Xing Boarden [Chapter 2]

xingB - morschek96

Xing Boarden by. morschek96

Dark-Crime, Romance, Mystery || PG-16

Lee Junghwa & Lu Han

Lee Minji, EXO Members and etc.

Credit BabyChanie @ArtZone 

“clearly that nothing done was wrong.“

***

Semua orang menyuruhnya untuk merelakan Minji, tidak mengganggu gadis itu. Kesepakatannya adalah adik tirinya mendapatkan apa yang pantas didapatkannya dan akan keluar dengan pengalaman hidup yang lebih baik. Tapi, Junghwa yang selalu melindungi Minji, tidak melihatnya seperti itu. Orang lain, yang tidak terlalu dekat dengannya, bahkan Eomma mereka sendiri tidak memahami jiwa anak-anak Minji.

Adiknya tentu tidak bisa berbuat apa-apa, tapi gadis itu ketakutan karena dimasukkan ke sebuah akademi yang menakutkan seperti Xing Boarden. Tapi bukankah semua gadis berusia tujuh belas tahun akan merasa begitu?

Didalam mimpinya Junghwa merasa pengelihatannya kabur, warna-warna memudar. Sakit kepala berdentum di belakang kelopak matanya.

Junghwa mengerjapkan mata, ia berada di rumah. Di rumah dimana ia tinggal bersama kedua orang tua dan adiknya dulu— benar kan? Ia berjalan ke ruang kerja appanya.

Pintu bergaya Prancis terbuka sedikit demi sedikit. Angin masuk melalui celah jendela, membuat gorden berwarna putih itu berkibar. Bergerak seperti seorang penari, dengan lembut menyapu lantai kayu. Hingga dapat Junghwa lihat bahwa ujung kain gorden tersebut berubah warna karena menyentuh genangan darah pekat yang bersimbah di lantai.

Jantung Junghwa berdegup ketakutan.

Ia merasakan pisau diujung jari kakinya, melihat darah yang keluar dari tubuh— sang ayah.

Apa yang terjadi?

Mimpi itu lagi.

Mimpi mengerikan yang telah ia alami berulang-ulang dalam tidurnya. Itu adalah pengalaman terburuk Junghwa, menemukan mayat sang ayah yang tergeletak di lantai ruang kerjanya. Di rumah lama mereka di Busan.

..

..

..

“Jadi kau tertekan karena masalah Minji? Bukan karena pria?”

“Tentu saja bukan.” Ujarnya cepat pada Wendy, sahabat baiknya sejak memasuki bangku kuliah.

Wendy terkekeh, “Yang kudengar, dia menyelesaikan pelatihan dan diangkat menjadi seorang deputi.”

“Dia? M-maksudmu Lu—“

“Iya Luhan. Siapa lagi.”

“Mwoya? Luhan? Luhan menjadi seorang polisi?”

“Itu yang kudengar, eung— aku juga tidak terlalu yakin. Aku kehilangan kontaknya setelah kita lulus. Atau bisa kutanyakan Sunggyu oppa kalau kau tertarik.”

“Tidak.” Ujar Junghwa cepat. “Jadi, tentang adikku. Bagaimana pendapatmu tentang Xing Boarden? Sebuah akademi yang terlalu asing ditelingaku. Sebelum adanya sakandal Jung Eunji, tak ada seorang pun yang menyebut sekolah itu.”

“Kukira mereka punya alasan tersendiri. Tempat itu adalah sekolah untuk anak-anak nakal seumuran Minji. Bayangkan saja ada ratusan Minji, bahkan yang mempunyai masalah lebih parah tinggal bersama-sama disana. Kurasa pihak akademi tidak bisa memberi tahu letak dan jati diri mereka secara umum kepada dunia. Untuk alasan pertahanan dan lain-lain.”

Semua akan baik-baik saja. Ucap Junghwa pada dirinya sendiri.

.

.

***

Disisi lain. Minji sedang berdiri berhadapan dengan Yuju di wastafel kamar mandi mereka. Minji yang sedang mencuci mukanya pun harus menghentikan kegiatannya sejenak setelah mendengar pernyataan dari gadis tinggi disebelahnya ini.

“Apa maksudmu dengan mikrofon dan kamera?”

“Di alat penyembur air yang dipasang di langit-langit. Setiap lorong memiliki setidaknya tiga atau empat alat itu.” Bisik Yuju sepelan mungkin. Yang dimaksud Yuju adalah alat yang secara otomatis akan mengeluarkan air jika terjadi kebakaran.

“Siapa yang menonton?” tanya Minji.

Yuju mengengkat bahunya, “Entahlah, Kepala sekolah? Staf? Petugas keamanan? Satpam? Seorang pria hidung belang?” tatapan gadis itu meremeh seolah mengetahui sesuatu.

