The Soul [Chapter 4]

the-soul-by-morschek96_1

The Soul by. morschek96

Horror || Fantacy || Fluff || General

Cast : Oh Sehun, Choi Da Hye , Lu Han

Add Cast : Lay, Kai, Chanyeol, Hana (OC), Others.

Cr. Poster by missfishyjazz @ArtFantasy

Disclaimer : Storyline are belong to morschek96, don’t be plagiator!

[playful mind]

***

Dahye sedang membawa se-bouquet bunga yang berwarna-warni. Peruvian lilly dimana sedang mekar dengan sangat cantiknya. Ia menyeimbangkan badan ketika tak memperhatikan jalan hingga hampir saja limbung dan jatuh, ancaman untuk bunga-bunga indah ini.

“Hati-hati dengan bunganya Dahye.” Ia mendengar suara lelaki tengah bergumam ke arahnya.

“Ya appa.” Dahye berjalan ke arah ayahnya yang tengah berdiri dengan pakaian suit biru tua, dasi hitam, dan rambutnya yang disisir rapi. Dapat ia lihat wajah yang nampak lelah itu namun dengan senyuman yang tetap dipaksakan.

Mr. Choi rela bangun dan berangkat pagi untuk menghadiri hari spesial ini. Hari yang spesial untuk mereka sekeluarga. Acara kelulusan untuk puteri sulung mereka, kakak perempuan Dahye, kakak yang akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang university. Yejin.

Mrs. Choi sendiri sedari tadi terlihat sangat bahagia memegang sebuah camera digital, tak ia lewatkan satu mommentpun terlewat. Wanita dewasa dengan gaun peach, rambut ikal bagaikan air terjun. Di saat itu Dahye berani bersumpah bahwa ibunya sangat terlihat muda dari usia sebenarya. Sedikit merasa iri akan itu semua, dimana dirinya hanya mempunyai rambut lurus sepunggung, tinggi badan yang hanya mencapai 164 cm, dan wajah tanpa make up. Dahye sangat tidak memiliki bakat menawan ibunya.

 

Ia mendengar suara sekerumunan remaja dari ujung kiri, dengan tak sabaran Dahye berlari menuju kerumunan itu. Ke arah gadis bermata bulat, terlihat yang paling cantik dan bersemangat diantara semuanya. Yejin.

“Yejin eonni, kemari..!” Dahye berteriak ke arah kakaknya. Dapat ia lihat Yejin menoleh ke arahnya, meminta maaf kepada teman-temannya karena ia akan meninggalkan mereka terlebih dulu. Yejin memberikan senyuman manis kepada Dahye, Dahye sengat merasa senang sekaligus bangga memiliki kakak seperti Yejin. Kedua orang tua mereka juga ikut mendekat, dapat Dahye rasakan ibunya tengah mengambil gambar ketika ia berpelukan dengan Yejin. Ia memberikan bouquet bunga yang sedari tadi ia pegang.

Yejin menerimanya dan memberikan sekali lagi pelukan untuk adiknya. Mr. Choi memberikan sebuah kartu yang berada di dalam dompetnya untuk Yejin. “Selamat nak, ini ambillah untuk hadiahmu.” Pria itu berkata dengan sangat cepat, sepertinya ia telah mempersiapkan kata-kata itu jika saja air mata telah memaksa keluar seperti saat ini. Pertanda haru.

“Appa, tidak perlu. Kartu kreditku yang sebelumnya masih terisi penuh uang kiriman darimu.”

“Oh sayang, kau tumbuh terlalu cepat. Aku harap adikmu si trouble maker ini akan mengikuti jejakmu nantinya.” Mrs. Choi kembali mencairkan suasana dengan membawa Dahye sebagai bahan candaan.

Dengan segera Dahye menekuk bibirnya dan melihat ke arah bawah, mereka semua terkekeh, ia sangat bersyukur memiliki keluarga yang hebat ini. Dahye tidaklah sepintar ayahnya. Tidak secantik ibunya. Dan sangat yakin tidak se-charming dan sepopular Yejin. Dapat ia rasakan Yejin sedang bermain-main dengan rambutnya lalu mengacak puncak kepalanya pelan.

