Pendency Love [Chapter 4/END]

pendency

Tittle : PENDENCY LOVE

Author : morschek96 (Anita Ray)

Genre : School Life, Teen, Romance

Cast :

Kim Jaeri (OC)

Jeon Jungkook (BTS), Kim Taehyung (BTS)

Others.

[we are what they called soulmate. I feel different when I by his side. So close and I just like it.

And finaly, I can forget him, my best friend. The one who steal my heart for the first time.

Kim Taehyung]

***

“M-mwo..??!” tak dapat lagi Jaeri tahan pekikan suaranya.

“Aku serius. Kita bisa pura-pura menjadi sepasang kekasih sampai..

Sampai kau menyadari perasaanmu padaku.”

Apakah perkataan lelaki ini yang terlalu berbelit-belit atau memang otaknya yang bekerja begitu lambat? Ayolah Kim Jaeri.. jangan terlalu lama menyimpulkan sesuatu.

.

.

“Ahahaha.. Apakah kau ini sedang melawak? Hahaha.. a, aku tidak mengerti maksudmu.”

Jungkook terbelak kaget. Apakah perkataannya tak lebih dari sekedar guyonan bagi gadis ini? Oh, apakah ia sadar bahwa ia barusaja ditolak? Well, rasanya iya.

Dan tanpa ba bi bu lagi Jungkook segera melesat pergi dan meninggalkan Jaeri yang masih tertawa bagaikan orang idiot.

***

Hari ini adalah hari dimana tugas dari guru Lee harus dikumpulkan. Begitu juga dengan tugas milik Jungkook dan Jaeri yang baru saja mereka rampungan dua hari yang lalu waktu di rumah Jungkook. Dan artinya, Jaeri tidak akan lagi berurusan dengan Jungkook, tidak akan ada lagi menghabiskan waktu bersama, tidak ada aksi saling menyela dan lain-lain. Apakah Jaeri mulai merindukan kehadiran sosok itu?

Ia tak mau menjawab dengan pasti ya atau tidak. Tetapi hari-harinya lebih membosankan dimana Taehyung sudah tak berada disampingnya, dan kini juga Jungkook yang malah manjahuinya— tunggu, menjauhinya? Jaeri juga baru sadar akan hal itu. Mungkin dimulai sejak ia menertawakan ucapan Jungkook di taman sekolah.

Apakah Jungkook serius akan ucapannya kemarin? Aiishh..! membingungkan sekali.

“Apa kau baik-baik saja hah?” tanya Heera yang sedari tadi hanya diam memperhatikan Jaeri yang menunduk lesu tanpa ada niat untuk menghabiska jusnya. Tak seperti biasanya.

“Menurutmu bagaimana?” bukannya menjawab, Jaeri malah kembali bertanya.

“Kenapa kau malah balik bertanya? Dasar gadis aneh.” Heera mencibir Jaeri yang hanya ditanggapi dengan wajah datar sahabatnya.

Hari-hari berikutnya masih sama dilalui Jaeri dengan penuh kebosanan dan tanda tanya. Juga rasa sakit yang mengisi relung hati ketika dengan sengaja Jungkook mengabaikan keberadaannya. Berkali-kali Jaeri menemui lelaki itu secara langsung guna mendapatkan penjelasan, namun hanya kacang garinglah yang ia dapatkan. Hmm

Juga ada perasaan yang menurutnya aneh, biasanya ia akan merasa cemburu jika melihat Taehyung sedang berdua bersama Jihyo, namun kali ini sudah tidak. Apakah ia berhasil menghapus perasaannya untuk lelaki itu? Meskipun tidak semua perasaannya leyap, tetap masih ada namun rasanya sudah tidak sesakit dulu ketika melihat keduanya.

***

Petang kembali tiba, kebanyakan remaja akan keluar untuk sekedar berjalan-jalan atau menghabiskan waktu dengan kegiatan lainnya. Namun tidak dengan Jaeri, ia kembali bekerja paruh waktu di caffe.

Ketika pintu masuk terbuka, ia melihat sosok yang tak asing menurutnya. Apakah benar itu Kim Taehyung? Mau apa lelaki itu kemari setelah sekian hari tak pernah menghubunginya.

Jaeri tetap diam tak bargeming meskipun ia tahu Taehyung sekarang sudah berdiri didepannya di meja kasir. Hingga cukup jengah akhirnya Taehyung membuka suara. “Jae.”

“Hmm” dan hanya ditanggapi sebuah gumaman oleh sang empunya.

