Be With You [Chapter 7]

Keiko Sine presents Be With You

Romance, Life, Little Bit Sad || General / Teen

Im Yoona, Lu Han

Cho Kyuhyun, Oh Sehun, Jung Sena (OC), and Others

PREVIOUS : [Cp1][Cp2][Cp3][Cp4][Cp5][Cp6]

**

“Kenapa?”

Luhan menangkupkan kedua tangannya di wajah Yoona. “Aku akan pergi ke Jepang mulai besok. Meninggalkanmu, dan Korea selama setahun. Tak akan menemuimu di Café lagi, tak akan dapat bertemu denganmu bahkan Sehun lagi selama setahun.”

Yoona merasa sesuatu yang perih tengah merobek hatinya.

***

“Sehun?”

“Mmm… Noona..” Sehun segera menghambur ke pelukan Yoona, terisak pelan.

“Hei, ada apa Hun-ah? Masuklah dulu, kita bicara didalam.”

Keduanya berada di kamar yang Sehun tempati dulu. Saling berhadapan dan duduk diatas ranjang. “Noona, Lu-Luhan hyung…”

***

[CHAPTER 7]

Ruangan itu gelap, tirai jendela ditutup hingga cahaya samar mengintip di tepi kosen jendela. Tapi gadis yang duduk di depan meja dipenuhi cahaya, dikelilingi lilin yang menyala keemasan di kulit lembutnya itu sama sekali tak begeming.

Noona, anda kurang sehat?” Seorang wanita paruh baya melempar pandangan khawatir pada Yoona. “Anda terlalu lama berdoa, jadi kurasa anda kesulitan bangun dari duduk atau sejenisnya.”

“Aku baik-baik saja ajhuma.” Yoona memaksakan senyum meskipun kini badannya telah sepanas gadget yang di-charge.

Yoona sedang demam, entah apa yang telah ia lakukan sehingga bisa terkena demam di musim semi seperti ini. Ia berdiri, memperlihatkan keadaannya yang baik-baik saja.

“K-kau bisa pulang sendiri? Atau ada seseorang yang mengantarmu?” Wanita itu bertanya lagi masih dengan wajah paniknya. Melirik ke sekeliling Istal untuk setidaknya meminta bantuan.

“T-tidak, rumahku tidak jauh dari gereja ini. Terima kasih.” Ucap Yoona kemudian membawa tas jinjingnya keluar dari dalam Istal.

Seminggu lebih sudah lelaki itu meninggalkannya. Tak banyak yang berubah dari kehidupan Yoona, kecuali Café tempat bekerjanya kini telah berganti kepemilikan.

Luhan menjual Cafenya pada seorang pebisnis keturunan China-Canada yakni Wu Yifan. Lelaki itu tinggi, sangat tegas dan berwibawa. Bahkan terkadang Yoona harus mati-matian menjaga sikap didepannya.

Setibanya di apartment Yoona disambut oleh aroma khas ramyeon. Yoona mendengus, sepertinya setan kecil itu akan menghabiskan persediaan makanannya kurang dari satu minggu.

“Sehun-ah, noona pulang.”

Terlihat Sehun memakan ramyeonnya sambil melihat tayangan televise. “Noona, aku kelaparan jadi aku membuat ramyeon instan. Kau mau, hah?” Sehun memberikan sesumpit penuh mie ramyeon dan dengan sigap dilahap oleh Yoona.

“Enak tidak?” Tanya Sehun bangga akan makanan yang dibuatnya.

“Kenapa tidak kau tambahkan telur?” Ucap Yoona setelah menelan makanannya.

“Rasa kaldunya akan berubah jika ku tambahkan telur, aku lebih suka yang seperti ini.”

Memang setelah kepergian Luhan, Sehun jadi lebih sering mengunjungi Yoona, atau lebih tepatnya mengganggu Yoona. Sehun menjadi lebih terbuka dengannya, dan pula lebih terlihat jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Karena ia tahu kalau Luhan sudah tak ada lagi di sini untuk selalu membantunya, jadi lelaki yang berstatus sebagai pelajar tingkat akhir itu makin belajar tentang tanggung jawab.

Untuk sekarang, Yoona tak mau berharap lebih.

