Xing Boarden [Chapter 9]

xingb-morschek96

Xing Boarden by. morschek96

Dark-Crime, Romance, Mystery || PG-16

Lee Junghwa & Lu Han

Lee Minji, EXO members and etc.

PRE : [prolog][1][2][3][4][5][6][7][8][password]

“No need a map to guide me“

***

Pagi ini Junghwa merasa dirinya benar-benar sedang diintai. Ponsel yang ia letakkan diatas meja telah hilang entah kemana. Ia mencari di dalam tas, lemari, semua saku jaket dan celana, namun tidak ada.

Sialan!

Tak punya banyak waktu, ia harus segera menuju kelas untuk mengajar.

Junghwa menghela napas saat Luhan menyampaikan perkembangan tentang kematian Xiumin dari Sheriff Donghae. Junghwa mendengarkan, sedikit gemetaran, kecemasan membuatnya tegang.

Luhan menambahkan, “Dalam beberapa hal, aku tidak tahu bagaimana anak-anak ini menghadapi ketegangan. Seorang pembunuh yang bebas, dan kita semua terjebak disini dalam badai. Kecuali bajingan itu pergi di malam setelah menyerang Yuju dan Xiumin, atau— ia juga terjebak disini karena badai.”

“Bersama kita semua disini, aku tahu.” Junghwa menambahkan.

Luhan menyaksikan rasa ngeri Junghwa dan sangat ingin merangkulnya, memeluknya erat, dan mengucapkan bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi itu tidak dilakukannya. Pertama, Luhan harus tetap ber-acting biasa kepada Junghwa, bahwa ini kali pertama mereka berkenalan. Kedua, ia sudah bersumpah tidak akan mencoba menjaga diri dari wanita ini, karena Luhan yakin, hubungan mereka sudah berakhir.

Namun jika boleh jujur— Luhan masih merasakan ketertarikan itu ketika berada didekat Junghwa. Karena yakin atau tidak, ia belum bias melupakan Junghwa. Berada didekat wanita ini, menatap matanya yang gelisah, memandang bibirnya. Luhan sadar kalau ia masih menginginkan Junghwa.

Tunggu— apa yang salah dengan dirinya?

“Lu saem..!” panggil suara anak muda, memecahkan momen. Luhan menoleh kebelakang dan melihat anak TA bernama Tao berlari menuju mereka.

Oh sial! Luhan lupa bahwa ia ada janji dengan anak ini.

“Aku harus pergi.” Ujar Luhan.

“Tunggu Luhan saem, aku belum selesai.” Junghwa bersikeras menarik lengan Luhan.

Tidak sekarang, pikir Luhan. Tidak ingin bertindak mencurigakan, Luhan melepaskan genggaman Junghwa. “Kalau begitu datanglah ke tempatku Lee saem. Tidak keberatan kan? Jam sembilan.”

Junghwa mengangguk.

Tapi— sial! Apa yang kau pikirkan, Luhan? Mengundang Junghwa ke tempatmu? Mengundang bencana.

***

“Kalian salah!” Nana bersikeras, Sohee menatap kearahnya. Tubuhnya gemetar saat meletakkan sendok sup di meja.

Minji dan kedua temannya yakni Sora dan Mei menatap heran kearah keributan. Nana tetap bersikeras bahwa Kai adalah yang terbaik untuknya. Selama dua hari terakhir, teman-teman Nana mencoba untuk meyakinkannya agar tidak mendekati Kai. Namun Nana yakin, bahwa Kai adalah pasangan sejatinya, satu-satunya pria yang dicintainya.

Astaga, ia sangat sengsara, dan tidak bisa mengangis. Air matanya telah membeku, dan malam-malamnya terasa dingin tanpa kehadiran lelaki itu.

“Aku hanya kawatir kalau kau berdekatan dengan Kai, kau tahu, Kai, Kyungsoo dan Baekhyun dekat dengan anak-anak TA itu.” Sohee mencoba menenangkan lagi.

“Well, lupakan saja. Tidak ada lelaki yang pantas membuatmu begini.” Ujar Minji seolah memahami situasi.

“Kai pantas.” Ujar Nana semangat. Setelah itu pintu cafeteria terbuka, beberapa anak TA masuk dan Kai juga berada di kerumunan itu, merangkul Yuri.

