The Soul [Chapter 5]

the-soul-by-morschek96_1

 The Soul by. morschek96

Horror || Fantacy || Fluff || General

Cast : Oh Sehun, Choi Da Hye , Lu Han

Add Cast : Lay, Kai, Chanyeol, Hana (OC), Others.

Cr. Poster by missfishyjazz @ArtFantasy

Disclaimer : Storyline are belong to morschek96, don’t be plagiator!

 

[that’s your punishment]

***

Amarah terasa dipuncak ubun-ubun Dahye ketika ia melihat Sehun masih memasang smirk menjengkelkannya. Sehun sangat menikmati ketika Dahye hancur, sedih dan yang terpenting adalah terlihat tidak berguna. Tidak ada penjelasan yang masuk akal mengapa Luhan dapat mucul pada memory terkelam Dahye, kematian ayahnya. Ia tahu Sehun sedang bermain-main dengan pikirannya, ingin lebih menghancurkannya. Tapi ini sangat keterlaluan, Dahye tidak bisa menahannya lagi.

Dengan segera Dahye menajamkan pandangannya, ia menatap lurus ke arah Sehun. Ia ayunkan tangannya sekencang mungkin kearah wajah Sehun, terdengar helaan napas Luhan yang terkejut atas apa yang baru Dahye lakukan. Merasa sedikit puas ketika ia melihat darah yang keluar dari sudut bibir lelaki itu, ingin segera melakukan yang lebih. Dahye melangkah mendekat ke arah Sehun yang masih memegangi wajahnya, namun dengan segera Luhan menahan pergerakan gadis tersebut.

“Sehun, kau tidak apa-apa?” terdengar Luhan yang nampak kawatir akan kediaman Sehun untuk beberapa saat. Namun Dahye yakin seratus persen bahwa lelaki itu baik-baik saja, smirk licik Sehun masih dapat Dahye lihat dengan ekor matanya.

Pekikan pertama Dahye keluar ketika dengan tiba-tiba tangan Sehun sudah berada di lehernya dan mencekiknya. Sehun mengencangkan kedua tangannya hingga dapat Dahye rasakan kuku-kuku tajam Sehun yang tengah merobek kulitnya. Dahye sempat kesulitan bernapas hingga tak jarang tersedak salivanya sendiri dan terbatuk.

“Hentikan Sehun!” Dahye mendengar samar suara Luhan, ketika ia membuka matanya dapat ia lihat dengan jelas tatapan murka Sehun pada dirinya. Sehun tak kunjung melepaskan tangannya pada leher Dahye dan dapat gadis itu rasakan kepalanya menjadi sedikit pusing karena tak kunjung mendapat oksigen.

Tak sampai disitu, Sehun mendorong Dahye hingga membentur meja kaca yang berada di ruangan tersebut. Nyeri di pinggangnya semakin menjadi ketika ia sadar bahwa pecahan kaca itu tengah melukai bagian belakang tubuhnya. Beberapa malah menancap di pinggang Dahye, Sehun tersenyum senang melihat itu.

Tangan Sehun telah berada di masing-masing pundak Dahye, menampakkan senyum iblis yang membuat Dahye muak. Lalu mengarahkan gigi-giginya ke leher gadis tersebut. Dahye merasa sakit yang teramat sangat ketika Sehun menggigit lehernya kuat-kuat, dengan sekencangnya Dahye memekik kesakitan.

Sebelum Sehun melakukan hal yang lebih gila lagi, Luhan dan Chanyeol telah menarik tubuh Sehun agar menjauh dari Dahye. Ia yakin ini baru saja permulaan, akan ada saat dimana dirinya akan mengemis nyawa kepada Sehun. Karena ia tahu bahwa Sehun sangat senang ketika melihatnya menderita. Dahye segera berdiri dan memegang lehernya yang ia rasa telah mengeluarkan darah akibat ulah Sehun.

Terasa sebuah lengan tengah menarik Dahye untuk mengikutinya, mereka duduk di sebuah kursi panjang di ruangan tersebut. Masih tak dapat Dahye singkirkan perasaan takut yang menjalari tubuhnya ketika mengingat untuk sekali lagi bagaimana Sehun memperlakukan dirinya beberapa saat yang lalu ia merasa lelah dan hancur, semua hal berharga pada kehidupannya telah hilang entah kemana, dan itu tak lagi penting untuk sekarang. Fakta yang lekaki itu bawa pada situasi saat ini telah membuatnya tersiksa, Sehun bahkan lebih buruk dari iblis.