Untuk apa berjanji kalau pada dasarnya akan dilupakan. Saat ini, mungkin kenangan bekerja di tempat Luhan dan momen kebersamaan mereka masih terekam jelas diingatannya, tapi nanti— atau satu tahun kedepan— akankah Luhan masih mengingat janjinya sendiri?

Tak ada yang tahu.

.

.

***

.

.

2 tahun kemudian…

Ini adalah wawancara pertama Yoona di Hotel Zeus ini. Setelah lulus kuliah dan mendapat ijazah tahun lalu, Yoona telah mencoba berbagai pekerjaan, namun belum ada satu perusahaan pun yang mau menerimanya.

Sepatu high heels itu ia ketuk-ketukkan di lantai marmer yang dingin karena gugup. Sedangkan wanita yang tak jauh dari tempat Yoona duduk kini malah asik berkaca dan memperbaiki tatanan rambutnya. Yoona mendesah, bagaimana bisa ada orang se-relaks itu saat mau melakukan wawancara.

“Han Sooyeon-ssi, silahkan masuk.”

Seseorang staff memanggil nama di urutan, dan wanita yang sempat Yoona perhatikan sejak tadi itu pun berdiri, berjalan masuk menenteng map sambil terus membenahi rambutnya.

Yoona mengibaskan tangannya yang kosong di depan wajah, entah kenapa melihatnya membuat suasana semakin panas saja.

Dari beratus-ratus calon pekerja yang mendaftar, hanya akan diterima empat orang saja untuk bekerja di Hotel yang baru dibangun tahun lalu ini. Meskipun Hotel Zeus masih terbilang baru, namun popularitasnya bias dibandingkan dengan Hotel-Hotel yang telah berdiri lebih lama.

Inilah keungglan mereka, yang Yoona tahu, Hotel ini adalah hasil kerja sama dari dua pengusaha besar dari Jepang juga Korea Selatan.

Sepuluh menit berlalu seperti satu jam. Saat wanita yang Yoona yakin bernama Han Sooyeon keluar, Yoona langsung berdiri dan menghampirinya.

“Eum… permisi.” Ujar Yoona gugup, “Anda sudah selesai wawancara?”

Sooyeon menoleh, mata besarnya bertemu dengan milik Yoona, “Eoh, ya.” Wanita itu mengangkat sebuah amplop berwarna cokelat dari tangan kanannya, “Dan kau berhasil.”

Sontak Yoona membelak, kenapa bisa mudah sekali, “Eung… apakah wawancaranya semudah itu?” ujarnya sambil menampilkan senyum, seolah pengharapannya pada Hotel ini menaik.

“Tidak juga, hanya saja aku diwawancarai oleh kakakku sendiri.” Ujarnya bangga lalu melenggang pergi.

Yoona mengubah ekspresi wajahnya dalam hitungan detik. Pantas saja wanita itu tidak merasa gugup sama sekali. Ternyata kakaknya lah yang telah menjaminnya untuk mendapat pekerjaan di sini.

Oh sungguh tidak adil.

Gerutu Yoona dalam hati.

“Im Yoona-ssi, silahkan masuk.”

Oh tidak. Ini sudah gilirannya.

Berbekal pengalaman wawancara yang telah ia coba berkali-kali, kini Yoona harus berpikiran positif. Ia punya perut yang harus diisi dan tidak akan cukup jika harus mengandalkan bekerja di Café milik Yifan terus.

..

..

Sepuluh menit berlalu dan Yoona tidak percaya bahwa ia juga memiliki amplop berwarna cokelat ini. Yang artinya ia telah diterima untuk bekerja di Hotel ini. Akhirnya setelah mengirimkan lamaran lewat via online, menunggu, hingga dijadwalkan wawancara, Yoona kini telah berhasil memiliki satu pekerjaan tetap.

Yoona memakai bus untuk pulang ke apartment. Sebuah rumah di bangunan lantai enam ini tak ada yang berubah. Mungkin hanya sesekali Sehun datang untuk menginap atau hanya menghabiskan makanannya.

Lelaki itu— sudah lebih dewasa sekarang.

Sehun yang sekarang tengah berkuliah semester empat di jurusan Management Business. Lelaki yang sangat berubah dari yang Yoona kenal dulu, Sehun tak lagi membuat onar ataupun berkelahi. Mungkin ini factor masa depan pula, jika ia hanya terus seperti itu dan tak berubah, bagaimana dengan Bisnis keluarga Oh kelak?

