Explication of Love [Chapter 2]

explication-of-love-morschek96

Explication of Love by. morschek96

Romance – Fluff || General

Kim Kai, Kang Jeorin, Oh Sehun

Others.

cr Poster :  selviakim Poster Channel

PREVIOUS : [Prolog] – [Ch1]

I raise my sail for the long quest. Riding the wind with no rest.

– Black Pearl by. EXO

***

Hari itu sangat cerah, udara terasa hangat dan menyenanagkan. Jeorin sedang berada di tepi sungai Han dengan Sehun yang tengah duduk di sebuah bangku. Itu adalah salah satu tempat favotir Sehun, dan ia bahkan masih ingat benar pembangunan jalan setapak batu yang meliuk-liuk menuju tempat aliran sungai yang dibangun sekitar dua tahun yang lalu itu.

Terkadang Sehun dan Jeorin sering terlihat berada di dekat pagar pembatas sungai, dan secara sembunyi-sembunyi memasang taruhan ‘melontarkan batu yang paling jauh’ yang sebenarnya hal itu dilarang oleh petugas sungai karena dianggap dapat merusak fasilitas sungai dan lain-lain.

Kini kaki Sehun terentang kedepan seraya ia duduk bersandar punggung bangku. Wajahnya melembut— sangat kontras dengan wajah dingin yang biasa Sehun tampilkan. Dia mendongak ke matahari, mata terpejam. Bibirnyra menyunggingkan senyum samar, melengkung ke atas dengan ekspresi penuh kedamaian.

“Kenapa kau hanya berdiri disana dan mengawasiku Jeorin-ya?”

Jeorin terkejut mendengar suara lelaki itu dan ekspresi wajahnya yang tidak berubah sama sekali. “Aku tidak mengawasimu Sehun, aku hanya memandangimu. Kau terlihat sangat bahagia.” Heels sepatu boots Jeorin berbunyi saat ia melangkah mendekati Sehun.

“Kenapa aku tidak harus bahagia? Kau tahu, hampir semua surat kabar di Seoul tengah membicarakan tentang keberhasilan perusahaan appaku dan koleganya yang membangun sebuah resort terbaru di pulau Jejju.”

“Kurasa jiwa bisnis appamu telah menurun kepada anaknya ini.” Sindir Jeorin lembut.

Sehun terkekeh pelan, “Aku jadi tidak sabar untuk cepat-cepat mendapat sarjana dan menggantikan posisi appaku di perusahaan kami. Mengingat aku ini anak tunggal.”

“Hal itu masih cukup jauh Sehuna. Kita bahkan masih duduk di bangku sekolah menengah kelas dua.”

Sehun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, sambil tersenyum receh. “Eung— datanglah ke acara perayaan besok malam. Aku yakin appaku mengundang appamu untuk hadir. Atau kau mau kujemput, hm?”

“Jangan konyol, aku akan datang bersama appaku besok malam. Jadi tidak usah menjemputku untuk mengomel bahwa aku terlalu lama berdandan.”

.

.

***

Keadaan sekolah telah ramai saat Jeorin dan Sehun tiba. Tak jarang semua pasang mata tertuju kepada dua orang yang terlihat serasi itu.

“Sungguh aku sangat iri dengan kedua anak pindahan ini.”

“Namanya Oh Sehun, dan dia sangat tampan.”

Kurang lebih seperti itulah hal-hal yang diucapkan para siswa ketika melihat Jeorin dan Sehun.

Berjalan menaiki tangga dan berbelok di sebuah lorong, Sehun masuk ke kelasnya terlebih dulu sedangkan Jeorin masih harus berjalan lurus lagi untuk tiba di kelasnya.

Jeorin memasuki ruang kelas, dan tanpa ragu berjalan menuju banngkunya dimana Hana telah lebih dulu berada disana.

“Annyeong Jeorin-ya.”

“Annyeong.” Jawab Jeorin sambil menampilkan senyum kecil.

Hana mendengus samar. “Hei, kau tidak perlu terlalu formal kepadaku, kita ini kan teman.”

Teman? Bukan suatu hal yang pernah terbesit di pikiran Jeorin. Satu-satunya orang yang dapat Jeorin percaya hanya Sehun, tidak ada yang lain.