“Ini akan terasa sedikit sakit, jadi ku mohon bertahanlah.” Suara lelaki disebelahnya membawa Dahye pada dunia semula, sempat Dahye berpikir bahwa lelaki ini mungkin merupakan sosok yang berperan baik di tempat ini. Namun ketika ia melihat tattoo yang berada di lengan kiri pemuda itu, symbol tersebut telah menjelaskan segalanya. Tidak ada orang baik disini.

Rambut pirang lelaki itu dan bagaimana ia menyisir poninya hingga kedepan wajah, dan menutupi sebagian matanya adalah bagaimana ia menyembunyikan bentuk asli dari matanya yang semerah darah. Mungkin, apakah itu tujuannya, Dahye menebak-nebak.

Orang-orang dan dunia seperti ini biasanya hanya ia lihat di film dan fairytale yang ia baca. Ini semua tidak nyata, tidak akan. Namun semua kejadian yang tengah menimpanya telah menjadi tamparan keras akan presepsinya tersebut. Tawa keras Sehun untuk sekali lagi menyita perhatian Dahye, lelaki itu sedang berbicang pelan dengan Luhan dan Chanyeol di sudut sana. Namun tak terlalu jauh dari posisi Dahye.

Dahye merasa sesuatu yang sakit juga perih ketika dengan satu per satu Lay melepaskan pecahan kaca yang berada di pinggangnya. Air mata Dahye turun dengan tiba-tiba.

“Aku telah melakukannya selembut mungkin, tahanlah.” Bisik Lay disela pekerjaannya.

Terasa dingin juga perih ketika Lay mengusapkan obat cair di permukaan kulitnya. Lalu membungkus pinggangnya dengan kasa putih itu berulang-ulang.

“Aku harus berkata bahwa kau beruntung, Sehun hanya melakukan ini padamu. Luka-luka ini takkan memaksaku untuk menggunakan kekuatan penyembuhanku.” Dahye mendengar dengan seksama pengakuan Lay, rasa penasarannya seolah menguap ketika Lay mengatakan kekuatan penyembuhan, apakah ia seorang healer? Semacam mempunyai kekuatan menyembuhkan dengan sentuhan.

Tapi jika ia memiliki kekuatan semacam itu, mengapa ia tidak menggunakannya untuk menyembuhkan Dahye dan malah mengobatinya dengan cara manual seperti ini? Dan dengan peralatan yang menyakitkan ini. Apakah dirinya tidak sepenting itu? Ah, baru Dahye sadari. Ia hanya jiwa tersesat yang dengan sialnya dapat dibawa Sehun ke tempat yang entah apa ini.

Tak ada alasan mengapa Lay harus dengan repot-repot menggunakan kekuatannya untuk gadis tak berguna seperti dirinya. Dahye kembali memperhatikan Sehun, lalu Luhan. Bergantian seperti itu untuk beberapa saat. Namun kembali berakhir di Sehun. Dahye memandang benci, baginya mereka tidak lebih dari monster yang suka bermain-main dengan manusia. Dahye mengepalkan tangannya ketika melihat tatapan mata melankolis penuh dengan drama milik Sehun, luka yang Dahye berikan pada sudut bibirnya pun sudah menghilang.

Perhatian Dahye tertuju pada Lay dan kini dibantu oleh temannya –Hana- untuk mengobati pinggang yang sebelah kiri. Melakukan step-step yang sama seperti sebelumnya. Kemudian menghadap Sehun lagi, dan sialnya Sehun juga tengah menghadap ke arahnya. Kepala Dahye terasa pusing dan matanya menjadi sedikit kabur. Ia menggeleng pelan dan tetap mencoba untuk membuka mata.

Ia menatap ke manic mata Sehun yang semerah darah, dan semuanya menjadi gelap.

