[Ficlet] Journalist or Paparazzi

jurnalist or paparazzi

morschek96 presents Journalist or Paparazzi

Kim Jinwoo (Winner) , Jung Haera (OC)

Others.

General/ Teen || Romance – Comedy

[sudah kubilang, aku bukan Kim Jinwoo]

-Meet You-

***

Hari yang melelahkan mengingat pekerjaannya yang memang berkutat di dunia entertaiment seperti sekarang ini. Menjadi salah satu personel boyband dan sekaligus visual, hal yang selalu Kim Jinwoo rindukan adalah kehidupan normalnya dulu.

Dimana ia bisa melakukan apa saja, makan dimana saja, dan dapat bepergian dengan bebas tanpa ada seorangpun yang mengawasi. Namun tidak untuk dirinya yang sekarang.

“Setelah pemotretan ini, kau mau pergi ke suatu tempat?” sang asistant bertanya. “Aku bisa menemani tapi tidak untuk nanti malam.” Sambungnya.

“Tidak hyung terimakasih, katakan kepada manager kalau aku akan berjalan-jalan sendiri.” Jawaban Jinwoo sontak membuat asistentnya tersebut memberikan tatapan tajam padanya. Seolah mengerti, Jinwoo segera melanjutkan. “Aku bawa topi dan masker.”

Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya asistantnya pun menyetujui. “Baiklah, tapi jangan terlalu lama. Kau tahu apa konsekuensinya.” Ia berjalan keluar ruangan tersebut sambil meminum soda kaleng yang sedari tadi ia genggam. Meninggalkan Jinwoo seorang diri didalam.

Berganti baju lalu tak lupa memakai samarannya. Ia berjalan layaknya orang asing melewati pintu masuk studio pemotretan tersebut. Ah, indahnya. Ucap Jinwoo dalam hati.

Ia berjalan diatas trotoar dan melewati berbagai deret toko yang berada di kawasan Myeongdeong, sedikit mengingat masa lalunya. Dulu ia sering kemari untuk berbelanja atau setidaknya hang out di Café bersama teman-temannya.

Suasana sore yang damai, dan terlihat semburat jingga diujung sana. Lampu-lampu toko mulai dinyalakan, dan warnanya yang berwarna-warni ikut merinai keheningan Jinwoo saat ini. Ia duduk di bangku yang terdapat didepan sebuah toko kue, masih dengan mengenakan topi dan masker hitamnya. Jinwoo memejamkan matanya sejenak, ia sangat merindukan suasana ini. Namun tak lama kenudian —

*jepret* *jepret*

Sontak Jinwoo membuka matanya, apa yang barusan itu paparazzi? Dilihatnya pada sebelah kanan ia duduk terdapat seorang gadis dengan camera SLR yang menutupi sebagian wajahnya, ia menunduk saat Jinwoo menoleh kearahnya.

“Apa yang kau lakukan?” Jinwoo bertanya sembari meletakkan tangannya di depan wajah, apa samarannya telah terbuka? Bahaya kalau gadis ini memberitau orang sekitar tentang dirinya disini.

“Kau Kim Jinwoo kan?” Tanya gadis itu pelan.

*jepret* *jepret*

Lagi, Jinwoo menggeram pelan. Ayolah, ia sedang tidak ingin berurusan dengan siapapun saat ini, apalagi paparazzi.

“Bukan, aku bukan Kim Jinwoo.” Elaknya cepat.

Namun gadis itu belum menyerah, “Kalau kau bukan Kim Jinwoo, lalu kenapa kau menutupi wajahmu Agasshi?”

“Aku hanya tidak ingin sembarangan orang memotretku.”

“Tapi aku yakin kau adalah Kim Jinwoo.”

Tak ingin berlama-lama, Jinwoo sudah berdiri dan meninggalkan gadis itu. Ia duduk di bangku lain yang berada di depan sebuah boutique.

Dasar paparazzi, mengganggu saja. Gumam Jinwoo dalam hati.

*jepret* *jepret*

Apa? Ia kira gadis itu sudah pergi.

*jepret* *jepret*

“Kim Jinwoo-ssi, bisakah kau meluangkan sedikit waktu?”

“Sudah ku bilang, aku bukan Kim Jinwoo.” Ucap Jinwoo penuh dengan penekanan.

Gadis tersebut kembali menaikkan cameranya didepan wajah, siap untuk kembali memotret namun dengan segera Jinwoo menghalangi dengan menurunkan camera tersebut kembali.

Ia menghembuskan napas kasar lalu membuka maskernya, “Baiklah baiklah.. kau menang, aku Kim Jinwoo. Sekarang kau boleh memotret aku.” Ujarnya pasrah.

Dan dengan semangat gadis tersebut memulai untuk memotret Jinwoo pada berbagai sudut dang engle,

*jepret* jepret*

*jepret* *jepret*

“Sudah, sekarang tinggalkan aku sendiri.” Jinwoo memakai kembali maskernya.

