Florescente [Chapter 1]

hunhan7_yes

morschek96 present FLORESCENTE

Yaoi – Slight of Life – Sad Romance

Rate : NC-17

Lu Han & Oh Sehun

Jung Yura, EXO Members, and others.

PREVIOUS : [Prolog]

***

“Could you really love two different people at once?

Could you split your heart in half?“

***

C H A P T E R 1

..

..

Luhan mendudukkan dirinya dengan kasar di atas sofa, bebarapa bungkus makanan dan soda berserakan di atas meja tedekat. Sebuah lampu di sudut ruangan menyala saat malam semakin larut, dan televisinya terpaku pada saluran berita, sementara ia tak terlalu memperhatikan benda persegi panjang tersebut.

Pukul 11.47 KST dan kini Luhan sudah kelelahan. Wajahnya yang memerah karena kedinginan namun suhu tubuhnya malah terasa panas. Luka di lengan kanannya pun perih tak terelakkan.

 

“Sialan!”

Luhan mendesis tajam. Bajingan-bajingan itu pasti yang membuat timya celaka saat perjalanan pulang ke maskas. Pertandingan Qiu-qiu malam ini dimenangkan oleh tim Luhan, yakni MPG. Mandarin Primary Group. Ia yakin bahwa tim lawannya tadilah yang menyerang dirinya dan teman-temannya yang lain.

 

Qiu-Qiu adalah permainan menggunakan domino. Dalam permainan Qiu-Qiu para pemain diberikan 4 kartu dimana kemudian para pemain harus membuat kombinasi 4 kartu tersebut menjadi 2 pasang nilai. Nilai tertinggi pada permainan ini adalah 9. Jadi untuk mendapatkan 2 pasang nilai tertinggi para pemain harus menemukan 2 kombinasi kartu yang berjumlah 9 dan 9.

Luhan berjalan ke tempat tidur, membaringkan tubuhya yang terasa remuk di atas bed berukurang king size tersebut. Menghela napas kasar sembari meletakkan ponselnya diatas nakas. Ia membatin dalam hati, pertandingan bulan depan Luhan akan membalas Jackson dan antek-anteknya itu.

.

.

***

Seorang lelaki berbadan tegap melangkahkan kakinya di koridor sekolah. Dapat ia rasakan setiap kali ia melangkah, beberapa siswi perempuan akan berdecak kagum akan ketampanannya. Namun pemilik aura dingin itu hanya diam bergeming menangapi, dan itulah alasan yang menunjang kepopuleran Oh Sehun di sekolah ini.

“Dia pasti memiliki gen keluarga yang bagus.”

“Lihatlah rahang tegas dan mata tajam itu. Benar-benar sempurna.”

Sehun memasukkan beberapa bukunya ke dalam locker. Mengambil buku Bahasa Inggris dan Fisika karena pelajaran itu akan dimulai sebentar lagi. Saat hendak menutup pintu lockernya, Sehun dikagetkan oleh sebuah tangan yang kini telah melingkar di pundaknya.

“Menyingkirlah.” Ucapnya dingin.

Dan si pemilik tangan itu hanya terkekeh pelan, “Baiklah.”

“Apa kau tidak ada acara lain selain menggangguku di pagi ini, Kai?”

“Tidak.” Ucap lelaki tan itu cuek. Mengganggu Sehun adalah hobynya, karena wajah datar Sehun akan terlihat sangat menyenangkan untuk dipandang saat lelaki itu merasa jengkel. “Hahh…” desah Kai pelan, “Kau tahu apa berita bagus pagi ini?”

“Kau memiliki gadis baru?”

“Y-yak! Bagaimana kau tahu?” ujar Kai mendelik ke arah Sehun.

“Bagaimana ku tahu? Kau kira sudah berapa kali kau berganti pacar, huh? Seminggu sekali?” Sehun memukul Kai menggunakan buku Fisikanya yang super tebal.

 

#Bugh!

“A-aniyaa… kali ini aku akan setia dengan Dasom.”

“Bicaralah seolah aku percaya.” Sehun melangkahkan kakinya menuju ruang kelas setelah mengunci kembali lockernya, Kai mengekor dibelakang.

