The Soul [Chapter 8]

the-soul-by-morschek96_1

The Soul by.  morschek96

Horror || Fantacy || Fluff || General

Cast : Oh Sehun, Choi Da Hye , Lu Han

Add Cast : Lay, Kai, Chanyeol, Hana (OC), Others.

Cr. Poster by missfishyjazz @ArtFantasy

Disclaimer : Storyline are belong to morschek96, don’t be plagiator!

Surrender, huh?

***

Matahari sedikit demi sedikit mulai menampakkan wujudnya. Namun kabut tebal sisa semalam masih berada disana, mencoba untuk memaku dimana tempatnya berada. Hingga sempat terbesit dipikirannya untuk tak beranjak barang sedikitpun.

Pagi ini cukup tenang, hal pertama yang ia lakukan adalah melihat keadaan sekitar. Tak ada yang berubah.

Jika saja Sehun tak sempat histeris karena mimpi buruknya dan alih-alih membangunkan mereka semua. Sesegera mungkin mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Pandangan Sehun terasa kosong, seakan tak ada kehidupan yang mengisi tubuh tegapnya. Dengan Dahye yang dengan perasaan ganjal tengah memegangi pinggang pemuda itu. Dahye pun tak dapat menyembunyikan perasaan takutnya lantaran sikap Sehun yang bisa dibilang aneh hari ini.

Dibelakang mereka terdapat Luhan, Kai dan Lay yang juga terdiam dalam pikiran masing-masing.

‘waktunya sudah dekat’

‘jaga Dahye bagaimanapun caranya’

‘kalian harus membantuku’

Seperti itulah kira-kira racauan Sehun ketika pertama ia membuka mata. Semakin menguatkan dugaan mereka semua bahwa misi ini tidaklah semudah itu. Namun sungguh mereka tak mengetahui petunjuk apapun selain dimana hutan terlarang itu berada.

*sreetttt

Sontak mata mereka semua mengarah pada tempat dimana asal suara tersebut. Lay mengarahkan jari telunjuknya didepan bibir, mengisyaratkan untuk tak bersuara barang sedikitpun.

Alalang dan pohon-pohonnya sungguh lebat, hingga terlihat sesuatu sedang bergerak disebelah kiri mereka semua. Dengan ancang-ancang mereka mengeluarkan senjata masing-masing.

“Guugg.. Guugg..!!”

Seekor anjing berbulu putih dengan badan besar keluar dari semak-semak. Bulunya putih bersih dengan mata semerah darah. Melihat itu, Sehun dan yang lain juga menampakkan mata merah mereka. Berusaha membuat anjing ini merasa ciut, alih-alih seperti itu anjing ini malah berlari dan menerjang kearah Luhan. Melihat akan adanya sesuatu yang buruk akan menimpa Luhan, Lay yang berada disebelah Luhan pun dengan sigap menendang anjing itu hingga membuatnya jatuh terguling diatas tanah.

Dan nampaknya tendangan Lay cukup membuat anjing itu terluka. Karena anjing itu terlihat sangat lemah dengan mata sayunya yang masih berwarna merah.

Masih penasaran akhirnya Kai turun dari kudanya dan menuju kearah dimana anjing itu tergeletak. Baru beberapa langkah namun suara dibelakangnya menginterupsi.

“Berhenti Kai.” Ini suara Luhan seraya dirinya berjalan mendekat kearah Kai dan anjing tadi. “Lupin.” Sambungnya.

Luhan mendekat kearah anjing berbulu putih itu dan memeluknya sayang. Semuanya hanya bisa terbengong atas perlakuan Luhan. ‘Lupin’ nama itu terasa tak asing ditelinga Sehun. Itu adalah… anjing Luhan yang hilang setahun lalu.

“Apa yang mereka lakukan padamu?” Luhan berbicara sendu ketika melihat kearah mata merah kelam anjingnya. Seingatnya Lupin memiliki mata abu-abu yang bening dan indah. Namun sekarang—

Ini pasti perlakuan penduduk atau biasa mereka sebut ‘penduduk buangan dari Argos’ yang tinggal tak jauh dari hutan terlarang.

Namun hal yang baik adalah anjingnya itu bisa mengenali Luhan dan kini dapat bertemu kembali dengan majikannya. “Biarkan Lupin ikut bersama kita, dia anjing yang pintar.” Ucapnya pelan.

Tanpa pikir panjang Sehun dan yang lain mengangguk menyetujui.

