The Soul [Chapter 3]

the-soul-by-morschek96_1

Tittle : The Soul

Author : morschek96

Horror || Fantacy || Fluff || General

Cast : Oh Sehun, Choi Da Hye , Lu Han

Add Cast : Lay, Kai, Chanyeol, Hana (OC), Others.

Cr. Poster by missfishyjazz @ArtFantasy (https://artfantasy1st.wordpress.com)

Disclaimer : Storyline are belong to morschek96, don’t be plagiator!

[tryin’a runaway]

***

Hal pertama yang Dahye sadari ketika membuka mata adalah posisi tidurnya yang tak terlalu nyaman, berat badannya bertumpu pada lengan kiri. Dengan perlahan menggerakkan sendi-sendi tubuhnya yang terasa sangat kaku. Pikirannya secara spontan mengingat apa yang barusaja terjadi padanya ketika ia melihat ke sekeliling.

Mengapa lelaki gila yang bernama Sehun itu terus memaksanya memakan pil yang seperti ramuan itu padanya? Apakah ini semua hanya kesialan atau memang sudah direncanakan dari awal? Dahye mengerang pelan ketika sakit di kepalanya kembali menyerang. Ini sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan terjadi di dunianya yang baik-baik saja.

Dahye tahu ini semua hanyalah sebuah permulaan baginya. Hal pertama yang harus ia lakukan sekarang adalah kabur dari tempat ini. Lalu melaporkan ke kepolisian terdekat dan menemui psikater.

Dahye mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu menatap intens ruangan yang sedang ia tempati. Lalu menemukan sebuah benda yang tergeletak disana. Sebuah handuk yang basah, dan hampir saja ia menjerit ketika menyadari handuk itu tidaklah basah oleh air, namun darah. Darah merah yang sangat pekat. Darah yang mungkin saja berasal dari orang yang telah meninggal. Demi apapun Dahye ingin menangis sekarang. Apakah lelaki itu berencana untuk membunuhnya juga?

Dahye kalut, mencoba menebak-nebak. Apakah lelaki itu melarikan diri dari rumah sakit jiwa? Dan sekarang dia berhalusinasi untuk menculik dan membunuh siapapun.

Tiba-tiba Dahye mencium aroma seseorang, kulit sensitif dan dinginnya juga berkata demikian ketika angin tipis berhembus melewatinya. Ia yakin barusaja mendengar tawa Sehun, juga sentuhan dan kekuatan lelaki itu. Dahye mulai tak nyaman dan berpikir apa yang harus ia lakukan sekarang.

Dahye jatuh terduduk di lantai, disana pula ia mendapat satu lagi kejutan. Apa yang ada di kaki kanannya? Itu tattoo, tattoo dengan tinta hitam bergambarkan sayap. Mengapa mereka melalukan ini padanya? Amarah menguasai tubuh Dahye, dan dengan kasar ia mencakar gambar tersebut dengan kuku-kukunya sendiri. Terasa sangat sakit, namun sebisa mungkin ia tak menghiraukan itu.

Lelaki itu sangat jahat, menculiknya, memaksanya memakan pil itu, sekarang mengotori kulitnya tanpa permisi. Dahye tak pernah membenci seseorang sampai seperti ini sebelumnya, namun ini sangat keterlaluan.

Ia memutuskan untuk segera kabur dari tempat ini, menyusuri koridor-koridor gelap di bangunan itu. Sampai ia menemukan sebuah kaca yang lumayan besar di lantai bawah. Dahye melihat bayangan dirinya sendiri, nampak sama namun ada yang sedikit berbeda. Apa yang telah terjadi dengan dirinya? Iris matanya terlihat lebih gelap, yang jelas ini bukanlah dirinya yang dulu. Dan baru ia sadari baju yang ia kenakan telah robek di bagian lengan. Tak peduli, ia melanjutkan langkahnya menjauh dari tempat ini.

.

.

Dahye merasakan napasnya kian memburu ketika ia telah berada di luar. Udara yang sangat dingin menyapanya, ternyata hari sudah malam namun keadaan kota disini masih nampak terang. Ia berjalan tak tahu arah, jika ada seseorang yang mau memberinya makanan dan pakaian yang layak ia akan sangat berterimakasih.

