Pendency Love [Chapter 3]

pendency

Tittle : PENDENCY LOVE

Author : morschek96 (Anita Ray)

Genre : School Life, Teen, Romance

Cast :

Kim Jaeri (OC)

Jeon Jungkook (BTS), Kim Taehyung (BTS)

Others.

Previous : [chapter1][chapter2]

[now the time I realize all those. I feel different when I by his side. So close and I just like it.

And finaly, I can forget him, my best friend. The one who steal my heart for the first time.

Kim Taehyung]

***

Jika mesin waktu layaknya doraemon itu benar ada ingin Jaeri kembali ke masa lalu. Dimana ia dengan bebas tertawa dengan dunia tanpa mengerti rumitnya cinta. Apa ia sedang berhayal kalau ia tak mau dewasa? Bisa dibilang iya.

Cinta pertamanya menghancurkannya. Well, memang cinta pertama itu selalu tak berakhir bahagia kan? Dimana kau belajar mencintai dan berharap akan berlangsung bahagia selamanya. Namun di dunia nyata tak ada teori bahagia selamanya, teori tersebut hanya berlaku di dunia dongeng seperti Cinderella.

Benarkah gadis sepertinya merupakan penghalang bagi cinta pertamanya? Apakah ia baru saja tersadar kalau selama ini memang dirinya tidak pantas disandingkan dengan cinta pertamanya? Rasanya takdir telah terlalu jauh membawa dirinya, hingga terdampar disituasi seperti ini dan tak tahu entah seperti apa akhirnya.

Jaeri menopang dagu dengan tangannya, nampaknya tak ada minat sama sekali untuk memperhatikan guru Cha yang sedang mengajar bahasa Inggris. Membuat Heera teman sebangkunya melirik kearah Jaeri lalu menyenggol dengan sengaja tangan kanan Jaeri dan membuat gadis tersebut terkejut akan keusilannya.

“Apa yg kau lakukan huh? Melamun?”

“Diamlah.” Jaeri menjawab dengan tak bersemangat. Ia kembali menopang dagu dengan tangan kirinya, berjaga-jaga apabila Heera hendak menjahilinya lagi. Ia kembali menghadap papan tulis , namun pikirannya entah terbang kemana.

“Sekian pelajaran kali ini anak-anak. Sampai jumpa.” tak terasa 2 jam pelajaran bahasa Inggris telah usai. Dan mana Jaeri sadar kalau waktu yang menurut siswa lain sangat lama dan membosankan, malah terasa sebentar baginya.

Ia hendak melangkah keluar menuju kantin hingga suara seseorang menahannya.

“Jae.”

Ia tahu siapa pemilik suara itu. Jeon Jungkook, apa ia mau mengajak untuk mengerjakan tugas lagi? Jujur saja, Jaeri sedang tidak ada minat untuk sekedar menemani.

“Wae?” Jaeri membalikkan tubuhnya malas. Ia menatap datar lelaki berparas imut yang berdiri dihadapannya, seakan tahu apa yang lelaki ini inginkan.

“Kita kerjakan tugasnya besok minggu saja. Kau ke rumahku besok sore otte?” namun ternyata salah dugannya. Ia kira lelaki perfeksionis ini akan memintanya untuk segera melanjutkan tugas. Yah.. sedikit meringankan pikirannya yang akhir-akhir ini entah mengapa menjadi lowbat.

Seperti tadi malam ketika ia dengan perasaan dongkol meninggalkan kediaman Taehyung, ia tak berbicara apapun pada Jungkook selama sisa perjalanan menuju rumahnya. Tapi rasa-rasanya melihat anak sepintar Jungkook tidak akan sulit untuk menebak apa yang telah terjadi padanya. Well, tidak diperlukan sebuah kecerdasan untuk mengetahui kesedihan seseorang.

Setelah itu Jaeri melangkah keluar menyusul Heera yang sudah dapat dipastikan telah menunggunya di kantin. Dan benar saja, Heera telah berada disebuah meja yang biasa ia tempati dengan Jaeri.

“Jae, dia memperhatikan kita.” ucap Heera pelan. Semenjak Jaeri memasuki wilayah kantin memang sudah ada sepasang mata yang telah memperhatikannya.

“Siapa?” Jaei kembali memakan jajangmyeonnya, rasanya perutnya sudah mengaung-ngaung minta diisi sejak tadi namun ia yang tidak terlalu merasakan.

“Taehyung.” entah mengapa mendengar nama itu saja sudah membuat moodnya kembali memburuk. Tidak bisakah sehari ini saja ia tidak mendengar nama itu. Setelah mengucapkan nama itu Heera kembali terdiam, harap-harap cemas akan apa yang terjadi selanjutnya, melihat si pemilik nama itu malah berjalan mendekat kearahnya juga Jaeri.