“T-tapi Jinwoo-ssi, aku ingin bertanya beberapa hal dulu padamu, karena ini sudah pekerjaanku dan—

“Tapi aku sudah kehabisan jawaban. Sekarang pergilah.” Potong Jinwoo cepat.

*jepret* *jepret*

“Hei, apa yang kau lakukan? Kau sudah mengambil gambarku tadi.” Ujarnya sambil sedikit menaikkan volume suara. Namun seolah mengerti apa yang diinginkan paparazzi yang keras kepala, ia merogoh sakunya dan memberikan beberapa lembar ribu won pada gadis itu. “Apa ini kurang?”

“Apa maksudmu?” gadis tersebut terlihat bingung.

Namun bagi Jinwoo, semua paparazzi seperti itu pada awalnya. Dan akhirnya mereka menerima uang tersebut dengan jaminan tidak akan akan mengganggu lagi dan memberitakannya dengan topic yang baik baik.

“Ayolah.. apa masih kurang? Paparazzi sepertimu biasanya langsung pergi saat aku memberikan mereka ini.”

“Dengar Jinwoo-ssi, aku ini bukan paparazzi tapi—

“Baiklah baiklah, akan kutambah lagi seribu won.” Jinwoo menarik tangan kanan gadis tersebut lalu meletakkan uang yang digenggamnya pada tangan si gadis. “Sekarang pergilah.” Jinwoo mendorong pelan tubuh gadis tersebut darinya, mengibas-ngibaskan tangan diudara seolah mengusir.

Hmm.. akhirnya.

“Tapi Jinwoo-ssi, aku benar-benar ingin bertanya padamu.” Kali ini suaranya dari belakang. Jinwoo menghembuskan napasnya kasar untuk sekali lagi. “Hanya sebentar, ayolah..”

Jinwoo menatap gadis tersebut dari atas sampai bawah, sepertinya lebih muda darinya. Baru kali ini ia melihat seorang paparazzi yang masih muda. “Baiklah, tapi cepat.” Ia duduk kembali dengan gaya santai, diikuti dengan gadis tersebut yang duduk bersebelahan dengannya.

“Okay, tapi sebelumnya izinkan saya untuk memperkenalkan diri dulu.”

‘Bodoh’, umpat Jinwoo dalam hati.

“Nama saya adalah Jung Haera, mahasiswa dari Kyunghee University dengan jurusan Jurnalistik semester akhir. Dan kau adalah narasumber pertamaku Jinwoo-ssi.”

Pertanyaan Jinwoo seolah menguap, ternyata gadis ini masih kuliah.

“Aku akan melamar pekerjaan sebagai jurnalis untuk musim panas tahun depan, dan ini akan menjadi langkah awalku—

“Sudahlah.. kau membuang waktuku.” Gerutu Jinwoo tak sabaran.

Lalu disusul dengan Haera yang tersenyum canggung. Benar, ia terlalu banyak berpidato. “Baiklah kita mulai saja.” Ia mengambil sebuah notebook dan bolpoin kecil dari dalam tasnya, lalu memulai dengan pertanyaan pertama. Ia menarik napas, “Apakah kau siap Jinwoo-ssi?”

“Terserah kau saja.” Ucap Jinwoo malas, yang ditanggapi dengan kekehan kecil Haera.

“Pertanyaan pertama. Kapan terakhir kali kau memeluk nenekmu?”

Jinwoo nyaris saja terjungkal setelah mendengar pertanyaan dari Haera, apa gadis ini ingin bermain-main dengannya? Biasanya para paparazzi akan bertanya sesuatu yang lebih bermutu dari sekedar memeluk nenek.

“Pertanyaanmu bodoh, apa kau yakin kalau kau ini benar-benar paparazzi?”

“Sudah kubilang aku ini Journalist Jinwoo-ssi, bukannya paparazzi. Kami memberitakan sesuatu yang lebih baik dari sekedar gossip. Sekarang jawab saja pertanyaanku.”

“Kedua nenekku sudah meninggal.” Jawab Jinwoo cepat.

“Kalau kakek?” satu lagi pertanyaan bodoh.

“Aku tidak mengingatnya.”

Haera pun menulis setiap kalimat yang terlontar dari bibir Jinwoo. Entah apa gunanya dengan jawaban nonsense tersebut.

“Baiklah baiklah, kita ganti saja pertanyaannya. Untuk sehari, kau bisa mencuci muka berapa kali?”

“Lima kali.” Jawab Jinwoo asal.

Dan Haera kembali mencatat pada notebooknya.

“Kalau kau bertanya pertanyaan semacam ini, kupastikan tidak akan ada agensi percetakan yang akan merekrutmu sebagai jurnalisnya. Semua pertanyaanmu payah.”

“Diamlah Jinwoo-ssi, aku sedang berkonsentrasi disini.” Jawab Haera masih berkutat dengan notebook dan bolpoinnya.