Dahye menemukan satu hal lagi dari Luhan, dia menyayangi binatang. Diam-diam Dahye tersenyum senang. Namun mengingat perkataan Sehun padanya semalam membuat moodnya kembali buruk. Terjebak dalam keadaan tak mampu menjelaskan perasaannya sendiri. Jika ia bisa, Dahye sangat ingin membalas perkataan Sehun semalam dengan mencakar wajah tempan lelaki itu dengan kuku-kukunya. Namun apa daya dirinya ditakdirkan untuk menjadi yang lebih lemah dari Sehun.

.

.

***

Diluar sedang hujan dengan derasnya mengguyur Argos beserta isinya. Gelap, hanya itu yang dapat Dahye rasakan. Sayup-sayup membatin, kapan ini semua akan berakhir dan kembali seperti semula?

Ia menyenderkan tubuh pada dinding gua yang mereka gunakan untuk berlindung. Disudut sana terlihat Sehun, Lay dan Kai sedang berbicang untuk menyusun strategi, sedangkan Luhan sedang bercengkerama dengan anjingnya yang telah lama hilang. Anjing itu terasa sangat saying dan setia kepada Luhan. Dahye dapat merasakan itu hanya dengan melihatnya.

Dinginnya angin yang masuk melalui pintu gua, merambat melalui udara menyentuh kulit sensitive Dahye, membuat gadis itu harus mengusap-usap kulitnya sendiri agar tidak lebih merinding.

Dahye juga berasumsi, haruskah ia mengatakan kepada Sehun dan yang lain tentang mimpi anehnya? Ia merasa akan lebih baik jika beban ini tak hanya ia sendiri yang memikul.

Tepat. Saat ia ingin berbalik dan menghampiri Sehun, lelaki itu sudah berjalan mendekat kearah Dahye. Mau tak mau Dahye menampakkan senyum kakunya dan hanya dibalas Sehun dengan wajah datarnya seperti biasa.

Tak ada keterkejutan ketika tiba-tiba Sehun langsung memeluknya. Lelaki ini memanglah seperti ini ketika bersama Dahye. Bahkan tak akan pernah bisa Dahye lupakan ciuman pertamanya lantaran bersama lelaki ini.

“Ada yang mengganjal di pikiraanmu, huh?” Sehun membenamkan wajahnya dilekukan leher Dahye.

Dahye hanya bias diam dan membiarkan Sehun pada posisi terbaiknya. “Se— sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Katakan.” Sehun menarik Dahye untuk menuju ke pintu gua. Sembari melihat derasnya guyuran hujan diluar.

Mereka duduk berdampingan dengan tangan kanan Sehun yang masih melingkar possessive di pinggang Dahye. “Aku sempat bermimpi, mimpi yang aneh. Dan kurasa ada kaitan dengan tujuan kita ke hutan terlarang ini.”

“Apa?” Sehun menaikkan sebelah alisnya, tak sabar untuk mendengarkan penjelasan lanjut dari Dahye.

“Kata-katanya aneh Sehun, aku tak bias mencernanya dengan baik.” Dahye membuang napas kasar dan kembali melanjutkan. “ ‘Saat si Flight dan si Wind bertemu. Saat si Wind membawa sekutunya, yang dapat mengembalikan semuanya. Pertempuran itu terjadi. Di sebuah tempat yang paling sacral di Argos. Mereka harus melawan Flight hingga dapat menemukan ‘kubus hitam’. Pertumpahan darah dan pengorbanan. Pengembalian ataukah kehancuran.’ Seperti itu bunyinya.”

Napas Sehun terasa tercekat. Ucapannya kelu diujung lidah. Bagaimana ia bias lupa dengan si ‘Flight’ itu? Ternyata dialah yang akan menjadi lawan mereka nanti. “Kris Wu.” Desis Sehun pelan.

Kris adalah iblis keturunan ‘Flight’, yakni iblis yang dapat terbang dan mempunyai naga besar sebagai pengawalnya. Sesegera mungkin Sehun beranjak dari tempatnya dan memanggil teman-temannya untuk kembali berdiskusi.

Semuanya terasa saling berhubungan. Sehun mengerti seperti apa ini akan berjalan. Flight, Dahye, Kubus hitam.

.

.

Nyatanya hujan tak kunjung reda. Mau tak mau mereka harus berdiam disana sampai esok pagi. Sedikit membuang waktu mengingat tujuan mereka sudah dekat.

Dahye berada di sebelah api unggun, ia memposisikan dirinya senyaman mungkin. Sepertinya semuanya sudah terlelap kecuali dirinya. Ia melihat kearah Luhan yang sedang berbaring dengan Lupin si anjing kesayangan sedang tidur bergelung di kaki majikannya.