Yoona turun ketika sampai di halte depan apartmentnya. Berjalan sambil terus memegangi amplop cokelat itu, seolah mengatakan pada dunia bahwa ia telah berhasil. Orang tuanya— yang kini telah meninggal, selalu mengharapkan Yoona dapat memiliki pekerjaan sendiri dan sukses.

Wanita yang memakai blazer biru itu tak dapat menahan senyumnya. Ia telah berhasil mendapat pekerjaan di Hotel sebagai assistant manager, apa lagi yang lebih baik dari itu?

Setelah keluar dari lift, Yonna berbelok saat menjumpai koridor, lalu memasukkan kode kunci ke layar kunci otomatisnya.

Dia merebahkan diri di sofa ruang tengah, mencari tayangan pada televisie untuk setidaknya mengurangi kebosanan. Memencet tombol pada remote control tersebut, namun sepertinya tak ada tayangan yang menarik jadi Yoona matikan lagi.

Dan bertepatan dengan matinya layar televisie, ponselnya bergetar selama beberapa detik pertanda satu pesan telah masuk. Dengan cepat Yoona membuka

From: Senaa

‘Yoona-ya, sepertinya Soobin merindukanmu. Jadi apakah boleh aku dan Soobin bermain ke tempatmu nanti sore?’

Sontak Yoona tersenyum setelah membaca pesan tersebut. Lalu mengetikkan beberapa kalimat untuk membalas

From: Yoong

‘Tentu saja, aku akan membelikan kue kesukaan Soobin nanti.’

Apakah kita tengah membicarakan Sena yang sama kali ini?

Ya.

Jung Sena istri resmi dari Cho Kyuhyun, mantan kekasih Yoona. Yoona sendiri tak tahu kapan tepatnya ia dan Sena menjadi seakrab ini. Tapi— Sena dan suaminya bersikap baik padanya, jadi kenapa tidak memutuskan untuk berhubungan baik saja.

Pernikahan paksa yang sempat ditentang Kyuhyun beberapa waktu lalu itu telah membuahkan hasil yang manis. Rumah tangga mereka menjadi harmonis apa lagi setelah dikaruniai seorang anak perempuan lucu bernama Cho Soobin.

Yoona berada di saat-saat terburuk Sena pada prosesnya hamil dan melahirkan. Karena kesibukan Kyuhyun dan rasa ketidak tertarikan lelaki itu pada istrinya sendiri. Namun lambat laun pria bermarga Cho itu harus mengakui bahwa kehidupan rumah tangganya harus diurus secara serius karena mereka telah memiliki seorang anak.

Sejak saat itu pula Sena merasa ia telah berhutang banyak pada Yoona yang telah merbah presepsi Kyuhyun padanya. Dan juga rasa terima kasih itu dimiliki oleh Soobin, yang dari lahir sangat senang jika Yoona berada di dekatnya.

Semuanya berkembang sangat cepat hanya dalam waktu dua tahun.

Namun—

Tidak dengan Luhan.

Lelaki yang menawarkan janji bodoh, yang mengatakan ia akan kembali dalam waktu satu tahun. Tapi— ini sudah dua tahun dan lelaki itu sama sekali belum menampakkan batang hidungnya.

Sempat Yoona merasa untuk menyerah dan merelakan pria itu.

Dia adalah Xiao Luhan. Ingat? Lelaki tampan yang memiliki segalanya.

Apa yang dirinya harapkan untuk bersanding dengan sosok sesempurna itu? Bias saja saat ini Luhan telah benar-benar melupakannya. Atau yang lebih parah lagi— Luhan telah menikah dengan wanita lain. Mengingat perkataan Sehun yang menyebutkan bahwa Luhan hyungnya adalah seorang playboy.

.

.

***

Yoona sedikit berlari menuju pintu saat mendengar bell apartmentnya berbunyi. Ia memutar kenop lalu membuka pintunya.

Annyeong.” Seorang wanita berambut sebahu menyapanya sambil menggendong balita perempuan berusia dua tahun.

“Yoong auntie…”

Sontak Yoona melebarkan senyumnya saat melihat Sena dan anaknya berdiri di depan pintu. “Annyeong… woah silahkan masuk.”

