  8. Ping-balik: LOUDER [ Chapter 6] – KAI FanFiction Indonesia

  9. Ping-balik: LOUDER [Chapter 7] – KAI FanFiction Indonesia

  10. Ping-balik: LOUDER [Chapter 7] – KAI FanFiction Indonesia

  11. morsaey

    emang dasar nya suka kai sih ya, jadi walau dia sebiadab apapun tetep diterima kok
    bagus bagus bagus
    refreshing ff disela ujian
    kebut dari chap awal, dan sebenernya paling suka sama scene jisoo kai
    good masterpiece dahh

    Suka

  12. Ping-balik: LOUDER [Chapter 14/END] – KEIKO SINE

  13. Ping-balik: LOUDER [Chapter 12] – KAI FanFiction Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s