Minji mencoba menggali lebih, “Jadi kita selalu dimata-matai?”

“Tidak, tidak selalu. Ada beberapa tempat yang tidak diawasi.”

“Dan kau tahu dimana saja?” Duga Minji cepat.

“Oh, ya.” Yuju mengangguk mantap, merasa bangga kepada diri sendiri. “Tapi kau tetap harus berhati-hati. Oleh karena itu sangatlah sulit untuk punya seorang pacar.”

“Kau punya pacar? Disini?” Minji tercengang. Ternyata dewi cinta masih sudi melangkahkan kakinya ke tempat ini.

Yuju tersenyum malu, lalu mengangguk pelan.

“Jadi siapa pria itu?” Tanya Minji lagi.

“Tebak.”

“Aku tidak akan menebak, aku belum kenal siapapun.” Jawab Minji cepat.

“Sshh.. akan kuceritakan tapi jangan sekarang. Dan kau tahu apa lagi yang lebih baik dari ini—“ Yuju mengeluarkan benda bersegi panjang kecil dari dalam sakunya, yang Minji yakin itu adalah sebuah ponsel bermerk LG.

“M-mwoya? Dari mana kau dapat ini?” meskipun tak sebagus dan secanggih iPhonenya dulu, namun barang ini menjadi sangat berarti dalam situasi seperti ini.

“Kau hanya harus sedikit menjadi anak baik, dan diam-diam sedikit bermain dengan peraturan.”

Minji menyunggingkan bibirnya. Ternyata anak sepolos Yuju dengan hobi mengelus kalung salib tidaklah sepenurut yang ia bayangkan. “Itulah masalahnya, aku tidak bisa menjadi anak baik. Kutanya sekali lagi, darimana kau dapat ini?”

“Dari kekasihku. Dia dapat dari pasar gelap.”

“Pasar gelap? Di sekolah ini ada pasar gelap?”

“Ya, dan hanya sebagian orang saja yang tahu.”

Minji menyalakan air keran, sedikit membasuh tangannya. “Siapa pelakunya?”

“Beberapa anak TA yang membelot. Mereka diberi kepercayaan untuk keluar masuk akademi dengan bebas saat hari belanja tiba. Mereka di kirim ke kota dengan beberapa staf untuk membeli beberapa keperluan sekolah, makanan, air, dan lain-lain— termasuk barang ini.” Yuju mengangkat ponselnya bangga. “Kau boleh pinjam jika kau mau.”

“Bolehkah?” ujar Minji senang.

“Ya.” Yuju memberikannya kepada Minji. “Dan satu lagi, kudengar dari pacarku jika ada sebuah perkumpulan aneh di sekolah ini. Semacam perkumpulan pemujaan.”

“Apa maksudmu? Pemujaan seperti roh? Meminum darah anggota sendiri?” Minji mulai kaget. Hanya orang gila yang mau berlama-lama tinggal di tempat ini.

“Entahlah, hanya itu yang ku tahu.” Yuju berlalu keluar dari kamar mandi menuju tempat tidurnya.

***

Di dalam rumah Junghwa melepaskan jacketnya yang basah karena hujan diluar, lalu menyalakan mesin penghangat ruangan. Melihat ke sekitar dan menemukan cahaya merah keluar dari telepon rumahnya, satu voice note masuk.

Dilayar terpampang nomor asing tanpa nama, Junghwa memencet tombol untuk mendengarkan pesan.

Eonni..” suara Minji berbisik dan serak seperti rekaman. Junghwa membeku, memandangi mesin penjawab. “Kau disana? Eonni jika kau menerima pesan ini kau harus mengeluarkanku dari sini. Ku mohon.. tempat ini mengerikan. Tapi kau tidak boleh menelpon, aku juga seharusnya tidak menelpon. Tapi tolong keluarkan aku dari si—“

Suara Minji terputus, dan voice notenya berhenti sampai disitu. Jantung Junghwa berdegup kencang saat mendengar suara Minji yang pelan dan ketakutan.

***

Junghwa menelpon Wendy, meminta bantuan kepada kakak gadis itu untuk berusaha melacak nomor karena pekerjaannya yang berkaitan dengan hal ini. Mereka telah mencoba beberapa cara, tidak ada yang berhasil. Tempat Xing Boarden sudah seperti gedung istana Negara keresidenan, sangat sulit untuk dilacak.

Hampir jam sepuluh malam ketika Junghwa menelpon Ibunya.

“Sungguh Junghwa, apa yang kau harapkan? Tentu saja adikmu menelponmu, karena dia kira bisa meyakinkanmu. Kepala sekolah Son Kwanghee memberitahuku kalau ini akan terjadi, itu biasa saja.”