“Apa aku boleh duduk disini?” oh great! Siapapun tolong tarik Jaeri menjauh dari orang ini. Jaeri menghentikan kegiatan makannya lalu tersenyum tipis, ia melirik kearah Heera.

“Orang rendahan?” ucapnya dengan nada menyindir. Dan membuat Taehyung berjengit tak paham.

“Apa maksudnya?” Taehyung melirik kearah Jaeri dan Heera bergantian. Seolah mengharap penjelasan dari keduanya. Belum sempat Jaeri kembali membuka suara, seseorang telah tebih dulu menyela ucapannya.

“Aku mencarimu Tae.. lihatlah teman-teman kita sudah menunggumu di meja sana.” Yeah, siapa lagi kalau bukan Jihyo. Tak berlangsug lama Jihyo segera pergi dan melangkah kearah meja yang ia maksudkan. Dan keadaan ini membuat Taehyung paham atas ucapan Jaeri barusan (orang rendahan).

Taehyung tetap diam tak bergeming melihat punggung Jihyo yang telah menjauh lalu duduk diantara teman-temannya.

“Go. Queen is waiting.” sambung Jaeri setelah beberapa saat hanya terdiam. Dan membuat Taehyung sadar akan kegiatan melamunnya lalu melangkah menyusul Jihyo dan yang lain.

Setelah dirasa cukup aman, Heera segera membuka suara. “Benarkah yang kau ceritakan padaku tadi pagi? Taehyung semalam mengadakan pesta dirumahnya?” tanya Heera sepelan mungkin.

“As I said.” Jaeri menjawab lemah. Membuatnya mengingat betapa ia merasa direndahkan dengan kalimat `dirimu adalah penghalang bagi Taehyung`. Siapa yang tidak marah jika dengat semena-mena dikatai seperti itu.

***

“Tae, tak bisakah kau mengerti perasaanku?” Jihyo mengerang pelan kepada lelaki yang duduk disebelahnya. Setelah selesai makan ia menggandeng Taehyung untuk segera kembali ke kelas mereka.

“Apa maksudmu?”

Jihyo menggelengkan kepalanya, tidakkah lelaki ini paham atas ucapannya? “Apa kau benar-benar hanya berteman dengan Jaeri?” Jihyo bertanya dengan pandangan sendu. Sudah sejak pertama kali bertemu ia telah merasakan sesuatu dengan Taehyung.

“Iya, aku hanya bersahabat dengannya”

“Ku rasa tidak” Jihyo menimpali cepat. Matanya terlihat mulai berkaca-kaca menahan tangis. “Jaeri menganggapmu lebih.”

Taehyung terus menatap Jihyo tanpa berkedip, penasaran apa yang akan Jihyo ucapkan selanjutnya.

“Tidakkah kau merasa Jaeri, dia menginginkan lebih dari itu?? “ Jihyo menarik napas lalu menghambuskannya perlahan. “Dia menyukaimu.” Sambungnya lagi.

“Tapi dia hanya sahabat kan? A-aku.. aku yang lebih pantas denganmu, karena aku mencintaimu.” Taehyung tak kuasa untuk mendekap tubuh Jihyo yang kini mulai terisak. Benar, ia dan Jaeri hanya berteman, batinnya.

.

.

.

***

 

 

Jaeri sedikit mengeratkan coat yang ia pakai lalu melipat tangannya didepan dada, kenapa dihari ia akan pergi harus gerimis seperti ini eoh? Meskipun tidak terlalu lebat, tapi tetap saja dingin kota Seoul tetap menusuk. Ia menatap rumah bergaya modern tersebut sebentar lalu berjalan masuk.

“Annyeong ajhuma, saya temannya Jungkook.” ia memberi salam kepada wanita paruh baya yang berdiri membukakan pintu, terlihat sangat mirip dengan Jungkook.

“ Ne masuklah.” eomma Jungkook tersenyum kearahnya lalu berjalan masuk diikuti Jaeri. “Jungkook sedang mandi, tunggulah sebentar.”

Jaeri mengangguk paham lalu mendudukkan diri di sebuah sofa yang berada di ruang keluarga Jungkook. Ia membuka smartphonenya guna mengecek media social yang entah mengapa sialnya tidak ada siapapun yang men-chat.

Tak lama kemudian Jungkook datang dengan membawa buku-buku dan tugas mereka. Dan juga mengapa ia terlihat lebih tampan dengan baju casual seperti ini? Jaeri membatin dalam hati. Juga rambutnya yang terlihat masih basah pertanda baru selesai mandi.

