LOUDER [Chapter 3]

louder-morschek961

MORSCHEK96 presents Louder

(Another Story of Shame [Ficlet Series])

School life, Sad-Romance, Bully || PG-17!

Starring:

Kim Jong In (EXO)

Ahn Jisoo (OC), Kim Myungsoo (Infinite)

Others.

Cr. Poster by @LUXIE

COPYING AND PLAGIARIZING THIS STORY ARE FORBIDDEN!

PREVIOUS: [Prolog][Chapter1][Chapter2]

“So, crazy in this thing we call— love.”

***

[Chapter 3]

Tak perlu seseorang untuk mengantarkannya pergi, hatinya sudah tahu kemana ia seharusnya berada. Hidupnya meraung meminta untuk terus dilanjutkan, namun jiwanya memelas untuk diberi istirahat. Dengan berjalan terseok, gadis itu berdiri di depan halte bus yang sudah sangat sepi di sore hari ini.

Lampu di ujung jalan menyala saat malam semakin larut. Jisoo tahu bahwa busnya telah berangkat lima belas menit yang lalu, dan ia harus menunggu setidaknya setengah jam lagi untuk pemberhentian bus yang selanjutnya. Kaki terbalut kasa itu mengebas karena angin malam. Dan dia tidak bisa melakukan apa-apa selain menggosok kedua telapak tangan.

Karena kelelahan, Jisoo sempat tertidur di ruang kesehatan hingga Mr. Jang si petugas kebersihan membangunkannya untuk pulang.

Mendesah pelan, hari yang panjang ini kelihatannya belum berakhir ketika sebuah mobil asing berhenti tepat dihadapannya. Jisoo membelak ketika si pengemudi menurunkan kaca mobil, “Myungsoo-ssi?” ucapnya pelan.

Lelaki yang barusaja disebut namanya hanya tersenyum ringan, “Annyeong.”

Tatapan keduanya bertemu, kedua iris coklat itu berpandangan satu sama lain. Binar ketenangan seraya muncul dari mata hazel Jisoo, “Apa yang kau lakukan disini?”

Myungsoo mendesah dari balik kemudi, “Bukankah itu pertanyaan yang seharusnya kuajukan padamu? Apa yang kau lakukan di sore menjelang malam ini dengan masih menggunakan seragam, huh?”

Jisoo hanya mengedipkan kedua matanya, tak tahu harus menjawab apa.

“Apa kau tidak takut kalau nanti ada ajhussi-ajhussi genit yang mendekatimu?” tanya Myungsoo lagi.

Dengan cepat Jisoo menggeleng polos.

“Sudah kuduga.. hashh.. Sebenarnya aku sedang sibuk malam ini, tapi meninggalkan gadis di pinggir jalan sembarangan bukanlah gayaku,” ucapnya menimbang-nimbang, “Masuklah, aku akan mengantarkanmu.” Menjadi pilihan terakhirnya.

“Apa?”

“Kau tidak dengar aku? Aku bilang masuk—

“Tidak,” sela Jisoo cepat, gadis itu dengan susah payah berdiri dari tempat duduknya. Tangan memegangi tiang lampu jalan untuk bertumpu, “Maksudku— apa… kau tidak keberatan mengantarku? Ki— kita kan tidak terlalu dekat, Myungsoo-ssi.”

“Hm? Apakah itu penting sekarang, huh?”

“Hng?”

“Kau terlaku banyak bertanya, cepat masuklah.”

Keadaan dalam mobil itu lebih hangat dari yang Jisoo bayangkan, tangan yang tadinya mati rasa seakan dapat merasakan kembali apa yang ia sentuh. Menatap keluar jendela ketika Myungsoo mulai menjalankan mobilnya.

“Myungsoo-ssi.” Jisoo memulai pembicaraan, tatapannya lurus pada si lelaki bermarga Kim dihadapannya.

“Hm?” jawab Myungsoo hanya dengan gumaman.

Anii.. Aku hanya penasaran, mengapa kau mau membantuku?”

“Bukankah kita teman kelas?” baliknya bertanya dengan masih memandang lurus ke depan.

Jisoo terkekeh ketika mobil yang ditumpanginya berbelok di tikungan, “Hanya itu?”

“Dan— kita tetangga bangku duduk, benar ‘kan?”