“Apa kau marah padaku?”

“Ani.”

“Tapi sepertinya kau marah padaku.”

“Terserah.” demi apapun Kim Taehyung.. kalau kau sudah tahu kalau Jaeri memang tengah marah, kenapa kau masih bertanya?

“Aku hanya ingin minta maaf padamu.”

“…” Jaeri tetap tak bergeming

“Aku sudah memutuskan untuk tidak lagi bergabung bersama Jihyo dan teman-temannya”

Oh, ini parah. Kenapa? Ada masalah apa? Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang kini tengah memenuhi kepala Jaeri.

“Wae?”

“Karena aku sadar kalau aku.. Merasa kehilanganmu”

DEG!!

Jaeri rasa jantungnya sudah berhenti berdetak. Apakah ia juga merasakan hal yang sama? Kalau boleh jujur, IYA. Jaeri sangat merindukan sahabat yang pernah dicintainya ini.

“Aku sadar kalau aku tidak cocok dengan mereka. Juga Jihyo yang sering— mengekangku” Taehyung lebih mengecilkan suaranya ketika menyebutkan kata terakhir dari kalimatnya.

Taehyung lebih menarik napas lagi hingga kembali melanjutkan. “Juga Jihyo pernah bilang padaku kalau— kau.. menyukaiku?”

Sial! Apa sangat kentara sekali? Padahal mati-matian Jaeri menyembunyikan perasaannya kepada Tahyung, tapi mengapa Jihyo bisa tahu?

“Jawab aku Jae.”

“Ani,”

Taehyung terbelak mendengar jawaban dari bibir Jaeri. Sedari tadi ia menduga kalau gadis ini memiliki perasaan dengannya lalu akan ia dekap dalam-dalam dalam pelukannya. Namun yang Jaeri katakan adalah sebuah, penolakan.

“A-aku sudah sadar akan perasaanku kalau aku memang ditakdirkan untuk bersahabat denganmu. Tidak lebih.”

Terlihat sorot mata Taehyung yang kian meredup. Apa sudah terlambat baginya untuk membalas perasaan Jaeri? Selama ini ia telah dibutakan oleh ucapan-ucapan manis Jihyo hingga sama sekali tidak sempat untuk sekedar melirik kearah Jaeri.

.

.

.

oOo

Hari ini untuk yang pertama kali setelah beberapa waktu yang lalu –you know what I mean- Jaeri kembali berangkat sekolah bersama Taehyung. Mungkin Taehyung sudah bisa mengerti akan perasaan cinta yang mudah datang dan pergi. Dulu memang Jaeri mencintainya, namun perasaan cinta itu malah menghilang atas ulahnya sendiri.

Jujur saja Taehyung merasa sangat bodoh menjadi laki-laki. Bisa-bisanya ia tertipu oleh rayuan gombal Jihyo yang hanya terobsesi padanya. Dan mulai saat ini ia berjanji pada dirinya sendiri akan menjadi sahabat yang baik untuk Jaeri. Takkan lagi meninggalkannya dengan alasan apapun.

Mereka melangkah menyusuri koridor panjang sekolah. Tak ayal ada sepasang mata yang berkilat cemburu melihat kedekatan mereka yang telah kembali. Jihyo mengeram pelan dalam diamnya. Sepertinya ia telah kalah dalam permainannya sendiri.

Jaeri memasuki ruang kelasnya, Heera yang telah duduk dibangku yang bersebelahan dengannya pun tersenyum hangat kearahnya.

“Taehyung telah kembali huh?” goda Heera dengan mengangkat-angkat kedua alisnya. Membuat Jaei terkekeh geli melihat kelakuan sahabatnya tersebut.

“Kurasa begitu.”

Ya ia rasa satu masalahnya telah selesai, namun bagaimana dengan masalah yang lain? Yang dimaksud dengan masalah yang lain adalah bagaimana dengan Jungkook? Lelaki itu masih saja mengabaikannya, nampaknya benar-benar marah kepada Jaeri.

Dan juga dapat dipastikan kalau ucapannya beberapa hari yang lalu juga merupakan sebuah kebenaran. Artinya Jungkook serius atas ucapannya kemarin.

Ia melirik kearah tempat duduk Jungkook, terlihat masih kosong. Apakah lelaki itu tidak masuk sekolah hari ini?