Dasar anak-anak. Batin Jinwoo lagi. Biasanya para paparazzi akan bertanya sesuatu yang berhubungan dengan kekasih saat ini, atau teman dekat special dll.

“Apakah kau yakin tidak ingin mengetahui yang lebih menarik dari itu?” Jinwoo mencoba menggoda, ia yakin gadis ini masih sangatlah polos, mendengar pertanyaan-pertanyaan bodohnya yang dilontarkan untuk Jinwoo tadi.

“Menarik seperti apa?” Haera memandang Jinwoo serius. Jinwoo memajukan badannya dan berbisik pelan tepat ditelinga Haera.

“Aku sudah pernah ‘melakukannya’. Okey, dua kali. Dengan dua wanita yang berbeda pula.” Bisik Jinwoo seduktif.

Dan lihatlah kini wajah Haera sudah memerah sempurna, ia tak pernah berpikir akan dapat mendengar langsung pengakuan dari seseorang yang pernah melakukan ‘itu’.

Diam-diam Jinwoo bersorak senang didalam hatinya. Kena kau.

Tapi yang benar saja, sejujurnya Jinwoo belum pernah melakukannya pada siapapun. Ia masih perjaka. Dan yang tadi itu hanya ingin bermain-main dengan gadis journalist ini.

“Kau sudah mendapatkannya, sekarang pergilah.” Usir Jinwoo sekali lagi.

Sedangkan Haera masih diam mematung ditempatnya, sungguh sebuah kalimat yang tabu. Ia rasa telinganya telah terkotori. Haera mengerjapkan matanya beberapa kali lalu menghadap Jinwoo. “T-tapi aku belum selesai Jinwoo-ssi, masih banyak pertanyaan yang harus kutanyakan padamu.”

“Ayolaaahh.. kau sudah mendengarnya langsung dariku. Apa lagi yang harus kau tanyakan?” Jinwoo mengerang frustasi. Dan Haera malah membalik lembar notebooknya, siap untuk mengajukan pertanyaan yang lain.

“Sebentar lagi Jinwoo-ssi, sebentar lagi. Eumm— apa rasa ice cream favoritemu?”

“Banana.” Ucap Jinwoo cepat. Setelah itu mungkin memang dewi fortuna sedang berada didekatnya, mobil asistantnya telah berada di depan mereka. Tanpa butuh membuang waktu lagi Jinwoo segera melesat masuk kedalam dan meninggalkan Haera duduk sendiri di bangku tersebut.

“Heii.. Jinwoo-ssi, aku beluum selesaaiii..” teriak Haera dari tempatnya. Sedangkan beberapa orang remaja yang mendengar teriakannya pun sontak berlari dan berteriak kearah mobil Jinwoo yang sedang melaju tersebut.

“Jinwoo oppaaa..!!!”

“Saranghaee Jinwoo oppaaa..”

“Ommo berhentilah sebentar. Jinwoo oppa saranghaaeeeeee..”

Secara spontan Haera langsung membekap mulutnya sendiri dengan tangan kanannya. O ow.. ia kelepasan membuka identitas seseorang. Ia langsung melesat pergi dari tempat tersebut sebelum ia dikeroyok oleh fans fans Jinwoo karena iri telah dapat mengobrol dengan idola mereka sedari tadi.

.

.

END or TBC?-

Selesai atau lanjut silahkan para reader sendiri yang memutuskan. Atau mau diganti cast juga boleh. Hehe soalnya ini mau saya bikin Ficlet Serries. Jangan lupa kasih feedback yaa..

Iklan

10 pemikiran pada “[Ficlet] Journalist or Paparazzi

  1. hahaha apa ni itu pertanyaannya apa lagi jinwoo saya aja kaget sama semua pertanyaan haera, lah yaampun jinwoo ngaku kaya gitu kalau itu dibuat artikel kan bisa gawat eh

    lanjut ya kak lanjuta aja, kalau castnya sih jinwoo juga bagus feelnya dah dapet *plakk tapi terserah kaka aja^^

    Suka

  2. Dea

    ‘kapan terakhir kali kau memeluk nenek mu?’
    Haha gak tau mesti ngomong apa lagi 😀 Haera polosnya tingkat berapa sih 😀

    Lanjut aja kak. Castnya tetep yang ini aja ya 🙂

    Suka

  3. park shin young

    aku langsung meluncur ke blog ini habis baca the soul, tertarik banget sma ff buatan author/ boleh panggil eonni? aku 99line soalnya, kayanya aku udh suka sma gaya ff bikinan author, izin liat karya lainnya ya ^^

    Suka

  4. park shin young

    oh iya aku maunya ff ini di lanjut aja, ocnya ngakak,.. penasaran lanjutannya gimana, castnya siapa aja lah… ini juga bagus, lucuu~ #berharap chanyeol sih

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s