Salahkan Jisoo yang tidak pernah berbicara setenang dan sepanjang ini di masa-masa SMAnya, hingga kini ia sendiri bingung harus menjawab apa. Terjadi jeda beberapa detik sebelum Jisoo melanjutkan, “Kau tidak seharusnya membantuku. Biarkan saja aku dengan duniaku seperti anak-anak lain memperlakukanku. Atau kau akan dianggap sebagai ‘buangan’ sepertiku.” Ucapnya lirih, nyaris mencicit namun masih dapat Myungsoo dengar.

“Mengapa?”

“Huh?”

“Mengapa mereka memperlakukanmu seperti itu?” tanya Myungsoo, namun lebih seperti penyelidikan karena ia terus memaksa Jisoo untuk menjawab semua pertanyaannya.

Jisoo menunduk, memandangi ujung roknya, “Tidak tahu… tidak ada yang tahu, bahkan diriku sendiri.”

Myungsoo mendecih, tangannya ia lemparkan ke udara, “Bukankah itu tidak masuk akal, huh? Mereka menyerangmu tanpa alasan.”

“Entahlah.” Jisoo menggeleng pelan, “Dan aku barusaja bertanya-tanya… Akankah kau akan menyesali keputusanmu kelak?”

“Apa yang kau bicarakan?” Suara khas ban karet bergesekan dengan aspal terdengar saat Myungsoo menginjak rem di depan lampu merah.

“Akankah kau menyesali— karena pernah menolongku.”

.

.

***

“Kai, aku sudah menemukan pelakunya.” Suara tersebut menggema di seluruh penjuru ruangan saat pintu utama dibuka menampilkan lelaki tinggi berwajah datar.

“Katakan.” Jawab si pemilik apartment dengan nada dingin. Ia tak akan segan untuk membunuh bajingan yang telah berani meng-upload foto mesranya bersama sang kekasih. Well— mantan kekasih lebih tepatnya, karena setelah foto tersebut tersebar di situs sekolah, Yoonbi secara terang-terangan meminta untuk mengakhiri hubungan mereka.

Sehun mendekati sahabatnya yang tengah duduk menghadap televisie besar, “Berjanjilah kau tidak akan berbuat hal gila setelah aku memberi tahumu.”

Sontak Kai menaikkan sebelah alisnya, semakin penasaran. “Cepat katakan siapa.”

“Aku berhasil meng-hack e-mail pengirimnya. Dan hasilnya kosong. Situs itu tidakpernah dipakai, namun ketika aku membuka pengaturan ID, aku menemukan alamat dan tanggal lahir. Jadi aku mencatatnya untuk berjaga-jaga.”

“Dan hasilnya?” Tanya Kai tak sabar.

“Aku membobol dokumen Tata Usaha sekolah kita dan menemukan alamat dan tanggal lahir yang pas— Ahn Jisoo.”

Kai berkedip dua kali, berusaha untuk mempertajam pendengarannya, namun sepertinya ia tidak salah tangkap. “Jisoo?” ulangnya sekali lagi. Dan Sehun mengangguk mantap.

“Yak— kau mau kemana?” ucap Sehun sedikit keras ketika Kai berdiri dan berjalan meninggalkannya menuju kamar.

“Tidur.”Jawab lelaki itu singkat.

“Ini belum selarut itu, kenapa tumben— Kai, aku akan menginap lagi malam ini, araseo?”

“Terserah kau.” Teriak kai dari balik pintu kamarnya.

Sejenak ia memikirkan gadis itu. Wajahnya terlihat sekelibat di pikiran Kai. Bagaimana tadi siang ia bersama dengannya di kolam renang, menggendongnya hingga ke ruang kesehatan.

Rahangnya mengeras, berbagai pikiran muncul, seperti iblis menghantuinya.

Tidak bisakah kau berhenti untuk membuatku menyakitimu?

Tanya Kai pada dirinya sendiri.

***

Hari mulai gelap. Saat menyalakan lampu kamar, Jisoo berpikir kapan semua ini akan berakhir dan ia dapat menjalani kehidupan normal seperti remaja seusianya. Tatapan lelaki itu, caranya tersenyum padanya, terngiang di kepala Jisoo, seperti lullaby sebelum tidur.

Apakah ia dapat mempercayai lelaki itu?

Tidak, tidak semudah itu.

Saat Jisoo melihat pantulan dirinya di cermin, ia menyadari bahwa lingkar hitam disekitar matanya bertambah gelap, dan bibirnya yang pucat kering.

Aku sakit.

Namun itu tak seberapa dibanding sakit di hatinya karena diperlakukan seperti setan sekolah yang tak kasat mata, mereka mengabaikan kehadirannya.

