PAYBACK [Chapter 3]

paybc3

 

PAYBACK by. morschek96

School life || Sad-Romance || Friendship

Teen/General

Maincast :

Kim Jong In, Kang Jeorin (OC), Lu Han

Add Cast : Oh Sehun (EXO), Kim Seok Jin (BTS), Lee Nara (OC),

and Others

credit poster by blaxxjae @ IFA

PREVIOUS : [TEASER][Chp1][Chp2]

“i can’t lie, it’s a sweet life“

***

Cahaya dari kedai-kedai pinggir jalan tampak redup oleh malam yang kian tiba. Jeorin berdiri dengan didepan pintu mobil Luhan yang terbuka, menunggu Luhan memasukkan belanjaannya dengan hati-hati untuk dimasukkannya kedalam mobil.

Mereka sedang berada di tepi pembatas sungai, udara dingin musim semi Seoul menemani keberadaan mereka. Jeorin melihat sekitar dan dapat melihat bayangan dirinya sendiri ketika menyadari cahaya langsat dari lampu jalan yang menjulang tinggi disebelah kirinya.

Luhan berjalan mendekat hingga sekarang mereka tepat bersebelahan. Menatap jauh kedalam mata bening Luhan, samar-samar Jeorin dapat merasakan emosi disana. Wajah malaikat itu tak setenang penampakan luarnya. Jeorin mengerti hidup tidaklah segampang imajinasinya, selalu ada rintangan dan itu yang tengah dirasakan Luhan.

He’s back.” Ucap lelaki itu lirih, matanya jauh menerawang akan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi.

Jeorin memalingkan wajah, memperhatikan aliran sungai yang setenang kematian. “Aku tahu.” Gumamnya pelan.

“Don’t be afraid, I’m here.”

`A blue flower is the symbol of hope and beauty.

It stands for desire, love and striving for the infinite and unreachable.`

Luhan masih mengingat bagaimana lelaki itu memperlakukannya sebagai “teman”, tindakannya benar-benar mencerminkan seorang “lelaki”. Biarkan Luhan muntah untuk saat ini karena telah berkata seperti itu.

Kim Kai mengira bahwa ia memiliki segalanya, namun ia bahkan tak lebih dari lelaki lemah yang manja bagi Luhan.

Bagaimana lelaki itu merebut kekasih Luhan dan mengatakan bahwa Miyoung sendiri yang menggodanya, Luhan mengepalkan tangannya kuat teringat kejadian tersebut. Bukankah hal yang sangat memalukan, mengorbankan persahabatan mereka hanya kerena seorang perempuan. Namun yang tak Luhan habis pikir, lelaki itu tak sekali pun mencoba meminta maaf kepadanya setelah kejadian itu dan malah memilih untuk melarikan diri ke Belanda.

.

.

***

 

Jeorin keluar dari mobil Maserati milik Luhan bersama sang pemilik. Tak jarang banyak pasang mata yang langsung menoleh ke arah mereka, seperti pagi-pagi biasanya. Para siswa di sekolah menyukai hubungan Luhan dan Jeorin karena menurut mereka keduanya memiliki latar belakang yang sama. Menurut mereka Luhan dan Jeorin sangatlah saling melengkapi.

“Aku lebih menyukai Luhan oppa dengan Jeorin daripada dengan Soojung, kurasa Jeorin lebih natural.”

“Yaa.. siapa pula yang akan menyandingkan pangeran Luhanku dengan nenek sihir Soojung itu?”

“Tapi kurasa mereka hanya berteman, Luhan oppa tidak pernah memperlakukan Jeorin dengan khusus, mereka hanya lebih sering bersama karena telah mengenal sejak SMP.” Ketiga siswi berdialek yang tak sengaja didengar oleh Jeorin ketika melewati koridor menuju tempat lockernya.

Jeorin tersenyum samar, begitukah pemikiran siswa lain mengenai dirinya dan Luhan? Sepertinya Jeorin harus lebih serius memikirkan perkataan Nara untuk membuka hatinya kepada Luhan.

Mengambil buku Bahasa Inggrisnya ketika Jeorin mendengar suara derap sepatu yang semakin terdengar mendekat ke arahnya.

“Jeorin-ya..!” panggil Nara dengan deru napas tak karuan.

“Mwoya? Kenapa kau lari pagi di koridor, huh?”

“Aiisshh.. ikut aku— cepat.” Menggenggam erat tangan sahabatnya lalu menyeret Jeorin menuju lapangan sekolah.

Para siswa membentuk segerombolan besar masa mengelilingi sesuatu yang tak dapat Jeorin lihat. Namun Nara tetap mendesak masuk kedalam gerombolan tersebut, tak jarang Jeorin menabrak seseorang didepannya dan berkali-kali pula mengucapkan kata maaf.

Tepat berada ditengah terdapat Luhan dan ketiga teman lamanya, Sehun, Jin, dan— Kai. Jeorin tak habis pikir, mengapa terjadi secepat ini. Waktu seolah berhenti, semua dunianya berpusat kepada satu orang— lelaki itu yang akan segera kembali lagi ke kehidupannya.