Soobin turun dari gendongan Ibunya saat memasuki apartment milik Yoona. Balita itu berlari ke dalam dengan kaki mungilnya. “Yoong auntie, Obin sudah bisa menggambar hehee..” kekehnya sambil memeluk kaki Yoona.

Aigoo… Soobin-ya, sudah pandai ternyata.” Ucap Yoona lalu mengangkat Soobin untuk ia gendong.

“Aku membelikannya buku gambar, Soobin baru saja belajar mewarnai hehe… dia tumbuh dengan baik.” Ujar Sena sambil menaruh buah-buahan yang ia bawa di atas meja dapur.

“Woah… benarkah? Jadi, nanti kalau sudah besar Soobin harus mau melukis Yoong auntie, ne?”

Gadis kecil itu mengangguk pelan dalam dekapan Yoona.

“Jadi, Sena-ya kau kemari hanya berdua dengan Soobin?” Tanya Yoona setelah mendudukkan Soobin di sofa depan televisie, lalu menyetelkan acara kartun bagi balita itu.

“Tentu saja, mau dengan siapa lagi? Kau tahu kan seperti apa sibuknya Kyuhyun.” Jawab Sena lalu mengambil tempat duduk di sebelah putrinya. “Jadi ku dengar kau sudah mendapatkan pekerjaan baru, huh?”

Yoona tersenyum bangga, “Ya, di Hotel Zes yang baru dibuka itu.”

“Woah… chukkae, chukkae….” Ujar Sena sambil menepuk-nepukkan tangan kecil Soobin, membuat balita itu tersenyum menampilkan gigi-gigi kecilnya. “Lalu, kau akan meninggalkan pekerjaanmu di café?”

Mengangguk, Yoona menjawab, “Ya, aku tidak bisa terus mengandalkan gaji Café sampai aku tua nanti, ‘kan? Dan— sebaiknya aku harus berpamitan dulu dengan Kris.”

“Kris? Si lelaki tinggi pemilik café itu?”

“Hmm.” Yoona mengangguk lagi, “Oh ya, auntie hamper lupa, auntie kan punya kue kesukaan Soobin.” Ujarnya lalu melenggang ke dapur untuk mengambil kue kering strawberry yang ia simpan di dalam kulkas.

“Yaa… kuee…” ujar balita kecil itu senang.

Hingga Yoona kembali dengan se-nampan penuh dengan kue kering. “Here we go…” ucap Yoona sambil menaruhnya di atas meja. Dia mengambil satu lalu menyuapkannya ke dalam mulut Soobin.

“Hmm… oishii~” ujar balita itu dalam bahasa Jepang yang berarti enak.

Kelakuannya tak dapat menahan dua wanita dewasa itu untuk tersenyum. “Eum… Yoong, apa sudah ada kabar tentang—

Sena menahan kalimatnya, namun Yoona tahu kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut. Yoona mendesah pelan, “Belum.” Jawabnya.

“Aku harap aku bias membantu tapi kukira itu mustahil.”

“Tak apa.” Ujar Yoona sambil memaksakan senyum. “Jika memang sampai seperti ini, aku yakin Luhan telah berbahagia di suatu tempat sana.”

“Dan kau juga butuh bahagia.” Ucap Sena cepat.

“…”

Yoona tak menjawab, ia melempar pandangan ke segala arah untuk menghindari kontak mata dengan Sena.

“Ehm, ku kira aku berlebihan. Maafkan aku.” Ucap Sena memecah kecanggungan, Yoona tersenyum pahit di depannya. “Jadi— kapan kau akan masuk untuk bekerja.”

“Senin depan aku sudah bisa mulai bekerja.”

“Woah… Yoong auntie sudah mulai bekerja di hari senin depan, jadi Soobin harus rajin-rajin untuk memijat auntie ya kalau auntie kelelahan.” Ujar Sena pada putrinya yang asik memakan kue.

“Hm.” Anggukan mantap ditujukan pada Yoona oleh Soobin yang masih sibuk mengunyah kue kesukaannya.

..

..

..

Jadi— ada baiknya untuk berpamitan ke Café dulu sebelum Yoona meninggalkan pekerjaan lamanya itu. Yoona datang dan kebetulan suasana Café masih lumayan sepi, dan saat mengedarkan pandangannya, entah kebetulan apa orang yang dicari tengah duduk di ujung ruangan sambil menuliskan sesuatu pada berkasnya.