“O-oh..” pandangan Mei menyapu ruangan, dimana Kai dan Yuri duduk berdua saja. “Aku tidak percaya dia berani muncul disini bersama perempuan itu.”

“Mereka berdua calon TA.” Ujar Sora yang berada disamping Minji.

Sontak Nana ingin segera menghilang dari tempat itu. Ia menatap geram kearah mereka.

“Dasar lelaki playboy.” Desis Sohee, teman terbaik Nana.

“Temanmu tidak mau membicarakan itu, oke?” ujar Minji menanggapi.

Sementara Kai, memandang sekilas kearah Nana, melempar senyum tak berdosa. Seolah Nana adalah murid asing yang tak dikenalnya.

Nana mendorong kursinya ke belakang dan berdiri, berjalan menuju toilet. Ia bisa merasakan tatapan-tatapan heran kepadanya, dan ia sangat berharap Kai merasakan kepedihannya dan mencarinya.

Tapi tentu saja Kai tidak melakukan itu.

Di dalam toilet Nana menyalakan keran dan membasuh tangannya. Terjadi selang beberapa detik hingga pintu toilet kembali terbuka, Yuri masuk kedalam.

“Hai.” Kata Yuri enteng, seolah tidak ada yang salah. Ia berdiri dan mencondongkan wajahnya ke cermin, ia memperhatikan kelopak matanya yang lebar sempurna, tak seperti orang Korea kebanyakan. Bisa dibilang gadis ini mempunyai lekuk wajah nyaris sempurna.

Tanpa mengeluarkan suara, Nana meninggalkan toilet dan berjalan menuju koridor, dimana Luhan sedang berdiri bersandar dinding, menunggunya.

Luhan menyadari kehadiran Nana dan mendekati gadis itu, “Nana-ssi kau tidak apa-apa?”

“A-aku baik-baik saja Luhan saem.” Ujarnya pelan, nyaris mencicit.

“Kau yakin?”

“Hmm.” Nana menganggukkan kepala. Tenggorokannya terasa tersendat karena menahan isak tangis, tapi ia melanjutkan, “Saya— kurasa saya mau sakit.”

“Jika kau butuh seseorang untuk diajak bicara kau bisa menemui Dr. Song, atau aku, jika kau tidak keberatan.”

“Ya, terima kasih Luhan saem.” Ujar Nana memaksa keceriaan dalam kalimatnya. Tapi— hanya dengan diajak bicara, tidak akan menolong Nana. Bicara akan sia-sia. Ia butuh tindakan.

.

.

***

Junghwa berdiri menghadap jendela kamarnya yang gelap dan berharap tidak ada yang melihatnya sedang mengawasi suasana sekolah. Dengan fokus, ia memakai jaketnya, syal, dan sepatu bot, serta mengambil senter dan kunci kamar. Ia tidak mungkin bisa tinggal didalam kamar ini dan tidak melakukan apa-apa, hanya duduk dibalik pintu dan berdoa agar selamat. Apalagi dengan seorang pembunuh di sekolah, dan adiknya sedang dalam bahaya.

Junghwa bergegas menuruni tangga. Ia membetulkan syalnya sambil berjalan melewati rest area. Pintu bawah tangga terbuka.

Jungwa nyaris melompat ketika anak TA, Yoon Bona membuka pintu sambil membawa penyedot debu dan lap kering di bahunya. Beberapa anak TA yang mengurusi tentang kebersihan akan melakukan jadwal piket yang digilir.

“Kau mengagetkanku..!” Seru Junghwa lalu tertawa.

“Maaf saem.” Bona berjalan menuju sofa dan merapikan tumpukan majalah diatas meja. Ia menyalakan alat penyedot debu, dan mulai membersihkan karpet.

“Kau pasti mengerjakan tugas malam.”

“Yeah..” ujarnya lemas, “Beruntungnya aku.”

Junghwa tidak berniat untuk basa-basi tapi ia ingin mencari tahu, “Apakah kau yang bertugas selama seminggu ini?”

“Tidak saem, kami bergiliran.” Ujar Bona, ia menarik lap dan membersihkan rak buku.

“Eumm.. kau bertugas dua hari yang lalu?”

“Tidak.”