Sampai di sebuah toko musik yang nampak kuno, Dahye sedikit terkejut melihat beberapa gitar yang dipajang disana. Namun ia sadar ini sepenuhnya bukanlah sebuah toko musik biasa, bisa saja didalamnya terdapat orang yang diculik dan disiksa sama sepertinya.

Kota ini tak jauh berbeda dengan kawasan Soul, namun barang-barang dan artistiknya sangat kuno. Ia tak dapat menemukan petunjuk lain dimana dia sekarang, karena semua alat elekronik dan banner-benner yang dipajang di sepanjang jalan hanya memberitakan tentang dewa-dewa dan dunia Argos.

Ia berjalan lagi hingga membaca tulisan Dewa Tertinggi Argos dan Puteranya. Itu Sehun, Dahye mengenal siapa yang berada difoto itu, Sehun adalah anak dari Dewa disini. Tak ada kekaguman, Dahye diam-diam mengutuk Sehun dan seluruh keluarganya dalam kesengsaraan. Mereka semua monster.

“Senang melihatmu bangun dan kabur.” Sebuah suara seduktif terdengar tepat dibelakang telinganya. Dahye mengenal suara ini, ia menarik napas lalu berbalik badan.

“Tinggalkan aku sendiri, kau monster!” Dahye berteriak, mencoba berlagak kuat dihadapan pria brengsek ini. Namun tak dapat ia sangkal kalau dirinya kian melemah, ia kedinginan, dan dihantui oleh ketakutan.

Sehun nampak tak tersinggung, wajahnya sama sekali tidak menunjukan suatu keterkejutan apapun, atau khawatir dan takut. Dia nampak menikmati hal ini. “Kau kira dengan gertakanmu barusan akan membuatku berhenti, Dahye kau membuatku lebih tertarik padamu.”

“Kau yang selalu menggertakku dengan kata-katamu..! kalau kau mendekat aku akan membunuhmu..!!” Dahye berteriak lebih keras dari sebelumnya. Berharap jika ada seseorang yang melihat situasi saat ini akan setidaknya menolong dirinya. Namun ia salah, tidak ada orang yang menghiraukan.

Mereka semua hanya berlalu melewati dirinya atau menatap dengan wajah ketakutan. Sepertinya hanya akan menikmati pertunjukkannya dengan lelaki ini.

“Benarkah? Kalau begitu cepat lakukan. Tapi sebelumnya aku akan memberimu sebuah warning jika kau berani menyentuhku seujung jaripun, aku akan bersumpah kau tidak akan bisa keluar dari tempat ini selamanya, aku akan menyiksamu dan menghancurkanmu.” Sehun berdesis pelan, ia adalah putera dewa, dia yang mempunyai kekuasaan disini. Sehun adalah pembuat masalah dari segala yang ada, dia iblis. Dia adalah iblis.

Deg

            Deg

Dahye ketakutan, segala keberaniannya telah kabur entah kemana. Mata Sehun berubah menjadi merah pekat, persis seperti yang ia lihat pada handuk tadi. Tak ada yang terjadi, satu detik, dua detik, tiga detik. Hingga ia menarik Dahye untuk mengikutinya.

.

_oOo_

Di sebuah ruangan mainson keresidenan, Sehun berada di belakang Dahye, menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Lalu bergerak memeluk Dahye dari belakang. Dapat Dahye rasakan lengan kekar Sehun tengah melingkari pinggangnya. Rasanya sangat sakit, ia bersumpah tulang belakangnya akan retak jika lelaki ini terus melakukan ini beberapa menit kedepan.

Dahye membuka mulut tapi tidak ada suara yang dapat keluar. Ia meneguk salivanya sendiri.
“Aku terkejut, aku tidak pernah berharap sebuah jiwa lemah akan berani melakukan ini padaku. Aku benar, kau spesial Dahye— yang harus kau lakukan adalah bersikap baik.”

“Tinggalkan aku sendiri. Bagaimana kau bisa mengetahui namaku? Dan apa yang kau maksud dengan spesial??” Dahye berucap sebisanya, dan dapat ia rasakan pelukan Sehun pada dirinya semakin erat. Dan intinya adalah, Dahye kesulitan bernapas.

“Di dunia ini, mengancam putera dewa berarti meminta untuk dibunuh. Mati dengan cara yang sangat mengerikan. Ketakutanmu dengan air, tenggelam, terkunci didalam sebuah kendaraan. Ya, aku dapat merasakan itu semua.”