“Aku akan membantumu merasa nyaman dengan kelas ini.” Hana mengarahkan jari telunjuknya ke bangku paling depan. “Lihat, dia adalah Yoon Jinsoo ketua kelas kita sekaligus ketua organisasi di sekolah ini. Dan yang disana itu adalah Park Minah, dan gadis-gadis disekitarnya adalah anggota gangnya. Mereka yang merasa paling cantik disekolah ini, dan sialnya harus berada dikelas yang sama denganku.” Hana memberi sedikit jeda untuk bernapas. “Dan terakhir yang harus kau ingat,” Hana menoleh ke belakang. “Kau lihat empat lelaki yang berada di bangu belakang itu, Chanyeol, Baekhyun, Kyungsoo dan, Kai. Mereka adalah ulzzang di sekolah ini, mereka kaya, tampan, dan pastinya— playboy. Jadi kusarankan kau jangan terlalu dekat dengan anak-anak itu.”

Jeorin tersenyum ke arah Hana. “Terima kasih, yang barusan itu adalah tour guide pertamaku di sekolah ini.”

“Anytime.” Ujar Hana senang. “Jeorin, apa kau sangat dekat dengan lelaki yang selalu bersamamu itu?”

Tak butuh waktu lama, Jeorin langsung mengerti siapa lelaki yang dimaksud. “Sehun?”

“Ya, apa dia kekasihmu? Kau tahu, kalian menjadi pemberitaan hangat di sekolah ini.”

“Tidak, kami dekat karena kami telah mengenal sejak kecil. Wae?”

“Tidak apa-apa hanya penasaran.”

“Benarkah?” Jeorin mencoba memancing.

“Ya tentu saja. Asal kau tahu, aku ini sudah punya kekasih jadi jangan pernah berpikir bahwa aku menyukai Sehan tadi.”

“Namanya Sehun.” Jeorin menginterupsi cepat.

“Terserah. Tapi sebaiknya kau jaga-jaga dengan gadis lain di sekolah ini. Merekaa seperti radar berjalan, selalu tahu keberadaan lelaki tampan.”

Jeorin terkekeh ketika mendengar ‘radar berjalan’ diucapkan di kalimat Hana barusan.

Teman? Akankah Jeorin memiliki satu kali ini?

.

.

***

Balutan gaun biru tua dan tas kecil berwarna senada membalut tubuh Jeorin. Tempat ini nampak ramai dengan wajah-wajah asing yang kebanyakan baru ditemuinya, terkecuali memang orang-orang yang memang telah bekerjasama dengan appanya dalam jangka waktu lama. Perusahaan milik keluarga Jeorin memang tak sebesar perusahaan-perusahaan lain yang hadir di acara ini, perusahaan Tn. Kang hanya mendistribusikan barang-barang elektronik dari Jepang dan Eropa dalam skala besar. Dan mempunyai karyawan tak lebih dari 50 orang.

Namun dalam acara kali ini, semua kolega yang telah membantu dan berkontribusi dalam proyek besar perusahaan Shanqi La milik keluarga besar Oh di pulau Jejju diundang. Kini Oh Jaekwon berdiri diatas panggung, memulai sambutan dan sedikit ceramah kepada pada kolega yang hadir.

“Saya ucapkan terima kasih kepada para kolega yang telah hadir. Acara kali ini saya tujukan untuk perayaan pembangunan Sangqi La resort yang berhasil didirikan di pulau Jejju. Dan atas bantuan kolega semua, promosi kita telah sukses besar. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.”

Begitulah dan para undangan yang datang memberikan tepuk tangan meriah mereka.

Sedangkan Jeorin duduk disalah satu meja bersama appa dan teman-teman kerja appanya yang lain. Keberhasilan proyek ini juga akan menguntungkan perusahaan keluarganya, jadi tak salah jika Jeorin juga merasa senang.

“Sssttt.. sssttt…”

Jeorin merasa geli menggelitik belakang tengkuknya hingga ia berbalik dan menemukan Sehun tengah tersenyum lebar. “Mwo? Apa yang kau lakukan?” Tanya Jeorin.

“Apa kau tidak sadar? Merayumu tentu saja.”