“Kau tahu siapa yang bertugas?”

“Uh… Niel mungkin, atau Key. Aku tidak yakin.” Bona mengeluarkan selembar kertas yang telah dilipat-lipat dari saku celananya. Sebuah jadwal, “Ya, sudah kuduga, Niel yang bertugas. Kenapa? Dia melewatkan kamar anda?”

“Tidak.. bukan, bukan begitu.” Ujar Junghwa, ia bersyukur mengetahui sebuah nama yang kemungkinan menyelipkan secarik kertas di kamarnya. Atau jika tidak— mungkin Niel melihat siapa yang berkeliaran di sekitar asrama staff wanita.

“Well, keadaan sedikit berubah minggu ini. Biasanya satu orang membersihkan satu gedung, tapi untuk sekarang— kami bertugas berdua.”

“Jadi kau punya pasangan?”

“Ya, Hoseok sedang membersihkan lantai dua.”

“Baiklah, kurasa aku akan pergi dulu. Sampai jumpa Bona-ssi.”

“Ne saem.”

Junghwa mendorong pintu dan hembusan udara yang sangat dingin menerpa tubuhnya. Angin menjerit sepanjang malam, menggoyangkan pohon-pohon oak besar yang tertanam disekeliling sekolah.

Baiklah, ia mengumpulkan keberanian. Ia akan dipecat jika ketahuan masuk ke kantor Son Kwanghee. Tapi apapun yang akan terjadi nanti, ia tidak akan goyah untuk menjalankan misinya sekarang. Ia berhenti sebentar didepan sebuah pondok yang tidak terlalu besar, tempat tinggal Kepsek Kwanghee yang private.

Namun seketika tubuhnya membeku, Junghwa mendengar langkah kaki seseorang.

“Lee saem?” Tanya seorang pria. Junghwa berbalik dan menemukan dua orang lelaki bertubuh tinggi yang memakai tutup masker.

“Junghwa saem?” salah satu pria membuka maskernya, Youngjae. Salah satu TA keamanan.

Sialan! Umpat Junghwa dalam hati.

Lelaki satunya juga membuka masker, anak TA bernama Zico. Junghwa rasa mereka sedang melakukan patroli.

“Anda keluar sendiri?” Tanya Youngjae.

“Oh Tuhan! Kau mengangetkanku.” Ucapnya gelisah. “Aku hanya ingin ke gereja sebentar, kau tahu— berdoa dan meminta penjagaan.”

Alis Youngjae menyatu. “Tapi peraturannya tidak ada yang boleh keluar sendirian pada malam hari. Ini demi keselamatan anda sendiri.”

“Aku tahu tapi ini minggu pertamaku yang berat bekerja disini.” Ujar Junghwa kembali berbohong.

Youngjae mengerjapkan matanya, ia melihat kearah salju yang kembali turun malam ini, sepertinya menerima penjelasan Junghwa. “Baiklah, anda ingin kami menemanimu? Aku dan Zico sedang bertugas.”

“Tidak, tidak perlu. Aku tahu kalian harus berpatroli.” Junghwa menolak cepat. “Aku hanya sebentar.”

Youngjae mengangguk, ia hendak meninggalkan tempat itu ketika semak-semak didekat gazebo terlihat bergerak. “Apa yang—“ kalimat Youngjae terpotong. Ia dan Zico segera berlari menuju gazebo.

Tak ingin melewatkan kesempatan, Junghwa segera berjalan cepat, ia melewati gereja dan menuju kantor Kwanghee.

Junghwa mencoba membuka pintu.

Terkunci.

Tentu saja.

Sial!

Junghwa bukan seorang pencuri, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika ingin menerobos masuk.

Tapi — jendela.

Beberapa jendela bisa dibuka dari dalam dan luar. Junghwa berlari ke samping pondok. Ia menemukan sepasang jendela yang seperti itu. Ketika ia masuk, ia tahu bahwa ini adalah kamar mandi. Baiklah— jadi dimana kantornya?

Oh beruntungnya Junghwa, karena kamar mandi itu langsung berhubungan dengan kantor Kwanghee.

Ia mencari berkas-berkas, namun meja kerja itu terliat kosong. Apa berkas-berkasnya ada di laci? Lemari?