Dan pekerjaanpun mereka mulai. Jungkook bertugas menulis rumus dan step-step menghitung, sementara Jaeri yang bertugas menghitung dengan calculator (?) dan memberitahu hasil hitungannya kepada Jungkook untuk diselesaikan. hmm.. apa susahnya jika dengan bantuan calculator. Dasar

Tak terasa perjuangan keduanya pun menemui titik akhir. Tugas 100 soal sudah mereka selesaikan, well meskipun 90% Jungkook lah yang mengerjakan.

“Jaeri-ah, jangan pulang dulu ne? makan malamlah bersama kami.” mendengar eomma Jungkook yang memintanya untuk makan malam bersama membuat Jaeri sedikit melirik Jungkook seolah bertanya `apa?`

 

“Tentu saja Jaeri akan mau eomma, ia hanya malu untuk mengucapkannya.”

Damn Jungkook! Kenapa lelaki ini malah berkata seperti itu eoh? Jaeri hanya tidak mau terlalu merepotkan.

setelah accepted yang eomma Jungkook dengar, wanita paruh baya itu langsung melesat menuju dapur untuk mempersiapkan makan malam.

“Kau mau menonton DVD?” setidaknya ada hal yang mereka lakukan selagi menunggu waktu makan malam. Setelah Jaeri mengangguk, Jungkook segera mengarahkannya menuju kamarnya. Tunggu- kamar?

Apakah hal ini dianggap wajar bagi keluarga Jungkook? Sepertinya iya, eomma Jungkook terlihat diam saja saat mengetahui ia akan menonton DVD di kamar Jungkook.

“Pilih saja mana yang kau suka.” Jungkook menunjuk tumpukkan DVD yang berjajar rapi diatas nakas sebelah tempat tidurnya. Jaeri segera mengarahkan pandangannya ke pintu setelah mendengar langkah kaki Jungkook yang menjauh. Mau kemana anak itu?

Ah, tak penting. Sepertinya DVD milik Jungkook lebih menarik. Jaeri harus sedikit menunduk untuk melihat-lihat cover dan judulnya. Jaeri membalikkan tubuhnya ketika menemukan DVD yang cocok, namun dengan segera matanya terbelak dan hampir saja tubuhnya terhuyung kebelakang jika saja Jungkook tidak menahannya, karena saking terkejut. Secara tiba-tiba Jungkook sudah berdiri menghadap kearahnya dengan jarak yang lumayan dekat.

Terasa tangan kanan Jungkook yang memegang pinggangnya. Entah mengapa detik-detik terasa lebih lama dari biasanya. Dapat Jaeri rasakan napas hangat Jungkook yang kian menerpa wajahnya dengan jarak yang sedekat ini. Seakan terpukau dengan mata indah milik lelaki itu.

Dengan perlahan Jungkook memajukan wajahnya hingga mengikis jarak diantara mereka. Menempelkan bibirnya ke bibir plum milik Jaeri. Dapat Jaeri rasakan darah yang berdesir kian lebih cepat ketika dengan lembut Jungkook melumat bibirnya. Tak ada perlawanan dari Jaeri, entah mengapa ia juga menerima setiap perlakuan Jungkook padanya.

Seolah tersadar dengan apa yang telah terjadi, Jaeri segera melepas tautan bibirnya dengan Jungkook. Apa yang baru saja ia lakukan? Ini memalukan. Terlihat semburat merah di kedua pipinya karena malu. Dan Jungkook malah tersenyum lembut kearah Jaeri tanpa memberi kejelasan apa yang telah ia lakukan padanya.

“Sudah terlambat jika memaksakan untuk menonton DVD noona. Makanan sudah hampir siap dan appaku sudah pulang.” ujar Jungkook pelan lalu berjalan keluar meninggalkan Jaeri dengan segudang pertanyaan yang ada dibenaknya.

___

Ini sungguh tidak mengenakkan duduk di meja makan bersama keluarga orang lain. Berkali-kali terlihat gerak-gerik Jaeri yang sedikit kikuk membuat Jungkook harus sedikit menahan tawanya. Karena biasanya ketika di sekolah ia akan menyela apapun kelakuan konyol Jaeri.

“Ini pertama kalinya kau mengajak teman perempuanmu untuk berkunjung ke rumah Jungkook-ah, apa benar kalian hanya berteman?” melihat gesture tubuh Jaeri yang malu-malu membuat appa Jungkook tak kuasa untuk menggoda kedua remaja ini.

“Kami hanya berteman appa.” ucap Jungkook setelah menelan makanannya.