Hingga ia merasa cukup dan menengadahkan pandangannya, ia menatap lurus kearah Yejin. Sebuah teriakan keras keluar dari bibir Dahye.

Ia melihat gadis yang berada dihadapannya memang adalah kakaknya, tapi tidak terlihat sedang hidup melainkan sosok yang ia lihat ketika kakaknya itu meninggal tepat disampingnya. Dengan kepala yang berdarah, bunga-bunga yang ia pegang terjatuh begitu saja ke tanah, tatapan matanya benar-benar kosong, menggantikan iris coklatnya semula.

Tak ada yang terjadi selama beberapa detik hingga dapat Dahye saksikan kini Yejin tengah menginjak-injak bunga yang ia bawakan. Juga dapat ia sadari, saat ini ia sudah tidak lagi berada di sekolah, melainkan berada di pemakaman. Tepat berada di sebelah batu nisan kakaknya, dapat ia rasakan Yejin tengah memandang intens ke arahnya. Dahye ingin menangis, berteriak sekencang yang ia bisa, namun lagi, tubuhnya terasa sangat lemah dan shocked untuk melakukan semua itu.

 

“Kau membunuhku Dahye.” Dahye mendengar suara yang dengan begitu lembut mengalun bersama udara. Namun juga dingin, dan kelam. Dahye ingin untuk setidaknya berucap sepatah kata, namun tidak bisa. Mungkin tahun-tahun yang ia habiskan untuk menyalahkan diri sendiri karena kematian kakaknya, karena perpisahan semua keluarganya adalah sesuatu yang tidak akan pernah terselesaikan. “Ini semua salahmu.”

 

Dahye rasakan air mata dengan setia lolos dari kelopaknya. Suara Yejin terdengar sangat tajam dan menusuk. “Kau pantas untuk merasakan semua penderitaan yang ku alami.”

Dahye terduduk, bertumpu pada tanah. Yejin benar, kakaknya selalu benar. Dahye membenci dirinya sendiri, sangat. Ingin sekali melarikan diri dan melupakan semua kekacauan ini. Namun kehidupan tidak berjalan seperti itu.

Ia mengambil sebuah napas panjang, sembari mengusap air mata. Bersembunyi dengan rapat dalam rasa malu dan bersalah dibalik keteguhan yang ia miliki. Tetapi ketika pandangannya menangkap sesosok yang berdiri dihadapannya, ia yakin bahwa dunia telah dengan sangat kejam mempermainkan dirinya. Sehun juga berada disana, “Selamat datang di nerakamu.”

Semuanya berubah menjadi gelap ketika ia telah menyerah dengan segalanya. Sesuatu telah jatuh menimpa dirinya, terasa berat di bagian kepala. Dapat Dahye rasakan sesuatu bergulir kebawah di bagian wajah, ia tak yakin apakah itu hujan, air mata atau yang lebih buruk… darah.

Itu adalah hal terakhir yang ia rasakan sebelum kepalanya terasa pening. Ia tersadar ke dunia nyata.

Tadi itu terasa aneh, Dahye yakin semua itu tidak secara kebetulan terjadi di kepalanya, atau dipikirannya.

“Apakah kau pikir gadis ini akan bangun sekarang?” Dahye mendengar suara lelaki yang sama sekali tak ia kenal.

“Aku tidak tahu Lay, yang aku tahu hanya bagimana mereka semua memperlakukannya bagaikan mainan, terutama Sehun. Aku ingin membuktikan kepada lelaki itu bahwa dia salah.” Sebuah suara yang lebih feminim menjawab. Dahye merasa jemarinya kian dapat digerakkan. Ia sebisa mungkin untuk mengumpulkan kesadarannya segera.

“Jadi menurutmu aku juga memperlakukanmu seperti mainan?” lelaki yang Dahye asumsikan bernama Lay menjawab. Ya, Dahye rasa ia benar-benar sudah sadar.

Dahye tahu ini adalah ide yang bodoh, tapi ia sama sekali tidak pernah terjebak di situasi seperti ini sebelumnya. Bagaimana ia menjelaskan tentang seseorang yang memiliki kekuatan super bernama Sehun dan teman-temannya yang aneh. Jelas Dahye tengah terjebak di situasi dan saat-saat menjengkelkan ini, well sampai ia menemukan cara yang lebih baik untuk dapat melarikan diri dari tempat apapun namanya ini sekarang.