Semua ototnya tegang. Junghwa mencari dengan cepat. Ia mencoba untuk mencari kunci lemari besar itu, namun tidak bisa. Mungkin karena terlalu gugup.

Dimana Kwangee menyembunyikan kuncinya? Junghwa tidak memiliki banyak waktu, dan ia bukan seorang pencuri yang handal. Dan— bagaimana jika Youngjae dan Zico kini sedang memeriksa gereja dan tidak menemukan dirinya disana? Ia akan dicurigai.

Keringat membasahi telapak tangannya. Sial. Sial. Sial.

Hingga di bawah lemari, Junghwa menemukan palu. Ia tidak bisa memikirkan hal lain selain merusak pintu lemari itu.

Namun ia segera mendengar suara langkah kaki mendekat. Junghwa diam membeku. Ia mengembalikan palu itu kembali kebawah lemari.

Oh Tuhan.

Junghwa bergegas untuk masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.

“Baiklah aku harap FBI benar-benar akan datang. Seseorag harus melakukan sesuatu.” Ujar Jwanghee menutup pintu kantornya.

Son Kwanghee sedang berbicara dengan siapa?

“Benar! Ya ya, aku tahu. Percayalah kita punya masalah yang serius.”

Tidak ada jawaban dan Junghwa menyimpulkan bahwa lelaki itu sedang menelpon.

Jantung Junghwa berdegup tak karuan. Haruskah ia tetap disini atau berlari kabur sebelum ketahuan?

“Aku tahu itu! Makanya perintahkan seseorang kemari… apa? Sheriff? Suaramu tidak jelas… apa kau dengar aku??”

Junghwa menahan napasnya saat suara Kwanghee terdengar lebih keras untuk berbicara di telepon. Ia tetap menempel di pintu, mendengarkan.

Sabar.

Tunggu.

Mungkin kau akan mendapatkan sesuatu.

Junghwa mendengar suara kunci terbuka, suara laci yang dibuka pintunya. Ia tetap diam, konsentrasi. Mencoba menebak apa yang sedang dilakukan Kepsek Kwanghee.

#Pruukk

Suara kertas-kertas yang diletakkan di meja.

#Prukk

Lagi.

Dan tak lama kemudian.

#Wuusss!

Udara. Apa itu?

#Krettkk… #Krekk

Api. Itu suara kertas yang dilemparkan ke tempat perapian. Udara dingin dan panas berhembus melewati cerobong asap.

Apa? Mengapa Kwanghee bermain-main dengan api?

Dokumen-dokumen itu— tidak salah lagi. Pasti Kwanghee sedang berusaha menyingkirkan beberapa dokumen. Bukti dari— entah apa yang disembunyikannya.

Suara pintu tertutup, dan bunyi klik menyusul. Pintu kantor kembali terkunci.

Junghwa keluar dari tempat persembunyiannya. Ia melihat ke sisi perapian. Ia melihat kertas-kertas dibakar.

“Dasar sialan! Apa yang coba kau lakukan?” Junghwa menarik kertas-kertas yang mungkin bisa diselamatkan. Namun sebagian besar telah terbakar api.

Semua berkas yang berhasil ia selamatkan adalah tentang staff dan murid-murid. Tidak ada laporan keuangan, tidak ada yang mencurigakan.

Tapi — mengapa Kwanghee mencoba mengenyahkannya? Bagaimanapun Junghwa harus mencari tahu.

Junghwa keluar lewat jendela kembali, berkas-berkas itu ia sembunyikan didalam jaketnya. Ia harus cepat sampai ke kamar sebelum seseorang kembali berhasil memergokinya.

“Kau pikir Lee saem sudah kembali ke kamarnya?”

Itu suara Zico, Junghwa merapatkan tubuhnya ke dinding.

“Ya, karena gereja sudah kosong dan kita sudah menguncinya.” Jawab Youngjae.

“Youngjae-ah, apa kau percaya cerita gadis itu? Bahwa dia pergi ke gazebo untuk bermeditasi, maksudku menenangkan diri?”

“Tidak tahu. Tapi dia merasa gelisah tadi.”

“Aneh, tapi bukankah mereka semua begitu? Bicara soal dunia fantasi. Maksudku, berada di gazebo di tengah adanya badai salju. Apa dia tidak gila?”