“Ini tidak biasa eomma.”

“Tenanglah, dia hanya bisa menyalahkan diri sendiri karena berada disana.”

Junghwa merasa kesal dan secara sepihak memutuskan sambungan telepon. Dengan cepat ia menyalakan laptop. Mengetik di google dengan cepat “Deputi Lu Han”. Sejak bertemu dengan Wendy dan Sunggyu beberapa waktu lalu entah mengapa Junghwa jadi sering memikirkan lelaki itu. Ia tahu bahwa ini adalah hal bodoh, tapi Junghwa tak bisa menahannya.

“Oh bagus.” Gumamnya melihat lusinan artikel tentang Luhan, foto-foto juga. Junghwa membaca semua, mencari informasi terbaru, dan mendapati bahwa beberapa tahun lalu Luhan telah diangkat sebagai polisi. Pria itu ditulis sebagai petugas penangkapan, tapi itu sudah beberapa tahun yang lalu.

Ketika ia membuka situs daerah, nama Deputi Lu Han tidak ada, fotonya juga tidak ada. Jadi entah mengapa data lelaki itu disembunyikan sekarang.

***

Angin berhembus menggoyangkan pohon-pohon disekeliling sekolah dan meriakkan permukaan sungai. Hari ini adalah hari pertama mengikuti pelajaran, di bagian depan barisan terdapat ketua kelas, seorang lelaki berwajah urakan dan berpostur tubuh tegap. Kim Kai.

“Oke semua dengarkan,” Guru olah raga memberikan intruksi, yang Minji yakin ia pernah melihat lelaki ini sebelumnya. Luhan, nama yang sedikit familiar di telinganya. “Kalian sudah tahu cara bermain permainan ini kecuali Lee Minji, jadi seseorang harus membantunya selagi aku menilai.” Ujar si guru olahraga berwajah mungil. Luhan berada enam meter didepan Minji, ia menunjuk seorang murid berambut gelap yang tanpa membantah berjalan kearah Minji dan siap membantu gadis itu.

Semua siswa telah bersiap-siap di posisi masing-masing, kecuali Minji dan Baekhyun yang sedang menjelaskan peraturan permainan kepadanya.

“Kurasa aku harus mengucapkan ‘selamat datang’.” Ujar Baekhyun pelan.

“Tidak perlu, aku sudah cukup mendengarnya.”

Baekhyun tertawa remeh, gigi putih rapinya terlihat membuat Minji sedikit kagum. “Baiklah, di permainan ini pertama kau harus stretching dengan menggunakan tali lompat selama tiga puluh kali, lalu ke tahap selanjutnya yaitu lompat jauh di kotak pasir yang berada didepan. Yang terakhir kau harus berlari secepat mungkin ke garis finish, Luhan sanjangnim akan menilai dari berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk menyelesaikan permainan ini.”

“Cukup mudah, dan membosankan.” Minji memutar bola matanya jenuh ketika tak sengaja melihat sekelompok gadis diujung sana yang memperhatikannya dan Baekhyuun dengan tatapan sinis.

Yuju –teman sekamarnya- dan beberapa gadis lain yang ia yakin bernama Sohee dan Minah sedang membicarakan tentangnya. Setelah itu Baekhyun berjalan ke arah teman-temannya yang telah menunggu yakni Chanyeol si lelaki tinggi bertelinga lebar, Kai si ketua kelas dan Kyungsoo yang jauh lebih pendek dari mereka.

Juga melihat seorang lelaki teman sekelasnya yang duduk seorang diri, memainkan notebook dan pulpen di masing-masing tangannya. Ternyata tempat ini juga terdapat anak depresi selain Minji.

Hingga giliran Minji pun dimulai, ia melakukan semua tantangan dengan cukup mudah. Postur tubuh Minji sangat mendukung untuk melakukan olahraga seperti ini. Hingga tak sampai dua menit Minji telah menyelesaikan gilirannya.

Pada jam istirahat semua orang berkumpul di cafetaria, kecuali Minji yang telah kehilangan nafsu makannya tepat ketika ia berada di tempat ini. Minji berjalan ke tepi lapangan, memilih tempat duduk tak jauh dari si lelaki pendiam berada. Dengan ekor matanya Minji dapat melihat tulisan ‘Oh Sehun’ pada name tag lelaki itu.

“Hari pertama yang sulit, hm?”

Minji sedikit kaget mendengar suara lelaki itu berbicara padanya. Minji menyeringai remeh sambil membenahi tali sepatunya, “Kau juga anak baru?”