Tatapan Luhan terlihat nyalang, ia berdiri seorang diri dengan kedua tangan ia masukkan kedalam saku celana. Sedangkan tiga yang lain berdiri sejajar dengan si pemimpin berada ditengah, berhadapan dengan Luhan.

“Annyeong Luhan-ssi.” Ucap Kai santai, sontak keadaan yang semula ramai menjadi sehening makam Apegoujong. Smirk miring menghiasi wajah sang pemilik.

“Apakah kau mengenalku? Omo, bagaimana bisa aku lupa.” Ucap Luhan masih dengan tatapan tajamnya. Nada bicaranya terdengar main-main namun raut wajah lelaki itu sangatlah datar.

Tak sadar Jeorin meremas rok seragamnya sendiri ketika melihat pertunjukan tersebut. Ingin sekali menyeret Luhan sejauh mungkin dari gerombolan ini agar tak lagi melihat wajah menjengkelkan Kim Kai.

Suasana membeku semenjak tak ada lagi yang membuka suara diantara mereka. Sebagian siswa menebak-nebak apa yang sedang terjadi dan ada pula yang mengetahui bahwa hubungan antara Luhan, Kai, Sehun, dan Jin tidaklah sebaik dulu.

#KRRRIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNGGGGGG

Bel pelajaran berbunyi dan Mr. Jang selaku guru keamanan pun membubarkan para siswa agar segera masuk kedalam masing-masing kelas.

***

Sebuah tembok seharusnya terstruktur rapi dan tertutup, melindungi sebuah area. Sebuah tembok yang sedang Jeorin pikirkan disini adalah tentang tembok yang akan melindungi dirinya dari dalam. Yang ia bangun tinggi, kuat, dan hampir tak teruntuhkan. Hampir.

Karena saat melihat kembali ke mata gelap lelaki itu— ia merasa telah kalah sebelum perang. Entah perasaan itu masih ada atau tidak, namun lelaki itu masih memiliki sesuatu yang dapat membuat Jeorin lemah hanya dengan sebuah tatapan.

Jeorin menggelengkan kepalanya kasar. Ia tengah berada seorang diri didalam kelas, mengatakan kepada Nara bahwa ia sedang tidak bernafsu untuk makan dan berdiam diri seperti ini. Benar, ini adalah Kang Jeorin. Namun satu yang penting Jeorin-ya, jangan buat dirimu menjadi gila hanya karena seorang lelaki.

Dulu ia pernah merasa sangat kosong, sangat lemah, dan tak berguna hanya karena masalah yang ditimbulkan lelaki itu. Jeorin menyesal pernah memiliki perasaan khusus padanya, ataukah masih.

Pada menit ke 15 pukul 10 pagi ini, seorang lelaki memasuki kelasnya dan menatap lurus kearah Jeorin. Jeorin menengadahkan pandangannya, wajah malaikat dengan senyum menawan lelaki itu tengah terlihat sangat berantakan. Siapa yang mengira Luhan akan baik-baik saja setelah mengalami kejadian seperti tadi pagi.

Rambutnya terlihat berantakan tak tersisir rapi seperti biasanya, kancing dua teratas sudah tanggal dan keringat yang keluar dari pelipis Luhan, “Apa kau barusaja berlatih?”

Luhan mengangguk menanggapinya, ia selalu berlatih menari ketika sedang dalam mood yang buruk maupun sedang sedih. Bagi Luhan ia dapat merasa lebih baik ketika melatih gerakannya dan mengeluarkan seluruh emosi kedalam tarian yang ia bawakan.

“Ayo keluar.” Ajak Luhan.

“Aku sedang malas keluar Lu.” Jeorin mengerucutkan bibirnya membuat Luhan terkekeh. Luhan mengusap puncak kepala Jeorin pelan.

“Ayolah nona Kang, apakah kau benar Jeorin yang ku kenal, huh? Kenapa kau bisa menjadi manja seperti ini eoh?”

Jeorin menunduk malu namun dua detik berikutnya ia telah berdiri dan menggenggam tangan Luhan, setuju untuk berjalan keluar.

Udara awal musim semi menyapa keduanya ketika berada di taman belakang sekolah. Berjalan di sebuah jalan setapak yang akan menuntun mereka menuju sebuah pohon oak dan kursi panjang yang terdapat dibawahnya. Entah bagaimana harus mengekspresikannya, yang terpenting adalah Jeorin menyukai suasana seperti ini.

Semilir angin menerbangkan beberapa helai rambutnya, Luhan bertindak cepat dengan merapikannya kebelakang telinga Jeorin.

“Sudah kubilang ini akan jauh lebih baik daripada berdiam diri di dalam kelas.”

Jeorin mengangguk lalu tersenyum samar, ia menoleh kearah Luhan. Satu teguk— sebenarnya Jeorin ingin mengetahui bagaimana perasaan Luhan setelah kejadian tadi pagi, namun ia terlalu takut.

