Louder [Chapter 2]

louder-morschek961

MORSCHEK96 presents Louder

(Another Story of Shame [Ficlet Series])

 

School life, Sad-Romance, Bully || PG-17!

Starring:

Kim Jong In (EXO)

Ahn Jisoo (OC), Kim Myungsoo (Infinite)

Others.

Cr. Poster by @LUXIE

COPYING AND PLAGIARIZING THIS STORY ARE FORBIDDEN!

 

PREVIOUS: [Prolog][Chapter1]

``—Ini seperti sebuah dosa, melihatmu seperti anjing kesepian yang diikat.

Jadi aku menelan perasaanku sendiri dan membiarkanmu pergi“


[PREVIOUS]

Jisoo mengeluarkan smartphonenya, dan—

 

#cekrek!

 

Satu foto tersimpan.

 

Wajah mereka terlihat sangat jelas di foto itu, dengan bibir saling memangut.

..

..

..

[Chapter 2]

Satu lagi hari melelahkan untuk Jisoo. Bukankah remaja seharusnya menghabiskan waktu mereka dengan bersantai, shopping, dan hang out? Lalu apa yang salah dengan hidupnya lantaran harus menemui jalan takdir yang seperti ini?

Bukankah tidak salah jika Jisoo menganggap hidup ini sangat keji padanya. Dan tentu saja, tak ada yang bisa membantunya disituasi seperti ini. Mereka akan lebih memilih untuk berpura-pura tak melihat daripada harus berurusan dengan si preman sekolah.

Dari sudut matanya, Jisoo dapat melihat Kai. Dari ekspresi wajahnya, lelaki itu tidak sedang dalam mood yang baik. Bagaimana jika, di hari yang masih pagi ini Jisoo akan menjadi bual-bualan Kai, melempar kotak makan siangnya dan menyudutkannya di locker. Ia akan berakhir menangis seharian di toilet wanita, ia yakin itu.

Dengan perlahan Jisoo membalikkan badan, berjalan secepat mungkin ke arah yang berlawanan. Namun setelah beberapa langkah, Jisoo berasumsi bahwa lelaki itu tidak menyadari keberadaannya, karena tak ada suara teriakan ataupun cibiran yang tertuju padanya.

“Sehun-ah.”

Jisoo membeku ditempat, nama itu… tidak. Jangan bilang bahwa hari ini mereka akan mulai mengganggunya lagi. Pikirannya sudah tak karuan.

“Arin.”

Tunggu, Arin yang mana? Jisoo tak mengingat ada nama Arin di sekolah Sekang. Dari ekor matanya, Jisoo sedikit mengintip apa yang tengah terjadi.

Helaan napas putus asa dari beberapa gadis, makian serta sindiran— oh itu sudah biasa.

Pemandangan lain yang ia lihat adalah seorang gadis tengah memeluk erat— Oh Sehun? Lelaki berwajah datar itu? Apakah gadis ini adalah pacar Oh Sehun?

Entahlah, dan untuk yang pertama kali dalam hidupnya, Jisoo ingin tau banyak tentang ‘musuhnya’ sendiri.

Tak ingin ambil pusing, Jisoo segera melanjutkan langkahnya menuju ruang kelas. Gadis itu berjalan sambil menunduk, memperhatikan sepatu hitamnya berbenturan dengan lantai marmer, tangannya memegang erat tali tas punggung tersebut.

Jisoo berbelok masuk ketika menemukan tulisan 11-B yang terletak diatas pintu. Dan bagaikan makhluk kasat mata, semua orang sebisa mungkin untuk menghiraukan keberadaan gadis itu. Seolah jika mereka memandang Jisoo satu detik pun, mereka akan tertular virus mematikan.

Jisoo dengan perlahan meletakkan tas diatas meja ketika sebuah suara berhasil merebut perhatiannya.

“Benarkah ini Kai dan Yoonbi? Menjijikkan!” salah seorang gadis berkata dengan menunjukkan sesuatu yang berada di ponselnya kepada dua orang temannya yang lain.

“Darimana kau dapat ini?” yang lain tak kalah heboh menyanggupi.

“Dari situs sekolah… memalukan bukan? Bagaimana jika kepala sekolah dan staff-staff lain mengetahui ini?”

“Yak— tapi, berani sekali orang yang telah memposting foto ini. Kai pasti akan menghabisinya.” Gadis lain yang mempunyai rambut sebahu kini menyanggupi.

“Lihat ID pengirimnya, Minah-ya.”

Gadis yang memiliki ponsel tersebut men-scroll bagian bawah timeline situs sekolah, “Ini dia… eungg, Bopkijee… siapa itu?”

“Aku tidak tahu.” Kedua temannya menggelengkan kepala.

