Payback [Chapter 1]

paybc3

Payback by. morschek96

School life || Sad-Romance || Friendship

Teen/General

Maincast :

Kim Jong In, Kang Jeorin (OC), Lu Han

Add Cast : Oh Sehun (EXO), Kim Seok Jin (BTS), Lee Nara (OC),

and Others

credit poster by blaxxjae @ IFA

PREVIOUS : [TEASER]

‘first step to forever’

***


[Chapter 1]

Mungkin, karena suasananya yang begitu sesuai, Jeorin tak terlalu memperhatikan hujan. Air hujan jatuh dalam lapisan-lapisan keperakan yang bergegas turun ke tanah yang mengeras menjelang musim dingin. Ia berdiri tepat di sebelah makam.

Seorang lelaki mendekat untuk membenarkan payung hitam yang tengah ia pegang, berbisik di telinga Jeorin di tengah derai hujan. “Kau tak apa?”

“Aku baik-baik saja Lu.”

Tak ada karangan bunga, sangatlah sulit menemukan bunga mengingat ini masih periode akhir musim salju. Tiba-tiba Jeorin melirik sekeliling pemakaman, mencari sesuatu, apa saja, yang mungkin bisa ia tinggalkan.

Ia membungkuk, meraih kerikil yang tergeletak di genangan air hujan di atas rumput. Memegangnya dengan telapak tangan terbuka ke curajan air hujan hingga kerikil itu tercuci bersih. Jeorin membungkuk dan menaruh kerikil tersebut dalam deretan yang rapi.

Kerikil tidak secantik atau secerah bunga yang akan ia bawa saat musim panas, namun hanya ini yang dapat ia berikan untuk sekarang.

“Eomma, baik-baik disana.” Gumamnya lembut.

“Jangan khawatir eommonim, aku akan menjaga Jeorin.” Luhan yang berada disampingnya ikut berdialek.

Dua tahun sudah nyonya Kang selaku Ibu Jerin meninggal, tepat di hari ulang tahunnya ini Jeorin memutuskan untuk mengunjungi makam Ibunya.

Luhan melihat duka pada lingkaran hitam dibawah mata Jeorin. Nyeri menikam hatinya yang mati rasa dan menetap di suatu tempat di bagian terdalam perasaannya. Luhan bersungguh-sungguh, ia akan terus menjagamu Jeorin-ah.

Luhan memberi isyarat agar segera pergi mengingat hari sudah petang. Pukul 17.44 KST dan mereka akan tiba dirumah 30 menit dari sekarang. Luhan meraih tangan Jeorin dan tak dapat Jeorin sangkal bahwa ia merasakan gelombang kelegaan saat jemarinya yang rapuh digenggam hangat oleh Luhan.

“Rambutmu basah.” Ujar Luhan seraya mengelus puncak kepala Jeorin pelan, membersihkan dari percikan air. “Kau sudah mendapatkan keinginanmu princess, tidakkah kau ingin sesuatu yang lebih menyenangkan di hari ulang tahunmu?”

“Aku tidak tahu apa yang kau sebut ‘menyenangkan’ Lu. Bagiku mengunjungi makam eommaku sangat menyenangkan, aku— merindukannya.” Air muka Jeorin berubah sendu, namun detik berikutnya pipinya malah bersemu merah. Luhan— barusaja mengecup pipi kanannya.

“Makan malam bersamaku.” Ujar Luhan singkat.

.

***

Mr. Jang si penjaga perpustakaan memiliki beberapa buku berisi teks Prancis kuno yang akan mereka butuhkan pada pelajaran Bahasa Asing. Dalam satu kelas mereka akan dibagi menjadi beberapa kelompok dan para siswa dibebaskan untuk memilih anggota.

Tanpa butuh waktu lama Jeorin telah menyelesaikan bagiannya dan berdiri di rak buku yang paling dekat dengan jendela.

“Jeorin-ah, kau tidak mau menunggu kami? Bagianku dan Luhan masih banyak.” Ujar Nara dari tempat ia duduk.

“Aku akan menunggu kalian disini.” Jawab Jeorin singkat. “Dan jangan berisik nona Lee, ini perpustakaan.”

Luhan yang melihat kedua gadis itu beradu argumen hanya bisa tersenyum pelan. Jeorin— telah memenangkan hatinya. Jangan tanyakan mengapa, terlalu banyak bagi Luhan untuk mendiskripsikannya.

Setelah beberapa waktu hanya menatap keluar jendela dengan mengamati pepohonan yang mulai tumbuh mengingat musim semi sudah dekat, akhirnya Luhan dan Nara menyelesaikan bagian mereka.

“Akan kubawa dan kuberikan kepada guru Bahasa Asing lusa depan.” Ujar Luhan.

Jeorin dan Nara memakai mantel dalam diam, mengingat teguran penjaga perpustakaan beberapa saat yang lalu karena mereka terlalu berisik.