Tiba di ruang kelas yang super ramai dan berisik karena Kang Songsaenim belum datang, Sehun dan Kai duduk di masing-masing kursi mereka. Yakni Kai duduk dengan lelaki kecil bereyeliner Baekhyun, dan dibelakang mereka Sehun tentunya duduk dengan Luhan.

“Apakah Luhan belum datang?” Tanya Kai saat melihat kursi disebelah Sehun masih kosong.

Sehun mengangkat wajahnya saat melihat siluet familiar dipintu masuk tertangkap indera pengelihatannya. “Berbaliklah, dia datang.” Ucap Sehun yang kini pandangannya tak terlepas sedetikpun dari sosok Luhan yang berjalan mendekat.

“Annyeong bambi Lu.” Sapa Kai dengan semangat paginya. Namun yang disapa hanya memberikan senyum seadanya tanpa menjawab sepatah katapun.

Luhan kurang tidur, dan suaranya agak serak. Kantung matanya pun kelihatan semakin hitam dari hari-hari sebelumnya. Lelaki China itu meletakkan tasnya diatas meja lalu duduk disebelah Sehun.

“Luhan…” ucap Sehun agak ragu, “Aku semalam ke rumahmu, tapi bibi Liu –pembantu di rumah Luhan- mengatakan jika kau belum pulang.” Melihat tanggapan Luhan yang semakin diam pun Sehun kembali melanjutkan, “Dimana kau tadi malam?”

Luhan dengan segala ketegangannya pun bersikap senormal mungkin, ia membuka resleting tasnya dan mengeluarkan sebuah buku, “A-aku hanya kemalaman pulang. Aku membeli tteokbokki dan udon untuk makan malam. Hehehe… kau tahu, terkadang aku bosan makanan rumah.”

Demi dewa neptunus dan seluruh isi lautan, Luhan tidak mungkin memberi tahu pada kedua teman kecilnya ini jika ia sudah mulai terlibat perjudian. Tidak.

Biarkan Kai dan Sehun hanya mengenal Luhan kecil mereka. Anak lelaki manis yang lugu dan harus mereka lindungi. Biarkan sisi malam Luhan tertutupi demi pertemanan mereka.

 

“Benarkah?” kini Kai yang membuka suara. Ekspresi Luhan entah mengapa sedikit mengganggunya.

“Tentu saja. Apa maksud kalian heiii..” elak Luhan yang kini memukul-mukul pelan bahu Sehun dan Kai dengan gelak tawa.

Sekelibat mata Sehun melihat adanya goresan luka yang cukup panjang di tangan kanan Luhan, ia menatap penuh selidik. Namun ketika melihat ke mata indah itu, Sehun menahan kalimatnya. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk menyelidiki tentang teman yang ia kenal sejak kecil itu.

 

Doesn’t life is tiring? Pretend that you’re okay when you’re not.

 

..

..

Luhan mengeluarkan pena dari dalam tasnya. Ia memandang selembar kertas yang berada di meja.

 

Surat Keterangan Studi Wisata Busan

Tanggal 10 Januari 2016

 

Tanpa pikir panjang, Luhan melingkari tanda “Tidak Ikut” di kolom yang tersedia. Tanggal tersebut bertepatan dengan pertandingannya bulan depan. Tidak mungkin jika Luhan yang berposisi sebagai ‘face of group’ atau visual tidak mengikuti pertandingan tersebut.

“Kau tidak ikut?” Ucap Sehun tiba-tiba, melihat Luhan yang menolak ikut di acara Studi Wisata sekolah mereka membuatnya sedikit— geram.

Ada apa dengan Luhannya? Luhannya yang ia kenal menyukai keramaian dan acara seperti ini, tapi sekarang… Sehun tak ingin melanjutkan pemikirannya.

“Aku tidak tertarik, pasti acaranya sangat membosankan.” Ucap Luhan dengan wajah bosan yang dibuat buat.

“Tapi ini acara sekolah, Lu. Hanya khusus di kelas 2 ini.”

“Y-ya aku tahu… tapi—

“Luhan, kau tidak ingin menghabiskan liburannya denganku dan Kai?” skak match.