“Annyeong, Kris sanjang-nim.”

Kris mendongak sambil melepaskan kaca mata baca yang bertengger di hidungnya, “Oh, Yoona-ya… kau kemari untuk berpamitan?”

“Woah bagaimana anda tahu?” Yoona melebarkan matanya.

“Tidak perlu terlalu formal padaku. Kau kan sudah tidak menjadi pegawaiku lagi, dan selamat…” pria itu berdiri lalu menjabat tangan Yoona, “Kau tahu, para pekerja di sini adalah tukang gossip, jadi bagaimana aku tidak mengetahui berita ini?” sambungnya sambil terkekeh.

Yoona tersenyum canggung dibuatnya, “Terima kasih Kris, aku juga senang selama ini telah bekerja padamu.”

“Ya, ya. Apakah kau mau minum? Akan ku beri gratis padamu khusus hari ini?”

“Ah benarkah?”

Kris tersenyum lagi, “Tentu saja, kau tahu cabang Café yang berada di Gangnam? Disana sangat ramai dan aku dapat keuntungan besar dari sana. Jadi kau mau apa? Americano? Macchiato??”

Yoona tersenyum lalu menggeleng pelan, “Kurasa tidak, ini sdah mulai gelap. Kapan-kapan aku akan kemari lagi untuk mengunjungimu dan teman-teman yang lain.”

“Eung… baiklah.”

Kris kembali berkutat dengan kertas dan bolpoin setelah kepergian Yoona.

Sedangkan wanita itu tengah berjalan kaki menikmati waktu sore harinya. Karena yang ia perkirakan, takkan ada sore setenang ini saat ia telah mulai bekerja nanti.

Yoona berhenti saat menjumpai sebuah kursi panjang yang terletak di tepi trotoar. Ia duduk dan mengambil ponselnya untuk mengecek panggilan, namun kosong. Ia mendengus, tentu saja.

Yoona mendongak lagi, memperhatikan Restaurant Prancis yang lampu depannya baru saja dinyalakan karena senja mulai bergerak turun. Saat Yoona menolehkan pandangan untuk melihat ke arah lampu merah—

Dia rasa telah melihat seseorang.

Oh tidak—

Waktu seolah terdiam. Tak ada ruang dalam pikirannya untuk angin disela pepohonan atau orang-orang yang berlalu-lalang dihadapannya. Benar-benar tak ada ruang bagi apapun, kecuali lelaki itu— yang memilin diri menjadi sesuatu yang hanya merupakan benih perusak akal sehat.

Mobil Aplard berwarna putih yang kaca jendelanya dibuka itu. Yang bergerak cepat melewatinya barusan.

Benarkah itu, Luhan?

Tapi— bukan kali ini saja Yoona seolah melihat sosok Luhan. Mungkin hal ini hanya ilusi yang sengaja dibuat otaknya karena telah merindukan seseorang yang berharga baginya. Benar, ‘kan?

Coba katakana ‘iya’ agar pengharapan Yoona tak kembali membuncah.

.

.

-TBC-

Author Note:

Haii… chapter 7 udah update, dan maaf banget kalau updatenya lama huhuu.. 😥 karena jujur aku juga berusaha nyelesein 3 FF dalam waktu yang sama. Jadi tolong lah maklumin yah.. 😀

Untuk FF ini kayaknya chapter depan adalah chapter END deh. Alias udah selesai hehee.. jadi jangan lupa tinggalkan komentar kalau gk mau nanti aku protect.

Tapi tenang— aku juga udah nyiapin FF Yoona yg lain kok setelah Be With You ini selesai. Sedikit bocoran kalau pairingnya nanti adalah Yoona-Donghae. Genre Marriage-life :-* wkwkwk awas rating.

Ada yg ngeship mereka? Hahaha tungguin ajah ya..

Regard.

-KEIKO SINE https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

One thought on “Be With You [Chapter 7]

  1. Akhirnya tinggal 1 chapter lg, seru bgt thor ceritany …. Knp luhan bs sampe 2 tahun ya ninggalin yoona? Lanjut baca selanjutnya ya thor …. Makasih.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s