Air mata mulai menggenangi kelopak Dahye ketika mengingat semua itu, kesalahan, mimpi buruk, dan ketakutan. Bagaimana lelaki ini dapat mengetahui itu semua? Bagaimana Sehun dapat mengetahui kecelakaan mobil yang menimpa dirinya dan Yejin kakak perempuannya?

Keduanya terkejut mendengar suara ramai diluar sana. Mereka sedang berebut dengan penjaga mainson ini. “Tattoo.. gadis itu memiliki tattoonya, pasti dia memiliki darah yang gelap. Mengapa mereka ada disini? Apakah akhirnya mereka menjawab doa kita?”

Sehun dan Dahye melihat kebawah dari jendela yang terdapat di ruangan itu.

“Putera dewa, emperor Sehun dan gadis berdarah gelap..!!” seseorang yang lain kembali berteriak.

Mereka semua yang berada di kerumunan itu berteriak, menunjuk ke arah Dahye. Mengapa? Sekarang ia lebih takut berkali-kali lipat dari sebelumnya.

“Emperor Sehun, bawa gadis itu ke hall kota..!”

“Gadis berdarah gelap, berikan kami sedikit darahmu, kekuatanmu, dan jiwamu..!!” ini gila. Kerumunan itu bertambah banyak. Namun penjaga-penjaga mainson tak tinggal diam, mereka membakar semua kerumunan itu dengan nyala api. Dahye membuka mata, ya mereka telah hangus terbakar. Dan mati.

“Sepertinya aku datang di waktu yang tepat.” Sebuah suara menginterupsi keduanya. Itu adalah teman Sehun yang tinggi, Chanyeol. “Sepertinya agak sulit menyingkirkan jiwa-jiwa lemah tak berguna barusan. Aku harus meminta penjaga lain untuk membereskan mereka.”

“Itu sangat kejam.” Dahye bergumam pada Chanyeol. Melihat orang-orang itu disapu bagaikan debu, membuatnya merasa sedikit kasihan.

“Ada beberapa alasan kau tidak seharusnya membawa mereka, seperti gadis ini.” Chanyeol menunjuk ke arah Dahye. “mereka semua tak berguna, dan akhirnya hanya akan mengemis meminta obat tanpa mau berusaha sedikitpun.”

Obat? Apakah pil itu? Jadi pil itu membuat ketergantungan dan mengharuskan Dahye untuk selalu memakannya. Apakah itu adalah sebuah gambaran masa depan untuknya? Mati dengan alasan tidak bisa lagi mendapatkan pil yang membuat ketergantungan? Berubah menjadi debu, lalu dilupakan begitu saja.

“Gadis ini lebih baik dari apa yang dapat kita pikir siapa dia,” Sehun melirik Dahye sekilas. “Atau semua permainanku akan menjadi sia-sia, aku akan mengurus gadis ini sendiri. Dia tidak akan berakhir demikian.” Sehun berkata sembari membersihkan debu yang berada di pakaiannya. Dia menatap Dahye dengan pandangan yang lebih dingin dari sebelumnya, lalu memasukkan tangannya ke saku tuxedo yang ia pakai.

Tak butuh waktu lama bagi Dahye untuk mengetahui apa yang sedang Sehun cari. Dahye melangkah mundur, lalu berlari menuju pintu hingga tangan Chanyeol berhasil menangkapnya.

“Baby jadilah gadis yang baik dan makanlah obat ini.” Sehun bergumam sembari bergerak maju menuju Dahye dan Chanyeol. Dahye memberontak dalam dekapan Chanyeol namun lelaki itu tak mengizinkannya untuk bergerak sedikitpun.

“Dengarkan tuanmu, dengarkan tuanmu dan teman tuanmu.” Chanyeol berkata dengan suara beratnya tepat di telinga Dahye. Ia ingin menangis, menjerit sekencang yang ia bisa, dan yang terpenting adalah ia ingin kembali ke rumah.

Sehun kembali memasang smirk, dapat Dahye lihat dengan jelas mata merah nan gelap milik lelaki itu begitu menakutkan. Juga tattoo itu untuk sekali lagi menarik perhatiannya, angin tornado.