Kalimat Sehun terasa menghantam keras bagian dadanya. Haruskah ia memilih antara teman-teman kecilnya atau kehidupannya yang sekarang.

 

Tumbuh besar itu mengerikan, eh?

Setiap pilihan dihidupmu akan membuat orang berpikir seperti apa dirimu.

“Luhan-ah, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padamu. Kau berubah, Lu. Dimana Luhan teman kecilku dulu?” ucap Sehun yang suaranya terdengar putus asa.

Luhan mengedipkan matanya dua kali sebelum menjawab, “Dia tumbuh dewasa,” Ucap Luhan pelan namun tajam. “Tidak bisakah kau berhenti mengucapkan ‘teman kecil’? Ini terdengar menjengkelkan ketika kita sudah tumbuh besar namun tetap bersikap seolah kita ‘teman-kecil’.” Luhan memberi penekanan dikalimat akhirnya.

“Lu—

“Sudahlah… kau tidak akan mengerti,” Ucap Luhan lalu berjalan keluar kelas dengan langkah lebar.

 

***

 

Langit Seoul siang ini terlihat cerah, namun tidak untuk Luhan, lihatlah bagaimana lelaki itu sekarang sedang menendang bola sepak itu dengan kerasnya di tembok atap sekolah. Menggeram dengan jengkel, keringat keluar turun dari pelipisnya. Luhan lelah, ia lelah dengan semua keterpura-puraan ini. Bisakah ia hanya menjadi Luhan yang ‘sekarang’? Tanpa memperdulikan status sosial dan teman-teman kecilnya.

Namun hatinya berkata lain. Semakin ia membenci teman-teman kecilnya, semakin Luhan merasa kosong dan aggressive.

Sehun dan Kai, tidak mungkin mereka akan menerima keadaannya yang sekarang. Semakin Luhan ingin melepaskan mereka, semakin kekhawatiran itu merasuki dirinya. Yura, gadis itu—

Yang merubah diri menjadi mesin penghancur… akan merebut Sehunnya.

Ia ingat bagaimana gadis itu selalu berpura-pura lemah hanya untuk menyita perhatian Sehun dan Kai. Sedangkan Luhan— hanya akan menjadi angin lalu bagi mereka.

Menyerah, Luhan terduduk di pagar pembatas atap. Dia meraih smartphonenya dan mulai tenggelam pada akun SNS yang ia punya. Satu bulan terakhir, ia terlalu sibuk ‘liburan’ sampai tak sempat memeriksa akun media sosialnya itu.

 

1 Pesan Masuk

Luhan membuka chat-room tersebut.

From : Zi Tao

“Aku dengar timmu menang hebat kemarin malam, eh? Selamat. Aku akan hadir bulan depan untuk memberi timmu semangat.”

 

Di raut wajahnya, Luhan terlihat sangat senang. Memang benar kemarin malam timnya menang telak. Meski, yah, harus terlibat beberapa ‘kecelakaan’ yang tidak mengenakkan.

Dan teman-temannya yang lain? Masih betah menginap di dorm MPG, karena tak mau pulang dengan keadaan babak belur yang akan membuat masalah dengan masing-masing orang tua.

Siapa bilang bahwa menjadi ‘penjudi’ haruslah anak orang miskin yang kesusahan? Nyatanya semua teman-teman Luhan dan yang mengikuti permainan itu adalah berasal dari keluarga yang lebih dari berkecukupan.

Lalu apa yang mereka cari?

Uang?

Ingatlah bahwa kehidupan tidaklah selalu bergantung dengan uang. Mereka mencari arti kehidupan yang sesungguhnya. Mereka mencari apa arti keluarga, persahabatan, dan kepedulian.

..

..

..

Luhan datang ke dorm pada pukul sepuluh malam. Wajahnya tampak cerah sekali. Seakan disiram cat golden yang berkilauan. Dia langsung duduk disamping Lay yang sedang fokus menonton TV.

“Dari mana saja kau, Lu? Kukirimi pesan tidak dibalas,” tegur Kris sang ketua.

“Benarkah? Oh, smartphoneku mati. Kenapa?”