Mereka keluar dari perpustakaan dan disambut dengan semilir angin yang dingin dan membuat bulu kuduk siapapun akan berdiri.

“Tidakkah kau pikir ini terlalu lama, kawan?” suara seseorang dari belakang mereka sontak menjadi pusat perhatian ketiganya. Jam pelajaran telah selesai 20 menit yang lalu dan Luhan rasa ia benar-benar sudah terlambat.

“Aku barusaja ingin ke tempat latihan Lay, ayolah jangan terlalu berlebihan.” Luhan melirik ke arah Jeorin seolah mengatakan ‘aku harus pergi dulu’. Dan Jeorin hanya bisa mengangguk lalu berjalan pulang beriringan dengan Nara.

Mereka berjalan tanpa adanya percakapan. Dalam kebisuan, Jeorin memusatkan perhatian ke langit, warna biru dan putih yang sambung-menyambung tak ada habisnya. Ia mencoba untuk tidak memikirkan Luhan yang akan dimarahi oleh ketua club dance tadi. Lay, atau siapapun itu namanya.

“Dia harus berusaha keras jika ingin menjadi seperti yang ia impikan.” Nara bergumam pelan sambil mengamati ujung sepatunya.

Jeorin mengangguk pelan mengartikan tanda setuju. Selama ini Luhan bercita-cita untuk menjadi seorang bintang, ia mengikuti les private vocal dan mengikuti club dance di sekolah. Tak ada yang salah dengan itu, dan Jeorin mendukungnya.

“Kau akan naik bus lagi?” Nara mengangkat sebelah alisnya.

“Ne, wae?”

“Aku tak pernah habis pikir denganmu. Kau memiliki mobil dan supir yang akan mengantarmu kemana saja dan kau malah menggunakan bus umum sebagai alat transport. Aigoo..”

Jeorin terkekeh pelan sambil merangkul pundak sahabatnya. “Aku hanya melakukan apa yang ingin ku lakukan.”

“Se-sebelum itu, ayo temani aku makan patbingsu di café sebelah sekolah kita Jeorin-ah.”

Mereka berjalan beriringan keluar sekolah. Sesekali tertawa karena guyonan masing-masing. Hingga secara sengaja Nara menghentikan langkahnya. Ia menatap lurus kearah seseorang.

“Dulu— mereka berempat sangat akrab.”

“Mereka berempat? Siapa?”

Nara menunjuk dengan dagunya, di tempat parkir terdapat Sehun dan Seokjin yang biasa dipanggil Jin tengah duduk bersandar mobil masing-masing. Mereka tengah berbicang dan sesekali tertawa bersama. “Sehun, Jin, Luhan, dan— Kai.”

Tak ia sadari raut wajah Jeorin seketika berubah datar ketika mendengar nama itu. Oh, salahkan Jeorin sendiri yang bertanya, toh tanpa bertanya pun ia sudah tahu jawabannya adalah mereka berempat.

Adalah sebuah misteri mengapa Luhan memutuskan untuk tidak lagi bergaul bersama mereka, dan mengapa Kai memutuskan untuk melanjutkan SMAnya di Belanda.

Yang tersisa hanya Sehun dan Jin yang masih saling menempel. Sesekali Jeorin dapat menangkap raut wajah Luhan yang seolah merindukan kebersamaan dengan teman-temannya, bagaimana tatapan sendu dan senyum tipis itu menghiasi wajah malaikat Luhan, adalah keindahan tersendiri yang dapat Jeorin saksikan.

Dan seperti biasa, Jeorin tak ingin mengatakan langsung kepada Luhan bahwasanya ia melihat tatapan itu layaknya SOS yang dikirimkan kepadanya. Ia hanya dapat menggumam singkat— di dalam hati. Kang Jeorin tidak seberani itu asal kau tahu.

Membuka pintu kaca café tersebut lalu disusul dengan bunyi lonceng kecil selanjutnya.

“Dua patbingsu berukuran besar.” Ujar Nara kepada si penjaga kasir.

Mereka duduk di meja yang paling dekat dengan jendela. Mengamati para pedesterian berlalu-lalang dengan menggunakan mantel adalah hal langka yang hanya dapat dilihat pada musim dingin. Mengingat musim dingin kali ini akan segera usai.

*ddrrrrtttt*

Jeorin merogoh saku mantelnya dan mendapatkan ponselnya dalam keadaan satu pesan masuk.

From : XiaoLu

“Apakah kau sudah berada di bus?”

Jeorin tersenyum samar, ia membalas.

From : Jeolin

“Anii.. aku sedang berada di café dengan Nara, aku akan menunggu bus selanjutnya saja.”

Tak beberapa lama kemudian pesanan mereka telah datang. Patbingsu berukuran besar dengan es krim yang meleleh diatas buah-buahan dan jelly.