Dari tempat duduknya, Jisoo sebisa mungkin bersikap santai dan tak mencurigakan. Bagaimana kalau satu sekolah mengetahui bahwa dialah yang— memposting foto itu?

Tidak! Tidak akan ada yang tahu.

Akun yang ia gunakan untuk memposting foto tersebut sudah tak ia gunakan selama setahun lebih. Dan pula tidak ada isinya. Jadi, tidak akan ada yang tahu— semoga saja.

#KRIIINNGGGG!!

Bel masuk pun berbunyi. Para siswa yang semula berada di luar kelas pun serempak memasuki kelas masing-masing. Dan dari semua yang dapat Jisoo dengar pagi ini, Kai dan Yoonbilah berita terpanasnya.

Apakah salah jika Jisoo merasa sedikit lega lantaran rencananya berhasil. Namun, ia pun tak menyangkal jika ada rasa dalam dirinya yang selalu ketakutan. Bagaimana jika— tidak ‘kan? Tidak ada yang tahu.

Beberapa menit kemudian guru Lee Heera memasuki ruang kelas dengan seorang anak lelaki. Mata hazel itu menyapu seluruh sudut ruangan. Dengan senyum menghiasi bibir tipisnya.

“Selamat pagi semuanya. Mulai hari ini kalian akan mempunyai teman baru, dia pindahan dari Daegu. Myungsoo, perkenalkan dirimu.”

“Ya, halo semua namaku Kim Myungsoo, dan kuharap kita bisa saling membantu.” Ucapnya ramah sambil membungkuk pelan.

Suara bisik-bisik terdengar riuh setelah mendengarkan perkenalan singkat dari lelaki bermarga Kim tersebut. Para gadis seolah mendapatkan target mereka yang entah telah keberapa. Dan tatapan para lelaki seolah menilai Myungsoo dari atas sampai bawah, mengulitinya saat itu juga.

Kaki jenjang lelaki itu bergerak menuju kursi paling belakang ruangan, lebih tepatnya disebelah tempat duduk Jisoo. Pandangan mereka sempat bertemu seper-sekian detik, namun Jisoo segera mengalihkan pandangannya keluar jendela— lagi.

Guru Lee mulai menjelaskan pelajaran hari ini tentang Conditional Sentences. Mulai dari type pertama hingga ketiga, yang telah Jisoo hapal diluar kepala sehingga tak membutuhkannya untuk berkonsentrasi penuh pada pelajaran. Ketika melirik ke arah samping, dengan tidak sengaja Jisoo melihat si anak baru tengah duduk dengan memejamkan matanya, headset berada di masing-masing telinganya.

Tidak salah lagi. Satu casanova dengan sejuta pesona yang akan ikut andil dalam riuh-piuh sekolah Sekang.

“Aku tidak suka terlalu lama diperhatikan.” Ucap Myungsoo pelan sambil masih menutup matanya.

Sontak Jisoo menaikkan sebelah alis, terkejut. Dengan siapa lelaki ini berbicara? Jisoo mengedarkan pandangannya—

“Aku berbicara padamu.” Sambung lelaki itu.

Yang menjadi lawan bicara malah membelakkan matanya tak percaya. ‘Aku?’ ucap Jisoo dalam hati.

“Annyeong.” Myungsoo membuka mata, melepas sepasang headset yang berada di telinganya, “Siapa namamu?” tanyanya pelan.

Jisoo melepaskan kontak mata mereka, dengan perlahan gadis itu kembali meraih bolpoin yang ia letakkan diatas buku. Berpura-pura sedang memperhatikan guru Lee.

Merasa diacuhkan, Myungsoo mendesis pelan, “Aiisshh… gadis jaman sekarang.” Gerutunya.

.

.

***

Lantai marmer super dingin ini entah mengapa malah terasa sangat nyaman bagi Jisoo. Gadis itu meminum susu kotak yang ia beli dari kantin seraya menyandarkan punggung di lockernya sendiri. Ini jauh lebih baik daripada harus duduk sendirian di meja kantin dengan tatapan anak-anak yang seolah ingin menguburnya hidup-hidup. Namun jika boleh jujur, Jisoo sudah terbiasa dengan itu semua.

Bergelut dengan perasaannya sendiri.

‘Mengapa kau tidak pindah sekolah saja, huh?’

Jisoo menggigit kuat bibir bawahnya. Berjuta kali pikiran itu muncul, namun yang ada dalam hatinya hanya sebuah penolakan. Bagaimana jika orang tuanya tahu apa yang menimpa dirinya ketika di sekolah? Akankah berakhir bagus?

Gadis itu menggeleng kuat.

‘Tentu saja tidak, bodoh!’

Yang dipikirkan orang tuamu hanya lulus dari sekolah dan mendapatkan pelajaran layak, masuk kuliah dan mendapatkan pekerjaan. Bukankah begitu sistematika hidup yang normal? Atau— mungkin mulai sekarang Jisoo mulai membenci kata ‘normal’.