***

“Sekian pelajaran kali ini, kalian boleh istirahat.” ucap guru Hwang selaku guru pengajar kesenian. Guru muda itu hendak saja keluar kelas namun sebuah suara memanggil namanya hingga ia harus berhenti sejenak.

“Ada apa Kim Jaeri?” Tanya guru Shin kepada murid yang barusaja memanggilnya.

“Apakah anda membawa daftar absensi kelas saem?”

“Ya.”

“Apa saem tahu mengapa siswa yang bernama Jeon Jungkook tidak hadir hari ini?” itu adalah pertanyaan yang sejak tadi pagi bertengger di kepala Jaeri. Karena tidak biasanya Jungkook tidak masuk sekolah, mengingat betapa rajinnya lelaki itu.

“Jeon Jungkook…?” guru Hwang sedikit membuka-buka daftar absensi yang ia pegang. “Oh, hari ini dia sedang sakit. Tadi pagi orang tuanya menelpon ke pihak sekolah.”

“N-ne, khamsahamnida saem.” Ia membungkuk pelan lalu melangkah menjauh.

Jaeri segera melesat menuju kantin, karena bisa dipastikan Heera dan Taehyung telah menunggunya.

.

.

.

oOo

Sepulang sekolah ini Jaeri memutuskan untuk pergi kerumah Jungkook. Karena hari ini Jungkook sedang sakit, setidaknya ia ada alasan untuk menemui lelaki itu. Dengan masih memakai seragam sekolah ia menaiki bus untuk sampai kerumah Jungkook.

Ia sungguh menginginkan sebuah penjelsan. Ia tidak akan mau didiami seperti ini tanpa ada alasan yang jelas. Ya, walaupun ia akui kalau dirinya juga melakukan sebuah kesalahan karena telah menertawai Jungkook waktu itu. Tapi sungguh ia hanya terkejut mendengar pernyataan spontan lelaki itu, tak ada maksud lain.

“Akhirnya kau mampir, Jungkook sedang berada dikamarnya, naiklah Jaeri-ah.” ucap nyonya Jeon pada Jaeri.

“Ne ajhuma.”

Jaeri harap-harap cemas akan apa yang harus ia katakana pada lelaki itu. Bagaimana kalu Jungkook sedang tidur ? bagaimana kalau ia sedang tidak ingin diganggu? Akh, ini memusingkan.

Jaeri mengangkat tangannya untuk meraih kenop pintu, sedikit menghembuskan napasnya perlahan lalu memutar kenop tersebut, dapat ia lihat Jungkook sedang berbaring menghadap samping, lebih tepatnya memunggunginya.

Ia berjalan mendekat kearah ranjang Jungkook, lalu duduk ditepi tempat tidurnya. Ia tahu kalau Jungkook tidak tidur. Belum sempat Jaeri berkata Jungkook segera membuka suara.

“Pergilah”

Apa Jaeri tidak salah dengar? Ia barusaja diusir? Perasaan sesak didadanya semakin menjadi. Matanya kian memanas menahan airmata yang memaksa keluar.

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu.” ucap Jaeri lirih dengan nada bergetar. Terselip perasaan takut ketika mengucapkan kalimat tersebut. Namun Jungkook tak kunjung membuka suara atas pertanyaannya.

“A-apa kau serius saat kau mengucapkan kalimat itu kemarin padaku?” Jaeri harus dengan sangat mengontrol debaran jantungnya saat ini. Bisa-bisa ia langsung pingsan karena malu.

Jungkook mulai memutar arah badannya menghadap Jaeri. Lalu duduk bersandar kepala tempat tidur, lamat-lamat mengamati wajah gadis dengan ekspresi bersalah dihadapannya.

“Hm.” hanya sebuah gumaman kecil yang keluar dari bibir Jungkook membuat perasaan Jaeri sedikit membaik. Jadi benar jika Jungkook kemarin telah menembaknya (?).

Jaeri kembali menampakkan senyumnya. Sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama saat pertama kali ia bertemu dengan Jungkook malam hari sepulang bekerja di halte beberapa waktu yang lalu. Ia merasakan getaran aneh pada Jungkook saat mereka bertemu pandang dalam jarak yang cukup dekat. Namun ia yang belum terlalu peka akan perasaannya sendiri.

“Jika aku mengatakan YA untuk saat ini, apa kau menerima jawabanku?” terlihat raut wajah Jungkook yang perlahan kembali melunak. Ia hanya tersenyum lembut menanggapi pertanyaan Jaeri. Ia hendak menjawab namun—

Drrtt.. Drrtt..