“Aku tidak mau, Sehun bawa aku pulang..!” air matanya turun ketika dengan lantang ia mengucapkan kalimat tersebut. Dahye ingin segera terbangun dari mimpi buruk ini, ingin segera kembali ke dunianya yang sebenarnya. Dan melupakan segalanya, hanya menjadi Choi Dahye biasa dan bukannya gadis aneh berdarah gelap.

“Aku akan membawamu ke rumah, well rumahku, dimana kau akan menjadi asistenku, sampai kau kulepaskan dan kembali ke bumi. Dengan tattoo ini dan hasrat yang baru.” Kata-kata Sehun berdengung di telinganya, ketika dengan kasar memasukkan pil yang ia genggam ke dalam mulut Dahye dengan paksa. Dahye terkejut mengapa rasanya tidak sepahit biasanya, apakah ia sudah terlalu terbiasa dengan ini? Entahlah.

“Aku membencimu.” Dahye berdesis ketika tangan Chanyeol telah menjauh dari tubuhnya.

“Beristirahatlah, karena ketika kau membuka matamu esok hari, kau akan sepenuhnya telah berada di wilayahku. Dimana kau akan belajar seperti apa sebenarnya kemampuanku, asistenku yang tidak berguna.”

Mereka berdua keluar, meninggalkan Dahye sendirian dan entah mengapa tubuhnya juga bereaksi sama seperti yang Sehun katakan. Matanya memaksa untuk terpejam. Sehun benar, pil ini akan semakin menyiksa tubuhnya, tapi tetap Sehunlah yang akan membunuh dirinya nanti.

.

.

-TO BE CONTINUE-

LANJUT atau TIDAK??

Iklan

54 pemikiran pada “The Soul [Chapter 3]

  1. Lanjuuuuuuuuuuuttttttttt.. !!! Ini makin keren kak, dikit* juga udah makin paham sama ceritanya, pokonya ini seru banget, ceritanya oke dan hampir ngga ada cela, pokonya ini harus dilanjut ya kak, semangat terus !!! ^^

    Suka

  2. ohooooo….daebak .
    makin keren dari chapter ke chapter 🙂
    hebat bngt dah author ^^
    di tunggu nih next chapnya ya thor .
    jan lama2 thor ,kalo bisa di panjangin lagi ceritanya ,kkkk 😀
    *mian thor
    keep writing thor *muach

    Suka

  3. Lanjuuuuttttt thorrr pleaaaseeeee:( pengen tau bgtttt sehun itu sebenernya kenapa(?) Kenapa dia jahat bgt gituuuu:( lanjut ya thorrr yayayayaaa heheheh^^^

    Suka

  4. Rizka

    yaallah ff nyaa baaguss amat. thor, aku baca chap satu sama duanya di exo fanfiction indonesia. jadi gk nyoret komentar di blog ini. baru di cahpter tiga aja. btw, lanjt ya thor. ceritanya bagus pisan. klo jadi dahye pasti udh meluk meluk sehun daaa. wkwkwkwkwkw /apadah/ sekian.

    Suka

  5. Ping-balik: The Soul [Chapter 6] | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping-balik: The Soul [Chapter 7] | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping-balik: The Soul [Chapter 8] | EXO FanFiction Indonesia

  8. sabrinadya12

    Pil apa sih itu, apa semacem obat tidur, ato malah kek narkoba, ato dua duanya keke, aku mau tau apa tujuan sehun bawa dahye, makasih ffnya^^

    Suka

  9. Baby Tippa

    duuuhhh hun sehun lo pingin apain sih anak org ini. kasihan dy kesiksa tar lo jatuh cinta baru rasa deh *eh wkwkwkw. itu pil apaan sih kek obat tidur gt yaakk hiihih

    Suka

  10. Oh Han Na

    Hallo chingu
    aku new readers n mau ninggalin jejak biar jadi good readers
    ini FF pertama yang baguuuuuusss banget yang pernah aku baca.
    gak monoton n membawa kita langsung ke dalam nya.
    next lanjut Thor.

    Suka

  11. eLa0215

    LANJUTTTTTT
    udah sedikit maksud jalan ceritanya haha #Lambat
    aku suka aku suka .dahye disini sangat dibutukna banget sama sehun
    dan Yejin .apa dulunya mereka-keluarga- nya dahye itu emng punya darah gelap

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s