“Aku sengaja ingin memberitahu ini secara langsung kepada kalian, bahwa Chen akan vacum selama dua bulan dari tim kita.” Ucap Kris to the point.

“Apa? Kenapa mendadak sekali, hyung?” Lay hampir meloncat dari kursinya, lelaki berlesung pipi itu terlihat sangat shock.

“Tidak, ini tidak mendadak. Sebelumnya Chen sudah pernah bilang kepadaku dan Xiumin bahwa ada program ke luar negeri dari sekolahnya, jadi dia—

“Dua bulan?” Tanya Luhan tak bersemangat sambil mendecih pelan.

“Kenapa Lu?” Tanya Xiumin yang sedari tadi hanya diam.

“Bukankah itu terlalu lama, eh?!” Luhan mengangkat wajahnya, memperhatikan satu-per-satu wajah member MPG. “Sedangkan aku— aku, menolak untuk mengikuti studi wisata bulan depan hanya agar dapat maju ke pertandingan bersama kalian..! Anak itu—

“Luhan cukup!” sela Kris cepat. “Kami tidak pernah melarang bagi kalian jika ingin mengambil cuti atau sebagainya. Itu kesepakatan awal kita membentuk tim ini. Jadi jika kalian ada kepentingan lain, kita bisa merubah jadwal atau bahkan menolak untuk mengikuti kompetisi. Kalian harus ingat bahwa tujuan kita bukanlah untuk uang.” Sang leader kembali berceramah kepada para anggotanya. Hingga Luhan kini terdiam, tangannya mengepal di masing-masing sisi.

Luhan ingat. Ia ingat betul tujuan awal itu.

Hanya saja—

Berada di tim, membuatnya merasa lebih nyaman.

Luhan merasa bahwa MPG lah keluarganya saat ini. Jadi ia menginginkan para anggota untuk selalu berkumpul dan bersama. Apakah itu kelewatan, eh? Apakah keinginannya tersebut keterlaluan?

Hanya obsesi?

Jangan pernah bertanya seperti itu. Karena Luhan sendiri pun tak tahu apa jawabannya.

“Lalu… untuk pertandingan dua bulan kedepan?” Tanya Lay sekali lagi.

“Terpaksa kita harus melewatkan untuk pertandingan yang Chen pegang. Jadi kita hanya mengikuti empat permainan. Domino untukku dan Lay, sedangkan Qiu-Qiu untuk Luhan dan Xiumin.”

“Baiklah… cukup untuk hari ini. Aku pulang dulu oke? Aboeji sedang berada di Seoul hari ini, aku tidak ingin dicurigai karena pulang kemalaman.” Xiumin berjalan ke meja untuk mengambil kunci mobilnya kemudian menghilang dibalik pintu.

Setelah kepergian Xiumin, keadaan dorm mewah itu kembali sunyi. Hanya ada suara yang dihasilkan TV juga dentingan gelas yang berada di tangan Kris menghiasi pendengaran mereka.

Kris sang leader menghela napas, ia merasa keterlaluan telah membentak Luhan tadi. “Kau tidak pulang, Lu?”

“Kau mengusirku?!” Tanya Luhan sarkastik.

Menutup matanya pelan, Kris kembali bersuara, “Hanya ingin bertanya, karena kulihat kau sedang tidak dalam mood yang baik.”

“…”

Melihat tidak adanya tanggapan, Lay pun menambahkan, “Pulang dan beristirahatlah. Kami mengkhawatirkanmu.” Menjadi kelimat terakhir sebelum ia dan Kris juga mengambil kunci mobil masing-masing untuk segera pulang.

.

.

***

Langit sore di kota Seoul, terlihat semburat jingga menghiasi ujung cakrawala. Luhan keluar dari mobilnya, sambil menenteng tas ia berjalan memasuki rumah seseorang.

Lelaki bermata rusa itu menghela napas kasar, edikit menyesali perlakuannya kepada si pemilik rumah ini karena telah membentakknya kemarin. Baiklah, hanya untuk orang ini, Luhan rela membuang jauh-jauh egonya. Menahan hasratnya untuk berteriak, hanya untuk lelaki ini.