“Jaeri-ah, sering-seringlah main kesini eoh.” kini giliran eomma Jungkook yang menimpali.

“Ne ajhuma. Lain kali saya akan berkunjung lagi.” Jaeri tersenyum kearah keduanya. Well, keluarga Jungkook sangatlah hangat ternyata.

“Baiklah.. nanti kalau pulang biar diantar Jungkook saja Jaeri-ah”

“Apa perlu ajhuma? Saya hanya takut merepotkan.”

“Tidak.. sama sekali tidak merepotkan, iya kan Kookie?” dan Jungkook hanya mengangguk pelan menanggapi kalimat eommanya.

oOo

Hampir saja semalaman suntuk Jaeri memikirkan apa yang tadi ia lakukan dengan Jungkook. Ia yakin kalau ia hanya terlalu terbawa suasana. Namun tak dapat ia sangkal jantungnya berdetak lebih cepat and it was feel like there are flowers inside of her belly when Jungkook kissed her.

Dan jadilah ia kurang tidur seperti ini. Juga kantung mata yang terlihat lebih menghitam. Ia melangkahkan kakinya pelan di taman sekolah. Tak sengaja matanya menangkap sebuah pemandangan tak mengenakkan yang terdapat di taman tersebut. Taehyung, ia terlihat sedang asik bercengkerama dengan Jihyo. Ini sudah hari ke3 Jaeri tak berkomunikasi dengannya, dimana terakhir kali ia bertemu dengan Taehyung di rumah lelaki tersebut juga di kantin sekolah.

Nampaknya Taehyung telah menikmati kehidupan barunya. Ya, kehidupan baru tanpa Kim Jaeri, tanpa penghalang. Jika terlalu lama Jaeri melihat pemandangan ini takkan lagi dapat ia tahan air mata yang sedari tadi memaksa untuk keluar.

Hingga ia menemukan sosok yang ia rasa bisa dijadikan aksi pembalasan. Ia melihat Jungkook yang berjalan dari arah lain, Jaeri segera berjalan cepat kearah lelaki tersebut lalu dengan segera merangkul pundaknya. Sok akrab, padahal ia hanya ingin Taehyung melihatnya dan merasa cemburu padanya. Dengan sengaja ia meminta Jungkook untuk berjalan tak jauh dari tempat Taehyung dan Jihyo, dengan tujuan agar Taehyung melihatnya.

Setelah dirasa cukup jauh dan Taehyung tak dapat melihatnya lagi, Jaeri segera menurunkan lengannya dari pundak Jungkook.

“Aku mengerti maksudmu.” Jaeri melirik ke arah Jungkook. Apakah lelaki ini marah padanya? Mendengar nada bicaranya dapat Jaeri simpulkan bahwa Jungkook sedang marah telah ia jadikan alat pelampiasan. Namun sungguh, tidak seperti itu maksudnya.

“A-apa?” Jaeri menunduk dalam tak ingin melihat tatapan Jungkook yang semakin menajam tertuju padanya.

“Kau ingin membuat Taehyung cemburu?” tepat sasaran. Rasanya Jaeri ingin mati saja saat ini. Ia sungguh merasa tidak enak telah memperlakukan Jungkook seperti tadi.

“Aku bisa membantumu. Kita bisa pura-pura pacaran.”

BANGG!

Sungguh diluar dari perkiraan Jaeri. Apa lelaki ini tidak salah bicara?

“M-mwo..??!” tak dapat lagi Jaeri tahan pekikan suaranya.

“Aku serius. Kita bisa pura-pura menjadi sepasang kekasih sampai..

Sampai kau menyadari perasaanmu padaku”

Apakah perkataan lelaki ini yang terlalu berbelit-belit atau memang otaknya yang bekerja begitu lambat? Ayolah Kim Jaeri.. jangan terlalu lama menyimpulkan sesuatu.

.

.

.

-TBC-

Ini dia chapter 3nya hehe.. seperti biasa jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca. Karena kalau istilahnya sudah masuk ke rumah orang tanpa permisi, alias main dateng & pergi tanpa pamit tanpa permisi nyelonong ajah itu gak sopan loh.. so, jangan lupa kasih comment dibawah, ok? Jangan paksa saya untuk menagih comment kalian di akhirat nanti dengan cara yg lain 😀

Iklan

7 pemikiran pada “Pendency Love [Chapter 3]

  1. amyya3

    Woaaa lama2 makin geregetan aja nih liat taehyung sama jihyo.. Uda terima aja jaeri jadi pacarnya jungkook.. Kekeke.. Ceritanya seru eon!! Feelnya kerasa banget.. Kekeke ditunggu banget eon next chapnya.. Kekeke ^^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s