Tersadar dari lamunan ketika benda persegi panjang yang berada dalam sakunya bergetar.

1 pesan masuk.

0862221xxx

Nomor asing? Jisoo tak dapat menebak namun membuka dengan cepat pesan tersebut.

: Nona Ahn, temui aku di kolam renang gedung gymnasium. Waktumu 10 menit.

Jisoo mengedipkan matanya cepat. Ia tak ingat memberikan nomor teleponnya pada orang lain. Dan— haruskah ia pergi kesana? Bagaimana jika ini hanya jebakan?

Bahwa Kai atau gerombolannya yang mengiriminya pesan ini.

Dengan nyali yang telah dipaksakan, Jisoo berdiri, merapikan roknya yang kusut karena telah duduk di lantai. Baiklah, tak ada pilihan lain, karena jika pengirimnya benar-benar Kai— akan lebih baik jika Jisoo menurutinya daripada melawan.

Gadis bermarga Ahn itu berjalan dengan lebih cepat, dimana gedung gymnasium terletak dipaling belakang area sekolah. Tatapan-tatapan murid yang melihatnya seolah dapat membaca suasana saat ini, pemandangan ini terlalu sering mereka jumpai. Dimana Jisoo harus menemui dimana Kai berada dan akan ada pertunjukan menarik selanjutnya.

Menghela napas, jantungnya berdegup kencang tatkala harus setengah berlari dari koridor locker hingga kolam renang. Jisoo melihat sekitar, sepi. Melihat beberapa kursi yang kosong dan gadis itu duduk di salah satunya.

“Kau telat dua menit.”

Terdengar familiar. Jisoo mengedarkan pandangannya untuk melihat si pemilik suara. Dan laki-laki dengan memakai bathrobe putih itu menarik pandangannya.

“Hhh.. apa maumu kali ini?” ujar Jisoo sambil masih menstabilkan napas.

Kai mengeluarkan smirk andalannya. “Temani aku selagi aku berenang.”

Dengan mengumpulkan keberanian, Jisoo kembali membuka suara. Namun entah mengapa udara disekitarnya terasa menipis, kian mencekik pernapasannya. Sungguh sangat sulit untuk sekedar menghirup oksigen. “Kau gila.” Cemohnya singkat.

Detik detik yang berlalu seakan terasa lebih lama, keduanya saling diam dalam pikiran masing-masing. Hingga Kai mulai menjawab, “Baiklah… aku orang gila yang tampan. Kau tahu, aku tidak sedang dalam mood yang bagus hari ini. Dan jika kau tak ingin dapat masalah, menurutlah padaku.”

Jisoo memutar bola matanya jengah, dan detik berikutnya sebuah handuk telah mendarat tepat di wajah gadis itu. “Eww..” Jisoo membuangnya ke kursi sebelah, lantaran handuk tersebut adalah bekas yang dipakai Kai untuk menutupi tubuhnya.

Tidak dalam mood yang baik? Jisoo menyunggingkan bibirnya samar. ‘Apakah karena foto mesummu beredar di situs sekolah, hm?’ ujarnya dalam hati.

Suara percikan air yang khas terdengar diseluruh penjuruh tempat itu, Jisoo melihat Kai berenang dengan seksama. Menghela napas singkat, “Yah… kau akan terlihat lebih tampan jika kau berhenti menggangguku.”

Sesuatu merengkuh erat hatinya saat mengucapkan kalimat tersebut. Sebuah perasaan ingin menariknya menjauh.

‘Apakah kau bodoh? Lelaki itu selalu bersikap kejam padamu! Pergi dari tempat ini, sekarang!’

Jemari Jisoo mengebas, ia ingin menuruti pikirannya namun tubuhnya berbuat lain. Tidak— tidak bisa. Tidak semudah itu.

“Nona Ahn— apa yang kau pikirkan?” Suara Kai membuat Jisoo tersadarakan kegiatan melamunnya, “Aku telah memanggilmu sebelas kali namun kau tidak menjawab.”

Oh Tuhan, demi kotak pandora dengan segala isinya. Mengapa si lelaki bodoh ini berdiri dihadapannya hanya dengan menggunakan celana renang? Jisoo merasa bahwa napasnya sudah benar-benar hilang kali ini.

“Ya.. menyingkir dariku!” ucap Jisoo sedikit berteriak.

Dengan gerakan cepat Jisoo berdiri dari kursinya, berbalik badan dan melangkah cepat untuk pergi dari sini. Namun masih di langkah kedua, entah kesialan apa yang menimpanya hingga Jisoo jatuh terpeleset. Ia merasa sebagian roknya sudah basah.

Melihat Jisoo sekilas, Kai nampak tak ada niat sama sekali untuk membantunya berdiri. “Apakah kau tengah melawak? Berdirilah,” ucap lelaki itu dingin, tak tertarik.