Tak begitu lama kemudian seorang wanita paruhbaya membukakan pintu utama. Wajahnya berseri ketika melihat Luhan berdiri dihadapannya.

“Ouh, Luhanie.” Sapanya.

“Eommonim.” Luhan membungkukkan badannya lalu menghamburkan pelukannya ke dekapan wanita itu, Ibu Sehun. “Eommonim, Sehun?”

“Sehun sedang keluar, Lu. Ia menjenguk Yura.”

Seketika raut wajah Luhan bertambah geram dan jengkel, hampir saja ia meneteskan air mata jika tak segera ia tahan.

“Hei Lu, ada apa, nak? Masuklah dulu.”

Setelah duduk di ruang tamu kediaman keluarga Oh, Luhan menceriakan masalahnya kemarin kepada Eomma Sehun yang sudah ia anggap sebagai Ibu sendiri.

Sambil mengelus sayang surai kepala Luhan, Oh Sena memberikan sedikit petuahnya kepada Luhan, “Lu, kau sudah eomma anggap sebagai anak sendiri. Kaku dan Sehun sudah sangat lama mengenal, Sehun tidak marah padamu, sayang. Kau tahu, sebelum Sehun mengenalmu, dia adalah anak pendiam yang introvert. Hanya Kai teman satu-satunya karena keluarga kami adalah rekan bisnis. Sehun yang dulu tidak akan pernah mau tersenyum, hanya kepadamu dia bisa tersenyum dan tertawa lepas.”

Luhan mengerucutkan bibirnya lucu. Sambil memainkan baju seragam sepak bolanya, ia mendongak ke atas, “Tapi… Sehun juga tersenyum dengan ‘gadis itu’.”

Mendengar ‘gadis itu’ yang diucapkan Luhan dengan nada jengkel, Oh Sena mengerti siapa yang dimaksud Luhan. “Maksudmu Yura?”

Luhan menganggukkan kepalanya cepat. “Sekarang saja Sehun sedang bersama gadis itu.”

“Mereka hanya berteman Lu.” Eomma Sehun mencubit gemas pipi Luhan. Ia tak sebodoh itu untuk mengetahui bahwa diam-diam anaknya dan Luhan saling memiliki perasaan. Hanya saja anak-anak muda ini yang belum ingin mengekspresikan perasaan mereka. “Kau cemburu, eh?” godanya.

“T-tidak…” elak Luhan cepat. “Buat apa aku harus cemburu dengan gadis lemah dan manja itu.”

Eomma Sehun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat kelakuan Luhan. Sangat kentara bahwa lelaki ini sedang berbohong. “Yura memang sering sakit-sakitan, Lu. Dan Sehun adalah teman satu-satunya, jadi wajar jika Sehun sering merawatnya di panti asuhan.”

 

“Eommonim… kau tidak mengerti.” Kini Luhan mulai merengek, “Gadis itu hanya ingin merebut perhatian Sehun saja. Dia— dia…” Luhan tak ingin melanjutkan kalimatnya. Sejak awal memang Luhan tak menyukai sosok Jung Yura di dunia ini.

“Eung…” Eomma Sehun merangkul hangat tubuh Luhan, “Tak apa jika kau belum bia menerima Yura. Tapi ingatlah, Sehun juga menyayangimu.”

 

“Hmm.. ne..”

“Apakah kau sudah makan? Eomma masak banyak hari ini, ayo ikut Eomma ke dapur, Lu.”

Dengan langkah gontai Luhan mengekori Eomma Sehun yang dengan semangat berjalan ke arah dapur. Memang banyak sekali makanan di rumah ini. Tak seperti di rmahnya— hanya ada bibi Liu yang memasak satu porsi yakni untuk Luhan sendiri. Karena kedua orang tua Luhan menetap di China untuk mengurus bisnis keluarga.

Jadi jangan salahkan Luhan jika ia menjadi anak yang seperti ini. Tak ada yang peduli padanya. Uang bukanlah apa-apa, melainkan sesuatu yang akan ia hamburkan di pertandingan judi.

“Eommonim ini enak sekali.” Ucap Luhan yang kini mulutnya penuh dengan daging.