“Apakah kau juga menyukainya?” Nara menatap intens kearah Jeorin. Apa maksud gadis ini? Kenapa bisa tiba-tiba serius dan mengintimidasi seperti ini.

“Siapa?” Jeorin menjawab dengan mata bulat yang ia buka lebar menjadi semakin bulat, mengalahkan Kyungsoo si ketua club paduan suara.

“Siapa lagi kau kira? Luhan.” Ucap Nara to the point.

“A-aku.. mola-yo.. entahlah.”

“Apa kau tahu jika Luhan sangat menyukaimu— ah ani, mencintaimu kurasa.”

“Aku tahu.”

#pukk!

Nara memukul kepala Jeorin dengan brosur bekas yang ia temukan tergeletak di meja. “Kau tahu tapi sikapmu masih saja seperti ini kepada Luhan, huh? Apa kau gila..!”

“Yaa..! kenapa tiba-tiba memarahiku?” Jeorin menekuk wajahnya.

“Setidaknya cobalah untuk mmbalas perasaannya, kau ini benar-benar jahat kalau terus-terusan seperti ini.”

Mwo?

Aku jahat?

Lalu apa sebutan bagi orang-orang yang malah menyalagunakan kata ‘cinta’. Membagi cinta itu tak hanya dengan satu orang, apa sebutan bagi orang-orang seperti itu? Brengsek?

Jeorin semakin diam dan ia menunduk dalam. “Hei.. hei.. aku tidak bermaksud seperti itu Jeorin-ah, saat aku mengejar Chanyeol oppa aku sangat bersyukur saat mengetahui bahwa ia junga menyukaiku. Dan apabila saat itu ia tidak membalas perasaanku, entahlah— mungkin aku akan depresi berkelanjutan.”

“Aniyo, aku juga tahu seperti apa rasanya.” Jeorin mencoba untuk memaksakan senyumnya. “Kurasa kau benar, mungkin aku harus membuka hati untuk Luhan.”

.

***

Hampir pukul empat sore dan bus belum datang, ia tak pernah sesore ini jika akan pulang menggunakan bus. Biasanya akan ada Luhan atau Nara yang akan memberinya tumpangan, dan— salahkan Jeorin sendiri karena telah menolak ajakan Nara untuk pulang bersama.

Jeorin mengencangkan mantelnya ketika angin berhembus lumayan kencang menerpa tubuhnya. Hidung dan telinganya telah memerah dan hanya ada ia sendiri di halte bus ini. Dapat dipastikan setelah sampai di rumah nanti ia akan terkena demam.

Tak beberapa lama hingga ia melihat sebuah bus yang sejalur dengannya telah berhenti tepat di depan halte. Beberapa orang keluar dari pintu depan dan belakang, sedangkan Jeorin berdiri dengan sabar disamping pintu masuk.

Namun ia rasa telah melihat seseorang.

Oh tidak—

Waktu seolah terdiam. Tak ada ruang dalam pikirannya untuk angin disela pepohonan atau orang-orang yang berlalu-lalang dihadapannya. Benar-benar tak ada ruang bagi apapun, kecuali lelaki itu— yang memilin diri menjadi sesuatu hanya merupakan benih perusak akal sehat.

Jeorin rasa lelaki itu tidak menyadari keberadaannya. Tak ada niatan sedikitpun bagi lelaki itu untuk menoleh kearah Jeorin bahkan disaat mereka berpapasan muka.

Jeorin mencoba menjaga waktu tetap tenang. Jika ia biarkan pertahanannya runtuh— hancur sudah tembok kokoh yang telah ia bangun selama ini.

Anggap saja hal ini tidak pernah terjadi.

Tapi— apa yang dilakukan lelaki itu disini? Apakah ia memutuskan untuk kembali pulang ke Korea?

Oh! Persetan dengan pikiranmu Jeorin-ah. Ingat apa yang pernah dilakukan si brengsek itu kepadamu.

 

.

-TBC-

eng.. ing.. eeng..

ini dia cahpter pertama dari FF terbaru PAYBACK. Hope u like it guys..^^ apa masih ada yang bingung dibeberapa part? Tenang aja yaa pasti dijawab di chapter-chapter berikutnya.

Comment jusseyoo… reader EXO-L harus jadi beta-reader yg baik, ok?

NO SIDERS!!

Thx. See you J

-morschek96

Iklan

15 pemikiran pada “Payback [Chapter 1]

  1. Yuni Wu

    masih bingung sebenernya apa yang Jong in lakukan ke Jeorin sampe” Jeorin jadi benci sama Jong In???

    terus kenapa Jong In balik lagi ke Korea?

    oh ya hai thor aku readers baru, aku baca payback teaser di EFI dan langsung kunjungi blog mu, numpang baca ya author hehehe

    Suka

  2. Ping-balik: PAYBACK [Chapter 2] | A.Ray World

  3. Ping-balik: PAYBACK [Chapter 3] | Anita Ray's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s