..

..

..

Jika perasaannya memang benar, apakah Kai akhir-akhir ini mulai bersikap baik padanya? Dengan posisi seperti ini Jisoo dapat merasakan dentuman jantung mereka yang berdetak bersahutan.

Namun— jangan lupakan pandangan mencemoh anak-anak itu ketika melihatnya tengah digendong ala bridal oleh si casanova sekolah ini.

Memasuki ruang kesehatan yang sepi, Kai mendudukkan Jisoo di salah satu kasur yang gordennya tertutup dengan sedikit kasar. Malah terkesan seolah melemparnya.

“Dasar ceroboh, lain kali aku tidak akan mau direpotkan olehmu.” Ujar Kai lalu berjalan keluar, meninggalkan Jisoo di ruangan tersebut.

Dengan perlahan Jisoo membuka laci untuk mengambil beberapa obat dan perban. Mengobati luka dikakinya yang lecet mengeluarkan darah. Lamat-lamat gadis itu membatin, akankah ada hari dimana ia bisa tenang tanpa gangguan dari lelaki sialan itu?

“Akhh..” desisnya pelan ketika merasakan cairan obat itu mengalir dilukanya yang perih.

#srettt

Suara gorden terbuka.

“Anyyeong… kau lagi?”

Jisoo menengadahkan pandangannya untuk melihat si pemilik suara. Si anak baru?

“Hei, apa kau dekat dengan lelaki tadi? Kim Kai?” sambungnya mendekat dengan wajah bersinar.

“T-tidak.” Salahkan posisi mereka yang terlalu dekat, hingga Jisoo tak dapat debaran jantungnya jika dipandangi dengan jarak sedekat ini.

“Ah benarkah? Kukira kalian dekat.”

“Huh…” Jisoo mendecih pelan, “Jika hanya ada kami berdua, aku pasti akan menguburnya hidup-hidup.”

.

.

-TBC-

 

Author Note:

Wkwkwk.. aniiya~ rate NC-17 mulai muncul hueheheh..

Hope you like it guys.. karena perjuangan gw ngetik disela ujian UAS kampus ini sangat melelahkan.. *fyuuhh*

Myungsoonya udah muncul \yeay/ siapa yg udah nunggu2 visual Infinite ini? Angkat tangannya? Wkwkwk.. jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya.. semangatilah author dg komen sepatah atau dua kata.. 😀

See you next chap!

Regard.

-morschek96

https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

43 pemikiran pada “Louder [Chapter 2]

  1. Ping-balik: LOUDER [Chapter 3] – A.Ray's Blog

  2. baeksena

    Jadi mikirin yang iyya” tentang Kai,wkwkwk…Aku penasaran kak, kenapa Jisoo milih menyendiri kok nggak gabung dengan teman” sekolahnya padahal Jisoo kan lumayan kaya( orangtuanya aja ngurus resort)? Atau akunya yang nggak “ngeh”?

    Suka

  3. Ping-balik: LOUDER [Chapter 4] – A.Ray's Blog

  4. Ping-balik: LOUDER [Chapter 4] – morschek96 – KAI FanFiction Indonesia

  5. Ping-balik: LOUDER [Chapter 5] – KEIKO SINE

  6. Ping-balik: LOUDER [ Chapter 6] – KEIKO SINE

  7. Ping-balik: LOUDER [ Chapter 6] – KAI FanFiction Indonesia

  8. Ping-balik: LOUDER [Chapter 7] – KAI FanFiction Indonesia

  9. Ping-balik: LOUDER [Chapter 7] – KAI FanFiction Indonesia

  10. Ping-balik: LOUDER [Chapter – EXO KINGDOM FANFICTIONS

  11. Ping-balik: LOUDER [Chapter 3] – KEIKO SINE

  12. Ping-balik: LOUDER [Chapter 4] – KEIKO SINE

  13. leli

    Ini jisoo berani2 nya ya thor mau share fotonya kai yang begituan. Gimana nih kira2 respon kai kalo tau ya. Gila banget jisoooo wkkwkwk

    Suka

  14. Ping-balik: LOUDER [Chapter 4] – EXO KINGDOM FANFICTIONS

  15. 🙈🙈🙈🙈🙈 kai toples OMG nanti malem ga bisa tidur ane aaaahhh
    Jangan sampe ketangguan donkkk kasian jisoonyaa huhuhu biarin kai kena masalah dikit
    hidup ini kan emang penuh masalah masa jisoo doank yg kena kai jga harus kena masalah donk (maaf y kak saya maksa amat 😆😆)

    Suka

  16. Ping-balik: LOUDER [Chapter 14/END] – KEIKO SINE

  17. Ping-balik: LOUDER [Chapter 12] – KAI FanFiction Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s