Jawaban asal Sehun sontak membuat Tn. Kang yang sedari tadi menikmati kuenya harus berhenti mengunyah dan memandang lekat kearahnya juga Jeorin.

“A-annyeong Presdir Kang.” Ucap Sehun gugup yang baru menyadari keberadaan appa Jeorin.

“Appa, sepertinya aku akan menemani Sehun sebentar.”

Jeorin berdiri dari kursinya, Sehun membungkuk kilas pada Tn. Kang dan langsung berjalan mengikuti Jeorin.

Mereka tengah berada di out door area , setidaknya disini tidak seramai suasana di dalam tadi dan Jeorin juga merasa lebih nyaman.

“Selamat Sehun-ah.”

“Eeii, apa yang kau katakan? Ini kan hasil kerja keras dari rekan-rekan yang lain juga, tapi terima kasih.” Ucap Sehun kemudian mengeluarkan smartphone dari dalam sakunya, mengangkat benda itu tinggi dan—

#Cekrek

Satu hasil foto mereka berdua.

“Lihatlah, kita sangat serasi bukan?”

Jeorin tersenyum dan menggelengkan kepalanya berkali-kali. Lelaki ini begitu kekanakan, pikirnya.

Selang beberapa waktu hingga Sehun memutuskan untuk masuk kembali ke dalam ruangan karena ayahnya memanggil. Jeorin berjalan ke arah air mancur yang terdapat di taman tersebut, angin malam sedikit membuatnya kedinginan namun tak sampai menggigil.

Tanpa Jeorin sadari seorang lelaki pun berjalan mendekat kearahnya, duduk di salah satu bangku. Menggumam remeh, “Annyeong Kang Jeorin.”

Sontak Jeorin berbalik. Memandang lelaki itu kaget, “Nuguseyo?” ucapnya pelan.

“Ya, sepertinya popularitasku semakin menurun semenjak kau dan teman lelakimu itu pindah ke sekolahku.”

“K-kau satu sekolah denganku dan Sehun?” tanya Jeorin lagi.

Lelaki diseberangnya mendengus samar, “Tak hanya itu, kita ini satu kelas.”

Samar-samar Jeorin mengingat perkataan Hana tadi pagi, dia adalah salah satu ulzzang di sekolah mereka. Namanya Kim Kai. “Ah, maaf. Aku memang sangat sulit untuk mengingat wajah seseorang.”

Sejak tadi Kai hanya sibuk pada dirinya sendiri. Dengan terpaksa ia pun harus mengikuti pesta semacam ini yang sangat dihindarinya. Tn. Kim dengan sangat bangga memperkenalkannya pada kolega-kolega lain, namun Kai yakin hal itu akan bertahan hingga pesta ini selesai. Nyatanya appa Kai tidak pernah peduli dengan anaknya, yang ada dipikirannya hanyalah bisnis.

Hingga Kai menyadari keberadaan seorang gadis, diam-diam melihat kearahnya tanpa ketahuan. Lalu mengikuti gadis itu hingga tiba disini.

“Tidak masalah, kau anak baru di sekolah jadi aku masih bisa memaklumi.” Kai berdiri, berjalan mendekat ke arah Jeorin hingga kini keduanya hanya berjarak kurang dari satu meter. “Enjoy the party, hm?”

Jeorin membuang napas kasar, “Tidak terlalu, aku terlalu canggung untuk acara seperti ini.”

“Ah, aku juga.” Sambil berbicara Kai tak dapat berhenti untuk tak mengamati wajah gadis di depannya ini. Jeorin tidaklah semanis gadis-gadis diluar sana, namun wajah tegas dan tatapan dinginnya malah menjadi magnet tersendiri bagi Kai. “Namaku Kai.” Ia memperkenalkan diri.

“Aku—“

“Eitt, aku sudah tahu namamu. Kau jadi trending topic di sekolah, jadi mana mungkin aku tidak tahu namamu.”

Jeorin tersenyum, benarkah?

Bukankah sangat berlebihan jika murid baru sepertinya juga Sehun menjadi trending topic di sekolah.

.

.

***

Keesokan harinya ketika Jeorin dan Kai bertemu di kelas pun mereka saling menyapa lewat senyum. Meskipun harus Kai yang mulai terlebih dulu, karena Jeorin memang tidak tahu cara bersikap kepada orang yang baru dikenalnya.