***

Jisoo melenggang keluar kelas dengan menteng tasnya. Ia berjalan seorang orang diri di koridor sore ini mengingat ia keluar terakhir seperti biasa. Memasukkan buku-buku tebal itu kedalam sana dan hanya menenteng tas sekolah dengan berisi beberapa buku tulis. Sudah hampir dua tahun ia bersekolah disini namun saja rasa takut itu selalu menghantuinya ketika berjalan seorang diri.

Langit diluar sana terlihat gelap karena gumpalan awan hitam itu menutupi kawasan kota Seoul. Dan jika Jisoo tidak ingin tertinggal bus seperti hari kemarin, akan lebih baik jika ia pulang sekarang.

#Puk

Baru dua langkah gadis itu berjalan, sebuah bola kertas terasa mengenai belakang punggungnya. Sontak ia berhenti di tempat. Ini familiar. Seolah déjà vu.

“Nona Ahn,” suara itu. Benar. Penjelmaan setan.

Kai berdiri empat meter dibelakangnya, dengan perlahan Jisoo membalikkan badan untuk melihat wajah lelaki itu. Bibirnya terkatup rapat, dan pikirannya menebak-nebak kesialan apa lagi yang akan dialaminya hari ini.

“Ikuti aku,” sambungnya.

Seolah tak dapat berpikir, Jisoo dengan polos menggerakkan tungkainya mengikuti arah Kai. Dengan posisi Jisoo berada di belakang, gadis itu bisa saja memutuskan untuk berjalan memutar arah dan kembali menuju halte bus untuk pulang. Namun entah setan macam apa yang mersukinya, Jisoo malah menuruti perintah Kai.

Ia tahu tempat ini, dan tak seharusnya ia berada di sini. Jisoo baru menyadari bahwa ia berada di depan gudang sekolah setelah Kai menghentikan langkahnya.

“A-ada apa?” ucapnya dengan gugup.

Kai menghembuskan napas berat, ia menutup matanya sejenak sebelum membalas, “Jujur saja pasti kau juga tahu bahwa aku tidak pandai untuk berbasa-basi.” Ujarnya semakin membuat Jisoo penasaran. “Kau— yang menyebarkan foto itu?”

BINGO

Dan entah mengapa Jisoo baru ingat bahwa lelaki ini memiliki segalanya. Kekuasaan, harta, dan tentunya… informasi.

“Bukankah aku sudah mulai bersikap baik padamu akhir-akhir ini?” Ucapnya datar namun tajam. Membawa dirinya mendekat ke arah Jisoo, hampir menempelkan tubuh mereka berdua jika saja Jisoo tidak bergerak mundur.

Kai semakin mendekat, hingga menghimpit tubuh kecil Jisoo di tembok. “Aku tidak suka bermain-main..!” Nada suara Kai mulai menaik.

#Plakk!!

Dengan sekejap pipi kananya terasa perih. Kai menamparnya dengan keras. Jisoo memegangi pipinya saat air mata itu mendesak keluar.

#Plakk!!

Kini pipi kanannya. Pukulan dan tamparan bertubi-tubi lelaki itu layangkan untuk Jisoo. Dan ketika sudut bibir Jisoo mengeluarkan darah, Kai berhenti memukulnya.

#Srett

Menjambak rambut panjang Jisoo yang tergerai, memaksa gadis itu untuk mendongak. Wajah lebam dan tatapan pasrah itu sedikit merenguh hati Kai, namun tak menjadi alasan untuk menghentikan aksinya.

“Kau mengambil fotoku saat aku melakukan ini, huh?!!”

Menempelkan bibirnya diatas bibir Jisoo yang lembab dan telah mengeluarkan darah. Kai mencumbunya kasar, dan untuk itulah Jisoo membelak kaget. Menghisap dan menggigit bibir atas dan bawah Jisoo bergantian.

Bunyi kecipak menghiasi kegiatan mereka. Kai meremas kuat pergelangan tangan Jisoo saat ia menggigit kuat bibir bawah gadis itu.

Apa yang lelaki ini lakukan?

Isakan terdengar saat Kai semakin kuat menjambak rambutnya. Menyeret, membawanya ke dalam gudang sekolah. Kai melemparkan tubuh Jisoo yang sudah kelelahan dan mati rasa.

Tersungkur di lantai, Kai menghampirinya, memberikan salam perpisahan sebelum melenggang pergi, meninggalkannya terkunci di gudang

“Selamat menginap disini malam ini.” Ucapnya setelah menendang keras perut Jisoo.