“Lay, kau tahu aku tidak bermaksud bicara begitu padamu.” Suara gadis itu bergumam, saat itu pula Dahye benar-benar membuka matanya dan dapat melihat siapa yang tengah berada di ruangan itu bersamanya. Orang-orang asing yang tidak menyadari dirinya yang telah sadar dan bangun. Mungkin masih terlalu sibuk dengan perdebatan kecil mereka sendiri, but thanks God for that.

“Hana—“ ucap Lay ketika dia menyadari Dahye tengah berlari melewati pintu. Dahye berlari secepat yang ia bisa, keringat dingin kian membasahi pelipisnya. Ia juga merasakan sesuatu, sebuah kekuatan yang terasa familiar, dan hanya satu orang memiliki kekuatan semacam itu. Sehun juga berada disini.

Dahye melihat kebelakang terdapat dua orang yang ia yakin bernama Lay dan Hana tengah dengan susah payah mengejar dirinya. Beberapa kali tersandung kakinya sendiri namun Dahye tetap berlari, hingga ia menemukan sebuah pintu dan dengan tanpa berpikir panjang ia memasuki ruangan tersebut.

Sebelum memasuki ruangan tersebut Dahye yakin telah melihat Chanyeol memblokir jalan yang berada didepannya, beruntung ia segera melihat pintu ini dan memasukinya. Disana hanya gelap, dingin di tubuhnya semakin menjadi ketika ia terduduk di lantai dengan lemas. Hanya ada cahaya rembulan yang menyusup jendela ruangan itu yang dibiarkan terbuka.

Dahye merasakan sesuatu, hatinya berkata demikian. Ia mengembarakan pandangan, namun agak sulit karena hanya ada kegelapan yang menjawab. Hingga ia melihat sesuatu di sebelah jendela, sebuah gambar beberapa orang. Well tak nampak jelas karena hanya ada cahaya rembulan yang dapat ia andalkan.

Menyipitkan mata guna memperjelas pengelihatan. Diantara orang-orang yang terdapat di gambar itu terdapat wanita yang mengingatkannya terhadap seseorang. Yejin, kakaknya.

Bayangan terasa melewati bagian belakang dari tempatnya berdiri, jantung Dahye mulai kembali berdetak tak beraturan. Ini juga sebuah kesalahan ia memasuki ruangan asing seperti ini, benar saja Dahye dapat melarikan diri dari Lay dan Hana, tapi bagaimana dengan antek-antek yang lain?

Apakah benar tidak ada jalan keluar dari tempat ini? Selang beberapa detik hingga dapat Dahye saksikan lampu-lampu diruangan itu secara beraturan menyala. Ia mengerjapkan mata beberapa kali hingga menemukan dua sosok makhluk disana. Namun ia sedikit terkejut melihat orang yang sedang duduk, memegang gelas berisikan cairan merah yang terlihat seperti wine, namun Dahye tidak tahu apa itu sebenarnya.

“Apakah kamu terlalu senang untuk membuat keonaran, huh?” mendengar suara iblis itu lagi. Dahye melirik ke arah Sehun yang duduk di sebelah lelaki yang memegang gelas.

Namun tak terlalu lama, Dahye kembali memperhatikan lelaki yang satunya. Ia seperti pernah melihat lelaki itu, bukankah itu lelaki yang bersama Sehun ketika ia masih berada di rumah barunya? Ya. Namun ada sesuatu yang lain, yang sulit untuk didispkripsikan. Ia merasa telah mengenal lelaki itu jauh sebelumnya, namun ia bisa saja salah. Mungkin perasaan ini hanya efek dari obat yang Sehun berikan kepadanya. Karena beberapa hari yang lalu Dahye tidak memiliki perasaan seperti ini.

“Lebih lama aku melihatnya, lebih banyak aku melihat kemiripan.” Suara itu berbisik kalut dengan udara, lebih terdengar seperti lullaby yang berbahaya. “Kasih sayang hanya akan membuat kekacauan yang sama Luhan.” Sehun mengambil gelas yang berada di meja kayu, meminumnya setengah with his perfect lip. Dahye melihat setetes liquid itu jatuh meleleh melalui bibir Sehun hingga lelaki itu dengan cepat menangkap dengan lidahnya.