Luhan tak banyak bicara seperti Sehun, ia tenang dan baik. Wajahnya yang seperti itu sungguh kontras dengan keadaannya yang sebagai iblis berdarah kelam. Apalagi wajah malaikatnya sangat berbanding terbalik dengan mata semerah darah yang ia miliki.

Berbelok kearah Sehun, lelaki itu menyayanginya. Dahye dapat merasakan itu disetiap sentuhan yang Sehun berikan padanya. Ia merasakan keamanan itu ketika berada didekat Sehun.

Membayangkannya membuat perut Dahye geli, terasa ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan disana. Dahye menyentuh bibirnya, ia merasakan untuk yang kedua kali bagaimana bibir tipis milk Sehun mendarat dibibir ranumnya. Sehun barusaja menciumnya didepan yang lain. Membuat Dahye merasa tidak enak kepada Luhan, namun ia mengubur dugaannya itu diam-diam lantaran Luhan seolah tak peduli dengan apa yang terjadi pada dirinya.

Ia mulai berani untuk menutup mata dan merasakan lumatan-lumatan Sehun pada bibir sensitifnya. Tangannya meremas pakaian Sehun sehingga menaikkan libido Sehun untuk melakukan hal yang lebih seperti lumatan atau gigitan. Namun tak sempat terjadi karena Dahye sudah kehabisan napas.

Membayangkan kembali kejadian itu membuat napas Dahye kembali tercekat. Ia benar-benar sudah gila karena perlakuan Sehun padanya.

.

.

-TBC-

Sumpaah ini akhir-akhirnya ngefluff bangett.. >.< apa perasaan aku aja ya? Heheh

Untuk SIDER saya ingatkan ya, selama ini kan saya tidak pernah mempermaalahkan kalian, tapi makin lama aku ngerasa kayak gak dihargai juga. Aku yakin kalian baca FF ini, tapi apa? Gak ada komentar masuk. Apa sudahnya sih mulis komentar Cuma satu atau dua kata doang??

Jangan sesombong itu untuk memberikan appresiasi ke karya orang lain. Apalagi kita sesame EXO-L

Dan jangan salahkan saya ketika ada chapter-chapter depan yang akan saya PROTECT. Dan hanya reader-reader setia saja yang bisa mendapatkan passwordnya. Saya melakukan ini terpaksa karena mirisnya karya saya. Banyak banget SIDERnya.

Dan untuk yang beralasan “karena tidak tahu caranya komentar di WP”. Ini ada caranya silahkan dilihat : https://thekeikosine.wordpress.com/2015/06/24/how-to-comment/

-morschek96

Iklan

33 thoughts on “The Soul [Chapter 8]

  1. Cerita kamu bagus. Sabar ya kalo di blig kamu banyak siders. Semoga mereka dapat hidayah ya, biar mereka mau komen ff kamu.
    Bileh minta gak kalo momen sehun dahye dibanyakin. Tapi kyknya gk bisa deh. Soalnya mungkin kamu saat ini lebih perhatian kealur ttg hutan terlarang itukan.
    Ditunggu next chapternya

    Suka

  2. Please. Aku selalu gagal komen nih. Udh nulis komen panjang2 selalu gak terkirim. Serius.
    Ff kamu keren kok. Sabar ya kalo banyak siders. Moga mereka dpt hidayah biar mau komen ff kamu ya.

    Suka

  3. Aaa!! Ini nangung aku, aku masih pen baca lagi, tapi gak kerasa udah sampe disini hihi, aku suka sama bahasa yg di pake, suka banget sama rangkain kata katanya, oh boleh gak aku minta akun snsnya, duh aku mau banyak nanya neh, hihi makasih^^ ffnya

    Suka

  4. thor. aku mikirnya dahye bakal jatuh keluhannya lama. trs endingnya sehun merjuangin dahye. tapi ini juga bagus. aku hanya mengeluarkan pendapat kok. hehe

    Suka

  5. Bagus bgt thoor aku baru pernah baxa ff yg alurnya begini,, aku suka bgt jadinya, apa lagi sifat sehun di sini bikin aku penasaran, walopun awalnya kejam tp sehun masih punya perasaan hehehe gitu aja deh thor semangat yaa :*

    Suka

  6. dahye pikirannya malah ke sehun dan ciuman mereka haha ngeres
    tp dahye jangan suka sama luhan deh apalagi sama sehun .
    takutnya dahye cuma dimanfaatin

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s