Hana yang telah lebih dulu siap untuk pulang pun menunggu Jeorin memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. “Ku dengar pesta perusahaan keluarga Sehun tadi malam sangat meriah, huh? Kau juga diundang.?”

“Ya, aku diundang.” Jawab Jeorin singkat.

“Wah, pasti menyenangkan. Seumur hidupku aku tidak pernah menghadiri acara perusahaan semacam itu. Yaahh, apa yang bisa kuharapkan? Appaku kan seorang dokter.”

Jeorin terkekeh pelan. “Tidak semenarik itu kurasa, menghadiri acara seperti itu hanya membuatku bosan.”

“Benarkah?”

Keduanya berjalan beriringan keluar kelas. Berbalik ke sebuah lorong hingga menuruni tangga. “Hana-ya, aku akan menemui Sehun dulu di kelasnya. Kurasa kau bisa pulang dulu.”

“Baiklah, lagipula supirku sudah menunggu. Annyeong Jeorin-ah.”

Jeorin melambaikan tangannya dan kembali berjalan. Ia berhenti ketika menemukan ruangan 2-09. Keadaan kelas yang cukup sepi, hanya ada beberapa siswa yang masih berada didalam karena memang sudah jam pulang sekolah.

“Sehun-ah.” Ucap Jeorin pelan saat menemukan Sehun yang sedang duduk di bangkunya bersama seorang perempuan— tunggu— perempuan?

“Oh, Jeorin.” Sehun berdiri dan berjalan mendekati Jeorin dengan wajah bersalah. “Maaf Jeorin-ya kurasa hari ini aku tidak bisa pulang bersamamu karena aku masih harus mengerjakan tugas dengan temanku.”

Jeorin melihat kearah belakang Sehun, seorang gadis menatap tajam kearahnya. “A-aniyo, tidak apa-apa aku bisa pulang sendiri.”

“Ada masalah Hunnie?” gadis tadi berjalan kearah mereka berdua. Tapi apa dia bilang tadi? ‘hunnie?’ Apakah itu nama panggilan sayang atau semacamnya? Mati-matian Jeorin menahan untuk berteriak.

“Tidak apa-apa Soo In-ah, aku lupa bilang kepada Jeorin jika kita harus mengerjakan tugas setelah pulang sekolah.” Jelasnya. “Oh, atau jika mau ku panggilkan taksi Jeo—?” ucap Sehun lagi.

“Tidak perlu Sehun-ah, aku bisa sendiri. Aku pulang dulu, anyyeong.”

Jeorin berbalik dan memutuskan untuk sesegera mungkin menjauh dari tempat itu.

Tidak biasanya Sehun sangat akrab dengan orang lain, karena selama ini hanya Jeorinlah yang dekat dengannya. Tapi tak heran juga, gadis yang bernama Soo In tadi memang cantik, bermata bulat dan hidungnya sangat mancung. Gayanya sangat feminim dan manis, tipe-tipe pacar idaman para lelaki.

Sedangkan lihatlah Jeorin, hanya bedak, lipbalm, dan mascara yang ia kenakan sehari-hari. Tidak ada yang lain. Sangatlah jauh jika dibandingkan dengan dandanan Soo In tadi.

Jeorin keluar dari pintu gerbang hendak mencari taksi, namun sejak sepuluh menit yang lalu tidak ada satu taksi pun yang lewat. Merasa kesal, Jeorin menendang kaleng kosong yang tergeletak di jalan.

“Kau baik-baik saja nona Kang?” sebuah mobil berhenti tepat di sebelahnya, membuat Jeorin berdigik kaget.

Jeorin menebak-nebak siapa yang sengaja melakukan ini padanya. Dan ketika kaca mobil itu dibuka— “Ya, Kim Kai! Kau mencoba membunuhku?”

.

.

-TBC-

Chapter 2 is up! Hope you like it guys.

Maaf ya kalau di chap ini ceritanya ngebosenin, karena emang belum masuk ke konfliknya. Ini aja Kai-Jeorin masih proses dekat kan..? jadi harap sabar ya chinguya~

Don’t forget to leave your comment. I’ll appreciate it.

Regard.

-morschek96

https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

9 thoughts on “Explication of Love [Chapter 2]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s