“Benarkah? Wah syukurlah kalau Luhan suka, nanti eomma masakkan lagi yang seperti ini khusus untuk Luhan, ne?”

“Hng.” Luhan tak bisa menjawab namun ber’hem’ pelan. Lihatlah betapa lucunya rusa kecil yang sedang makan dengan lahap itu.

“Eomma… aku pulang.” Terdengar suara yang tak asing dari arah pintu masuk. Sehun muncul dari balik dinding masih mengenakan seragam sekolah dan tas tergantung di bahu kanannya.

“Ouh.. Sehun-a, kemarilah Luhan sedang ada disini.” Ucap Eomma Sehun yang kini sadang menata buah-buahan ke dalam keranjang.

Tatapan mata Luhan dan Sehun sempat bertemu sepersekian detik, hingga Sehun memutus kontak diantara keduanya dan berjalan menghambur ke pelukan sang Ibu. “Kau sudah makan, nak?”

“Sudah eomma, bersama Yura.”

 

#hhesk

 

Luhan seketika tersedak ketika mendengar nama itu. Hatinya memanas, ia memegang erat sumpit yang berada ditangannya.

“Masuklah ke kamarku jika sudah selesai makan.” Ucap Sehun pada Luhan, namun seolah tak dapat mendengar apapun, Luhan hanya diam tak bergeming meng-iyakan.

Hingga beberapa saat ketika mendengar suara langkah kaki Sehun yang berjalan ke atas tangga, Luhan pun mendapatkan kesadarannya kembali.

“Ke— kamarmu? Iya…” jawabnya gugup.

Eomma Sehun tersenyum dari tempatnya berdiri, “Lihat ‘kan? Sehun tidak marah padamu, Lu.”

Luhan tersenyum tipis menanggapi. Tak butuh waktu lama, Luhan segera menghabiskan makanannya dan berjalan ke kamar Sehun.

Dengan ragu, Luhan mengetuk pintu kamar Sehun pelan.

#tok tok tok…

 

Tak beberapa lama kemudian, Sehun membukakan pintu kamarnya. Lelaki itu sekarang memakai kaos putih dengan celana pendek selutut, juga rambutnya yang terlihat basah pertanda bahwa ia baru saja selesai mandi.

Tampan.

Itulah kata yang sedang berada di pikiran Luhan saat ini. Bagaimana bisa ia tak menjadi posessive jika lelaki itu adalah Sehun. Bagaimana bisa ia merelakan lelaki ini dengan orang lain.

“Masuklah, sampai kapan kau akan berdiri disana?” ujar Sehun dingin.

Dengan langkah pelan, Luhan memasuki kamar Sehun. Aroma cokelat yang elegan itu menghiasi pernapasannya, aroma yang selalu menguar dari tubuh tegap Oh Sehun. Luhan mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur Sehun.

“Se— Sehun-ah…” ucapnya pelan.

“Hmm?” ujar Sehun cuek yang kini sedang menata bukunya di rak.

“A-aku ingin meminta maaf.. Aku..”

“Maaf tentang apa?” Sela Sehun cepat. Oh Tuhan… pasti saat ini Luhan sangat ketakutan melihat sifat dingin Sehun kembali keluar. Sedangkan Sehun, lelaki itu nampak puas mengerjai si lelaki rusa mungilnya.

“Tentang… eung— saat aku membentakmu kemarin.”

“…” Sehun tak dapat menjawab namun mati-matian menahan tawanya. Sungguh, ia tak tega melihat Luhan seperti ini.

“Aku tidak sungguh-sungguh membentakmu Sehun-ah… aku… menyesal. Maafkan aku.” Ucap Luhan terbata-bata. Dan lihatlah air mata itu yang mulai menetes di pipi gembilnya.

“Kau menyesal?” Sehun masih mempertahankan suara datarnya.

Luhan mengangguk pasrah.

Sehun mulai berlutut dihadapan Luhan. Mensejajarkan tubuhnya dengan Luhan yang kini sedang duduk di tepi tempat tidur. Ia melihat air mata yang mengalir keluar di wajah Luhan.

“Tapi… anak nakal harus dihukum.”