“Nana sedang punya masalah, anggap saja begitu.”

Langkah kaki mereka terdengar menjauh, dan Junghwa mendesah halus.

Apa yang sedang mereka bicarakan? Junghwa mencoba mengingat, jadi suara yang di gazebo tadi itu Nana? Apa yang ia lakukan.

Junghwa segera berlari menuju asrama. Meskipun rencananya malam ini cukup berantakan, ia berhasil membawa dokumen-dokumen ini yang entah apa gunanya.

.

.

***

Sang pemimpin menatap layar computer saat anak buahnya masuk kedalam ruangan. “Kurasa wanita itu adalah masalah.” Ujarnya.

Ada kegelisahan di malam hari, tanda dari apa yang akan terjadi. Apakah masalah akan menjadi lebih sulit? Lebih gelap?

Apakah Lee Junghwa lebih berbahaya dari apa yang dibayangkannya.

Ia menghidupkan ponsel Junghwa. Seperti yang dikatakan anak buahnya, ponsel itu sudah dibuka passwordnya. Dan ia yakin jika wanita itu adalah seorang penipu. Ia mempunyai kontak person seorang petugas kepolisian Seoul bernama Sunggyu, dan salah seorang detektif lain.

Mengapa? Mengapa Junghwa berbohong? Untuk mendapat pekerjaan?

Atau untuk membongkar kejahatannya.

Sang pemimpin ingin segera menghancurkan ponsel sialan itu. Atau lebih baik lagi— menghadapi pemiliknya. Mengisolasi wanita itu, didalam sebuah ruangan yang hanya ada mereka berdua. Sang pemimpin membayangkan bagian tubuh Junghwa yang sangat menarik, dan menerobos memasukinya dalam-dalam. Menyentuh pipi dan memandang matanya, mereka akan bergulat hingga tengah malam. Dan bangun dengan posisi yang sangat disukainya.

Namun seketika imajinasinya hancur. Ia ingat bahwa Lee Junghwa berbahaya.

***

BARRY.

Pesan itu berbunyi BARRY.

Nana tahu apa yang harus dilakukannya, kemana ia harus pergi. Tapi ia takut.

Apakah Kai yang mengirim pesan ini? Jauh dari lubuk hatinya menjawab ‘ya’, ia masih yakin bahwa Kai mencintainya.

Mimpi-mimpinya sempat berantakan. Melihat Kai bersama Yuri. Kai merayu gadis itu. Bersikap manja kepada Yuri.

Nana merasakan pisau yang ia simpan di sepatu botnya, dan ia tersenyum sendiri. Ia membawanya untuk berjaga-jaga bila terjadi hal yang tidak diharapkan.

Pesan yang diterimanya, ia mengucapkan kata itu, “Barry.”

Nana meraih palang dan membuka pintu. Ia masuk kedalam kandang kuda. Melihat dimana letak kandang Barry. Ya, BARRY adalah seekor kuda.

Ia berdiri didalam kandang kuda hitam itu. “Aku yakin Kai akan datang.”

#Kraakk

Suara apa itu? Nana melihat sekitar.

“Ini akan menarik!” ujar seseorang. Tubuhnya tidak terlihat dikegelapan.

Nana menyipitkan mata untuk melihat siapa orang itu.

“A-apa…”

.

.

-TBC-

Author note :

Hayoooo… ada apa dengan Nana? Siapa itu? Wkwkwk.. aku merasa berhasil ngerjain para reader sekalian, pasti penasaran kaann??

Gak kerasa bgt ini udah chap 9. Dan yah— makasih buat yg masih mau baca FF ini, meskipun aku tahu dibeberapa part pasti terkesan klise, tapi yah ini yang namanya imajinasi guys.. I hope u like it. :-*

Jangan lupa buat semangatin terus author yaaa.. biar bisa ngelanjutin FF ini sampe end. Kirim komentar kalian jusseyo~ like juga ya..

INSTAGRAM: lovanita

TWITTER: @lovanita_

WATTPAD: morschek96

Regard.

-morschek96

https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

4 pemikiran pada “Xing Boarden [Chapter 9]

  1. Ping-balik: Xing Boarden [Chapter 11] – A.Ray's World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s