Berdebat dengan pikirannya sediri, haruskah ia—, “Lu.” Akhirnya keluar juga suaranya.

“Ne?”

“A-aku ingin bertanya sesuatu, eung.. bagaimana harus ku mulai—“

“Gwenchana.” Jawab Luhan cepat.

“Mwo?”

“Aku baik-baik saja Jeorin-ya, aku bisa menebak pertanyaanmu sejak awal kau memandangku.” Luhan tertawa pelan, suara renyahnya saat tertawa adalah hiburan tersendiri bagi Jeorin. “Kau sendiri bagaimana? Bagaimana perasaanmu ketika harus kembali melihatnya?”

Jeorin menghembuskan napasnya pelan, “Aku tahu aku tak bisa lagi menghindar, semakin aku menghindar semakin pula takdir memaksa untuk mempertemukan kami, entah bagaimana itu caranya.”

“Meskipun hal itu akan menyakitimu?”

“Ya, meskipun luka lama itu akan kembali perih. Gwencaha Lu.” Jeorin memaksakan senyumnya ditengah air mata yang hampir mengalir keluar.

“Ya..” Luhan mencubit-cubit pipi Jeorin gemas, tak tahan akan suasana yang tengah terjadi. Ia disini untuk menghibur Jeorin, bukan malah membuatnya sedih. Jeorin sendiri malah pasrah pipinya menjadi korban bully Luhan. Tak beberapa lama kemudian hingga akhirnya Jeorin membalas Luhan dan keduanya tertawa terpingkal-pingkal.

#puk!

Sebuah kaleng minuman masuk kedalam tempat sampah yang terdapat disebelah Luhan, sontak keduanya menoleh kearah orang yang melempar kaleng tersebut.

“Aahh.. ternyata kemampuan basketku masih sangat bagus. Kalian lihat tadi? Aku bahkan bisa memasukkan kaleng tadi ke dalam tong sampah yang jaraknya hampir lima meter.” Ia berbicara kepada kedua temannya, sedangkan yang diajak bicara hanya diam bergeming.

Menyadari siapa yang datang, Jeorin dan Luhan segera memasang wajah datar keduanya.

“Oh, Luhan-ah sejak kapan kau disini? Aku baru saja menyadari keberadaanmu.” Ujarnya kepada Luhan yang Luhan tanggapi dengan death glare andalannya.

Merasa namanya disebut Luhan tersenyum kecut, rasanya aneh sekali mendengar namanya harus keluar dari bibir seorang Kai. Luhan menggenggam tangan Jeorin bermaksud mengajaknya pergi namun secara tiba-tiba Kai menghalangi langkahnya.

“Ya, Luhan. Aku sedang berbicara padamu.” Ujarnya tak tahu malu.

Demi apapun, Luhan sedang tidak ingin membuat masalah saat ini. “Pergilah.” Ujarnya dingin.

Sehun dan Jin yang berada di belakang Kai pun tak tahu harus berbuat seperti apa. Kai tersenyum menampilkan smirk menjengkelkannya lalu menggaruk belakang kepalanya.

“Aish, yang tadi itu tidak sopan.” Kai hendak menepuk pundak Luhan, namun dengan sigap Luhan menahan tangan Kai yang akan menyentuhnya.

Sontak Sehun dan Jin merasa tegang, mereka sama-sama melangkah kedepan, menghalangi jika keduanya mulai kehilangan control.

Keadaan menjadi sangat awkward dan tak ada salah satu dari mereka yang mencairkan suasana. Kai mulai sadar akan apa yang tengah terjadi dan tertawa bagaikan tak memiliki akal.

“Ahahaha.. ya, ada apa dengan kalian hah?” Kai melirik kearah Sehun dan Jin. “Dan aku kan hanya ingin menyapamu kawan lama.” Melirik kearah Luhan.

Luhan mendecih setelah mendengar panggilan Kai untuknya, ‘kawan lama’, persetan dengan itu.

“O-oh, kau membawa seorang gadis? Siapa dia?”

Mwo? Dia tidak mengingatku?

“Cantik juga,” Kai memperhatikan Jeorin dari atas sampai bawah, “Apakah dia pacarmu, hm?”

Benar-benar tidak mengingatku?

Jeorin dan Luhan bertatapan, apakah ini acting? Bagaimana bisa Kai tidak mengenal Jeorin?

.

.

-TBC-

Hai.. chapter 3 is up!!

Mungkin ada beberapa dari kalian yg gereget, “mana sih Kainya gak muncul2?” nah ini dia tadi udah muncul ehehehe.

I hope you like it guys, really really hope you do. Ada pertanyaan yg mengganjal? Jangan sungkan tulis di kolom komentar yah, dan jgn lupa pula tanggapan tentang chapter ini 😀

Don’t be silent reader please, atau aku gak janji bakalan ngasih password kalau sewaktu2 ada chapter yg aku PROTECT. Hm??

Comment jusseyo~

-morschek96

https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

2 pemikiran pada “PAYBACK [Chapter 3]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s