Ponsel Jaeri mendapat sebuah panggilan masuk. Jaeri segera berjalan menjauh dan mengangkat panggilan tersebut, ternyata Heera yang menelpon.

“Yeobseo”

“Yeobseo” terdengar suara Heera diujung sambungan telepon. “Aku dan Taehyung sedang berada di caffe bubletea, apa kau tidak mau ikut kesini?”

Jaeri sedikit berpikir, apa ia harus ikut? Tapi ada urusan yang lebih penting dengan Jungkook saat ini.

“Emm.. Ani.

Aku sedang merawat namjachingu-ku yang sedang sakit.” terselip nada tawa saat Jaeri mengucapkan kalimat tersebut.

Jungkook yang mendengar pernyataan Jaeri pun juga ikut tersenyum geli. Jadi ia sudah resmi menjadi namjachingu Jaeri mulai sekarang.

“Mwo? Tapi kau kan tidak punya namjachingu..” suara Heera terdengar memekik keras di speaker, karena setaunya Jaeri memang tidak memiliki kekasih.

“Sekarang aku punya. Sudah dulu ne?”

“T-tapi Jae—“

Tuutt.. Tuuttt..

Jaeri segera mematikan sambungan sepihak karena tak ingin lebih lagi berdebat dengan Heera, ia bisa menjelaskan semuanya besok ketika mereka berada disekolah.

Jaeri kembali mendekat kearah Jungkook yang tengah tersenyum kepadanya. Mungkin keduanya terlalu bingun untuk memulai, jadi mereka hanya berpandangan saling tak mengerti seperti ini.

Namun dengan gerakan cepat Jungkook langsung mendekap Jaeri dalam pelukannya. Well, nampaknya debaran jantung yang dapat Jaeri rasakan lebih banyak mengartikan perasaannya saat ini daripada semua kata yang dapat Jungkook ucapkan.

Tak kuasa Jungkook untuk tidak menarik dagu Jaeri dan menyatukan bibir mereka pada sebuah ciuman lembut yang memabukkan. Jaeri membelai lembut rahang tegas milik Jungkook dan Jungkook yang telah menempatkan kedua tangannya ke pinggang ramping Jaeri.

Saling melumat dan berbagi erangan-erangan kecil karena tak kuasa menahan sensasi dari kegiatan mereka.

Tak terjadi cukup lama hingga Jaeri menarik dirinya dari pelukan Jungkook. “Kenapa kau bau sekali? Apa kau tidak mandi pagi ini?”

Suasana yang semula romantic pun akhirnya kandas juga karena pernyataan Jaeri.

“Hehe.. Sebenarnya aku belum mandi sejak kemarin sore.”

“Yaakk! Bagaimana bisa eoh? Cepat mandi, kau sangat bau.” Jaeri menutup hidung dengan tangannya. Belagak terganggu akan Jungkook yang belum mandi sejak kemarin sore.

“Mandikan aku.”

“Yak Jeon Jungkook..!!”

.

.

-END-

 

FF ini hanya saya publish di dua tempat yaitu https://thekeikosine.wordpress.com dan https://btsfanfictionindonesia.wordpress.com , jika kalian menemukan FF ini dipublish ditempat lain, harap segera menghubungi saya selaku author FF Pendency Love

Akhirnya selesai.. ^^ sebelumnya saya memang tidak pernah mengharapkan komentar yg banyak & bagus2 utk FF ini, karena bisa dibilang ini FF chapternya pendek dan cukup gaje hehe.. Tapi jika ada yg mau meninggalkan komentar, saya selaku author akan sangat berterimakasih sekali. Utk sider, makasih juga udah mau baca FF ini meskipun saya gk bisa lihat kalian muncul di kolom komentar 😀

Tapi apa salahnya kan meninggalkan jejak satu atau dua kata saja kepada karya sesama ARMY??

Thx guys.. See you in my other FF

Iklan

8 pemikiran pada “Pendency Love [Chapter 4/END]

  1. amyya3

    Yah kurang heboh nih eon.. Penasaran nih sama hebohnya heera waktu nanya2 ke jaeri plus cemburunya taehyung ke jungkook.. Kekeke tapi ceritanya tetap seru eon!! Seru seru!! Daebak!! ^^

    Suka

  2. nwhy

    hahahah aku ngakak bacanya cocok sekali karakter jungkook disini masih manja2 gitu.. XD keren authornim.. next kutunggu ff Kookie lainnya ya.. keep writing authornim 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s