Saat pintu gudang tertutup, Jisoo mengerang tertahan. Ia tidak ingin menghabiskan waktu semalaman di gudang. Tidak. Siapapun tolong dirinya. Ia ingin menjerit namun yang dapat keluar dari bibirnya hanya tangisan putus asa.

..

..

..

#Tring

Kai melempar kunci gudang yang berhasil dicurinya itu asal di lantai. Mengusap bibirnya seduktif, jika gadis itu beruntung, maka seseorang akan mengambil kunci tersebut dan menolongnya. Namun jika tidak, maka tunggu saja hingga besok pagi, petugas kebersihan yang akan mengeluarkannya.

Saat Kai berbelok di tikungan tembok, seorang lelaki lain berjalan kearah yang sempat dilalui Kai.

Mengambil sebuah kunci yang sempat menarik perhatiannya, lelaki itu terus berjalan mengikuti insting yang ia miliki.

Bukankah ini sudah terlalu larus untuk berjalan-jalan di koridor sekolah? Namun apa yang dipikirkan lelaki itu? Perasaannya janggal. Dan itu menyangkut seseorang yang mulai merebut perhatiannya.

Berhenti melangkah ketika ia mendengar sayup-sayup suara tangis.

Gudang?

Melihat kilas kunci yang berada ditangannya.

#BRAKK!

Lelaki itu membuka pintu gudang dengan kasar. Dan apa yang ditemukanya jauh dari ekspektasi.

“Jisoo.” Ucapnya terdengar putus asa.

“M-myung—soo.”

Wajah lebam, darah di sudut bibir, dan air mata yang mengalir di pipi. Penampilannya berantakan, dan ini membuat lelaki itu marah.

“Kau tak apa?” pertanyaan bodoh, dan ia tahu ini hanya sebuah basa-basi sebelum menjurus ke pertanyaan sesungguhnya. “Siapa yang melakukan ini?”

Jisoo hanya menggeleng dan berujar lirih, “Selamatkan aku.”

Ucapnya sebelum kegelapan merenggut pengelihatannya. Pingsan dipangkuan seorang Kim Myungsoo. Seorang lelaki yang menjelma menjadi malaikat untuknya.

.

.

-TBC-

Author Note:

Maapkanlah author jika ada adegan tadi yang patut untuk disensor kpi (wkwkwk) tapi kandiatas udah ditulis ratingnya 17!

Ye kan?

Udah makanya jangan ada yg protes abis ini kalo di chapter-chapter selanjutnya bakalan lebih sadis & serem. Hope u like it 😀

See you next chap!

Regard.

-morschek96

https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

36 pemikiran pada “LOUDER [Chapter 3]

    1. morschek96

      Hehee maklum ya ff ini genrenya school life-bully jadi emang agak keterlaluan gitu wwkwk.. Semoga gk dicekal 😂😂
      Iya Myungsoo suka Jisoo
      Thx for review ~^^😉

      Suka

  1. Ping-balik: LOUDER [Chapter 4] – A.Ray's Blog

  2. Ping-balik: LOUDER [Chapter 4] – morschek96 – KAI FanFiction Indonesia

  3. Ping-balik: LOUDER [Chapter 5] – KEIKO SINE

  4. Ping-balik: LOUDER [ Chapter 6] – KEIKO SINE

  5. Ping-balik: LOUDER [ Chapter 6] – KAI FanFiction Indonesia

  6. Ping-balik: LOUDER [Chapter 7] – KAI FanFiction Indonesia

  7. Ping-balik: LOUDER [Chapter 7] – KAI FanFiction Indonesia

  8. Ping-balik: LOUDER [Chapter 4] – KEIKO SINE

  9. Ping-balik: LOUDER [Chapter 4] – EXO KINGDOM FANFICTIONS

  10. Kai jahat bgtttttttt 😯😯😯 kasian jisoo
    Ouh y kak ak klu boleh mau kasi masukan
    Itu kai nampar jisoo dua kali di pipi kanan ma kiri atau kanan doank ya kak? Dan tetangga bangku duduk klu bisa diganti chairmate aj kak soalnya klu pke tetangga bangku duduk jadi bingung hehe 😊😊

    Suka

  11. Ping-balik: LOUDER [Chapter 14/END] – KEIKO SINE

  12. Ping-balik: LOUDER [Chapter 12] – KAI FanFiction Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s