Seorang anak lelaki berusia 5, mungkin tidak. Mingkin 6 tahun sedang memeluk sesuatu, ia juga tengah menatap ke arah Dahye dengan matanya yang sayu. Darah mengalir di dinding ruangan itu dengan tiba-tiba, membungkus cat putih tersebut dengan darah merah kelam. Baju yang lelaki itu kenakan telah berlumuran dengan darah, Dahye melihat lelaki itu dengan perlahan mengusap rambut panjang seseorang wanita yang berada didekapannya. Dahye melihat dengan wajah yang penuh dengan ketidak percayaan, bagaimana anak lelaki itu bisa dengan sangat tenang di situasi seperti saat ini.

Tapi apa yang dapat ia simpulkan saat ini adalah, bahwa anak lelaki itu tidaklah normal. Sayap hitam yang berada dipunggungnya pun keluar, memberinya efek yang aneh, lebih seperti gelombang substansi di lautan gelap nan kelam. Dahye mengambil langkah mundur ketika tubuhnya merasa mulai ketakutan, tubuhnya bergetar pelan. Ia yakin, lelaki kecil itu adalah Sehun.

“Maaf eomma aku tak bisa menahannya, tubuhmu terasa begitu menarik.” Sehun berbisik kepada tubuh yang ia dekap. Goresan bibirnya berubah menjadi smirk yang menakutkan, memperlihatkan isi mulutnya yang penuh dengan darah sang ibu. Dia telah meminum darah dan nyawa dari ibunya sendiri.

Dahye menggelengkan kepala, apa yang baru saja berada di pikirannya. Ia menatap Sehun takut-takut, yang juga tatapannya dibalas oleh lelaki itu. Suara Sehun membuat bulu kuduk Dahye berdiri untuk sekali lagi. “Kau berikutnya Dahye.” Ujar Sehun dengan memasang smirk yang sangat Dahye benci. Dahye menelan salivanya dengan susah payah.

“Selesai.” Suara Lay berbenturan dengan helaan napas Hana. Mereka nampak kelelahan dengan mencabuti semua pecahan kaca dan mengobati bagian pinggang Dahye. Mereka nampak sedang membereskan semua peralatan dan memasukkan ke dalam kotak putih yang terletak di atas meja.

Ketika Dahye hendak melihat ke arah Sehun lagi, ternyata ia dan teman-temannya telah keluar dari tempat tersebut. Dapat Dahye lihat bibir Sehun bergumam pelan seperti mengatakan “Black Feather” padanya. Apa maksudnya? Sayap hitam?

Dahye menghembuskan napasnya kasar ketika ia mengingat lelaki kecil yang berada di pikirannya beberapa saat yang lalu. Ingin berteriak guna meluapkan semua perasaan tak berbentuk ini.

“Lain kali jangan pernah kembali mencoba menyerang Sehun, atau aku tak bisa lagi menjamin keselamatanmu.” Kata-kata Lay terdengar dingin namun dapat Dahye rasakan lelaki itu tengah menasehatinya dengan baik-baik saat ini. Dahye mengarahkan pandangannya kepada Lay, sedikit merelaksikan tubuhnya yang terasa tercabik dibagian pinggang belakang.

Apa ia bilang tadi keselamatan? Dahye takkan bisa selamat di tempat terkutuk ini. Sehun telah memperingatkannya, ‘kau selanjutnya Dahye.’ Dan itu sudah lebih dari cukup bahwa ia akan mati ditangan Sehun nanti. Dan ketika ia juga menyadari sebuah tattoo yang bertengger di kaki kanannya, sebuah sayap hitam. Persis seperti yang Sehun katakan tadi. Ia takkan bisa kabur dari tempat ini, ia telah ditandai.

“Dengarkan ucapan Lay, jangan pernah berpikir akan melawan Sehun. Aku berbicara seperti ini bukan sebagai seorang penyembuh, malainkan sebagai seorang teman.” Ucapan Hana terdengar sangat bodoh ditelinga Dahye. Teman?

Tapi bukan berarti ia tidak akan bisa melawan Sehun kan? Tidak sampai ia memiliki kekuatan dan mengetahui apa kelemahan Sehun. Emm… tapi apakah iblis juga bisa mati?

_oOo_

Hari ini Lay dan Hana kembali menemui Dahye yang berada di dalam kamarnya guna mengganti kain kasa dan mengobati luka Dahye pada pinggang yang lehernya.