“Ya, ini bulan ke empatku di tempat ini.” Ujarnya dingin sekali lagi. Oh Sehun dengan tinggi mencapai 184 cm dan kulit pucat, wajah datarnya membuatnya tak mempunyai seorang temanpun di tempat ini. Lagipula ia juga tak pernah berpikir untuk menjalin pertemanan dengan anak-anak nakal itu.

Minji menganggukkan kepalanya mengerti. “Kau tidak ke cafetaria? Kudengar mereka menyediakan korean beef berkualitas tinggi hari ini.” Ia melihat kearah cafetaria dan menemukan Yuju sedang duduk berdua dengan seorang lelaki. Minji rasa bahwa lelaki itu adalah seorang TA, terlihat dari seragam yang lelaki itu kenakan. Dengan name tag bertuliskan ‘Xiumin Kim’.

..

..

..

Setelah jam pelajarannya usai, Luhan berjalan dengan cepat menuju kamar mandi staf. Sedikit membenahi baju dan secepat mungkin mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Ia nenandai tanggal hari ini di calendar ponselnya.

“Sial!” umpatnya kesal. Ini adalah bulan ke empatnya menetap di Xing Boarden. Tebak apa, seorang deputi kepolisian harus ditugaskan menyamar untuk menjadi seorang guru di tempat seperti neraka ini. Setelah meruaknya sakandal Jung Eunji yang menghilang beberapa bulan lalu, Luhan harus ditugaskan untuk menyelidiki tempat seperti apa Xing Boarden ini. Sangat berbahaya, jika saja penyamarannya terbongkar, Luhan harus siap bila ia harus meninggal di tempat ini.

Harus ia akui bahwa tak jarang Luhan menemukan beberapa kejanggalan di sekolah.

Dan— tentang si anak baru di kelasnya. Jika tidak salah, Luhan pernah melihat anak itu, pergi ke sekolah dengan menggunakan seragam Sekang High School, keluar dari pagar rumah Jung— oh tidak, Luhan ingat sekarang. Dia adalah adik Lee Junghwa. Mantan kekasihnya.

Masalah seperti apa yang dihadapi Lee Minji hingga harus dikirim ke tempat seperti ini. Namun ini juga bisa menjadi petaka baginya— bagaimana kalau Minji mengingatnya? Mengenalinya? Dan menanyakan sesuatu yang tidak-tidak padanya. Ia harap itu takkan pernah terjadi.

.

.

-TBC-

Author Note :

# TA : Teaching Aid (istilah untuk seorang siswa pembantu guru dalam mengajar yang telah dipilih karena unggul dalam akademik dll.) kalau kalian udah kuliah pasti ngerti deh.

Annyeong chinguyaa~ chapter 2 is up! Hope u guys like it.

Dan sebenernya di chap ini aku mau ngungkap sedikit-sedikit para pemainnya, tapi masih baru sebagian yang bisa keungkap jadi harap sabar yaa huehehe.. dan kalau ada yg masih bingung, Luhan itu profesinya masih seorang polisi yang sekarang sedang ditugaskan untuk menyelidiki Xing Boarden, jadi dia harus nyamar ngelamar kerja jadi guru disana. Makanya pas Junghwa nyari data-datanya di internet gak ditemukan, soalnya kalau ketahuan Luhan bakal dapet masalah besar.

Thx for reading, jangan lupa kasih komentar juga.

Kunjungi juga Instagram : luhanie_shop

Dan dapatkan kpop stuff favorite kamu. Ada hoodie, t-shirt, jacket, semua fandom. Bisa reqst warna dan nama. Juga berbagai skincare perawatan tubuh biar gak kalah sama eonni-eonni korea.^^

 

Regard.

-morschek96

Iklan

25 thoughts on “Xing Boarden [Chapter 2]

  1. Ping-balik: Xing Boarden [Chapter 3] | A.Ray World

  2. Ping-balik: Xing Boarden [Chapter 4] | A.Ray World

  3. Ping-balik: Xing Boarden [Chapter 5] | A.Ray World

  4. Ping-balik: Xing Boarden [Chapter 6] | A.Ray World

  5. Ping-balik: Xing Boarden [Chapter 6] | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping-balik: Xing Boarden [Chapter 7] – A.Ray's Blog

  7. Ping-balik: Xing Boarden [Chapter 6] – morschek96 | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping-balik: Xing Boarden [Chapter 7] – morschek96 | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping-balik: Xing Boarden [Chapter 8] – A.Ray's Blog

  10. Ping-balik: Xing Boarden [Chapter 3] – A.Ray's Blog

  11. Ping-balik: Xing Boarden [Chapter 8] – morschek96 | EXO FanFiction Indonesia

  12. Ping-balik: Xing Boarden [Chapter 9] – A.Ray's Blog

  13. Ping-balik: Xing Boarden [Chapter 11] – A.Ray's World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s