Dahye merasa seluruh napasnya telah berada di batas limit ketika melihat pemandangan tersebut. Mata Sehun tak pernah sedetik pun terlewat untuk memperhatikan Dahye. “Beri tahu aku bagaimana agar aku dapat keluar dari tempat ini sekarang..!!” terdengar konyol. Dahye ingin terlihat kuat tetapi pada kalimatnya barusan ada beberapa kata yang terdengar sedikit bergetar.

“Kau benar, gadis ini sangat keras kepala— bagaimanapun aku tidak yakin kalau dia memiliki semua itu. Bagaimana bisa gadis tidak berguna seperti dia dapat mengembalikan— kau tahu siapa.” Luhan berkata dengan penuh tekanan dan terdengar seperti…sakit.

Dahye melihat kearah Luhan, tak sengaja memperhatikan cincin yang bertengger indah di jari lelaki itu. Ketahuan, Luhan segera memasukkan tangannya ke saku tuxedo yang ia pakai. Siapa Luhan sebenarnya? Mengapa ia terasa begitu familiar? Apakah Dahye pernah mengenal Luhan sebelumnya.

Dahye mengambil satu langkah mundur ketika melihat sebuah gambar, — video, entahlah. Seperti layar proyektor. Gambar pertama adalah seorang lelaki dengan tubuh tergantung, itu ayahnya. Dan disebelahnya terdapat cincin yang seperti dikenakan Luhan.

Tiba-tiba Dahye mendengar seseorang menjerit. Butuh beberapa saat hingga ia menyadari bahwa itu adalah suaranya sendiri. Dapat Dahye rasakan sebuah lengan kekar tengah memeluk pinggangnya dari belakang.

Gambar kedua, mata ayahnya, dan disebelahnya terdapat mata Luhan.

Wajah damai ayahnya, smirk Luhan.

Leher ayahnya yang tercekik,— tangan Luhan.

Ini semua membuat frustasi. Apa maksud dari semua gambar itu? Panitia-panitia, Polisi-polisi, dan surat wasiat ayahnya mengatakan bahwa Mr. Choi bunuh diri karena kematian Yejin, karena dirinya. Pria paruh baya itu terpukul. Dia juga yang menemukan bagaimana ayahnya meninggal. Tapi, Luhan? Apakah Luhan dulu berada disana?

Dadanya terasa sesak hingga air mata untuk sekali lagi memaksa keluar. Ia terisak dengan kencang dan dengan kasar menyingkirkan lengan yang berada di pinggangnya, ia tahu itu adalah Sehun.

Ia ingin segera pergi dari sini, mereka semua hanya mempermainkan pikirannya— mencoba untuk membuatnya gila. Sehun ingin menghancurkannya, dan lelaki itu berhasil.

Dahye ingin, tidak, harus kembali ke rumah.

.

-TO BE CONTINUE-

Iklan

25 pemikiran pada “The Soul [Chapter 4]

  1. amyya3

    Woaahh jadi bingung ku.. Kok sehun suka meluk dahye dari belakang ya… Terus juga kok bisa luhan ma yejin pacaran? Kapan ketemunya ya.. Wah eonni ceritanya makin bikin penasaran.. Ceritanya juga makin tambah seru!! Ditunggu banget eon next chapnya kekeke ^^

    Suka

  2. Ping-balik: The Soul [Chapter 6] | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping-balik: The Soul [Chapter 7] | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping-balik: The Soul [Chapter 8] | EXO FanFiction Indonesia

  5. Aff

    Tujuannya sehun apaan sih?’-‘
    itu yang ngebunuh ayahnya dahye si luhan ya?:3
    dahye ada disana biar jiwanya bisa diambil trus dikasih ke yejin biar hidup lagi/? /oke ini ngawur/
    mending ngelanjutin baca dulu

    Suka

  6. eLa0215

    dahye ya ampun kasian banget sih .
    sebenernya sehun dan antek antek nya mau apa sig dari dahye ?
    dan sepertinya kematian keluarga nya juga bukan garagara dahye tapi emang dibunuh

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s