“Dahye jangan berlagak seperti seorang pahlawan, kau tidak seperti kami— kau tidak bisa menyerang kami secara fisik hanya karena kau mempunyai darah gelap.” Lay berbisik kearah Dahye dan dapat Dahye pastikan hanya mereka berdua yang dapat mendengarnya.

“Aku tidak bisa menyerangnya secara fisik, tapi aku bisa merusak pikirannya, membuatnya begitu emosional dan marah—

BLAMM!!

“Dengar Princess, kau lebih baik diam dan menjadi jiwa yang baik selagi disini. Bahkan aku tidak yakin apa kau akan dapat bertahan lebih lama lagi di tempat ini, apalagi menyerang Sehun? Itu sangat tidak mungkin melihat jiwa lemah dan tak berguna sepertimu dapat melakukannya— jangan kau coba untuk membunuh dirimu sendiri lagi.” Kalimat Lay terdengar sangat tajam dan menusuk. Dahye hanya diam tak bergeming melihat wajah Lay yang telah memerah saat ini pertanda sedang menahan amarah.

“Tidak untuk sekarang, tapi jika kalian mau membantuku— mungkin mengajariku beberapa hal yang dapat ku lakukan—

Terdengar tawa kian bergema masuk ke ruangan itu, membuat Dahye memutuskan tidak melanjutkan kalimatnya. “Babe, kau pikir teman-temanku akan menghianatiku dan memilih untuk berpihak padamu? Sebuah jiwa lemah yang tepat berada di bulu sayap mereka?” shit! Itu suara Sehun.

“Dasar gadis gila, Sehun kau dapat dari mana manusia tak punya akal seperti dia?” ternyata tak hanya Sehun, teman-temannya yang lain ternyata telah mendengar percakapan Dahye dan Lay. Kini giliran Chanyeol yang mencemoh.

Dan Luhan yang terlihat tengah menstabilkan napasnya karena terlalu banyak tertawa. Dahye rasa mereka akan memulai membullynya, menertawainya, dan menyakitinya lagi, dan Dahye sangat benci itu. Dahye membenci Oh Sehun lebih dari semua orang di dunia ini, dan ia akan membuktikan bahwa sebuah jiwa tak berguna sepertinya akan merusak, menyakiti Sehun secara emosional, secara batin. Well let’s see later.

.

-TO BE CONTINUE-

Maap yaa kalo masih pendek atau kurang disana-sini karena jujur bagettt saya lagi sibuk kuliah hueeee 😥

Dan ini aku sempet-sempetin buat ngelanjut nih FF. hargai juga jerih payah author dalam mengarang bebas ini yah (?) alias jangan lupa tinggalkan jejak. bagi SIDER, pasti ada balasan dikemudian hari.

See you…

Iklan

45 pemikiran pada “The Soul [Chapter 5]

  1. Masih bingung eonni itu si sehun sebenarnya bangsa apa ya? Kok ada sayap tapi minum darah? Hadehh ceritanya makin seru dan bikin penasaran bangett!! Ditunggu banget eonni next chapnya kekeke.. ^^

    Suka

  2. Rizka

    Kooo komenan aku gadaaa…
    Aku lupa lagi waktu itu komen apa..
    pokoknya aku masih bingung, sehun sebenarnya tujuannya bawa dahye kedunianya buat apa sih? Kasiah dahye tau gk? luhaan lagi. aaahh.. sudahlaah.. trus mereka itu vampir?

    Suka

  3. Ping-balik: The Soul [Chapter 6] | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping-balik: The Soul [Chapter 7] | EXO FanFiction Indonesia

  5. allea injung lee

    hedeh… aku agak bingung sama alurnya.. tapi tetep ni ff bagus and seru.. truss sehun itu makhluk apaan ya? vampir?..
    next ya keep writing author

    Suka

  6. Ping-balik: The Soul [Chapter 8] | EXO FanFiction Indonesia

  7. yuniel

    Sehun bukan vampir kan? jangan dong. Udah terlalu bosen baca ff ttg vampir. Semoga bukan vampir ya. Eh, dahye berani juga ya nampar sehun. Gak takut sama sehun yg seram. Keren. Keep writing~

    Suka

  8. sabrinadya12

    Sehun vampir??? Aku merinding pas baca yg dia minum darah ibunya, seketika aku kangen ibu aku, takut takut ada vampir di deket ibu aku, ok itu gak jelas!!! Makasih ffnya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s