Sehun menarik dagu Luhan, menatap ke mata indah lelaki itu yang kini telah dibanjiri air mata. Perlahan Sehun memajukan wajahnya, hingga menempelkan bibir mereka berdua.

Mata Luhan membelak. Tidak. Ini sangat tiba-tiba.

Bibir hangat Sehun menempel di permukaan bibir ranum Luhan. Kemudian dengan berani Sehun menggerakkan bibirnya, melumat bibir Luhan.

Seakan tersadar dari kegiatannya, Luhan mencoba menjauhkan bibirnya dan mendorong dada Sehun. “Se-sehun…”

“Biarkan… sayang… hanya lima menit.”

Seakan terhipnotis oleh suara berat Sehun yang kini mulai membakar libido Luhan, lelaki mungil itupun membiarkan Sehun yang kini sibuk dengan kegiatannya. Sehun mulai mengecup mengulum, menjilat, dan menggigit bibir Luhan.

Sehun menggigit bibir bawah Luhan dengan sensual, hingga Luhan mau tak mau membuka mulutnya. Sehun tak menyia-nyiakan kesempatan itu pun langsung memasukkan lidahnya ke dalam mulut Luhan.

Mengajak lidah Luhan berdansa, melilit, menjilati seluruh sisi mulut Luhan dengan nikmat. Saliva keduanya menyatu, sebagian keluar turun, meleleh dari sudut bibir Luhan.

Ini luar biasa. Sehun sudah sering menciumnya, namun ini beda, Sehun melakukannya lebih dalam, lebih intim. Hingga kini bagian bawah keduanya mulai menegang. Sama-sama ingin dimanjakan.

Luhan dengan sengaja melebarkan pahanya, menuntun tangan Sehun untuk memegang juniornya yang ingin disentuh. Seakan mengerti, Sehun mulai menyentuh, meremas, memelintir junior kecil Luhan yang masih berada didalam celana olah raga itu.

“Eunghh… aahhh…”

Desah Luhan kenikmatan. Membuat Sehun tersadar dari kegiatannya. Sehun kini melepas genggaman tangannya dibagian tersensitive Luhan.

Sehun juga melepas tautan lidahnya, dan berbisik sensual di telinga lelaki yang lebih mungil. “Kita sudahi sampai disini, sayang… ini belum waktunya.”

Luhan masih memejamkan matanya karena lemas. Ini tadi sangat nikmat, menggairahkan. “Hmm.” Gumam Luhan pelan.

“Berdirilah Lu. Ikut aku keluar membeli makanan. Aku lapar.” Ucap Sehun yang kini mengambil jaketnya.

“Huh? Kau bilang sudah makan bersama Yura.”

Terdengar suara Sehun yang terkekeh pelan, “Apakah actingku sebagus itu? Aku tadi berbohong agar membuatmu jengkel.” Sehun mengusap puncak kepala Luhan, “Ketika aku datang, Yura sudah terlelap. Ia barusaja mendapat suntikan dan minum obat. Jadi aku hanya menjaganya selagi ia tertidur. Hmm.. berdirilah rusa jelek. Ayo temani aku makan.”

“Yak! Aku tidak jelek.” Ucap Luhan kembali merajuk.

“Baiklah… rusaku yang cantik.”

“Oh Sehun… aku ini tampan, eoh. Manly. Manly.”

Luhan berdiri dan meninju pelan bahu Sehun. Namun dengan sigap Sehun menahan tangan Luhan lalu merangkulnya erat.

“Kajja kita makan bimbibab Lu..”

“T-tapi aku sudah kenyang.”

Keduanya kini memasuki mobil Sehun untuk pergi ke restaurant.

.

.

-TBC-

oke ini gaje wkwkwkwk

review?

Iklan

6 pemikiran pada “Florescente [Chapter 1]

    1. morschek96

      iya say sehun sm luhan pairingnya di cerita ini.. genrenya aja udah aku tulis jelas bgt “Yaoi” 😀 heheh iya mereka gay
      jadi mumpung ini masih chap 1 mending gk usah dilanjutin baca aja gpp kalo gk suka..^^
      yura jd org ketiganya wkwkwk

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s